-Pianosonatagatari: Sebuah Toko di Ujung Dunia-

BEETHOVEN PIANO SONATA NO 26.

"Perpisahan"

Lagu ini….

Penuh dengan kesedihan.

Kepiluan karena harus berpisah.


Aku, di penghujung liburan semester ini, sedang berada di daerah tepian kota Kuoh, tepatnya di daerah tempat pembuangan barang-barang bekas berbagai jenis.

Kusebut Toko yang menjual semua barang.

Terletak di tempat terpencil bagaikan ujung dunia.

Aku sekarang, untuk ketiga kalinya, terpaksa harus tinggal dengan pamanku.

Pamanku adalah seorang kritikus musik, profesi yang aneh. Itulah sebabnya rumahnya selalu penuh dengan barang audio dan kaset pita serta CD. Sayangnya, dia malas mengurusnya.

"Naruto, alatnya rusak karena ketumpahan ramen….."

Kalau nggak beli baru, dia akan memaksaku untuk memperbaikinya.

Dan aku terpaksa harus mengiyakannya. Karena memanglah tugasku untuk menjaga paman. Akibat dari diriku yang pada akhir-akhir ini sering emosiku tidak stabil, Orang tuaku akhirnya menghukumku untuk tinggal bersama paman untuk kedua kalinya.

Pertama, waktu kelas 1 sampai 2 SMP. Dan sekarang.

Untung saja aku sangat suka plus mahir mengutak-atik serta memperbaiki alat-alat rusak.

"Wah, ini masih bisa dipakai."

Jujur, aku suka tempat ini. Aku sering kesini waktu liburan ini, untuk mencari onderdil. Saat aku menatap gunung abu-abu ini, Aku merasa hanya diriku di dunia ini…

Dentingan piano….

Eh-

Aku merasa mendengar sebuah permainan…..

~Beethoven Piano Sonata No. 26~

Kurasa… Mungkin saja…

Lagu klasik yang begitu kukenali,

Sialnya, malah kudengar disini, dimana hatiku sedang gundah gulana di peralihan musim yang masih cukup dingin ini.

Dimainkan dengan Piano dengan begitu indah, serta pilu.

…..

Eh-

Bukan hanya piano saja…..

Ada bass yang dimainkan dengan mulusnya, dan juga timpaan suara clarinet.

Aku lantas mencari asal dari sumber suara tersebut, dan juga lebih seksama lagi untuk mendengar permainan indah ini.

….

Sepertinya aku salah menebak tadi,

Sepertinya ini piano concerto dari Prancis pada abad 19.

…..

Apakah yang kudengar ini suara radio?

Tidak-tidak, resonansinya berbeda. Ini orchestra hidup.

Tapi, mengapa ada disini?

Aku terus mencari-cari sumber suara ini, dan pada akhirnya

Deg-

Seorang gadis,

Gadis berambut pirang panjang, berkilauan diterpa sinar mentari yang hangat, memainkan piano dengan begitu indahnya.

Lantas, aku mendekatinya, piano tersebut, dan menyentuhnya.

Suara yang indah. Namun sayangnya, aku lupa judulnya….

Padahal begitu familier di telingaku…. Dan begitu merasuk di dadaku….

….!

Ia menghentikan permainannya, menyadari adanya diriku disini.

"Sejak kapan…."

Ia memulai percakapan dengan dinginnya.

"Eh-"

"Sejak kapan kau disini?"

"Eh- ano…. Sejak cadenza pertama…."

Gadis tersebut langsung memerah wajahnya.

"Sejak awal?! Dasar mesum! Kau sengaja membututiku kan?!"

"Tidak, aku tidak membututimu."

"Liar!"

Ia lantas menerjang kearahku dengan tatapan marah, dan itu membuatku melangkah mundur dan tersandung jatuh.

Ia kemudian menatapku, yang jatuh terduduk ini, dengan tatapan menusuk yang amat tajam.

"Lantas, jika tidak, mengapa kau kesini?"

"Aku hanya cari onderdil disini…."

Ia kemudian menghela napasnya.

"Baiklah, kalau begitu, kau sebaiknya lupakan tentang kejadian ini, jangan bilang siapa-siapa! Tentang keberadaanku, tentang lagu ini, semuanya! Dan juga lupakanlah diriku!"

"Eh- kenapa?"

"Pokoknya lupakan saja…."

Sreet…..Sreeeet…..

"Wah?! Kok jadi begini?!"

Ia langsung menghampiri pemutar kasetnya yang rusak. Ia menggenggamnya dengan tatapan khawatir, air matanya sedikit keluar.

"Rusak…..ya….."

"Jangan dipaksa."

Aku lantas mengambil pemutar kaset itu dan kemudian memperbaikinya.

"Bisa…. diperbaiki?"

"Mungkin….."

Kataku sambil fokus dalam peralatan yang rusak ini, mencari asal muasalnya alat ini bisa rusak.

"Stoppernya rusak. Memang suka begini kalau tidak dipencet tombolnya."

"Ini gara-gara kau! Jadinya aku lupa…."

"Nih sudah kuperbaiki."

Aku lantas menyodorkannya ke gadis itu.

"Eh…"

"Sekarang sudah bisa berhenti sendiri. Tape yang di dalamnya juga baik-baik saja."

Gadis itu lantas mengambilnya, dan mendekatkannya ke telinga. Ekspresi bahagia terpancar di wajahnya yang cantik.

Melihatnya, aku lantas tersenyum.

"Syukurlah, sepertinya baik-baik saja."

"Kenapa kau bawa obeng?"

Ia melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku, kali ini nadanya tidak sedingin tadi.

"Aku suka mengutak-atik dan memperbaiki barang. Aku kesini karena mencari onderdil yang masih bisa dipakai…"

"Apakah…..asik?"

"Lumayan. Aku senang jika bisa memperbaiki barang dan membuat orang tersenyum bahagia ketika barangnya berhasil diperbaiki."

"Oh….."

"Baiklah, aku akan pergi sekarang."

Aku lantas meraih ranselku, memakainya dengan satu tali.

Jujur saja, ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang isi tape itu? Mengapa kau bisa disini? Lagu apa itu? Apakah Orkestra itu haya ilusi…..

Kau siapa…..

Yah, kalau itu kutanyakan, dia tak akan menjawab.

"Maaf…"

Ia tiba-tiba meraih lengan bajuku. Mencegahku untuk pergi.

"Eh…ah….."


"Bilang saja kamu sedang nyasar."

"Eng-enggak kok…"

Aku terpaksa menjadi petunjuk jalan baginya. Ia ternyata tersesat disini.

"Dari sini, kau akan tahu jalan. Bye, aku mau cari onderdil lagi."

Aku meninggalkannya di persimpangan jalan, dimana kurasa ia mengetahuinya.

Dan disana juga terdapat polisi patroli, yang mendekati gadis tersebut.

"Kamu ini…. Pendragon-san?"

"Ukh…yah…."

"Sudah kuduga. Waktu kabur tempo hari, kamu kesini. Keluargamu mencarimu, ayo ikut."

Aku memandanginya, dan dapat mendengar sebagian besar perkataaan polisi tersebut. Dan aku melihat wajah sedih tertunduk dari gadis tersebut.

"Maaf, pak. Anda salah orang. Dia mengajakku main di daerah sini."

"Tapi…"

"Ayo, kalau ketinggalan kereta, bisa nunggu lama. Ayo."

"Nak, kamu…"

"Maaf pak, kami sedang buru-buru…"

Aku lantas mengulurkan tanganku kepadanya, sambil bercakap-cakap dengan polisi tadi. Wajahnya terlihat enggan, namun ia menerima uluran tanganku.


"Syukurlah, sepertinya ia tidak mengejar… Kalau kabur, jangan ke tempat dimana orangtuamu tahu…"

"….. Tidak ada urusannya denganmu…"

Ukh, balasan yang sangat dingin serta tajam. Sampai-sampai aku menghela napasku. Kami sekarang sedang berada di stasiun terdekat dari daerah sini. Dan gadis ini, berjalan dengan tergesa-gesa, mendahului diriku.

Rambutnya yang panjang serta indah,

Baju yang nampak sederhana namun mahal,

Ia layaknya boneka yang cantik….

Yang tak pernah keluar dari kotaknya…

Tiba-tiba saja melarikan diri….

Deg-

Aku teringat sesuatu…..

"Ano…Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Ia memandangiku dengan ekspresi kaget.

"Rasanya, aku pernah melihat wajahmu… Kenapa ya…. Padahal rasanya belum pernah bertemu…"

"Cukup! Tak usah ingat!"

Ia marah.

"Lupakan semuanya….. Tentang kejadian ini…."

Ia lantas berlari, dengan ekspresi yang campur aduk.

"Kenapa sih, dia…. Paling enggak bilang terima kasih dong…"

Aku kemudian menatap langit di stasiun ini….

Lagu yang ia mainkan tadi apa ya….

….!

Ah…

12 variasi dari Ah! Vous Dirai-Je Maman. Komposisi piano Mozart….

"Hei!"

Tiba-tiba saja, dia melemparkan sekaleng cola dari kejahuan. Dan untung saja, refleku bagus sehingga dapat menagkap sempurna kaleng cola yang dilemparkannya.

Setelah momen tersebut, aku menyadari sesuatu…

Begitu ya….

Kenapa aku tak sadar…..

Tentu saja aku kenal dirinya. (Bisa dibilang 'tahu' saja)

Le Fay Pendragon.

Gadis yang selalu memenangkan kompetisi piano Eropa tiap tahun. Dia merilis banyak CD, Akan tetapi dia menghilang dari dunia musik pada usia 15 tahun.

Pianis belia yang jenius, Le Fay Pendragon…..

Kemudian aku membuka kaleng cola ini, dan meminumnya.

Mungkin… Ini tanda terima kasih darinya….?

Bukankah ada cara yang lebih baik daripada melempar kaleng seenaknya…


Setelah sampai rumah pamanku, di dalam ruangan pribadiku, aku kemudian mendengarkan semua CD-nya.

Aku tidak tahu banyak tentangnya dari urutan lagunya, dari ratusan kaset yang diberkian paman kepadaku. Akan tetapi, aku sangat suka menyimak, suara degup yang stabil itu. Menyatu dalam ritme robotic yang mantap.

Apa itu ya…..

Padahal tampaknya, ia bukan pianis yang memainkan lagu-lagu sedih.

Dan bicara tentang lagu sedih itu, ketika aku mendengarnya tadi, tiba-tiba aku teringat padanya. Yang telah meninggalkanku kea lam sana kurang lebih 3 bulan yang lalu.

Dan itu membuatku sedikit depresi, lagi.

"Lupakan semuanya…"

Kulepas headphoneku, kurebahkan diriku di dalam Kasur yang empuk ini dan menenangkan diriku ini.

Tak usah teringat lagi, aku pasti akan segera lupa. Karena sekarang,

Aku sibuk…..


Tahun ajaran baru dimulai. Saatnya sekarang memulai perjalanan menjadi siswa senior yang mati-matian belajar untuk menentukan masa depan.

Sekarang ini, aku melangkah santai menuju ke markas besar pertamaku. Sebuah bangunan yang tak terpakai di sudut sekolah yang kutemukan pada saat tahun pertama. Aku menggunakannya untuk bersantai dari rasa lelah, apalagi sekarang aku sangat lelah karena melakukan promosi klub Paranormal Activity tadi.

"Pagi, Naruto. Apa kabar?!"

Tiba-tiba saja, seorang gadis berambut pink sebahu menepuk bahuku dari belakang. Tingkahnya yang tomboy, tak salah, Haruno Sakura.

Aku lantas melepaskan headphoneku, dan membalas sapaanya yang energik.

"Baik. Sudah lama tidak bertemu."

"Yup, sudah lama tak berjumpa."

"Bagaimana dengan tes beasiswa di Prancis?"

Haruno Sakura, salah satu teman dekat wanita yang kupunya, sekaligus yang pertama. Kami teman dekat dari SMP, dan pada SMA, jujur aku jarang bertemu dengannya karena ia disibukkan dengan ambisi rencana studinya ke luar negeri.

"Berjalan dengan cukup baik. Kuharap aku dapat diterima….. Oh ya, sepertinya ada siswi baru lho."

"Iyakah? Aku sebenarnya juga tidak terlalu peduli sih."

"Yah karena kau memang orang yang acuh tak acuh."

Ia meninju kecil lenganku.

"Menuju ke ruangan pribadi, Naru?"

"Yup."

"Palingan mau malas-malasan. Ya sudah, aku pergi dulu, sampai jumpa, Naru!"

"Yo."

Aku membalas lambaian tangannya dengan gaya tak pedulian.

Dalam perjalanan menuju ke basecamp-ku, aku terus menerus memikirkan tentang Le Fay Pendragon. Jujur, aku sedikit ingin tahu apa yang sedang terjadi dengannya.

Namun,

Akan kulupakan saja. Lagipula aku bersamanya hanya dalam waktu singkat.

Keseharianku sangat sibuk, Tak ada waktu luang untuk memikirkannya.

Ketika aku membuka pintu, sesuatu hal yang baru muncul….

Membuatku terkejut dengan luar biasa…

'Le Fay Pendragon memainkan sebuah gitar listrik...'

To be continued…..


Yo, PiKei kembali lagi.

Akhirnya, konsep sebuah cerita sekuel dari Yuremonogatari telah selesai dibuat,tinggal merealisasikannya. Semoga saja konsep yang sudah gado-gado ini akan tercipta sebuah cerita yang menarik XD

Oke, rencana saya ini akan saya buat kumpulan kisah-kisah (route XD) 'koi'-nya Naruto. Dan yang pertama adalah kisah seorang gadis pianis jenius belia.

Bila ada pertanyaan (seputar cerita ini atau 'apapun') dari para pembaca semuanya, jangan sungkan-sungkan untuk mengutarakannya di review. PiKei dengan senang hati akan mejawabnya.

Akhir kata, Selamat menikmati :) serta, Review, Favorite, and Follow :)

Salam Hangat,

-PancakesKnight-