Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
"Matilah dengan terhormat, jangan mati sebagai pecundang. Gunakan otakmu untuk menggerakkan ototmu, jangan menggunakan otot tanpa menggunakan otakmu. Kau mengerti?"
.
.
.
Bab 6 [ Konan dan Yahiko ]
Itachi memandang gundukan tanah dihadapannya tanpa ekspresi. Tangan kecilnya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras saat reka ulang detik-detik kematian salah satu rekannya akibat si tikus got yang menjijikkan itu berputar di otaknya seperti kaset rusak. Para rekannya yang berada di belakang Itachi tidak ada yang berani membuka suara. Mereka semua memandang iba punggung kecil Itachi yang sudah menanggung beban seberat ini. Jujur saja mereka takut, jika suatu saat Itachi melupakan umurnya saat ini. Mereka takut jika Itachi telah menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka ingin sekali melihat Itachi bermain dengan bebas seperti anak-anak pada umumnya.
Tapi apa yang mereka lihat jauh dari apa yang mereka inginkan. Bukannya mobil-mobilan yang menjadi mainan Itachi. Justru senjata api sejenis Ak-45 yang selama ini selalu bertengger di kedua tangan kecilnya. Bermain-main dengan nyawa lebih tepatnya.
"Konan, kenapa kau harus pergi secepat ini."
Itu bukanlah suara Itachi. Itachi sendiri masih berdiri tegak di depan makam Konan –salah satu rekannya yang meninggal saat operasi penangkapan kelompok Hebi. Dibelakangnya, seorang laki-laki yang diperkirakan berusia dua belas tahun jatuh terduduk sambil menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar hebat dan isakan itupun terdengar.
"Aku akan membalaskan kematianmu!"
Laki-laki bersurai orange itu mengepalkan tangannya. Tidak, dia tidak bisa lagi berpura-pura tegar seperti yang dilakukan ketua dan rekan-rekannya. Dengan mata berkikat emosi dia beranjak pergi dari area pemakaman. Namun belum ada sepuluh langkah dia berjalan suara berat Itachi menghentikan pergerakannya.
"Maju satu langkah lagi, akan aku pesan batu nisan dengan ukiran namamu diatasnya."
Laki-laki itu kembali jatuh terduduk. Ucapan Itachi seakan menyadarkannya. Bukan hanya dia yang terluka dan bersedih disini. Mereka semua sama-sama kehilangan sosok Konan. Dan dia yakin, ketua mereka kini pasti sedang menyusun rencana untuk membalaskan kematian Konan. Bodoh, kenapa dia begitu ceroboh. Tidakkah dia harusnya lebih bisa berpikir dewasa, bukan hanya mengandalkan emosi sesaat. Harusnya dia malu pada sang ketua –Itachi yang diumurnya yang tahun ini menginjak angka sepuluh tahun jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya.
"Kau pikir aku tidak akan melakukan apapun? Berpikirlah dengan jernih, jangan asal menyodorkan nyawamu pada tikus got seperti mereka."
Itachi menolehkan kepalanya kebelakang. Menatap tajam sosok laki-laki bersurai orange itu dari sudut matanya.
"Matilah dengan terhormat, jangan mati sebagai pecundang. Gunakan otakmu untuk menggerakkan ototmu, jangan menggunakan otot tanpa menggunakan otakmu. Kau mengerti?"
Laki-laki bersurai orange yang menjadi topik pembicaraan Itachi tidak dapat mengatakan apapun. Tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Itachi yang seakan mencekiknya dari dalam dan memaksanya keluar dari luapan emosi yang menyelimuti hatinya. Bahkan laki-laki lupa bagaimana cara untuk bernafas saat Itachi berjalan melewatinya dengan gaya angkuhnya.
"Yahiko-senpai. Asal kau tahu. Yang paling terpukul atas meninggalnya Konan adalah Itachi. Jangan bertindak ceroboh seperti ini lagi. Pulanglah, tenangkan dirimu. Markas kita selalu terbuka untukmu."
Yahiko –nama laki-laki bersurai orange itu mengangguk. Kisame yang baru saja menepuk pundaknya sambil memberikan kalimat 'Penenang' pada Yahiko segera berjalan meninggalkan Yahiko sendiri. Membiarkan si pemilik surai orange itu untuk merenungi apa yang akan dilakukannya setelah ini.
.
.
.
.
.
Flashback One day before Konan passed Away
.
.
.
.
Pagi yang cerah, Yahiko yang saat ini menduduki kelas satu smp terlihat masih asik bergemul dengan tempat tidurnya. Tidak peduli pada jeritan jam waker yang sedang menjalankan tugasnya untuk membangunkan si pemilik untuk bangun dari mimpi indahnya. Cukup lama jam waker itu menjerit meminta untuk dimatikan, tapi Yahiko tidak juga berniat untuk membuka matanya. Hingga suara gedoran pintu secara brutal lah yang berhasil menarik paksa Yahiko dari dunia mimpinya. Dengan enggan Yahiko membuka matanya dan segera mematikan jam waker miliknya.
"Bangun! Kau pikir ini sudah jam berapa ha?"
Yahiko hanya tersenyum mendengar 'nyanyian' pagi hari yang di dendangkan oleh tetangganya, sekaligus sahabat baiknya. Walaupun Yahiko ingin sekali mengikat hubungan lebih dari sekedar sahabat. Bukan sebagai saudara tapi dalam artian yang lebih spesial dari itu.
Tapi Yahiko sadar, jika dia memaksakan diri untuk mengungkapkan perasaannya, maka ada kemungkinan persahabatan mereka akan penuh dengan kecanggungan. Yahiko tidak mau itu terjadi. Karena itulah dia memilih untuk memendam perasaannya sendiri dan sebisa mungkin bersikap biasa saat mereka bersama.
"Kalau kau tidak siap dalam tiga puluh menit, aku akan melemparkan granat kedalam kamarmu!"
Yahiko langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi setelah mendengar ancaman tetangganya itu. Jika orang lain akan berpikir Yahiko terlalu bodoh karena percaya pada gertakan sambal seperti itu. Maka kalian salah. Untuk sekedar informasi, tetangga Yahiko itu tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Pernah suatu saat, Yahiko sedang dalam keadaan demam dan tetangganya itu merawat Yahiko dengan telaten. Tapi saat akan meminum obat, Yahiko bersikukuh untuk tidak mau menelan pil obat yang telah disodorkan oleh tetangganya.
'Minum obatnya atau kulubangi tengkorakmu.'
Yahiko hanya tertawa menanggapi ancaman tetangganya saat itu. Siapa sangka tetangga yang sekaligus sahabatnya itu benar-benar menodongkan pistolnya tepat di kening Yahiko dan sudah akan bersiap menarik pelatuknya. Gila bukan. Sejak saat itulah Yahiko selalu menuruti kemauan ataupun perintah sahabatnya daripada nyawanya melayang sia-sia.
BRAK
Yahiko membuka pintu apartemennya dengan tenaga kuda. Dengan kecepatan kilat dia mandi dan memakai seragam sekolahnya lalu segera membuka pintu apartemennya.
"Hosh hosh aku su- hosh sudah siap."
Seorang siswi yang berada dihadapan Yahiko tersenyum puas saat Yahiko sudah siap dalam waktu 29 , satu menit sebelum dia benar-benar akan menghancurkan apartemen Yahiko.
"Ayo berangkat!"
Siswi itu menarik atau lebih tepatnya menggenggam tangan Yahiko untuk berangkat sekolah bersama. Saat didepan lift mereka menunggu pintu lift terbuka. Siswi yang memakai nametag Konan itu membalikkan badannya untuk berhadapan dengan Yahiko. Tanpa mengatakan apapun, tangannya terulur untuk membenarkan dasi Yahiko yang sangat berantakan.
"Konan?"
Mau tidak mau pipi Yahiko bersemu kemerahan saat melihat wajah Konan sedekat ini. Ingin sekali Yahiko memeluknya dan mengatakan semua perasaan yang selama ini dipendamnya. Belum sempat dia mengatakan sesuatu, suara pintu lift terbuka mengalihkan perhatiannya.
"Kenapa diam saja, ayo cepat masuk."
Lagi-lagi Konan menarik tangan Yahiko untuk masuk kedalam lift. Pagi ini entah ada angin apa kondisi lift sedang kosong sehingga mereka bisa lebih cepat untuk mencapai baseman tempat mereka memakir kendaraan.
"Hari ini jangan membuat ulah. Jadilah anak yang baik."
Yahiko hanya mengangguk malas mendengar wejangan rutin Konan setiap pagi. Perempuan yang satu tahun lebih tua darinya itu memang kadang sangat cerewet seperti ibu-ibu. Dia selalu melarang Yahiko untuk melakukan ini dan itu. Bahkan pernah satu kejadian Konan menceramahinya lima jam nonstop kareba tahu Yahiko membolos pelajaran matematika.
"Kau selalu saja cerewet."
Pletak
Konan tanpa merasa bersalah menjitak kepala Yahiko dengan penuh kasih sayang. Membuat si pemilik surai orange memgaduh kesakitan. Tapi bukannya meminta maaf, Konan justru tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
.
.
.
.
.
Sesampainya disekolah, Yahiko terlebih dahulu mengantar Konan kekelasnya. Padahal kelas Konan berada di lantai dua. Sedangkan kelasnya berada di lantai satu. Tapi Yahiko sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Justru dia akan merajuk saat Konan mengatakan agar Yahiko tidak perlu mengantarnya hingga kekelas. Jadilah Konan hanya pasrah saat Yahiko berdiri di depan kelasnya sampai dia duduk di bangku miliknya, barulah Yahiko pergi ke kelasnya sendiri. Dasar anak itu.
"Hei Konan, jadi bagaimana kelanjutan hubunganmu dengannya?"
Konan mengerutkan kening saat Tobi tiba-tiba duduk dihadapannya dan menanyakan sesuatu yang tidak dimengerti olehnya.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu."
Konan menggeleng acuh. Tidak penting berbicara dengan Tobi yang menurutnya selalu bertindak diluar logika. Bahkan dia yang dalam kategori cerdas saja tidak bisa menebak jalan pikiran Tobi yang seperti labirin tanpa jalan keluar.
"Maksudku Yahiko. Apa kalian memiliki hubungan khusus?"
Konan yang sedang menulis di buku catatannya langsung menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap sebal kearah Tobi. Ingin sekali Konan menodongkan Yuki –nama pistol kesayangan Konan tepat di kening Tobi. Seandainya Tobi tahu apa yang dipikirkan Konan mungkin sekarang dia sudah lari terbirit-birit.
"Kami hanya teman. Yahiko dan aku berteman sejak kecil. Kau tahu itu kan?"
Tobi tertawa jahil. Dia mendekatkan kepalanya ditelinga Konan. Membisikkan sesuatu.
"Tapi Yahiko bercerita padaku, dia pernah menjadikanmu model untuk mimpi basahnya."
Blush
Wajah Konan langsung memerah menyamai kepiting rebus. Kepalanya tertunduk malu, sial dia bahkan tidak dapat mengatakan apapun saat ini. Semua sumpah serapahnya hilang entah kemana. Berganti dengan suara gemuruh dari dalam dadanya, juga rasa mual yang berasal dari perutnya, seolah ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
.
.
.
.
.
.
Yahiko dan Konan sedang berada di dalam mobil. Setelah pulang dari sekolah, mereka mendapatkan panggilan dari sang ketua yang meminta mereka datang ke markas saat itu juga. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka sebut markas. Yahiko keluar dari mobil. Dia membiarkan Konan tetap didalam mobil untuk mengganti bajunya. Sedangkan Yahiko mengganti bajunya di luar. Setiap 'anggota' harus mematuhi peraturan tak tertulis yang sudah mereka tetapkan bersama, yakni tidak boleh menggunakan properti sekolah saat masuk kedalam markas. Karena di dalam pekerjaan tidak ada pandangan usia dan latar belakang. Semua anggota memikiki kedudukan yang sama. Mereka adalah rekan satu tim yang berada di bawah pimpinan sang ketua. Untuk sekedar informasi, ketua mereka bahkan masih berusia sepuluh tahun. Tapi kemampuannya tidak ada yang berani meragukannya. Darah Uchiha sangat kental mengalir dalam tubuhnya. Diumurnya yang masih sangat belia dia bisa memimpin pasukan khusus yang bekerja dibalik bayang-bayang lembaga kepolisian dan badan keamanan negara.
"Aku sudah selesai. Ayo masuk."
Yahiko tidak bisa mengentikan senyuman di wajahnya saat tangannya digenggam oleh Konan. Mereka masuk kedalam markas dengan tangan saling bergandengan. Tobi yang kebetulan berpapasan dengan mereka tersenyum penuh arti sambil memandang tangan keduanya yang saling bertaut. Romantisnya.
"Wah, sebentar lagi akan ada berita bahagia nih hehehe."
Tobi segera berlari masuk kedalam saat melihat tatapan tajam Konan yang ditujukan padanya. Yahiko akan melepaskan tautan tangan mereka tapi Konan menahannya. Yahiko sama sekali tidak mengerti, Konan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan sekarang Konan sama sekali tidak peduli tatapan jahil rekan mereka di pasukan khusus.
"Apa semua orang sudah datang?"
Suasana mendadak tegang saat suara sang ketua mengudara di markas mereka. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memiliki surai raven panjang dengan tanda lahir seperti keriput di kwdua pipinya duduk angkuh di kursi besar yang berada di tengah ruangan. Mata onyxnya memandang satu persatu rekannya. Memastikan apakah mereka semua sudah lengkap.
"Sebelumnya aku akan mengumumkan bahwa kita akan mendapatkan rekan kerja baru."
Anak laki-laki yang tidak lain adalah ketua pasukan khusus kembali bersuara. Setelahnya terdengar suara gaduh dari para anggota pasukan khusus. Sepertinya mereka sibuk menebak siapa yang akan menjadi rekan baru mereka.
"Masuklah."
Terdengar suara langkah kaki yang menggema di lorong markas. Mereka semua menatap pintu masuk dengan tatapan penuh tanda tanya. Hingga saat pintu masuk dibuka lalu menampilkan seseorang yang disebut oleh sang ketua sebagai rekan satu tim mereka yang baru. Dia –
"Kisame. Haizaki Kisame Yoroshiku."
Tidak ada respon apapun. Mereka memandang sang anggota baru dengan tatapan tidak percaya.
"Berapa umurmu?"
Kali ini Deidara –Anggota dengan surai berwarna pirang panjang yang diikat ponytail yang bersuara. Karena terlalu antusias Deidara kini sudah duduk menyamakan tingginya dihadapan Kisame.
"Sepuluh tahun. Aku teman sekelas Itachi."
Deidara mengangguk. Dia menatap Itachi -sang ketua kemudian beralih pada Kisame. Lalu dia tersenyum penuh arti.
"Hei, apakah ketua juga seperti 'itu' saat di sekolah?"
Kisame awalnya bingung dengan pertanyaan Deidara. Tapi tidak lama dia tersenyum penuh arti. Dia memandang jahil kearah Itachi yang masih saja memandangnya dengan pandangan datarnya.
"Begitulah, bahkan dikelas dia dipanggil si wajah triplek."
Deidara tertawa cekikikan mendengar pengakuan Kisame. Jarang-jarang dia bisa mengetahui kehidupan sang ketua di sekolah. Baginya ini adalah hiburan tersendiri untuknya. Yah, kalau boleh jujur. Deidara kadang merasa kasihan pada Itachi, diusianya yang masih muda dia harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Dia bahkan tidak bisa bermain seperti anak normal lainnya.
"Hai Kisame, namaku Tobi umurku tiga belas tahun. Salam kenal."
Kisame memandang asal suara. Disana dia bisa melihat seorang remaja bersurai raven yang separuh dari wajahnya rusak. Remaja itu memasang senyuman ramah yang membuat Kisame ikut tersenyum karenanya.
"Salam kenal Tobi-senpai."
Deidara menepuk jidatnya sendiri. Dia sudah bersikap sok kenal pada Kisame tapi dia lupa untuk memperkenalkan diri.
"Namaku Deidara, Namikaze Deidara. Laki-laki bersurai merah yang punya wajah bayi itu namanya Sasori. Laki-laki bersurai orange dengan wajah mesum itu namanya Yahiko."
Yahiko mendelik tidak suka saat Deidara menyebutnya mesum. Tapi Deidara tampak tidak peduli. Membuat Yahiko mengeram kesal karenanya.
"Satu-satunya perempuan di kelompok ini itu namanya Konan. Saranku, jangan mengganggunya, dia itu galak. Seperti ibu tiri."
Kisame tertawa mendengarnya. Dia memandang kearah Konan yang menatap Deidara penuh arti. Kisame menunduk hormat kearahnya untuk memberikan salam.
"Dan yang terakhir si ketua. Uchiha Itachi, kau pasti sudah mengenalnya bukan?"
Kisame mengangguk. Dia menunjuk tepat di wajah Itachi. Membuat mereka yang berada disana menahan nafas. Baru kali ini mereka lihat seseorang yang sangat berani menunjuk wajah Itachi tanpa bergetar ketakutan.
"Apa disini dia juga selalu memasang wajah datarnya?"
Spontan semua orang disana mengangguk mengiyakan. Sedangkan Itachi yang menjadi objek pembicaraan terlihat memasang wajah tidak peduli.
"Oh ayolah Chi. Kau sama sekali tidak asik."
Itachi tidak menjawab. Justru dia tampak sibuk membuka lembaran kertas yang entah apa isinya. Menghiraukan tatapan horror rekan-rekannya, karena baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang seberani itu pada Itachi. Dan yang lebih ajaib adalah Itachi yang membiarkannya. Bahkan si sulung Uchiha tampak tidak keberatan sama sekali.
"Duduklah, ada hal penting yang akan aku sampaikan."
Semua orang langsung duduk ditempatnya. Mereka duduk di kursi-kursi yang memang disusun secara melingkar dengan satu meja berbentuk lonjong di tengahnya.
"Kalian ingat kelompok Hebi?"
Semua rekannya mengangguk, bahkan rahang mereka mengeras hanya dengan mendengar nama Hebi. Namun tidak dengan Kisame yang masih anggota baru. Dia sama sekali tidak tahu apapun tentang kelompok Hebi.
"Untuk Kisame aku akan menjelaskan tentang kelompok Hebi. Kau masih asing dengan nama Hebi bukan?"
Kisame mengangguk.
"Hebi adalah kelompok mafia yang sekarang menguasai Jepang. Mereka bekerja sama dengan para pejabat pemerintahan untuk melancarkan aksi mereka. Sampai sekarang mereka sudah menjual kurang lebih satu ton narkotika, penjualan organ tubuh di pasar gelap, dan menjual anak-anak dibawah umur untuk menjadi pekerja di distrik merah."
Kisame melotot tidak percaya. Dia melihat rekan-rekannya mengangguk, membenarkan penuturan Itachi tentang kelompok Hebi.
"Tapi siapa saja pejabat pemerintahan yang terlibat?"
Itachi menggeleng. Wajahnya berubah muram.
"Tidak ada data yang jelas tentang siapa saja yang terlibat. Tapi setiap kali anggota kepolisian akan melakukan penyergapan selalu saja gagal. Karena itulah Fugaku-san membentuk kelompok ini. Untuk sekedar informasi, kelompok kita berada dibawah pengawasan langsung jendral kepolisian. Tapi kelompok kita tidak pernah tercacat di arsip manapun. Bisa dikatakan kita bergerak seperti bayangan."
Kisame kembali mengangguk. Sekarang dia mengerti kenapa tes untuk masuk ke kelompok ini sangat di luar nalar. Awalnya dia hanya berniat mengikuti Itachi yang sering melarikan diri setelah pulang sekolah, siapa sangka dia melihat Itachi masuk kedalam markas mereka. Saat akan pergi, tanpa sengaja dia menabrak keranjang sampah. Membuat si sulung Uchiha mengetahui keberadaannya. Dan diapun dipaksa masuk ke kelompok pasukan khusus, tapi dia harus melewati tes masuk terlebih dahulu. Kisame sangat ingat apa yang dikatakan Itachi saat itu. 'Ikuti tesnya, jika kau berbakat aku akan memasukkanmu kedalam kelompokku. Jika kau tidaklayak, matilah seperti seorang pecundang'. Kisame sendiri tidak percaya ada anak sekolah dasar yang bericara sekasar itu. Tapi jika Itachi orangnya, Kisame tidak akan terlalu terkejut.
"Kalau kau sudah mengerti. Dengarkan instruksiku baik-baik."
Suasana kembali hening. Tidak ada suara apapun disana. Hanya suara keheningan yang menunggu suara Itachi untuk memecahkannya.
"Bos kecil akan melakukan transaksi di pelabuhan Konoha, besok pukul satu dini hari. Kita berkumpul di markas pukul sebelas malam dan lakukan penyergapan."
Kisame memandang seringai menyeramkan para anggota yang jujur saja membuat bulu kuduknya berdiri. Dia melirik kearah Itachi, dan saat itu Kisame sadar. Itachi disini bukanlah Itachi yang dikenalnya di sekolah. Mereka seperti dua orang yang berbeda. Walaupun mereka sama-sama berwajah datar. Tapi Itachi yang dikenalnya disekolah tidak mengeluarkan aura membunuh seperti ini.
.
.
.
.
.
.
Itachi memantau kondisi pelabuhan Konoha yang akan menjadi tempat untuk transaksi barang haram oleh kelompok Hebi. Dibelakangnya para rekannya juga memandang kondisi pelabuhan dari layar monitor berukuran mini. Mereka berhasil meretas cctv pelabuhan sehingga saat penyergapan tidak ada yang mengetahui bahwa itu adalah perbuatan pasukan khusus.
"Konan dan Yahiko, bersiaplah diposisi saat tikus got itu datang."
Konan dan Yahiko mengangguk. Konan memasukkan Yuki- nama pistol kesayangannya dan amunisinya di sabuk khusus yang melingkar dipahanya. Tidak lupa dia menyelipkan pisau lipat dan granat berukuran kecil yang mereka rakit sendiri. Sedangkan Yahiko menyiapkan senapan angin miliknya. Jika Konan terbiasa terjun langsung kelapangan maka Yahiko yang akan bertugas memantau dari kejauhan sebagai seorang sniper.
"Tobi hack ponsel yang mereka gunakan. Masukkan virus rakitanmu kedalam ponsel bos besar dan curi semua informasi yang dibutuhkan."
Tobi memasang posisi hormat, dia lalu berjalan masuk kedalam ruangan khusus yang digunakannya untuk menghack sistem keamanan ataupun merakit virus-virus yang dirancang khusus untuk mencuri data-data dari perangkat yang menjadi inangnya.
"Deidara dan Sasori awasi kami dan lakukan tindakan yang kalian rasa perlu untuk dilakukan. Aku dan Kisame akan membantu terjun kelapangan."
Deidara dan Sasori mengangguk. Kisame yang merasa namanya juga disebut bingung. Dia tidak tahu dimana posisinya sekarang. Dia bahkan tidak tahu apa maksud Itachi dengan terjun kelapangan.
"Kau ambillah ini. Aku melihat kau berbakat menggunakan pedang."
Kisame segera menangkap pedang berukuran raksasa yang dilemparkan Itachi padanya. Kisame memandang pedang yang di berikan Itachi untuknya. Pedang yang berukuran raksasa yang entah kenapa terasa pas di tangan kecilnya. Seringai menyeramkan terlihat di wajah Kisame.
"Apa aku boleh memotong tikus dengan pedang ini?"
Itachi memandang tepat di mata Kisame. Membuat Kisame terdiam ditempat.
"Jangan meninggalkan jejak. Buang bangkainya setelah kau menghabisinya. Aku tidak suka darah berceceran dilokasi penyergapan."
Kisame menelan ludahnya susah payah mendengar penuturan Itachi. Dia monster.
.
.
.
.
.
.
Disini mereka sekarang. Itachi, Konan dan Kisame bersembunyi di balik tembok. Mereka menunggu aba-aba dari Deidara dan Sasori yang mengawasi mereka dari markas. Sedangkan Yahiko sudah menyiapkan diri dengan senapan anginnya di atas gedung yang tidak jauh dari lokasi penyergapan.
"Tikus A datang dari arah jam dua."
Itachi mengangguk mengerti saat mendengar suara Deidara dari earphone yang bertengger di telinga kirinya.
"Kita tunggu sampai pembeli datang."
Bisik Itachi pada Konan dan Kisame. Mereka terus mengawasi lokasi transaksi dengan penuh kewaspadaan.
"Kucing A datang dengan mobil hitam."
Itachi berseringai menyeramkan. Dia berbalik untuk melihat kearah Kisame dan Konan yang menunggu instruksinya.
"Aku akan mengecoh mereka. Kalian tetap disini sampai aku memberikan tanda."
Konan mengangguk mengerti. Sedangkan Kisame menatap Itachi dengan pandangan tidak percaya.
"Kau mau bunuh diri?"
Konan mendelik tidak suka pada Kisame.
"Jangan meremehkan ketua. Dia tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja. Lebih baik kau khawatirkan nyawamu sendiri anak baru."
Kisame tidak bisa mengatakan apapun. Mendengar penuturan Konan, dia sadar Itachi tidak akan kalah semudah itu. Tapi tetap saja dia khawatir. Baginya Itachi sudah dianggapnya saudaranya sendiri. Dia tidak ingin Itachi terluka.
"Aku akan baik-baik saja."
Setelah mengatakan itu Itachi segera menyusup masuk kedalam lokasi transaksi. Tubuh kecilnya bersembunyi dibelakang mobil sedan yang digunakan kucing aka pembeli. Saat pintu terbuka, dengan gerakan cepat Itachi segera menghunuskan pedangnya tepat di jantung, membuat tubuh tak bernyawa itu ambruk begitu saja bahkan dia tidak sempat berteriak meminta tolong. Itachi kembali bersembunyi saat pintu kembali dibuka.
"Sial, siapa yang melakukan i –"
Crash
Itachi segera mengayunkan pedangnya hingga kepala orang itu menggelinding tanpa perlawanan. Saat akan kembali bersembunyi, sebuah suara menghentikan pergerakan Itachi.
"Kau bocah kecil, kenapa kau ditempat seperti ini?"
Itachi berseringai menyeramkan melihat salah satu buruannya yang berdiri kurang dari satu meter dari posisinya berdiri. Pria dewasa itu sama sekali tidak sadar jika dua temannya sudah di bunuh oleh Itachi karena kondisi pelabuhan yang gelap gulita.
"Let's Play!"
Suara rendah Itachi membuat pria dewasa itu tertawa meremehkan. Dia Menodongkan pistol tepat kearah Itachi. Bukannya menunjukkan ekspresi ketakutan, Itachi justru tersenyum penuh arti. Tangan kecilnya terangkat dan membentuk sebuah kode yang langsung di mengerti oleh Yahiko.
Dor
Satu tubuh kembali ambruk setelah malaikat pencabut nyawa selesai mencatat namanya.
.
.
.
.
.
Itachi memandang puas hasil operasi penyergapan pagi dini hari ini. Seluruh tikus got dan kucing liar sudah dapat dibekuk. Walaupun bos kecil berhasil melarikan diri, tapi Itachi yakin dia mengalami luka yang serius pada bahunya akibat sabetan pedang Kisame. Biarkan saja dia melarikan diri toh dia tidak akan bisa berlari jauh dari tempat ini. Bukan hanya karena lukanya, tapi juga karena racun yang sengaja Itachi tambahkan pada pedang Kisame. See, kalian bisa melihat betapa cerdasnya sulung Uchiha itu bukan. Si gagak jenius yang menghabisi nyawa musuh seperti membunuh seekor lalat.
"Yahiko kemarilah kita akan kembali ke markas."
Ucap Itachi sambil memegangi earphone di telinga kirinya yang sudah terhubung dengan earphone Yahiko.
"Kalian sudah bekerja ke –"
Hening. Mata Itachi membola, dia bahkan tidak dapat menggerakkan tubuhnya barang seinchipun. Tubuhnya seakan mati rasa.
Bruk
"Konan-senpai!"
Suara teriakan Kisame adalah hal terakhir yang dapat masuk kegendang telinganya, sebelum tubuh kecilnya jatuh terduduk dihadapan tubuh Konan yang terbaring tidak berdaya.
Dor
Satu lagi tembakan tidak dihiraukan oleh Itachi, pandangannya masih terfokus pada sosok Konan yang memandang teduh kearahnya.
.
.
.
.
.
Yahiko POV
"Yahiko kemarilah kita akan kembali ke markas."
Aku mendengar suara ketua dari earphone yang kugunakan. Dibawah sana semua tikus got beserta kucing liar sudah berhasil dilumpuhkan. Akhirnya operasi penyergapan ini selesai juga. Aku akan mengajak Konan untuk pergi makan malam bersama. Sudah lama kami tidak makan malam bersama di luar. Itu bukan ide yang buruk kurasa.
Baru saja aku akan memasukkan senapan anginku, tapi suara tembakan senjata api membuat nafasku tercekat. Tolong siapapun katakan bahwa apa yang kulihat ini hanya mimpi. Dibawah sana aku melihat Konan memasang dirinya untuk melindungi Itachi dari timah panas. Aku melihat bagaimana tubuh Konan ambruk dan Itachi yang menatapnya dengan pandangan kosong. Brengsek.
Dor
Langsung saja aku menembak si pelaku penembakan Konan. Kali ini akan kupastikan dia benar-benar kehilangan nyawanya. Setelah memastikan dia tidak bergerak segera aku berlari turun kebawah untuk melihat keadaan Konan. Saat aku sudah sampai di tempat Konan, aku melihat Konan yang mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Itachi yang baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Mata onyx yang biasanya berkilat tajam kini tampak kosong. Dia bahkan tidak berani untuk memandang kearah Konan.
"K-Konan."
Aku mendudukkan diriku disamping kanan Konan. Kulihat Konan kini mengalihkan pandangannya padaku. Kini kedua tangannya bergerak untuk menyentuh kedua pipiku. Dapat kulihat dia tersenyum sambil bergumam sesuatu. Mengikuti insting aku mendekatkan wajahku kepadanya.
Tes
Selama dua belas tahu aku hidup, baru kali ini aku meneteskan air mataku. Seluruh duniaku terasa runtuh saat ini.
"A-Aku mencintaimu, Yahiko."
Tangisanku semakin kencang saat akhirnya aku mendengarkan gumamannya. Dengan tangan bergetar aku membelai wajahnya dengan hati-hati, lalu aku mendekatkan bibirku pada bibirnya yang kini dipenuhi darah segar.
Cup
Bibir kami bersentuhan, bisa aku rasakan aroma amis dari darah Konan yang terasa di indra mengecapku.
"Aku mencintaimu Konan. Kumohon jangan pergi."
Kulihat Konan menggeleng lemah, senyuman itu tidak juga lepas dari wajah cantiknya.
"T-Tetaplah hidup. Jaga ketua dengan nyawamu. S-Selamat tinggal."
Mata Konan tertutup. Dia menutup matanya dengan senyuman tetap terlukis di wajahnya. Kenapa harus secepat ini.
"Konaaaaaaaaaan!"
.
.
.
.
.
.
End Flashback
.
.
.
.
.
.
Memandang langit yang berwarna biru cerah membuat Itachi tersenyum tipis. Tangan kecilnya terulur keatas, seakan ingin dia menggapai langit yang dia tahu tidak akan dapat dia raih dengan tangan kotornya. Dengan tangan kecilnya ini dia sudah membuat malaikat pencabut nyawa bekerja lembur untuk mengambil nyawa yang melayang akibat perbuatannya. Dan kali ini nyawa salah satu rekannya yang ikut mencatatkan namanya di daftar buku milik malaikat pencabut nyawa. Itachi masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Konan sebelum ajal menjemputnya. Dia tersenyum, tidak ada satupun kilatan marah di kedua matanya. Tapi justru itulah yang membuat dada Itachi bergemuruh tidak nyaman. Rasa bersalah yang menghantuinya semakin menyakitkan saat dia mengingat senyuman terakhir Konan yang ditujukan untuknya. Harusnya Konan tidak bertingkah bodoh seperti itu, kenapa dia mengumpankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa Itachi.
"Bodoh."
Umpat Itachi sambil membaringkan tubuhnya diatas rumput. Mungkin tidur sejenak bisa menenangkan pikirannya.
"Wah, ada pangelan tidul!"
Itachi akan membuka matanya, namun diurungkannya saat merasakan tangan kecil menyentuh keningnya. Hangat, Itachi tidak tahu tangan siapa itu tapi dia merasakan nyaman saat tangan itu menyentuh kulitnya.
"Uhm, kata Kyuu-nii pangelan tidul itu balu bangun kalau dicium putli cantik. Tapi Nalu cantik tidak ya?"
Itachi ingin sekali tertawa mendengar monolog bocah cadel itu. Tapi dia tetap memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan tetap berpura-pura menutup matanya.
"Hihihi kata Gaala Nalu cantik cih. Bial pangelan tidul bangun, Nalu cium ya~"
Cup
Itachi langsung membuka matanya saat merasakan benda lembut yang menyapa bibirnya. Saat itulah dia melihat warna yang sewarna langit musim panas balik memandangnya dengan tatapan polosnya.
Kedip Kedip
"Waaah, pangelan tidul benal bisa bangun! Yeay Nalu pintal."
Itachi menyentuh bibirnya sendiri sambil mengingat tekstur lembut bibir bocah cadel bersurai pirang yang ada disampingnya.
"A-Apa yang kau lakukan?"
Bentak Itachi dengan nada tergagap. Sial, seumur hidup baru kali ini Itachi bicara dengan tergagap. Semua karena si bocah bersurai pirang dihadapannya. Well, kau juga masih bocah jika kau lupa Itachi-san.
"Nalu cium pangelan supaya pangeran bangun."
Jawaban polos itu membuat otak jenius Itachi berhenti bekerja. Disaat seperti ini dia justru tidak dapat mengatakan apapun. Semua kosakatanya mendadak melebur menyisakan lembaran kertas kosong. Sial.
"Namaku Naluto, panggil saja Nalu. Nama pangelan siapa?"
Bocah pirang itu mengulurkan tangn kecilnya pada Itachi. Si sulung Uchiha sempat terdiam sebentar sebelum membalas uluran tangan bocah pirang itu.
"Itachi. Uchiha Itachi."
Si pirang tersenyum labar, menampilkan bariaan giginya yang rapi. Itachi tanpa sadar ikut tersenyum tipis.
"Boleh Nalu panggil Tachi-nii?"
Itachi mengangguk. Dia membelai surai pirang bocah yang mengaku bernama Naluto itu dengan lembut.
"Jadi namamu Nalu?"
Si bocah pirang menggeleng. Bibirnya mengerucut lucu. Pipinya menggambung seperti bakpau. Menggemaskan.
"Bukan Nalu, tapi Nalllllu."
Itachi terkekeh mendengarnya. Melihat wajah si bocah pirang yang memerah karena berusaha mengucapkan huruf r dengan benar. Tapi tetap saja cadel.
"Maksudmu Naruto? berapa umurmu?"
Naruto mengangguk semangat. Dia lalu menghitung dengan jari kecilnya dan menunjukkan kesembilan jarinya pada Itachi.
"Kau satu tahu lebih muda dari aku, tapi kau masih cadel? dasar bocah."
Pletak
Itachi meringis saat kepalanya dijitak oleh seorang bocah cadel. Hampir saja Itachi akan meluapkan kekesalannya pada si pirang, tapi suara Kagami yang memanggilnya membuat Itachi mengurungkam niatnya.
"Ayo tuan muda."
Itachi berjalan mendekati Kagami. Saat akan melangkah pergi dia menoleh kearah si pirang.
"Urusan kita belum selesai, Naruto."
.
.
.
.
.
.
TBC
