Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Apa Kau lapar?"

.

.

.

Bab 10 [ Peringatan Diterima ]

Wanita paruh baya itu segera membungkam mulutnya sendiri. Oh tidak jangan sampai makhluk itu menyadari keberadaannya. Atau mungkin besok tidak akan ada lagi wanita di keluarga Uchiha.

"Eng, siapa sih belisik banget?"

Suara serak Naruto terdengar. Si cadel pirang itu mengucek matanya dengan gaya yang imut. Tidak sadar jika nyawanya berada dalam bahaya sekarang.

"Jangan bergerak!"

Loh. Itu bukan suara Itachi. Lalu siapa?

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan hampir saja dia memekik saat melihat makhluk itu sedang mencoba mengendus setiap sudut ruangan. Beruntung sebuah tangan yang dia yakin milik Itachi membekap mulutnya.

Grrr

Geram makhkuk buas itu lagi sambil mencoba mencari sesuatu di ruangan tersebut.

"K-kenapa dia ada disini?"

Tanya Naruto dengan nada berbisik. Dia hampir kehilangan kesadaran saat makhluk itu berjalan mendekat kearahnya.

"Dia buta."

Ujar Itachi sambil mencoba untuk mendekati makhluk itu dengan hati-hati. Itachi hanya tahu cara menjinakkan serigala normal, bukan serigala buta seperti ini, oh dan ingatkan Itachi untuk memberikan pelajaran pada siapa saja yang telah mengirimkan hewan buas ini ke apartemennya. Itachi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa potong daging segar. Tangan Itachi terulur untuk memberikan daging segar yang di bawanya pada serigala kelaparan itu. Itachi meringis ngeri saat melihat darah segar yang mengalir dari dua rongga mata serigala malang tersebut.

"Apa kau lapar?"

Serigala itu mengeram di sela-sela kegiatannya memakan daging segar yang di berikan Itachi.

"Matamu pasti sakit kan? Setelah ini aku akan membawamu ke rumah sakit."

Serigala itu kembali mengeram. Ekornya telah kembali rileks saat Itachi membelai bulu halus serigala tersebut. Serigala itu tidak lagi dalam kondisi siaga. Itachi tahu itu.

.

.

.

.

.

FLASBACK

.

.

.

.

.

"Ah Nalu suka buku itu!"

Seru Naruto saat Itachi mengambil buku bersampul biru langit. Binary kebahagiaan terlihat jelas di kedua bola musim panas itu. Bisa melihat ekspresi itu di wajah Naruto rasanya sudah membuat Itachi bahagia. Si pirang sangat ekspresif, dia akan menunjukkan berbagai ekspresi sesuai dengan apa yang dia rasakan. Berbanding terbalik dengannya yang hanya bisa menahan semua yang dia rasakan seorang diri. Hidup dibawah didikan Uchiha Fugaku telah membuatnya menjadi anak yang dingin dan tidak tersentuh. Itachi tahu itu, karena itu dia merasa harus memiliki si pirang untuk dirinya.

"Kau mengerti isi buku ini?"

Naruto mengangguk. Surai pirangnya bergerak lucu. Tangannya terulur, meminta Itachi memberikan buku itu padanya. Itachi tidak bisa untuk menolaknya.

"Dasar bocah."

Naruto memajukan bibir mungilnya saat Itachi lagi-lagi menyebutnya bocah. Bibir kecilnya mengomel tidak beraturan, memprotes Itachi yang selalu saja memanggilnya bocah.

"Pangelan tidul itu hanya beda satu tahun dali Nalu jadi belhenti memanggilku bocah. Uh menyebalkan."

Itachi tanya terkekeh ringan mendengar omelan Naruto. Tapi setidaknya Itachi tidak cadel kan?

Bruk

Itachi menoleh saat mendengar suara benda jatuh. Tidak keras tapi entah kenapa perasaannya mendadak cemas. Suara itu jelas dari luar pintu apartemennya, dan seingatnya dia tidak memiliki tetangga di apartemen ini, jadi satu-satunya penjelasan adalah ada penyusup yang mencoba masuk kedalam apartemennya. Sial, kenapa harus disaat Naruto berada di apartemennya.

"Naru aku ke dapur dulu. Diam disini dan jangan mengikutiku."

.

.

.

.

.

Itachi mendengar suara geraman saat dia akan kembali keruang baca. Jelas sekali itu suarag geraman hewan buas, kali ini dia yakin jika yang sedang berada diluar adalah anak buah dari Orochimaru. Siapa lagi orang gila yang dengan beraninya mengirim hewan buas ke apartemennya.

"Sial!"

Itachi segera mengarahkan kursi rodanya kearah lemari pendingin untuk mengambil beberapa potong daging segar lalu bergegas kembali ke ruang baca. Tidak ada salahnya berjaga-jaga.

"Naru a-"

Ucapan Itachi terhenti saat mendengar dengkuran halus dari si pirang. Ah, bocah cadel itu tertidur rupanya. Itachi mengarahkan kursi rodanya menghampiri Naruto. Memandangi wajah polos Naruto yang entah sejak kapan bisa membuat hatinya berdesir menyenangkan.

Tap

Itachi berusaha menahan nafasnya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Itachi bisa saja menembak mati mereka dalam hitungan detik, tapi tidak untuk saat ini. Ada Naruto di apartemennya. Terlalu beresiko. Dia tidak ingin Naruto melihatnya mengangkat senjata, itu adalah yang terburuk dari yang paling buruk.

'Grr.'

Ck sial!

.

.

.

.

"Itachi?"

Itu suara ibunya. Oh great! bertambah lagi satu penghalang untuk Itachi menembak mati hewan buas itu sekarang.

Kriet

"Kyaaa!"

Itachi langsung membuat gesture agar ibunya berhenti berteriak. Dia berusaha menenangkan sang ibu dengan bahasa non verbal. Tidak mau membuat suara sekecil apapun yang akan memancing sifat agresif hewan buas itu.

"Eng siapa sih belisik banget?"

Itachi hampir saja menepuk jidat saat tahu si pirang kini sudah membuka matanya. Dia tidak bisa berkutik saat ini.

"Jangan bergerak."

Itachi langsung membekap mulut Naruto saat si pirang akan membuka suaranya. Teriakan ibunya tidak ada apa apanya di bandingkan teriakan Naruto. Dan Itachi tidak mau mereka mati konyol karena hewan itu panik mendengar suara jeritan si pirang.

.

.

.

.

FLASHBACK END

.

.

.

.

"Kenapa ada serigala di apartemenmu?"

Tanya Mikoto –sang ibu kepada Itachi. Setelah membawa serigala itu kerumah sakit untuk di obati, Mikoto langsung memberondong Itachi dengan berbagai pertanyaan.

"Aku tidak tahu kaa-san. Mungkin mereka ingin balas dendam."

Mikoto langsung memeluk Itachi dan berusaha menenangkan putra sulungnya tersebut. Walaupun terlihat baik-baik saja, tapi Mikoto yakin sebenarnya Itachi syok dengan kejadian ini. Tangannya saja sampai bergetar ringan saat Mikoto memegangnya. Hanya dia berpura-pura dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Mikoto tahu, dia sama sekali tidak baik-baik saja saat ini.

"Kaa-san akan bilang pada tou-san untuk mengganti posisimu. Kaa-san tidak mau lagi melihat nyawamu terancam seperti ini."

Itachi menggeleng. Bibirnya dalamnya dia gigit untuk menahan suara gemulutuk yang berasal dari barisan giginya. Jika dia akan diganti, kemungkinan besar orang yang akan menjadi penggantinya adalah Sasuke. Dia tidak mau Sasuke ikut mengorbankan masa kecilnya. Dia ingin Sasuke tumbuh dewasa seperti anak-anak normal lainnya. Hanya itu.

"Kaa-san jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri."

.

.

.

.

.

.

Sementara itu di apartemen Itachi, Naruto masih saja menangis sesegukan di pelukan Sasori. Setelah kejadian itu Itachi langsung menelfon Sasori dan memintanya menjaga Naruto selama Itachi pergi ke rumah sakit hewan bersama ibunya.

Klik

"Dimana seligalanya?"

Tanya Naruto saat melihat Itachi pulang tanpa membawa serigala yang sempat membuat heboh apartemen Itachi. Itachi tersenyum tipis, dia mengarahkan kursi rodanya kearah Naruto. Mengelus pucuk surai pirangnya dengan lembut.

"Dia di penangkaran hewan. Kondisinya kritis."

Itachi memberikan kode agar Sasori membawa Naruto pulang kerumahnya. Sasori hanya mengangguk singkat. Tidak ada satu katapun yang bisa dia ucapkan sekarang. Kejadian ini benar-benar di luar ekspetasinya. Tidak menyangka bahwa mereka akan balas dendam secepat dan segila ini. Ah! Tidak ada yang tidak mungkin untuk kelompok gila itu.

"Sasori, Jam 5 sore jangan terlambat. Saatnya berburu tikus got."

Sasori hanya mengangguk tanpa suara. Dia memandang Itachi khawatir, apa benar sulung Uchiha itu baik-baik saja sekarang?

Tbc