Disclaimer : Naruto & kawan-kawan milik Masashi Kishimoto.
.
.
I DON'T LIKE YOU!
.
.
"Menjauh dariku, Uchiha!" ujar Hinata kasar sambil mendorong jauh-jauh Sasuke yang hendak mendekatinya.
"Hei, aku 'kan ingin masuk ke dalam."
"Kalau kau memang ingin masuk, untuk apa kau dekat-dekat denganku, hah?"
"Galak sekali. Aku hanya penasaran dengan wangi parfummu."
"Makhluk menjijikkan! Enyah kau ke habitat asalmu!"
.
.
Dia mengumbar-umbar pada semua orang jika dirinya tidak menyukai Sasuke Uchiha, tetapi nyatanya Hinata amat sangat menggilai si bocah Uchiha itu. Sikapnya yang tergolong layaknya manusia antivirus jika berdekatan dengan Sasuke hanya berlaku di khalayak ramai saja. Namun jika ia sudah berada di dunianya sendiri, maka Hinata tidak akan bosan untuk memuja-muja nama Sasuke Uchiha dari tengah malam hingga menjelang pagi bahkan sampai terbawa mimpi.
.
.
.
.
Segala sesuatu pasti ada permulaannya. Sama seperti perasaan Hinata pada Sasuke. Awal munculnya perasaan itu memang terbilang sudah cukup lama, bahkan hampir lupa kapan tepatnya. Namun yang pasti, perasaan itu sudah ada sejak lama sampai-sampai Hinata pun cukup banyak tahu mengenai kepribadian Sasuke.
Salah satu sifat Sasuke yang paling mencolok adalah Sasuke sangat anti dengan para perempuan yang mengidolakannya layaknya seorang bintang film, padahal dia bukanlah seseorang yang sering tampil di layar lebar menghibur bagi para pecinta drama dan romansa. Sasuke hanyalah seorang mahasiswa di sebuah universitas di kota tempatnya tinggal. Memang tidak perlu dipertanyakan mengenai wajahnya yang "super waw", itulah anugerah yang didapatnya dari Sang Khalik. Anggaplah sikap dari antiperempuan—fansnya—akibat risiko berwajah tampan.
Maka, itu jugalah yang menjadi alasan Hinata mengapa ia seakan menjadi "Sasukephobia". Ia tidak mau menjadi salah satu fansnya di muka umum karena sudah pasti Sasuke pun akan langsung menjauhinya.
Bagaimana rasanya dijauhi oleh orang yang amat sangat dikasihi? Bukankah sangat menyakitkan?
Tentu saja! Siapa yang bisa tahan diabaikan oleh orang yang dikasihi sepenuh hati?
Maka dari itulah, tidak mau dianggap bagai angin lalu oleh Sasuke, Hinata pun berpikir kebalikan dari kebanyakan para fans Sasuke. Dia merubah cara berpikirnya dengan cara yang memang sedikit unik. Ketika mereka memuja-muja Sasuke tiap kali melihat sosoknya, Hinata melakukan kebalikannya. Menjauhi, memasang wajah jijik, bahkan tidak segan untuk bicara lantang layaknya seorang Komandan yang "gerah" pada bawahannya.
Saat pertama melakukan praktik dari rencananya, Hinata mendapat skor bagus. Sasuke lebih bisa memerhatikannya karena tingkah Hinata yang sangat berbeda dari kebanyakan perempuan. Hinata menghitung berapa lama Sasuke memerhatikannya ketika dirinya bertingkah seakan risih berada di dekat Sasuke.
Tujuh detik.
Saat itu, Sasuke memandangnya selama tujuh detik. Waktu yang terbilang lama bagi si Pemuda Populer yang biasanya tidak pernah mau melihat wajah para fansnya, bahkan mendelik saja enggan.
Hinata sempat tidak percaya diri bahkan merutuki dirinya sendiri karena tingkahnya sangat berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan hatinya. Bagaimanapun, berlaku kasar pada orang yang dikagumi setengah mati tentu bukanlah hal yang menyenangkan, bukan? Akan tetapi, ketika melihat hasilnya bagus sebab Sasuke mau melihatnya, Hinata pun memantapkan hati untuk meneruskan perannya menjadi pengidap "Sasukephobia".
Yang hanya berlaku di muka umum.
.
.
Di hari Sabtu pagi, seperti biasa Hinata hanya ingin berada di rumah tanpa berniat pergi keluar, jika memang tidak penting. Namun, saat ia melihat ke dalam kulkasnya, ternyata bahan makanannya sudah mulai menipis. Bisa-bisa ia tidak makan malam. Maka, dengan sedikit berat hati, ia pun berniat pergi ke supermarket yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya tinggal.
Hanya butuh lima sampai tujuh menit, Hinata selesai dengan persiapannya untuk belanja. Tak perlu kendaraan, cukup jalan kaki saja.
Hinata menghela napas penuh kelegaan. Cukup membuatnya kegerahan berjalan kaki sepuluh menit ke supermarket dari rumahnya sebab hari itu terbilang panas. Saat ia memasuki pintu, udara sejuk dari AC mulai memanjakan kulitnya yang berkeringat. Ia berjalan menuju tempat troli, mengambil satu dan siap untuk berburu.
Tujuan pertamanya adalah sayuran. Hinata tidak pernah absen untuk bahan makanan itu, sebab dia diajarkan keluarganya untuk menjunjung tinggi makanan sehat dari sayuran segar. Baginya, makan tanpa hijau-hijauan (sayur-mayur), sama seperti ikan tanpa meminum air.
Hinata selalu senang saat dia melihat sayur-mayur segar tersaji begitu rapi dan menggoda selera untuk memasak dan memakannya. Dalam hati, ia sudah punya rencana untuk memasak capcay untuk makan malam nanti. Jadi yang dibutuhkannya tentulah sa ...
Sasuke?
Tentu saja bukan Sasuke!
Namun apa yang baru saja ditangkap oleh indra penglihatan Hinata, memang benar ada Sasuke di supermarket itu! Si Bocah Uchiha sedang belanja juga! Woah! Pemandangan yang cukup langka. Jarang-jarang bisa melihat si Tampan Sasuke belanja di supermarket sambil mendorong troli dan kertas daftar belanjaan di tangannya.
Benar-benar tidak kusangka. Ternyata Sasuke pun sangat cocok jadi suami rumahan.
Maksud Hinata dengan "suami rumahan" adalah seorang suami yang posisinya menggantikan posisi istri yang lazimnya berada di rumah dengan tugas-tugas rumah tangga, baik itu mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, memasak, bahkan berbelanja.
Di kepala Hinata penuh dengan bayang-bayang Sasuke yang sedang memasak menggunakan celemek bergambar sayur-mayur yang biasa Hinata pakai. Hinata terkekeh sendiri membayangkannya. Pasti sangat bahagia bisa memiliki Sasuke sebagai suami yang demikian.
Suami idaman.
Tapi kemudian, otaknya kembali dari angan-angan yang terlampau sangat jauh. Hinata hampir lupa dengan statusnya sebagai "Sasukephobia". Si Uchiha itu tidak boleh sampai tahu jika Hinata ada di tempat itu! Maka dengan lagatnya seperti seorang buronan, Hinata membalikkan badan beserta trolinya cepat-cepat. Hinata tentu sangat senang bisa melihat Sasuke. Namun, bagaimanapun mereka tidak boleh bertemu muka. Perihal keduanya yang sering "bercekcok" jika berpapasan.
Cekcok yang biasa Hinata mulai sebagai peran yang dimainkannya.
Hinata sedikit merutuki kenapa dari sekian banyak supermarket di kota mereka, Sasuke harus pergi ke tempat dan waktu yang sama dengan dirinya. Hinata tidak siap jika harus bertemu tanpa disengaja dengan si Uchiha. Memang Hinata bisa saja pura-pura tak peduli bahkan mungkin mendekatinya lalu mengejek si Uchiha habis-habisan, tapi itu sungguh tidak beretika. Cukup di tempat kuliahnya saja Hinata bertingkah "luar biasa", dan jika berada di luar kawasan itu, apalagi di tempat umum—jikalau memungkinkan Hinata untuk menghindar—Hinata lebih memilih untuk bertindak bijak dengan tak mau mencari masalah.
Astaga, kuharap Sasuke tidak melihatku!
Jantungnya berdegup kencang. Kedua telapak tangannya yang memegang pegangan troli bahkan basah saking gugupnya. Hinata menghela napas lega. Ia berada cukup jauh dari jarak pandang si Uchiha. Dan kini, Hinata berada di deretan perabotan rumah tangga.
Seorang sales menawarkan produk terbaru, tetapi Hinata menolaknya halus sebab tak tertarik sama sekali. Toh, ia berbelanja bukan untuk membeli barang-barang rumah tangga, melainkan isi kulkas.
Hinata pindah dari tempat itu sambil mendorong troli menuju ke arah perlengkapan mandi, tetapi tetap saja ia tidak berminat membelinya karena persediaan perlengkapan mandinya masih ada. Cukup sampai bulan depan.
Namun tak ada salahnya jika ia sekadar melihat-lihat saja, bukan? Daripada Hinata harus bertemu dengan si Uchiha.
"Oh, Hyuuga." Speak of the devil. Panjang umur!
Hinata membeku seketika di tempatnya. Tentu ia sadar betul suara siapa di sampingnya itu. Ia pikir jaraknya sudah cukup dibilang aman dari jangakauan si Uchiha. Ternyata dia keliru!
Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Oh, Tuhan, aku sungguh tidak siap bertemu dengannya sekarang!
Antara gugup luar dalam dan otaknya yang memberikan peringatan untuk tetap tenang, membuat Hinata masih berdiam diri.
Sasuke memerhatikan isi troli yang Hinata bawa masih kosong. "Belum membeli apa-apa?" ujarnya sekadar berbasa-basi. Sasuke tidak mengira bisa bertemu dengan "teman" kuliahnya di pusat berbelanja. Ia lebih sering bertemu dengan fans maniaknya jika bepergian ke tempat umum, yang biasanya membuat dirinya kesal setengah mati. Namun hari ini, Sasuke—yang sebenarnya malas karena enggan bertemu fansnya—malah berpapasan dengan si Hyuuga, satu-satunya perempuan langka yang menganggap Sasuke layaknya virus di komputer yang sangat menyenangkan untuk dicaci maki.
Lihat saja dari cara Hinata mendeliknya saat itu. Gadis Hyuuga itu tak pernah memandang Sasuke dengan tatapan kagum, sama sekali.
Hinata sendiri memerhatikan isi troli Sasuke yang banyak didominasi dengan bahan makanan nabati, terutama tomat. Ah, ternyata dia suka sayur-mayur juga! Benar-benar suami idamanku.
Di kepalanya kembali penuh dengan angan-angan indah seputar kehidupan masa depan rumah tangganya bersama Sasuke. Keluarga yang bahagia juga sehat sentosa.
Namun, kenyataan membuat Hinata harus kembali ke alam sadarnya. "Bukan urusanmu," kali ini Hinata bersikap lebih terkontrol untuk tidak mengeluarkan kata-kata pedas seperti perannya yang biasa. Lagi pula, salah siapa dirinya masih mendorong troli kosong?
"Kenapa? Masih bingung apa yang perlu kaubeli?" tanya Sasuke yang merasa—anggaplah—senang dengan keberadaan si Hyuuga.
Hinata mendecih lalu berniat menghindar, padahal dalam hati ia merasa sangat gembira luar biasa Sasuke mau "menyapanya". Di luar dugaan, Sasuke mengikutinya di belakang. Hinata menolehkan kepala.
"Apa-apaan?" sontak Hinata menghentikan langkahnya. Perannya sebagai si Sangar pun muncul.
"Apa? Aku hanya berniat menemanimu." Kalau Hinata dalam mode gilanya, sudah pasti ia akan langsung menghamburkan diri ke tubuh Sasuke lalu memeluknya erat-erat. Sayangnya, Hinata harus melakukan peran anti-Sasuke.
"Apa kau tidak ada kerjaan, Uchiha?" ujarnya ketus.
Sasuke hanya mengangkat kedua bahu, lalu berkata, "Ada. Tapi bisa kutinggalkan sebentar."
Satu alis Hinata terangkat. Hinata ingin membalas, tetapi sebelum suaranya keluar, seseorang menginterupsi.
"Di sini rupanya kamu, Sasuke? Mama sempat kebingungan, tahu!"
Mama? Hinata memerhatikan wanita di samping Sasuke yang wajahnya mirip dengan si Bocah Uchiha.
Jadi Sasuke belanja dengan Mamanya?
Tentu saja, akan sangat unik jika Sasuke Uchiha belanja keperluan dapur seorang diri. Meski sebenarnya apa pun yang dilakukan si Uchiha tetap saja terlihat menarik, sekalipun menyapu halaman dari dedaunan yang rontok di musim gugur.
"Maaf, Ma. Aku ... " bahkan ucapan Sasuke pun terpotong karena Mama si Uchiha kini mengalihkan perhatiannya pada Hinata yang juga memandangnya heran.
"Eh? Siapa dia? Temanmu, Sasuke?" tanya Mamanya. Dalam hati, Hinata ingin tertawa melihat ekspresi Sasuke yang kelihatan sedikit bimbang untuk menjawab.
"Ya," jawab anaknya dengan nada malas. Bukan malas mengakui Hinata teman kuliahnya, Sasuke hanya malas menanggapi pertanyaan Mamanya.
"Begitu? Siapa namamu, Sayang?" Hinata membulatkan matanya terkejut dengan sikap manis nan ramah sang ibu dari Sasuke. Lagi-lagi, Hinata dibuat terkesima oleh hal-hal baru yang dia dapatkan dari seseorang yang amat disukainya.
"Hyuuga. Hinata Hyuuga, Bibi." Jikalau Hinata bisa berperan sebagai gadis sangar pada Sasuke, maka bukan hal yang sulit untuk bersikap bagai malaikat pada sang ibunda. Hinata membungkuk sambil memberikan senyum termanisnya.
"Ah, kamu manis sekali, Hinata," pujinya. Sasuke sedikit mendelik pada Hinata yang memiliki sifat berbeda padanya. Hinata yang menyadari tatapan Sasuke di depannya, menyeringai kecil. Diam-diam, Hinata mulai menyukai situasi yang terjadi di antara dua anggota keluarga Uchiha.
"Terima kasih."
Hinata dan Mikoto—nama Mama Sasuke—berbincang-bincang beberapa lama. Saking serunya mereka berdua mengobrol, Sasuke pun seolah dianggap angin sejuk yang artinya sebagai pemantas saja.
Obrolan Hinata dan Mikoto baru selesai setelah wanita Uchiha itu mendapat panggilan telepon dari suaminya dan kemudian ia hendak berpamitan bersama putra bungsunya.
"Lain kali mampirlah ke rumah kami, ya, Hinata."
Hinata terkekeh pelan, "Boleh, ya?"
"Tentu saja boleh, Sayang. Kenapa tidak?" Hinata pura-pura memberikan tatapan ragu-ragu pada Sasuke agar Mikoto berpikir jika seandainya Hinata mampir ke kediaman keluarga Uchiha, Sasuke mau mengizinkannya.
"Ah, jangan pikirkan Sasuke. Kalau dia menolak, masih ada Bibi, 'kan?" ucap Mikoto yang sepertinya berpikiran apa yang Hinata harapkan. Dalam hati, Hinata bersorak-sorai sebab ia mendapatkan jackpot izin ke rumah keluarga Uchiha secara cuma-cuma.
Mimpi apa Hinata semalam sehingga ia mendapatkan hal super menakjubkan ini? Hinata jadi ingin bertinggi hati membandingkan dirinya dengan para fans Sasuke. Pasti hanya dirinya saja yang mendapatkan tiket gratis masuk ke istana si Pangeran Kampus. Apalagi dapat langsung dari sang Ibu Ratu. Wah, benar-benar luar biasa!
Hinata pun tersenyum sebagai ungkapan terima kasih pada Mikoto yang mau mengundangnya. Diliriknya Sasuke yang ternyata menatap Hinata. Lalu Hinata kembali memasang wajah datar dan memberi tatapan mengejek seolah mengatakan memangnya aku mau.
Sasuke mendengus melihat tatapan yang Hinata berikan padanya. Entah kenapa, Sasuke tidak senang saat Hinata memberikan tatapan dingin itu. Jujur, Sasuke terkejut saat Mamanya mengajak Hinata mampir ke rumah kapan-kapan, di samping itu, Sasuke juga merasa senang jika sampai hal itu terjadi.
"Kami pamit, ya, Hinata. Bibi sudah ditunggu. Sampai jumpa lagi, Sayang."
"Sampai jumpa juga," sahut Hinata sembari melambaikan tangan pada Nyonya Mikoto. Hinata hendak berbalik tapi ia dikejutkan oleh tangan Sasuke yang mengacak puncak kepalanya.
Refleks, Hinata membentak, "Apa-apaan!"
"Dah, Hyuuga," ucap si Uchiha kemudian berlalu mengikuti langkah Mamanya yang sedikit jauh. Satu tangannya terangkat sebagai salam perpisahan.
Hinata terkejut bukan main. Pasalnya, Sasuke tiba-tiba menyentuh kepalanya. Hal yang biasa dilakukan oleh seseorang kepada orang yang istimewa. Dan apakah Hinata termasuk dalam daftar orang istimewa bagi Sasuke?
Oh, Tuhan! Aku benar-benar bahagia saat ini! Rasanya aku ingin segera ke rumah, mengunci pintu lalu menjerit-jerit sambil mendekap guling erat-erat.
Hinata mulai yakin dengan perannya sebagai "Sasukephobia" tidaklah sia-sia. Bukti menunjukkan beberapa tindakan unik nan istimewa yang ditujukan hanya padanya seorang dari si Uchiha. Sepertinya apa yang Hinata lakukan selama ini tidak salah. Ia sudah benar dengan keputusannya.
Sedikit lagi. Ya, sedikit lagi. Aku pasti bisa lebih dekat dengannya.
.
.
Saat malam hari tiba, ini bagian Hinata untuk memulai ritual rutinnya. Di kamarnya dengan lampu remang, jendela terbuka lebar, dan keheningan malam, Hinata mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak kayu. Dengan penuh kehati-hatian, ia meraih benda itu dan mendekapnya erat di dada. Mulutnya bergumam merapalkan mantra.
Setelah selesai, Hinata menatap benda yang didekapnya itu kemudian dengan terburu-buru menaiki ranjangnya yang membal dan berbaring di tengah-tengah. Senyum merekah menghiasi bibirnya bahkan tak segan Hinata menciumnya seakan-akan benda itu adalah sosok aslinya.
Kejadian tadi masih terbayang jelas di kepalanya. Dan Hinata sungguh bahagia bisa pergi ke supermarket hari itu. Jika saja ia bermalas-malasan di rumah, tentu hal luar biasa tadi tidak akan pernah terjadi bahkan sampai Tahun Baru King Kong diadakan. Hinata menghela napasnya lega.
"Aku harap kau semakin tertarik padaku, Sasuke," katanya sambil menatap benda itu lekat-lekat.
Hinata berharap, apa yang diinginkannya bisa terwujud suatu hari nanti. Ya, segala sesuatunya bisa dimulai jika ia memiliki waktu tepat untuk berkunjung ke kediaman keluarga. Semoga nantinya ia mendapat sambutan hangat seperti saat ia diundang oleh Nyonya Mikoto.
.
.
.
Kampus sudah cukup sepi sore itu. Kebetulan Sasuke hari itu pulang sedikit telat setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya untuk pembuatan skripsi, dan hasilnya bagus. Dosen pembimbingnya puas, selalu puas dengan hasil kerja salah satu mahasiswa populer itu, mengingat Sasuke memiliki kepandaian yang patut diacungi dua jempol. Tentu saja, dia termasuk mahasiswa cum laude.
Sasuke cukup senang sore itu, bukan mengenai dosen pembimbing yang bangga padanya, tapi tak ada fans maniak yang membayang-bayangi di tiap langkahnya. Jadi tumben sekali.
Dikeluarkannya kunci mobil dari saku celana. Baru saja Sasuke hendak masuk ke dalam mobil, matanya menangkap sebuah buku yang tergeletak tak jauh darinya. Ia pun memungut dan langsung membuka halaman pertama buku itu demi mencari tahu siapa pemiliknya.
Hyuuga, Hinata?
Apakah sebuah kebetulan bisa menemukan buku milik si Hyuuga Sangar? Bagaimana bisa? Apakah ini tindakan yang disengaja oleh pemiliknya?
Mana mungkin. Rasanya mustahil. Bukankah dia tidak suka jika kudekati?
Sasuke mereka-reka dalam hati sambil memerhatikan buku sketsa itu. Di dalamnya terdapat beberapa gambar dan tulisan-tulisan huruf indah, tetapi kebanyakan lembarannya masih kosong. Satu lagi yang Sasuke ketahui dari si Hyuuga, ternyata gadis itu suka seni mencorat-coret. Dan ya, karyanya lumayan. Lebih dari lumayan malah.
Merasa iseng, Sasuke membuka-buka lembarannya lebih banyak sambil sesekali menunjukkan raut wajah berbeda tiap kali melihat tulisan dan gambar yang Hinata buat. Merasa cukup puas, Sasuke masuk ke dalam mobilnya beserta buku sketsa Hinata yang tadi dipungutnya. Mungkin besok dia perlu memberikannya pada si pemilik. Siapa tahu Hinata mencari-carinya, kasihan 'kan jika buku itu cukup penting untuknya membuat tugas, tetapi ternyata tidak ada padanya. Beruntung Sasuke lelaki yang baik hati, jika tidak, sudah pasti ia akan menyandera buku itu sampai si pemiliknya pusing tujuh keliling ke tujuh samudera dan tujuh benua demi sebuah buku sketsa, mengingat Hinata termasuk perempuan yang "menyebalkan" terhadapnya.
.
Sasuke sedang berbaring di ranjangnya setelah selesai membuat laporan tugas kuliahnya. Kemudian matanya beralih pada buku sketsa Hinata. Sasuke cukup terkesan dengan gambar anggur dan dua gelas wine yang gadis itu buat. Diambilnya buku itu dari atas nakas, tak jauh dari tempatnya berbaring—tangannya yang panjang sangat membantu.
Secara acak ia membuka lembaran itu. Sekilas mata jelinya menangkap tulisan namanya. Penasaran, Sasuke melihat ke bagian lembaran tersebut. Matanya membulat saat apa yang dilihatnya tidaklah keliru. Ada namanya tertera dengan jelas dan indah di sana. Dan lucunya, tidak hanya satu saja, melainkan beberapa, bahkan dua di antaranya diberikan ikon-ikon cinta.
Sasuke dilanda kebingungan.
Apa-apaan ini? Kenapa namaku bisa di sini dan ... cinta?
Sebuah pemikiran melintas di otaknya. Pikiran konyol yang mustahil, tetapi bisa saja benar kenyatannya. Hinata diam-diam menyukai Sasuke.
Baginya pemikiran barusan benar-benar konyol luar biasa. Tidak mungkin si Hyuuga Sangar memiliki perasaan semacam itu terhadapnya. Dilihat dari sudut manapun orang-orang akan langsung bisa menebak dari cara sikap Hinata pada Sasuke selama ini menjelaskan jika gadis itu sangat anti-Sasuke. Jika mereka tidak sengaja berpapasan, si Hyuuga akan membuang muka, bahkan tak segan untuk membentaknya, hal yang sangat di luar kebiasaan gadis-gadis lain. Hanya Hinata saja yang berani mengjelek-jelekkan Sasuke di antara pujian-pujian dari para fansnya.
Sasuke bisa saja turut membenci gadis itu, tetapi sikap unik dari si Hyuuga menjadi kesenangannya sendiri untuk menghilangkan stres dari para fans maniaknya. Jelas dari keunikannya itu membuat Sasuke penasaran. Sebenarnya alasan apa Sasuke sampai dibenci oleh gadis itu? Apakah karena si Hyuuga jadi tidak punya teman perempuan untuk curhat perihal lelaki selain dirinya—sebab kebanyakan perempuan di kampus sudah terkontaminasi oleh virus Sasuke?
Atau ... untuk mencari perhatiannya saja?
Bisa saja memang. Dan ya, sepertinya jika itu memang alasannya, Hinata cukup berhasil. Karena Sasuke mulai memerhatikannya karena sikap frontal gadis itu. Lagi pula, Hinata cantik. Hampir tidak ada yang bisa ditolak Sasuke, sekalipun mulutnya bisa sangat pedas seperti Kare Kehidupan yang pedasnya luar biasa—favorit Rock Lee.
Bibirnya tersenyum makin lebar membayangkan betapa lucu dan uniknya cara Hinata untuk mendapatkan perhatiannya. Hinata yang sangar yang seolah-olah membencinya, ternyata memendam rasa suka padanya.
Kalau Sasuke masih remaja labil, mungkin dia akan tertawa-tawa sendiri dengan wajah merah.
Sepertinya aku memang harus menyandera buku ini dari tangan pemiliknya. Sasuke menyeringai, "Hyuuga, kira-kira bagaimana reaksimu saat aku menunjukkan tulisan ini padamu, hm?"
Mungkin sifat "baik hati" Sasuke perlu dikoreksi. Sebab di kepalanya kembali tersusun ide untuk membongkar rahasia terbesar si Hyuuga Sangar anti-Sasuke. Dan ia akan langsung menyerangnya besok. Ya, besok.
"Aku tidak sabar menunggu besok."
.
.
.
Hinata hendak keluar kelas setelah hampir dua jam dirinya beserta teman-teman sejawatnya berada di ruangan mendengarkan petuah dari dosen tua yang dianggap bijak. Rasa bosan sudah menderanya sedari dosen tua itu menunjukkan batang hidungnya di kelas. Sejak Hinata melihat sosoknya pertama kali di kampus itu, Hinata memang sudah tidak menyukainya, tetapi karena terpaksa, mau tidak mau Hinata harus bertemu muka dengan si dosen tua tersebut.
Belum luntur dari mood kebosanannya, saat Hinata tiba di depan pintu, sosok tinggi Sasuke sudah menghalangi jalannya. Refleks, Hinata memundurkan tubuhnya seakan menjauhi diri dari bahaya. Sasuke itu bahaya jika tiba-tiba muncul di depan mata! Bagaimana jika Hinata tidak siap dan langsung pingsan di tempat? Tentu itu bukanlah hal yang lucu! Bisa-bisa peran sangarnya kandas terbongkar di muka publik.
"Menjauh dariku, Uchiha!" ujar Hinata kasar sambil mendorong jauh-jauh Sasuke yang hendak mendekatinya.
"Hei, aku 'kan ingin masuk ke dalam," sahut Sasuke santai. Dalam hati, ia senang dengan reaksi Hinata yang terlihat kaku dan canggung.
"Kalau kau memang ingin masuk, untuk apa kau dekat-dekat denganku, hah?" bentakan Hinata tak memadamkan aksi Sasuke untuk menggoda si Hyuuga. Perlahan, wajahnya mendekat.
"Galak sekali. Aku hanya penasaran dengan wangi parfummu."
Kedua mata cantik Hinata membulat, wajahnya mulai terasa panas karena malu. Sasuke terlalu dekat dengan lehernya! Kalau sampai tersentuh ... oh, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi!
Hinata tidak mengerti, kenapa hari ini si Uchiha super keren ini tiba-tiba berlaku aneh. Tidak biasanya dia melakukan pendekatan fisik secara terang-terangan pada Hinata, apalagi di depan kelas yang memungkinkan para fans maniak si Uchiha bisa melihat.
Bukan karena takut pada fans "beringas" Sasuke, Hinata hanya tidak mau sikap yang Sasuke berikan padanya diperlihatkan di depan umum. Hinata ingin "aksi nakal" semacam itu, Sasuke perlihatkan di saat mereka sedang berdua saja. Seperti kemarin di supermarket misalnya. Hinata tidak keberatan! Sebab ia tidak mau memicu api yang bisa merambat dan membakar kapan dan di mana saja.
Maka dengan pemikiran yang matang dan sedikit banyak rasa menyesal, Hinata mendorong lebih keras tubuh tegap Sasuke hingga akhirnya mereka berdua memiliki jarak aman. Hinata mendesah, tetapi perasaannya tidak lega. Ia menyesal sebab dalam sanubarinya ingin sekali mendekap Sasuke lalu membawanya ke tempat aman yang hanya ada mereka berdua saja, mendekapnya lagi sampai ia tertidur pulas di pelukan hangat si Uchiha.
"Makhluk menjijikkan! Enyah kau ke habitat asalmu!" bentaknya. Hinata mendapat tatapan membunuh dari beberapa fans Sasuke karena telah berani membentak Pangeran mereka. Namun Hinata tak acuh. Toh, ia sudah sangat terbiasa. Lagi pula, mereka tak akan pernah berani mendekat sampai dua langkah darinya karena mereka tahu siapa itu Hinata Hyuuga. Musuh tangguh. Tetapi bukan mereka anggap musuh untuk memperebutkan Sasuke.
Temui aku di tempat parkir selesai jam terakhir. Sasuke.
Lagi-lagi matanya membulat tak memercayai apa yang dibaca dan tertera di layar ponsel pintarnya. Segala macam pertanyaan menumpuk di kepala membuatnya pusing. Beruntung saat itu dirinya sendirian, jika tidak, orang-orang di sekitarnya akan menanyakan keadaannya yang tercengang bagai melihat lorong waktu dalam ponselnya.
"Dari mana dia mendapatkan nomorku?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu pertanyaan lain kembali bermunculan untuk mengganggunya seperti; untuk apa Sasuke menemuinya, apakah ada hal yang penting, hal penting apa, kenapa harus di parkiran.
Akan tetapi, jika kepalanya yang penuh dengan pertanyaan berdiam diri saja, tak akan membuat satu pertanyaan pun terjawab. Maka, dengan perasaan panik luar dalam, Hinata memberanikan diri pergi ke tempat yang Sasuke ketik di pesan.
Hinata terus bergumam dalam hati, merapalkan mantra agar semua berjalan baik. Setidaknya biarkan malam ini Hinata mampu melakukan ritual rutinnya. Sebab jika ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan, ia tidak tahu harus bagaimana. Ajakan Sasuke itu sangat tiba-tiba! Pasti akan terjadi hal yang menghebohkan. Hanya, apakah kejadian itu berpotensi positif atau negatif?
.
.
Apakah sebuah kebetulan itu memang ada apa hanya buatan saja? Seperti sore itu misalnya, entah kenapa tempat parkir mobil yang biasanya dilalui orang-orang, terlihat sepi seperti pemakaman di malam hari.
Hinata tidak takut, hanya gugup setengah mati karena ia akan menemui Sasuke seorang diri. Dan mungkin hanya ada mereka berdua.
Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Demi Zombie pemakan tanaman!
Hinata mengambil napas lalu mengembuskannya. Degup jantungnya tidak segila tadi, terasa lebih baik sekarang walau masih di atas detak kenormalan. Hinata sudah memprediksikan hal semacam ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Hanya, ia tidak mengira kalau harus secepat ini.
Dari kejauhan, Hinata sudah melihat sosok Sasuke yang membelakanginya. Dia bersandar di depan mobil hitam mengkilap kebanggaannya.
Hinata mengambil napas lagi. Kini, ia sudah benar-benar siap!
Sasuke pun menyadari kedatangan Hinata. Ponsel pintarnya segera ia masukkan ke saku celana.
"Ah, datang juga akhirnya," ucapnya memerhatikan raut Hinata yang memandangnya datar. Matanya memicing menyadari jarak mereka berdua yang terlalu jauh dari jangkauan tangannya.
"Perlu apa denganku, Uchiha? Kau sudah membuang-buang waktuku!" Hinata berujar mulai berapi-api sebab ia sendiri sudah tidak sabar ingin tahu alasan Sasuke yang memintanya ke tempat itu.
"Wow, santai. Hal penting tidak harus dilakukan secara terburu-buru, 'kan?" Sasuke menyunggingkan senyum kecil, "Aku suka melakukannya dengan santai. Walau tidak selalu. Untuk kali ini, sebuah pengecualian."
"Jangan bertele-tele, Uchiha! Cepat katakan agar aku bisa segera pergi dari tempat bervirus ini!"
"Baiklah kalau kau memaksa," Sasuke menegakkan tubuhnya dari posisi santainya. Tangannya meraih sesuatu dari belakang lalu memperlihatkan sebuah buku yang amat sangat Hinata kenal.
"Itu ..." Hinata bergumam.
"Merasa familiar dengan buku ini, 'kan?" tanya Sasuke. Perlahan, ia mengambil beberapa langkah ke hadapan Hinata. Ia suka dengan raut keterkejutan gadis itu.
"Kembalikan!" sahut Hinata. Masih mempertahankan kakinya untuk tetap diam di tempat. Jika ia mendekat untuk mengambilnya, Sasuke pasti tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan menjauhkan buku itu dari jangkauan Hinata.
"Jawab pertanyaanku dulu, baru kukembalikan."
Hinata memandang Sasuke tajam. Mengisyaratkan agar lelaki itu segera melontarkan pertanyaannya.
"Kenapa ada tulisan ini di bukumu?"
Tulisan?
Sasuke pun membuka halaman buku itu lalu memperlihatkan tulisan-tulisan yang ada di kertas itu. Tulisan yang sama sekali tidak Hinata duga ada di dalam buku itu!
Apa? Kenapa dari sekian buku milikku, buku ini harus ada di tangannya dan ... kenapa dia ... Argh! Tidak! Usahaku berakhir di sini!
Keinginan untuk menjambak rambutnya sendiri penuh di kepala Hinata, tetapi untuk menjaga imej di depan lelaki yang kini sudah membongkar rahasia terbesarnya, Hinata masih menolak untuk bertindak gegabah. Hinata memilih diam dengan wajah terkejut.
"Boleh kusimpulkan 'kan kalau tulisan ini memang tulisan tanganmu?" Sasuke menjeda. Buku itu masih dibiarkan terbuka untuk meyakinkan kembali si pemilik akan rahasianya yang sudah terungkap oleh orang yang ditaksirnya.
"Aku tidak menyangka, sungguh. Perempuan satu-satunya yang berani bersikap frontal padaku ternyata memendam perasaan khusus untukku." Kini, jarak mereka cukup dekat. Sasuke bahkan bisa menggapai seluruh tubuh gadis itu jika ia mengulurkan kedua tangannya.
"Jangan terlalu percaya diri, Uchiha!" Hinata mulai mengumpulkan keberaniannya untuk tetap berperan sebagai gadis sangar. Tangan kanannya terangkat, jari telunjuknya teracung menunjuk tepat di ujung hidung mancung si Uchiha.
Sekarang giliran Sasuke yang terkejut. Hanya sedikit.
"Itu memang buku sketsaku, tetapi bukan berarti tulisan itu tulisan tanganku. Sebab, aku pernah meminjamkan buku ini pada salah satu fans maniakmu yang bahkan aku tidak pernah mau tahu namanya. Jadi jauhkan rasa percaya dirimu yang setinggi Kilimanjaro!"
Sasuke meraih tangan Hinata yang menyentuh ujung hidungnya. Dengan lembut, dikecupnya ujung jari telunjuk Hinata.
Aaaahhh! Apa yang dilakukannya?! Sasuke mengecup jariku! Jariku!
Hinata ingin sekali menjerit saat itu juga lalu kabur sejauh-jauhnya dari si Uchiha yang penuh dengan serangan tiba-tiba yang mampu membuat jantungnya gila.
Sasuke menyeringai dengan aksi beraninya. Tentu dari reaksi Hinata barusan, gadis itu memang menyukainya, tetapi Hinata terus saja berusaha menolak. Benar-benar gadis Hyuuga keras kepala! Apa susahnya mengakui jika itu jelas tulisan tangannya? Toh, Sasuke pun akan menerima dengan senang hati perasaan Hinata terhadapnya.
"Coba katakan kalau kau memang tidak menyukaiku," kata Sasuke ingin mengetes kejujuran Hinata.
Hinata segera menarik paksa jarinya yang dikecup bibir Sasuke. Wajahnya sudah pasti matang karena malu luar dalam. Di sisa-sisa keberanian dan tekadnya, Hinata memilih untuk tetap tenang dan tegar. Ia pasang kembali topeng dinginnya.
"Baik, dengarkan dengan saksama, Uchiha!" Hinata mengambil napas. Ditatapnya serius lelaki di hadapannya itu. Dengan suara lantang ujarnya, "Aku tidak menyukaimu!"
Kena!
Oh, apakah barusan ada suara benda retak?
Sasuke membisu, ekspresi wajahnya datar, tetapi ada raut kesedihan pada sorot matanya. Ucapan Hinata terngiang-ngiang di kepalanya seperti gema di dalam gua yang terus memantul di tiap sudut. Rasa yang ditimbulkan itu membuat hatinya seperti ditusuk dalam-dalam dan perlahan-lahan. Sengaja membuatnya meringis pelan-pelan.
Ia mendecih demi menghilangkan rasa pedih itu, berusaha sekuat tenaga terlihat tegar setelah mendengar ungkapan menusuk dari Hinata tanpa main-main. Mungkin memang Hinata tidak pernah menyukainya. Gadis itu benar-benar membencinya.
Aduh, sakit sekali!
Hinata mendekat satu langkah tepat di hadapan Sasuke dengan dagu sedikit terangkat. Kemudian mulutnya berucap berupa bisikan, "Aku mencintaimu."
Hinata menyerah. Sasuke harus tahu perasaannya yang sebenarnya. Tidak perlu ditutup-tutupi. Lagi pula, melihat sorot mata Sasuke yang bagaikan anak hilang tadi benar-benar membuat Hinata tidak bisa membendung butir-butir cinta yang sudah membludak di dalam sanubarinya. Ia juga sudah lelah membentak dan mengata-ngatai Sasuke dengan ujaran kurang sopan darinya. Bagaimanapun, Sasuke adalah sosok lelaki yang amat dikasihinya, Sasuke harus tahu cinta Hinata untuknya itu sangat besar dan tidak pura-pura. Dan bertindak kasar pada Sasuke sebenarnya menyakiti dirinya sendiri sehingga Hinata harus melakukan ritual malamnya itu. Merapal mantra agar Sasuke tidak berpaling darinya, apa lagi memangnya?
"Hei," Hinata memanggilnya pelan karena sejak tadi Sasuke masih bergeming. Hinata mengulurkan lagi tangannya, kali ini untuk mendapatkan perhatian Sasuke lagi. Namun kemudian, serangan tiba-tiba dilakukan lagi oleh Sasuke. Ia memeluk Hinata erat. Mendekapnya kuat, tapi melegakan.
"Kautahu, aku ingin sekali menggigit telingamu seandainya kau benar-benar tidak menyukaiku agar kau bisa kujinakkan," ucap Sasuke pelan tepat di telinga kiri Hinata.
Hinata merasakan seluruh tubuhnya merinding, "Kaukira aku binatang liar?"
"Ya. Tidak jauh berbeda."
"Kurang ajar," Hinata mencubit pinggang Sasuke keras hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Pelukannya melonggar.
"Sakit, Hyuuga!" sahut Sasuke sambil memegangi titik yang Hinata cubit gemas.
"Rasakan! Siapa suruh menyamaiku dengan binatang. Dasar virus!"
Aksi romantis mereka berakhir dengan lontaran kata-kata saling menjelekkan, terutama dari Hinata. Namun, mereka pulang bersama. Sasuke mengantar Hinata setelah berhasil menjinakkan mulut si Hyuuga.
Ah, pasti tahu 'kan taktik itu? Tentunya ditambah dengan kata penutup penghilang rasa pedas dari Sasuke untuk Hinata.
Tentu yang satu ini pun tahu 'kan apa kata-katanya?
Lalu peran Hinata sebagai anti-Sasuke maupun "Sasukephobia" berakhir, tetapi tidak dengan kebiasaan mengejek Sasuke. Malah, itu menjadi kesenangan sendiri bagi Hinata saat melihat raut kesal Sasuke. Bahkan saat keduanya saling berani melontarkan kata-kata ejekan.
Menurut Hinata, wajah Sasuke yang kesal sangat lucu!
.
.
.
TAMAT
.
.
Chapter 2 selesai. Lagi-lagi panjang, ya? Tapi ga sepanjang yang pertama sih. Abisnya kalo bikin yg dikit2, saya kurang bisa. Saya perlu ada pendeskripsiannya, meski cuma dikit-dikit. Yang baca fic saya sampe abis berarti orang yang sabar banget. Yokeh dah! Chapter 3 siap dilanjut. Tunggu aja, ya.
.
Salam manis dan terima kasih,
.
Bernadette Dei
