Naruto dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto.

Fantasy - Friendship

.

.

MERMAN FRIEND

.

.

Aku baru saja menikmati dua gigitan ubi bakar sampai kepalaku tiba-tiba dihantam bola basket. Sangat keras hingga membuatku terjerembap ke tanah. Rasanya pusing, pandanganku berkunang-kunang seperti orang yang kehabisan darah.

Aku bisa mendengar tawa kepuasan yang mengejek, mengatai, bahkan mensyukuri ketidakberuntunganku yang mungkin mereka sengaja lakukan.

Aku berusaha berdiri walau amat sulit ketika kepalaku makin berputar-putar seperti baling-baling kapal. Aku bertumpu pada lutut untuk menjaga keseimbangan yang masih sulit kukumpulkan. Akhirnya setelah berhasil berdiri dengan susah payah dan kepala yang pening, kakiku mulai melangkah. Menjauh dari cercaan jahat orang-orang yang sudah membuatku dipermalukan. Kendati demikian, aku tidak sama seperti mereka yang suka membalas sesuatu dengan yang lebih kejam. Aku mendiamkan mereka dengan artian aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka, mungkin nanti saat waktu yang tepat.

Ubi bakarku kotor, tapi aku masih berminat memakannya sampai habis, jadi kupungut ubi itu yang bentuknya mengerikan, lebih layak dibuang. Itu menurut orang lain, bagiku selama aku masih berminat, bahkan makanan basi pun akan tetap kumakan.

.

.

Mendiang ayahku pernah berkata, jika suatu hari aku sedang kesepian dan tak ada orang yang menemaniku, aku perlu duduk di tepi pantai dan bicara pada ombak. Kata Ayah, sekalipun ombak tidak akan bicara menanggapi keluh-kesahku, setidaknya aku sudah membuang bebanku yang terpendam di hati. Sebab tidak baik memendam beban seorang diri dan menahannya berlama-lama dengan bersikap tegar, karena nantinya kita bisa jatuh sakit.

Aku selalu mendengarkan apa yang Mendiang Ayah nasihatkan. Bahkan aku berharap bisa menjadi seseorang yang sebijak beliau, kendati mendiang ayahku tidak berpendidikan tinggi, tapi aku percaya, orang yang bijak tidak sebanyak orang yang pintar. Juga aku percaya dengan apa yang ayahku selalu nasihatkan padaku adalah untuk kebaikanku juga.

Langit sudah gelap sejak tadi dan untuk mengurangi dingin, aku sudah membuat api unggun kecil. Aku selalu menikmati suasana pantai di malam hari, terutama jika laut sedang surut, ombak selalu tenang bahkan hampir tak berombak. Seperti sekarang, laut sedang amat tenang, berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang ingin sekali menumpahkan semua rasa kesalku sejak kejadian siang tadi.

Di saat seperti inilah waktu yang tepat untukku menghilangkan kepenatan hati. Aku mulai bicara pada laut, menceritakan kejadian siang tadi seperti aku sedang bercerita pada teman akrabku karena aku tidak punya teman seorang pun. Entahlah, tidak ada orang seumuranku yang mau mendekatiku.

Ceritaku terus berlanjut. Sesekali raut mukaku berubah-ubah sesuai suasana hati. Sering juga aku tidak merasakan air mata yang mulai membasahi wajah. Di saat air mataku mulai turun, itu berarti kepenatan yang kurasakan seolah telah terobati. Aku merasa lebih lega.

.

.

"Bangun."

Sepertinya ada seseorang yang bicara 'bangun' . Ah, hanya imajinasiku saja.

"Bangun."

Aku menggeliat mengabaikan suara itu. Tapi beberapa saat kemudian, keningku terasa basah seperti ada yang menyentuhnya dengan air.

Oh! Aku baru ingat jika aku ada di pinggir pantai! Mataku pun langsung terbuka lebar. Astaga, air laut sudah mulai pasang! Pantas saja terasa basah. Aku harus segera masuk ke rumah sebelum udara makin dingin.

.

.

Keesokan harinya, aku bangun siang sebab semalam aku tidak bisa langsung tidur sedari sadar kalau aku tertidur di pinggir pantai.

Hari ini, aku berencana mencari ikan untuk kujual lalu aku akan membeli kue cokelat. Sudah lama aku belum lagi membeli kue cokelat Nyonya Terumi.

Semoga saja hasil tangkapanku hari ini cukup untuk membeli kue kesukaanku itu.

.

.

Hari sudah hampir sore, tapi ikan yang kudapat hanya tiga ekor saja dan tidak terlalu besar ukurannya. Aku jadi tidak yakin bisa membeli kue cokelat hari ini. Tapi tak apalah, kalaupun hari ini belum bisa terbeli, mungkin lain waktu. Setidaknya hari ini aku bisa makan saja sudah cukup.

Kudayung perahuku untuk kembali ke darat. Sebelum gelap, aku akan pergi ke pasar menjual ikan-ikan ini.

.

Setibanya di pasar, kutawarkan ikan hasil tangkapanku, tapi tak ada orang yang mau membelinya, bahkan sekadar memerhatikan pun enggan. Mungkin karena ikan-ikan ini tidak besar.

Sepertinya hari ini aku harus membawa pulang ikan-ikan ini dan memakannya sendiri. Ya, sudahlah. Lagi pula, sudah gelap. Kalau tidak laku, mau bagaimana lagi? Masa' harus kulemparkan lagi ke laut? Itu sama saja dengan membuang-buang makanan.

.

Kubakar ikan-ikan ini untuk santapan malam. Berita baiknya, malam ini cuaca sedang bagus, bulan sabit sudah menghiasi langit malam disertai bintang-bintang. Laut juga sedang tenang.

Oh, sudah matang! Perutku bahkan sampai berisik meminta jatah. Wajar saja, sejak pagi aku belum makan apa-apa.

Saat sedang menikmati ikan bakar, terdengar suara riak air. Mataku pun langsung menoleh ke sumber suara itu.

Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya ikan.

Aku kembali memakan santapanku, dan lagi aku mendengar riak air yang kali ini lebih terdengar jelas. Aku yakin itu pasti ikan besar! Apa ada lumba-lumba? Mustahil! Pantai di sini terlalu dangkal untuk seukuran lumba-lumba. Lalu apa?

Aku penasaran ingin memastikan, tapi aku tidak punya senter untuk melihatnya lebih jelas. Ah, tidak usah saja. Bagaimana kalau itu hiu putih? Habislah aku!

Riakan air itu makin sering terdengar seperti disengaja. Apa ada orang yang sengaja menakut-nakutiku malam-malam begini? Tega sekali. Tapi aku tidak akan terpengaruh! Sebaiknya aku masuk dan menikmati ikan bakarku di dalam rumah saja.

.

.

Cuaca pagi ini cukup cerah. Aku senang. Hari ini, waktunya bertualang ke pelabuhan! Yey, aku sudah tidak sabar untuk mencari tahu bagian-bagian kapal besar! Aku ingin menulis ulang apa yang pernah Ayah katakan dulu.

Oke, aku siap!

.

.

"Boleh? Terima kasih banyak, Pak Kepala!"

Senang sekali, akhirnya aku bisa naik kapal besar ini! Ah, lihat itu! Jangkarnya besar sekali! Dan ... Wah, talinya pun besar! Kira-kira beratnya berapa, ya? Mungkin kalau ada tali bekas aku ingin memintanya untuk dijadikan ayunan di samping rumah. Pasti menyenangkan!

Oh, oh, oh! Aku ada di anjungan! Luar biasa! Dari sini aku bisa lihat dengan jelas di depanku. Ah, itu 'kan mercusuar! Pasti seperti ini gaya sang nakhoda saat melihat laut dengan teropong. Wah, keren!

Di sini dek kapal. Lalu kalau aku ke belakang ... Di sini ditulis ...

"Apa ini? Hah! Jangkar, tali pengikat? Omong kosong!"

Salah satu anak dari kelompok anak-anak kota yang beberapa hari yang lalu menggangguku, kembali berulah. Dia merebut buku catatan yang sedang kubaca.

"Tolong kembalikan bukuku," pintaku berharap dia mau mengembalikannya.

"Kau menginginkannya?" Aku mengangguk. Namun kemudian, salah satu dari mereka merobek bukuku lalu membuangnya ke laut.

Aku syok. Di buku itu ada catatan tulisan mendiang ayahku. Itu buku kesayangan ayahku!

"Hah, dia menangis!"

"Dasar cengeng!"

"Apa bagusnya tulisan seperti tali kusut?"

Lalu mereka mulai tertawa keras. Mereka menertawakan buku catatan peninggalan mendiang ayahku yang sangat aku jaga. Buku itu sangat berharga bagiku, tapi mereka malah merusak lalu membuangnya seperti sampah. Mereka sangat kejam!

Tiba-tiba, mereka mengangkat lalu melemparku ke air dari atas kapal.

Mereka menertawakanku lagi seperti maniak. Kepalaku pusing dan tubuhku terasa sakit karena dilempar dari ketinggian ke air tanpa persiapan, tentu sangat menyakitkan. Mereka benar-benar jahat! Memangnya apa salahku? Aku sudah mendapat izin dari Kepala Pelabuhan untuk menaiki kapal dan mempelajari sedikit bagian-bagiannya. Aku bukan pencuri yang pantas diperlakukan seperti itu!

Sudahlah, percuma saja aku menggerutu dan menangis. Aku tidak akan pernah bisa membalas mereka, walau sangat ingin kulakukan.

Kaki kananku sakit, mungkin terkilir.

Cukup lelah berenang dengan satu kaki. Beruntung, kapal itu berlabuh tidak jauh dari dermaga, jika tidak, pasti aku sudah jadi santapan hiu putih.

Hari ini, aku pulang basah kuyup dan tertatih-tatih.

.

.

"Ini."

Seorang lelaki muda—mungkin dua tahun lebih tua dariku—memberi buku catatanku yang dibuang ke laut oleh anak-anak kota.

Aku pun menerimanya. Senang tapi juga bingung. Bukankah buku ini mereka robek? Kenapa sekarang utuh?

"Itu ... terima ... Eh?" Ke mana laki-laki itu? Bukankah tadi dia di sini? Aneh. Aku 'kan belum sempat mengatakan terima kasih.

.

Hah? Mimpi?

Gara-gara kejadian di pelabuhan kemarin, aku bermimpi aneh. Mataku tertuju ke jajaran bukit karang besar di sebelah barat. Dalam mimpiku, aku bertemu dengan lelaki itu di sana. Tiba-tiba aku jadi merasa tergelitik untuk menilik ke sana.

Apa iya ada seseorang di dekat karang itu? Kenapa aku jadi penasaran begini, ya? Ah, itu 'kan hanya mimpi! Bukuku tidak akan kembali. Biarlah, aku yakin Ayah tidak akan marah padaku sebab bukan salahku kalau buku itu rusak dan dibuang ke laut. Anak-anak kota itu yang salah!

.

.

Aku tidak mengerti, rasa penasaran membawaku ke dekat bukit karang ini.

Ah, aku bahkan baru tahu jika di dekat sini ada gua. Aku akan memeriksanya. Sepertinya di dalam sana tidak gelap.

Aku terpana saat memasuki gua itu. Di sini memang tidak gelap, ada celah di atas dinding karangnya sehingga sinar matahari bisa masuk. Guanya pun tidak terlalu besar atau luas, mungkin cukup untuk menampung lima orang di sini.

Aku makin senang saat kakiku melangkah dan menyadari jika di sudut kiri gua ini sepertinya terhubung dengan laut yang membentuk seperti kolam. Aku dekati kolam kecil itu. Bisa kulihat ke bawahnya yang dangkal dan jernih airnya. Pasti menyenangkan kalau aku coba cek akan menuju ke mana nantinya ujung masuknya air laut ini. Tapi aku sedang malas membilas badan, jadi kuurungkan saja niat menyelamku. Mungkin lain kali.

Kurasa cukup melihat-lihatnya. Aku harus kembali karena baru ingat kalau aku belum makan. Lain kali kalau ke sini, aku akan bawa makanan. Pasti seru piknik di sini!

Kira-kira, hari ini aku makan apa, ya? Di rumah sudah tidak ada bahan makanan.

Saat aku hendak keluar, terdengar suara riak air. Aku jadi teringat di malam itu.

Aku segera menjauh dari kolam. Walau terdengar mustahil, aku sangat takut jika yang muncul hiu putih lalu mencabikku tanpa ampun!

Aku memang takut, tapi rasa penasaranku lebih besar. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengintip dari balik dinding karang.

Betapa kagetnya saat kulihat ada kepala seseorang muncul dari dalam air di sana. Dia laki-laki dan bertelanjang dada. Lalu dia hanya berdiam diri duduk di pinggiran kolam, sedang kakinya masih direndam di air. Wajahnya sendiri tidak bisa kulihat karena posisinya yang membelakangiku.

Syukurlah, bukan hiu putih yang muncul.

Tunggu, sedang apa dia dari bawah sana? Apa tadi dia menyelam mencari biota laut? Oh, benar. Pasti dia penyelam. Dan sepertinya dia bukan kelompok anak-anak kota yang sering menggangguku. Dia terlihat asing bagiku.

"Halo," sapaku ramah. Dia pun menengok ke arahku.

Wah, baru pertama kali kulihat ada lelaki setampan dia! Matanya bagai mutiara hitam. Rambut gelapnya terlihat kebiru-biruan saat terkena cahaya matahari yang masuk dari celah karang. Dan kulitnya putih bersih, aku saja tidak seputih dirinya. Bagaimana bisa seorang penyelam memiliki kulit yang begitu putih?

Dia tersenyum ramah padaku. Ah, ini pertanda baik. Mungkin aku bisa berteman dengannya.

"Kamu penyelam, ya?" tanyaku basa-basi. Dia menggeleng.

"Bukan," jawabnya, "aku memang suka berenang."

Aku tertawa kecil. "Itu sama saja dengan penyelam. Kalau suka berenang pasti juga suka menyelam," kataku.

"Tapi aku bukan penyelam," katanya sedikit memaksa.

"Lalu apa?" tanyaku. Rasanya lucu, dia seperti anak kecil yang polos tak mau kalau saat bertengkar.

Dia bergerak sedikit aneh menurutku. Lalu dia mengangkat pinggangnya dan menunjukkan kakinya yang ... Astaga naga ada hiu di dermaga! Apa itu?

Dia memakai alat selam terbaru mirip sirip ikan!

"Wah, keren!" Beli di mana alat selam itu? Aku mendekatinya ingin melihat lebih jelas alat yang dipakainya itu.

"Ini bukan alat selam. Ini asli," sahutnya.

Aku berjongkok di dekatnya, sekitar dua langkah darinya.

Kuperhatikan alat selam mirip sirip ikan itu. Warnanya kebiru-biruan seperti warna laut dalam. Aku terpana melihat sisik-sisiknya yang berkilau seperti lampu kelap-kelip.

Aku penasaran ingin menyentuhnya, tapi aku takut dia tidak akan suka. Jadi, aku hanya diam saja.

"Aku manusia duyung," katanya sambil menatapku serius.

Duyung? Memangnya duyung-duyungan seperti di dongeng sungguh ada? Mustahil!

"Mustahil," aku menyuarakan isi kepalaku. Dia meraih tangan kananku lalu menyentuhkannya ke alat selam itu.

"Coba rasakan, ini asli atau palsu," katanya.

Walaupun dia yang meletakkan tanganku padanya, aku cukup tahu diri untuk tidak berlaku kurang sopan pada orang yang baru kutemui.

Rasanya seperti sisik ikan sungguhan, bukan plastik atau karet. Benar-benar sisik ikan!

Tapi, bagaimana bisa?

"Bagaimana? Apa sisikku ini palsu? Kalau masih ragu, coba lihat ini. Ikan memiliki insang dan aku pun punya."

Dia kembali memperlihatkan sesuatu di belakang telinganya yang bentuknya unik. Ada kulit aneh yang bergerak-gerak.

Insang?

"Sekarang kamu percaya, 'kan?"

Mungkin benar. Kata anak-anak kota, aku ini sinting, sudah gila. Bocah lelaki di hadapanku ini kuanggap seekor duyung, maksudku, manusia duyung.

Mungkin aku lapar jadi tidak bisa konsentrasi. Aku harus pulang lalu makan dan tidur agar otakku tidak konslet. Mungkin juga gara-gara kemarin aku diceburkan ke laut sehingga air laut masuk ke kepalaku.

"Maaf, aku harus pulang," kataku, lalu dengan terburu-buru keluar dari gua meninggalkan lelaki aneh itu yang memanggil-manggilku.

Untuk beberapa hari ke depan, aku tidak mau ke laut!

.

.

"Hinata, kamu tidak menangkap ikan lagi?" tanya Paman Kotetsu.

Aku mengangguk, "Ya, Paman. Perahu saya bocor," aku berbohong. Aku tidak mau bertemu laki-laki aneh itu, apalagi mengatakan pada orang lain kalau aku bertemu manusia duyung. Pasti aku akan dianggap gila.

"Oh, begitu. Kenapa tidak bilang pada Paman? Paman 'kan bisa bantu perbaiki."

"Ba ..." aku kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. "Saya belum punya uang, Paman," kataku pelan. Untuk yang satu ini aku berkata jujur.

Kudengar Paman Kotetsu tertawa lalu menepuk pundakku.

"Jangan sungkan meminta bantuan Paman. Paman tidak meminta imbalan. Paman senang kalau bisa membantu."

"Terima kasih," aku pun tersenyum mendengarnya. Paman Kotetsu memang selalu baik.

"Jadi kapan mau Paman perbaiki perahumu?"

"Na-nanti saja, Paman. Lagi pula, saya sedang tidak mau ke laut dulu."

"Oh, begitu. Ya, sudah. Kalau kamu sudah mau melaut lagi, beri tahu Paman kapan Paman bisa perbaiki perahumu. Oke?"

"Oke," balasku. Paman Kotetsu pun pamit pulang.

Aku masih takut pergi ke laut. Aku takut bertemu hiu putih.

Tentu saja bukan!

Tapi laki-laki aneh itu. Ini bahkan sudah seminggu aku tidak ke laut. Ke pinggir pantai pun tidak.

Di kepalaku selalu dihantui bayangan laki-laki itu yang mengejar-ngejarku sambil berkata dia seorang manusia duyung.

Bukan aku takut dia manusia duyung, tapi aku takut dikatakan gila oleh orang lain. Sebab, mana ada orang akan percaya dengan duyung-duyungan? Kalau ikan duyung mungkin iya.

.

.

"Hei," sapa seseorang yang membuatku berjengit terkejut. Hampir saja kujatuhkan pakaian yang sedang kujemur. Aku membalikkan badan, dan kembali terlonjak melihat orang yang menyapaku. Dia orang yang sama yang kutemui di gua karang seminggu yang lalu! Tapi, ada yang berbeda sekarang. Dia punya kaki!

Tunggu, berarti dia bohong saat mengatakan dirinya seorang manusia duyung! Mana ada manusia duyung punya kaki, kecuali dia minta ramuan pada penyihir laut untuk mengganti sirip menjadi kaki.

Ya, aku sedikit tahu tentang dongeng semacam itu.

"Sedang apa kamu di sini?" tanyaku ragu.

"Aku ingin menemuimu karena sudah seminggu lebih kamu tidak terlihat di sekitar pantai," ucapnya. Wajahnya terlihat sendu. Aneh.

Dan, apa arti ucapannya barusan? Dia terdengar seperti merindukanku. Hah, lucu sekali! Dia pasti tidak punya teman untuk diajak bercanda.

"Itu karena aku malas bertemu denganmu," kataku.

"Kenapa?"

"Kamu bohong saat kamu bilang kamu manusia duyung, padahal sekarang kamu punya kaki," ujarku sedikit kesal sambil menunjuk-nunjuk ke kakinya.

Dia pun melihat ke kakinya lalu kembali menatapku. Katanya, "Aku memang manusia duyung dan ya, aku juga bisa punya kaki sepertimu. Namun, aku manusia duyung sepenuhnya. Aku hanya bisa punya kaki sementara saja, tidak permanen."

Aku menggaruk kepala sedikit bingung.

Apa iya aku sudah gila? Mungkin kepalaku terbentur saat tidur sehingga otakku kadang eror. Seperti sekarang.

Kupukul-pukul kepalaku agar otakku berfungsi dengan benar.

"Kamu kenapa? Kenapa kepalamu dipukul?" tanyanya yang terlihat cemas.

"Otakku sedang eror."

"Maksudnya?"

"Aku sedang tidak waras."

"Hah?"

"Kamu pulang saja, sana! Aku harus tidur," kataku sedikit keras.

"Tapi aku masih ingin bertemu denganmu sedikit lama lagi. Seminggu lebih aku tidak melihatmu." Kenapa dengan bocah aneh ini? Apa benar dia merindukanku? Lucu.

Sebenarnya aku tidak tega melihat raut wajahnya yang memelas seperti itu. Dari sekian banyak anak-anak remaja di kotaku, hanya bocah inilah yang mau mendekatiku.

Aku menghela napas, "Aku harus tidur. Otakku sedang tidak waras," kataku, kali ini lebih lembut.

Wajahnya kembali terlihat sedih.

"Nanti sore, bisa?"

"Tidak tahu."

"Jadi kapan?"

"Aku tidak tahu! Astaga." Sungguh! Kenapa dia memaksa sekali ingin menemuiku lagi? Memangnya ada urusan apa denganku? Apa dia mau memesan ikan?

Yang benar saja! Dia sepertinya lebih lihai menangkap ikan dibanding aku. Dia 'kan punya alat sirip ikan. Lalu ... insang? Ah, itu juga pasti alat bantu pernapasan saat di dalam air.

"Namaku Sasuke. Kalau kamu?" tanyanya. Raut mukanya sudah tidak terlalu sedih.

"Hinata."

"Baiklah. Pastikan kamu ada di rumah. Nanti aku akan menemuimu lagi, Hinata. Dah!"

Dengan itu, dia pun pergi.

Siapa tadi namanya? Sasuke? Keren juga namanya.

Aku jadi penasaran kenapa dia ingin sekali menemuiku. Mungkinkah dia ingin berteman denganku? Kenapa dia mau berteman denganku? Apa karena dia tidak diterima oleh anak-anak kota itu?

Mungkin saja.

Dan sepertinya dia bukan orang yang punya niat jahat padaku, dia seperti orang baik dan jujur. Jadi, kenapa tidak jika dia memintaku menjadi temannya? Toh, aku juga tidak punya teman. Dia bisa jadi teman pertamaku, walaupun aneh.

Atau aku sendiri yang aneh. Ah, terserahlah!

.

.

"Hinata, Hinata! Hinata."

Sungguh, apa sekarang ada orang merindukan ikan hasil tangkapanku? Apa akhirnya kehadiranku dibutuhkan?

"Hinata."

Dan kenapa orang ini tidak sabar?

"Sebentar!" sahutku cukup keras agar orang yang memanggilku mendengar. Meskipun aku miskin, aku tidak mau menerima tamu dengan wajah kusut bangun tidur. Memang aku juga tidak cantik, tapi bukan berarti aku tidak tahu berpenampilan rapi, 'kan?

"Ya, ada perlu a ..." Lagi-lagi si bocah aneh! Siapa namanya? Sasuke. Ada perlu apa dia kemari?

"Aku menepati ucapanku, 'kan? Aku ingin menemuimu."

"Kenapa kamu ingin sekali menemuiku?" tanyaku penasaran.

"Aku tidak punya teman di sini. Dan saat kita bertemu di gua itu, aku senang sekali karena kamu tidak takut padaku."

"Kenapa harus takut?"

"Karena aku manusia duyung."

Ingin sekali rasanya aku tertawa sampai perutku kram. Ucapannya barusan benar-benar tidak lucu.

"Sudah, jangan bahas hal konyol itu lagi. Sama sekali tidak lucu."

"Tapi aku me ..." kusela ucapannya karena jengkel.

"Manusia duyung. Ya, ya. Katakan itu saat kamu benar-benar punya sirip, sisik, dan insang. Ah, jangan lupa gigi runcing layaknya ikan hiu," kataku sambil menunjuk ke arahnya.

Mukanya sedikit memberengut seperti tidak suka dengan kalimatku, "Aku bukan spesies hiu, melainkan Istiophorus. Aku punya sirip di punggung saat ..."

Lagi-lagi tak kubiarkan dia menyelesaikan ucapannya, "Ya, ya. Nanti saja pamernya, ya. Aku harus ke pasar mencari makan karena aku belum makan sejak semalam."

"Boleh aku ikut?"

"Ya. Asal kamu janji tidak akan mengatakan lelucon konyolmu itu, setuju?"

"Lelucon konyol?" dia terlihat bingung beberapa saat. "Oh, aku mengerti! Setuju."

"Ya, sudah. Ayo berangkat."

"Ayo!" Dia mengikutiku dengan penuh antusias. Senyum cerah menghiasi wajahnya yang tampan.

.

.

Kenapa ya kalau di saat aku tidak punya uang, setiap melihat makanan pasti terlihat sangat menggiurkan? Ya, aku memang lebih sering tidak punya uang.

Kulihat Sasuke memerhatikan suasana ramai pasar. Dia antusias sekali seperti anak kecil yang diajak ke taman bermain. Mungkin benar jika dia bukan penduduk kota ini, mungkin dia orang baru.

Kuperhatikan tempat yang menjadi incaranku. Ah, di sana! Aku pun berjalan menuju sudut gang diikuti Sasuke di belakangku.

"Kamu sedang apa?" dia bertanya.

"Mencari makanan," kataku sambil mengaduk-aduk tempat pembuangan.

"Kamu mencari makanan sisa?"

"Ya, karena aku tidak punya uang untuk membeli makanan. Jadi ya, aku cari saja di sini," jelasku.

Lucu, biasanya aku cepat dapat makanan sisa, tapi tumben sekali aku belum menemukannya.

"Apa ini bisa membantumu?" tanyanya lagi sambil menunjukkan beberapa lembar uang kertas.

Mataku membulat terkejut. Dari mana dia punya uang sebanyak ini? Pastilah dia ini orang kaya. Tapi sedikit pandir.

"Kamu orang kaya, ya?"

"Tidak juga. Kebetulan saja kakakku memberikan ini selama aku di darat. Tadinya sempat kutolak karena tidak penting bagiku, tapi Kakak memaksa dan akhirnya aku bawa. Syukurlah, kalau ternyata ini berguna."

Ini lebih dari kata berguna, tapi memang sangat dibutuhkan! Apalagi oleh orang sepertiku.

Sekelibat aku teringat pesan Ayah. Beliau pernah menasihatiku jika suatu kali aku tidak punya uang, jangan sekali-kali aku mencuri, mengambill milik orang lain. Lebih baik makan makanan basi daripada mencuri.

Uang yang disodorkan Sasuke diberikan padaku, tapi aku ingat perkataan Ayah. Aku tidak boleh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Ini 'kan uangmu, jadi kamu yang pakai," kataku memberikan kembali uangnya.

"Tapi aku tidak butuh. Kamu lebih membutuhkannya," dia menyodorkan lagi uangnya padaku.

"Ya, belilah yang menarik minatmu."

"Tidak ada yang menarik minatku, Hinata."

Aku hanya mengangkat bahu.

"Begini saja, kamu mau apa?"

"Aku mau makan," jawabku. Perutku mulai berisik. Dia tersenyum. Entah karena dia sedang menertawaiku atau apa.

"Kalau begitu, kita beli makanan. Uang ini bisa dipakai untuk itu, 'kan?" Aku mengangguk.

Ayah, aku tidak salah, 'kan?

.

.

Sasuke hanya mampu di darat sampai lima jam saja, itu pun harus dibantu dengan suplai air minum. Dia harus sering minum supaya sisik-sisik di kulitnya tidak muncul dan membuat takut orang lain.

Dia temanku, sahabatku. Dulu, aku sering sendirian. Namun sekarang ada Sasuke yang mau menemaniku. Aku sangat senang karena dia juga banyak membantuku saat aku menangkap ikan. Berkat bantuannya, banyak ikan yang kudapat lalu kujual ke pasar dan mendapat uang untuk membeli makanan, termasuk kue cokelat kesukaanku buatan Nyonya Terumi.

Sasuke juga sangat suka kue cokelat itu. Katanya, lain kali dia ingin mencoba kue keju. Aku pun setuju.

Semenjak aku berteman dengan Sasuke, anak-anak kota tidak pernah lagi menggangguku. Beberapa hari yang lalu, Sasuke membalaskan dendam terpendamku dengan menghajar satu anak yang jadi biang keroknya. Bocah ingusan itu menangis meminta ampun agar berhenti dipukuli kepalanya oleh Sasuke. Bahkan, teman-teman sekelompoknya tak ada yang berani membantu. Cih, ternyata mereka semua penakut! Mereka hanya berani melawan yang lemah tak berdaya dan sekalinya dapat lawan tangguh, nyali mereka seperti perahu bocor. Menggelikan!

Beruntung saja, Sasuke bukan orang kejam yang menghajar seseorang sampai babak-belur. Dia hanya memukul beberapa kali. Dia lebih sering menjitak sambil menasihati mereka berlima. Aku terkekeh melihatnya. Dia seperti seorang guru yang sedang menegur murid-murid yang nakal.

Hah! Mereka memang pantas diberi hukuman atas apa yang pernah mereka lakukan terhadapku. Dan aku perlu berterima kasih pada Sasuke, sahabatku.

.

.

Keberadaan Sasuke sebagai manusia duyung kurahasiakan dengan alasan tidak mau membahayakan dirinya yang bisa diburu orang tamak. Sasuke 'kan spesies langka, aku tidak mau jika dia maupun sebangsanya punah. Lagi pula, dia juga sahabatku satu-satunya. Kalau dia tidak ada, siapa lagi yang mau jadi temanku? Aku pasti akan sendirian lagi dan anak-anak kota itu akan menggangguku lagi. Aku tidak mau kehilangan Sasuke seperti aku kehilangan ayahku yang tercinta.

Jadi kubilang padanya agar jangan memamerkan jati dirinya yang seorang manusia duyung pada orang lain karena itu bukan ide bagus. Bisa nyawa taruhannya!

Aku sangat terkesima ketika pertama kali melihat sosok sejatinya. Dia memang masih memiliki tubuh manusia, hanya bagian pinggang ke bawah tergantikan dengan bentuk sirip ikan dan di punggungnya terdapat sirip mirip layar. Dia berkali-kali mengatakan jenis spesiesnya yang begitu sulit kuucapkan, Istiophorus. Sungguh, aku paling suka saat Sasuke melompat-lompat di permukaan air dengan memamerkan sirip punggungnya yang bagai sayap. Dia mirip ikan terbang! Kadang aku merasa iri padanya.

Sasuke sendiri pun merasa iri padaku karena aku punya kaki permanen dan bisa lari dengan bebas sambil menghirup oksigen banyak-banyak lewat hidung. Bukan insang.

Lucu, kami memiliki perbedaan yang membuat kami iri. Tapi, aku maupun Sasuke tetap bersyukur dengan wujud kami ini. Aku sebagai manusia sejati dan Sasuke sebagai manusia duyung. Aku selalu berharap jika persahabatan kami ini tidak akan terpisahkan sampai kapan pun, karena bagiku Sasuke sangat berarti. Begitupun sebaliknya, dia pernah bilang padaku begitu.

.

.

THE END

.

.

Catatan kaki :

Istiophorus genus dari ikan layaran yang punya sirip mirip layar di punggungnya. Sailfish dalam bahasa Inggrisnya.

.

Bagi saya, ikan layaran ini keren banget! Tadinya saya mau masukin ikan marlin buat jadi spesiesnya Sasuke, tapi marlin ga punya sirip lebar kaya ikan layaran. Cerita ini terinspirasi dari telenovela yg pernah ada di TV zaman saya masih bocah dulu. Ceritanya ya emang duyung2an, cuma bukan merman, tapi mermaid. Tapi merman yg saya bikin di sini agak unik. Ya ga? Hehehe...

Temen2, semoga bisa ngerti ya. Kalo saya cantumin "kau" lebih terdengar meninggikan diri/status, kalo "kamu" lebih merendah dan sopan. Saya juga pake bahasa yg ringan dan sederhana karena di sini pelakon utamanya remaja, jadi dari sisi pemikiran pun lebih simple aja. Bisa dimaklumin, ya.

.

Terima kasih banyak buat (yg ga log in):

Baenah231 Kenapa ga log in? Saya jadi ga bisa bales via PM.

ana Nah, ini juga. Napa?

.

Salam manis dan terima kasih,

.

Bernadette Dei