Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Tumbuhlah seperti anak-anak pada umumnya. Lebih baik kamu tidak tahu apapun."

.

.

.

Bab 7 [ Kasih Sayang Seorang Kakak ]

Itachi memandang keluar jendela mobil. Melihat lalu lalang kendaraan yang dirasanya lebih menarik daripada berbincang dengan Kakashi yang sedang menyetir mobil. Tangan kecilnya tanpa sadar terulur kearah bibirnya. Rasa hangat yang biasanya hanya didapatkannya dari sang ibu kini bisa dirasakannya dari si bocah cadel bersurai pirang. Bukankah Itachi masih terlalu belia untuk mengenal apa itu rasa menyukai lawan jenis. Apakah ini hanya cinta monyet, jika memang ini cinta monyet kenapa terasa sangat nyata.

"Kita sudah sampai tuan muda."

Suara Kagami membuat Itachi tersadar dari lamunannya. Tangan kecilnya bergerak membuka pintu mobil, saat dia akan turun ucapan Kagami membuat pergerakannya terhenti.

"Apa ada hal bagus yang terjadi?"

Itachi memandang Kagami dengan tatapan 'Apa maksudmu?'. Kagami sendiri tersenyum penuh arti memandang tuan mudanya ini.

"Baru kali ini saya melihat anda tersenyum seperti tadi."

Itachi mendengus sebal mendengar penuturan Kagami. Dikedua pipinya ada semburat kemerahan yang membuatnya terlihat menggemaskan. Kagami sendiri seperti sedang berhalusinasi saat melihat pipi Itachi yang bersemu kemerahan.

"Urusai!"

Brak

Itachi langsung turun dari mobil dan menutup pintunya dengan keras. Melampiaskan kekesalahannya pada Kagami. Sementara Kagami sendiri terkekeh melihat tingkah tuan mudanya yang dirasanya sangat lucu. Baru kali ini dia melihat Itachi bersikap seperti itu, biasanya dia selalu bersikap dewasa dan selalu memasang wajah datar khas keluarga Uchiha. Kagami berpikir, siapa yang sudah membuat Itachi bisa menjadi hidup seperti ini. Siapapun orangnya, jika Kagami bertemu dengannya dia akan memberikan apapun yang diinginkannya. Yah, semoga saja Kagami tidak menarik ucapannya saat bertemu dengan si pirang. Karena bisa dipastikan si pirang akan memintanya mentraktir ramen sampai uang di kantongnya menipis.

.

.

.

.

.

.

.

Sesampainya di ruang keluarga, Itachi memandang sang ayah yang memandang tajam kearahnya. Baju dinas kepolisian yang dipakainya membuat wibawa seorang ayah semakin jelas terlihat. Tapi aura kemarahan itu sedikit membuat Itachi menciut. Bagaimanapun, Itachi masihlah anak-anak yang akan bergetar ketakutan saat melihat orang tuanya marah padanya.

"Duduk."

Itachi mengangguk. Dia berusaha bersikap senormal mungkin. Kemudian kakinya melangkah mendekati sang ayah dan mendudukkan dirinya di sofa. Bahkan sofa yang didudukinya terasa panas.

"Kau tahu apa kesalahanmu?"

Itachi mengangguk. Tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari bibirnya. Kepalanya tertunduk lesu dihadapan kepala keluarga Uchiha tersebut.

"Berapa yang kau inginkan?"

Itachi menelan salivanya susah payah. Kakinya terasa kebas hanya dengan mendengar pertanyaan ayahnya. Tapi jika dia tidak menjawab, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya padanya nanti. Yang jelas akan lebih buruk dari ini.

"50"

Fugaku –nama ayah Itachi mengangguk setuju. Dengan gaya angkuh dia berjalan menuju sebuah ruangan. Dibelakangnya Itachi mengekorinya dengan langkah perlahan. Kakinya terasa berat untuk kembali masuk keruangan itu.

.

.

.

.

.

Mikoto –Ibu Itachi memandang iba pada anak sulungnya. Diusianya yang masih belia dia harus mengalami hal seperti seberat ini. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu. Harusnya dia bisa melarang suaminya untuk melakukan ini pada anak kesayangannya. Tapi sifat keras kepala Fugaku membuat Mikoto menyerah. Pria yang sudah memberikannya dua orang anak itu tidak ingin dibantah dan semua ucapannya bersifat mutlak.

"Nii-chan, Sasu tadi belajar menggambar loh. Lihat gambar Sasu, bagus kan?"

Itachi mengelus kepala Sasuke -adik semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Dia memandang gambar yang ditunjukkan Sasuke padanya. Gambar keluarga yang bahagia, Itachi bisa melihat gambar seorang wanita yang dia yakini itu adalah ibunya, lalu ada gambar anak kecil bergender laki-laki yang memiliki tanda seperti keriput di kedua pipinya, itu pasti dirinya. Lalu ada anak kecil yang juga bergender laki-laki sedang tersenyum lebar, itu pasti Sasuke. Dan terakhir gambar seorang pria dewasa dengan wajah datar, itu jelas ayahnya. Digambar Sasuke, keempatnya saling berpegangan tangan. Keluarga yang harmonis.

"Bagus. Sasu memang berbakat."

Sasuke tersenyum lebar mendengar pujian Itachi. Tubuh kecilnya langsung menghambur ke pelukan Itachi. Dari kejauhan Mikoto melihat keakraban kedua anaknya hanya bisa tersenyum hangat. Setidaknya Itachi bisa tenjadi kakak yang baik untuk Sasuke. Dan hanya dengan Sasuke saja Itachi bisa menunjukkan ekspresi di wajah datarnya. Mikoto sama sekali tidak tahu jika ada satu orang lagi yang bisa membuat wajah datar Itachi bersemu kemerahan karena malu. Siapa lagi kalau bukan si pirang Naruto. Bocah cadel bersurai pirang yang hangat seperti matahari.

"Anak-anak waktunya makan malam."

Kedua mata Sasuke berbinar saat mendengar kata makan. Kebetulan cacing-cacing di perutnya sudah mengadakan konser akbar.

"Sasu mau disuapi nii-chan ya?"

Itachi mengangguk. Dia membuat gesture agar Sasuke berjalan ke ruang makan terlebih dahulu. Setelah Sasuke berlari menuju ruang makan, Itachi memandang kedua kakinya yang terbungkus celana hitam panjang, menyembunyikan luka melintang yang terasa sangat perih. Bahkan Itachi sendiri tidak yakin bisa berjalan dengan kondisi kaki seperti ini.

"Itachi, mau kaa-san gendong?"

Itachi tidak menyahut. Hanya pandangan penuh arti yang diberikan Itachi membuat Mikoto mengerti. Dengan

hati-hati dia menggendong anak sulungnya. Ingin sekali Mikoto menangis saat melihat wajah Itachi. Harusnya Itachi menangis mengadu padanya, bukan bersikap sok dewasa seperti ini.

"Maafkan kaa-san."

Itachi menggeleng. Tangan kecilnya merengkuh leher Mikoto, Itachi kecil tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia ingin sekali mengadu pada ibunya, bagaimana dia terguncang akibat kematian rekan satu timnya. Dia ingin menangis, tapi tidak ada satupun keinginannya yang menjadi kenyataan.

"Kenapa nii-chan digendong? Apa nii-chan sakit?"

Mikoto hanya tersenyum pada Sasuke. Setelah mendudukkan Itachi di kursinya, Mikoto duduk dihadapan Sasuke. Tangannya mengelus surai raven Sasuke dengan lembut. Ada pancaran rasa bersalah dari kedua onyxnya.

"Nii-san tidak sakit kok. Nii-san kan anak yang kuat. Sasu-chan jangan khawatir."

Sasuke mengangguk polos. Sama sekali tidak tahu apa arti pandangan ibunya dan juga apa yang sudah terjadi pada kakak kesayangannya. Biarlah seperti ini, lebih baik Sasuke tidak tahu apapun dan tumbuh sebagaimana anak-anak pada umumnya.

.

.

.

.

.

.

Itachi sebenarnya ingin tidur di apartemen yang dibelinya satu tahun yang lalu. Tapi diurungkannya niatan itu saat melihat Kakashi datang menjemputnya di bukit Konoha. Mau tidak mau dia harus kembali ke mansion Uchiha, dengan konsekuensi akan mendapatkan hukuman dari ayahnya. Fugaku memang seorang jendral kepolisian yang bertanggung jawab atas keberadaan pasukan khusus yang dipimpin oleh Itachi. Karena itulah dia akan mendidik

anak sulungnya itu agar menjadi pemimpin yang betanggung jawab. Bukan seorang pemimpin yang akan mendapatkan pangkat jika bawahannya pulang dalam keadaan cacat. Fugaku tidak ingin anaknya menjadi pemimpin banci seperti itu, karena itulah saat Itachi bersedia untuk menjadi pemimpin pasukan khusus, Fugaku dan Itachi membuat kesepakatan hitam diatas putih. Kesepakatan yang berisi sumpah Itachi yang akan menerima hukuman jika ada salah satu rekannya yang terluka akibat kelalainannya. Hingga akhirnya disinilah dia sekarang. Berbaring satu ranjang dengan Sasuke. Memandang wajah polos Sasuke yang sedang terlelap.

"Tumbuhlah seperti anak-anak pada umumnya. Lebih baik kamu tidak tahu apapun."

Bisik Itachi sambil membelai surai raven Sasuke. Senyuman tulus itupun kembali terlukis di wajah tampan Itachi.

Tok Tok

"Itachi apa kamu sudah tidur nak?"

Itachi segera memejamkan matanya. Berpura-pura tidur lebih baik daripada melihat wajah sedih ibunya. Itachi tidak tahu harus berbuat apa untuk menghapuskan kesedihan di kedua mata ibunya. Karena itulah lebih baik dia berpura-pura tidur.

Kriet

Terdengar suara pintu terbuka, setelahnya Itachi mendengar suara langkah kaki mendekat dan seseorang yang dia yakin ibunya kini duduk disampingnya. Tangan Mikoto membelai lembut surai raven panjang milih Itachi. Wajahnya berubah sendu saat matanya menatap kaki Itachi yang masih terbungkus celana panjang.

"Maafkan kaa-san Itachi."

Lagi, entah sudah berapa air mata yang tumpah dari kedua onyx Mikoto saat melihat kondisi Itachi. Tangisan tanpa suara itu cukup untuk membuat Itachi ikut merasa sedih. Digigitnya bibir bagian dalamnya untuk menekan suara tangisnya. Bisa dia rasakan tangan lembut Mikoto yang membuka celana panjangnya dengan hati-hati. Itachi sesekali meringis nyeri saat celana panjangnya menyentuh luka yang ada di betisnya.

"Astaga. Pasti ini sakit sekali bukan? kenapa kamu tidak mengadu pada kaa-san? maafkan kaa-san Itachi hiks sungguh maafkan kaa-san."

Tes.

Itachi tidak lagi bisa menahan laju air matanya. Walaupun dia sudah berpura-pura tidur dan menutup kedua kelopak matanya, tapi air mata itu tetap saja bisa lolos dengan mudahnya. Mikoto memandang ngeri luka lecet berwarna kemerahan yang terlihat masih baru. Berapa cambukan yang sebenarnya diterima Itachi. Kenapa bisa separah ini. Dengan berurai air mata Mikito mengolesi luka itu dengan salep. Sesekali Mikoto meniupinya agar salep itu segera meresap dan Itachi tidak terlalu merasakan perih akibat salep yang dioleskannya. Setelah selesai mengoleskan salep, Mikoto segera berdiri dan mencium kening Itachi dengan penuh sayang.

"Oyasumi Itachi."

Mikoto juga tidak lupa mengelus surai raven Sasuke dan mencium kenibg putra bungsunya.

"Oyasumi Sasu-chan."

.

.

.

.

.

.

Setelah memastikan ibunya sudah keluar dari kamar. Itachi kembali membuka matanya. Menampilkan sepasang onyx yang sewarna dengan langit malam. Dia memandang pintu kamar yang tertutup, senyum tulus mengembang di wajah tampannya.

"Arigatou. Oyasumi Kaa-san."

Kemudian diapun kembali menutup kedua kelopak matanya. Mencoba mencari jalan untuk dapat masuk ke dunia mimpi, dan melupakan sejenak beban yang dipanggul pundak kecilnya.

.

.

.

.

.

Itachi menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Tidak ada yang aneh memang, dia terlihat tampan dengan seragam sd bewarna biru laut. Tapi keanehan itu baru terlihat saat dia memandang kedua kaki kecilnya yang tampak menggembung aneh. Baru kali ini Itachi meruntuki celana pendek di seragam sdnya. Karena dengan kata lain luka di kedua betisnya akan terlihat, atau jika tidak akan bersinggungan dengan kaos kaki super panjang yang digunakannya. Dan kedua opsi itu tidak ada satupun yang akan menjadi pilihannya. Karena utulah dengan telaten Itachi membungkus kedua kaki kecilnya dengan kain kasa, lalu memakai kaos kaki hingga mencapai lutut. Rasa sakit di kedua kakinya juga sudah tidak terlalu terasa. Mungkin karena salep yang dioleskan ibunya semalam.

"Nii-chan ayo cepat, nanti kita terlambat loh!"

Suara Sasuke mengalihkan perhatian Itachi. Dengan gerapak cepat dia menyambar tas sekolah miliknya dan berlari kecil untuk menghampiri adik kecilnya. Well, padahal usia mereka hanya berbeda satu tahun, tapi kenapa Itachi suka sekali menganggap bahwa Sasuke masih berusia lima tahun. Dasar.

.

.

.

.

.

.

Sesampainya di kelas Itachi segera duduk di kursi yang menjadi tempat duduknya. Di belakangnya Kisame sudah memasang wajah penuh tanda tanya. Tatapan Kisame terarah pada sepasang kaki mungil Itachi. Apa Itachi baru saja tersengat ribuan tawon sehingga kakinya membengkak seperti kaki gajah begini? Mungkin saja.

"Aku tidak tersengat tawon. Hentikan pikiran konyolmu!"

Itachi berbicara tanpa melihat kearah Kisame, tangan kecilnya bergerak random untuk mencari buku novel yang ingin dibacanya. Kisame sendiri kini memasang wajah kagum, padahal Itachi sama sekali tidak melihat kearahnya tapi Itachi bisa menebak isi kepalanya dengan tepat.

"Apa kau bisa membaca pikiran?"

Itachi tidak menjawab, dia justru asik membaca novel berjudul 'Undercover'. Salah satu novel bergenre action yang sangat terkenal. Bahkan novel itu sudah diterjemahkan ke bergabagi bahasa yang berbeda. Tidak terkecuali Jepang. Tapi bukannya membaca versi bahasa Jepang, Itachi justru membaca novel dalam bahasa aslinya –Bahasa Inggris. Well, jika itu Itachi tidak ada kata tidak mungkin untuknya.

"Sial, dia mengabaikanku."

Gerutu Kisame sambil menendang kaki kursi Itachi. Membuat si pemilik kursi terhuyung kedepan. Itachi langsung menutup novel yang dibacanya dan menoleh kebelakang, menatap tajam Kisame yang masih memasang wajah –sok polos.

"Ah, ternyata didepanku ada orang ya? kupikir hantu."

Baru kali ini Itachi sadar. Kisame sama sekali tidak takut dengam aura membunuh yang dikeluarkannya. Bahkan dia masih bisa bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Itachi yakin, bahkan sensei yang akan mengajar di kelas mereka saja lebih memilih membolos saat merasakan aura membunuhnya. Juga jangan lupakan teman-teman sekelasnya yang memilih menjaga jarak secara teratur. Entah aura membunuh Itachi yang kurang mempan pada Kisame atau memang Kisame yang terlalu bebal. Siapa yang tahu.

.

.

.

.

.

.

.

Hari berlalu dengan cepatnya. Bel kebebasan sudah nyaring terdengar di seluruh gedung di sekolah dasar tempat Itachi menimba ilmu. Para siswa segera berhamburan keluar gedung dengan wajah gembira. Tapi tidak dengan Itachi. Si sukung Uchiha bahkan tidak juga beranjak dari tempat duduknya. Kepalanya tertunduk lesu, rasa nyeri di kakinya seakan membuatnya lumpuh. Dia bahkan tidak bisa merasakan apapun pada kedua kakinya.

"Hoi, kau tidak pulang bos?"

Itachi bahkan tidak bisa membalas ucapan Kisame yang secara langsung mengejeknya. Nafasnya terasa berat dan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

"S-Sakit."

Kisame yang awalnya akan kembali melontarkan ejekan untuk Itachi harus mengurungkan niatnya. Melihat bagaimana Itachi meringis kesakitan seperti itu langsung membuatnya cemas.

"Itachi, ada apa?"

Kisame menepuk pundak Itachi. Memastikan apa yang dikeluhkan oleh si pemilik raven panjang. Itachi sendiri mencoba mengeluarkan telephone miliknya dan menyerahkannya pada Kisame dengan tangan bergetar.

"C-Cepat telphone Tsunade-sensei."

Kisame langsung mengangguk. Tangannya bergerak lincah di atas layar handphone Itachi. Mencari dimana kontak Tsunade-sensei. Ah ketemu!

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Kisame mendengar suara seorang wanita di ujung telephone.

"Ada apa?"

Kisame melirik kearah Itachi yang masih meringis kesakitan.

"Bisa segera panggilkan ambulance? Itachi terlihat kesakitan sekarang, aku tidak tahu apa yang harus aku l-"

"Dimana Itachi sekarang?"

Kisame terlonjak saat mendengar teriakan wanita yang dia yakin bernama Tsunade tersebut. Tidak perlu berteriak bisa kan?

"D-Disekola-"

Tut tut tut

Kisame semakin ingin membanting ponsel Itachi saat itu juga. Dia bahkan belum menyelesaikan ucapannya dan Tsunade-sensei sialan itu sudah memutuskan sambungan telephone begitu saja. Tidakkah wanita itu belajar sopan santun. Bahkan Kisame yang masih siswa sekolah dasar saja tahu. Tapi saat melihat Itachi, rasa kesal itu menguap tanpa sisa. Kecemasan jelas tergambar di wajahnya. Dia mendudukkan diri disamping Itachi sambil menunggu Tsunade-sensei datang.

"Jangan mati secepat ini."

Itachi langsung melupakan rasa sakit dikakinya mendengar ucapan Kisame. Kepalanya terangkat dan memandang langsung pada Kisame yang menatap cemas kearahnya.

"Aku tidak akam mati secepat ini. Aku bahkan pernah koma selama satu bulan karena terkena lemparan granat."

Kisame tidak tahu harus mengatakan apa. Haruskah Itachi bangga dengan apa yang dialaminya. Lihat bagaimana Itachi berseringai menyebalkan. Tidak tahukah Itachi betapa cemasnya Kisame saat ini.

"Terserah."

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu. Disebuah ruang kelas IV-A, duduk seorang siswa bersurai raven dengan model melawan gravitasi. Sepasang onyxnya memandang keluar jendela, membayangkan akan makan apa dia nanti ketika sampai dirumah.

Tangan kecilnya mengetuk meja tidak sabar. Sudah setengah jam lebih dia menunggu sang kakak. Tapi kakaknya tidak juga menampakkan batang hidungnya. Tidak tahukah kakaknya bahwa cacing-cacing diperutnya sudah mengadakan konser besar-besaran.

Brak

Si raven menoleh saat mendengar suara pintu kelas dibuka dengan kasar. Kedua onyx nya melihat sesosok siswi diambang pintu. Sejenak suasana menjadi hening. Sasuke hanya melihat kepala si pelaku pembuka pintu yang menunduk untuk mengambil nafas. Saat kepala sosok itu terangkat dan pandangan mereka bertemu. Onyx Sasuke langsung membola, begitupun dengan sosok itu.

"Kau!"

.

.

.

.

.

.

TBC