Chapter two...

...

...

Seorang pria menggeleng pelan ketika melihat adiknya masih bergelung di dalam mimpi, padahal gordeng kamar telah di buka dan jarum jam telah menunjuk angka sebelas. Sebagai seorang kakak, dia mafhum akan kebiasaan buruk adiknya di hari libur.

Namun, dia tidak juga tidak membenarkan jika sang adik tertidur sepanjang hari. Meski sang adik tengah sakit pun—kecuali jika sedang koma. Dia sosok kakak yang kejam memang. Bahkan pria muda itu pernah menenggelamkan sang adik ke sebuah kolam.

Perlahan pria berusia seperempat abad itu mendekatkan pada ranjang queen size milik Baekhyun. Tangannya meraba kening Baekhyun, mengecek suhu tubuh adiknya.

"Mau sampai kapan kau tidur, Baekhyun?" Suara lembut mengalun di telinga Baekhyun. Membuat pemuda mungil itu terganggu dari tidurnya.

"Dua puluh menit lagi."Jawabnya seraya menarik selimut hingga kepala, Baekbaeom sedikit memijat pangkal hidungnya.

Jika bukan titah sang ayah dia tidak mau membangunkan kerbau seperti adiknya. Pria yang lebih tua dari Baekhyun itu menaiki ranjang sedikit memutar pergelangan kakinya dan mengayunkan sebuah tendangan di pantat sang adik, hingga Baekhyun terjatuh dari ranjang.

"ASTAGA! SIALAN KAU HYUUUUNG."

Baekbeom memutar bola mata mendengar teriakan feminim adiknya yang sangat berlebihan. Dia tahu bagaimana reputasi Baekhyun di sekolah, berandalan kecil yang sering berbuat ulah di manapun dia berada.

Tendangan seperti itu tidak akan berpengahuh pada Baekhyun yang sering masuk ke rumah sakit akibat pukulan yang menghantam tubuh kecilnya. Pun Baekhyun menguasai sabuk hitam bela diri.

"Kenapa Baekkiee? Apakah kau kesakitan?"

Baehyun mengangguk, "Kau tahu Badanku terasa remuk. Tidak seharusnya kau menendangku seperti itu. Dan sebaiknya kau pergi jangan menggangguku."

Pemuda pendek itu kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Mengabaikan sang kakak masih yang berdiri di kasurnya.

"Apakah kau semalam pergi bersama temantemanmu?" Baekhyun bergumam, terlalu malas menjawab pertanyaan kakaknya.

Mendengar itu wajah Baekbeom berubah menjadi muram lalu dia memutuskan untuk pergi dari kamar sang adik. Hatinya sangat kecewa mendengar itu.

Baekbeom akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar Sehun untuk bermain playstation atau membantunya mengerjakan tugas.

Walau Sehun itu termasuk anak yang cerdas tetapi dia mempunyai kelemahan di beberapa pelajaran. Hingga menyebabkan Tuan Byun menyuruhnya untuk mengikuti les privat agar Sehun tidak kesulitan .

Tok.. Tok..

"Sehun, ini Baekbeom hyung. Apakah kau sedang sibuk?"

"Masuklah, hyung. Aku tidak sibuk."

Pintu kamar Sehun terbuka. Menampilkan Sehun tengah memasukkannya sebuah boneka Hello Kitty ke dalam sebuah kotak kado, mengabaikan televisi yang tengah menyala.

"Apakah kau sedang berpacaran?" Suara Baekbeom membuat Sehun mengalihkan pandangannya.

"Tidak. aku tidak mempunyai. Hanya saja aku ingin memberikan sebuah hadiah kepada salah satu pegawai restoran keluarga kita, hyung."

"Siapa gadis yang beruntung itu?"

"Dia bukan seorang gadis. Aku memberikan sebuah boneka ini karena menurut temannya dia sangat menyukai Hello Kitty. Padahal, dia sering mengaku bahwa dirinya itu manly. Dan aku menaruh dendam padanya, hyung."

Baekbeom mengangguk, "Memangnya apa yang menyebabkan kau dendam padanya?"

"Hyung, kenapa kau mewawancaraiku?" Sehun sedikit membentak kakaknya, tak lama kemudian dia menghembuskan napasnya. Dengan berapi-api dia menceritakan bahwa pemuda "manly" itu pernah menuduh Sehun pencuri karena masuk ke dalam meja kasa yang kosong tanpa pelayan. Akibatnya, dia telinga pemuda pucat itu di jewer oleh bibi Jang—manager restoran. Selain itu, Sehun tidak diperbolehkan masuk restoran selama dua bulan.

Baekbeom terkekeh pelan. Masih segar diingatnya, ketika dia masih bekerja di restoran keluarganya di mana Sehun akan mengendapendap menuju meja kasa hanya untuk mengambil—mencuri—beberapa lembar ribu won dari peti mesin tersebut. Dan Baekbeom tak mengira bahwa Sehun masih melakukan hal itu hingga sekarang. Meski pria itu tahu jika suatu saat nanti restoran tersebut akan diberikan kepada Sehun.

Sehyun mendengus, melihat sang kakak masih tertawa."Hyung apakah kau mau bermain game denganku?"

"Ayo." Baekbeom menyalakan playstation dan membawa joystick ke hadapan Sehun. "Ini."

Baekbeom merasa dia lebih senang bermain dengan adik angkatnya—Sehun, dibanding dengan Baekhyun. Menurutnya sifat Baekhyun telah berubah, terlebih setelah perpisahan kedua orang tuanya.

Semenjak kejadian itu, sifat Baekhyun berubah. Tidak ada Baekhyun yang manis dan manja, yang ada hanya Baekhyun yang sinis dan temperament yang buruk—kecuali pada Sehun karena Baekhyun sangat menyayangi pemuda pucat itu.

Lima bulan kemudian Baekhyun berada di kantor polisi karena terlibat sebuah perkelahian di club malam yang menyebabkan korban nyaris merenggang nyawa.

Baekbeom sempat terheran bagaimana adiknya bisa berani masuk ke tempat seperti itu, padahal usia Baekhyun masih empat belas.

Lalu Tuan Byun menugaskan seseorang untuk berpura-pura menjadi teman Baekhyun dan Tuan Byun hampir terkena penyakit jantung mengetahui fakta yang dibeberkan oleh bawahannya.

Pertama, Baekhyun sudah hampir dua tahun menjadi anggota gang berandalan itu. Sikap manis itu hanya tipuan semata.

Kedua, pemuda mungil itu pernah terlibat kekerasan di sekolahnya, pencurian di mini market, pembakaran sebuah bar, perusakan fasilitas umum dan masih banyak lagi. Beruntung dia bisa kabur sebelum polisi datang, juga temantemannya juga acap kali melindungi Baekhyun dari jerat hukum.

Dan yang terakhir, Baekhyun pernah menjual ganja yang ia dapat—curi—ketika teman-temannya tengah membakar sebuah pub di kawasan Itaewon.

"Sehun..." Sehun bergumam tanpa mengurangi kefokusannya pada joystict dan layar datar di depannya.

"Sehun... Sehun... Sehuuun.. Sehunnie.."

"Apa Baekbeom hyung?"

"Bisakah kau membuat Baekhyun menjauhi temantemannya?"

"Memangnya kenapa, jika Baekby Hyung berteman dengan mereka hyung?"

Baekbeom menghela napas, dia lupa jika pemuda pucat itu agak lamban memahami sesuatu. "Berteman dengan mereka sangat berbahaya bagi Baekhyun. Kau mengerti 'kan?"

Sehun mengangguk dia faham apa yang ditakutkan oleh kakak angkatnya, sebenarnya Sehun sendiri selalu merasa khawatir jika Baekhyun berkumpul dengan kawanannya. Yang paling dia takutkan adalah Baekhyun meninggal—meski kakak mungilnya itu pernah sekarat.

"Jika menjauhkan Baekby hyung dari teman-temannya, itu terdengar sulit Hyung. Tetapi aku akan menjaga Baekby hyung semampuku."

"Bagaimana kau bisa menjaga adikku, jika dipukul oleh senior saja bisa membuatmu dilarikan ke ruang kesehatan?" Baekbeom terkekeh pelan.

Senin berdecak, "Dari mana kau mendapatkan berita palsu itu? Aku tidak pingsan ketika senior itu memukul wajah tampanku, pukulannya juga tak berasa. Aku ke ruang kesehatan karna kakiku terkilir. Lihatlah, kakiku kananku diperban."

Dengan sengaja Baekbeom menyenggol keras kaki Sehun. Dan jeritan pun terdengar hingga luar rumah. Membuat Baekhyun terperanjat kaget dan bangun dari tidur panjangnya.

oOo

oOo

oOo

"Noona, apakah hari ini kau akan pergi ke rumah Sehun?" Chanyeol bertanya kepada kakaknya yang sedang sibuk memoles kukukukunya.

"Tidak. Sore ini akan ke rumah." Chanyeol mendengus mendengar jawaban dari kakaknya.

Inilah yang menyebabkan Sehun akrab dengan Chanyeol. Setiap hari minggu, pemuda pucat itu akan mengikuti pelajaran tambahan di rumahnya—sebab Yoora juga mengajar Sehun. Yoora mengubah belakang beralih menjadi perpustakaan sekaligus tempat mengajarnya di rumah.

Setelah selesai les privat, Sehun akan merengek pada Chanyeol untuk menemaninya mengobrol—sekaligus makan malam—di restoran sushi terkenal. Dan Chanyeol menyetujui keinginannya karena pemuda pucat itu yang membayar tagihannya.

"Mengapa tidak noona saja yang ke rumah Sehun? Tidakkah kau kasihan, Sehun kesulitan dalam berjalan?"

Kegiatan Yoora terhenti, dan dia memandang wajah Chanyeol. "Jika kau merasa kasihan pada Sehun. Mengapa kau memukul wajahnya?"

Chanyeol berdecak mendengar perkataan kakaknya, "Itu karena dia mencium bibir pacarku noona. Bukan 'kah itu keterlaluan? Apakah kau belum pernah melihat pacar noona selingkuh di depan dirimu sendiri, noona?"

Yoora mengangguk, wanita itu pun kembali memoles kuku kanannya. "Pernah. Tapi noona tidak sakit hati. Karena noona tidak mencintai mereka."

"Pantas saja kau mempunyai banyak mantan pacar." Gumam Chanyeol.

"Kau bilang apa?"

"Titidak, a-aku tidak bilang apa-apa." Ucapnya sambil melangkah ke kamarnya, meninggalkan sang kakak, takut wajahnya akan rusak dicakar Yoora jika wanita itu mendengar apa yang dikatakannya.

Semenjak kakaknya bertemu dengan Sehun, Chanyeol merasa bahwa sang kakak memberikan perhatian yang lebih untuk pemuda pucat itu. Seperti, tiga minggu yang lalu ketika mereka pergi ke restoran langganan mereka. Dan karena keasyikan mengobrol, hingga dering ponsel pintar Chanyeol menyadarkan mereka bahwa malam sudah larut.

Ketika Chanyeol mengangkat panggilan itu, kalimat pertama yang diucapkan oleh sang kakak adalah "Apakah Sehun bersamamu?" dia bertanya disertai dengan sesenggukan dan Chanyeol hanya berkata "Iya, dia masih bersamaku, Noona." dan sumpah serapah pun Yoora keluarkan untuk Chanyeol karena membawa Sehun tanpa tanpa memberi tahu sehingga membuat Baekbeom panik dan menelepon Yoora jika Sehun belum pulang. Akhirnya Sehun menginap di rumah keluarga Park, untuk menenangkan Yoora.

Chanyeol sempat berpikir jika sang kakak mempunyai perasaan spesial kepada Sehun. Tetapi dia langsung menghapus pemikiran itu karena Sehun bukanlah tipe pria yang Yoora suka. Tentu saja Sehun itu kekanakan, walau terkadang dia terlihat pendiam. Sangat berbanding terbalik dengan mantan pacar Yoora.

Dan kedua orangtuanya pun terlihat sangat menyukai Byun Sehun. Menurut pengakuan orangtuanya mereka merasa kasihan dengan kisah hidup Sehun. Terkadang dia heran dengan makhluk itu. Dia bisa membuat orangorang menyukainya meski tak sedikit pula yang membencinya—mungkin Chanyeol juga termasuk.

Sifatnya yang kekanakkan akan membuat sebagian gadis menjerit sedang yang lainnya menatap jijik ke arahnya. Chanyeol setuju jika Sehun itu menggemaskan, tetapi itu sangat tidak cocok dengannya.

Tok... Tok..

"Chanyeol ini aku Yumi..."

Chanyeol mengernyit ketika gadis yang sekarang di bencinya berdiri di depan kamarnya. Meskipun kejadian dia berselingkuh itu sudah terjadi empat hari yang lalu, tapi tidakkah gadis itu berpikir jika Chanyeol masih marah padanya. Empat hari untuk menghilangkan kebencian pada seseorang itu cukup singkat.

"Pergilah, aku tidak mau bertemu denganmu. Dan bukankah hubungan kita telah berakhir?" Ujar Chanyeol berteriak.

"Kau jahat Chanyeol."

"Kau yang lebih jahat, bodoh. Mana ada orang baik yang berselingkuh." Bisik Chanyeol, dia masih mempunyai hati untuk tidak mengatakan itu dengan keras.

"Baiklah aku pergi."

Bodohnya Chanyeol berteriak, "Ya silakan pergi dan jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumahku lagi."

Selanjutnya tangisan pun terdengar dari balik pintu. Gadis itu menangis. Chanyeol merasa bersalah. Tapi egonya berkata bahwa dia tidak salah. Setidaknya gadis itu telah merasakan sakit hati yang dialami olehnya.

Takahashi Yumi nama gadis itu. Dia adalah warga Jepang yang telah menetap di Korea selama delapan tahun.

Pada bulan desember tahun lalu mereka berpacaran. Selama lebih dari tahun mereka berpacaran Chanyeol hanya tiga kali mengecup bibir perempuan tersebut. Gadis sering menghindar ketika Chanyeol hendak menciumnya.

Jika dulu Chanyeol akan berpikir itu bahwa Yumi tidak nyaman jika berciuman dengannya. Namun setelah kejadian gadis itu berciuman dengan Sehun, tindakkan itu sangat melukai dirinya sebagai lelaki. Sebab mantan pacarnya lebih memilih berciuman dengan orang lain dibanding dengan dia sendiri.

Sejujurnya Chanyeol sangat mensyukuri jika dia memergoki perselingkuhan mantan pacarnya, itu berarti Chanyeol tidak terusterusan ditipu oleh Yumi. Hanya saja dia tidak menerima kenyataan jika Sehunlah yang menjadi selingkuhan gadis itu.

Omongomong tentang bibir, dia jadi ingat mimpi yang selama beberapa hari ini menghampirinya. Di mana bibirnya dan bibir Baekhyun sedang bertaut mesra. Jangan lupakan bagian dirinya berada di dalam Baekhyun yang terasa sempit dan mimpi itu terasa s—

SIALAN

Adik kecilnya kembali terbangun. Chanyeol harus bergegas menuju kamar mandi sebelum dia kesakitan. Sungguh Chanyeol tidak menyangka jika bersentuhan dengan Baekhyun akan berefek seperti ini. Bahkan pemuda bertelinga seperti gajah itu berfikir jika itu bukanlah mimpi—karena Chanyeol benar-benar merasakan bagaimana manisnya bibir Baekhyun, dan jangan lupakan sempitnya lubang menjepit genital Chanyeol. Benarbenar surga dunia.

...

Chanyeol merasa segar kembali setelah mengguyur tubuhnya dengan air—untuk menghilangkan bau setelah mengeluarkan benih–benihnya. Dia memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe, mengabaikan Yoora yang menatap tajam padanya.

Ketika Chanyeol berdiri dua langkah dari gerbang, mata bulatnya membesar ketika melihat Sehun berjalan menggunakan sebuah kruk yang diapit oleh ketiaknya. Pemuda pucat itu tampak kesulitan dan jangan lupakan seorang pemuda bermata sipit tengah berjalan di sampingnya.

Chanyeol gugup melihat pemuda pendek berpakaian kumal itu. Gugup karena tadi dia menjadikan Baekhyun sebagai objek fantasinya. Chanyeol berdeham, lalu dia menghampiri kedua pemuda itu.

"Naiklah." Chanyeol sedikit berjongkok membelakangi Sehun. Dia merasa aneh jika Sehun akan pergi ke rumahnya tanpa diantar oleh supir pribadinya.

Pemuda pucat itu ragu. "Hyung, kau tahu tubuhku itu sangat berat. Jika kau menggendongku, mungkin pinggangmu akan sakit."

"Tidak apa-apa, Sehun." Raut wajah Sehun berseri, ia pun meletakkan asal kruknya di tanah lalu mendaratkan badannya pada Chanyeol.

"Terima kasih, Hyung."

"Jangan merasa sungkan." Chanyeol merasa kesulitan untuk berdiri.

"Aku tidak akan pernah merasa sungkan padamu, Hyung." Sehun sedikit menengok Baekhyun di belakangnya. "Baekhyun Hyung tolong kau bawa kruk—ku." Dan Baekhyun hanya mengangguk malas, mengambil kasar kruk milik Sehun dan mengikuti mereka berdua.

Sebetulnya, Chanyeol ingin mengabaikan Sehun. Hanya saja sebencibencinya dia pada Sehun, dia masih mempunyai hati nurani. Chanyeol merasa iba dengan keadaan Sehun.

Mereka berdua telah sampai di depan pintu kediaman keluarga Park. Chanyeol pun meminta Baekhyun untuk membuka pintu berbahan mahoni itu. Dengan enggan Baekhyun membuka pintu itu. Kemudian menyerobot masuk pintu itu, meninggalkan Chanyeol yang tengah kesulitan membawa beban di punggungnya.

"Sehun apakah kakakmu selalu seperti itu?" Tanya Chanyeol sambil melirik Baekhyun yang sedang duduk di sofa—dengan gaya bosnya.

"Iya, itu memang sifatnya. Memangnya kenapa hyung?"

"Apa yang kalian bicarakan?" Ketus Baekhyun. Membuat Chanyeol sedikit terdiam dan Sehun menyembunyikan kepalanya di punggung Chanyeol. Pemuda pucat itu sedikit menggigit bibirnya, merasa lucu dengan sikap Chanyeol yang takut pada kakaknya.

"Titidak." Chanyeol menggeleng kaku, dengan gugup Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun yang tengah asyik membuka majalah fashion milik kakaknya. Setelah beberapa langkah dari ruang tamu Chanyeol berbisik, "Tumben kau mengajak macan itu ke sini."

Sehun sedikit terkekeh mendengar perkataan Chanyeol, "Aku tidak mengajaknya. Dia sendiri yang menginginkan ikut ke sini."

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sinis andalannya yang sangat membuat pria jangkung itu malu dan sedikit takut kepadanya. Sebagai lelaki bertanggung jawab Chanyeol sadar seratus persen bahwa ini adalah salahnya.

Salahnya karena mengajak Baekhyun pergi ke sebuah restoran ayam tepung di kawasan Myeongdong untuk makan malam. Baekhyun yang sedang bosan mengiyakan ajakan tersebut.

Ketika akan melakukan pembayaran di kasir. Pemuda itu sadar jika dompetnya tertinggal. Pada akhirnya Baekhyun terpaksa membayar tagihan tersebut.

"Berhenti menatapku seperti itu. Aku akan mengganti uangmu ketika berada di rumah."

Baekhyun berdecih, "Tidak perlu. Anggap saja aku sedang membantu tuna wisma jadi kau tidak perlu menggantinya."

"Sialan kau." Chanyeol menepikan mobilnya sembarang di pinggir jalan, dia tersulut amarah ketika Baekhyun menganggapnya tuna wisma.

"Apa kau bilang?" Baekhyun menaikkan satu oktaf. Walau banyak orang yang sering mengumpat padanya, tapi Baekhyun tidak terima jika dia diumpat oleh orang rendahan seperti Chanyeol.

"Sialan kau." Chanyeol mengulangi perkataannya seraya menatap mata sipit Baekyun. "Apakah Anda sudah kehilangan pendengaran anda Tuan Byun?"

Baekhyun terkekeh pelan dengan keberanian Chanyeol. "Kau tahu siapa Byun Baekhyun 'kan?"

"Tentu saja aku tahu. Hanya kutu buku yang tak mengenal Bajingan tengik dan bodoh sepertimu." Chanyeol menyeringai, melihat rahang Baekhyun sedikit mengeras. "Dengar Byun, jikapun kau seorang mafia, aku tidak akan pernah takut kepadamu."

Seseorang bisakah menenggelamkah Chanyeol di Samudra Pasifik?

"Benarkah kau tidak takut?" Chanyeol mengangguk mantap. "Kalau begitu, kita bertarung di—"

Ddrrtt... ddrrt...

Dering ponsel Chanyeol menghentikan ucapan Baekhyun. Lantas pemuda jangkung itu merogoh ponsel di sakunya. Tertera nama "Yoora" di layar. Dengan tak acuh pemuda itu menggeser layar ke kanan.

"Hallo, Noona."

"Hyung, apakah kau masih di distrik Jung?" Sehun bertanya tanpa menjawab sapaan Chanyeol.

"Ya. " Mood Chanyeol berubah mendengar suara Sehun.

"Bisakah kau membelikanku sushi?"

"Tidak."

"Tapi aku ingin su—."

"Tidak, aku sudah membeli ayam goreng untukmu."

"Tapi hyung, aku ingin sushi." Rengeknya.

"Itu salahmu. Kenapa tidak bilang bahwa kau ingin sushi." Chanyeol segera mematikan panggilan itu sebelum kepalanya pecah karena Sehun merengek. "Sepertinya kita harus pulang."

"Kenapa? apakah kau takut?" Terdengar nada mengejek yang kentara dalam ucapan Baekhyun.

"Adikmu merajuk." Chanyeol menstarter mobilnya. "Lagi pula, aku tidak akan takut kepada berandal kecil sepertimu."

"Aku sangat tersanjung dengan ucapanmu."

Tak lama ponsel pintar Chanyeol kembali bergetar. Tapi pemuda itu mengabaikannya, dia lebih memusatkan matanya pada pada jalan raya. Sementara pemuda mungil di sebelahnya tengah bermain game di ponsel, mengabaikan pemandangan sore yang indah.

CB

CHANBAEK

CB

Mobil produk asli Korea itu telah sampai di pekarangan rumah keluarga Park. Dengan cepat pemuda bermata sipit itu keluar dari mobil, membuat Chanyeol semakin kesal dengan tingkahnya. Namun dia hanya bisa menahan kekesalannya. Lalu pemuda bermarga Park itu itu keluar dengan membawa makanan yang tadi mereka beli.

Matanya sedikit melebar, melihat sampah berserakan di ruang tamu. Ruangan itu terlihat kotor dengan potongan kertas dan bungkus snack berserakan di lantai. Dengan segera Chanyeol meletakkan plastik berisi ayam tepung sembarang lalu ia memunguti bungkus snack yang berserakan di lantai, tanpa menyadari seorang wanita paruh baya mendekatinya.

"Chanyeol apakah kau membeli sushi untuk Sehun?" Tanya wanita paruh baya.

Chanyeol menggeleng, "Tidak bu. Kapan ibu pulang?"

"Bukankah ibu sudah mengirim pesan agar kau membeli sushi?" Nyonya Park mengabaikan pertanyaan anaknya.

"Ibu, aku sudah membeli ayam tepung untuk Sehun. Lagipula aku lupa membawa dompetku, bu. Jadi Baekhyun yang membayar makanan ini." Chanyeol menggaruk tekuknya, sedikit malu mengatakannya. "Memangnya kenapa bu? Apakah kekacauan di ruang tamu ini ulah bocah itu?"

Nyonya Park mengangguk. "Dia marah karena kau memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Lalu Sehun menggunting semua majalah kesayangan Yoora dan kakakmu yang telah bertanduk itu mengajaknya untuk membuat sushi."

"Dasar bocah. Ibu lebih baik ibu pergi menyimpan ayam tepung di dapur." Chanyeol menyodorkan plastik berisi ayam tepung itu ke arah ibunya. "Biarkan aku yang membereskan ruang tamu ini."

"Tidak, Chan. Sebaiknya kau menyimpan itu ke dapur. Ibu tidak mau ruangan ini tambah berantakkan jika kau yang membereskannya." Nyonya Park terkekeh ketika mengatakannya.

Wajah Chanyeol sedikit merengut mendengarnya, lalu ia pun menyimpan bungkus snack itu dan mengambil plastik yang tadi ia lempar sembarang arah. Kemudian tungkai Chanyeol pun berjalan menuju ruangan di sudut rumah itu.

Terdengar suara tawa dari dapur, salah satunya milik Sehun, ayahnya , kakaknya, dan dia tidak mengetahui suara tawa lainnya. Hatinya terasa familiar dengan itu tapi telinganya tidak.

Chanyeol sedikit berlari menuju dapur. Dia penasaran siapa yang tertawa begitu indah itu, dan apa yang membuat kedua orang itu tertawa.

"Aku tak menyangka orang tinggi sepertinya tidak mempunyai otak." Ucap Sehun yang membuat tiga orang lainnya terbahak.

Chanyeol berdeham keras sehingga membuat empat orang itu menghentikan tawanya. "Siapa yang kalian bicarakan?"

"Tentu saja kau, bodoh." Jawab Sehun, terselip nada sinis dalam perkataannya. Dia masih dongkol pada Chanyeol.

"Siapa yang kau sebut bodoh?" Chanyeol berjalan mendekati meja makan dengan dagu terangkat. "Kau berani padaku?"

"Chanyeol sebaiknya kau segera duduk." Tuan Park memberi perintah kepada Chanyeol yang langsung dituruti oleh sang anak. Dia duduk di samping Yoora. "Kau seharusnya mengalah kepada Sehun. Anggap saja Sehun itu adikmu."

Chanyeol sedikit bergidik mendengar ucapan Tuan Park. Membayangkan Sehun menjadi adiknya adalah mimpi buruk bagi Chanyeol.

"Itu tidak mungkin." Ucapnya seraya menatap Sehun yang duduk di hadapannya.

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Chanyeol." Yoora berbisik tepat ditelinga adiknya.

Setelah makan di rumah keluarga Park, Sehun dan Baekhyun berpamitan untuk pulang. Tapi Nyonya Park menahan mereka agar menginap yang langsung diangguki oleh Sehun tapi di tolak oleh Baekhyun. Pemuda mungil itu beralasan jika dia belum mengerjakan tugasnya.

Sebetulnya jika Baekhyun ingin, dia bisa menelepon Paman Heo—supirnya. Tetapi jika Baekhyun menelepon Paman Heo dia tidak bisa pergi bersama teman-temannya.

"Baiklah jika kau tidak ingin menginap biarkan Chanyeol mengantarmu." Nyonya Park menatap lembut Baekhyun yang berada di sampingnya. Sedangkan Chanyeol tersedak mendengar perkataan ibunya.

Baekhyun menggeleng, "Tidak perlu, Nyonya Park. Saya bisa pergi sendiri dan ini belum larut."

"Iya, bu. Ini masih jam tujuh malam. Biarkan dia pulang menggunakan angkutan umum lagipula dia itu berandalan sekolah."

"Tidak, Channie. Kau harus mengantarkannya. Tidak baik pemuda manis sepertinya pergi seorang diri."

Baekhyun menahan diri untuk tidak mendengus dan berteriak mendengar ucapan wanita di samping kirinya ini. Sedangkan Sehun tertawa mendengarnya.

Baekhyun tersenyum manis. "Baiklah bibi."

Chanyeol mengelap bibirnya menggunakan tisu. "Jika aku tidak mau bagaimana bu?"

"Uang jajanmu ibu potong."

Pada akhirnya kedua pemuda itu pergi meninggalkan kediaman Keluarga Park. Dan keesokan harinya Sehun terbangun karena sebuah pesan yang menyebabkan dia kehilangan otak polosnya.


Baekhyun kecil itu memberengut lucu melihat kakaknya tengah membacakan sebuah dongeng "Golden Axe Silver Axe" kepada anak-anak panti. Kesal karena Baekbeom tidak membacakan dongeng favoritnya, ia pun pergi menuju sebuah ayunan di halaman depan.

Baekhyun kira pergi ke bersama orangtua dan kakaknya akan terasa menyenangkan dari pada di rumah. Ternyata sebaliknya. Ini memang pertama kalinya Baekhyun mengunjungi panti asuhan. Dulu akan menolak jika diajak dia lebih suka bermain dengan pengasuhnya.

Terlalu asyik dengan dunia khayalnya membuat Baekhyun tidak sadar jika seorang balita tengah berjalan menghampirinya yang tengah terduduk di ayunan.

"Mamamamama..." Seorang balita menyodorkan sebuah botol yang masih penuh dengan susu kepada Baekhyun.

Baekhyun termenung melihat balita itu. "Ada ap—" Ucapan Baekhyun terhenti karena balita itu memasukkan botol susu itu ke dalam mulut Baekhyun tak lama anak itu melepaskannya dan memasukkan botol itu ke mutulnya lalu duduk di ayunan sebelah Baekhyun.

Baekhyun tertawa melihat tingkah konyol balita di sampingnya. "Kau siapa?"

"Thehun." Ucapnya diselasela menyedot susunya. Sekali lagi Baekhyun tertawa mendengar nama balita itu.

Tak lama Nyonya menghampiri mereka. Wanita berkepala tiga itu berkata bahwa mereka tidak boleh duduk di bawah terik matahari.

"Baiklah ibu, aku akan pindah ke tempat yang teduh. Tapi ibu harus memberikanku adik seperti Tehun."

Nyonya Byun tersenyum mendengar perkataan anaknya, "Bagaimana jika Tehun yang yang menjadi adik Baekhyun?"

Dan bocah itu heboh bertepuk tangan mendengar perkataan ibunya. Berbeda dengan Sehun yang tak acuh dengan kegiatan manusia di sampingnya.

.

.

.

TBC

...

..
..

Hallo... I'm back.

Bagi yang meminta saya untuk fast update, saya telah berusaha untuk update secepat yang saya bisa. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan ._.v laptop saya rusak (tiba-tiba mati pas digunakan). Dan ini pun belum diperbaiki.

Sekitar dua minggu yang lalu itu sudah ke kota sebelah (soalnya di kota saya gak ada asus center) karena saya jarang main ke sana jadi keliling di Gramedia dan mall, pas nyampe ke di asus centernya tutup. Ya jadi pulang dan mungkin minggu depan bakalan ke sana lagi.

...

Spesial thanks for :

Favorites : BianBaixian614, Chanyeolliee, Jeon Baekhyun48, Lee Na Rin, Loeyyy, Ning830, Park Beichan, anakprawanchanbaek, baekkiecookie, baexian ree, barbiebaek, chanbaek perfect, gitakanya, lintung, nabilasahda, reniajah889, salsabee18, satangsatang.

Followers : AkemiArishima1, Chanyeolliee, Hunza1912, JaeHeee, Jeon Baekhyun48, Lee Na Rin, Rapmoon, Theresia341, baekkiecookie, baeklips, baexian ree, cici fu, dindaebak94, ecrsar, exostephi, fansanakayam, gitakanya, lintung, micopark, reniajah889, salsabee18, summerbaek.

Reviewers : micopark, Ning830, cici fu, jakun nya baek, Sitachaan, barbiebaek, winter park chanchan.Dan yang sudah membaca Fanfiction saya.

Saya menyadari jika ff saya banyak kekurangannya...

Dapatkah anda meninggalkan kritik dan saran nya?