Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

" Sial! Aku tidak bisa merasakan apapun."

.

.

.

Bab 9 [ Peringatan Pertama ]

"Kenapa baru sekarang menghubungiku?"

Omelan Tsunade-sensei sejak tadi sukses membuat telinga Kisame berdenyut panas. Kenapa hanya dia yang disalahkan. Memangnya Kisame itu walinya. Mereka hanya teman satu kelas yang kebetulan juga rekan satu tim. Walaupun berbeda pangkat tapi tetap saja mereka bekerja di satu sisi yang sama. Harusnya Tsunade menyalahkan orang tua Itachi yang tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Tunggu, tidak kah ini ganjil? Seingatnya Itachi tidak menderita luka apapun di kakinya. Bagaimana dia bisa mendapatkan luka separah itu. Apa mungkin dia mendapatkan luka itu karena hal lain?

"Kau mendengarku kan?"

Tanya Tsunade memastikan. Karena sejak tadi Kisame tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Bocah ini tidak sedang mengacuhkanku kan?

"Sensei, bukan kah ini aneh?"

Tanya Kisame mendramalisir keadaan. Dia melirik kearah ruang rawat Itachi yang kini dalam kondisi steril. Setiap dokter ataupun perawat yang masuk harus menggunakan baju khusus berwarna biru. Hal ini untuk mencegah berkembangnya bakteri yang terlanjur tumbuh pada bekas luka di kaki Itachi. Bahkan si sulung Uchiha belum juga membuka matanya. Mungkin efek dosis obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan padanya sebelum operasi di mulai.

"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya bocah? Aku ini sibuk tahu!"

Nenek lampir ini tidak pernah merasakan tajamnya samehada –nama pedang Kisame yang diberikan oleh Itachi. Batin Kisame jengkel.

"Saat operasi dilakukan, Itachi tidak mengalami luka apapun. Tapi saat tadi pagi aku melihat ada bekal luka mengerikan di kedua kakinya."

Tsunade mengangguk. Dia menepuk pundak Kisame lalu duduk menyejajarkan tingginya dengan bocah sd yang sudah melewati masa dewasa sebelum waktunya.

"Ini bukan pertama kalinya Itachi dalam keadaan kritis. Bahkan dulu dia pernah koma selama tiga bulan karena melanggar aturan Uchiha-san."

Kisame memiringkan kepalanya ke kiri. Gagal paham atas penjelasan Tsunade.

"Aku tidak mengerti. Apa Uchiha-san yang sensei maksud itu Fugaku-sama? Kenapa dia tega sekali pada Itachi? Bukankah Itachi itu anaknya sendiri?"

Waw! Tsunade hampir saja memberikan apresiasi berupa standing applouse untuk keberanian Kisame menjelek-jelekkan seorang Fugaku. Kepala keluarga Uchiha yang terkenal dengan sisi gelapnya. Yang membuat banyak musuhnya bertekuk lutut di bawah kuasanya.

"Yah, dia memang bukan sosok ayah yang baik. Tapi aku yakin dia pasti memiliki alasan untuk yang dia lakukan pada Itachi."

Kisame menggeleng. Bibirnya mengerucut lucu.

"Itu bukan untuk kebaikan Itachi. Itu hanya untuk mempertahankan egonya sendiri. Kenapa orang dewasa begitu menakutkan?"

Tsunade meringis prihatin mendengar ucapan Kisame. Baginya Kisame jauh lebih mengerikan. Bagaimana bisa bocah yang belum lulus sekolah dasar bisa berpikir sejauh itu.

"Kau akan paham saat kau menjadi dewasa."

Kisame menggeleng. Tatapannya berubah tajam, seolah yang dikatakan Tsunade adalah sebuah kesalahan.

"Aku tidak mau menjadi dewasa!"

Sret

Tsunade mengelus puncak kepala Kisame. Membelainya lembut untuk membuatnya nyaman.

Bagaimanapun Kisame masihlah anak-anak. Ada beberapa stage yang tidak dapat dipahaminya dengan usianya saat ini. Sekalipun dia memaksakan diri untuk bisa berpikir dewasa.

"Menjadi dewasa tidak semengerikan itu kok. Asalkan kau bisa melihat batasan-batasan yang ada. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku."

Ada sesuatu dalam diri Tsunade yang tertawa kencang mendengar ucapannya sendiri. Batasan kah? Bukankah dia sendiri telah melewati batasan itu hingga semuanya menjadi seperti ini? Dia juga ternasuk orang dewasa yang gagal kan? Tapi kenapa dia memberikan wejangan pada bocah sd seolah dia adalah orang dewasa yang berhasil melewati masa dewasa tanpa melanggar batasan-batasannya? Tidakkah itu terdengar lucu?

.

.

.

.

.

.

"Hoi bos, kapan kau mau membuka matamu?"

Tanya Kisame bosan. Itu adalah pertanyaan ke sepuluh yang telah dia ajukan pada Itachi.

Tapi tetap saja tidak ada jawaban yang di dapatkannya. Itachi masih setia menutup matanya.

"Nalu tidak mau disuntik nii-chan~"

Telinga Kisame langsung memasang mode 'menguping' saat mendengar suara anak yang kurang lebih dikenalnya. 'Bukankah itu suara Naru? Kenapa dia ada disini? Bagaimana dengan Sasuke?' Begitulah pertanyaan yang muncul di kepala Kisame saat ini. Karena seingatnya dia telah meminta Sasori untuk menyuruh Naru menemui Sasuke dan mengajak bungsu Uchiha itu pulang ke rumah. Tapi kenapa dia bisa ada disini?

'Kriet'

Ah!

Hampir saja Kisame menjerit kaget saat mendengar pintu kamar rawat Itachi di buka oleh seseorang. Bukan, lebih tepatnya di buka oleh bocah cadel bersurai pirang yang sempat ada di dalam otaknya.

"Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana dengan Sasuke?"

Ssst

Naruto meletakkan jari telunjuknya di depan bibir mungilnya. Meminta Kisame untuk memelankan suaranya. Sepasang bola sapphirenya melirik ke belakang, waspada jika 'nii-san' yang membawanya kesini akan sadar kalau dia sudah menghilang dari jangkauannya.

"Ah pangelan tidul!"

See? Dia yang menyuruh Kisame untuk diam tapi kini justru suaranya jauh lebih nyaring dari suara Kisame. Dasar bocah!

"Pangelan tidul kenapa tidul disini?"

Kisame hampir saja tidak bisa menahan tawanya saat melihat perjuangan Naruto untuk naik keatas kursi yang ada di sisi kanan ranjang Itachi. Sekarang si pirang cadel sudah berhasil duduk disamping ranjang Itachi, dengan wajah sedih dia memandang Itachi yang masih tidak mau membuka matanya.

"Keliputmu semakin jelas saja hehehe tapi tidak apa deh pangelan tidul tetep ganteng kok!"

Kenapa semakin lama Naruto bertingkah seolah tidak ada orang lain di ruangan ini.

Drt drt drt

"Ada apa?"

Suara Kisame menggema. Tapi sama sekali tidak berhasil menarik perhatian Nalu dari sosok Itachi.

"Kau ada dimana? Biar aku kesana."

Sambungan telephone itu terputus. Kisame berjalan mendekat kearah Naruto.

"Hoi bocah, aku pergi dulu. Tolong jaga Itachi sebentar!"

Naruto mengangguk kecil. Tetap tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Itachi. Kisame hanya bisa menggeleng tidak habis pikir. Lucu juga sebenarnya melihat Naruto yang bertingkah seperti istri Itachi saja. Tunggu, Naruto tidak benar-benar jatuh cinta pada Itachi kan?

.

.

.

.

.

Setelah kepergian Kisame, Naruto masih memasang ekspresi sedihnya. Dia tidak suka melihat pangeran tidurnya –Itachi tidur di ranjang rumah sakit seperti ini.

"Apa Nalu halus mencium pangelan tidul lagi supaya pangelan tidul mau bangun?"

Tanya Naruto entah pada siapa. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya tapi tiba-tiba saja wajahnya berubah cerah. Kepalanya mengangguk semangat, seolah ide yang dicetuskannya adalah ide yang brilian dengan kemungkinan kegagalan kurang dari nol koma satu persen.

"Uh kenapa tinggi sekali."

Gerutu Naruto saat mencoba naik keatas ranjang tempat tidur Itachi. Setelah berusaha keras untuk dapat naik ke ranjang tempat Itachi terbaring tidak sadarkan diri, Naruto bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.

"Akhirnya! Nalu hebat hihihi!"

Naruto dengan polosnya mendekatkan wajahnya kearah wajah Itachi hingga bibir mungilnya bertemu dengan bibir Itachi. Hanya sekilas sebelum Naruto mengangkat kembali kepalanya, harusnya begitu sebelum –

Sret

Eh?

Kedua mata Naruto berkedip lucu saat merasakan ada tangan yang memaksanya kembali mendekatkan wajahnya kearah Itachi.

Cup

Dan Naruto bisa merasakan bibir Itachi membentuk sebuah lengkungan saat bibir kecilnya berada diatas bibir Itachi.

"Naru ayo sekarang gi –"

Hening.

Baik Sasori ataupun Kisame sama-sama terdiam ditempat. Haha, ini pasti halusinasi!

"Kau tidak sedang melihat apa yang aku lihat kan?"

Tanya keduanya hampir dalam waktu yang bersamaan.

"Cepat selamatkan Naru!"

Seru Sasori panik sambil berlari mendekat kearah Naruto yang masih tidak sadar akan kehadirannya.

Sret

Sasori langsung menggendong Naruto dan memisahkan paksa dari pangutan Itachi.

Oh astaga! Kyuubi –nama julukan untuk kakak Naruto bisa menggantungnya hidup-hidup kalau tahu kesucian bibir adik kesayangannya sudah di renggut oleh Itachi.

"Loh Sasoli-nii kenapa ada disini?"

Tanya Naruto dengan nada polosnya. Seolah apa yang dilakukannya bersama Itachi beberapa saat yang lalu bukanlah sebuah kesalahan.

"Kenapa Naru diam saja dicium oleh bocah itu?"

Tanya Sasori berusaha menahan emosinya. Dia melirik kearah Itachi yang masih menatap kosong kedepan, sama sekali tidak menghiraukan icuan Kisame yang mengomel seperti ibu-ibu yang mendapati anaknya telah berbuat asusila. Oke, tidakkah itu terdengar berlebihan?

"Apa salahnya? Nanti Nalu kan jadi istlinya pangelan tidul?"

What?

Itachi langsung menoleh kearah Naruto. Pandangannya terlihat berbinar penuh harap. Ekspresi yang tidak pernah Sasori ataupun Kisame lihat selama ini. Jadi, apakah Itachi juga telah terkena serangan cinta monyet pada Naruto? Secepat ini?

"Iyakan pangelan tidul?"

Itachi tanpa sadar mengangguk. Menyetujui ucapan Naruto.

"Kisame, katakan ini cuma mimpi hahaha sepupuku menikah dengan bosku sendiri? Ini gila!"

Kau yang lebih gila jika aku boleh berkata jujur. Batin Kisame yang melihat Sasori berlaku out of character seperti ini. Sepengetahuannya Sasori itu anak yang kalem dan cool. Tidak disangka dia bisa mrmasang ekspresi bodoh seperti saat ini.

"Ayo kita keluar!"

Seru Sasori sambil berjalan cepat keluar dari ruangan Itachi dengan Naruto yang berada di gendongannya. Dia harus menyelamatkan sepupu pirangnya sebelum si rubah –Kyuubi mengamuk karena tahu dia telah lalai menjaga kesucian bibir Naruto.

.

.

.

.

.

.

Itachi tersenyum tipis saat mengingat tekstur lembut bibir Naruto. Tanpa sadar dia menyentuh bibirnya sendiri dan membayangkan lagi saat bibir mungil Naruto menyapa permukaan bibirnya.

"Berhenti tersenyum seperti seorang maniak! Sama sekali tidak cocok dengan wajah datarmu!"

Protes Kisame yang gerah melihat Itachi tersenyum sendiri sejak tadi.

"Kisame. Apa aku harus melamar si cadel pirang itu?"

Uhuk

Kisame buru-buru mencari air mineral untuk mengurangi rasa terkejutnya akibat ucapan Itachi.

"Kau pikir berapa umurmu ha? Lulus sd saja belum sudah berpikir akan melamar anak orang!"

Omel Kisame persis seperti ibu-ibu. Kalau dipikir-pikir memang Kisame selalu menjaga Itachi seolah Itachi itu adalah anaknya sendiri bukan? Dari seluruh rekannya di tim hanya Kisame yang bisa membaca makna ucapannya dengan baik.

"Berhenti berpikir seolah aku ini ibumu!"

Tuh kan? Kisame bisa membaca pikirannya tanpa meleset. Apa mungkin Kisame pernah belajar cara membaca pikiran orang lain.

"Sudah kubilang aku tidak bisa membaca pikiranmu, hentikan pikiran konyol itu sekarang juga atau kupatahkan kedua kakimu!"

Psst, Itachi berusaha menahan tawanya. Ekspresi Kisame entah kenapa selalu berhasil untuk menghiburnya. Dan kalau boleh berkata jujur ini adalah kali pertama Itachi bisa tertawa selepas ini. Seolah tidak ada beban yang dipanggul kedua pundak kecilnya.

.

.

.

.

.

.

Setelah dirawat dirumah sakit selama hampir tiga hari. Akhirnya Itachi di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Selama di rawat di rumah sakit dia mengaku sedang mengerjakan tugas kepada Sasuke sehingga harus menginap di apartemennya selama satu pekan penuh. Sedangkan pada kaa-sannya Itachi mengaku sedang membahas strategi menggagalkan transaksi Hebi pada akhir pekan ini di teluk Jepang. Jadi dia tidak bisa pulang kerumah selama sepekan ini.

"Bahkan sampai kau keluar dari rumah sakit, tidak ada satu keluargamu yang datang berkunjung."

Itachi mengangkat bahu acuh. Baginya lebih baik jika tidak ada satupun anggota keluarganya yang datang. Atau dia akan kembali melihat wajah khawatir ibunya. Satu hal itu yang paling dia hindari.

"Aku masih memiliki mu kan? Jadi tidak masalah."

Kisame merinding mendengar ucapan Itachi. Dia langsung berjalan menjauh dari Itachi dan menjaga jarak seaman mungkin.

"Bukan begitu maksudku!"

Protes Itachi ketika melihat pandangan jijik Kisame yang ditujukan untuknya.

"Aku masih menyukai si cadel pirang itu kalau kau lupa!"

Kisame memasang ekspresi curiga. Tapi kemudian dia berjalan mendekat kearah Itachi dan mendorong lagi kursi roda Itachi.

"Kudengar si cadel itu terus saja merengek untuk bisa menjengukmu lagi."

Itachi langsung menajamkan telinganya. Mendengar kata cadel entah kenapa sudah berhasil membuat hatinya berdesir aneh.

"Benarkah?"

.

.

.

.

.

Tatapan selidik itu masih Kisame tujukan kepada Sasori. Peduli setan mengenai sopan santun pada senior. Baginya Sasori kini tidak lebih dari seorang serigala licik yang sedang menyerahkan domba kecil polos kepada kawannya sesama serigala.

"Jadi pangelan tidul itu suka dengan dango ya?"

Suara Naruto kembali terdengar. Di apartemen Itachi yang tidak dapat dikatakan kecil, suara si pirang menjadi satu-satunya suara dominan.

"Begitulah."

Dan sesekali suara berat Itachi akan ikut menyahut ucapan atau lebih tepatnya kicauan si pirang.

"Kalau Nalu sudah jadi istli Itachi-nii, Nalu bakal bikinin kue dango setiap hali deh!"

Sasori meringis mendengar ucapan Naruto. Darimana sepupu kecilnya itu mengenal kata 'istri'. Ah pasti dari Kyuubi, dasar kakak durhaka!

"Seperti aku mau menjadikan bocah cadel sepertimu menjadi istriku saja!"

Tolong siapapun katakan apa yang di dengar Kisame dan Sasori itu hanya halusinasi. Sejak kapan Itachi menyembunyikan bakat menggoda cewek seperti itu? Astaga! Mereka masih terlalu 'bocah' untuk membahas ikatan 'dewasa' seperti pernikahan!

"Halus mau pokoknya! Nalu tidak mau tahu!"

Protes Naruto dengan nada kesal. Pipi si pirang menggembung lucu sambil sesekali matanya menatap tajam kearah Itachi.

"Iya iya, aku janji! Dasar bocah!"

Kau juga masih bocah kalau kau lupa bos! Seru kedua rekan Itachi yang kini memandang gemas kearahnya. Tentu saja itu hanya di dalam batin mereka. Hell no! Mereka masih sayang nyawa untuk mengatakannya secara langsung. Sama saja dengan bunuh diri!

.

.

.

.

.

"Kau yakin akan menitipkan Naruto disini?"

Pertanyaan yang sama Kisame ajukan untuk kesekian kalinya. Berusaha meyakinkan Sasori untuk mengurungkan niat nistanya yang akan menyerahkan Naru ke predator sesungguhnya.

"Naruto sendiri yang meminta."

Dan entah kenapa Kyuubi yang mengidap siscom itu mengizinkan Naruto tinggal di apartemen Itachi tanpa merasa curiga sedikitpun. Lanjut Sasori dalam hati. Jujur saja sebenarnya dia juga berat meninggalkan sepupu cadelnya bersama Itachi. Bukan karena apa, tapi Itachi itu bocah aneh yang dewasa terlalu cepat. Bagaimana kalau Itachi menodai kepolosan Naruto. Oh tidak!

Tapi bayangan kemarahan Kyuubi karena dia menolak keinginan Naru segera mengubur dalam-dalam rasa cemasnya pada Naruto. Selamatkan nyawamu dulu baru pikirkan nyawa orang lain! Meskipun Kyuubi sampai sekarang tidak pernah lagi pulang ke Jepang, tapi dia bisa saj bertindak nekat jika mendengar kabar buruk mengenai Naruto. Tidak, Sasori akan berusaha sebaik mungkin menjaga Naruto dibandingkan harus menangangi kemarahan Kyuubi yang kadang berlebihan jika sudah menyangkut adik tercintanya.

"Jadi kau akan menginap disini?"

Tanya Itachi to the point. Tidak ada basa-basi sama sekali. Naruto mengangguk semangat. Dia membingkai wajah bulat Itachi dengan tangan kecilnya.

"Nalu akan jaga pangelan sampai sembuh!"

Hangat.

Itachi merasakan kehangatan yang memabukkan saat mendengar penuturan Naruto.

"Naru, aku pulang sekarang. Ingat pesanku, kalau dia melakukan hal yang aneh segera hubungi aku!"

.

.

.

.

.

.

Sepeninggal Kisame dan Sasori. Naruto segera berlari menuju dapur, tangannya dengan terampil menyiapkan bahan-bahan makanan mentah yang di dapatkannya dari kulkas Itachi.

"Apa yang kau lakukan?"

Naruto menoleh kebelakang. Tersenyum cerah saat melihat keberadaan Itachi yang tidak jauh dari posisinya saat ini.

"Memasak. Kata Gaala istli yang baik itu halus bisa masak."

Pft

Itachi tertawa mendengat penuturan polos Naruto. Dia membuat gesture agar Naruto mendekat kearahnya. Dengan polosnya si pirang mengangguk dan berjalan –ralat berlari menghampiri Itachi.

Tuk

"Ittai!"

Pekik Naruto saat jidatnya di sentil oleh Itachi.

"Kenapa menyentilku?"

Itachi tersenyum tipis. Lupa bahwa dia harus selalu memasang wajah tanpa ekspresi yang menjadi ciri khasnya. Tapi hanya pada Naruto Itachi bisa dengan leluasa melepaskan topeng yang melekat pada dirinya selama ini.

"Tidak perlu bisa memasak. Kau masih kecil bocah! Lebih baik temani aku di ruang baca."

Tanpa menunggu jawaban Naruto, Itachi sudah mengarahkan kursi roda yang digunakannya untuk menuju kearah sebuah ruangan khusus yang dia jadikan perpustakaan pribadinya. Naruto yang melihat Itachi berlalu meninggalkannya, segera mematikan kompor dan mengekor Itachi dari belakang.

.

.

.

.

.

.

Ting tong

Suara bel terdengar nyaring di apartemen Itachi. Tapi tidak ada tanda-tanda Itachi yang akan membukakan pintu. Membuat bel itu berbunyi terus tanpa henti. Menyerah karena tidak ada jawaban. Akhirnya terdengar suara seseorang memasukkan pin.

Klik

Dan pintu itupun terbuka. Menampilkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik. Mata onyxnya menyapu kesekeliling apartemen Itachi, berusaha mencari keberadaan si sulung yang sudah hampir lima hari ini tidak pulang ke rumah.

"Itachi?"

Panggil Wanita itu setelah meletakkan bingkisan yang di bawanya diatas meja makan.

Sret

Eh?

Sejak kapan Itachi menyukai boneka rubah berekor sembilan?

Grrr

Wanita itu terlonjak kaget mendengar geraman dari arah ruang baca. Dengan meningkatkan kewaspadaan akhirnya dia memutuskan untuk memerika apa yang ada di ruang baca apartemen Itachi.

Kriet

Wanita itu membuka pintu ruang baca dengan sangat perlahan. Melangkah masuk kedalam, dan pemandangan yang ada dihadapannya sama sekali tudak pernah masuk ke dalam hayalannya. I-ini tidak mungkin kan?

"KYAAAA!"

.

.

.

.

.

TBC