Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, TOBI POV, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
"Hanya satu orang dari kalian yang bisa selamat. Bunuh atau dibunuh. Pilihan ada di tanganmu, Obito-kun."
.
.
.
Bab 13 [ Tobi ]
Flashback sebelum Naruto di apartemen Itachi
"Sepertinya Itachi sudah mencurigaimu."
Tobi mengangguk ragu. Pandangannya terfokus pada layar lcd yang menampilkan reka ulang percakapan Itachi dan Konan. Sejak awal memang Konan sudah mencurigainya. Tapi dia tidak tahu kalau firasat perempuan bersurai biru itu bisa setepat ini. Bahkan perempuan itu tahu kalau waktunya tidak lama lagi. Perempuan dan firasatnya memang mengerikan.
"Apa kau memiliki rencana?"
Tobi tersentak saat melihat seekor rubah menghampirinya. Sejak kapan laki-laki itu memelihara rubah?
"Ah kenalkan, dia anggota baru kita. Aku menyelamatkannya dari pemburu liar."
Tobi mendengus jijik melihat senyum laki-laki itu. Apa dia sedang membanggakan kebaikannya sekarang? Malang sekali nasib rubah itu, selamat dari penjahat tapi masuk ke kandang iblis, ck ck.
"Bagaimana kalau kita kirimkan rubah manis ini sebagai hadiah kematian Konan? Anggap saja bentuk belasungkawa."
Laki-laki itu menggendong rubah itu dan membelainya kasar.
"Apa aku harus memintamu untuk kedua kalinya, Obito-kun."
.
.
.
.
- Sebelum Naruto datang ke apartemen Itachi -
.
.
.
.
"Apa kau sudah meng-hack sistem keamanannya?"
Tobi mengangguk. Dihadapannya terbuka banyak terminal dengan baris kode yang terus bertambah secara cepat. Di satu layar terlihat proses pemindahan data yang hampir mencapai angka 99%.
"9765"
Laki-laki misterius itu terkekeh. Ditepuknya pundak Tobi, bangga dengan kinerja laki-laki muda itu.
"Pastikan kamera cctv tidak berfungsi."
Tobi memutar bola matanya bosan.
"Kau pikir aku bodoh?"
Laki-laki misterius itu tertawa mendengar jawaban ketus Tobi.
"Kau memang menarik Obito-kun."
.
.
.
.
-Dia apartemen Itachi -
.
.
.
.
'Bruk'
"Hei pelan-pelan dasar bodoh!"
Bisik seorang laki-laki misterius sambil melirik kearah pintu apartemen Itachi.
"Cepat keluarkan rubah buluk itu."
Laki-laki lain yang sejak tadi membawa sebuah keranjang misterius mengangguk. Dibukanya penutup kain di keranjang itu dan mengeluarkan seekor rubah yang sedang dalam keadaan tidak sadar.
"Berikan aku guntingnya."
Laki-laki kedua itu mengulurkan gunting berukuran besar kepada laki-laki pertama.
"Tutup saja matamu."
Laki-laki kedua mendengus sebal lalu berjalan pergi meninggalkan laki-laki pertama.
"Maafkan aku, Rubah-san."
Crot
'Grrr'
Laki-laki itu segera menutup moncong si rubah saat rubah itu akan mengeram. Satu bola mata rubah itu telah tersangkut di gunting yang di colokkan ke matanya.
Crot
'Grrrr'
Dan begitupun dengan bola matanya yang lain.
"Kau monster silver-san."
Laki-laki itu terkekeh. Dia melihat dua bola mata rubah itu yang kini sudah dalam keadaan tak berbentuk.
"Aku akan menjaga kedua matamu. Sekarang cepat jalankan tugasmu. Rubah-san."
Laki-laki kedua itu sudah membuka pintu apartemen Itachi dan mempersilahkan rubah itu untuk masuk kedalam.
"Selain monster kau juga gila!"
Cemoohan laki-laki kedua itu tidak membuat laki-laki pertama yang bersurai silver tersinggung.
"Aku anggap itu pujian Dolpin-san."
.
.
.
.
- Setelah Itachi pulang dari rumah sakit -
.
.
.
.
"Baiklah karna semua anggota sudah lengkap aku akan mulai rapatnya."
Tobi mengangkat tangannya. Onyxnya memandang awas keseluruh anggota tim. Sepertinya ada beberapa orang yang belum menunjukkan dirinya dirapat kali ini.
"Kemana Deidara dan Yahiko?"
Itacho memandang Tobi tajam. Bahunya terangkat, seokah tidak peduli. Tapi onyxnya jelas menunjukkan siratan kecurigaan yang dialamatkan padanya.
"Kisame jabarkan rencana kita."
Kisame mendelik tidak suka. Dia memang orang yang paling dekat dengan Itachi, tapi itu bukan alasan yang tepat untuk selalu menyuruhnya ini dan itu.
"Kau selalu bertingkah seperti bos. Dasar menyebalkan!"
Sasori tertawa mendengar protes Kisame yang terdengar kekanakan. Well, dia memang masih anak-anak.
"Aku memang bosnya disini. Bukan begitu Tobi-san?"
Deg
Tobi terdiam ditempat. Apa aku sudah ketahuan? Kenapa pandangan Itachi seolah ingin mengulitiku hidup-hidup. Dia tidak akan membunuhku kan?
"Aku tidak akan membunuh rekan satu timku sendiri. Tenang saja."
Tobi tersentak. Mata onyxnya bergerak gusar. Dia tidak pernah segugup ini sebelumnya. Bahkan laki-laki itu saja tidak pernah berhasil membuatnya mati kutu seperti ini, semua perkataannya hanya gertakan sambal. Tidak berefek apapun. Tapi kenapa Itachi yang notabene seorang bocah yang belum lulus SD bisa membuat dia tersudutkan seperti ini.
"Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk membunuhmu. Kecuali kau secara sengaja membunuh orang yang aku lindungi. Kupastikan aku akan membunuhmu dengan tangan kosong, memaksamu memohon kematian padaku terdengar lebih menyenangkan sepertinya. Ingat itu Tobi-kun. Ah, ini juga untuk kalian berdua, aku tidak akan memberikan ampunan pada pengkhianat. Kalian mengerti?"
Sasori memutar bola matanya. Siapa juga yang akan berkhianat? Dia tidak akan pernah melakukan hal buruk itu. Tidak untuk menghiantai orang yang sudah menyelamatkan kehidupannya.
"Kau berani mengancamku? Aku bisa saja membuat Kyuubi melarangmu berhubungan dengan Naruto."
Uhuk
Itachi segera meraih gelas berisi air putih yang tidak jauh dari jangkauannya. Menghabiskannya dalam satu kali tenggak.
"Ah apa maksudmu calon nyonya Uchiha itu?"
Sahut Kisame sambil mengerling jahil kearah Itachi. Rasakan itu!
"K-kau kenapa ikut membahas si cadel itu?"
Plok plok
"Wah bahkan dia memberikan panggilan sayang untuk calon istrinya. Romantis sekali."
Hilang sudah wibawa Itachi saat ini. Lupakan Tobi yang terpaksa tertawa canggung menghadapi guyonan yang di lontarkan Sasori dan Kisame untuk membully Itachi.
.
.
.
.
.
"Kita mau kemana un? Bukankah sekarang ada rapat un?"
Deidara merengut kesal. Tangannya terasa kram dan kakinya juga sudah hampir mencapai batasnya. Tapi kenapa laki-laki orange ini tidak juga berhenti menyeretnya seperti menyeret sapi kurban. Dia bisa berjalan sendiri.
"Hah, akhirnya sampai."
Deidara mendongak. Membaca tulisan berukuran besar yang ada di dinding kaca bangunan megah dihadapannya. Uchiha Mall.
"Kenapa kau membawaku kesini un?"
Yahiko tidak menjawab. Dia menyeret –lagi Deidara untuk masuk kedalam bangunan itu.
"Ganti warna rambutnya dan bisa kau permak sedikit wajah jeleknya ini?"
Deidara mendelik tidak suka. Wajah jelek dia bilang? Huh, yang benar saja. Dasar otak mesum maniak Konan!
"Mari ikut saya nona."
Deidara menghela nafas.
"Aku laki-laki. Sekali lagi kau memanggilku nona kuledakkan kedua oppaimu. Mau?"
Pletak
"Ya! Kenapa kau memukulku un!"
Yahiko tersenyum canggung. Dia melirik pegawai wanita itu yang tampak mengambil jarak aman dari Deidara.
"Dia memang gila. Jangan anggap serius ucapannya."
Deidara mendecih. Tadi jelek sekarang dia di bilang gila. Apa Yahiko memiliki dendam pribadi padanya?
.
.
.
.
Setelah memakan waktu selama hampir lima jam akhirnya Deidara datang menghampiri Yahiko.
Tap tap tap
Bletak
"Aw k-kau siapa?"
Yahiko memandang sosok perempuan cantik dihadapannya. Rambutnya dipotong pendek hampir menyerupai potongan laki-laki. Ada tahi lalat di sudut kiri matanya. Bibirnya dipoles lipstik berwarna magenta menggoda. Kedua pipinya bersemu karena olesan blush on.
"Sialan kau! Apa yang kau lakukan pada rambutku ha?"
Doeng
Yahiko menepuk jidatnya. Penampilannya boleh saja seperri bidadari jatuh dari surga. Tapi suaranya tetap saja Deidara.
"Kau dan suara cemprengmu memang kombinasi yang pas."
Sret
Deidara mengambil amplop hitam yang di berikan Yahiko padanya. Tidak lama kedua manik hitamnya membola.
"Jadi begitu?"
Yahiko mengangguk.
"Baiklah. Kalau memang ini perintah Itachi aku akan menjalankannya dengan baik un."
Yahiko tersenyum lalu mengacak surai hitam Deidara.
"Jangan sampai terluka. Aku tidak mau kehilangan rekanku lagi karena kelompok bajingan itu."
Plak
Deidara menampik tangan Yahiko dari rambutnya. Rasanya aneh mendengar seseorang yang bergender sama denganmu mengatakan kata-kata seperti itu. Sekalipun mulai saat ini dia akan bertindak sebagai wanita, tapi tetap saja dia laki-laki tulen yang menyukai wanita.
"Mau kupatahkam tanganmu un? Sudahlah aku akan berangkat sekarang."
Sret
"Apa lagi?"
Yahiko menggandeng tangan Deidara dan menuntunnya keluar dari gedung.
"Kita ditugaskan bersama. Aku juga akan menyusup kesana."
Dan menjadi umpan untuk kesuksesan misi. Lanjut Yahiko.
.
.
.
.
-Saat Itachi SMP -
.
.
.
.
"Yo!"
Seorang guru bersurai coklat mendengus kesal. Kenapa dari sekian banyak misi dia selalu dipasangkan dengan laki-laki beruban ini?
"Ada urusan apa Kakashi-sensei?"
Laki-laki bersurai silver itu berjalan mendekat. Mendudukkan dirinya diatas meja kerja guru bersurai coklat yang kini memandangnya tajam. Senyuman ganjil di wajahnya tidak juga hilang.
"Kau pasti senang ditugaskan bersamaku. Mengaku saja."
Guru bersurai coklat itu menggeleng. Sebaliknya, justru dia muak harus menghadapi jalan pikiran laki-laki silver itu. Dia sendiri kadang bingung, apa memang tidak ada sisi kemanusiaan yang ada di dalam otaknya. Dia bisa dengan begitu mudah mengangkat senjatanya tanpa memikirkan nyawa orang lain. Monster, begitulah laki-laki bersurai coklat itu memberikan julukan padanya.
"Dalam mimpimu sensei. Permisi aku ada kelas."
Sret
Guru bersurai coklat itu menatap tajam tangannya yang ditahan oleh Kakashi.
"Jangan lupa misimu Iruka-sensei."
Guru bersurai coklat itu mendengus.
"Apa aku pernah menggagalkan misi?"
Kakashi menggeleng.
"Karena itulah kau yang ditunjuk untuk menjinakkan perempuan itu. Kau dan sifat keibuanmu sangat cocok dengan misi seperti ini."
Injak
Kakashi meringis ngilu saat kaki kanannya di injak dengan tenaga kuda oleh Iruka.
"Sepertinya kau sudah bosan hidup, Kakashi-sensei."
.
.
.
.
.
"Iruka-sensei~"
Iruka menoleh kebelakang. Disana dia melihat seorang siswi bersurai pirang yang berlari menghampirinya.
"Ohayou sensei."
Iruka tersenyum lalu mengacak pucuk rambut si pirang.
"Ohayou, apa ada kabar bagus? Wajahmu terlihat cerah."
Naruto mengangguk semangat. Senyuman itu tidak juga luntur dari wajah cantiknya. Hati Iruka menghangat melihat senyuman secerah matahari itu.
"Nanti sepulang sekolah aku mau kencan loh tehee."
Cubit
"Jangan lupa mengerjakan tugasmu. Jangan pulang terlalu malam. Dan jangan melakukan hal yang tidak sesuai dengan umurmu. Mengerti?"
Naruto mengangguk. Lalu bibirnya kembali melengkung membentuk senyuman lebar.
"Aku akan memberikan Iruka-sensei oleh-oleh. Bagaimana dengan boneka dolpin? Kurasa itu ide yang bagus."
Pletak
"Sensei kenapa memukulku?"
Iruka menunjuk jam di tangannya.
"Ah aku lupa nanti kelasnya si ero-sensei. Aku pergi dulu Iruka-sensei. Jaa ne!"
Tap tap tap
Iruka menghela nafas. Melirik kebelakang, laki-laki bersurai silver itu kenapa masih saja mengikutinya. Tidakkah dia ada kelas sekarang?
"Apa ero-sensei yang dia maksud itu aku?"
Iruka tidak menjawab. Guru bersurai coklat itu kembali melanjutkan perjalannya. Tidak peduli pada sosok Kakashi yang masih diam ditempatnya.
"Jangan lupa dengan tugas awalmu. Dolpin-san."
.
.
.
.
.
- Di markas Hebi -
.
.
.
.
"Dira-san, bos ingin bertemu denganmu."
Perempuan bersurai hitam legam itu menghela nafas lelah. Tidak kah laki-laki tua itu setidaknya memberikannya waktu untuk istirahat.
"Aku akan kesana."
Perempuan itu memakai kontak lens berwarna hitam untuk menutupi manik birunya. Entah kapan misi ini akan berakhir. Ah, bahkan sampai sekarang dia tidak bisa menghubungi Yahiko. Itachi juga tidak pernah lagi menghubunginya. Apa sekarang dia dibuang oleh kelompoknya sendiri. Perempuan itu adalah Deidara. Sudah kurang lebih dua tahun dia menjalankan misi untuk menyusup ke kelompok menjijikkan ini. Dalam waktu singkat dia bisa menjadi tangan kanan bos besar. Walaupun dia harus menghabisi ribuan nyawa untuk membeli kepercayaan bos besar. Tidak apa, asalkan misinya sukses dan dia bisa mendapatkan lagi identitasnya sebagai laki-laki. Itu sudah lebih dari cukup.
"Anda memanggil saya Orochimaru-sama?"
Deidara merasakan lidahnya gatal saat menyebut nama bos besar. Entah keberuntungan atau kesialan yang membuat bos besar memperbolehkannya memanggilnya dengan nama asli. Nama itu terdengar seperti nama maniak di telinganya.
"Aku menemukan penyusup di kelompok kita."
Deg
Deidara berusaha tenang. Dia tidak boleh membuat pergerakan yang mencurigakan.
"Benarkah?"
Orochimaru menunjuk pintu coklat yang berada di samping meja kerjanya.
"Aku sudah memberinya pelajaran tapi dia tetap menutup mulutnya. Cih, keras kepala."
Deidara memandang pintu coklat itu penasaran. Tidak mungkin Yahiko kan? Dia tidak akan tertangkap semudah itu kan? Tidak. Walaupun ceroboh, Yahiko tidak senekat itu bukan?
Glep
"Bunuh dia. Dan hapus jejaknya seperti biasa."
Deidara mengangguk. Tangannya menerima pistol yang diberikan Orochimaru dan berjalan masuk kedalam pintu coklat tersebut.
Tap
Tap
Tap
Setiap langkah kakinya Deidara terus berdo'a. Semoga bukan Yahiko. Si idiot orange itu tidak mungkin tertangkap semudah ini.
"Kau datang?"
Tapi sepertinya keberuntungan tidak sedang dalam genggamannya.
"Jadi kau penyusupnya?"
Kenapa kau bisa tertangkap. Dasar bodoh!
"Apa wajahku terlihat seperti penyusup?"
Ya. Tentu saja kau bahkan tidak memakai penyamaran apapun. Kau mau menyusup atau menyerahkan nyawa?
"Wajah kadang menipu."
Yahiko terkekeh. Kedua matanya sudah tidak mampu lagi terbuka. Tapi dia yakin, seseorang yang berdiri dihadapannya adalah Deidara. Semoga saja Deidara bisa membuat keputusan yang tepat.
"Apa kau akan membunuhku?"
Kau gila! Kenapa kau membuatku berada di posisi sulit seperti ini?
"Aku akan melepaskanmu kalau kau mau mengatakan siapa yang menyuruhmu."
Ini yang terakhir. Deidara janji ini yang terakhir kali dia membual di hadapan Yahiko.
"Hei kau, tinggalkan kami berdua. Aku yang akan mengurusnya."
Seorang penjaga yang sejak tadi berdiri di belakang Deidara mengangguk, lalu berjalan pergi meninggalkan Deidara dan Yahiko.
"Aku akan melenyapkanmu."
Yahiko mengangguk. Ya, memang begitulah seharusnya.
"Terimakasih Dei. Aku berhutang nyawa padamu."
Dor
Satu identitas hilang bersama suara tembakan diruangan kedap suara itu.
.
.
.
.
Flashback
.
.
.
.
"Kalau mereka mengusikmu, aku pasti akan membantumu."
Tidak ada jawaban dari Itachi.
Diam-diam seorang yang berdiri barisan paling belakang menyeringai, setelah menguping pembicaraan Itachi dan Kisame secara sengaja.
"I got you Uchiha."
.
.
.
"Naruto desu, aku tidak menyangka kita akan satu sekolah!"
Sasuke menatap uluran tangan Naruto. Sedikit ragu tapi akhirnya disambutnya uluran tangan si pirang. Padahal ini bukanlah pertemuan pertama mereka, kenapa keduanya bertingkah seolah mereka baru saja bertemu. Jawabannya adalah karena trauma yang dialami oleh Sasuke akibat kejadian 'itu' dan efek kekurangan Naruto dalam mengingat orang yang menjadi masalah utamanya.
"Mohon bantuannya senpai."
Naruto mengibaskan tangannya.
"Kita seumuran. Panggil saja Naruto. Itachi-senpai sering menceritakanmu."
Sasuke mengangguk ragu. Ya, mereka memang seumuran. Seharusnya Sasuke juga berada di kelas yang sama dengan si pirang. Tapi kejadian 'itu' memaksa si bungsu Uchiha untuk cuti selama satu tahun penuh untuk memulihkan keadaannya.
"Apa kau sudah sembuh. Ku dengar dari Itachi-nii tulang rusukmu patah karena perampokan satu tahun yang lalu."
Sasuke mengangguk ragu. Perampokan kah? Entahlah sepertinya bukan karena itu. Mereka tidak mengambil barang-barang berharganya. Mereka memang sengaja mengincar nyawanya. Sasuke yakin itu. Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh bekas jahitan yang ada di sekitar dadanya. Bukan hanya itu, tengkorak kepalanya juga ikut retak karena hantaman batu besar. Beruntung Itachi datang tepat waktu. Jika telat beberapa detik saja, mungkin kepala Sasuke sudah dalam keadaan tak berbentuk.
"Kau melamun?"
Sret
"Kalian disini? Aku mencarimu kemana-mana. Jangan jauh-jauh dari pengawasanku ototou."
Sasuke melirik Itachi yang menatapnya khawatir. Hingga saat ini Sasuke masih tidak paham. Dunia seperti apa yang ditinggali Itachi. Masih jelas terngiang di kepala Sasuke ucapan laki-laki itu saat menghajar tubuhnya tanpa ampun.
'Apa kau yakin bos kecik itu akan datang?'
'Ya. Kudengar dia sangat menyayangi adik kecilnya ini.'
'Lalu kita akan membunuhnya?'
'Tidak. Cukup bawa saja kepalanya dalam keadaan utuh.'
"Kau melamun?"
Sasuke tersentak. Kepalanya tiba-tiba berdenyut ngilu. Ingatan mengenai percakapan mereka selalu menghantui ingatannya seperti mimpi buruk.
"A-Aku tidak apa."
Itachi hanya bisa memandang khawatir punggung Sasuke yang semakin mengecil. Kemudian tertelan pintu ruang kelasnya.
"Aku akan melindungimu. Sasuke."
.
.
.
End flashback
.
.
.
.
.
Sementara itu di dalam ruangan gelap gulita. Ah tidak, ada satu penerangan redup yang membuat tempat itu semakin terlihat menyeramkan. Duduk seorang laki-laki bermata onyx yang menatap kosong kedepan. Kedua tangannya terikat tali tambang. Begitu juga dengan kedua kakinya yang tidak dapat bergerak dengan bebas.
Kriet
Pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan sosok laki-laki lain yang masuk kedalam ruangan tersebut. Disusul satu lagi sosok laki-laki yang berjalan mengekor laki-laki pertama.
"Apa dia sudah membuka mulut?"
Suara bas laki-laki itu memecah keheningan.
"Begitulah. Sampai sekarang aku tidak bisa melacak keberadaan Yahiko."
Sahut laki-laki kedua sambil mengambil tempat duduk dihadapan laki-laki yang terikat.
"Kau beruntung Tobi-senpai. Kami tidak akan membunuhmu. Bagaimanapun kau juga anggota tim."
Ucapnya sing a song. Tangannya merogoh alat kejut listrik yang sengaja di bawanya dari rumah.
"Tapi aku tidak bilang untuk tidak menyiksamu loh ya?"
Laki-laki itu berjalan mendekat kearah laki-laki yang dipanggilnya Tobi-senpai. Hampir saja alat itu menyentuh kulit Tobi tapi suara laki-laki pertama membuat pergerakannya terhenti.
"Biar aku saja. Jangan mengotori tanganmu untuk orang rendahan sepertinya."
Laki-laki itu memberikan alat kejut listriknya kepada laki-laki pertama.
"Katakan dimana Yahiko sekarang."
Tobi tidak menjawab. Tenggorokannya terasa panas. Sudah tiga hari ini dia tidak menerima setetespun air dari kedua laki-laki yang dulu adalah rekannya.
"Kau tahu aku bukan orang yang sabar kan? Aku sudah melupakan fakta bahwa kaulah yang membunuh Konan tapi kau tetap tidak tahu dimana tempatmu. Kau pikir berapa nyawa yang kau punya ha?"
Bruk
Tendangan maut itupun menghantam ulu hatinya. Membuat Tobi terbatuk hebat.
"B-Bunuh aku. K-kumohon."
Laki-laki itu berjongkok di hadapan Tobi yang kini menundukkan kepalanya.
"Kupikir kau bisu. Katakan dimana Yahiko."
Tobi memandang onyx yang serupa dengan miliknya. Ada kilatan benci dan juga iba di kedua onyx itu. Sangat kontras dengan wajah datar laki-laki yang kini duduk berjongkok dihadapannya.
"Dira-san sudah membunuhnya. Mungkin tulangnya akan di lelang tidak lama lagi."
Laki-laki kedua yang sejak tadi mengamati keduanya berdiri dari posisinya.
"Apa maksudmu brengsek! Katakan dengan jelas."
Tobi tersenyum miring.
"Itu adalah cara mereka menghilangkan jejak."
.
.
.
.
.
"Apa kau sudah selesai?"
Deidara mengangguk singkat. Tatapannya masih tertuju pada seonggok tubuh tak bernyawa yang baru saja menyerahkan nyawanya secara suka rela. Surai orangenya tampak menghitam akibat genangan darah yang bersumber dari lubang menganga di tengkorak kepalanya.
"Akan kusuruh Sakon mengulitinya."
Sret
"Biar aku yang melakukannya."
Ucap Deidara yakin. Ditangannya sudah terpasang sarung tangan karet berwarna putih.
"Terserah kau saja."
Blam
Pintu ruangan itupun tertutup. Meninggalkan Deidara yang masih berdiri tegak di tempatnya.
"Maafkan aku."
Ucapnya lirih sambil meraih tubuh itu dan mulai mengoyak dagingnya secara perlahan.
"Selamat tinggal. Yahiko."
.
.
Flashback
.
.
.
"Naruto bisa kau ikut aku sebentar?"
Si pirang yang dipanggil langsung berlari menghampiri Iruka-sensei.
"Ya sensei?"
Iruka terlihat gugup. Bola matanya bergerak gusar. Kebimbangan itu datang menyambangi pikirannya. Baru kali ini dia terlihat ragu untuk menyelesaikan misi yang diberikan kepadanya.
"B-bisa kau antarkan buku ini ke perpustakaan?"
Si pirang mengangguk semangat. Sama sekali tidak sadar bahwa sebentar lagi ada perubahan besar di dalam kehidupannya. Dia ingin berhenti, hati kecilnya selalu mengutuk saat dia memikirkan cara untuk mencelakai Naruto. Tanpa sadar, dia ingin melindungi gadis itu, tapi disisi lain dia memiliki misi sendiri yang harus dia selesaikan.
"Aku pergi dulu sensei."
Iruka memandang sedih punggung Naruto yang berjalan menjauh dari jangkauannya. Tangannya tanpa sadar terkepal erat. Dentuman di dalam rongga dadanya tidak juga reda.
"Maafkan aku Naru."
Tidak, jangan pernah memaafkanku.
.
.
.
.
.
Gelap. Ini dimana?
"Lakukan dengan benar brengsek! Kau hampir saja meledakkan jantungnya."
Kenapa tubuhku terasa kaku. Tidak, lebih tepatnya aku tidak bisa merasakan apapun. Tubuhku terasa ringan. Terlalu ringan hingga membuatku bergetar ketakutan. Aku masih hidup kan?
"Hmmmp."
Sasuke ka? Aku yakin itu suara Sasuke.
"Tenanglah. Sebentar lagi aku akan menanamkan pemicunya di kerongkonganmu."
Ctak ctak ctak ctak
Suara itu terdengar ganjil di telingaku.
"Tinggalkan dia. Sebentar lagi efek obatnya akan hilang."
Aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauhiku.
"Apa kau juga membutuhkan anestesi?"
Suara berat laki-laki itu membuat bulu romaku berdiri. Aku yakin dia bukan orang baik. Seseorang tolong aku!
"Tapi persediaan anestesiku sudah habis. Jadi aku akan membuka tenggorokanmu secara langsung. Tenang saja. Tidak akan sakit kok."
Kekehan itu lebih terdengar seperti nyanyian kematian di telingaku. Dia monster!
Crot
"Aaaargh!"
Sst
"Jangan berisik. Kau mau menjadi pusat perhatian hm?"
.
.
.
.
.
Kedip kedip
Si pirang akhirnya berhasil membuka kelopak matanya. Iris biru langitnya membola melihat kondisi Sasuke yang jauh dari kata baik-baik saja. Kedua tangannya terikat diatas hingga kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Pergelangan memar tergores tali tambang. Pasti sakit sekali.
"Apa yang terjadi?"
Cring
Si pirang memandang borgol yang menahan pergerakannya. Matanya teralih lagi kearah Sasuke yang menatapnya tanpa berkedip.
Tes
Laki-laki itu menangis. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menapakkan kakinya di lantai. Entah kerena apa. Sesekali bungsu Uchiha itu mendongak keatas, tidak lama wajahnya semakin memucat.
"A-apa yang k- Astaga!"
Si pirang bergetar hebat. Diatasnya ada pisau pemotong daging berukuran raksasa yang siap mencincang tubuhnya menjadi beberapa bagian. Pandangannya terfokus pada pemicu pisau itu yang ternyata ada di bawah kaki Sasuke.
Ini gila!
Dor dor dor
Suara tembakan saling bersautan dari luar ruangan. Tubuh si pirang semakin menggigil ketakutan, dia tidak mau mati secepat ini.
"Apa yang kau lakukan brengsek!"
Crash
AAAARGH!
Dentuman didalam rongga dadanya semakin kencang terdengar. Naruto takut, sangat takut. Dia ingin mengatakan pada Sasuke bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tidak bisa, kata baik-baik saja terlalu berlebihan untuk dikatakan saat ini.
"Tolong kami! Tolong selamatkan kami."
Sasuke hampir melepaskan pegangannya. Tangannya terasa kebas. Dia tidak bisa menahan lebih lama lagi. Tapi jika itu terjadi maka nyawa Naruto yang akan menjadi taruhannya.
"Sasuke!"
Suara Itachi adalah hal terakhir yang bisa diingatnua sebelum kegelapan lagi-lagi datang menghampirinya.
.
.
.
- Sasuke Side Story -
.
.
.
Aku tidak tahu. Kenapa aku berada disini. Kenapa mereka melakukan ini pada kami. Ya, aku dan gadis bersurai pirang itu. Apa salah kami sebenarnya? Setelah melihat bagaimana mereka memasang bom Microchip si rongga dada Naruto. Lalu mereka memaksaku untuk menjadi pemicu bom sialan itu.
"Kalau kau membuka suara. Maka BAM, si pirang itu akan menjadi seonggok daging. Ah! Aku lupa memberitahumu. Satu-satunya yang bisa menjinakkan bom itu adalah nyawamu. Kau mengerti maksudku kan?"
Aku menyerah. Apalagi yang bisa mereka ambil dariku? Suaraku sudah hilang. Aku juga sudah menghancurkan satu-satunya sumber kebahagiaan Itachi. Lalu apa lagi setelah ini? Tidak ada yang tersisa!
"Ne, mari kita buat permainan sebelum kakakmu datang."
.
.
.
.
.
Perempuan yang cantik. Menyilaukan. Ceria. Walaupun sedikit bodoh. Tapi dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Itachi bahagia. Tapi apakah setelah ini dia masih mau mendampingi Itachi? Setelah semua kejadian ini, apakah perasaannya pada Itachi tidak akan berubah? Apa dia mau menukar nyawanya untuk tetap bersama Itachi?
"Apa yang terjadi?"
Gadis itu terbangun. Mata birunya membola melihat kedua tangannya terborgol.
Tes
Tanganku terasa kram. Aku ingin menyerah, tapi jika aku menyerah, aku akan menjadi seorang pembunuh. Kepalaku mendongak, melihat puluhan pisau daging raksasa yang tergantung diatas si gadis pirang.
Jika aku menyerah –
"A-apa yang k- Astaga!"
Maka semuanya akan berakhir.
"Sasuke!"
.
.
.
-End Sasuke Side-
.
.
.
"Sasuke!"
Itachi berlari menghampiri Sasuke. Tapi pandangannya teralih pada puluhan pisau daging yang berada diatas si pirang. Juga kondisi tangan Sasuke yang membiru.
"Apa kau bisa menahannya sebentar lagi? Aku akan membawa Naruto ketempat yang aman."
Sasuke mengangguk pasrah. Onyxnya memandang sayu Itachi yang berusaha membuka borgol yang membelengku Naruto.
Cring cring cring
Sret
Itachi menggendong tubuh Naruto dan membawanya ketempat yang aman.
Sret
BRUK
Crash Crash Crash Crash
Sasuke jatuh terduduk diatas tuas pemicu pisau daging. Tubuhnya mengalami tremor hebat melihat pergerakan puluhan pisau daging di hadapannya. Hampir saja dia menjadi pembunuh.
"Ini gila!"
.
.
.
.
'Dia masih tidak mau membuka suara.'
Itachi menggenggam tangan Sasuke. Menyalurkan kehangatan untuk adik semata wayangnya itu.
"Aku tahu kau sedang berpura-pura tidur."
Suara Itachi memecah keheningan. Tidak lama kelopak mata Sasuke terbuka.
"Maafkan aku. Apapun akan aku lakukan. Tapi tolong maafkan aku. Dan kembalilah menjadi Sasuke yang dulu."
Sasuke meraih kertas usang yang dia sembunyikan di balik selimut dan memberikannya pada Itachi.
'Menikahlah dengan Naruto.'
Itachi meremas kertas yang di berikan Sasuke.
"Kenapa?"
Sasuke menuliskan sesuatu di kertas lain.
'Karena aku mau kau menjaganya untukku.'
Itachi tertawa hambar.
"Kau menyukai Naruto?"
Sasuke diam. Kemudian tangannya bergerak menuliskan sesuatu lagi.
'Jangan memyentuhnya. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai dia hamil.'
Sebelum aku yakin bom itu bisa dijinakkan, jangan menyentuhnya. Aku tidak tahu kapan bom itu akan meledak. Tidak akan aku biarkan keponakanku lahir tanpa melihat wajah ibunya. Lanjut Sasuke tanpa berniat mengungkapkannya secara langsung.
.
.
.
.
.
Flashback End
.
.
.
.
.
"Sasuke kau ada disini?"
Sasuke mengangguk. Tangannya yang akan terulur untuk menyentuh surau pirang Naruto langsung tertarik lagi.
"Dia sangat cantik bukan?"
Sasuke menoleh. Gagal paham atas pertanyaan Itachi.
"Satu-satunya yang aku sesali adalah kenyataan bahwa kita mencintai gadis yang sama."
Sasuke tersenyum hambar. Mencintai eh? Kenapa itu terderngar menggelikan di telinga Sasuke. Tidak mungkin dia mencintai gadis yang dicintai kakaknya kan? Hei, ini bukan drama roman picisan yang pemeran utamanya di rebutkan oleh dua orang laki-laki kan? Tapi biarlah. Sebentar lagi juga Itachi akan tahu kebenarannya. Alasan kenapa Sasuke memintanya menikah dengan Naruto tapi melarangnya berhubungan badan. Akan ada waktunya semua itu terungkap. Tapi tidak untuk sekarang.
Sret
'Jaga Naruto. Dan jangan membuat kesimpulan konyol dengan otak jongkokmu. Baka aniki!'
.
.
.
.
.
Di sebuah tempat yang terasing dari perkembangan zaman, disanalah 'dia' bersembunyi. Menyembunyikan identitas aslinya dan menyusun rencana untuk menyelesaikan misi yang di embannya.
'Yahiko-san, aku membutuhkan bantuanmu.'
Seseorang itu memandang sosok laki-laki lain yang duduk dihapannya.
"Apa yang bisa aku bantu. Sasuke-san?"
Sosok yang dipanggil Sasuke itu menyerahkan kertas lain kepada Yahiko.
'Bunuh aku.'
TBC
