Something Called Love by LukeTan

Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, Plot cerita punya author dengan gendre BoysLove apabila tidak menyukainya mohon jangan di baca. karena author juga manusia mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pengetikan dan hal lainnya.

Line Two

"hahahahaha" tawa banyak orang saat melihat seorang seorang siswa disiram.

"Makanya jangan menjadi penghancur hubungan orang!" kata seorang wanita.

Wonwoo masih saja diam, terkejut dengan apa yang telah terjadi. Jihoon yang memang memiliki tempramental lebih tinggi mendatangi segerombolan wanita yang berdiri di depannya.

"sunbae, apa yang kau lakukan. Tidak kah ini keterlaluan" sindirnya.

"ya! Hoobae. Kau menyindirku hah?!" bentak wanita tersebut.

"Apa kesalahan temanku sampai kau melakukan hal buruk seperti ini?" tanyanya dengan nada sinis.

"tentu saja karena dia telah merusak hubungan orang" balasnya sambil berteriak.

Banyak siswa yang menonton kejadian itu tapi diantaranya anak tingkat pertama, karena terjadi keributan yang cukup untuk membuat banyak orang menyaksikannya, maka para senior segera mengajak murid lain untuk berkumpul menyaksikan proses pembulian terhadap junior mereka dan menyebabkan banyak yang berlari ke TKP agar tidak ketinggalan berita.

Seungcheol dan Jeonghan merasakan adanya ketidak wajaran pada teman mereka maka Seungcheol memberi kode kepada Jeonghan untuk segera pergi mengikuti kemana arah murid lain berlari.

"kau tidak tau saja bagaimana sakitnya ketika orang yang kau sayangi direbut orang lain!" teriakan wanita yang cukup memekikan telinga membuat mereka berdua segera bergerak lebih cepat untukmengetahui apa yang sedang terjadi.

"Ada apa ini?!" kata Seungcheol datang, para murid yang sedang menonton pun memberi jalan karena Seungcheol dan Jeonghan yang masih berada di belakang kerumunan sehingga belum melihat apa yang terjadi.

"ya! Nayeon, bagaimana ini Seungcheol sudah datang!" panik seseorang dari sebelah wanita yang berbiara tadi.

"Sudah tenang saja ini demi kelancaran hubungan SeungHan!" balasnya.

"Wonu-ya?!" kaget ketika melihat dongsaengnya basah kuyup dan tercium bau anyir yang menyengat.

"Ya! Nayeon, Salah apa Dongsaeng ku sampai kau berbuat hal menjijikan seperti ini! Kata seungcheol marah.

Hening... Wanita yang di panggil Nayeon tersebut masih mencerna kata-kata Seungcheol.

"ya! Aku bertanya apa yang ia lakukan?! Jangan hanya diam saja!" kembali mendekat ke arah Nayeon.

"Seungcheol, kau tak seharusnya berselingkuh dengan pria ini?!" jawabnya asal karena sebelumnya ia masih tidak dapat mengerti perkataan Seungcheol dan panik karena dibentak.

"Selingkuh? Apa maksud mu?" kata seungcheol yang bingung dengan perkataan Nayeon.

"Iya, walaupun kau dengan Jeonghan belum resmi berpacaran tapi kau tidak seharusnya berpaling ke dia!" kesal Nayeon.

"Wonwoo?! Ya dia Dongseng ku bagaimana mungkin aku memacari Dongsaeng sendiri?!"

"Dongsaeng? T-tapi semalam aku melihat kau menciumnya?" dengan nada yang masih berpikir dan cukup panik.

"aku telah melakukan kesalahan pada adik ku makanya aku minta maaf dan begitulah cara kami baikan. Jadi ini semua karen kesalah pahaman?! Ayo semuanya Bubar!"

"Aku akan mengantar Wonnie ke kamar, Seungcheol kau lebih baik melanjutkan tugasmu." Kata Jeonghan segera pergi bersama dengan murid-murid lainnya.

Wonwoo masih saja menatap dengan mata yang kosong, bahkan Jeonghan harus memandikan Wonwoo dikarenakan orang di depannya masih saja tidak bergerak saat sudah sampai di kamarnya. Jeonghan merasa sedikit iri dengan kulit namja yang berada di depannya karena selain memiliki kulit yang putih mulus, kulitnya juga halus dan lembut. Walaupun Jeonghan juga memiliki kulit yang mulus tetapi tetap saja tidak ada apa-apanya dibandingkan Wonwoo.

Tok.. tok... tok...

Jeonghan pun membuka pintu dan di lihatnya Seungcheol yang kemudian membiarkan dia memasuki kamar Wonwoo.

"Bagaimana keadaannya?"

"Masih belum sadar sepertinya, masih memandang dengan tatapan kosong."

"Aish... wanita itu! Wonwoo memiliki psikologi yang cukup lemah, maka dari itu aku selalu berhati-hati padanya. Tolong Jeonghan, segera bereskan gossip yang tidak benar itu setelah ini" katanya lalu bergerak menuju kasur Wonwoo.

"wonu-ya?
wonnie...
tolong dengarkan aku"

Matanya berair dan perlahan jatuh ke pipinya begitupun Wonwoo.

"Hyungie, kenapa menangis?" tanya Wonwoo setelah melihat Seungcheol.

"Karna aku sedih wonu-ya, kau bahkan tidak merespon panggilan ku" kata Seungcheol lalu memeluk dongsaengnya dengan erat.

"Memang apa yang terjadi?"

"sudahlah, itu tak penting yang penting sekarang wonu segera istirahat. Aku tak mau kau jatuh sakit. Arraseo?"

Wonwoo memiliki masalah Psikologis, bukan dia gila atau semacamnya. Tetapi apabilah ia merasa sedih, terkejut, dan merasa tidak di inginkan, maka dia akan diam dan tubuhnya menjadi kaku setelah itu dan ia tidak akan mengingat kejadian yang menyakitkan itu, bahkan orang yang menyakitinya tidak ada lagi di ingatannya.

Wonwoo pun mengikuti saran dari hyungnya. Ia merupakan anak yang penurut, karena dia tidak mau orang lain tidak menyukainya. Rasa tidak suka yang orang perlihatkan dapat menyebabkan hal seperti ini terjadi maka dari itu hyungnya dan appanya selalu meminta dirinya untuk menjuadi orang yang baik dan penurut.

Siang pun berganti menjadi malam, karena Wonwoo sudah beristirahat lama, maka dari itu ia tidak bisa tidur lagi. Maka ia pergi keluar sekolah untuk berjalan-jalan. Ia melihat sebuah supermarket 24 jam dan memasukinya.

"selamat datang. apa yang kau lakukan di jam malam seperti ini?" tanya seseorang berkulit tan yang melihat seorang menggunakan jas seragam.

"Ah, aku hanya tidak dapat tidur, kau sendiri apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini?" tanya Wonwo yang melihat seorang namja yang ia yakini seumuran atau bahkan lebih tua darinya.

"aku sedang menjaga toko, Sunbae ku tak dapat melakukan part time-nya jadi aku yang menggantikannya."

"aku tidak pernah melihat mu, kau bersekolah di sini?" dan hanya di balas dengan menggeleng oleh pemuda berkulit tan tersebut.

"hmmmm, apakah kau bersekolah di sekitar sini? Bukannya sekolah menengah atas sekitar sini hanya Pledis High School?"

"ah, kau bersekolah disana? Aku masih Junior mungkin tahun depan aku akan bersekolah disana" balasnya

"kau masih Junior?! Dengan tinggi mu seperti ini?! Bahkan aku baru belakangan ini saja baru tumbuh. kau sungguh sangat beruntung."

"hahaha.. Jangan merendah seperti itu, bahkan kau juga pasti menjadi primadona di sekolah kan? karena kemanisan mu itu?" godanya.

"Ya! Aku namja mana mungkin aku manis" balas Wonwoo kesal.

"apa salahnya namja manis? Kau sangat menggemaskan walaupun kau tirus dan sangat kurus sunbae."

"Aku kurus?! Yang benar saja?!" sanggahnya.

"apakah sunbae tidak punya kaca di kamar asrama itu? Aku dapat membopong mu dengan mudah" katanya sambil mengangkat badan kurus Wonwoo.

"ya! Turunkan aku!" katanya dengan sedikit rona merah di wajahnya.

"untuk kali ini sunbae boleh mengambil apapun yang sunbae inginkan. Aku prihatin dengan badan kurus sunbae."

"kau dapat menggendongku hanya karena kau memiliki tinggi yang tidak normal" memberi alasan.

"ya... ya... disini menjual cheese burger yang sangat enak, sunbae mau?"

"Mau!" balasnya senang saat mendengar makanan tersebut, matanya berbinar dan senyum yang menawan membuat dirinya terlihat seperti anak kecil.

"tunggu sebentar sunbae, akan aku buatkan. Kali ini gratis untuk sunbae."

"benarkah! terimakasih" pria itu langsung meninggalkan Wonwoo untuk membuatkan cheese burger.

*Anju! Nice!* bunyi ringtone wonwoo

"yoboseyo hyung?"

"apakah kau sudah meminum obat mu Wonu-ya?" tanya suara disebrang sana.

"nanti hyung setelah aku sampai kamar aku akan meminumnya"

"Sampai kamar? Kau sedang di luar Wonu-ya? Sekarang sudah malam. Kau dimana? Aku akan segera menyusul mu jangan kemana mana"

"hyungie! Aku bukan anak kecil lagi! Aku sedang ada di super market dekat sekolah. Aku bosan dan sedikit lapar jadi aku mencari makanan."

"bagaimana kau bisa keluar? Bagaimana kalau nanti kau di culik? Tidak ada alasan aku akan kesana!"

"tidak perlu hyung, mana ada yang akan menculik Wonu. Kau terlalu berlebihan hyung. Wonu tadi keluar saja, tidak ada yang penjaga, lagi pula pintu gerbang tadi masih terbuka ya aku keluar saja lagi pula tidak ada yang buka di dalam sekolah"

"tidak! Aku akan kesana tunggu aku!" lalu panggilan pun terputus.

"siapa?"

"hyung ku, dia sungguh berlebihan."

"sebaiknya kau mendengar apa kata hyung mu. Mahluk manis seperti sunbae memang sungguh berbahaya kalau keluar pada tengah malam seperti ini."

"Ya! Aku tidak manis! Aku juga namja dan bisa menjaga diriku sendiri"

"sudahlah hyung, menurut saja. Ini, kembalilah ke sekolah sebelum hyung mu mengkhawatirkan mu." Katanya sambil memberikan pelastik berisi cola dan cheese burger.

"trimakasih, sebaiknya aku jalan sekarang sebelum Seungcheol hyung sampai."

Wonwoo segera jalan keluar, 'ah iya aku lupa menanyakan namanya, dia sungguh baik' ingatnya setelah sudah sampai di depan gerbang.

Setelah memasuki gerbang Seungcheol ternyata baru saja akan datang, dan pastinya sebelum memasuki asramahnya Seungcheol menasihati Wonwoo untuk tidak keluar di jam tengah malam seperti ini dan hanya di balas dengan anggukan oleh dongsaengnya. Untungnya Seungcheol tidak melihat isi dari plastik yang berisi cola karena terlalu mengkhawatirkan dongsaengnya. Dan Wonwoo pun memakan cheese burger dan cola dengan senang.

Seungcheol tidak mau minuman yang tidak sehat seperti itu diminum dongsaengnya, karena wonwoo yang pada dasarnya makan sedikit maka gula buatan yang terkandung dari minuman sejenis cola membuat Wonwoo akan lebih sedikit makan dan selain itu menurut Seungcheol cola tidak baik bagi kesehatan.

-LukeTan-

Tidak terasa satu bulan berjalan dengan cepat, ya karena kesibukan sekolah sendiri. Wonwoo sekarang bekerja part-time di cafe Jun, selain itu juga ia mengikuti club jurnalistik sedangkan Jihoon karena lebih tertarik untuk belajar mengarransemen lagu maka ia mengikuti club music. Waktu Wonwoo untuk bertemu dengan Yanan pun sedikit yaitu di pagi dan malam hari saat ia akan mengerjakan tugas atau sebelum tidur. Karena sudah memasuki bulan april, Pladis High School melakukan kegiatan tahunannya yaitu Spring Festival.

"seperti rumor yang beredar, 2 minggu lagi sekolah akan mengadakan Spring Festival. Tidak seperti tahun lalu yang hanya berisikan bazar, tahun ini akan ada pertunjukan. Kita kelas X Performance Art akan melakukan pertunjukan sebuah drama, jadi PA1 dan 2 akan bergabung untuk melakukan pertunjukan yang menarik." Jelas Ms Jang.

"Apakah semua murid berpartisipasi menjadi pemain?" tanya Jihoon.

"tentu saja tidak, kita akan terbagi menjadi dua tim, yaitu performance team dan production team. Dan itu tergantung dari kalian akan masuk team apa, jadi nanti saat jam bebas kalian akan mengadakan meeting. Aku harap kalian semua datang."

"apakah harus Ssaem?" tanya Wonwoo.

"ya, kalau ada yang tidak datang maka kalian akan di tempatkan di team yang sudah di tentukan saat rapat dan tidak dapat di bantah. Karena sebentar lagi waktu jam perwalian akan habis, maka Ssaem akan kembali ke ruangan." Dan di akhiri salam yang dipimpin oleh Wonwoo tentunya.

"Minjae-ya, nanti kau yang ke pertemuan ya, soalnya aku ada kerja sambilan."

"baiklah Wonu-ya, nanti setelah aku selesai aku akan ke tempat mu untuk memberi tahu detailnya ya."

"trimakasih Minjae."

"tapi nanti akhir pekan kita jalan ya? Berdua."

"apa-apaan kau Minjae, hanya seperti itu aja meminta lebih" sindirr Jihoon yang baru saja datang.

"aku minta pada Wonwoo bukan kau" 'dasar Uke galak, tidak seperti Wonu yang manis ini' kesalnya dalam hati.

"baiklah, hanya jalan saja Hoonie."

"terserahlah"

Wonwoo itu menjadi incaran banyak siswa, tidak hanya seangkatan, tetapi juga sunbaenya sebut saja Jun. Dia yang paling gerak cepat, mulai dari meminta tolong untuk membantunya di cafe sampai makan siang selalu dia sempatkan waktu untuk menemui Wonwoo. Sering kali Seungcheol mengingatkan Jun untuk tidak mendekati dongsaengnya tapi Jun masih saja mendekatinya.

Wonwoo tidak pernah berfikir negatif kecuali yang menyangkut hal yang paling berharga seperti hyungnya, appanya, dan Jihoon. Karena ia takut akan kehilangan mereka, sedangkan yang lainnya tidak terlalu dipikirkannya. Hanbin juga sebenarnya cukup dekat dengan Wonwoo tapi hanya sebatas teman dan Hanbin tidak melakukan pendekatan seperti yang di lakukan oleh Minjae maka dari itu Wonwoo nyaman-nyaman saja ketika bersamanya.

Hubungan Wonwoo dengan teman hyungnya juga cukup baik, mereka sering kali makan siang dan malam bersama. Orang yang terdekat di sekolah selain teman hyungnya (Jeonghan, Jun, dan Joshua'3J?') itu Yanan dan Soonyoung. Tetapi karena Yanan berbeda Jurusan jadi hanya pada saat makan siang saja bergabung selebihnya ia akan berada di gedung sekolah umum untuk melakukan Yaja 'Semacam belajar sendiri di perpustakaan khusus'.

tidak terasa hari berjalan dengan cepat. jam sudah menunjukan pukul 10 malam, dan Wonwoo baru saja memasuki kamarnya.

"ah... Wonu-ya.. terus seperti itu" desah seseorang dari arah kamar mandi.

"hisap terus... ahhhh... ahhh..." kali ini suaranya lebih keras. Wonwoo masih diam saja bingung dengan apa yang terjadi.

"ahhh... ahhhh... sedikit lagi wonie.." entah mengapa desahan itu membuat wonwoo sedikit penasaran dengan apa yang terjadi sehingga ia perlahan membuka sedikit pintu kamar mandi dengan perlahan.

Ia melihat Yanan melakukan sesuatu yang entah dia tidak mengerti apayang di lakukan pria tersebut karena Yanan berada di kloset yang berada dekat dengan pintu sehingga sedikit membelakangi Wonwoo yang mengintip di celah kecil.

"ahhh... aku mau keluar Wonie... ah... ah..."
Wonwoo hanya melihat sesuatu muncrat, tetapi tidak begitu mengetahui itu apa. Karena panik takut ketahuan maka Wonwoo keluar kamarnya.

Saat di luar ia bertemu dengan Soonyoung dan Jihoon di depan kamarnya.

"Wonu-ya kau mau kemana?" tanya Soonyoung.

"mau ke supermarket depan sekolah. Mau ikut?" tanyanya.

Jihoon dan Soonyoung pun pergi keluar menemani Wonwoo.

"Wonu-ya? Kau kenapa diam saja?...
Wonu
Jeon Wonwoo!" kesal Jihoon.

"hah?"

"Sepertinya ada yang kau pikirkan Wonnie?"

"ah... hmmmm... itu..."

"Apa? Jangan cuman hmmm...itu... saja bagaimana kita mengerti kalo balasmu hanya seperti itu Wonu?" Jihoon gereget dengan tingkah laku Wonwoo.

"aku hanya bingung menjelaskannya... bagai mana ya?"

"coba saja katakan yang ada di pikiran mu wonnie."

"jadi begini, tadi aku baru saja masuk kamar tiba-tiba ada bunyi yang aneh dari kamar mandi."

"bunyi seperti apa? Cobaa contohkan." Tanya Soonyoung penasaran.

"Aneh seperti Ahhhhh... Sedikit lagi..." sambil meniru suaranya.

"ehhh... wonnie, cukup" balas Soonyoung yang sedikit berfikiran kotor.

"kenapa? Aku hanya mencontohkan yang Yanan lakukan di kamar mandi." Tanyanya polos

"itu dia tandanya sedang masturbasi wonu-ya." Jelas Jihoon.

"memang kau tidak pernah melakukannya Wonnie?" dan hanya di balas dengan menggeleng.

" kau harus melakhuan ... " tidak jelas karena mulutnya di tutup oleh tangan Jihoon.

"Jangan mengajarkan yang tidak benar Hoshi!"

"Tidak benar? Jadi itu tidak baik? Kalau begitu aku harus bilang kepada Yanan" sambil berjalan kembali ke asrama.

"ya! wonu-ya, tidak perlu. Ah... bukan begitu maksud ku." Cegah Jihoon sambil menarik kembali Wonwoo.

"Banyak pria yang melakukannya jadi tidak usah di bahas lagi" elak Jihoon.

"kau jangan meracuni otak polos Wonwoo, Hoshi." Bisik Jihoon dan di balas anggukan mengerti.

Wonwoo merasakan ada yang aneh pada Jihoon. 'kalau banyak pria melakukannya bukannya harusnya dia juga melakukannya?' tanya di dalam hati. Ia seperti berfikir pasti Jihoon tidak memberi tahunya karena ada hal yang tersembunyi dari melakukan masturbasi.

"Jadi apa yang akan kau beli di supermarket?" tanya jihoon mengalihkan.

"ahhh... itu aku ingin makan cheese burger dan cola, sudah 4 hari aku tidak memakannya." Di lengkapi dengan rona merah samar di pipinya yang di perhatikan juga oleh kedua temannya.

"hanya itu Wonnie? Sepertinya ada hal lain, kau bahkan sering kesana walaupun tidak setiap hari setelah ku perhatikan." Bohong Soonyoung.

"Ah... eh... tidak kok, aku hanya seminggu dua kali kesana saat aku sedang kosong." Elaknya.

"wah bahkan kau seminggu dua kali? Dari kapan?" sambung Soonyoung.

"baru sebulan ini kok... eh tunggu? Katanya kau memperhatikan ku? Kalau begitu harusnya kau tau dong. Kau berbohong ya?!" sebal Wonwoo sudah di bohongi Soonyoung sambil mempoutkan bibirnya.

"hahahaha... kau saja Wonu yang mudah dikelabuhi mahluk ini."

"maaf ya wonnie, tapi tidak apa kau tetap imut kok"

"imut dari mana? Aku tampan tau."

"terserah kau saja wonu, jadi siapa yang kau tunggu?" tanya jihoon.

"ada seorang penjaga supermarket di sana yang sungguh baik... eh tunggu aku tidak mengatakan itu seseorang, kalian mengelabuhi ku lagi" kesal Wonwoo.

"aku kan hanya bertanya dari yang aku tangkap kau saja yang terlalu polos Wonu-ya. Jadi kita akan menemuinya?" yang di balas dengan gelengan.

"kenapa?"

"entahlah, setiap aku kesana dia tidak ada padahal aku kesana di hari yang sama." Balasnya.

"wonnie kau menyukainya ya" tebak Soonyoung.

"ehhh... aku tidak tau."

Seperti yang terjadi sebelum – sebelumnya ternyata lelaki yang di carinya tidak ada lagi, maka dari itu ia hanya membeli Cheese burger dan cola dan duduk di bangku yang tersedia.

"kau jangan terlalu sering membeli Cola Wonu-ya, kalau sampai hyung tau pasti dia akan marah." Kata jihoon mengingatkan.

"tenang saja, kita makan disini hyung tidak akan melihat kok."

"pantas saja kau jadi jarang sarapan dan porsi makan siang mu makin sedikit. Untung Seungcheol hyung tidak memperhatikan karena kau selalu memberikan sisanya kepada ku dan hoshi di saat ia tidak melihat."

"oh, Jadi sekarang Jeon Wonwoo sudah berani ya berbohong pada ku." Suara seungcheol membuat Wonwoo, Jihoon dan Soonyoung terdiam dan menunduk.

"Jeon Wonwoo?"

"Ma... Maafkan aku hyung. Aku mengaku salah." Balas Wonwoo masih menunduk.

"Ketahuan baru mengaku, kau benar-benar Jeon Wonwoo dongsaeng ku?"

"Ma... Maaf hyung. Aku bukannya berbohong,... hanya saja aku... sedang ingin hyung." Sambil menahan air mata nya.

"sudahlah Seungcheol, dia hanya sedang ingin." Bela jeonghan sambil mengelus pundak dongsaeng kesayangannya yang sedang menahan tangis.

"Sudah berapa kali?" dengan suara datar.

"hmmmmm..." sambil mengangkat jempolnya.

"Sekali?" dan hanya di balas dengan gelengan.

"jadi enam kali?" dan di balas dengan anggukan.

"kemari." Masih dengan suara datar.

"sudahlah Seungcheollie, ini hanya hal kecil" bela Jeonghan.

"Lee Jihoon, kau mengetahuinya?" tanyanya masih dengan nada datar.

"kami baru mengetahuinya tadi hyung." Balas Soonyoung dengan sedikit takut dan kasihan melihat Jihoon yang takut untuk menjawab.

"ku bilang kesini Jeon Wonwoo!" Kembali mengarahkan matanya kepada Wonwoo.

Wonwoo pun dengan takut dengan perlahan mendekati hyungnya.

"lebih dekat lagi, berdiri di depan ku" dan di turuti Wonwoo.

*pruuk* Bunyi pelukan(?)

"hyung bukannya melarang mu karena alasan konyol wonu-ya, meminum cola membuat mu lebih sedikit makan. Hyung mengkhawatirkan mu. Bagaimana kalau nanti kau sakit? Untung hyung melihat mu, bagaimana kalau tidak? Kau akan terus meminum cola bukan?"

"maafkan aku hyung" lalu air mata pun turun dan bergerak menuju pipinya.

Wonwoo merasa bersalah, sangat bersalah karena tidak mengikuti apa kata hyungnya maka dari itu ia merasa sedih dan menangis.

"kau boleh sekali-sekali meminum cola, tapi kau harus menghabiskan makananmu, jangan lagi melupakan sarapan. Kalau sampai aku mendengar atau melihatnya maka kau tidak boleh lagi minum cola. Yaksok?"

" Nde Hyung, Jeongmal Mianhae."

"Kajja! kembali ke asrama." Kini tersenyum dan membuat perasaan lega bagi ketiga namja lainnya.

-LukeTan-

Tidak terasa persiapan demi persiapan untuk Spring Festival berjalan dengan lancar. Untuk kordinasi acara merupakan tugas dari sekolah umum, sedangkan pertunjukan di bebankan kepada sekolah performance arts, dan tentunya bazar dibebankan kepada sekolah ekonomi. Wonwoo sudah selesai melakukan tugasnya, karena dia bertugas di kostum sedangkan Jihoon di bagian music and sound. Dan karena rehearsal sudah selesai dari tadi pagi, maka mereka pun sedang kosong dan memutuskan untuk melihat stand.

Keadaan sekolah sangat ramai karena untuk hari ini, sekolah di buka untuk umum.

"Sunbae!" teriak seseorang ke arah Wonwoo. Tapi karena yang di panggil masih menikmati cutton candy yang baru saja di belikan Jun, maka ia mendekati pria yang dipanggilnya tadi.

"Jun hyungie ini sangat manis" katanya sambil tersenyum manis.

"Kau ingin yang lain? Akan ku bawakan." Dan dibalas dengan menggeleng.

"Jun, Palli! bantu kami untuk membuat pesanan! Jangan menganggu Wonu-ku." Seru Seungcheol. Dan denga terpaksa jun pamit dengan Wonwoo.

"Sunbae sendiri saja?" tanya pria berkulit tan mengagetkan Wonwoo sehingga tidak sengaja hampir jatuh untung saja pinggangnya di tahan oleh orang yang mengagetkan.

"Ya! Akhirnya aku bertemu dengan mu juga. Terimakasih ya untuk yang waktu itu." Balas wonwoo sambil tersenyum. Karena ia sangat senang jadi ia melupakan bahwa tadinya ia ingin marah dengan orang yang mengagetkannya.

"Mingyu, Kim Mingyu. Sunbae?" Wonwoo bingung dengan tingkah lakunya hingga beberapa detik kemudian barulah di balas.

"ah maaf, Wonwoo, Jeon Wonwoo." Balasnya.

"hari ini kau sungguh manis sunbae dengan menggunakan baju berwarna baby blue sangat cocok dengan dirimu."

"Mwo?! Aku namja Mingyu-ya." Sambil mempoutkan bibirnya.

"bahkan sekarang kau makin lucu lagi Sunbae."

"jangan panggil aku sunbae, Hyung saja bagaimana? Wonu Hyung?"

"baiklah Wonu hyung, maukah kau mengantarkan aku keliling bazar ini?"

"tentu saja dengan senang hati."

Wonwoo sungguh sangat senang bertemu dengan Mingyu, Karena terlalu senang tidak sengaja mereka terpisah karena kerumunan yang cukup padat. Untung saja Mingyu dapat melihat Wonwoo walaupun berada di kerumunan yang cukup padat.

"hyung! Aku mencari mu. Kau berjalan terlalu cepat."

"ah, mian. Kajja! Kau ingin apa?" tanya yang lebih tua.

"Hyung mau apa?"

"aku bertanya padamu kenapa kau bertanya kepadaku kembali?"

"aku suka yang hyung suka."

"aish! Baiklah" sebenarnya karena perkataan Mingyu membuat pipinya merona.

"Jamkkan manyo hyung, agar kita tidak terpisah lagi." Katanya sambil menggenggam namja yang lebih tua darinya.

Walaupun dengan sedikit malu-malu tetapi sebenarnya Wonwoo merasa nyaman. Ia sungguh senang walaupun tidak tau apa yang dia rasakan. Genggaman namja di sampingnya seakan membuat dirinya aman.

Tanpa sadar ada dua pasang mata yang melihat kejadian tersebut dan di rekam.

"kalo aku berikan kepada Seungcheol hyung apa yang terjadi ya?" dilema karena sebenarnya Seungcheol menyuruhnya untuk menjaga Wonwoo, tapi ia takut kalau di beri tahu maka akan bertingkah berlebihan.

"Ya sudahlah aku memberi kode saja nanti" kata teman dari namja tersebut.

"aku ingin cake yang ini dan hazelnut latte" kata Mingyu.

"Aku sama kan saja." Balasnya.

"kenapa jadi terbalik hyung? Kan harusnya aku yang memesan sama dengan mu" balasnya

"tidak apa, aku hanya tidak mau ambil pusing." Sambil memberikan uang kepada penjaga kasih.

"Tunggu Noona, aku saja yang membayar." Cegahnya.

"Tidak hyung, namja yang membayar."

"Ya Kim Mingyu aku juga namja. Sudah aku sudah mengaluarkannya " Kesal Wonwoo

"silahkan menunggu di meja, nanti akan kami antarkan" kata Yeoja tersebut.

Pesanan pun datang saat Mingyu sedang perpikir untuk mencari topik.

"hyung, apakah hyungmu nanti akan kesini" katanya mengingat kejadian saat pertama bertemu.

"sepertinya dia sibuk."

"hyung mu sepertinya over protective pada mu ya hyung?"

"Ani, biasa saja seperti saudara pada umumnya."

"Sepertinya tidak hyung. Aku merasa dia sangat perhatian dengan mu."

"memang sih bahkan aku melakukan sesuatu saja banyak sekali yang di larang, bahkan agar dapat membantu Jun hyung di cafe saja ia memberi syarat kepada Jun hyung agar aku tidak bekerja di bagian dapur."

"Coba kemarikan tangan mu hyung." Sambil mengangkat tangannya untuk meraih tangan Wonwoo. Yang lebih tua hanya menuruti perkataannya.

"halus hyung, bahkan lebih halus dari tangan Noona ku. Kau sungguh sangat menggoda hyung"

"ehh... apa maksudmu. Aku tidak melakukan apapun." Rona merah samar terpancar dari kulit wonwoo yang sangat putih.

"kau sungguh sangat manis hyung."

"Ish! Sudah berapa kali aku bilang tidak suka di panggil manis Gyuie."

"ah, maafkan aku Wonwon. Aku hanya berkata sejujurnya." Sambil menatap Wonwoo.

mingyu masih terus saja memegang tangan Wonwoo, cangung tapi entah mengapa masih ada kenyamanan di antara mereka. Mingyu mengingat kembali kejadian awal melihat Wonwoo. Seorang namja yang manis baru saja datang memasuki super market yang ia jaga saat itu, Manis. Pandangan kepada namja di depannya membuat hatinya berdetak lebih kencang. Perasaan yang pertama kali ia rasakan. Bahkan ia tidak pernah merasakan hal ini pada pacarnya Tzuyu.

"hyung coba rasakan cake yang ku pesan ini" sambil menyendokan ke bibir tipis Wonwoo.

"bagaimana enak?" yang di balas dengan anggukan.

"Wonwoo-ya? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Seungcheol melihat kejadian yang cukup romantis itu.

"ah, hyung kenalkan ini Kim Mingyu teman ku, Mingyu ini Hyung ku Seungcheol" jelasnya dan Mingyu memberi salam.

"Jadi apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya dengan nada yang sedikit entahlah mungkin menganggu.

"ah, kita hanya berbincang saja hyung."

"hmmmm dengan berpegangan tangan seperti itu?" Membuat tidak sengaja mereka dengan cepat melepaskan tanganya seperti maling yang baru saja tertangkap basah sedang mencuri.

"eh.. hemmm... itu?"

"Ku lihat kau juga menyuapi adik ku?"

"eh.. itu.. emmm?"

"Ah aku hanya ingin agar Wonwoo mencoba cake ini hyung" balas Mingyu

"tapi kalian kan memesan cake yang sama" desak Seungcheol.

'Bodohnya kau Kim Mingyu! Harusnya kau berfikir dengan lebih cerdas lagi' umpatnya dalam hati.