Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
"Aku menemukan ini di depan pintu."
.
.
.
Bab 4 [ Dari Uchiha Naruto untuk Uchiha Itachi ]
Suasana hening melingkupi ruang kerja Itachi. Naruto masih duduk diatas meja kerja Itachi. Pikirannya melayang kemana-mana. Termasuk pada kenangan indahnya bersama Itachi saat masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Dulu Itachi sangat hangat dan menyenangkan. Dia berhasil menarik perhatian Naruto. Membuatnya menjadi salah satu poros untuk si pirang memutarinya. Dulu dia juga sangat bergantung pada Itachi. Tapi itu hanya kenangan masa lalu. Karena kenyataannya Itachi tidak lagi sama seperti dulu. Setelah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Otto, komukasi mereka terputus begitu saja.
"Naruto. Sampai kapan kau akan duduk dimeja kerjaku ?"
Seperti tersadar. Naruto buru-buru turun, namun sayang tanpa sengaja Naruto menyenggol gelas kopi Itachi hingga terdengar suara kaca pecah nyaring. Naruto memekik kaget, dia menatap apa yang sudah di perbuatnya
dengan pandangan menyesal. Sial, kenapa dia tidak berhati-hati.
"A-Aku akan membersihkannya."
Hampir saja Naruto akan membereskan pecahan kaca itu, tangan Itachi sudah lebih dulu mencegahnya. Tanpa di duga, Itachi kini duduk berjongkok di hadapan Naruto, tangannya dengan hati-hati memunguti pecahan kaca yang ada. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, dia berjalan menuju tempat sampah dan membuang pecahan kaca itu disana. Naruto memperhatikan gerak-gerik Itachi. Diam-diam dia tersenyum melihat perhatian Itachi padanya. Namun kedua matanya membola kaget saat melihat darah segar merembes dari sela-sela jari Itachi.
"Astaga, Tanganmu berdarah."
Naruto panik. Niatan ingin melihat kondisi tangan Itachi, malah dia kini jatuh terpeleset air kopi yang ditumpahkannya.
"Kyaaa !"
Naruto berteriak sambil menutup matanya, dia sudah bersiap dengan dinginnya lantai yang sebentar lagi akan menyambutnya. Namun itu tidak terjadi. Permukaan lantai yang dingin itu tidak pernah menyapa tubuhnya. Perlahan Naruto membuka matanya, dia mengerjap berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah halusinasi.
"I-"
Suaranya tercekat. Dia kini lupa bagaimana caranya bernafas. Melihat wajah Itachi sedekat ini dan juga dengan posisi seintim ini sangat lama dia impikan –eh. Posisi mereka saat ini adalah Itachi yang berada di bawah, sedangkan Naruto berada diatasnya. Bahkan wajah mereka saling berdekatan. Naruto mengalungkan tangannya di leher Itachi, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya. Itachi tidak melakukan apapun. Dia hanya terdiam seperti patung. Semakin dekat jarak wajah mereka, bibir mereka hampir bersentuhan dan –
"Naru-chan apa kau su-"
Ketiga orang di ruangan itu terdiam. Naruto dan Itachi menoleh kearah pintu. Dimana disana berdiri seorang pria berwajah aneh dengan tampang melongo.
"Ups sepertinya aku masuk di waktu yang salah."
Kata pria yang ternyata Kisame itu dengan pandangan penuh arti.
"Ada perlu apa ?"
Tanya Itachi tanpa mengubah posisinya. Masih berbaring di bawah istri pirangnya.
"Bukan urusan penting. Kalian lanjutkan saja 'kegiatan' kalian. Aku permisi."
Kisame mengedipkan sebelah matanya kearah mereka berdua, bermaksud menggoda. Benar saja, Naruto malu sekali. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Ugh, memalukan."
Itachi mengerutkan keningnya.
"Kau mengatakan sesuatu ?"
Naruto menggeleng. Tidak merubah posisinya. Tangan Itachi terangkat untuk memeluk pinggang ramping Naruto yang berada diatasnya. Membuat Naruto menegang, dia merasa seperti dialiri listrik saat tangan besar Itachi merengkuhnya dengan protektif seperti ini.
"Ita-"
Naruto tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika Itachi dengan tanpa permisi menciumnya. Pria yang berstatus suaminya kini juga telah melumat bibirnya dengan lembut. Membuat Naruto menggeliat senang. Tangan kanan Itachi berjalan naik, membelai punggung Naruto dengan lembut hingga akhirnya berhenti di tengkuk Naruto. Itachi menarik tengkuk Naruto untuk memperdalam ciuman mereka.
"Uhm ~"
Seperti kehilangan kendali atas dirinya, kini tangan kiri Itachi meremas pinggang Naruto dengan menuntut. Membuat desahan Naruto mengalun seperti sebuah candu untuk si sulung Uchiha.
"Aku menginginkanmu."
Suara serak Naruto di telinga Itachi membuat seluruh pergerakan Itachi terhenti. Seperti baru saja sadar dari hal yang menurutnya salah. Itachi segera menyuruh agar Naruto menyingkir dari atasnya.
"K-kenapa ?"
Tanya Naruto tidak mengerti. Dia memandang Itachi dengan pandangan menuntut. Naruto sama sekali tidak berniat untuk memperbaiki bajunya yang sedikit kusut akibat 'kegiatan' tanggung yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu.
"Karena ini salah. Aku tidak bisa Naruto."
Wajah Naruto memerah. Marah dengan jawaban Itachi yang tidak masuk akal menurutnya. Hei, demi apa mereka bukan lagi remaja tanggung. Mereka sudah dewasa, terlebih lagi mereka sudah resmi menjadi suami istri. Jadi dari segi apa Itachi mengatakam dia tidak bisa melakukannya. Naruto sama sekali tidak mengerti.
"Apanya yang salah? Kita sudah menikah, wajar jika kau menanamkan spermamu di rahimku!"
Itachi terkejut mendengar kalimat Naruto yang terdengar blak-blakan. Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu.
"Kau tidak mengerti."
Naruto mendecih tidak suka. Tidak mengerti dia bilang. Hah yang benar saja.
"Apa yang tidak aku mengerti? Apa mungkin kau impoten? Katakan dengan jelas, apa yang tidak aku mengerti."
Itachi menatap horror kearah Naruto. Ya ampun, apakah si pirang ini tidak menfilter ucapannya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal segamblang itu dihadapan seorang pria.
"Aku tidak seperti 'itu'. Aku normal, aku bisa saja melakukannya sampai kau tidak bisa berjalan selama dua hari jika kau mau !"
Shit
Kenapa dia juga ikut-ikutan terpancing. Lagipula pria mana yang sudi dituduh impoten oleh seorang perempuan. Lebih parahnya, perempuan itu adalah istrinya sendiri.
"Kalau kubilang mau, apa kau benar-benar akan melakukannya ?"
Astaga perempuan pirang itu keras kepala sekali. Dia bahkan mengatakan hal tersebut tanpa malu sedikitpun.
"Jangan memancingku Naruto."
Itachi memijit kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Tidak pernah dia melihat Naruto bertingkah seperti ini.
"Kau dulu yang mengatakannya. Aku tidak peduli jika juniormu memasuki lubangku setiap malam. Itupun jika kau benar-benar normal dan tidak impoten."
Itachi menjambak rambutnya rambutnya frustasi.
"Aku tidak impoten!"
Hening
Suara bentakan Itachi membuat Naruto membatu. Begitu juga dengan seorang tamu tak diundang yang kini hanya bisa melongo di ambang pintu. Dibelakang tamu itu banyak pasang mata yang mengintip diam-diam. Seakan tersadar, tamu tersebut langsung menutup pintu tersebut hingga menimbulkan suara debaman yang cukup untuk membuat kedua orang yang sedang bertengkar itu menoleh kearahnya.
"Bisakah kalian tidak bicara sevulgar itu ?"
Naruto tertunduk malu. Wajahnya memerah hingga mencapai daun telinga. Sedangkan Itachi juga mengalihkan pandangannya, menyembunyikan semburat kemerahan yang dengan nistanya merambat di wajah tampannya. Kisame, sang tamu yang lagi-lagi tidak diundang tidak bisa untuk tidak tertawa. Awalnya memang dia hanya terkekeh geli. Namun lama kelamaan tawanya semakin lepas, hingga dia terduduk sambil memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.
"Itu tidak lucu!"
Bentak Itachi dan Naruto serentak. Kisame terdiam sebentar sebelum dia kembali tertawa nista. Menertawakan dua orang yang menurutnya lebih lucu dari komedian di televisi.
"Buahahaha kalian haha serasi sekali."
Naruto melotot kearah Itachi, begitupun sebaliknya. Mereka saling menatap dengan intens sebelum akhirnya suara mereka kembali keluar secara bersama-sama.
"Dia itu impoten tidak mungkin aku serasi dengannya."
"Dia itu vulgar tidak mungkin aku serasi dengannya."
Hening
"Kau bilang apa tadi ?"
Seru mereka berdua bersamaan –lagi. Kisame hanya bisa geleng-geleng, dia sudah tidak kuat lagi untuk tertawa.
"Sudahlah dan bisakah kalian tidak berteriak. Kalian ingin seluruh karyawan tahu kalau kalian itu bertengkar ?"
Dan berbicara tidak senonoh. Lanjut Kisame dalam hati. Semenjak kejadian 'itu', baru kali ini Kisame melihat Itachi kembali mengeluarkan ekspresinya. Seperti dia 'hidup' lagi dari 'kematian'nya. Kisame sepertinya harus mengucapkan terimakasih pada Naruto. Mungkin kapan-kapan dia akan mentraktirnya ramen. Haha, perempuan itu pasti tidak akan menolak.
"Hentikan seringaimu Kisame."
Kisame tersadar, dia hanya tertawa garing. Ah, kenapa ekspresi dingin Itachi kembali lagi. Tiba-tiba Kisame mendapatkan ide. Dia berjalan mendekati Naruto, dia membisikkan sesuatu di telinganya. Naruto terkikik kegelian, sedangkan Itachi yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
"Benarkah? Kau tidak bohongkan?"
Tanya Naruto antusias.
"Tentu saja ti-"
Sret
Eh ?
Kedip-kedip. Naruto menatap Itachi dengan tatapan polosnya. Karena tiba-tiba saja, Itachi menarik Naruto agar berlindung dibelakangnya. Melihat itu, Kisame hanya tersenyum bahagia. Itu dia yang dia cari. Wajah cemburu Itachi yang membuatnya seperti Itachi yang dikenalnya.
"Jangan mendekatinya. Perempuan ini terlalu vulgar. Dia akan -"
Bletak
Itachi meringis. Ternyata Naruto baru saja memukul kepalanya dengan tenaga yang tidak main-main. Kisame, dia hanya bisa kembali memasang wajah bengong. What the hell, Itachi yang sempurna itu dipukul oleh seorang perempuan yang berstatus istrinya.
"Dasar suami-suami takut istri."
Itachi mendelik tajam kearah Kisame yang menggerutu sendiri sambil mengejeknya.
"Kau ini menyebalkan! Uh aku mau pulang."
Naruto tanpa menunggu sahutan dari sang suami langsung saja keluar dari ruangan itu dengan ekspresi kesal. Itachi sebenarnya ingin menyusulnya, namun tubuhnya terasa lumpuh. Setelah yakin Naruto sudah pergi. Kisame berjalan mendekat kearah Itachi.
"Apa yang kau dapatkan?"
Tanya Itachi tanpa menoleh kearah Kisame yang berdiri di belakangnya.
"Aku menemukan ini di depan pintu."
Kisame memberikan sebuah map berwarna coklat yang tadi dia sembunyikan dibalik jas yang dibawanya. Itachi menerima amplop itu dan membukanya dengan tidak sabaran.
"Sial."
Itachi segera berlari keluar dari ruangannya. Meninggalkan Kisame yang mengerutkan keningnya tidak mengerti. Pandangannya tertuju pada isi amplop yang tercecer dilantai. Dipungutnya salah satu. Matanya membola.
"Ck. Sial."
Diremasnya barang yang dibawanya, dia lalu memandang kearah pintu dimana Itachi berlari keluar.
"Semoga tidak terlambat."
.
.
.
Tbc
