Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
" Sial! Aku tidak bisa merasakan apapun."
.
.
.
Bab 8 [ Uchiha Sasuke ]
Sasuke POV
Hai, namaku Uchiha Sasuke. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aku memiliki kakak laki-laki bermana Uchiha Itachi. Aku sangat menyayangi kakakku. Bagiku Itachi-nii adalah sosok yang luar biasa, aku selalu bergantung padanya. Saat ayah memarahiku, nii-san akan berdiri di depanku dan membelaku tanpa takut. Nii-san adalah pahlawanku. Walaupun kami berbagi darah yang sama. Tapi aku kadang merasa nii-san sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa itu. Aku tidak tahu. Atau lebih tepatnya aku berpura-pura tidak tahu. Terkadang aku juga sering melihatnya sedang menatap mainanku dengan pandangan sedih. Aku sama sekali tidak tahu, kenapa nii-san seperti itu. Tapi aku baru sadar. Nii-san jarang sekali pulang kerumah. Saat kutanya dia mengatakan akan menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas. Yang membingungkanku adalah apa anak kelas enam sd sudah memiliki tugas sebanyak itu. Bahkan sekalipun aku tidak pernah melihat Itachi memegang mainan dan bermain seperti anak seusianya, kecuali jika dia sedang menjagaku. Terlalu banyak rahasia yang di sembunyikan oleh nii-san, tapi aku tahu dia pasti melakukan ini untukku. Jadi aku hanya bisa berpura-pura tidak tahu. Aku hanya perlu bersikap seperti Sasuke yang dikenal Itachi-nii saja kan? Ya, kurasa itu sudah lebih dari cukup.
.
.
.
.
.
Aku tidak pernah melihatnya menangis. Dia selalu memasang senyum malaikatnya saat sedang bersamaku. Dia adalah kakak yang baik, aku sadar itu. Tapi karena kebaikannya juga terkadang nii-san selalu bertindak bodoh dengan mengorbankan dirinya sendiri. Dia adalah malaikat dalam wujud manusia yang ku kenal. Dan kadang aku tidak bisa membedakan dia sebenarnya terlalu baik atau terlalu bodoh.
"Nii-san."
Panggilku tanpa suara. Aku tidak tahu apa yang sedang dialaminya. Tapi melihat nii-san terpuruk seperti ini mau tidak mau rasa sesak itu juga aku rasakan. Aku hanya bisa diam berdiri dibelakangnya, menatap punggungnya yang sejak tadi bergetar hebat. Tapi kenapa tidak ada isakan yang kudengar. Terlalu hening. Tapi justru itu yang membuatku takut. Keheningan ini membuatku bertanya. Sudah berada lama nii-san hidup seperti ini?
"G-Gomen."
Samar-samar ku dengar suara nii-san di antara keheningan ini. Suaranya tidak lagi selembut yang biasa kudengar. Suaranya bergetar nyaris tak terdengar. Nii-san apa yang terjadi sebenarnya? Tidak, apa yang sedang kau sembunyikan sebenarnya?
Sret
Eh?
Kenapa gelap sekali. Dimana nii-san? Aku dimana? Seseorang tolong jawab aku!
"Tumbuhlah seperti anak-anak pada umumnya. Lebih baik kamu tidak tahu apapun."
Itu suara nii-san. Aku harus menemukan jalan keluar, sial dimana aku sebenarnya! Apa yang aku lakukan disini? Tidak, kenapa aku bisa terjebak di tempat seperti ini! Nii-san tolong a-
"Itachi apa kamu sudah tidur nak?"
Are? Kaa-san? Aku bisa mendengar suara kaa-san. Kaa-san tolong aku! Aku terjebak disini!
"Maafkan kaa-san Itachi."
Kenapa Kaa-san meminta maaf. Apa Kaa-san berbuat suatu kesalahan. Apa Kaa-san tahu hal yang disembunyikan nii-san selama ini?
"Astaga. Pasti ini sakit sekali bukan? kenapa kamu tidak mengadu pada kaa-san? maafkan kaa-san Itachi hiks sungguh maafkan kaa-san."
Apa yang Kaa-san bicarakan sebenarnya? Apa yang terjadi pada nii-san. Kenapa seolah hanya aku yang tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini?
"Oyasumi Itachi."
Oyasumi? Ah, apakah aku sedang bermimpi?
"Oyasumi Sasu-chan."
Tiba-tiba cahaya terang menyilaukan datang. Aku tidak tahu darimana asal cahaya aneh itu. Karena itu adalah hal terakhir sebelun aku kehilangan kesadaranku.
Kedip Kedip
"Ah benar mimpi ternyata."
Gumamku saat melihat suasana kamar yang sangat aku kenal. Syukurlah jika itu hanya mimpi. Mata onyx ku bergulir kesamping, memandang sosok nii-san yang kini sedang tertidur pulas disampingku.
"Nii-san sangat tampan. Sayang berkeriput."
Gumamku tanpa suara. Aku menyentuh tanda lahir berupa sepasang keriput yang ada di kedua pipi nii-san. Ah, tapi kulitnya sangat lembut seperti bayi. Padahal kupikir kulit wajah nii-san kaku karena dia jarang menunjukkan ekspresinya. Konyol.
Eh?
Kenapa ada jejak air mata di pipi nii-san. Apa nii-san menangis?
"Nii-san baik-baik saja kan?"
.
.
.
.
.
.
Pagi harinya aku bangun lebih dulu. Dan aku melihat kaki nii-san yang terluka parah. Astaga pasti sakit sekali!
"N-Nii-san apa yang nii-san sembunyikan sebenarnya?"
Tanyaku dengan suara berbisik. Semoga nii-san tidak terbangun karena suaraku.
"Jam berapa sekarang?"
Aku langsung menutup mataku saat kudengar suara nii-san. Aku bisa merasakan ranjang kami yang berderit akibat pergerakan nii-san. Walaupun aku tahu dia pasti sudah sangat berhati-hati untuk tidak membangunkanku.
"Sial! Aku tidak bisa merasakan apapun."
Kudengar Itachi-nii mengumpat kasar. Kubuka mataku secara perlahan, hal yang pertama yang kulihat adalah sosok nii-san yang duduk memunggungiku. Dia tampak kesusahan saat membalut kakinya dengan kain kasa. Tidak kah itu akan lebih menyakitkan?
"Selesai."
Kulihat nii-san mencoba untuk berdiri. Tapi gagal, kakinya sepertinya mengalami kebas hingga membuatnya susah berdiri dengan tegak. Tapi dia terus berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Hingga akhirnya dia berhasil berdiri walaupun harus berpegangan pada dinding kamar. Nii-san berjalan tertatih menuju kamar mandi. Sesekali aku bisa mendengar suara ringisan nii-san yang terdengar memilukan. Tapi nii-san tidak menyerah, dia terus memaksakan diri untuk berjalan menuju kamar mandi.
Tes
Air mataku mengalir begitu saja. Aku merasa gagal sebagai seorang adik. Jangankan membantu nii-san, tahu masalah apa yang dihadapinya saja tidak.
"Sasuke bangun!"
Suara kaa-san langsug menyadarkanku. Kuusap air mataku dan segera turun dari kasur.
"Sasu sudah bangun kaa-san. Ini mau mandi!"
Sahutku sambil menyambar handuk yang biasa kugunakan dan berjalan masuk kedalam kamar mandi yang berada di sebelah kamar mandi yang dipakai nii-san. Selesai dengan keperluanku. Aku langsung turun kebawah untuk sarapan. Meninggalkan Itachi-nii yang sejak tadi masih mengunci diri didalam kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan sebenarnya.
"Nii-chan ayo cepat, nanti kita terlambat loh!"
.
.
.
.
.
Seperti biasa. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku akan menunggu nii-san datang menjemput. Tapi kenapa lama sekali? Ini sudah setengah jam berlalu sejak bel pulang sekolah di bunyikan. Kenapa nii-san tidak datang juga? Tidak tahukah nii-san kalau perutku sudah mengadakan konser besar-besaran sekarang ini?
Tap tap tap
Ah suara langkah kaki. Pasti nii-
BRAK
eh?
Bukan, perempuan itu bukan Itachi-nii. Surai pirangnya berkibar terkena belaian angin. Dia tampak kesusahan dalam mengatur nafasnya, ah benar juga dia kan kesini dengan berlari. Pasti capek. Saat kepalanya terangkat dan kedua bola sapphirenya bertemu pandang denganku. Onyx ku membola begitupun dengan perempuan itu.
Deg
Perasaan apa ini?
"Kau!"
Dia menunjukku dengan jari telunjuknya. Wajahnya terlihat kesal, pipinya menggembung lucu, seperti kue dango kesukaan nii-san.
"Ah, tunggu dulu siapa namamu tadi? Ah Nalu lupa lagi!"
Siswi bersurai pirang yang menyebut dirinya Nalu itu mengacak kesal surai pirangnya.
"Sasute? Sasate? Ah siapa sih?"
Aku terkekeh melihat siswi pirang itu. Dia itu polos atau bodoh, mengingat nama orang saja tidak bisa.
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Sisiwi itu langsung mengangguk setuju. Lalu dia melangkah masuk kedalam kelasku. Tanpa menunggu
persetujuanku, siswi itu kini sudah duduk dibangku yang berada di hadapanku.
"Namaku Naluto. Panggil saja Nalu."
Aku mengerutkan kening. Naluto? Aneh sekali namanya.
"Nalu? Nama yang aneh."
Well, sepertinya aku tidak harus mengatakannya secara langsung.
"Bukan Nalu tapi Nalllu."
What? Maksudnya Naru kah? Haha sudah sebesar itu tapi masih saja cadel. Memalukan.
"Ah iya! Nalu sampai lupa, tadi Saso-nii bilang kamu pulang sama Nalu saja. Tachi-nii sedang ada ulusan."
Ada apa lagi dengan nii-san?
"Kalau begitu ayo pulang! Aku sudah lapar."
Aku langsung mengambil tasku dan berjalan keluar kelas. Tidak aku pedulikan suara Naruto yang berteriak minta ditunggu.
"Apa nii-san baik-baik saja?"
Gumamku tanpa sadar.
"Pangelan itu baik-baik saja kok. Tenang saja!"
Hampir saja aku memekik kaget saat mendengar suara seseorang disampingku. Astaga, cepat sekali anak ini berlarinya. Seingatku dia masih tertinggal jauh.
"Pangeran?"
Siswi pirang itu mengangguk semangat.
"Uhm. Tachi-nii itu pangelan tidulnya Nalu. Nanti Nalu halus menikah dengan pangelan. Dan kau akan jadi adik ipalku."
Apa tadi katanya? Menikah? Adik ipar? Astaga bocah ini masih juga sekolah dasar sudah berpikir sejauh itu.
"Aku tidak mau punya kakak ipar cadel sepertimu."
Pletak
"Ittai! Kenapa kau memukulku?"
Naruto menggelengkan kepalanya. Berpose seperti orang dewasa. Sama sekali tidak sesuai dengan wajah anak-anak miliknya.
"Adik ipal itu halus sopan sama kakak ipal."
Argh bisa gila aku jika berdekatan dengan bocah kuning ini.
"Terserah kau saja. Aku lapar!"
.
.
.
.
.
TBC
