-Pianosonatagatari: The Revolutionary Etude-

PRAAAK

Suara kapur terjatuh. Gadis yang menjatuhkan kapur itu tertunduk, kemudian kembali mengadahkan kepalanya, dengan ekspresi wajah dinginnya, acuh tak acuhnya.

"Aku tak ingin menulis. Aku tak suka namaku."

Le Fay Pendragon…..

"Lho…"

"Itu dia…."

"Aku pernah melihatnya di televisi…"

"Itu Pendragon siapa gitu…."

"Yang pianis itu kan?"

Ia pindah ke sekolah kami di waktu yang tak wajar.

Seharusnya baik-baik saja…

Tiba-tiba bermain gitar di ruanganku…. Setelah diriku melihat permainan pianonya waktu itu….

Hoi…..

Kenapa dia bersekolah disini…

Dan,

Malah bermain…..

"HAH?! Kenapa kamu disini?! Ternyata kau memang stalker! Kenapa kau disini?!"

"Apa?! Aku bukan stalker! Harusnya aku yang tanya begitu!

Ia meneriaku, memarahiku ketika aku masuk ke ruanganku ini. Basecamp milikku yang seharusnya menjadi tempatku bersantai malah dimasuki Le Fay dengan seenaknya.

"Jangan mendekat, mesum!"

"Hei, Hei! Jangan ayunkan gitar itu!"

Ayunan gitarnya yang sangat membahayakan itu membuat tas yang kubawa terjatuh, dan mengeluarkan semua muatan yang ada di dalamnya, yaitu CD karya-karya Le Fay Pendragon.

Karya miliknya.

Le Fay, terkaget-kaget melihat isi tasku yang jatuh berserakan. Dan memandangku dengan tatapan dingin menusuk plus jijik.

"Memang….. Aku memang mempunyai semua CD-mu! Aku memang mendengarkan semua lagumu! Tapi itukan terserah aku! Aku tak peduli kau benci padaku! Karena aku melakukan apa yang aku… Sukai!"

Aku meneriakinya sambil mengarahkan jari telunjukku kepadanya, membuatnya terpojok ke dinding dengan ekspresi ketakutan.

"Kalau kau mendekat lagi…. Aku akan teriak….. DASAR STALKER!"


Tak kusangka kami sekelas, setelah momen tak menyenangkan diantara kita, ia kemudian menatapku dengan tatapan bencinya di depan kelas.

"Aku ada pertanyaan! Kapan album barumu rilis?"

Tiba-tiba Kiryuu mengajukan pertanyaan, dimana setahuku si Le Fay tidak pernah mengatakan 'ada pertanyaan?', bahkan ia tak mengucapkan 'mohon kerjasamanya'.

Dan itu membuat teman-teman sekelasku ikut-ikutan bertanya, kecuali Issei yang masih terduduk lemas serta Kazu yang merasa bosan.

"Kenapa nggak melanjutkan sekolah musikmu?

"Akhir-akhir ini kamu nggak muncul di televisi, kenapa?"

"Mainkan piano dong…."

"Tolong, Lupakan…."

Eh-

"Bulan Juni nanti aku akan pergi. Jadi …. Tolong lupakan aku."

Kemudian,

Teman-teman sekelasku (kecuali Issei dan Kazu) mengrubungi Le Fay, mengajaknya mengobrol serta bertanya berbagai macam hal.

Wajahnya menampakkan raut tak nyaman, seolah berkata enyahlah segera dari sini! Atau sejenisnya. Dan aku, memilih untuk memandangi pemandangan luar jendela, tak peduli, acuh tak acuh.

"Tanyakan saja pada orang itu!"

"HAH?!"

Tiba-tiba saja, gadis sialan itu berteriak sambil menunjuk diriku.

"Orang itu mesum! Punya semua albumku! Dia tahu semua hal tentang diriku!"

Sialan!

"Wah, ada apa nih?"

"Apa hubunganmu dengan Pendragon-san, manusia mesum?"

"OY JANGAN SEBUT AKU MESUM!"

"Dari tadi kau melihatnya terus, tahu….."

Hei, hei.

*Grek*

Dan gadis sialan itu malah keluar kelas, memanfaatkan momentum dimana diriku dikroyok dengan cercaan pertanyaan.

Dia memakaiku sebagai umpan!

Brengsek…

"Hei, Naruto, pamanmu bukannya kritikus musik klasik? Bukannya kamu sekarang tinggal bersama pamanmu?"

Sakura datang di waktu yang tepat untuk menolongku dari keroyokan pertanyaan yang dilontarkan teman sekelasku.

"Oh iya, kritikus musik klasik kan."

"Klasik?"

"Dia sering menulis artikel di majalah musik, kan?"

"Heh… jadinya pamanmu itu seharusnya tahu banyak hal, ya…"


Hari itu, sekembalinya ke rumah, akhirnya kusadari betapa kecil dunia ini sesungguhnya.

"Jiraiya, kamu masih ingat Le Fay Pendragon?"

Kutanyakan hal itu pada pamanku sewaktu aku mempersiapkan makan malam, yang kala itu juga berada di ruang makan. Aku sudah lupa sejak kapan aku mulai memanggil pamanku ini dengan nama depannya — apa mungkin sesaat setelah bibiku pergi dari rumah? Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai seorang 'paman' setelah kejadian itu.

Jiraiya duduk jongkok di atas kursi dengan mengenakan jersey-nya. Beliau menggunakan mangkok dan sumpitnya untuk bermain drum dengan irama waltz gubahan Tcaikovsky, yang terdengar nyaring lewat pengeras suara. Beliau terus meneriakkan. "Makan malamnya belum siap?" memangnya seperti itukah pria berumur empat puluh tahunan — yang juga memiliki keponakan yang tinggal bersamanya — berperilaku?

Jiraiya menoleh, tapi tangannya masih bermain drum dengan mangkok. Kemarahan yang tiba-tiba, mulai berkembang dalam diriku. Aku merebut sumpitnya, lalu mematikan pengeras suara. Yang dilakukan Jiraiya cuma merengut seperti anak kecil.

"Aku tanya, apa kamu masih ingat orang yang bernama Le Fay Pendragon?"

"Hmm? Ya, aku ingat. Le Fay Pendragon, ya, Bach masih yang paling cocok untuknya. Ada beberapa bagian yang tidak mengalir dengan lembut di dekat semua partita-nya, tapi di situlah letak pesonanya. Terkadang, muncul beberapa anak muda yang bisa memainkan musik Bach dengan sangat baik. Contohnya ..."

"Cukup, aku tidak mau dengar pandanganmu mengenai hal itu."

Lupakan saja, deh. Di mata Jiraiya, gadis itu mungkin cuma salah satu dari sekian banyak pianis yang ada, jadi bisa dimaklumi kalau beliau hanya bicara hal-hal mengenai musik saja. Saat aku akan berjalan kembali ke dapur sambil memikirkan hal tersebut, Jiraiya lanjut berbicara.

"Tapi paman dengar ia pindah ke sekolahmu?"

"Bagaimana kamu bisa tahu?"

Aku berbalik karena terkejut, dan hampir terjatuh setelah tidak sengaja menendang pot.

"Re dan paman dulunya pernah jadi teman sekelas di SMA. Karena Re adalah direktur di sekolah itu, sudah pasti ia akan memaksa anaknya untuk belajar di sana."

"Ah ..., benar juga, gadis itu kan putrinya."

Arthur Pendragon — atau lebih sering dipanggil 'Re' — adalah salah satu dari sedikit konduktor terkenal. Ia pernah mengabdikan penuh dirinya untuk Orkestra Simfoni Boston dan Chicago, dan ia juga merupakan salah satu musisi terkenal dunia. Kebetulan, Jiraiya yang memberinya nama panggilan tersebut — kritikus memang orang-orang mengerikan.

Salah satu topik yang sering diperbincangkan ketika Le Fay memulai debut adalah; ternyata ia anak dari 'Re yang namanya dikenal di seluruh dunia'. Pasti ada beberapa orang yang ingin coba memasangkan ayah dan anak tersebut untuk tampil dalam satu panggung, namun Le Fay lebih dulu menghilang dari dunia musik sebelum hal itu menjadi kenyataan.

"Masalahnya, sekolah kami tidak lagi punya Musik sebagai mata pelajaran utama, kok ia masih mau saja pindah ke sekolah itu?"

"Paman dengar itu karena putrinya yang terus-menerus mengeluh. Padahal ia sudah belajar di Sekolah Musik, tapi putrinya bilang kalau ia tidak mau. Re tidak punya pilihan selain mengizinkannya belajar di SMA biasa, makanya gadis tersebut pindah ke sekolahmu. Ia tidak lagi bermain piano, 'kan? Saat pertama kali mendengar permainan pianonya, Paman merasa kalau ia salah satu tipe pianis yang bersifat merusak. Melodi balasannya terdengar seperti pertengkaran antar anggota keluarga."

Hmm? Tapi ...

Hari itu aku mendengarnya bermain piano saat di Toko Ujung Dunia.

Jadi ia ... tidak lagi bermain piano? Kenapa?

"Oi, makan malamnya belum siap?"

"Makan malamnya~belum~siap?"

Jiraiya mulai menyanyikan kata-kata itu dengan nada pada bagian Engkau tidak 'kan pergi lagi dari The Marriage of Figaro . Berisik, tahu. Kunyah saja alat perekam atau apalah sana!

Kalau ia benar-benar meninggalkan piano karena suatu alasan, dan akhirnya memilih belajar di sekolah kami daripada di Sekolah Musik, maka masuk akal jika ia pindah di waktu yang kurang pas begini. Meski begitu, kenapa ia sampai meninggalkan piano?

Aku menggelengkan kepalaku dan tidak ingin lebih jauh memikirkan hal tersebut. Kalau anak-anak di kelasku mendengar hal yang barusan dikatakan paman, mereka mungkin akan berpikir kalau aku memang banyak tahu tentang Le Fay. Kami cuma teman sekelas yang duduk bersebelahan, dan tampaknya ia memiliki sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Karena tidak mungkin ia mengganggu hidupku atas kemauannya sendiri, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah mengabaikannya saja, ya 'kan?


2 bulan selanjutnya,

Tetap sama. Stagnan.

Begitu pula dengan Le Fay yang begitu tertutupnya dengan teman-teman sekelasnya. Dan wajahnya yang lesu, tak pedulian, dingin, namun seperti menyimpan luka yang amat dalam tetap terpancarkan tanpa ada perubahan sama sekali.

Sial,

Kenapa aku terus memikirkan tentangnya?

Seharusnya aku mengabaikannya, kan?

Iya kan?

Akan tetapi, entah mengapa, bagian lain di dalam diriku ini seolah tertarik dengan kemisteriusan Le Fay, mengapa ia berhenti main piano dan beralih ke gitar…..

"Kudengar dia suka kesenian, dia suka melukis, jadinya kuajak dia gabung ke klub Seni Rupa. Tapi omongannya malah aneh, dan ia menolak."

"Aku tak pernah melihatnya main musik, serta ia juga nggakn pernah mencatat selama pelajaran…."

"Seharusnya ia melanjutkan saja sekolah musiknya…. Otakknya terganggu ya….."

Ketiga teman sekelasku asik menggosipkan Le Fay, sementara diriku serta Sakura berada di dekat mereka. Aku berusaha untuk tidak memperdulikan mereka, dengan membaca buku. Namun, objek tentang Le Fay membuatku, tidak bisa konsentrasi, dan malah akhirnya mendengar sebagian percakapan mereka.

"Bagaimana menurutmu, Sakura-chan?"

Tiba-tiba mereka menanyakan pendapat Sakura tentang Le Fay.

"Eh- Aku? Emm yah, kurasa dia banyak masalah…. Aku sih tak peduli…."

"Kalian berdua akrab sekali. Jadian, ya?"

TIba-tiba saja salah satu diantara mereka malah menanyakan hal yang aneh itu! Dan itu membuatku dan juga Sakura menyemburkan saliva karena saking terkejutnya.

"Kamu pernah memakai pita Haruno-san, kan? Kayak pasangan deh."

Dan juga, Kazu yang orangnya lebih acuh tak acuh dari diriku, juga ikut-ikutan nimbrung. Sebuah kasus yang sangat langka.

"Bu…Bukan! Kamu hanya satu SMP, itu saja!"

Sakura gelagapan, mengelak perkataan teman-teman serta Kazu.

"Jangan iseng,nanti kalian terluka. Dia pegang ban hitam Judo waktu SMP, lho."

Akupun juga menangkis pernyaatan teman-temanku, serta menolong gelagapan-nya Sakura.

"Kyaa!~ Seraaam!~"

Dan akhirnya mereka berhenti untuk berbicara tentang kami.

"Pendragon-san langsung pergi begitu pelajaran selesai. Menurutmu, kemana ia pergi, Naru?"

"Hmm… Kenapa?"

"Hyuuga-san bilang…. Ah nggak jadi deh."

Aku tahu.

Aku tahu Le Fay pergi kemana.

Ke basecamp-ku.

Basecamp itu kutemukan ketika aku mulai menginjak tahun kedua belajar disini. Karena pintunya bisa dibuka dengan hanya memutar kenopnya sebesar 45 derajat.

Ruangan tersebut merupakan bekas ruang musik, dan aku memperbaiki semua perlatan rusak disana. Aku juga membawa bantal, CD musik, serta beberapa camilan untuk membunuh waktuku, bersantai disana.

Dan sekarang malah direbut oleh gadis sialan itu.

Aku tak peduli dengan gadis sialan itu atau siapapun, yang penting basecamp berhargaku ini bisa kembali.

"Kau mau apa, Stalker?"

Gadis sialan itu akhirnya tiba di depan basecamp-ku yang digembok olehnya. Aku sengaja berada di sana untuk menegaskan apa yang menjadi milikku.

"Ini adalah istanaku, dan amplifier yang kau gunakan juga miliku. Kau tahu nggak, berapa banyak usaha yang kucurahkan…"

"Aku sudah minta izin guru untuk menggunakan ruangan ini."

Gadis sialan itu langsung memotongnya, sambil ia melangkah tak peduli dan membuka gembok yang ia pasang di basecamp milikku.

"Waktu kusinggung soal ruangan ini, guru mengatakan ada yang memanfaatkan ruangan ini tanpa izin. Ini bukanlah ruangan untuk membunuh waktu ataupun mendengarakan CD."

"Jangan ngomong begitu. Manusia membunuh waktu luang sampai mati, kan?"

"Kalau begitu, kau mati saja."

Hei, itu kejam tahu! Apalagi kau mengatakannya dengan nada yang amat dingin itu!

"Teganya, aku punya pacar. Ia akan sedih kalau aku mati."

"Kau tidak punya pacar sekarang. Kau hanyalah seorang pria yang terus menerus mengunjungi makam seorang gadis dan tertunduk dalam tangisan, dasar kritikus music tak berguna."

Gadis itu memang brengsek! Menghina kenangan serta memori indah bersamanya, benar-benar brengsek!

"Kau tau apa tentang itu? Sekali lagi kau berkata begitu aku takkan segan-segan untuk memukul wajahmu, meskipun kau itu perempuan."

Gadis itu tak peduli, lantas mengambil sebuah majalah musik yang ada di meja.

"Ini punyamu kan? Mengoceh sesukanya pada wartawan, hanya mendengar permainan orang lain, menulis artikel sampah kalau tak sesuai dengan minatnya…. Sekedar mengisi halaman kosong…. Padahal dia sendiri tidak bisa main musik!"

Itukah yang ingin kausampaikan pada pendengarmu?

"Aku…. Aku bisa main gitar."

Sebenarnya aku juga cukup mahir dalam bermain harmonika serta saksofon.

"Oh…"

Ia tiba-tiba meraih gitarnya, memasang kabel headphone ke gitarnya, dan memakaikan headphonenya ke telingaku.

"Apa yang…."

"Diam saja."

Dan,

Le Fay mulai memainkan gitarnya.

ETUDE CHOPIN #12 REVOLUTION

Ia memainkannya dengan begitu luar biasa!

Ia terus memainkannya dengan penuh energi, hingga ia harus bernapas dengan cepat setelah tuntas memainkan lagu tersebut.

Dan itu membuatku melotot tak percaya.

"Setelah dengar permainanku ini, kau berani bilang bisa main gitar? Jangan ke sini lagi!"

Lantas ia mengusirku dari basecamp-ku yang telah direbut olehnya.

Apa-apaan ini…


Apa yang terjadi?

Kenapa dia beralih ke gitar?

Tetaplah main piano!

Kalau kau tetap main piano, orang-orang akan bilang, kau begitu pandai padahal kau masih muda….

"Rey Charles, Born to Lose. Lahir untuk jadi pecundang.Hanya itu lagu yang cocok untukmu."

Tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang warna suaranya sedikit lebih dewasa.

Seketika itu juga aku menoleh ke atas, dan disana nangkring seorang gadis berambut ungu panjang dengan iris mata abu-abu. Sepertinya ia membunuh waktu luangnya di atap gedung sekolah ini.

"Bukannya terlahir untuk kehilangan?"

Ia kemudian melompat turun

"Reaksimu cukup bagus. Aku jadi tenang. Kenapa kau tak ambil senjata? Saat ini, istanamu sedang diserang, kan?"

"Siapa kau?"

"Tadi aku dengar permainannya. Etude Chopin #12 Revolution! Revolution… Aku bisa dengar semua tentang lagu revolusi di seluruh dunia."

"Kau ini…"

"Dan aku tahu, kau juga bisa mendengarnya."

Ia kemudian mengambil keluar gitarnya yang tersimpan rapi di dalam wadahnya.

"Namaku Hyuuga Hinata. Selamat datang di klub Riset Folk Music."

To be continued


Answer The Guest! | Otvet Gostya!

i) narutonya mana ya? dan panjangin lagi. (ch1)

Sepertinya anda kurang memperhatikan, atau anda lagi ngantuk atau lagi bangun tidur saat membacanya. Dan, itu prolog. wajar word-nya pendek.

ii) Type your review here. Lanjut. (ch1)

Oke ini lanjut.

Answer The Readers! | Otvet Chitateley!

Kitsune857: Rencananya ada gadis lain selain Rias dan Sona dari seri sebelumnya yang berurusan dengan koimonogatari-nya Naruto. Dan terima kasih atas pujiannya :)

uzuna akira: Oke ini lanjut.

Bayu: Oke siap gan!

alayaben: Terima kasih dan tetap nantikan kelajutannya yaaa :)

LM77: Terima kasih telah menyukai cerita ini. :)

Yustinus224: Ya ini kelanjutan dari Yuremonogatari, fokusnya ke kisah cinta dan perjuangannya Naruto. Dan juga terima kasih atas pujiannya :)