Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, TOBI POV, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

Lalu, apakah mata-mata sepertiku bisa mati secara terhormat. Sepertinya tidak.

.

.

.

Bab 12 [ Kisah yang Terlewatkan ]

Flashback sebelum kematian Konan

Ada satu hal yang terlupakan. Seolah dia tidak ada. Tertimbun oleh rentetan kejadian yang terjadi tanpa jeda. Tapi dia ada. Sebagai dalang untuk semua kejadian yang ada.

Apa yang kau pikirkan tentang rekan satu tim? Seseorang yang akan berjuang bersama denganmu. Atau seorang yang akan berdiri di baris yang sama denganmu. Atau bahkam seseorang yang akan menggerogotimu dari dalam seperti benalu?

"Fail Transaction."

Laki-laki misterius di ujung telephone itu terkekeh. Asap tembakau mengepul dari kedua lobang hidungnya. Pandangannya menerawang jauh. Menyusun drama picisan yang mungkin bisa ditulisnya sebagai ucapan terimakasih untuk kegagalan yang akan di dapatkannya.

"Siapa targetnya?"

Suaranya berdesis seperti ular.

"Konan."

Tut

Sambungan itu terputus.

"Konan ka? Hm, menarik."

.

.

.

.

.

.

"Jadi apa kalian menjalin hubungan khusus?"

Uhuk

Yahiko tersedak. Segera diraihnya air mineral yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Matanya melirik tajam kearah Tobi yang hanya memasang seringai jahil andalannya.

"Jangan membahas hal konyol seperti itu. Berikan saja hasil pengintaianmu pada kami. Dasar!"

Konan tidak menyahut. Matanya seolah terpaku pada sosok Tobi yang sejak awal mencurigakan. Tidak ada latar belakang. Kehidupannya terlalu bersih, tapi kenapa dia bisa mencium bau kematian yang kental dari laki-laki itu.

"Apa kau benar berasal dari panti asuhan?"

Tobi mendelik tidak suka. Kenapa harus membahas mengenai masa lalunya sekarang.

"Hei apa salahnya berasal dari panti asuhan. Kau meragukanku ya?"

Konan menggeleng. Sikutnya bergeser menyentuh tangan Deidara yang justru asik berkelana ke alam mimpi. Bisa-bisanya laki-laki cantik itu tidur disaat seperti ini.

"Kenapa kau malah tidur di tengah rapat?"

Bentak Konan saat melihat Deidara menguap tanpa dosa sambil mengucek kedua bola matanya.

"Oh ayolah, aku itu bukan bagian perencanaan un. Jangan libatkan aku, kepalaku bisa meledak un."

Tobi tertawa mendengar protes Deidara dengan suara serak. Laki-laki bersurai pirang itu entah kenapa tidak terlihat seperti laki-laki normal. Wajahnya terlalu er... cantik?

"Kalau aku tidak normal pasti aku sudah suka padamu Dei-senpai~"

Deidara langsung bergerak menjauh dari jangkauan Tobi yang memasang seringai jahilnya -lagi. Oh ada apa dengan otak anak ini? Batinnya.

"Aku normal tahu. Aku suka perempuan dengan body gitar spanyol!"

Yahiko tertawa.

"Kau yakin? Tubuhmu saja sudah seperti gitar spanyol. Kurasa kau cocok dengan wanita dengan model bulat."

Pletak

"Kenapa kau memukul kepalaku!"

Deidara menjulurkan lidahnya. Jari telunjuknya mengarah ke Konan.

"Aku menyukai Konan. Puas kau!"

Yahiko mendelik tidak terima. Konan itu hanya miliknya. Tidak ada yang boleh melirik konannya. Cam kan itu!

"Hahaha kalian lucu sekali!"

Konan melirik Tobi yang masih tertawa terpingkal-pingkal melihat pertengkaran konyol Deidara dan Yahiko. Apa itu lucu? Sepertinya tidak.

"Cepat selesaikan rapat ini. Aku lelah."

.

.

.

.

.

"Itachi. Ada yang ingin aku bicarakan."

Itachi menoleh. Tidak biasanya perempuan ini datang secara sendiri ke apartemennya. Terlebih di tengah malam. Itachi juga laki-laki kalau Konan lupa. Walaupun Konan sudah menganggap Itachi seperti adiknya sendiri, tapi tetap saja jika Yahiko tahu bisa menimbulkan masalah nantinya. Itachi hanya tidak mau Yahiko berpikir tidak-tidak mengenai kedekatan Konan dengannya.

"Kurasa waktuku sudah tidak lama lagi."

Prang

Gelas yang dipegang Itachi terhempas membentur lantai. Memotongnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tidak berbentuk. Tidak bisa diperbaiki lagi.

"Apa maksudmu?"

Konan menarik kursi meja makan Itachi. Dan menghempaskan tubuhnya diatas kursi. Sorot mata keibuan yang selalu membuat Itachi nyaman ketika melihatnya. Itachi adalah anak tertua, tapi terkadang dia berpikir bagaimana rasanya memiliki kakak yang bisa diandalkan. Dan Konan adalah jawabannya. Dia juga telah menganggap Konan sebagai kakaknya sendiri.

"Hanya firasat perempuan kurasa. Hei, kenapa wajahmu pucat begitu?"

Itachi berjalan menghampiri Konan. Tangan kecilnya terulur membelai surai biru Konan dengan lembut. Menyampaikan kekhawatirannya yang tiba-tiba datang tanpa diminta.

"Aku akan melindungimu."

Bibir Konan bergerak membentuk lengkungan tipis. Tapi kemudiam wajahnya berubah menjadi datar.

"Siapa saja yang tahu lokasi apartemenmu?"

Gerakan tangan Itachi terhenti.

"Kau mencurigai seseorang?"

Konan mengangkat bahu. Dia melirik televisi Itachi yang berada di sudut ruangan.

"Aku selalu merasa diawasi ketika berkunjung ke apartemenmu."

Itachi mengangguk.

"Aku tahu. Tapi biarkan saja, mereka tidak akan mendengar pembicaraan kita. Aku sudah menyuruh Tobi menghack sistemnya."

Sret

Konan mencengkram kedua lengan Itachi.

"Kau menyuruh Tobi melakukannya?"

Itachi mengangguk. Apa Itachi melakukan kesalahan? Kenapa wajah Konan semakin terlihat pucat.

"Setelah kematianku. Kau berhati-hatilah. Mungkin saja kau target selanjutnya."

.

.

.

.

.

"Khukhukhu dia wanita yang menarik."

Tobi tidak menjawab. Pikirannya melayang tanpa terkendali. Berbagai kemungkinan menari-nari didalam otaknya.

"Kurangi jumlah transaksi."

Tobi tahu. Dia bukanlah orang baik. Dia hanya mata-mata rendahan yang dibayar dengan sesuap nasi. Tapi kenapa dadanya terasa sesak mengingat akan ada satu rekannya yang akan menghembuskan nafas terakhirnya. Bukankah dia sendiri yang mengusulkan rencana ini?

"Apa yang kau pikirkan Tobi-kun?"

Tobi menggeleng. Menolak untuk mengemukakan kegelisahan yang mendobrak rongga dadanya. Rasanya menyakitkan ketika Konan memandangnya penuh rasa curiga, tapi perempuan itu tetap tidak melakukan apapun untuk melacak masa lalunya. Dia meskipun curiga, tapi dia tidak ingin memastikan kebenarannya. Apa mungkin karena dia ingin percaya pada rekan satu timnya. Cih, dia hanya mata-mata rendahan yang bahkan tidak tahu, mana timnya sebenarnya.

"Ah untuk transaksi ini bisa kau memimpinnya, Kabuto-kun."

Laki-laki bernama Kabuto itu menegang.

"Kudengar kau sudah membuatku rugi di transaksi sebelumnya. Mungkin ini saatnya menebus hutangmu."

Kabuto mengangguk ragu.

.

.

.

.

-Hari pemakaman Konan-

.

.

.

.

"Konan, kenapa kau harus pergi secepat ini?"

Tobi memandang punggung Yahiko yang terlihat menyedihkan. Berbanding terbalik dengan punggung Itachi yang tampak kokoh. Bocah raven itu terlihat kuat. Tapi apa yang dia pikirkan saat ini. Bukankah dia sudah tahu bahwa Konan akan menjadi 'korban' dari misi mereka. Tapi tidak ada ekspresi apapun yang di tunjukkannya. Terlalu datar.

"Aku akan membalas kematianmu!"

Membalaskan kematian Konan? Yang benar saja. Mungkin lebih tepat jika dia mengatakan 'Aku akan menyerahkan nyawaku pada mereka!'.

"Maju satu langkah lagi. Aku pesankan batu nisan dengan ukiran namamu diatasnya."

Tobi tersenyum miring. Onyxnya melirik kearah Yahiko yang jatuh terduduk diatas tanah. Menyedihkan.

"Kau pikir aku tidak akan melakukan apapun? Berpikirlah dengan jernih, jangan asal menyodorkan nyawamu pada tikus got seperti mereka."

Tobi memandang takjub sosok Itachi yang menurutnya terlihat keren saat ini.

"Matilah dengan terhomat, jangan mati sebagai pecundang. Gunakan otakmu untuk menggerakkan ototmu, jangan menggunakan otot tanpa menggunakan otakmu. Mengerti?"

Lalu apa mata-mata sepertinya bisa mati terhormat? Sepertinya tidak.

TBC