Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto


.

.


-Dr. Uchiha-


.

.


3


Sakura POV

Perkerjaanku selesai dalam kurun waktu 4 hari, hanya untuk mengerjakan teks flim dan dokumen-dokumen penting lainnya. Pegawai lepas memang menyenangkan, meskipun terkadang aku harus tetap pergi ke kantor apabila mendapat tawaran untuk mengikuti meeting.

Dan hari ini aku bebas tanpa ada perkerjaan yang menghalangi, dan kantongku pun mulai terisi.

Hinata adalah orang pertama yang ingin ku temui. Semenjak beberapa hari yang lalu.

Ia tersenyum lembut saat aku melambaikan tangan

"Bagaimana perkerjaanmu Sakura?" tanya nya saat aku hendak duduk.

Aku mengendikkan bahu, "seperti biasa, selalu melelahkan sekaligus menyenangkan disaat bersamaan. Aku menikmatinya."

Hinata mengangguk pelan, "kurasa aku harus menikmati pekerjaanku mulai dari sekarang." Hinata meraih daftar menu, bibirnya bergerak menggumamkan nama-nama yang tertara di daftar. Lalu memanggil pelayan. Aku memutuskan untuk memesan minuman yang sama dengan Hinata. Dan salad. Aku sedang diet sekarang. Berat badan ku naik 8 kg saat ku timbang 4 jam yang lalu, jadi diet adalah keputusan pertama yang harus aku lakukan. Karena sedot lemak bukan pilihan yang tepat saat tubuhku menjadi seukuran kudanil nanti nya. Aku harus mengantisipasi hal itu.

"Memang harus begitu," ucapku sambil tersenyum miring kearahnya. "Aku sudah berada di depanmu. Jadi ceritakan apa yang terjadi sebenarnya," tuntutku.

Hinata nampak berpikir sejenak namun tak menunjukkan ekspresi yang berarti, ia hanya menatap mata ku dalam diam lalu menghela nafas, "semua terasa ringan saat aku putus dengannya."

Aku mengernyit heran, "kau tak merasa kehilangan?" Hinata terkekeh mendengar pertanyaan ku, "aku tidak sedang melawak Hyuuga." Ucapku masam.

Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali, "tidak, aku tahu Haruno. Awalnya memang terasa aneh, saat kau tiba-tiba sendiri setelah pacaran bertahun-tahun. Namun aku tak benar-benar merasa bahagia dengannya, jadi kami memutuskan untuk berpisah. Meskipun terjadi perselihan." Ia mengangkat bahu sedih. Hinata tak sedih karena putus dengan Kiba, tapi ia sedih karena tak bisa mengakhiri semuanya dengan baik.

Tiba-tiba dokter seksi melintas dibenak ku, aku berpikir sejenak, memutuskan untuk menceritakan atau menyimpannya untuk diriku sendiri. Tapi pada akhirnya, aku takkan mampu merahasiakan sesuatu dari Hinata, "aku pergi ke rumah sakit beberapa hari yang lalu."

"Kau masih pergi kesana?" tanya nya tak percaya, "oh, tuhan. Kau benar-benar terobsesi dengan dokter ternyata."

"Beberapa hari yang lalu. Semua dokter itu hebat." Gerutuku.

Hinata memutar mata, "dan juga sombong," aku merengut tak suka.

"Aku sudah menemukan pria idamanku."

Hinata tersenyum mengejek, "jadi siapa nama pria sial itu?"

Aku mengabaikan ejekannya, lalu menggeleng, "dr. Uchiha. Hanya itu yang ku tahu."

Hinata mendesah, "ku pikir kalian sudah saling kenal."

"Aku belum seberuntung itu."

Tiba-tiba Hinata menghentakkan meja, membuatku hampir terjungkir dari kursi. "Tunggu .. Uchiha?" aku mengangguk mengiyakan, "kedengarannya tidak asing, ku pikir sebentar."

Aku menaikan alisku, "apa ma-" belum selesai aku bicara, Hinata dengan cepat memotongnya.

"Bukankah dia dokter magang?" aku mengangguk mengiyakan. "Aku mengakuinya, dia memang seksi dan tampan." Aku menyipit mataku tak suka.

"Ku peringatkan, dia sudah ku tandai. Jadi jika kau berani menyentuhnya, kita akan menjadi musuh abadi selamanya." Hinata memutar matanya bosan.

"Dia memang menarik untukmu, tapi aku tak tertarik padanya."

Aku menyeringai, mengangkat bahu. "Tentu saja, satpam menyebalkan lebih cocok menarik untukmu."

Sasuke POV

Rumah sakit benar-benar berisik, orang-orang berhamburan. Aku berjalan ke stasiun perawat, "apa nona Yamanaka ada disini?"

Rin menggeleng, lalu berkata, "nona Yamanaka ada disini tadinya, tapi dia sudah pergi beberapa menit yang lalu."

Aku menghela nafas panjang, "katakan padanya untuk bertemu dr. Hatake jika dia kembali kesini." Rin mengangguk cepat.

Saat aku keluar dari stasiun perawat, aku menemukan sesuatu yang selalu berhasil menarik perhatianku semenjak menengah pertama.

Helaian yang berwarna sama dengan bunga Sakura. 'Ah, gadis itu,' batinku bersorak senang.

Gadis itu terlihat santai melenggangkan langkah kakinya. Selalu saja begitu, seperti tak memiliki beban.

Aku memutuskan membuntutinya dari belakang, lagipula aku sedang senggang jadi bukan masalahkan?

Ia hanya berputar tak tentu arah, kadang berhenti sejenak kemudian kembali berjalan lagi. Saat ia memutuskan memasuki lift. Aku berhenti mengikutinya, waktuku sudah habis.

Tanda tanya melompat masuk ke otakku, 'apakah ia pikir ini mall?'

Sakura POV

Aku menghela nafas gusar. Aku tak menemukan dokter tampan itu.

Pohon rindang memayungiku, aku melihat satpam gila dari kejauhan sedang memandang kesal kearahku. Memangnya kenapa, toh aku tak pernah mengusilinya.

Aku benci dengan kenyataan, bahwa Hinata -sahabat baikku- sedang dekat dengan rubah sialan itu.

Aku memutuskan untuk mengabaikan tatapannya, namun tiba-tiba indra penciuman ku yang tajam bereaksi. Ada mengenal bau parfum ini, aroma Kombinasi antara Cardamom dan Wine. Benar-benar wangi yang memikat, aku memutuskan untuk membuka mataku.

Dan .. oh tuhan, siapa saja ... katakan ini bukan mimpi di siang bolong. Pria yang dari tadi ku cari-cari keberadaannya kini ada dihadapanku, tengah memandangiku.

Senyum terukir diwajahnya. "Hei," sapanya ramah namun rendah, "apa kau tak keberatan aku duduk disini?"

Aku menggeleng cepat, ia menaikkan alisnya tak mengerti, "maksudku, tentu saja. Duduklah.." jawabku gugup. Aku mencoba menetralisir detak jantung ku yang terpompa begitu cepat.

Ini menguji adrenalinku.

Aku melirik kearahnya, ia sedang meminum, kopinya pelan. Saat aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, dia benar-benar terlihat tak asing lagi untukku. Aku merasa seperti sudah mengenalnya lama.

Ia menoleh kearahku secara tiba-tiba, membuatku terkejut -refleks memalingkan wajahku.

Ia terkekeh pelan, "kau sedang sakit?" tanyanya.

Aku mengenyit, lalu menggeleng. "ti-tidak." Aku tergagap. Sial, dia benar-benar seksi.

"Jadi," ia menggantungkan pertanyaannya, "siapa yang kau jenguk?"

"Nenekku," jawabku spontan, aku meruntuki diriku yang dengan mudahnya menciptakan kebohongan, "dia sedang sakit." Tambah ku cepat.

"Benarkah?" tanyanya tak yakin. Aku mengangguk semangat.

Maaf tampan, aku harus berbohong.

Ia memeriksa ponselnya, lalu kembali menatapku. "Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi Sakura."

Hening.

Lagi?

Sakura?

Aku tak bisa mengatakan apapun. Pikiran ku sibuk memikirkan, bagaimana pria tampan di depanku ini bisa mengetahui namaku.

Bahkan aku nyaris tak mengenalnya dan lagi kami hanya sekali pernah bertemu. Oke, dua kali. Tapi saat di lift kami tak sempat berkenalan.

Apa karena warna rambutku?

Tapi itu tak masuk akal. Jika aku berambut merah, apakah ia akan menyebutku apel?

Aku mengenyahkan segala asumsiku. Pria itu sudah berjalan menjauh.

Aku berusaha mengeluarkan suaranyaris berteriak.,"darimana kau tahu namaku?".

Ia menoleh, lalu tersenyum tipis.

"Sampai jumpa Sakura." Suaranya bahkan terdengar lebih seksi dari pikiran erotisku tentangnya. Namun semua keerotisannya tak menjawab pertanyaan yang bersarang di otakku.

Dia malah menambahkan kebingungan untukku. Misterius.

Dan sekarang ia benar-benar sudah pergi. Hanya menyisakan wangi parfumnya yang menyiksa indra penciumanku. Menggodaku untuk selalu memikirkannya.

Hari ini aku memang merasa puas. Sasaranku berjalan sendiri kearahku, tanpa harus aku yang mengejarnya.

Bahkan ia mengetahui namaku.

Aku memutar mata saat satpam sombong berjalan kearahku, "mendapatkan tangkapan besar nona Silly?"

"Berhenti memanggilku seperti itu, bodoh!" kesalku.

Naruto menatap tak suka kearahku, "jaga perkataan mu anak muda!"

"Aku bukan anak-anak tuan satpam terhormat! Perlu digaris bawahi, kita seumuran. Aku hanya terlihat awet muda darimu jadi wajar saja jika wajah dan pikiranmu seperti kakek-kakek, yang selalu meributi urusan orang lain."