Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
"Jangan terlibat terlalu jauh. Bersikaplah seolah kau tidak tahu apapun."
.
.
.
Bab 5 [ Ingatan yang Tersembunyi ]
Itachi berlari dengan kecepatan diatas rata-rata. Tidak peduli pada pandangan heran para karyawan yang dilewatinya. Beberapa kali keluar umpatan dari si sulung Uchiha. Hancur sudah image si datar tanpa eskpresi miliknya. Melihat bagaimana kecemasan itu tergambar jelas di wajah tampannya. Tangannya menekan tombol lift dengan tidak sabar, matanya bergerak gusar melihat angka yang tercetak di atas pintu lift.
"Sial."
Gerutu Itachi sambil menghentakkan kakinya tidak sabar. Beberapa kali Itachi melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah dua puluh menit sejak saat sang istri pergi meninggalkan ruangannya. Kecemasan jelas tergambar di wajahnya. Sesuatu yang sangat jarang terlihat. Mengingat bahwa seluruh keturunan Uchiha sangat pandai menutupi perasaannya dan selalu bersikap tenang, bahkan dalam kondisi segenting apapun.
Tapi lihat Itachi sekarang, dia tidak lagi teringat petuah sang ayah yang dengan tegas mengatakan bahwa keturunan Uchiha harus menyembunyikan perasaannya dengan baik, jangan menunjukkan emosi sekecil apapun. Bagi keluarganya menujukkan emosi sama hal nya seperti menunjukkan kelemahannya di hadapan musuh. Sesuatu yang sangat berbahaya, tapi disaat seperti ini Itachi tidak bisa lagi mengingat hal tersebut. Dikepalanya terus dipenuhi bagaimana cara untuk menyelamatkan Naruto. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Naruto kembali mengalami kejadian buruk seperti kejadian saat itu. Tidak, Itachi tidak akan membiarkan mereka menyentuh Naruto walaupun hanya seujung kuku sekalipun. Itachi bertekat, jika mereka berani mengusik kekuarganya lagi, Itachi tidak akan segan untuk menghabisi mereka semua hingga habis tak tersisa dan mereka hanya tinggal nama yang bahkan tidak layak untuk dikenang.
'Ting!'
Itachi memandang tajam orang-orang yang berada di dalam lift. Aura gelap jelas terasa dari si sulung Uchiha. Membuat mereka yang berada didalam lift bergetar ketakutan bahkan terasa sangat susah untuk mereka menelan salivanya sendiri. Dengan gerakan cepat mereka segera keluar dari lift dan membiarkan Itachi masuk kedalam lift.
Setelah berada didalam lift, Itachi segera menekan tombol B4. Setelah pintu lift tertutup dia menscan ibu jarinya untuk mengaktifkan urgent mode didalam lift, sehingga lift akan langsung ketempat yang ditujunya tanpa harus mengunjungi lantai lainnya.
'Ting!'
Itachi segera keluar dari lift saat pintu lift terbuka. Beruntung dia memakirkan mobilnya tidak jauh dari lift, membuatnya tidak terlalu membuang waktu untuk mencari letak mobilnya. Tidak dipeduli nafasnya yang sudah mencapai batas. Dengan gerakan cepat dia menghidupkan mesin mobil dan menyalakan tablet gps yang ada mobilnya. Pertama, dia harus melacak keberadaan Naruto melalui chip pelacak yang dia letakkan di cincin pernikahan yang digunakan oleh Naruto.
.
.
.
.
.
.
Itachi melirik kearah tablet penujuk gps yang terpasang di mobilnya. Dia melihat posisi Naruto yang berada di jalanan yang saat ini cukup ramai.
"Mode speak now."
Setelah mengatakan itu Itachi segera memakai earphone untuk dipasang di telinga kirinya.
"Password ZeroB. Call speed dial one."
Setelah mengatakan itu Itachi bisa mendengar suara nada sambung dari earphone yang digunakannya. Tangan Itachi bergerak gusar diatas stir mobil saat panggilannya tidak juga dijawab oleh sang istri. Berkali-kali Itachi mencoba menghubungi Naruto tapi tidak juga dijawab oleh si pirang. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Kisame untuk memintanya menghubungi Naruto.
"Ada a-"
"Cepat hubungi Naruto dan sambungkan denganku."
Belum sempat Itachi menyelesaikan ucapannya, Itachi segera memotongnya. Kisame hanya bisa mengumpat kesal mendengarnya, tapi dia tetap menjalankan perintah Itachi.
"Kisame-san ada apa?"
Itachi mendengus sebal saat mendengar suara Naruto dari ujung sana. Sial. Dia mengangkat panggilan dari Kisame tapi mengacuhkan panggilannya.
"Cepat kemudikan mobilmu ke Konoha street. Jangan menambah kecepatan. Kecuali kau berniat mengukir namamu di batu nisan pemakaman keluarga Uchiha saat ini juga."
Naruto yang mendengar suara Itachi, bukan main terkejutnya. Terlebih lagi Itachi mengatakan sesuatu yang membuatnya bingung. Memang ada apa dengan mobilnya.
"Apa maksudmu?"
Tanya Naruto tidak menengerti. Tapi dia tetap memenuhi perintah Itachi dan memutar arah mobilnya menuju Konoha street. Dari ujung telephone Naruto bisa mendengar suara geraman Itachi yang jujur saja membuatnya semakin cemas saat ini. Itachi sedang menahan amarahnya dia tahu itu, tapi Naruto sama sekali tidak tahu alasan apa yang membuat Itachi semarah ini.
"A-Aku sudah di Konoha street."
.
.
.
.
.
.
"Call the Police agency 112"
Itachi masih menfokuskan diri untuk mengemudikan mobilnya untuk menuju ke konoha street sambil menghubungi polisi lalu lintas.
"Tutup jalur kearah Konoha street."
Setelah memastikan jalur yang akan di buatnya sebagai jalur untuk menyelamatkan Naruto sudah bebas dari kendaraan, Itachi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berusaha mengimbangi laju mobil Naruto yang baru saja dilihatnya masuk kedalam kawasan Konoha street.Berhasil. Akhirnya Itachi bisa mensejajarkan mobilnya dengan mobil Naruto.
"Call speed dial one."
Tidak butuh waktu lama akhirnya Naruto mengangkat panggilan Itachi. Suara si pirang terdengar cemas.
"A-Apa yang terjadi sebenarnya?"
Itachi tidak menjawab. Dia justru menekan tombol dengan icon stir kemudi yang disilang dan berpindah kearah kursi kosong disampingnya.
"Buka pintu mobilmu dan aktifkan digital driver."
Naruto mengangguk patuh, dengan tangan bergetar Naruto menekan tombol dengan icon stir kemudi yang disilang, lalu membuka pintu mobilnya. Diseberang mobilnya dia bisa melihat Itachi yang memandang cemas kearahnya.
"A-Apa yang terjadi?"
Pintu mobil orange itu terbuka. Menampilkan sosok perempuan bersurai pirang yang tampak menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Dia menoleh kearah Itachi dengan pandangan memohon. Dia tidak ingin mati secepat ini.
"T-Tolong aku hiks aku takut."
Suara perempuan itu bergetar memilukan. Itachi merasakan dadanya berdenyut nyeri melihat wajah ketakuran Naruto. Siapapun yang melakukan ini Itachi tidak akan melepaskannya. Mereka harus menerima hal yang lebih dari apa yang dialami oleh Naruto. Itachi pasti akan membuat hidup mereka seperti didalam neraka hingga mereka mengemis kematian padanya. Sekarang pintu mobil Itachi sudah terbuka keatas, sedangkan pintu mobil Naruto sudah di rusak oleh Itachi dengan menggunakan linggis yang entah di dapatnya dari mana. Membuat pintu mobil Naruto terlepas begitu saja dan teronggok di tengah jalan.
BRAK
"Kyaa !"
Naruto berteriak histeris. Dia melirik kebelakang, berharap tidak ada seseorang yang terkena rongsokan pintu mobilnya.
"Tidak ada siapa-siapa disini. Sekarang pegang tanganku."
Itachi mengulurkan tangannya. Naruto menggeleng kuat.
"Kau akan selamat, percaya padaku."
Naruto tetap menggeleng. Dia tidak yakin dengan keputusan Itachi. Dia tidak akan selamat.
"Cepatlah! Aku mohon."
Seperti terhipnotis, mendengar nada suara Itachi yang mengiba membuat Naruto dengan ragu mengulurkan tangannya. Itachi tersenyum tipis, dia segera menarik Naruto untuk masuk kedalam mobilnya. Naruto memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak ingin melihatnya.
Setelah cukup lama, Naruto tidak merasa apapun. Bukan tidak merasakan apapun. Tubuhnya memang sesaat tadi terasa ringan dan seperti angin akan menerbangkan tubuhnya. Tapi itu tidak lagi dia rasakan. Sekarang dia hanya merasa nyaman, apa mungkin dia sudah meninggal. Tapi kenapa rasanya dia mendengar suara detak jantung seseorang.
"Hah hah syukurlah."
Suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan perlahan dia mendongak. Melihat kearah sosok yang beberapa saat lalu memintanya melakukan sesuatu yang gila. Lihatlah bagaimana dia berseringai menyebalkan. Ini mengenai nyawa dan dia masih bisa berseringai seperti itu. Dasar.
"Syukurlah kau tidak terluka."
Naruto mengerjapkan matanya. Dia melihat wajah tampan yang biasanya terlihat dingin, kini tersenyum lega. Suatu getaran aneh dirasakan Naruto.
"Aku selamat?"
Pertanyaan bodoh Naruto membuat Itachi semakin tersenyum lebar. Dieratkannya dua tangannya yang masih melingkar di kedua pinggang ramping Naruto. Mobil Itachi yang mereka tumpangi sudah menepi di pinggir jalan. Sedangkan Itachi dan Naruto masih pada posisi awal. Dimana Naruto duduk di pangkuan Itachi dengan posisi saling berhadapan, kedua tangan Itachi memeluk pinggang Naruto posesif sedangkan kedua tangan Naruto melingkari leher Itachi.
"Kau -"
Ucapan Naruto terpotong saat Itachi sudah membungkam bibir Naruto dengan bibirnya sendiri. Naruto yang awalnya terkejut kini memejamkan matanya, kedua tangannya menarik leher Itachi mendekat, untuk memperdalam ciuman mereka. Sementara itu Itachi juga meremas erat pinggang Naruto. Membuat Naruto tersenyum di sela-sela ciuman mereka.
BOM
Kedua orang itu terdiam, Itachi segera melepaskan ciumannya. Pandangannya tertuju pada kepulan asap tebal berwarna hitam pekat sepuluh meter dari mobilnya. Detak jantung Itachi berpacu, wajahnya mengeras. Tangannya terkepal erat membuat Naruto bingung, apa yang terjadi. Naruto tidak tahu suara debuman keras itu berasal dari mana. Yang jelas melihat ekspresi Itachi sekarang, apa yang terjadi di belakangnya bukanlah sesuatu yang baik.
"Itachi ada apa ?"
Naruto akan menolehkan kepalanya, namun secepat kilat Itachi menarik tubuh kecilnya hingga hidung Naruto menubruk dada bidang Itachi. Aroma kayu manis langsung menyambut hidung Naruto.
"Jangan dilihat."
Naruto mengangguk kaku. Dia sungguh tidak tahu, namun sejak awal dia memang tahu bahwa ada satu hal yang disembunyikan Itachi. Tapi Naruto pura-pura tidak tahu, walaupun dia sering kali khawatir saat Itachi pulang dalam keadaan mengenaskan, dengan wajah lebam dan banyak luka di sekujur tubuhnya.
"Ceritakan padaku."
Suara Naruto teredam oleh pelukan Itachi. Namun pria itu masih bisa dengan jelas mendengarnya. Diam-diam Itachi menggigit bibirnya. Menahan segala bentuk emosi yang akan dia keluarkan.
"Aku tidak bisa."
Itachi meruntuki suaranya yang bergetar. Walaupun samar, Itachi yakin Naruto pasti mengetahuinya.
"Aku istrimu, masalahmu juga akan menjadi masalahku. Rahasiamu juga akan menjadi rahasiaku."
Itachi mengeratkan pelukannya. Begitu juga dengan Naruto. Dia tahu bahwa pria yang memeluknya ini menanggung beban berat di bahunya, harusnya dia bisa meringankan beban itu. Namun apa yang terjadi, bukannya meringankan. Naruto justru menambah beban baru untuknya. Tapi itu bukan keinginannya. Naruto tidak akan bisa untuk tidak bersandar di bahu Itachi.
"Jangan terlibat terlalu jauh. Bersikaplah seolah kau tidak tahu apapun."
Naruto menggeleng.
"Aku memang tidak tahu apapun."
Itachi melepaskan pelukannya. Memandang sang istri yang kini menunduk lemah di hadapannya.
"Kau mengetahuinya, hanya kau saja yang tidak ingin mengingatnya."
Tangan dingin Itachi membelai pipi kiri Naruto. Iris safir Naruto memandang lurus kearah sepasang onyx Itachi yang begitu mempesona.
"Aku tidak mengerti, katakan dengan jelas."
Itachi tersenyum kecil, kemudian dia menggeleng.
"Tidak. Biarkan saja seperti ini. Jangan mencoba untuk mengingat apapun."
.
.
.
.
Tbc
