Summary:

Bagaimanapun juga akan kubalas orang yang telah membunuh Hani. Akan kubuat dia menyesal dan tak sanggup untuk hidup lagi...

...

Sebelumnya...

"selamat datang Luhan, selamat datang di nerakamu", muncul seringai di wajah pria itu.

Title: Misunderstanding

Rate M

Warning: Typo, Bahasa tidak baku

Pairing HunHan. YAOI

Ch 3

...

Luhan membuka matanya dengan perlahan tapi yang ia lihat hanyalah kegelapan. Ia menggerakkan tangannya tetapi tangannya tidak bisa digerakkan. Ia merasa ada yang menahan tangannya di atas kepalanya. Badannya terasa lemas dan mulutnya di ikat dengan kain sehingga Luhan tidak dapat berbicara. Saat itu juga dia mengingat apa yang terjadi, tadi Luhan ada di taman lalu ada yang membekapnya dari belakang pasti dia sedang diculik. Luhan berusaha menggerakkan badannya dan berusaha melepas ikatan di pergelangan tangannya tapi nihil, pasti akan membekas kemerahan di pergelangan tangannya akibat ikatan yang kuat di pergelangan tangannya itu.

Sudah cukup lama Luhan berusaha melepaskan ikatan di tangannya dan akhirnya ia menyerah dan memilih untuk diam.

"Sudah lelah huh?"

Luhan yang mendengar suara dingin itu mulai merasa panik. Luhan mulai menggerakkan tangannya lagi berusaha melepaskan diri dari ikatan di tangannya. Sehun berjalan mendekati Luhan dan menarik ikatan kepala yang menutup mata dan melepas ikatan kain yang membekap mulut Luhan. Luhan yang belum terbiasa dengan cahaya belum dapat melihat siapa pelaku yang telah melakukan penyekapan terhadapnya. Luhan mengerjapkan matanya, matanya mulai dapat menerima cahaya dan ia melihat seorang pria sedang menatapnya dengan tajam. Sehun, ialah pelaku penyekapan Luhan. Luhan merasakan pening di kepalanya. Seingatnya ia tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Sehun.

"Se...sehun"

"Hmm, ada apa Luhan?"

"Bi...bisakah kau membuka ikatan di tanganku? A..a..ku minta maaf jika telah berbuat salah kepadamu?", cicit Luhan ketakutan.

"Minta maaf? Kau ingin minta maaf? Setelah kau membunuh Hani dan kabur ke Jepang dua tahun yang lalu dan kau baru ingin minta maaf sekarang! Sungguh tak tahu malu"

"Tapi aku tidak mengenal Hani, aku bersumpah tidak pernah membunuh seorang pun seumur hidupku asal kau tahu, Hun!", Luhan berkata setengah berteriak mencoba untuk mebela dirinya yang memang tidak bersalah.

"Masih tidak mau mengakui hmm.. akan kubuat kau mengingat apa yang telah kau perbuat ke Hani", Sehun menaiki ranjang dan hendak melucuti baju Luhan.

"Se..hun tolong aku tidak melakukan kesalahan apapun, ini semua salah paham", cicit Luhan yang mengetahui akan kemana arah pembicaraan ini. Luhan memundurkan badannya hingga punggungnya menempel pada kepala ranjang.

"Salah paham? Aku sudah memiliki bukti dan kau tidak dapat lagi mengelak"

Luhan menendang Sehun, ia ketakutan setengah mati. Sehun yang geram menari kaki Luhan hingga Luhan berbaring lagi di bawah badannya.

"Se..hun ku..mohoon", Luhan terus menggeliatkan badannya berusaha untuk meronta dari Sehun.

*PLAK

"DIAM!", Sehun menampar pipi Luhan karena Luhan tidak mau diam. Luhan dapat merasakan pipinya terasa panas dan terasa perih sepertinya bibirnya sobek. Setelah ditampar, Luhan sudah tidak bergerak lagi, air matanya mulai mengalir ke pipinya sesekali mengenai luka di ujung bibirnya akibat dari Sehun.

"Sehun hiks..kumohon", Luhan mulai sesenggukan dia terus memohon kepada Sehun untuk dilepaskan.

"Diam kau berisik!", Sehun menarik robek baju Luhan hingga tidak ada sehelai benang pun yang membalut tubuh Luhan. Sehun melepas bajunya juga hingga tidak ada yang tersisa. Sehun mengangkat paha Luhan dan meletakkannya di atas pundaknya. Tanpa aba – aba dan penetrasi Sehun langsung memasukkan miliknya ke lubang Luhan.

"Aaakhh sa..kitt am..puun", Luhan merasakan sakit yang luar biasa. Badan bagian bawahnya serasa terbelah menjadi dua, dapat Luhan rasakan ada sesuatu yang mengalir di bagian bawahnya sesuatu yang berbau anyir. Sehun terus menghentak – hentakkan tubuh Luhan hingga miliknya semakin masuk ke dalam lubang milik Luhan.

"Aaarggh", Sehun menggeram. Ia terus menggenjot Luhan dan menampar Luhan berkali – kali, yang disetubuhi sudah tidak dapat berkutik lagi. Badannya terasa sangat sakit. Luhan tiba – tiba merasa sesak napas, ia kambuh lagi. Peristiwa 2 tahun yang lalu kembali muncul di ingatannya.

"Am..pun..a..ku..tidak akan mengatakannya ke siapapun le..paskan aku", Luhan mulai meracau tidak jelas tetapi tidak dihiraukan oleh Sehun.

Sehun menghentikan aksinya dan melepas ikatan di tangan Luhan. Ternyata Sehun belum selesai, ia membalik tubuh Luhan dan membuatnya menungging. Luhan sudah hilang kesadarannya matanya sudah sayu, alam bawah sadarnya memperlihatkan kejadian 2 tahun yang lalu.

Luhan terus meracau tidak jelas walaupun suaranya lama – lama berubah menjadi bisikkan sedangkan Sehun terus menghentak – hentakkan tubuh Luhan hingga Luhan benar – benar pingsan. Karena kesal dengan Luhan yang lemah, Sehun memukul pantat Luhan untuk membuatnya sadar tetapi Luhan sudah tidak dapat bangun lagi. Sehun geram dan mengehentikan kegiatannya.

Sehun meninggalkan Luhan begitu saja di atas ranjang tanpa menyelimuti tubuh Luhan yang sudah penuh dengan cairan putih miliknya dan Sehun.

"Dasar lemah, ini baru permulaan Luhan kau akan kubuat lebih menderita lagi", Sehun berjalan ke luar ruangan.

...

Luhan membuka matanya, tubuhnya menggigil kedinginan dan napasnya memburu. Badannya sulit untuk digerakkan. Luhan merangkak menuju kepala ranjang dan menyandarkan badannya. Ia melihat ke sekeliling ruangan mencari sesuatu. Matanya menangkap apa yang dicari, tasnya. Luhan perlu tasnya, ia harus meminum obatnya. Luhan mencoba untuk berdiri dari ranjang tetapi sangat sulit. Kakinya bergetar dan lemas. Luhan terjatuh dan menyeret badannya menuju tasnya. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan lagi. Luhan berhasil meraih tasnya saat dibuka obat yang dicari tidak ada di dalamnya.

"Mencari ini hmm"

Tubuh Luhan menegang, ia menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Sehun sedang berjalan mendekati dirinya.

"Se..hun to..long obatku",Luhan terengah – engah napasnya sudah sangat sesak gejala panik yang dia alami sudah parah.

"Berani sekali kau memerintahku Luhan", Sehun berjongkok di depan Luhan dan mencengkram kedua pipi Luhan dengan tangan kirinya. Tetapi Sehun tetap memberikan obatnya ke Luhan.

"Aku hanya tidak ingin kau mati sekarang karena aku masih ingin menyiksamu pembunuh", Sehun melepaskan cengkraman tangannya di pipi Luhan dan meninggalkan Luhan di ruangan tersebut sendiri.

...

Rumah Luhan

"Apa Luhan menghilang?"

"I..ya tuan, Luhan tidak ada di mana – mana. Saya juga sudah menghubungi temannya dan mereka tidak mengetahui apa – apa"

Suho menghubungi polisi dan melaporkan kehilangan putra semata wayangnya itu. Setelah menghubungi polisi, Suho menghubungi mantan istrinya Tao.

"Tao..."

"Ada apa Suhoya, bagaimana kabar Luhan?"

"Tao, aku akan memberitahu sesuatu tetapi tolong tenang dan jangan panik"

Senyuman di bibir cantik Tao menghilang, pasti ada yang tidak beres ya Tuhan semoga tidak ada terjadi dengan anakku Luhan. Tao menarik napas panjang dan menjawab,"Ya Suhoya aku tidak akan panik"

"Taoya, anak kita Luhan... menghilang. Kumohon untuk tenang, sekretaris Kim akan menjemputmu siapkan barang – barangmu karena kau harus kembali ke Korea"

"Ba..bagaimana bisa Suhoya? Mengapa kau tidak menjaga anak kita ya Tuhan... kau sudah menghubungi polisi? Jangan sampai kejadian 2 tahun yang lalu terulang kembali"

"Jangan panik Tao aku tahu aku bukanlah ayah yang baik untuk Luhan, aku sudah melaporkan ke polisi dan aku juga sudah menyewa detektif swasta untuk mencari Luhan"

"Iya Suho, aku akan siap – siap semoga tidak ada yang terjadi dengan Luhan"

"Iya Taoya semoga anak kita baik – baik saja"

Tao memutus telepon dan bersiap – siap, banyak pikiran di benaknya.

...

Di sebuah cafe

"Hyung, aku ingin minta tolong"

"Minta tolong apa Hun?"

"Tolong cari informasi mengenai Luhan semuanya, dan alasan Luhan mengonsumsi obat anti depresan Hyung"

"Baiklah, tapi darimana kau tahu kalau Luhan mengonsumsi obat anti depresan?"

"Aku melihatnya di kelas Hyung"

"Oke akan kukabari jika sudah mendapatkan kabar"

"Terima kasih Hyung"

"Kembali"

...

Luhan terbangun dari tidurnya, rupanya ia tertidur di lantai setelah meminum obatnya. Napasnya sudah kembali normal dan kakinya sudah dapat dipakai untuk berjalan meskipun agak terseok gara – gara kejadian kemarin malam yang mengakibatkan hole miliknya terluka. Luhan berjalan menuju pintu di samping lemari kayu. Ternyata kamar mandi batin Luhan, berarti jalan satu – satunya hanyalah pintu yang harus melewati tangga ke atas itu. Luhan akhirnya membersihkan badannya. Selesai mandi Luhan mencari pakaian namun nihil, pakaian yang ia gunakan semalam juga sudah sobek oleh Sehun. Luhan duduk di tepi ranjang, ia memikirkan perkataan Sehun semalam, pembunuh dan Hani. Luhan berpikir keras, ia mencoba mengingat siapa Hani. Tetapi sekeras apapun ia mengingat ia tidak pernah mengenal ataupun melihat Hani. Luhan takut kejadian semalam akan terulang lagi, membuat dirinya menjadi jijik akan dirinya seperti saat 2 tahun yang lalu.

TBC

...