Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto


.

.


-Dr. Uchiha-


.

.


2


Sasuke POV

Hidup terasa biasa-biasa saja, membosankan. Setelah berpisah dari Shion ku rasa semuanya akan menjadi lebih baik. Ternyata definisi lebih baik yang ku harapkan berbeda dengan apa yang aku alami sekarang.

Aku akan menjadi Dokter. Itu semua bukan keputusan ku, tapi keputusan Ayah. Dan aku tak ingin mengecewakannya. Ibu ku selalu mendukung apapun pilihanku, tapi kurasa dukungannya takkan berguna jika itu menyangkut keinginan Ayah.

Ayah ingin aku memiliki perkerjaan mulia sepertinya, yang membantu banyak orang. Itu bukan masalah besar, jadi ku pikir aku bisa mengatasinya.

Begitu juga yang ia inginkan dari Itachi, tapi Itachi menentang dan memilih lari dari semua walaupun tetap dalam pengawasan. Ia memiliki kehidupan yang jauh lebih bebas dariku, kebebasannya lah yang membuat ku terkurung dalam tanggung jawab yang sebenarnya harus ia yang menanggung.

Hari pertama magang adalah hal yang paling mengejutkan untuk ku sekaligus membuatku berpikir bahwa ini adalah takdir. Gadis yang aku sukai diam-diam pada saat smp kini berdiri tepat disampingku.

Kami dulu teman sekelas namun tidak pernah terlibat dalam percakapan panjang dan tidak pernah terjebak dalam satu kelompok. Dan kemungkinan besar ia sudah tidak mengingatku lagi, ditambah perubahan pesat yang kini terjadi padaku membuat segalanya terlihat berbeda. Itu adalah hal yang wajar bila ia benar-benar sudah lupa dengan ku.

Aku selalu memperhatikannya dari kejauhan, kadang aku mengikutinya saat setelah pulang dari sekolah, hanya untuk memastikan ia pulang dengan selamat.

Aku yang tak pandai bergaul membuatku terasingkan disekolah. Orang-orang mengabaikan keberadaan ku dan aku selalu bersembunyikan dibalik kebisinganyang mereka ciptakan. Dan dia merupakan salah satu gadis yang memiliki hubungan sosial jauh lebih baik dariku, orang-orang menyukainya karena ia bukan tipe gadis yang suka membuat masalah dan terlibat perkelahian, ia lebih memilih untuk meminta maaf terlebih dahulu meskipun bukan ia yang bersalah.

Dia tidak pernah menghindar namun selalu menghadapi masalahnya.

Ia berhasil membuat ku berkali-kali lipat kagum dengan kepribadiannya.

Saat SMA aku pindah ke Suna karena urusan keluarga, aku ingin tetap berada di Konoha namun aku tak sampai hati menolak keinginan Ayah. Dan setelah lulus Kuliah aku kembali lagi ke Konoha.

Semuanya tampak berbeda, orang-orang mulai memperhatikanku, memujiku, dan berpikir bahwa aku sempurna.

Aku hanya diam menanggapinya.

Kini aku percaya. Penampilan adalah kesan pertama. Terimakasih pada Kaguya yang merombak penampilanku, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dan kini aku bertemu dengan cinta pertama ku lagi. Rambut merah jambu nya tetap sama begitu juga dengan emerlad nya yang bersinar terang dimatanya. Aku masih mengenalnya.

Aku dapat merasakan ia melirik kearahku. Aku agak gugup, dengan keadaan ini. Kami sudah lama tidak bertemu dan lagi kami bukan teman bicara, pasti akan sangat aneh bila aku langsung sok akrab padanya.

Akan lebih baik jika aku pura-pura untuk tak mengenalinya juga.

Aku mencoba membalas lirikan nya. Mata kami bertemu. Namun ia tetap diam terpaku. Aku mencoba menyadarkannya.

"Apa ada yang salah nona?"

Ia tetap diam.

Aku memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya, "Nona? Kau baik-baik saja?" Ucapku lagi, dan itu berhasil membuatnya tersadar.

Ia segera berpaling, wajahnya memerah. Aku tak bodoh untuk menyadari bahwa ia merasa malu.

Pintu lift terbuka, ia segera keluar sebelum pintu lift benar-benar tertutup aku melihatnya berbalik lalu membungkukkan tubuhnya 45 derajat dan dengan itu pintu lift tertutup.

Aku hanya termenung, memikirkan kejadian barusan.

Haruno Sakura benar-benar melupakan Uchiha Sasuke, anak laki-laki penyendiri.

Aku mendengar kasak-kusuk disetiap jalan yang ku lalui, ini hari pertama ku magang disini dan orang-orang terus menyebut-nyebut namaku seakan-akan mereka mengenaliku.

"Sasuke," Aku menoleh ke asal suara. Ayah tersenyum.

Aku langsung menghampirinya.

"Kau akan dibimbingan oleh Dr. Hatake, saran ku, dengarkan semua perkataannya dan turuti. Jangan membantah." Tegasnya, aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya, karena Ayah tak memberi ku hak untuk melawannya.

Ayah selalu memujiku karena aku selalu menuruti keinginannya, namun ia tak pernah menyinggung tentang Itachi saat memberikanku pujian. Aku senang dengan hal itu. Setidaknya Ayah tak membeda-bedakan kami.

Setelah nya aku segera menuju ruangan Dr. Hatake, aku menemukannya sedang bersantai dengan kopi nya.

Dr. Hatake tersenyum dibalik maskernya lalu mempersilahkan ku untuk duduk.

"Jadi kau Sasuke?" Aku mengangguk, "kau hanya perlu mengikuti instruksi, ini catatannya," ia menyerahkan selembar kertas padaku.

Dr. Hatake tidak suka berbasa-basi rupanya, "kau punya shift siang dan malam, hanya itu. Ada yang ingin kau tanyakan?"

Aku menggeleng, "sekarang tidak, tapi aku akan bertanya nanti."

"Baiklah, kau boleh pergi."

Aku membungguk lalu berbalik, namun sebelum tangan ku menyentuh handle pintu perkataan nya menghentikan gerakan ku, "kau memang putra Dr. Uchiha tapi kau ada dalam pengawasan ku sekarang, jangan keluar jalur, kau paham?"

Aku menoleh lalu mengangguk, "ya, tentu saja."

Sakura POV

Aku mempunyai banyak perkerjaan hari ini, aku terlalu banyak menerima tawaran.

Dan aku tak punya waktu untuk bersenang-senang.

Ponsel ku bergetar, aku mengernyit heran ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku.

Informan.

"Halo?"

"Aku putus." Hinata terlalu to the point, aku dapat mendengar suara nafasnya.

"Kenapa?" Aku tetap melanjutkan ketikan ku.

"Aku hanya ingin hidup normal Sakura," jariku berhenti bergerak, aku turut besedih pada keputusannya. Ia mencintai Kiba, tapi Hinata terlalu baik untuk orang yang seperti itu.

"Tidak ada 'hidup normal' yang ada hanya hidup."

Hinata terkekeh diujung sana. Aku tersenyum, paling tidak aku masih bisa berguna untuknya saat dimasa sulit. "Kau terlalu banyak menguntip buku Sakura."

Aku mengedikkan bahu, "ya kau benar. Aku akan lebih rajin lagi menguntip untukmu. Kau baik-baik saja?"

"Ya, sedikit. Tapi tidak dengan Kiba. Aku merasa bersalah, tapi aku sudah tidak sanggup bersamanya." Aku menegakkan tubuhku, lalu bersandar. Ponselku masih menempel ditelingaku.

"Maaf aku tak bisa menemuimu hari ini, tawaran yang ku terima terlalu banyak. Dan cancel bukan pilihan yang tepat. Dompet ku mulai menipis, tapi aku tidak keberatan jika kau mau membagi ceritamu sekarang. Aku akan mendengarkan mu." Aku menyayangi Hinata, ia adalah sahabat terbaikku dan aku akan selalu mendukung pilihannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "sebelum itu, aku ada kabar untukmu."

"Apa itu?" Bagus, Hinata mulai bersemangat.

"Kau dekat dengan Satpam tampan?" Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

"Siapa? Oh, sial, aku tahu siapa yang kau maksud. Dari mana kau mendengar itu?" Hinata terdengar kesal sekarang, tapi ini lebih baik.

"Rumah sakit takkan aman dari kumpulan para penggosip yang berkerja disana." Waktu mereka lebih banyak untuk bergosip dari pada berkerja, aku sering memperhatikan mereka. Karena selain dari Hinata, aku menguping berita Rumah sakit dari mereka, dan mereka memiliki manfaat untuk beberapa hal.

"Aku sangat membenci mereka." Cercanya.

"Tapi kau suka mendengar mereka," balasku.

"Aku takkan menyangkal tentang itu. Karena kau juga begitu."

Aku menyeringai, "jadi? apakah gosip itu benar."

Hinata mendengus, "benar, salah. Itu tidak penting." Ucapnya. Hinata terlalu ambigu untuk beberapa hal. "Aku akan menutup telpon."

"Tunggu dulu," Hinata terlalu terburu-buru dan suka menghindar.

"Ada apa?"

"Kiba?"

"Hah?"

Aku memutar bola mataku bosan, terlalu berputar-putar. "Kau belum menceritakan tentangnya."

"Aku akan menceritakannya, saat kau punya waktu untuk menemuiku."

"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti." Hinata terlebih dahulu memutuskan sambungan.

Aku hanya menghela nafas gusar lalu melanjutkan perkerjaan ku yang sempat tertunda tadi.