Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru ||SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Apa itu bukan mimpi?"

.

.

.

Bab 2 [ Mimpi ]

Sinar matahari telah menyelinap masuk diantara celah gorden sebuah kamar yang di dimonasi oleh warna biru tersebut. Melihat lebih jauh kedalam, akan terlihat dua orang berbeda gender sedang terbuai di alam mimpi. Posisi mereka yang saling berdekatan membuat orang iri melihatnya. Lihat bagaimana Itachi merengkuh pinggang istrinya dengan sangat protektif. Sedangkan Naruto lebih memilih menyamankan diri di dalam rengkuhan suaminya –Itachi. Manisnya.

Drt drt drt

Itachi mengerang tidak suka. Mendengar suara ponsel bergetar adalah hal yang paling dia benci dipagi hari yang indah ini. Tidak bisakah Kisame berhenti mengganggu paginya. Dengan –sangat tidak rela Itachi menggapai ponselnya yang berada di atas nakas. Setelah meletakkan ponsel di telinga kanannya, Itachi kembali merengkuh pinggang Naruto.

"Hn. Aku tahu."

Sambungan terputus. Tapi Itachi tidak bisa kembali kealam mimpi. Kelopak matanya berlahan terbuka. Menampilkan sepasang manik berwarna hitam kelam yang mempesona. Sedikit menyipit saat cahaya yang bergerombol masuk kedalam retinanya. Setelah terbiasa, dia memandang kearah Naruto yang masih terlelap dialam mimpinya. Wajahnya terlihat polos, seperti anak kecil yang tidak mengenal dosa. Kalau saja dia bisa, ingin sekali Itachi merengkuhnya dalam keadaan sadar. Menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya. Berbincang-bincang tentang berbagai topic menyenangkan. Tapi Itachi sadar, itu semua tidak mungkin. Hanya sebatas khayalan yang menyiksanya setiap kali Itachi mengingatnya.

Cup

Lagi, Itachi mencium bibir Naruto dengan lembut. Mencium, bukan hanya sekedar kecupan seperti kemarin. Merasa Naruto tidak terpengaruh atas tindakannya, Itachi kemudian memberanikan diri untuk melumat bibir Naruto dengan lembut. Manis. Seperti sebuah candu. Itachi tidak lagi melumat bibir Naruto dengan lembut, dia mulai membuka bibir Naruto secara paksa. Membuat lidahnya dapat mengabsen barisan gigi Naruto yang rapi.

"Nn ~"

Suara desahan Naruto membuat kewarasan Itachi hilang tak berbekas. Itachi sekarang mulai merangkak naik keatas tubuh Naruto, tanpa melepaskan ciumannya. Kedua tangannya ditahan disamping tubuh Naruto, mencegah agar dirinya tidak terlalu menimpa si pirang. Ciuman Itachi beralih ke leher, dia menghirup aroma citrus dari Naruto, aroma yang aneh. Lebih aneh lagi ketika Itachi sadar bahwa dia tidak membencinya. Justru menyukainya, sangat.

"Uhm."

Naruto kembali mendesah saat Itachi memberikan tanda kepemilikan disana. Itachi melihat hasil karyanya diatas kulit leher Naruto. Membuatnya senang, dan ingin menambah tanda itu, lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali Naruto harus mendesah di dalam tidurnya, saat Itachi menandainya di leher hingga tulang selangka miliknya yang menonjol. Kancing piyama Naruto bagian atas terlepas, akibat dari tangan Itachi yang tergesa membukanya. Lalu pria tampan itu menenggelamkan wajahnya di pertengahan dua payudara Naruto yang terekspos, hanya ditutupi bra berwarna orange terang dengan motif bunga-bunga musim panas.

Hangat.

Saat tangannya hendak menyentuh salah satu payudara Naruto, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Itachi terdiam. Dia mengangkat kepalanya. Mencoba mencerna apa yang sedang dilakukannya. Sepasang onyxnya membola. Melihat bagaimana berantakannya keadaan Naruto dibawahnya. Bibir plum Naruto terbuka. Jejak saliva terlihat jelas di bawah bibirnya, turun menuju dagu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Hembusan nafas tidak beraturan. Kondisi piyama yang jauh dari kata pantas, hampir semua kancingnya terbuka, menampilkan tubuh seksi Naruto yang hanya di tutupi pakaian dalam khas wanita –bra. Itachi menggelengkan kepalanya, seperti orang bodoh. Menyangkal apa yang sudah di lakukannya.

Dengan terburu dia turun dari tubuh Naruto, mengambil ponselnya yang masih bergetar. Menggeser layar kemudian meletakkan ponsel itu di telinga.

"Baiklah, aku akan segera berangkat."

Tut

Itachi memutuskan panggilan begitu saja. Kepalanya terasa berdenyut. Kembali dia melirik kondisi Naruto.

Hah…..

Itachi berjalan mendekat. Membenahi apa yang baru saja dilakukannya. Mengkancingkan piyama Naruto. Serta menghapus bekas saliva yang berada di bawah bibir Naruto. Dia adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya lepas kendali. Walaupun Itachi sudah bersusah payah menahan diri.

Itachi mencium kening Naruto lama, sebelum akhirnya Itachi pergi keluar dari kamar. Sebenarnya Itachi heran, kenapa Naruto tidak juga terbangun dari tidurnya. Dia itu tidur atau kehilangan kesadaran.

Khe

Itachi mencibir pemikirannya sendiri. Satu masalah yang harus dia selesaikan sekarang. Melihat bagian bawah tubuhnya, rasanya sesak dan sangat tidak nyaman. Sepertinya dia akan sedikit lebih lama dikamar mandi untuk menenangkan adik kecilnya.

"Ck, sial."

.

.

.

.

Pagi yang cerah –ralat, matahari sudah berada hampir diatas kepala. Tidak bisa dikatakan pagi. Bahkan waktu sudah mendekati siang. Tapi lihat apa yang ada di balik selimut tebal itu. Seorang wanita bersurai pirang berantakan, dia masih setia menyembunyikan tubuh mungilnya di balik selimut. Sesekali dia mengubah posisi karena tidak nyaman dengan banyaknya cahaya yang masuk ke kamarnya. Dia berguling-guling seperti cacing kepanasan. Tubuhnya sudah terbungkus selimut tebal. Ingin mengembari kepompong raksasa yang sebentar lagi akan berubah menjadi kupu-kupu.

"Uh, siapa yang membuka gorden sih ?"

Gumamnya dengan suara serak. Tidak ada sahutan, kelopak matanya mulai terbuka, menampilkan sepasang sapphire yang sewarna dengan langit musim panas.

Snif snif

Dia mencium sesuatu. Uh, wajahnya langsung memerah saat tahu bahwa sekarang dia berada diatas bantal yang biasa digunakan Itachi. Aroma kayu manis menerobos masuk kedalam indra pembaunya. Tiba-tiba saja dia langsung menegang, mengingat mimpinya yang membuatnya merasa menjadi perempuan mesum. Bagaimana bisa dia memimpikan hal seperti itu, belum lagi mimpinya terasa nyata. Dia semakin meruntuki diri saat tahu bahwa bagian bawahnya terasa lengket.

"Huaaaa ini memalukan !"

Teriaknya histeris sambil menyembunyikan kepalanya di bantal Itachi. Sungguh dia malu sekali sekarang. Cukup lama Naruto dalam posisinya. Tengkurap diatas kasur –di bagian Itachi. Selintas dia teringat pekerjaan rumahnya yang sedang menunggu. Ah dia lupa, harusnya dia bangun lebih pagi. Menyiapkan sarapan untuk Itachi, tapi apa yang menjadi kenyataannya. Dia bangun lebih lama dari sang suami yang dia yakin sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Istri macam apa dia ini.

Naruto meremas jantungnya yang terasa nyeri. Takut jika Itachi kelak akan merasa dia bukanlah istri yang baik. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Naruto segera turun dari kasur. Menata setiap inchi kasur, memastikan tidak ada satupun lipatan yang tertinggal. Setelah yakin bahwa kasurnya rapi. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dilepaskannya semua pakaiannya, menggantinya dengan jubah mandi berwarna orange. Salah satu kebiasaan Naruto adalah melihat tubuhnya sendiri di depan cermin kamar mandi. Melihat bagaimana kondisi tubuhnya, karena memang sejak kecil Naruto memiliki kebiasaan aneh untuk berjalan sendiri ketika tidur. Sering dia terbangun di tempat yang tidak seharusnya, seperti dapur dan ruang keluarga. Tidak jarang tubuhnya terkena luka karena menabrak dinding atau terkena pinggiran kaca meja. Memang sekarang kebiasaan tidur berjalannya sudah mulai menghilang. Tapi dia tetap melakukan kebiasaannya untuk bercermin, memeriksa setiap inchi tubuhnya. Sapphirenya menyipit saat melihat banyak sekali bercak kemerahan menghiasi kulit leher dan juga tulang selangkanya. Entah kenapa dia terbayang mimpinya lagi, saat dimana Itachi memberikannya kissmark. Uh, wajahnya kembali tidak mungkin ini adalah tanda kepemilikan bukan, hei dia hanya bermimpi, bukan sebuah kenyataan.

"Tidak sakit."

Tangan Naruto menyentuh bercak kemerahan tersebut. Aneh, jujur Naruto tidak yakin apa yang menyebabkan bercak –mirip kissmark itu bisa ada di kulit lehernya. Dia sama sekali tidak mengerti.

"Apa itu bukan mimpi ?"

Blush

Lagi-lagi wajah Naruto bersemu hebat. Naruto menggeleng kuat, tidak itu pasti hanya mimpi tidak mungkin sebuah kenyataan. Mengingat bagaimana sikap Itachi yang sekarang. Itachi bukan lagi Itachi yang dulu dikenalnya. Dulu Itachi sangat ramah, dia selalu membantu Naruto jika Naruto kesusahan, selalu mentraktirnya ramen dan mendengarkan semua celotehan tidak pentingnya. Tapi Itachi sekarang berbeda, dia lebih dingin. Itachi juga jarang berbicara dengannya, waktunya lebih banyak habis di kantor. Pria tampan itu hanya akan pulang diatas jam dua belas malam lalu berangkat pagi-pagi buta. Seolah memang sengaja menghindarinya.

"Apa yang aku pikirkan !"

Runtuk Naruto ketika sadar dia sedang merenungi perubahan sikap Itachi. Apa yang terjadi sebenarnya, dia sama sekali tidak mengerti.

.

.

.

.

.

Selesai mandi, Naruto langsung memasak untuk bekal makan siang Itachi. Beruntung dia terbangun pukul sepuluh lebih lima belas menit, jadi dia bisa menyempatkan untuk membuatkan Itachi makan siang. Setelah selesai membungkusnya di dalam kotak makan, Naruto segera mengganti baju dan pergi ke kantor suaminya. Naruto menggunakan mobil berwarna orange mencolok hasil modifikasi Kurama atau yang biasa dia panggil dengan sebutan Kyuubi-niichan, kakak kandung dari Uchiha Naruto yang tidak pernah menyambangi rumah sejak memutuskan hijrah ke negeri orang. Mobil itu adalah hadiah pernikahan yang diberikan Kurama untuknya. Berlebihan, tapi mengingat Kurama yang memberinya. Naruto tidak akan bisa menolak, perkataan Kurama adalah mutlak, sepeti salah satu tokoh di fandom sebelah.

Setelah memarkirkan mobil di parkiran bawah tanah, Naruto lalu berjalan menuju lift. Butuh sekitar lima menit Naruto harus menunggu hingga akhirnya pintu lift terbuka. Tanpa pikir panjang, Naruto masuk ke dalam dan memencet angka 14. Lantai dimana ruangan suaminya berada.

'Ting'

Pintu lift terbuka, pandangan Naruto tertuju pada seorang laki-laki yang berwajah aneh, karena kulitnya berwarna biru dan wajahnya mirip hiu. Uhm, kalau tidak salah namanya Kisame, sekretaris pribadi Itachi.

"Mengantar makan siang lagi ?"

Pertanyaan itu keluar dari bibir Kisame saat dia sudah berdiri disamping Naruto. Dan pintu lift kembali tertutup.

"Uhm. Aku pikir tidak baik makan makanan di luar."

Kisame terkekeh, dia memandang takjub pada sosok Naruto yang menurutnya sangat polos.

"Itachi beruntung bisa memiliki istri sepertimu."

Blush

Aish, sudah berapa kali Naruto bersemu hari ini.

"Wajahmu memerah, lucu sekali."

Kisame tertawa lepas. Menggoda Naruto memang salah satu hiburan tersendiri untuknya.

"Ki –"

'Ting'

Naruto menelan lagi ucapannya, saat pintu lift kembali terbuka, dan layar di dalam lift sudah menujukkan angka 14.

"Ayo, Itachi pasti sudah kelaparan."

Huft.

Naruto mengikuti Kisame yang keluar lebih dulu darinya. Sekretaris Itachi itu selalu saja menggodanya. Menyebalkan.

"Ah iya, aku ada sedikit urusan. Kamu bisa langsung ke ruangan suamimu. Nyonya Uchiha."

Ah, Naruto memang harus selalu bersabar jika berhadapan dengan Kisame. Setelah Kisame menghilang entah kemana, Naruto berjalan menuju sebuah ruangan yang dihafalnya di luar kepala.

"Apa kamu membenciku?"

Tangan Naruto yang akan membuka pintu terhenti saat mendengar suara Itachi dari dalam. Dia mengurungkan niatnya. Jadi Naruto hanya berdiri mematung di depan pintu. Perasaannya tidak enak, akan ada hal buruk yang terjadi.

"Maaf, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya."

Tidak ada sahutan, hanya terdengar suara Itachi yang masih bermonolog. Naruto penasaran dengan siapa Itachi berbicara sekarang.

"Katakan sesuatu. Aku lebih suka kamu memakiku bahkan memukulku sampai aku masuk rumah sakit juga aku terima. Tapi tolong, katakan sesuatu."

Tetap tidak ada sahutan. Naruto heran, baru kali ini dia mendengar nada bicara Itachi yang terdengar memohon dan putus asa.

"Aku berjanji untuk tidak akan melakukan 'itu' padanya apa kamu percaya?"

Kening Naruto berkerut, dia tidak paham kemana arah pembicaraan Itachi sebenarnya.

"Kalau aku melakukannya, aku akan pergi."

Suara langkah kaki mendekati pintu membuat Naruto panik. Dia segera berjalan menjauh, berpura-pura melihat hiasan di dinding kantor.

'Kriet'

Kepala Naruto menoleh kebelakang, dia melihat seorang laki-laki bersurai raven dengan model aneh, menantang gravitasi. Wajahnya hampir mirip dengan Itachi namun dalam versi remaja. Dia juga tampan, tapi lebih tampan Itachi. Naruto kenal dia. Sasuke, Uchiha Sasuke. Adik kandung Itachi, banyak rumor yang beredar bahwa Sasuke itu bisu, tapi Naruto tidak tahu kebenarannya. Hanya memang selama ini, dia tidak pernah sekalipun mendengar adik iparnya itu mengeluarkan suara. Entahlah.

Saat Sasuke sudah masuk ke dalan lift, Naruto bergegas masuk ke ruangan Itachi. Langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Membuat Itachi terperanjat kaget karenanya. Beruntung Naruto tidak melihat aksi konyol Itachi saat terkejut.

"Aku membawakan makan siang."

Ucap Naruto dengan nada ceria. Dia langsung menata bekal yang dibawanya diatas meja untuk menerima tamu.

"Kamu harus makan, lihat badanmu semakin kurus."

Itachi tidak memperdulikannya, dia masih asik membaca berkas penting perusahaan. Itachi hanya bergumam 'hn'ambigu yang membuat Naruto mengerucutkan bibirnya, kesal. Si pirang berjalan kearah meja kerja Itachi, tanpa memperdulikan sopan santun, Naruto langsung duduk di meja Itachi. Tepat diatas berkas yang tadi dibaca suaminya.

Itachi terkejut, tentu saja. Melihat Naruto yang duduk dihadapannya, diatas meja kerjanya. Dengan wajah mengerucut kesal. Ah, kenapa dia harus memasang wajah seperti itu. Tidak tahukah si pirang bahwa Itachi sedang menahan diri. Kenapa dia suka sekali menguras habis kewarasannya.

"Aku tidak akan turun sebelum kamu memakan makan siangmu."

Kata Naruto dengan nada –berpura-pura tegas. Itachi tidak menyahut, tatapan matanya masih terpaku pada sosok dihadapannya. Pikirannya mendadak blank. Tanpa sadar, Itachi menarik tengkuk Naruto agar wajah mereka saling berhadapan dengan jarak dekat.

Cup

Sapphire Naruto membola, Itachi tiba-tiba saja menciumnya. Bukan hanya menempelkan bibirnya saja, Itachi kini sudah melumat habis bibirnya, lidahnya berhasil menerobos masuk kedalam rongga mulutnya, mengajaknya lidahnya berdansa. Naruto hanya bisa mengikuti, matanya terpejam dengan kedua tangannya sudah berada di belakang leher Itachi. Tangan Itachi semakin menekan tengkuk Naruto. Memperdalam ciuman mereka.

"Uhm...It-Itachi-senpai ~"

Hening.

Itachi terdiam. Dia membuka matanya. Sial, dia kelepasan. Tidak lama Naruto juga membuka matanya, bingung kenapa tiba-tiba Itachi terdiam. Segera saja Itachi melepaskan ciumannya, menimbulkan benang saliva dari keduanya. Itachi bergerak gusar di kursi kerjanya, sedangkan Naruto hanya bisa menunduk malu.

"A-Aku akan memakannya."

Itachi meruntuki kegagapannya. Memalukan.

"Eh?"

Naruto mendongak.

"Makan siang yang kamu bawa. Aku akan memakannya."

Tanpa menunggu respon dari sang istri. Itachi buru-buru berdiri dan melangkah menuju meja penerima tamu yang sudah terhidang berbagai macam makanan. Naruto tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Itachi menciumnya. Bukan berati Naruto tidak suka, justru dia senang, sangat. Tapi dia masih bingung, apa yang disembunyikan Itachi sebenarnya. Sayang Naruto sama sekali tidak ada pentunjuk untuk menjawab pertanyaannya. Seberapa keras Naruto berpikir, dia masih tetap tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti.

.

.

.

.

Tbc