Tears of Us
Shiroi Kage's project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME,
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
Kedalam kategori apa kami berada?
.
.
.
Bab 16 [ Abu-Abu ]
Ada dua tipe orang secara umum di dunia ini, orang baik dan juga orang jahat. Disebut orang baik bukan karena dia selalu berbuat baik, karena tidak ada satupun manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Seseorang dapat di katakan baik, jika dia mampu menahan sifat buruknya dan senantiasa berbuat baik. Begitupun untuk orang yang jahat, tidak mungkin seseorang hanya melakukan kejahatan di seluruh catatan kehidupannya. Pasti ada sedikit kebaikan di dalam kehidupannya, walaupun mungkin saja kebaikan itu akan tenggelam diantara kejahatannya.
Lalu dimanakah kami berada?
Kami yang menghirup udara yang sama dengan para tikus got yang menjadi momok utama di negara ini. Kami yang ikut mengangkat senjata untuk melenyapkan nyawa mereka yang mengganggu ketenangan. Apa kami termasuk kedalam orang baik? Karena apa yang kami lakukan semata-mata untuk menegakkan keadilan. Atau mungkin apakah kami termasuk kedalam orang jahat? Karena begitu ringannya kami melayangkan nyawa hanya demi tuntutan misi.
Kedalam kategori apa kami berada?
.
.
.
.
.
Lututnya terasa kebas. Sudah lebih dari dua jam Itachi duduk bersimpuh di hadapan ruang kerja ayahnya. Bermodalkan niat serta demi kebaikan bersama Itachi mencoba menghadap sang Ayah. Niat hati ingin mengutarakan keinginan hati yang selama ini terpendam tanpa berani terucap, tapi apa daya jika sang Ayah tidak juga mau membukakan pintu ruang kerjanya. Laki-laki paruh baya itu tetap pada pendiriannya.
"Itachi-kun, biar kaa-san yang bicara pada ayahmu."
Itachi menggeleng, menolak tawaran yang di berikan sang ibu. Bukannya dia tidak menghargai niat baik sang ibu, hanya saja Itachi tidak mau ibunya terlibat terlalu jauh.
"Aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri kaa-san. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu berlindung di balik punggungmu."
Mikoto menggeleng, tidak terima pada penuturan Itachi. Yang dia tahu, anak sulungnya itu bahkan tidak pernah sekalipun mengeluh padanya. Dia selalu berusaha terlihat kuat. Di usianya yang masih belia dia harus berpikiran dewasa, lebih miris lagi ketika Mikoto ingat bahwa tidak ada kenangan masa kecil yang dimiliki oleh Itachi. Ah, kecuali saat pertemuannya dengan gadis pirang yang kini menjadi istrinya.
"Maafkan kaa-san Itachi."
Hanya tiga kata itu yang mengantarkan Mikoto melangkah pergi meninggalkan Itachi. Mengawasinya dari jauh dan memastikan anak bungsunya tidak lagi terluka.
Kriet
Pintu ruang kerja Fugaku terbuka. Menampilkan sosok pria dewasa yang tidak pernah berkurang aura wibawanya. Sorot onyxnya menajam melihat Itachi yang duduk bersimpuh di depan ruangannya dengan kepala tertunduk.
"Siapa yang mengizinkanmu merendah seperti itu?"
Suara berat sang ayah mengagetkan Itachi. Kepalanya mendongak demi melihat figure ayah yang lebih seperti atasannya selama ini.
"Tou-san, tolong bubarkan kelompok kami."
Fugaku tidak menjawab. Hanya pandangannya yang kian menajam. Wajahnya mengeras mendengar penuturan Itachi yang di nilainya begitu lancang.
"Kami sedang melakukan operasi terakhir kami. Setelah memastikan Hebi lenyap, izinkan kami untuk hidup dengan normal."
Fugaku menatap putra sulungnya dalam diam. Jujur saja di balik kekerasan hati dan egonya. Dia tetaplah seorang ayah. Dia juga ingin melihat anaknya bahagia. Tapi apa daya, keegoisan dan juga tuntutan pekerjaan yang membuatnya melakukan ini semua.
"Aku juga ingin menjadi ayah. Aku juga ingin melihat anak-anakku tumbuh seperti anak-anak normal lainnya. Tidak seperti ayahnya."
Pertahanan Fugaku sedikit retak melihat air mata jatuh membasahi putra sulungnya. Seburuk itukah dia selama ini? Selama ini Itachi tidak pernah sekalipun membantah perintahnya, sekalipun itu berati dia harus menyodorkan nyawa pada malaikat kematian. Itachi tetap tidak menolak.
"Akan ku pikirkan. Angkat kepalamu dan jangan merendahkan diri dihadapan orang lain. Ingat darah Uchiha yang mengalir di tubuhmu, Itachi."
Itachi mengangguk paham. Tangannya menyentuh lantai untuk membantunya berdiri, tapi sepertinya dia terlalu lama duduk bersimpuh hingga kakinya terasa seperti jelli
Sret
Hampir saja Itachi akan menyentuh lantai, jika saja Fugaku tidak menahan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.
"Bahkan untuk berdiri saja kau tidak bisa."
Itachi tersenyum samar, meskipun ucapan ayahnya lebih terdengar seperti ejekan, tapi Itachi tahu, ada nada khawatir yang terselip di dalamnya.
"Maafkan aku Tou-san."
Fugaku mengangguk singkat dan membantu Itachi melangkah menuju kamarnya.
.
.
.
.
.
-Markas Hebi-
Setelah pertempuran hebat yang terjadi di markas Hebi, akhirnya Deidara, Sasori dan Nagoto harus terpojok oleh satu orang-orangan sawah bermasker yang menyebut dirinya Kakashi. Deidara menatap tajam Kakashi yang kini berdiri tidak lebih dari lima senti dihadapannya. Dengan moncong pistol yang di paksa masuk kedalam mulutnya.
"Aku tidak suka membunuh sesama anggota. Tapi jika dia anggota penghianat apa boleh buat."
Ucap Kakashi sing a song. Deidara tidak gentar. Tidak ada ketakutan sedikitpun dari sorot mata birunya. Hanya ada keyakinan kuat bahwa semua ini akan berakhir.
"Selamat tinggal, Dira-san."
Dor!
"Dei!"
Satu nyawa melayang bersamaan dengan suara letusan timah panas yang menggema di ruangan pengap itu.
Bruk
Satu tubuh ambruk tanpa perlawanan. Matanya yang kosong melotot tidak percaya. Seolah ingin mengatakan 'Kenapa harus dia yang mati sekarang?'.
"Kau gila!"
Seru Yahiko setelah tersadar dari keterkejutannya melihat drama gratis yang tersaji di hadapannya. Matanya menatap tajam sosok Sasuke yang tidak dia sangka mampu membuat jantungnya hampir saja berhenti berdetak.
"Kau mau membunuhku un!"
Seru Deidara tidak terima, matanya melotot tidak suka pada si bungsu Uchiha yang justru tengah memasang seringai mengejek yang dia yakin ditujukan kepadanya.
"Semuanya sudah berakhir kah?"
Tanya Sasori ketika matanya memandang sosok Kakashi yang kini terbaring tanpa nyawa. Luka akibat timah panas yang bersarang tepat di jantungnya terlihat mengerikan.
"Sekarang lepaskan kami un, tanganku sakit!"
.
.
.
.
.
Flashback
.
.
.
.
Tap tap tap
Sasuke menatap awas sekelilingnya. Alarm bahaya berbunyi di keras di dalam kepalanya. Onyxnya menatap figure seorang laki-laki dewasa yang berjalan santai menuju kearahnya. Sial!
Berusaha untuk tidak terlalu membuat keributan, akhirnya Sasuke melangkah dengan hati-hati menjauh atau lebih tepatnya bersembunyi di balik tembok. Dan usahanya berhasil, laki-laki bersurai perak itu tidak sadar akan keberadaannya. Sasuke tidak langsung menyusul para rekannya di dalam. Dia memilih untuk tetap di luar sambil menganalisis keadaan, jika situasi berubah tidak kondusif dia akan turun langsung. Begitulah pemikirannya.
Lama Sasuke menunggu, hingga di dengarnya suara pesakitan para rekannya yang nyaring terdengar. Mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Sasuke memutuskan untuk masuk kedalam. Sasuke memandang horor pemandangan di hadapannya. Banyak mayat berserakan di lantai. Mengabaikan bau busuk yang menyambangi hidungnya, Sasuke terus berjalan masuk kedalam. Ah, sebelum itu dia sempat mengambil satu pistol dari tangan mayat yang secara tidak sengaja di lewatinya.
"Selamat tinggal, Dira-san."
Sasuke menoleh ke samping, dia melihat para rekannya sudah dalam kondisi terdesak. Tanpa memikirkan kemungkinan tembakannya akan meleset, Sasuke mengarahkan moncong pistolnya kearah laki-laki bersurai perak.
Dor
Berhasil. Dia berhasil melumpuhkan laki-laki perak itu dalam satu kali tembakan.
.
End Flashback
.
.
.
.
.
Hosh hosh hosh
Itachi berlari menyusuri koridor rumah sakit. Kakinya yang belum terlalu sembuh pasca aksi berlututnya di depan ruang kerja ayahnya sudah dia paksakan untuk terus bergerak. Berita mengenai rekan kerjanya yang masuk ke rumah sakit langsung membuatnya panik.
"Dimana mereka?"
Tanya Itachi ketika berpapasan dengan Kisame. Kisame yang melihat penampilan Itachi tampak mengkerutkan kening. Baru kali ini dia melihat penampilan Itachi yang terlihat berantakan. Rambut yang tidak diikat, baju kaos yang tampak kusut, dan sejak kapan si sulung Uchiha memakai celana pendek?
"Kau sehat?"
Kisame justru balik bertanya.
"Apa maksudmu?"
Itachi mendelik tidak suka. Bagaimana Kisame bisa sesantai ini, rekan kerja mereka sedang dalam keadaan kritis -menurut pemikiran Itachi.
"Well, ini pertama kali aku melihatmu terlihat seperti gembel begini."
Kisame memandang Itachi dari atas kebawah lalu keatas lagi. Perutnya terasa geli melihat penampilan sang pangeran Uchiha. Tapi dia masih sayang nyawa untuk tertawa lepas di hadapan Itachi.
"Persetan dengan itu. Katakan dimana mereka!"
Kisame mengangguk ringan, dia berjalan mendahului Itachi untuk menunjukkan dimana ruangan tempat rekannya di rawat.
Kriet
"Kalian bosan hidup atau apa?"
Bukannya kalimat seperti 'apa kalian baik-baik saja' Itachi justru langsung memarahi ke empat, tunggu kenapa ada empat orang yang di rawat disini.
"Kenapa kau disini otouto?"
Itachi berjalan mendekat kearah Sasuke. Onyxnya memeriksa setiap jengkal tubuh adik semata wayangnya. Lalu helaan nafas lega keluar dari bibirnya saat tidak menemukan luka apapun di tubuh Sasuke.
"Kenapa kalian melibatkan Sasuke?"
Baik Deidara, Sasori, Yahiko maupun Kisame tampak tegang mendengar ucapan Itachi yang terdengar agak lebih dingin dari biasanya.
"A-ah Sasuke sendiri yang meminta ikut kedalam operasi."
Yahiko menjawab dengan susah payah. Sekarang dia hanya perlu berdo'a agar jawabannya tidak membuat Itachi semakin murka.
"Lalu kenapa kau tidak melarangnya! Kalau dia terluka apa kau akan tanggung jawab?"
Sasuke menarik ujung kaos Itachi, lalu menyerahkan note miliknya kearah Itachi.
'Jangan salahkan mereka. Aku sendiri yang memaksa untuk ikut.'
Itachi mengembalikan note milik Sasuke.
"Tapi kau bisa saja terluka Sasuke."
Sasuke menggeleng.
'Aku tidak peduli, asalkan kau bisa bahagia.'
Itachi tersenyum miris membaca tulisan tangan Sasuke.
Tok tok tok
"Permisi, apa Sasuke ada?"
Itachi mengerutkan kening melihat seorang dokter yang tampak tidak asing untuknya.
"Ada apa kau mencari Sasuke, Tsunade-san?"
Tanya Itachi cemas. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada adiknya kan?
"Kau ada disini Itachi? Kalau begitu bisa ikut aku sebentar."
.
.
.
.
.
Itachi menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa-apaan ini, kenapa dia tidak tahu sama sekali mengenai hal ini. Terlihat jelas jika ada semacam kabel yang melilit kerongkongan Sasuke dari hasil ronsen.
"Sejak kapan?"
Tsunade menghela nafas berat.
"Sejak penculikan Sasuke dan Naruto. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun saat itu. Aku bisa saja menghilangkan dua nyawa sekaligus jika tidak hati-hati."
Itachi mengerutkan kening, gagal paham pada ucapan Tsunade.
"Kau pasti akan kaget mendengarnya. Sebenarnya yang ada di kerongkongan Sasuke adalah pemicu bom yang di tanamkan di jantung Naruto."
Shit!
Ingin sekali Itachi berkata kasar. Tidak habis pikir tentang kegilaan Orochimaru. Bagaimana bisa dia begitu menikmati kegilaannya dengan membuat nyawa orang lain sebagai permainan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang."
Tsunade tampak ragu mengatakannya. Tapi ini demi kebaikan bersama, jadi walaupun kemungkinan berhasilnya mendekati angka nol tapi hanya ini satu-satunya pilihan yang tersisa.
"Aku harus membunuh Sasuke."
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Omake
Sejak saat Sasuke di perbolehkan keluar dari rumah Sakit, bungsu Uchiha itu tetap tidak mau mengatakan apapun. Bibirnya selalu terkatup rapat. Enggan mengatakan apapun. Hal ini jelas membuat Itachi dan keluarnya panik.
Mereka mengira Sasuke mengalami trauma akibat kejadian itu. Tapi apa yang mereka pikirkan tidaklah benar. Nyatanya Sasuke sama sekali tidak mengalami trauma. Dia hanga menjaga agar Naruto tetap hidup, karena itulah dia mengorbankan suaranya sendiri dan hidup dalam kebisuan.
Sret sret
Sasuke yang sedang berlari-lari pagi di trotoar jalan raya mendengar suara gesekan aneh dari arah rerumputan taman. Dengan berbekal rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Sasuke berjalan mendekat.
Sret
Sasuke menyibak rimbunan rumput yang menghalangi pandangannya.
"Ukh, tolong aku."
Sasuke melihat seorang laki-laki yang tampaknya tidak asing untuknya. Tapi dia lupa dimana pernah mengenal laki-laki ini. Kondisi laki-laki bersurai orange itu terlihat berantakan. Tubuhnya penuh dengan luka lebam dan cambukan, Sasuke sendiri yakin jika tidak segera di rawat bisa saja luka-luka itu akan terjadi infeksi.
Sasuke segera memanggil ambulance untuk membawa laki-laki itu ke rumah sakit. Satu-satnya harapan Sasuke adalah agar dia tidak terlambat. Setelah mengetikkan lokasi tempatnya berada, Sasuke segera memeriksa kondisi laki-laki itu.
"Argh!"
Laki-laki itu memegangi kaki kirinya yang terus mengeluarkan darah. Sasuke segera menyobek kaos yang di kenakannya dan mengikat kaki laki-laki itu untuk menghentikan pendarahannya. Semoga tidak terlambat.
Tidak lama suara sirine ambulance membuat Sasuke bernafas lega, dia menunjuk kearah laki-laki yang terlihat tidak berdaya di balik semak-semak.
.
.
.
Dari saat itulah Sasuke mengenal Yahiko. Pertemuan tidak terduga yabg justru menunjukkan bahwa dunia terasa begitu sempit dengan hanya berputar pada satu poros yang sama dengan orang-orang yang sama.
.
.
End Omake
