Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

'Apa aku akan menjadi seorang monster seperti mereka?'

.

.

.

Bab 15 [ Monster ]

Bolehkah Sasuke menyesali apa yang sudah dia putuskan sebelumnya, tidak! Bukan berati Sasuke tidak mau membantu Itachi dan Naruto untuk mencapai kebahagiaan mereka. Justru di dalam hati kecilnya, dia ingin sekali Itachi dapat hidup bahagia bersama orang yang dicintainya, tanpa bayang-bayang kematian yang menghantui kehidupannya tanpa kenal lelah.

'Apa kau yakin Tuhan akan memaafkanku setelah ini?'

Sasuke menyodorkan note miliknya pada ketiga orang di hadapannya. Onyx miliknya memandang ragu satu buah pisau tajam yang di sodorkan Deidara kepadanya. Kedua tangannya mengalami serangan tremor mendadak.

"Aku tidak tahu, tapi bagaimana cara kita mengalahkan monster tanpa menjadi salah satu dari monster itu sendiri. Terdengar munafik memang, tapi itulah kenyataannya un."

Jawaban Deidara membuat Sasuke tersentak, ekspresi terkejut tergambar jelas di wajah tampannya.

"Kau bisa mundur sekarang, kami tidak memaksamu untuk ikut dalam misi ini. Sejak awal memang dunia kita sudah berbeda Sasuke. Kau tidak harus mengotori tanganmu sendiri."

Ujar Sasori bijak. Dia bisa melihat dengan jelas keraguan di kedua mata onyx Sasuke.

'Kenapa kita tidak memaafkan saja mereka? Dengan begitu kita tidak harus menjadi salah satu dari mereka.'

Sasuke menyodorkan lagi notenya kepada ketiga orang yang berdiri mengelilinya.

"Hahaha kau terlalu naif Sasuke. Kau pikir berapa nyawa orang yang tidak berdosa yang akan melayang jika kita memaafkan mereka hm?"

Sasuke menggeleng, tidak itu bukan termasuk kedalam maksud ucapannya. Tidak ada orang yang seratus persen jahat, ataupun baik. Pasti ada perpaduan diantara keduanya. Hal itulah yang di yakini Sasuke hingga saat ini. Karena itu dia berusaha mencari mungkin saja ada kebaikan yang bisa mereka pertimbangkan. Naif bukan?

"Dengarkan aku, kami melakukan tugas ini bukan semata-mata untuk menyodorkan nyawa seperti idiot. Kami menjalankan tugas ini karena kami ingin melindungi orang yang hidup di dunia atas, untuk itulah kami rela menjadi salah satu dari mereka dan terjun ke dunia bawah. Ku harap kau mengerti Sasuke."

Sahut Yahiko yang sejak tadi diam tanpa suara. Dia tidak bisa terus membiarkan Sasuke dengan pemikiran naifnya. Karena kenyataannya, dirinya sendirilah yang menukarkan kehidupan indahnya di dunia atas untuk ikut terjun ke dalam permasalahan dunia bawah. Dimana si pemikur naif seperti Sasuke hanya akan menjadi sasaran empuk bagi tikus pengerat itu untuk memuluskan jalan mereka.

Merasa argumennya tidak akan diterima, akhirnya Sasuke mengangguk pasrah. Tangan kanannya terulur mengambil senjata tajam yang disodorkan oleh Deidara.

Ya, sekarang bukan saatnya berpikir sempit. Tidak semua hal harus sesuai dengan ekspetasi, dia harus mau sadar dan menerima kenyataan.

'Aku tetap akan membantu kalian. Mohon bantuannya.'

.

.

.

.

Sasuke bersembunyi di balik tiang penyangga sebuah rumah kosong yang menjadi lokasi penyergapan. Di telinganya terpasang earphone untuk menerima arahan dari rekannya yang lain.

"Raven roger, musuh arah jam dua bunuh senyap roger!"

Sasuke memencet tombol di earphone yang terpasang di telinga kirinya, sebagai tanda dia mengerti arahan yang di berikan.

Tangannya yang memegang senjata terkepal erat, sementara tangan yang lain merogoh cermin kecil yang sudah disiapkan sebelumnya, mengarahkan cermin itu pada arah yang di tunjukkan oleh Yahiko. Dari pantulan cermin itu dia melihat seorang laki-laki berbadan tambun yang berdiri di depan sebuah pintu usang dengan membawa senjata api laras panjang yang tersembunyi di balik punggungnya.

Dengan hati-hati Sasuke melangkah mendekat, tanpa mengendurkan kewaspadaan, hingga akhirnya Sasuke berdiri di belakang sosok tambun itu. Dengan hati-hati Sasuke berjalan mendekat dan –

Sret

Hmmmp!

Sasuke berhasil melenyapkan satu nyawa untuk pertama kalinya. Onyx kelamnya memandang kosong mayat yang tergeletak di hadapannya. Aneh, dia tidak merasa bersalah setelah menghilangkan nyawa seseorang. Justru dia merasa puas melihat darah segar yang mengalir deras dari urat nadi di leher si mayat. Kemudian muncul pertanyaan yang selalu dia takutkan 'Apa aku akan menjadi seorang monster seperti mereka?'.

"Roger Raven! Kerja bagus, tunggulah di luar, kami akan masuk ke dalam sekarang. Jika kami butuh bantuan aku akan menghubungimu roger!"

Sasuke mengangguk, tanpa mengedipkan mata dia membersihkan darah yang mengotori pisaunya dengan sapu tangan dan menyimpan lagi pisau itu di dalam kantong celana.

.

.

.

.

.

Deidara memandang jijik ruangan yang dulu pernah menjadi ruangan pribadinya. Baru dia sadar, udara segarpun tampaknya enggan menyambangi ruangan ini.

"Menjijikkan un!"

Gumam Deidara sambil menutupi lubang hidungnya. Mata birunya memandang tanpa minat puluhan tubuh tanpa nyawa yang tergeletak tak berdaya memenuhi ruangan.

"Hoi! Apa kau masih mau disini? Urusan kita sudah selesai!"

Deidara menoleh kebelakang, memandang tajam sosok Sasori yang juga memandang tajam kearahnya. Ah! Tidak semudah itu membuat Sasori memaafkannya.

"Bagaimana dengan si tua bangka itu?"

Sasori mengangkat tangan kirinya, menunjukkan potongan kepala sosok yang tadi di tanya oleh Deidara. Mata ular yang dulu terlihat berbahaya kini tampak hampa. Raut kesakitan terlihat jelas di wajah si 'tua' bangka yang dulu dia panggil 'orochimaru' si bos besar.

"Wajahnya membuat asam lambungku naik, cepat singkirkan."

Sasori menaikkan sudut bibirnya. Membentuk sebuah seringai menyeramkan yang mungkin akan membuat musuh bergidik ngeri. Tapi tidak untuk rekan setimnya sendiri.

"Tapi kau pernah menjadi tangan kanan si tua bangka ini kalau kau lupa Dira-san."

Brak

Yahiko yang sedang memeriksa keadaan sekitar terkejut dengan pernyataan Sasori. Matanya melirik kearah Deidara, memastikan ekspresi seperti apa yang akan di tunjukkan rekan pirangnya itu.

"Ya! Aku memang pernah menjadi tangan kanannya dan selama itu pula aku terasa hidup di dalam neraka!"

Air muka Deidara mengeras, ada perasaan kecewa bercampur rasa bersalah yang terpancar jelas di kedua manik birunya. Wajahnya memerah menahan gejolak emosi yang menggedor pintu kesabarannya. Memang dia salah, dia tahu itu. Tapi tidakkah Sasori tahu dia juga sedang mengalami dilema saat menjalankan tugas itu. Tidak tahukah Sasori bahwa hati nuraninya menangis sepanjang malam karena rasa bersalah atas ribuan nyawa yang melayang di tangannya.

"Yare yare, apa kita sedang kedatangan tamu?"

Deidara terkejut mendengar suara seseorang yang dulu pernah menjadi salah satu rekannya. Sial, ini tidak akan mudah!

"Jangan terlalu tegang begitu, aku tidak akan membunuh kalian. Membuang waktu saja. Aku hanya mau mengambil barangku yang tertinggal."

Laki-laki bersurai perak yang mengenakan masker untuk menutupi wajahnya terlihat santai berjalan melewati ketiga orang disana.

Sret

Tap

Tangan si perak berhasil menghentikan laju pisau yang diarahkan kepadanya.

"Kupikir aku bisa membiarkan kalian melarikan diri tanpa perlu mengotori tanganku. Tapi sepertinya kalian tidak menghargai kebaikanku. Ma, apa boleh buat."

Laki-laki bersurai perak itu membuang pisau yang tadi di lemparkan Sasori kepadanya.

"Ini tidak akan mudah."

Gumam Deidara saat melihat raut kemarahan tercetak jelas di satu mata si perak yang tidak tertutupi masker.

"Sebaiknya kalian berhati-hati, dia itu psikopat gila!"

TBC