Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Dia tidak akan aman jika bersamaku. Kau tahu itu."

.

.

.

Bab 3 [ Sebuah Alasan ]

"Huaaaaaa aku kesiangan !"

Suara teriakan cempreng seorang perempuan bersurai pirang membuat banyak pasang mata yang menandang aneh kearahnya. Kenapa perempuan itu, bukankah upacara penerimaan siswa baru akan dilaksanakan setengah jam lagi.

Sret

"Ugyaaaa lepaskan aku !"

Si pirang meronta saat seorang laki-laki berwajah tampan menarik tasnya, membuat langkahnya terhenti. Perempuan itu panik dan mencoba menggapai udara kosong. Meminta di lepaskan.

"Suaramu itu terdengar sampai lantai dua loh."

Suara berat itu membuat si pirang terdiam. Diam seperti patung, matanya membola kaget, bibirnya terbuka seperti ikan koi. Lihat, betapa bodoh wajahnya saat ini.

"Sudah tenang eh ?"

Si pirang menoleh kebelakang, melihat sosok yang selama ini berhasil merebut seluruh perhatiannya. Uh, malunya. Seseorang tolong tenggelamkan dia di lubang hitam sekarang juga.

"Itachi-senpai ?"

Laki-laki itu hanya tersenyum saat si pirang menyebutkan namanya. Uh, lihat wajahnya yang terlalu imut itu. Itachi gemas melihatnya, ingin sekali dia mencubit kedua garis mirip kumis kucing di kedua pipinya.

"Auch i-ittei akwu twidak bwisa bwicwara."

Itachi terkikik geli melihat raut wajah merajuk kouhainya tersebut. Setelah dia melepaskan cubitan halus –kerasnya, si pirang langsung mengomel sendiri sambil mengerucutkan bibirnya. Lucunya.

"Naruto, kamu pikir ini sudah jam berapa hm ?"

Naruto –nama si pirang hanya nyengir kuda. Rambutnya terlihat kusut. Tergerai begitu saja. Tidak terikat dua seperti biasanya. Apa mungkin Naruto sengaja mengumbar kecantikannya dengan menggerai surai pirang keemasan miliknya. Itachi langsung mendelik tajam saat melihat banyak siswa yang melirik kagum kearah Naruto.

"Kenapa rambutmu tidak diikat ?"

Naruto memegang rambutnya yang tergerai bebas. Seketika itu juga dia berteriak histeris. Astaga kenapa dia bisa lupa mengikat rambutnya pagi ini.

"Hyaaaa, aku lupa. Bagaimana ini senpai ?"

Itachi menggelengkan kepalanya. Heran melihat kelakuan Naruto yang selalu heboh sendiri. Tapi itulah yang membuatnya menjadi unik, lain daripada yang lain.

'Sret'

Tanpa mengatakan apapun, Itachi mengikat rambut Naruto dengan model ponytail. Naruto hanya diam membatu, dengan jarak sedekat ini dia bisa mencium aroma kayu manis khas Itachi. Bayangkan saja, sekarang Itachi sedang mengikat rambut Naruto dari depan. Tentu saja itu mudah, mengingat tinggi si pirang yang bahkan tidak sampai sebahunya. Hanya saja, hal tersebut membuat tubuh mereka sedikit –sangat merapat.

"Jangan pernah menggerai rambutmu di sekolah lagi."

Naruto mengangguk kaku. Detak jantungnya masih berdetak tak beraturan. Apa ini nyata. Kalau memang ini mimpi, Naruto harap dia tidak akan terbangun selamanya. Mimpi yang terlalu indah untuk disebut mimpi.

"Masuklah, Iruka-sensei sudah mencarimu sejak setengah jam yang lalu."

Seakan diingatkan, Naruto langsung saja berlari masuk ke aula sekolah, mencari keberadaan sensei yang selama ini selalu saja menceramahinya dan memberikannya tugas yang bahkan tidak terhitung dengan jari. Walaupun begitu Naruto tahu, Iruka-sensei adalah orang yang baik, buktinya walaupun dia sering memberikan tugas pada Naruto, dia juga akan membantu Naruto untuk menyelesaikan tugasnya. Tentu saja itu dilakukannya diluar jam pelajaran.

"Naruto."

Si pirang langsung kicep. Dia berdiri kaku di tengah koridor saat suara Iruka-sensei menyapa gendang telinganya.

"Hehe gomen ne sensei, saya ketiduran."

Iruka-sensei menggeleng pasrah, murid pirang kesayangannya ini memang hobi sekali melanggar aturan. Dia terlalu bebas dan bertindak dengan sesuka hatinya.

"Kapan kamu tidak ketiduran? Lain kali berikan alasan yang lebih relevan."

Naruto mengangguk tanpa berniat mengeluarkan suara cemprengnya. Kepalanya menunduk. Tidak berani berhadapan dengan Iruka yang dia yakin sedang dalam mode marah. Iruka mengacak pucuk rambut Naruto dengan lembut.

"Kapan kamu bisa dewasa, berhentilah bermain-main Naruto."

Lagi-lagi Naruto hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berniat menjawab. Kalau seperti ini, Iruka tidak akan tega melanjutkan omelannya. Melihat bagaimana Naruto menunduk dengan penuh penyesalan seperti itu, membuat Iruka mengurungkan niatnya untuk menceramahi Naruto.

"Sekarang cepat masuk, acara akan dimulai sebentar lagi."

Naruto mengangguk sekilas, lalu berlajalan menjauh meninggalkan Iruka. Masuk kedalam aula.

.

.

.

.

Upacara penerimaan siswa baru berlangsung hikmad. Para peserta didik duduk dengan rapi berdasarkan nomor urut absen mereka. Nomor absen tersebut didapat berdasarkan urutan nilai ujian masuk mereka. Di urutan pertama duduk seorang laki-laki bersurai raven dengan model melawan gravitasi. Kulitnya putih bersih. Wajahnya tampan, sangat tampan. Senyuman itu juga tidak pernah pudar dari wajah tampannya.

"Baiklah, sekarang kami akan menampilkan penampilan dari ekstrakulikuler musik. Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Namikaze Naruto dari kelas VIII-C."

Suara riuh tepuk tangan menggema di aula sekolah tersebut. Bersamaan dengan munculnya sosok perempuan bersurai pirang yang berjalan memasuki panggung. Rambutnya yang panjang diikat ponytail –hasil karna Itachi. Wajahnya terlihat ceria dengan aura moe di sekelilingnya.

Naruto mulai meletakkan biola yang di bawanya di jepitan bahu kiri dan dagunya. Dia tersenyum kearah penonton dan mulai menutup matanya. Tangan kanannya mulai menggesek biola tersebut, sementara tangan kirinya mengatur kunci biola yang dihafalnya diluar kepala. Gesekan pertama terdengar lembut, sekaligus menyayat. Membuat pendengarnya berdebar tidak karuan, seolah merasakan kesakitan yang di bawakan Naruto melalui gesekan biolanya.

Dari seluruh pendengar, si raven yang duduk di urutan bangku pertama, memadang kagum pada sosok Naruto. Dia bahkan tidak berkedip serta menahan nafas untuk beberapa saat. Dadanya berdesir menyenangkan. Jujur, dia tidak pernah merasakan perasaan ini. Perasaan yang asing, namun dia menyukainya.

Semakin lama, gesekan biola Naruto semakin cepat. Menggambarkan semangat yang membara. Si pirang juga menyunggingkan senyuman tipis saat memainkan tempo cepat tersebut. Ini adalah bagian yang sangat dia sukai. Seluruh yang berada di aula terdiam. Menikmati teknik Naruto dalam menggesek biolanya. Seakan menyampaikan perasaannya disetiap gesekan biola tersebut. Saat gesekan terakhir, Naruto membuka matanya. Menampilkan sepasang sapphire yang bersinar diterpa cahaya lampu.

Suara riuh tepuk tangan menyambangi gendang telinganya. Senyumannya semakin lebar, menampilkan barisan giginya yang rata.

"Maksud dari irama yang saya bawakan tadi adalah sesusah apapun kalian mengalami masalah, jangan mudah menyerah. Pasti ada jalan jika kita berusaha. Tidak ada dinding pembatas, itu hanya sugesti kita. Kalau kita memang ingin sukses kita harus berani menghancurkan dinding yang kita bangun sendiri. You have infinite ways to catch your dreams, and make them true. Saya Namikaze Naruto, mengucapkan selamat bagi kalian yang berhasil masuk ke sekolah ini. Ini bukanlah akhir tujuan kalian, tapi ini awal untuk kalian menemukan jati diri kalian."

Naruto membungkuk sembilan puluh derajat. Cukup lama, hingga suara seseorang bertepuk tangan membuat si pirang mendongak, disana dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Itachi-senpai sedang tersenyum sambil memberikan standing applause untuknya. Diikuti siswa baru lainyya yang juga melakukan hal yang sama dengan si surai raven. Disudut aula, Itachi memandang takjub pada Naruto. Walaupun terkesan urakan, tapi dia tetap seorang yang penuh kejutan. Siapa sangka dia akan memberikan pidato singkat namun bermakna di akhir penampilannya. Pandangannya beralih pada sosok raven yang masih memandang kearah Naruto. Entah kenapa dia merasakan firasat yang buruk mengenai ini.

"Chi...Itachi."

Spontan Itachi menoleh. Dia melihat Kisame yang baru saja menepuk pundaknya. Bisa dilihat dengan jelas bahwa Kisame sedang memandang kesal kearahnya.

"Kupanggil dari tadi tidak menyahut."

Itachi hanya tersenyum kaku. Kisame memutar matanya bosan. Si sulung Uchiha dihadapannya ini memang selalu begitu jika sudah berurusan dengan Naruto.

"Kenapa kau tidak langsung menembaknya ? Sepertinya dia juga menyukaimu."

Itachi menggeleng.

"Dia tidak akan aman jika tahu itu."

Kisame menghela nafas. Kesal dengan sikap pengecut Itachi yang semakin lama semakin menyiksa dirinya sendiri. Atau mungkin menyikasa keduanya –Itachi dan Naruto.

"Kurasa 'mereka' tidak akan berani lagi mengganggumu."

Itachi tidak langsung menjawab. Dia sendiri ragu dengan apa yang dikatakan oleh Kisame.

"Tapi bukan tidak mungkin 'mereka' akan mengincar orang terdekatku. Aku tidak mau kehilangan orang terdekatku lagi."

Kisame menepuk pundak Itachi. Mencoba menguatkan. Dia tahu, 'mereka' yang dimaksudnya itu tidak akan jera begitu saja. Diam-diam mereka pasti akan muncul lagi dan mengacaukan hidup si sulung Uchiha.

"Kalau 'mereka' berani mengusikmu, aku pasti akan membantumu."

Tidak ada jawaban dari Itachi. Diam-diam seseorang yang berdiri di kursi paling belakang menyeringai saat secara sengaja menguping pembicaraan Itachi dan Kisame.

"I got you Uchiha."

.

.

.

Tbc