Naruto dan kawan-kawan milik Masashi Kishimoto.

Romance & Humor

.

Jangan sampai salah paham. Bisa-bisa kau dipermalukan sendiri oleh sifatmu itu.

.

.

... MISUNDERSTANDING ...

.

.

Sasuke mendapat Jyuuken dari Hinata karena salah paham. Hei, bukankah Sasuke Uchiha itu pintar? Kenapa dia bisa salah paham?

Well, setiap orang pasti bisa melakukan kesalahan sekalipun dia manusia paling jenius di muka Bumi. Kesalahan itu wajar, sifat asli manusia turun-temurun. Akan tetapi, jika kesalahan itu karena sesuatu hal yang konyol, selain membuat malu, bisa berakibat fatal juga.

Beruntung saja kejadian yang menimpa si Ninja Populer Konoha karena ketampanannya yang patut diacungi banyak jempol para kaum perempuan, Sasuke tidak mendapatkan luka serius. Hanya perutnya yang berlapis-lapis kotak (sixpack) harus merasakan hajaran menyakitkan dari telapak tangan Hinata yang lembut sekaligus mematikan.

Kejadian itu bermula ketika Sasuke yang selama beberapa waktu ini dikenal dekat dengan Hinata, mengajak gadis Hyuuga itu makan siang bersama ke sebuah kafe baru yang menjual aneka kue dan minuman segar. Semua orang pecinta Sasuke tahu jika si Uchiha ini tidak suka makanan manis, tetapi karena gadis yang diajaknya pergi menyukai makanan manis, maka Sasuke tanpa ragu mengajaknya ke sana. Toh, dia bisa memesan sesuatu yang tidak manis, misalnya pastel tuna pedas.

Sesampainya di sana, Sasuke mengajak Hinata duduk di dekat jendela kaca dengan posisi saling berhadapan. Sejak tadi, Hinata selalu memasang wajah senyum disertai rona-rona merah di pipinya. Ah, Sasuke tidak salah memilih tempat itu sebagai tempat kencan mereka.

Aha!

Begitu seorang pramusaji memberikan menu makanannya, Sasuke memilih makanan yang sudah dipilih seperti yang dipikirkannya jauh-jauh waktu. Pastel tuna pedas. Sedangkan Hinata memesan cinnamon rolls, kue manis kesukaannya. Sasuke juga sempat mengatakan pada si pramusaji untuk menambahkan mayones.

"Minumannya, Uchiha-san?"

"Jus tomat segar. Yang kental," Semua orang tahu itu, termasuk Hinata yang lagi-lagi menyembunyikan senyum manisnya di balik tangan. Dalam hati ia berpikir, apakah Sasuke tidak bisa memilih minuman lain selain jus tomat. padahal ada banyak minuman beraneka rasa di kafe itu.

Dasar maniak tomat!

Hinata sendiri memesan teh hijau hangat, karena menurutnya makanan manis akan lebih cocok dipadu dengan minuman hangat tawar. Akan terasa sangat aneh di lidahnya jika makanan manis dipadu dengan minuman manis.

Pesanan Sasuke dan Hinata datang tak lama. Keduanya langsung menikmati makanan dan minuman mereka. Itu adalah kali pertama mereka mencicipi makanan dan minuman di kafe baru tersebut. Bagi Hinata, cinnamon rollsnya cukup enak. Sedang menurut Sasuke, pastel tuna pedas miliknya sedikit kelebihan garam.

Mungkin garam sedang murah.

Namun sejauh yang bisa dirasa lidahnya, Sasuke cukup menikmatinya. Tentu saja karena ditambah adanya Hinata di depannya. Sehingga rasa kelebihan asin garam itu bisa teratasi dengan melihat Hinata yang manis.

Suasana di tempat itu belum terlalu ramai, sehingga keduanya bisa menikmati acara makan siang bersama dengan lebih nyaman. Tidak bosannya Sasuke mencuri-curi pandang pada Hinata yang disambut senyum malu-malu dan serbuk-serbuk merah pada pipinya yang putih.

Sasuke sudah selesai dengan pastel tuna pedasnya sambil sesekali mengajak Hinata berbincang perihal hal-hal kecil yang sepele, tetapi membuatnya penasaran. Sasuke harus banyak tahu lebih mengenai Hinata jika hendak mengajaknya ke jenjang hubungan yang lebih serius. Bukan begitu?

"Sasuke mau coba?" Hinata menawarkan dengan baik hati kue cinnamon rollsnya.

Tidak mau mengecewakan gadis yang disukainya, Sasuke pun mengambil satu cinnamon rolls milik Hinata. Akan tetapi, ia mengambil bagian yang keliru. Dengan sengaja, Sasuke memakan cinnamon rolls yang sedang dipegang Hinata dan memakannya.

"Sasuke ..." Hinata sangat malu, bukan hanya karena sikap Sasuke yang seenaknya, tetapi karena cinnamon rolls itu sudah digigitnya! Hinata panik sendiri dalam batin perihal itu, sebab apa yang baru saja terjadi adalah ciuman secara tidak langsung antara dirinya dengan Sasuke! Hinata tidak pernah membayangkan kejadian itu.

Dan sialnya, setelah Sasuke selesai memakan kue manis lengket itu, lidahnya ikut mengetes jantung Hinata. Sasuke menjilati jemari Hinata yang berlumur sirup maple dari cinnamon rolls.

Hangat.

Bukan hanya pada jemarinya yang merasakan sensasi itu, tetapi juga sampai ke wajah Hinata. Mukanya makin memerah. Demi Kodok Jiraiya si Kakek Mesum, kalau saja kala itu sedang ramai pelanggan, Hinata yakin bisa pingsan saat itu juga.

"Enak," kata Sasuke setelah ia selesai membersihkan jemari tangan Hinata.

Beruntunglah Sasuke karena dia merupakan lelaki yang juga mulai disukai Hinata, jika tidak, maka Sasuke bisa dijuluki si Bibir Tebal akibat tamparan mematikan dari Hinata.

Ya, Sasuke masih beruntung kali itu.

Jantung Hinata masih berdebar-debar dengan liarnya sampai ia harus memeganginya takut jantungnya keluar seenaknya seperti tingkah Sasuke.

Oo ow ...

Kepalanya menunduk dalam saking malunya jika harus bertemu mata dengan Sasuke. Siapa yang tidak akan malu akibat kejadian semacam itu? Lagi pula, Hinata 'kan gadis polos yang belum pernah mendapat kontak fisik intens dari lelaki, apalagi lelaki yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini.

Setelah beberapa saat, jantung Hinata mulai berdetak kembali normal. Keadaannya sudah tidak secanggung tadi. Wajahnya pun sudah tidak terlalu merah.

"Setelah ini mau ke mana?" tanya Sasuke membuka percakapan lagi. Dia ingin kencan mereka bisa berlangsung lebih lama dan manis. Seperti Hinata.

"Te-terserah Sasuke saja," jawab Hinata yang masih gugup jika berbicara.

"Baiklah," sahut Sasuke. Mungkin setelah ini mereka bisa mencari tempat yang menyenangkan sambil berjalan beriringan. Ke mana pun tak masalah bagi Sasuke, selama mereka bisa bersama berdua.

Sasuke mengiring Hinata menuju ke kasir untuk membayar. Sebagai lelaki yang berbudi baik, Sasuke membebankan biaya makan pada dirinya.

Hinata tersenyum lembut menerima kebaikan tulus Sasuke.

"Ahem," si kasir wanita tersenyum malu-malu pada Sasuke di balik tangannya. Sasuke tidak memedulikannya dan langsung menarik tangan Hinata menuju keluar.

Begitu mereka sampai di depan pintu, Hinata menghentikan langkah mereka.

"Sasuke," panggil Hinata pelan.

"Hm, ada apa?" tanya Sasuke sedikit penasaran.

Hinata memalingkan wajahnya, sesekali melirik malu-malu. Bagi Sasuke, Hinata yang seperti itu sangat menggemaskan. Pipinya kembali menampilkan rona merah jambu. Hinata itu seperti kue mochi hangat yang paling enak dinikmati di musim dingin menjelang musim semi.

Masih tak memandang wajah Sasuke di depannya, Hinata menunjuk-nunjuk bibir dengan telunjuknya.

Sasuke menaikkan sedikit alisnya belum mengerti. Namun tiga detik kemudian, Sasuke segera mengerti maksud tindakan kecil Hinata. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang seperti genderang perang. Sasuke mengerti dan sadar jika Hinata pun menyukai dirinya. Selama masa pendekatan mereka, Sasukelah orang yang selalu berinisiatif dalam bertindak lebih berani. Hanya kali ini, Sasuke cukup dikejutkan dengan sikap Hinata yang tidak pernah diprediksinya.

Hinata menunjukkan ketertarikan dan keberaniannya dengan cara yang sangat menggemaskan, meskipun Sasuke juga yang harus mengambil langkah pertama.

Maka, meski sedikit ragu tetapi tak mampu menolak, Sasuke mulai menundukkan kepala agar tingginya sama dengan Hinata dan ... Dor, beraksi!

Sasuke segera menutup kedua matanya begitu bibir keduanya bersentuhan. Bibir Hinata amat lembut, tepat seperti perkiraannya. Hinata itu seperti kue mochi. Lembut dan kenyal.

Aha!

Penasaran dengan rasanya, Sasuke menjulurkan lidahnya di bibir bawah Hinata. Ada rasa manis yang tersisa dari sirup maple dan teh hijau yang dinikmati Hinata tadi. Gemas dengan teksturnya, Sasuke mulai melumat bibir Hinata dan ...

"Aww!"

Sasuke pun merintih sakit dengan punggung tersungkur beberapa meter dari Hinata. Awalnya, Sasuke tidak mengerti apa yang baru saja terjadi padanya karena terjadi begitu cepat, hingga saat Sasuke mulai merasakan perutnya kram seperti kena hantaman jurus Jyuuken.

Jyuuken?

Dan itu baru saja diterima Sasuke.

Sasuke bersyukur karena ia masih bisa merasakan jantungnya. Jika saja Hinata menghajarnya dengan jyuuken di dada kiri, bisa-bisa jantungnya berhenti. Atau, akan lebih parah lagi jika jyuuken itu mengenai bawah perutnya. Generasi Uchiha bisa terhenti sampai Sasuke saja sebab ia sebagai penerus terakhirnya tak bisa memberikan keturunan. Beruntung, ya, beruntung Hinata tidak melepaskan telapak tangannya yang mematikan pada dua titik rawan itu.

Sasuke menanyakan kenapa Hinata menghajarnya dengan jyuuken. Lalu Hinata menjawab karena Sasuke menciumnya tiba-tiba, padahal maksud Hinata menunjuk bibirnya karena ada noda mayones di bibir Sasuke.

Benar. Maksud Hinata menunjuk bibirnya sendiri hanyalah isyarat pada Sasuke agar Sasuke sadar ada sesuatu pada bibirnya, bibir Sasuke, BUKAN bibir Hinata, dan bukan meminta dicium di tempat terbuka! Ingat, Hinata itu pemalu sejak dulu. Mustahil Hinata meminta hal intens semacam itu ditampilkan di khalayak umum. Dulu, ia dikenal tukang pingsan jika sudah gugup. Hanya sekarang, berhubung dirinya sudah cukup dewasa dan cukup kuat mental, maka jika dirinya merasa gugup luar biasa—seperti tadi—refleks, Hinata melepaskan telapak tangannya sebagai bentuk pertahanan diri.

Jadi, maaf saja jika Sasuke harus kena hantaman jyuuken darinya.

Pelajaran yang bisa didapat Sasuke dari kejadian tadi adalah jangan sampai ia salah paham lagi, jika sampai terulang, bukan tidak mungkin Hinata menghantamnya di titik yang salah.

Hanya, keberuntungannya selain Sasuke masih hidup, bisa-bisanya ia menikmati adegan nakalnya tadi.

Enak, ya jadi seorang Sasuke Uchiha yang meskipun sudah salah paham masih bisa menikmati kesalahpahamannya.

Lucky Bastard!

.

TAMAT

.

Cukuplah Every Part ampe 5 chapter aja. Saya bukan orang yang bisa bikin banyak chapter. Ini aja ampe terbengkalai cukup lama. Nah, saya juga masih punya utang fic. Maaf lama ya, inspirasinya masih saya kelola nih. Saya perlu banyak bertapa dulu biar dapet yang maknyus, saya cenderung pengen bikin yg terbaik buat pembaca. Hihi... bukan sombong, ya.

Terima kasih buat yg nunggu kelanjutan Every Part. Silakan mampir baca di fic saya yg lain.

Salam manis dan terima kasih,

.

Bernadette Dei