Naruto dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto.

Friendship - Romance

.

.

SLOWLY SWEET

.

.

Tidak seperti biasanya kantin begitu penuh dengan pengunjung. Bahkan tempat duduk yang biasa ditempati Hinata sudah diklaim oleh beberapa orang yang tidak dikenalnya. Hinata mencari-cari tempat yang kemungkinan masih tersedia sambil membawa makan siangnya. Rasanya baru tujuh menit Hinata memesan makanan di kedai langganannya, dan secepat itu pula tempat duduk serta seisi kantin sudah terisi penuh dengan manusia-manusia yang sama kelaparannya seperti dirinya.

Hinata mulai kebingungan mencari tempat kosong karena sepertinya semua sudah hampir ditempati. Matanya masih bekerja menelusuri, sampai akhirnya ia menemukan satu tempat kosong. Letaknya sedikit terpojok.

Sayangnya, Hinata tahu tempat itu biasanya ditempati oleh seseorang. Tapi sepertinya orang yang dimaksud tidak ada, mungkin tak ada salahnya duduk di sana.

Hinata pun berjalan menuju ke tempat kosong tersebut. Masih dengan was-was karena bisa saja orang itu datang tiba-tiba lalu merasa tidak nyaman dengan orang asing kemudian mengusir Hinata pergi. Sebenarnya Hinata bisa saja makan di luar kantin, hanya saja ia tidak mau repot membawa nampan makan siangnya keluar dengan dihadiahi tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.

Semoga saja dia tidak ada hari ini, jadi aku bisa makan siang dengan tenang, ucapnya dalam hati.

Dan baru saja Hinata hendak menyuapkan makanan ke mulutnya, ia merasakan ada kehadiran seseorang di depannya. Dengan takut-takut, Hinata memberanikan kepalanya menengadah.

Sudah kuduga, duduk di sini adalah ide buruk.

Hinata mulai terlihat tidak tenang sebab orang yang berdiri di hadapannya tidak bicara sama sekali, hanya menatapnya. Hinata menyimpulkan, jika dirinya harus segera menyingkir sebelum orang itu mengusirnya.

"Maaf, ta-tadi tempat yang kosong hanya di sini," ujar Hinata cepat, tapi sedikit gagap. Ia pun berdiri, siap untuk makan siang di luar kantin. "Sekali lagi maaf."

"Duduk saja," lelaki di hadapan Hinata berkata.

Hah?

Sontak ia pun menatap heran penuh keterkejutan dengan ucapan lelaki itu. Setahunya, lelaki yang Hinata tahu bermarga Uchiha itu, tak pernah duduk dengan orang lain. Ia biasa duduk sendiri di tempat itu. Maka akan terasa janggal jika dirinya duduk dengan si Uchiha karena memang Hinata pun terbiasa menyendiri.

"Aku tidak keberatan, duduk saja," lanjut si Uchiha, lalu ia duduk tepat di depan Hinata, mengabaikan ekspresinya.

Hinata masih sanksi apakah dirinya harus duduk kembali atau pergi dari situ, kendati dirinya sudah mendapat izin untuk duduk.

"Kenapa?" tanya si Uchiha yang sedikit heran dengan perempuan di depannya yang sejak tadi hanya diam berdiri dengan bimbang.

"Bu-bukan apa-apa. Terima kasih."

Akhirnya, Hinata pun duduk makan siang bersama si Uchiha.

.

.

Siang itu matahari terasa menyengat. Padahal baru saja sepuluh menit Hinata berjalan di area terbuka karena adiknya memintanya membelikan es krim yang dijual di minimarket dekat rumah mereka. Karena memang sedang musim panas, cuaca di luar amat panas seperti sedang direbus di kolam air panas. Hinata memang sudah menggunakan payung dan hoodie demi menghindari sinar ultraviolet yang berlebihan, tapi tetap saja, sensasi panasnya itu sangat terasa hingga ke kepala.

Di tangannya sudah ada pesanan adiknya. Hinata ingin sekali beranjak dari tempat itu, tapi kakinya entah kenapa sulit diajak kompromi untuk berjalan. Mungkin karena udara panas.

Es krim yang ada di kantung plastik ia dekatkan ke wajahnya yang kepanasan dan berkeringat. Rasanya sejuk saat sensasi dingin merambat di wajahnya.

"Hei, hidungmu berdarah." Hinata mendengar seseorang bersuara di sampingnya. Ia terkejut saat melihat orang di sebelahnya itu, ternyata si Uchiha!

Sedang apa dia di sini? tanyanya dalam hati, lupa dengan ucapan si Uchiha barusan.

"Kau sakit?" kali ini si Uchiha mendekat karena khawatir dengan perempuan di depannya yang mimisan.

Hah?

Hinata baru saja memahami keadaan meraih hidungnya dan seketika jemarinya merasakan ada cairan yang menempel. Darah.

Kenapa bisa? tangannya berusaha meraih isi tas untuk mencari sapu tangan yang biasa dibawanya. Tapi ternyata, nihil.

Sial! rutuknya. Sapu tangan tak ada, maka tangannyalah yang berguna. Apa lagi memangnya?

"Hei, jangan lap pakai tanganmu! Ini," kata si Uchiha sambil memberikan sapu tangannya.

"Terima kasih," jawab Hinata.

"Jangan ditekan seperti itu," sahut si pemilik sapu tangan ketika Hinata mengusap dengan kasar hidungnya seperti orang yang sedang membuang ingus. Dan Hinata yang barusan ditegur, hanya mematuhinya. Kali ini ia mengusap hidungnya dengan pelan.

"Ah, di depan ada klinik. Sebaiknya kita periksa ke sana," si Uchiha kembali bicara.

Kita?

Selanjutnya, Hinata ditemani oleh si Uchiha menuju ke klinik. Melupakan bagaimana bisa si Uchiha ada di minimarket itu dan apa yang dilakukannya.

.

.

Hinata duduk meringkuk. Kepalanya di atas meja, satu tangannya memegang perut yang terus bergelora. Sedari tadi ia merutuki kelalaian dirinya yang melupakan barang berharga yang biasanya selalu menemaninya setiap saat dan ke mana pun ia pergi.

Dompet.

Karena kelalaiannya itulah sekarang Hinata tak bisa berkutik dengan keadaan kelaparan. Dan salahkan juga dirinya yang lupa untuk makan malam semalam, padahal adiknya terus memanggil untuk mengajaknya makan.

Kau benar-benar tidak peduli dengan dirimu sendiri, ya, Hinata?! makinya pada diri sendiri.

Hari masih siang, jam pulang masih lama, perut meminta jatah tapi dompet ketinggalan, musnahlah rasanya.

Benar-benar sial.

Hinata tersentak saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Ia pun segera duduk sigap bagaikan seorang pegawai yang sedang bermalas-malasan di meja kerja lalu dikejutkan dengan kedatangan sang bos.

Eh, Uchiha?

"Kau belum makan, 'kan? Ini, makanlah." Si Uchiha menyodorkan sekotak bekal di meja Hinata kemudian beranjak sebelum Hinata sempat berpikir normal dan mengatakan terima kasih.

"Terima kasih," gumam Hinata pada sosok yang sudah menghilang di balik pintu.

.

.

Sudah bulan September, dan hujan sudah mulai sering turun tanpa diduga. Seperti sore ini. Hujan turun cukup deras. Hinata kembali merutuki dirinya yang lupa membawa payung lipat. Niatnya yang ingin pulang cepat karena ada acara televisi drama yang sedang disukainya mulai jam enam. Sayang, sepertinya ia harus ketinggalan satu episode sore ini.

Hujan menyebalkan. Dasar pelupa! rutuknya kesal.

Hujan sudah turun selama dua puluh menit dan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Akhirnya, Hinata memutuskan untuk duduk. Berdiri lama membuat pegal, apalagi saat udara dingin dan lembap.

Biasanya jika hujan sore-sore seperti ini, jika Hinata berada di rumah bersama Hanabi, mereka berdua akan duduk meringkuk berselimut di atas sofa sambil menikmati keripik kentang dan teh hijau panas. Tapi sekarang, Hinata duduk sendiri menunggu hujan yang entah kapan reda, sedikit kedinginan, dan lapar.

Membosankan.

"Jangan melamun. Kau tidak mau 'kan jadi penyebab ayam tetangga mati tiba-tiba?"

Hah?

Entah datang dari mana si Uchiha muncul lalu duduk di sebelah Hinata. Si Uchiha memulai percakapan ringan dengan Hinata. Katanya agar hujan cepat reda dan ayam tetangga tetap hidup, besok dan seterusnya karena tak ada Hinata yang melamun memikirkan kapan hujan reda.

.

.

Tak terasa sudah hampir di akhir Oktober, dua bulan lagi adalah bulan yang dinantikannya, yakni hari kelahiran Hinata. Seharusnya di hari ini Hinata memasang wajah ceria. Akan tetapi, kepalanya terasa pening dan tubuhnya terasa berat untuk digerakkan.

Pasti gara-gara semalam bergadang.

Ada alasan kenapa Hinata bergadang semalam sehingga mengurangi jam istirahatnya.

"Kalau kurang sehat, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk sekolah. Seharusnya kau istirahat saja," ujar seseorang.

Hinata sudah hafal siapa orang itu tanpa perlu melihatnya sekalipun.

"Besok ada ulangan Matematika. Aku paling payah di mata pelajaran itu," sahutnya frustrasi. Kepalanya makin terasa berdenyut memikirkan berbagai rumus-rumus mematikan yang membuat Hinata serasa ingin pergi ke Madagascar demi membebaskan pikirannya.

Besok bagi Hinata bagaikan hari ajalnya.

"Nanti aku ajari sampai kau bisa," ucap si Uchiha santai tapi serius.

Hah?

.

.

Hinata sudah berada di dekat gerbang sekolah, bersiap untuk pulang. Tapi ia terdiam karena pemandangan langit sore itu menarik perhatiannya. Langit terlihat mendung menandakan tak akan lama lagi akan turun salju, mungkin tinggal menunggu hari. Hinata selalu menantikan hari pertama turun salju. Karena di saat itulah ia akan semakin tidak sabar untuk menunggu usianya bertambah. Ingat, bukan karena ia ingin hadiah!

"Ada yang kautunggu?"

Hah?

"Tidak." Yah, sebenarnya ada.

Salju.

"Kalau begitu ayo," ajak si Uchiha.

Maksudnya, kita pulang bersama, begitu?

"Bukankah rumah Uchiha berlawanan arah?" tanya Hinata akhirnya yang sadar kalau ternyata si Uchiha ikut berjalan di sampingnya.

"Ya."

Lalu kenapa dia lewat sini?

"Oh, Uchiha mau ke toko buku, ya?" Hinata pernah melihat si Uchiha beberapa kali nongkrong di toko buku. Tidak mengherankan kalau si Uchiha itu menjadi siswa nomor satu di angkatannya, toh hobinya membaca.

"Tidak," jawabnya singkat.

"Lalu mau ke mana?" Hinata ternyata masih penasaran.

"Sungguh. Kau benar-benar tidak peka, ya, Hyuuga?"

Hah? Maksudnya?

"Aku ingin mengantarmu pulang, Lamban," lagi tambah si Uchiha yang kelihatannya agak kesal.

Hinata terheran-heran, bukan terkejut.

"Untuk apa? Aku biasa pulang sendiri dan tidak ada apa-apa." Di pikirannya yang ada saat itu adalah si Uchiha yang ingin mengantarnya pulang demi alasan keselamatan, mengingat di berita akhir-akhir ini terjadi hal-hal mengerikan terhadap siswi-siswi yang pulang sekolah, seperti perampokan, pencopetan, penodongan, hingga yang terparah penculikan.

Tapi jalan menuju rumah Hinata selalu aman dan selama ia bersekolah di SMA Konoha, tak pernah ia mendapati hal-hal semengerikan itu. Dan ya, jangan sampai terjadi. Amit-amit!

"Geez, apa aku tak boleh mengantarmu?" Si Uchiha tak habis pikir kenapa si gadis Hyuuga itu memiliki pemikiran yang terlalu kolot, anggaplah begitu.

"Bo-boleh saja. Tidak apa-apa," sahut Hinata cepat. Seketika ia merasa takut saat melihat raut kesal di wajah si Uchiha. "Aku hanya ..." Hinata mulai kembali beralasan. "Rumah Uchiha 'kan jauh dari rumahku. Nanti ..."

Dulu, Hinata pernah pergi ke rumah si Uchiha bersama beberapa teman sekolahnya karena si Uchiha sakit. Hinata dan temannya datang membesuk. Walau hanya datang sekali, Hinata cukup hafal jika perjalanan ke tempat kediaman si Uchiha cukup jauh dari sekolah.

Nah, apalagi sekarang jika si Uchiha mau mengantar Hinata sampai ke rumahnya. Tambah jauhlah jarak tempuh si Uchiha nantinya.

"Rumahmu dekat stasiun, 'kan?" Hinata mengangguk atas perkataan si Uchiha yang memotong ucapannya. "Aku bisa naik kereta."

Benar juga.

Hinata tidak memikirkan sampai ke tahap itu. Mungkin lupa alias tidak ingat.

.

.

Hari yang dinantikan Hinata pun tiba. Kini, usianya sudah bertambah. Ia senang mendapat pelukan hangat dan cium penuh kasih sayang dari keluarganya, juga mereka memberinya hadiah. Kendati Hinata tidak meminta dan sempat berkata 'tidak usah', tapi karena dasarnya orang tua dan adiknya senang, ya mau bagaimana lagi?

Hinata merasa sangat lengkap di hari ulang tahunnya yang keenam belas. Apalagi di hari itu turun salju, makin senanglah hatinya.

Sore hari, Hinata pergi ke minimarket membeli pensil. Saat pulang, ia bertemu dengan si Uchiha yang baru keluar dari pintu gerbang stasiun. Hinata pun memanggilnya.

Sasuke mengajak Hinata ke sebuah kedai ramen tak jauh dari stasiun, katanya ramen di sana sangat enak. Ia sudah cukup sering ke sana. Hinata pun setuju.

"Uchiha jauh-jauh kemari untuk pergi ke kedai ramen ini?" tanya Hinata penasaran.

Sasuke menggeleng, "Tidak."

"Oh. Lalu kenapa?"

Sasuke tidak menjawab, tetapi ia mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Kemudian meraih telapak tangan kanan Hinata dan memberikan kotak kecil yang dibungkus kertas kado dan pita ungu.

Hinata terkejut, tak pernah menyangka Sasuke akan memberinya sesuatu.

Apa dia tahu ulang tahunku hari ini?

"Ini ... untuk apa?" tanya Hinata sengaja ingin mencari tahu alasan Sasuke memberinya hadiah.

"Kau ulang tahun 'kan hari ini?"

Tahu dari mana dia? Hinata masih memerhatikan kado kecil itu. Sebenarnya ia sangat penasaran ingin segera membukanya, tapi ... apa boleh?

"Kenapa dilihat saja? Itu 'kan bukan pajangan," kata Sasuke. Nada suaranya terdengar sedikit jengkel. Secara tidak langsung, Sasuke meminta Hinata untuk membukanya. Pikirnya, Hinata akan mengucapkan terima kasih lalu membukanya tak sabaran.

"Ah, iya. Terima kasih, ya, um ... Uchiha," ucap Hinata berterima kasih sekaligus senang.

Dengan penuh kehati-hatian, Hinata membuka tali pita itu lalu kertas kado dan kotaknya. Hinata sudah sangat penasaran apa yang di dalamnya.

Eh? Kalung?

Dikeluarkannya kalung putih berbandul huruf inisial namanya 'H' yang terukir cantik dan dihiasi permata-permata mungil.

Hinata merasa seperti sedang berada di situasi romantis ala drama romansa bersama sang kekasih yang hendak melamarnya.

Oh, ya ampun!

Wajahnya mulai terasa panas memikirkan hal yang terlalu melantur jauh.

"Ini cantik sekali," katanya masih mengagumi ukiran bandulnya, senyumnya pun makin melebar. "Lho?" Hinata baru sadar kalau ada secarik kertas putih di dalam kotak itu juga. Penasaran, Hinata membukanya.

"Mau jadi pacarku?"

Tiga kata itu tertulis rapi. Mata Hinata membulat saat membacanya. Jelas tahu betul siapa si penulis kata-kata manis itu. Dan ternyata, di balik kertas itu ada bandul lain yang berinisial huruf 'S'.

Maka dengan malu-malu, Hinata mengangguk menatap lembut lelaki di depannya. Katanya, "Aku mau."

Sasuke sudah yakin 101% Hinata tidak akan menolaknya. Namun wajahnya tak bisa dibohongi untuk tidak merasa bahagia luar biasa. Kendati hatinya sedang bersorak-sorai, Sasuke hanya menampilkan senyumnya yang menawan.

Tangannya yang hangat menggenggam telapak tangan Hinata.

"Selamat ulang tahun, Hinata." Lalu dikecupnya dengan mesra punggung tangan Hinata.

"Terima kasih, Sasuke." Wajahnya makin memerah karena perlakuan super manis dari kekasihnya.

"Mau kupakaikan?" tawar Sasuke. Hinata pun mengangguk mengerti dengan maksudnya. Bandul huruf 'S' itu kemudian dipasangkan pada kalung Hinata barulah setelah itu, Sasuke memakaikannya di leher Hinata.

Gadis itu makin tersenyum melihat inisial nama mereka tergantung begitu cantik dan serasi di kalungnya.

"Aku sangat menyukainya." Dan tak akan bosan mengaguminya, lanjutnya dalam hati.

Sasuke mengusap puncak kepala Hinata sambil tersenyum.

Dan ... hari ulang tahun Hinata di usianya yang keenam belas, makin lengkap dengan suasana romansa ala drama TV favoritnya. Ia sangat bersyukur pada Sang Khalik yang memberikan cerita manis dalam kehidupan asmaranya. Hinata berharap, ia dan Sasuke akan tetap setia, kendati keduanya masih sangat muda.

Siapa tahu, Sasuke adalah jodohnya.

.

.

TAMAT

.

Oh, yeah! Kali ini pendek aja deh. Saya suka kalo bikin Sasuke yang ga terlalu cuek bebek bengek, meski kalo cuek pun dia tetep kece! Wong, dia emang kece! Tapi kalo terlalu PD, agak gimana~ gitu. Jadi saya bikin Sasuke yang cool tapi ga cuek-cuek amat, perhatian jugalah. Apalagi ama Hinata. Cihuy! Makasih lagi udah mau mampir di fic keempat ini.

Salam manis dan terima kasih,

.

Bernadette Dei