Something Called Love by LukeTan

Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, Plot cerita punya author dengan gendre BoysLove apabila tidak menyukainya mohon jangan di baca. karena author juga manusia mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pengetikan dan hal lainnya.

Line 4

"Seungcheol kau saja yang terlalu negative thinking" kata Jisoo
"Lalu darimana Wonwoo mempelajari kata-kata itu? Kau tau kan dongsaeng ku yang satu itu tidak mungkin mengetahui kata itu kalau bukan dari orang lain?" keluh Seungcheol setelah menanyakan kepada Mingyu apa yang ia katakan kepada dongsaengnya tapi hanya di balas dengan ketidaktahuan.

"Mengapa tidak kau tanyakan langsung saja Cheollie?" kata Jeonghan
"Mengatakan kata itu saja aku tidak sanggup kalau berada di depannya. Hannie? Bisakah kau menanyakan padanya?" pintanya.
"Aku saja Seungcheol yang menanyakannya!" kata Jun
"Ya! Buaya sepertimu tidak akan ku izinkan untuk menanyakan padanya. Aku tak mau kau mengambil kesempatan." Jelas Seungcheol.
"Mungkin ia tau dari teman sekelasnya? Kau tau kan? Pergaulan sekarang banyak "Byuntae" karena penggunaan Internet yang tidak dilakukan dengan bijak." Terka Jisoo.
"Aku tidak akan menanyakannya! Menurutku Wonwoo sudah harus mengerti hal-hal seperti ini agar tidak mudah di bohongi Pria lain?" jelas Jeonghan.
"Aku setuju dengan Jeonghan." Kata Jisoo. Kalau sudah Jisoo dan Jeonghan yang berkata seperti itu maka mau tidak mau Seungcheol hanya akan mengikuti saran mereka.

"tapi memangnya Wonwoo menyukai pria? Bisa saja kan dia memiliki ketertarikan pada wanita?" tanya Jisoo pada saat jalan kembali ke asrama.
"ah, kalau soal itu seperinya tidak mungkin." Balas Seungcheol
"mengapa begitu? Apakah sebelumnya dia pernah menerima perlakuan buruk? Tapi bukannya ia akan melupakannya?" tanya Jun.
"Iya dia memang akan melupakannya. Tapi secara tidak sadar maka ia tidak akan mengulangi apa yang pernah terjadi. Dia sebenarnya tidak suka di panggil manis karena seorang perempuan tidak mau berkencan dengannya karena kalah manis dengan dia. Bahkan sekarang kau lihat sendiri, Dongsaengku itu bukan hanya manis lagi, tapi sekarang bertambah cantik juga." Jelas Seungcheol.
"iya dia memang cantik dan manis. Bahkan aku jatuh hati padanya." Kata Jun sambil memegang dagunya seakan memikirkan Wonwoo.
"Jangan ganggu dongsaeng ku! Aku tak mau persahabatan kita rusak karena kau menyakiti dongsaeng ku, maka dari itu aku sebenarnya memintamu untuk tidak menyukainya." Pinta Seungcheol.

Kata-kata seungcheol masih terngiang di benak Jun. Benar juga, Wonwoo itu bagaikan gelas crystal. Apabila sudah pecah tidak akan kembali lagi menjadi gelas yang utuh. Apabila ia melakukan hal yang "salah" maka ia akan di lupakannya. Maka Jun berpikir untuk menjadi "hyung" yang baik untuk Dongsaengnya.

-LukeTan-

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Musim semi berganti menjadi musim panas. Selama itu pula, Wonwoo masih dekat dengan Mingyu. Mingyu tidak hanya mendekati Wonwoo saja, jangan berpikiran negatif. Maksudnya Mingyu mendekatkan diri kepada Seungcheol juga karena ia tahu kalau ia ingin mendekati Wonwoo ia juga harus melunakan hati Hyungnya yang Over Protective terhadap Wonwoo.
Mingyu itu anak yang cerdas sebenarnya tetapi dia memang anak yang tidak peka terhadap kondisi, selain itu ia pribadi yang ceria sehingga memiliki banyak teman. Terkadang iajuga merupakan anak yang manja, tetapi ia akan mengurangi sifat itu kalau berada di depan Wonwoo.

"Apa lagi yang kau lakukan disini?" tanya Seungcheol melihan Mingyu datang ke Cafe.
"Hyung, jangan begitu seakan aku penganggu." Balas namja tersebut sambil membuat wajah merajuk.
"Kau memang penganggu. Heran mengapa Dongsaengku yang manis itu mau saja berdekatan dengan Namja yang dekil seperti mu." Balas Seungcheol sambil menatap sinis Mingyu.
"Jangan begitu Seungcheollie, setidaknya ia tidak membawa kabur dongsaeng kesayangamu itu." Balas Jeonghan.
"kalau sampai itu terjadi keujung dunia pun aku akan mencarinya!" kesal Seungcheol.

"Hyung, Ah kau datang lagi Gyu? Kau ingin memesan apa?" tanya Wonwoo.
"Kalau bisa aku ingin memesan mu Wonu-ya." Sambil mengedipkan matanya kearah Wonwoo.

*plak*

"Appo hyung" kata Mingyu yang di pukul buku menu oleh Seungcheol.

"Hyunggie, itu buku menu baru! Jangan sampai rusak lagi. Kau bahkan sudah merusak 5 buku menu minggu ini." Kata Wonwoo.
"Wonnie hyung! Kau tidak mengkhawatirkan diriku." Rajuk Mingyu.

"kasihan Gyuie" sambil mengelus kepala Mingyu yang tadi dipukul hyungnya. Senyum mingyu cerah karena perlakuan Wonwoo.

"Sudah, lebih baik kau cepat ingin memasan apa! Dasar manja!" balas Seungcheol yang Jengah akan tingkah laku Mingyu.
"hyung jangan begitu. Kasihan Mingyu." Bela Wonwoo.
"Tidak apa Wonnie, mungkin itu bentuk perhatian Seungcheol hyung kepadaku." Sambil tersenyum senang karena di bella Wonwoo.
"benar sekali Wonu-ya, akuperhatian dengannya dengan cara seperti ini." Kata Seungcheol sambil menepuk pundak Mingyu dengan cukup keras sambil tersenyum.
"Begitu aku senang mendengarnya." Kata Wonwoo sambil tersenyum yang di balas Mingyu dengan senyum yang terpaksa.

"sebentar lagi libur hyung akan kemana?" tanya Mingyu.
"Ya! Lebih baik kau memikirkan ujian mu saja. Sebelum liburan kita masih ada ujian dulu. Apa lagi kau akan ujian kelulusan," dibalas Seungcheol agak sinis.
"Hyung juga tidak pernah belajar kalau ujian." Balas Wonwoo polos.
"benarkah? Tadi dia bercerita kalau dulu saat masih sekolah menengah dia sangat rajin." Balas Jeonghan yang sedari tadi hanya mendengarkan.
"Hyung kenapa tidak jujur saja kepada pacarmu. Kau bilang tidak boleh berbohong." Balas Wonwoo dengan cemberut kepada Seungcheol tetapi Jeonghan mendengar perkataan Wonwoo tadimembuatnya bersemu malu.
"eh, tapi hyung mu ini belum menyatakan perasaannya kepada ku Wonnie-ya." Balas Jeonghan.
"hmmmm... hyung kau harus segera menyatakan perasaan mu kalau begitu."
"ehh... mungkin nanti saja aku masih belum menemukan momen yang tepat." Bela Seungcheol.

Sebenarnya Seungcheol bukannya tidak berpacaran dengan Jeonghan akan tetapi ia hanya menyembunyikannya dari yang lain. Bukan karena malu untuk memiliki hubungan dengan Jeonghan akan tetapi ia takut kalau nanti Wonwoo tau dia berpacaran makan Wonwoo apabila di dekati dengan namja lain dan Wonwoo berpacaran dan di larang oleh Seungcheol maka Wonwoo akan protes. Maka dari itu hanya Josua saja yang tau dan yang lainnya tidak mengetahui statusnya saat ini.

"Jadi hyung kemana liburan kali ini?" tanya Mingyu lagi.
"pulang? Aku ingin bertemu appa, sudah lama tidak bertemu. Biasa hanya 2-3 minggu di tinggal appa untuk perjalanan kerja. Hyung langsung pulang?" tanya Wonwoo.
"Ani, aku akan ke tempat Josua dan Jeonghan dulu baru liburan di rumah."
"Aku sendirian pulang?" rajuk Wonwoo.
"aku ikut hyung! Aku bosan kalau hyung pergi"
"ten-"
"Ani! Siapa suruh kau ke rumah?" potong Seungcheol.
"Gimana sih hyung? Katanya mau ke rumah Josua hyung dulu? Aku kan tidak mau hanya pulang sendiri. Ijinkan Mingyu untuk menemaniku setidaknya untuk pulang" balasnya sambil memberikan puppy eyes andalannya untuk mengijinkan Mingyu untuk ikut.
"tapi..."
"sudahlah Seungcheollie, kan Mingyu juga baik. Akuyakin ia akan menjaga Wonnie, iyakan?" Jelas Jeonghan
"pastinya Hyung! Aku akan menjaganya!"
"Percayalah pada orang lain kalau dia akan menjaga dongsaengmu. Mau sampai kapan kau selalu overprotective terhadap dongsaeng mu? Wonnie juga sudah besar kan bisa menjaga dirinya sendiri? Selain itu Mingyu juga selalu berlaku baik." Bela jeonghan lagi sebelum Seungcheol memotong perkataannya.
"Iya hyung, aku kan sudah besar juga. Lagi pula kasian Mingyu kalau kesepian. Lagi pula aku juga ingin melakukan hal baru juga dengan Mingyu."
"Hal baru seperti apa?! Ani! Jangan lakukan hal yang aneh." Balas Seungcheol panik.
"Hal aneh? Aku ingin sekali pergi ke Festival kembang api hyung."
"cuci otak mu dulu Seungcheollie, pikiran mu selalu saja ke hal-hal lain" kesal Jeonghan.
"hal-hal lain seperti apa maksud hyung?" tanya Wonwoo.
"sudah hyung, tak usah di dengarkan. Aku yakin Seungcheol hyung hanya lagi pusing karena sebentar lagi akan ujian. Jadi bagaimana hyung aku boleh kan ke rumah kalian " Kata Mingyu membantu mengalihkan.
"hmmmm... baiklah aku akan mencoba percaya padamu." Kata Seungcheol.
"hyung..." kata Wonwoo duduk dipangkuan hyungnya dan memeluk erat.

Wonwoo tidak tau mengapa ia sangat merasa senang karna hyungnya mengijinkan Mingyu untuk ikut berlibur dengannya. Selain Jihoon tidak ada lagi teman yang dekat dengannya maka dari ituhanya Jihoon saja biasanya yang akan datang ke rumahnya.

"Hoonie, kau masih lama di sini" tanya Soonyoung memasuki studio.
"Tidak, kenapa?"
"Aku bosan, Mingyu selalu datang, dan kau hanya bebrapa kali saja mengunjungi cafe. Kau tidak ada rencana untuk mengunjungi ku di cafe?" tanyanya lagi.
"Tidak, untuk apa aku kesana? Apa hubunganya Mingyu sering ke sana sedangkan aku tidak?"
"Aish... maksudku ya kau seharusnya mengunjung cafe juga. Jangan terlalu sibuk dengan studio ini, aku merasa di kesampingkan dengan alat-alat si ruangan ini." Balasnya.
"memang kau pikir kau siapa aku harus memprioitaskan dirimu? Sudahlah, nanti aku kalau sempat kesana."
"benar ya, aku tunggu." Lalu mencium pipi Jihoon.
"Ya!" belum sempat Jihoon memarahi Soonyoung, sang pelaku sudah pergi meninggalkan ruangan. "dasar pria itu, benrani-beraninya membuat hatiku berdebar" monolognya.

Soonyoung merupakan pria yang bisa di katakan nekat dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang ingin dia lakukan. Entah berapa kali Soonyoung melakukan hal-hal yang kecil dan manis kepada Namja yang selalu terlihat jutek itu.

Selama minggu pertama ujian Wonwoo tidak bertemu dengan hyungdulnya. Hanya Yanan yang juga sibuk dengan ujiannya dan juga teman sekelasnya. Wonwoo prihatin dengan keadaan Yanan yang merupakan teman sekamarnya sepertinya sudah sangat setress dengan ujian yang memang sangat sulit ketika kau berada di sekolah umum.

"Yanan-ah, ini hari sabtu. Bukankah sebaiknya kau beristirahat sementara." Katanya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam." Tanya Wonwoo.
"tapi Wonu-ya, ini sungguh sangat sulit. Senin ujian matematika dan aku sungguh sangat pusing dengan segala rumus dan soal-soal ini."
"coba aku cari bagaimana cara menghilangkan stress" kata Wonwoo dan segera mencarinya di browser.
"Bagaimana?" sambil mendekat ke kasur Wonwoo.
"melakukan Hobi? Aku rasa tidak mungkin saqat malam seperti ini."
"Komunikasi? aku memang sedang berkomunikasi dengan mu kan Wonu tapi aku rasa kurang ampuh." Katanya saat melihat Ponsel Wonwoo.
"Meditasi? Aku rasa ini sangat sulit." Kata Wonwoo menscroll ponselnya.
"mandi dengan berendam? Itu ide yang bagus. Tapi sehabis itu apa lagi yang harus kulakukan."
"Ah aku tau ini ada pemijatan. Aku bisa melakukannya. Aku selalu memijat ayah kalau dia sudah terlalu lelah." Balas Wonwoo.
"Baiklah, lalu apa lagi ya." Tanya Yanan.
"Sex ... " Wonwoo merona setelah membacanya. Ia sungguh sangat malu saat mengucapkannya.
"ah itu tidak dapat kita lakuakan"
"bagaimana dengan Masturbasi? Aku bisa membantumu kalau hanya itu." Ide Wonwoo yang sungguh gila karena ia tau kalau Masturbasi tidak nelakukan hal yang aneh seperti oralsex menurutnya.
"ah... ani... tidak usah repot-repot Wonu-ya" gugup Yanan.
"ya sudah kau berendam saja dulu, nanti aku akan menyiapkan lilin aroma terapinya dan juga minyak pijat aroma untuk menenangkan mu sehingga nanti saat pagi kau bisa belajar kembali." Dan di ikuti dengan Yanan yang mengikuti saran Wonwoo.

Saat Yanan keluar pintu kamar mandi ia heran mengapa suasananya sedikit gelap dan hanya beberapa lilin yang di jadikan sebagai sumber pencahayan. Saat melihat ke arah kasurrya tentu saja yanan merasa jantungnya berdebar melihat Wonwoo hanya menggunakan piama dengan bawahan cukup pendek seperti yang biasa ia kenakan saat tidur hanya saja berbeda karena kali ini berada di kasur yang sama.

"ayo segera lepaskan bajumu dan berbaring" kata Wonwoo.
"ah... eh... ne..." balasnya agak gugup. Tapi Wonwoo tetap saja bersikap biasa saja.

Wonwoo memintanya untuk berbaring dengan tengkurap, Wonwoo segera duduk di pinggang Yanan dan segera mengoleskan tangannya dengan minyak. Tangannya yang mulus bertambah lembut karena olesan minyak yang membuat Yanan tidak nyaman dengan sensasi lembut yang di terimanya.

"bagaimana? Enak tidak pijatanku?"
"eh... iya Wonnie-ya." Jawab Yanan gugup.

Wonwoo memintanya untuk berbalik setelah beberapa lama memijat bagian belakang Yanan.

"Trimakasih Wonnie-ya." Katanya.
"Eh, belum selesai Yanan-ah. Bagian depan belum" lalu kembali duduk di perut yanan.

Saat menerima pijitan Wonwoo, wajah yanan kali ini terlihat memerah, selain karena sentuhan Wonwoo ia juga tidak tahan melihat wajah Wonwoo yang tetap saja manis apa lagi kali ini mereka berhadapan saat Wonwoo akan mundur untuk memijat kakinya ternyata ada yang menganjal.

"ahhhh..." desah Yanan yang merasa juniornya yang sudah menegang yang masih terbalut dengan celana tidurnya menyentuh bokong Wonwoo yang menggunakan baju tidur yang berbahan sutra nan lembut.
"eh, maaf Yanan-ah apakah sakit?" dengan menyentuh secara reflek bagian yang menonjol tersebut.
"ah bukan seperti itu Wonnie, pijatanmu membuatnya terbangun." Balasnya sedikit malu.
"ahhh, kata Soonyoung kalau begitu harus segera di tidurkan. Aku akan bertangung jawab karena telah membangunkannya." Balas Wnonwoo merasa bersalah.
"eh, ti ..., baiklah kau...em... harus bertanggung jawab." Yanan berubah pikiran, tadinya dia pikir akan menolak perkataan Wonwoo, tapi ia berfikir laki kapan lagi memilikikesempatan emas semacam ini.

Wonwoo segera membuka celana tidur tersebut dan melihat sedikit cairan di ujung penis Yanan.

"kau sudahkeluar Yanan-ah?" tanya Wonwoo polos.
"ani, itu namanya precum. Hanya sedikit saja karena pijatanmu yang nyaman tadi Wonnie." Jelas Yanan.
"oh, precum? Aku baru mengetahuinya yanan-ah. Apakah aku bi=oleh memegangnya?" tanya Wonwoo penasaran.
"Lakukan sesukamu Wonnie ya."

Wonwoo segera menyentuhnya dengan telunjuk dan sedikit membuat lingkaran kecil di ujung kepala penisnya.

"ahhh..." desah Yanan.
"apakah sakit Yanan-ah." Tanya Wonwoo.
"tidak hanya Sedikit geli yang cukup nikmat." Balasnya.

Wonwoo kemudian mengingat apa yang di lakukan Jeonghan waktu itu tapi ia berpikir kalaumelakukan dengan tangan saja mungkin cukup karena Yanan adalah temannya. Ia pernah melihat adegan panas yang di tonton teman sekelasnya hanya dengan mengenggam dan menaik turunkan tangannya juga dapa membuat yang di video itu mencapai klimaks.

maka Wonwoo segera melakukan apa yang di perlihatkan teman sekelasnya dengan tangannya tapi ternyata cukup sulit karena kurang licin.

"bagaimana ini yanan-ah, sepertinya sulit untuk di gerakan." Tanya Wonwoo.
"kau dapan melakukannya dengan minyak."

Maka Wonwoo segera mengambil minyak dan mengolesnya sedikit di penis yanan seperti ia akan memijitnya.

"ahhhh... " desah Yanan menerima perlakuan Wonwoo yang masih menaik turunkan tangannya.
"lebih cepat Wonnie, lakukan dengan kedua tangan mu." Intruksi dari Yanan yang kemudian di lakukan oleh Wonwoo.

"ya terus begitu wonnie, ini sungguih nikmat." Eluh Yanan yang kehilangan kesadaran karena apa yang di lakukan Wonwoo membuatnya terbang melayang akan kenikmatan yang baru kali ini ia terima, biasanya ia akan berusaha sendiri akan tetapi ternyata apabila di bantu dengan orang lain rasanya lebih nikmat.

Wonwoo heran dengan ekspresi yang dilihatnya kali ini, seperti yanan sedang menahan sesuatu dan rasanya sungguh tidak pernah ia rasakan. Tapi Wonwoo tidak merasakan sesuatu yang special hanya ingin mencobanya lain waktu, mungkin meminta bantuan hyungnya setelah ini.

"Wonnie, bisakah lebih cepat lagi? Aku ingin keluar." Pinta Yanan

Wonwoo mempercepat kembali gerakannya

"Ahhh... terus begituh..."
"ahhhh... aku sungguh tidak kuat lagi menahannya..."

Bertepatan dengan itu sesuatu muncul dari penis Yanan, sesuatu yang kental. Dan nafas Yanan yang tidak teratur akibat klimaksnya membuat wonwoo ingin melepaskan tangannya tapi belum sempat melepasnya yanan memintanya untuk terus melakukan yang tadi Wonwoo lakukan

"Jangan berhenti dulu Wonnie, terus lakukan apa yang kau lakukan tadi." Ya Wonwoo hanya bisa menuruti apa yang di pinta kemudian keluar kembali cairan tersebut.

"ahhh... ahhhh.. sudah... sudah Wonnie-ya... hentikan" dan kemudian di turuti Wonwoo.

"Yanan-ah aku sudah lelah, ternyata membantumu keluar melelahkan juga. Apakah aku sudah boleh tidur." Pinta Wonwoo.
"ya tentu saja Wonwoo, kau sudah membantuku. Trimakasih, selanjutnya aku akan membereskan semuanya kau sudah bisa tidur." Balasnya masih dengan nafas yang terengah-engah.

Wonwoo pun mencuci tangannya di kamar mandi dengan sabun dan segera tidur dan tersenyum karena seperinya temannya sudah tidak terlalu setress lagi dengan segala ujian yang membuat temannya pusing dan segera memejamkan matanya.
-LukeTan-

hari pun berganti. Yanan sekarang lebih mendekatkan diri kepada Wonwoo biasanya saat malam setelah ujian maka Yanan akan kembali ke dorm untuk belajar akan tetapi belakangan ini yanan belajar di cafe tempat Wonwoo bekerja.

Mingyu? Dia jarang ke cafe karena dia mempersiapkan ujiannya dan juga ia ingin masuk Sekolah Wonwoo jadi ia harus belajar lebih giat, bukan karena dia bodoh atau semacamnya. Karena dia sungguh malas saja untuk memperhatikan Songsaengnimnya. Jadi ia harus belajar untuk mengejar ketertinggalannya.

"Besok hari terakhir ujian kan?" tanya Jisoo kepada Yanan.
"iya hyung, untung hari terakhir hanya ujian olahraga." Balasnya.
"kau belakangan ini jadi lebih sering kesini." Tanya Seungcheol.
"iya hyung, aku baru sempat kesini. Sama seperti Jisoo hyung."
"kau tidak sedang melakukan pendekatan terhadap dongsaeng ku kan?" tanya Seungcheol to do point karena belakangan ini Yanan lebih banyak berinteraksi dengan Wonwoo.
"ah... ne, eh maksudku tidak." Jawabnya gugup.
"lebih baik kau cepat menyatakan perasaan mu, karena setauku Wonwoo juga dekat dengan orang lain" balas Jeonghan. Jeonghan sebenarnya mengatakan itu agar Yanan tidak membuang waktunya untuk menyukai Wonwoo karena ia memiliki feeling kalau Wonwoo menaru hati terhadap Mingyu.
"memang ada hal apa sampai kau tiba-tiba menyukai Wonwoo?" introgasi Seungcheol.
"ah tidak hyung aku sebenarnya menyukai Awonwoo sudah lama tapi aku hanya takut ia tidak menyuaki ku."
"lalu kenapa sekarang kau memberanikan diri?" tanya Jisoo penasaran.
"ah, aku berpikir lebih baik di katakan dari pada aku harus memendamnya sendiri." Dan hanya di balas dengan anggukan oleh para hyungdul.

"kalian sedang membahas apa?" tanya Soonyoung.
"hanya membahas Yanan yang menyukai Wonwoo". Jelas Seungcheol.
"bertambah satu lagi? Orang seperti ini yang membuat Wonwon pusing. Pasti nanti aku dan Jihoon yang harus menangani kepusingan pria polos itu."
"Ya! Dia Dongsaeng ku kalau kau lupa. Kalau kau tidak iklas membantu dongsaeng ku pergi saja kau sana."kesal Seungcheol.
"Aku sebenarnya senang membantu dongsaeng mu hyung tapi aku pusing menjelaskannya. Terkadang ia hanya mendengar dan berpikir sendiri sehingga aku tidak mengetahui apa yang ia mengerti. Kau tau sendiri Dongsaengmu itu hanya akan mengangguk dan berkata 'hmmm begitu' tapi aku tak tau dia benar mengerti apa tidak." Jelasnya.
"Iya juga, aku sampai heran mengapa kau memiliki dongsaeng yang polos begitu padahal hyungnya sungguh liar." Jelas Jeonghan.
"liar bagaimana Hyung?" tanya Yanan.
"eh... hmmm... dia suka sekali tebar pesona" katanya agak sedikit gelagapan.
"Aish, aku yakin bukan itu" kali ini Jisoo menanggapi.
"Sudahlah, kau ini membuat mereka berpikir negatif saja." Balas Seungcheol.
"Siapa yang berfikir negatif hyung? Jangan jangan kau yang berpikir negatif." Balas Soonyoung.
"Dimana Dongsaeng ku?" tanya Seungcheol.
"Dia sedang membuat kue hyung, dan aku tau kau hanya ingin mengalihkan topik." Balas Soonyoung.
"untuk apa dia membuat kue?" kali ini Jeonghan yang bertanya.
"Ia membuat kue untuk Mingyu karena ia sudah rajin belajar kata Wonwon."
"Mwo?! Aku saja tidak pernah di buatkan kue oleh Dongsaeng ku sendiri. Apa apaan pemuda itu! Ini tidak boleh di biarkan." Ujarnya kesal sambil berdiri.

"hyung! Mau pergi? Tunggu dulu aku sedang membawa kue buatan ku sediri untuk mu?" kata Wonwoo datang dengan beberapa kue yang dia buat sendiri.
"aigo. Apakah akuboleh menghabiskannya?" panicing Seungcheol.
"Jangan. ini memang untuk hyungdul juga." Balasnya.
"Ini buat kami semua? Bukannya kau juga membuat untuk Mingyu?" tanya Jeonghan.
"oh kalo untuk Mingyu ada di belakang."
"kok untuk Mingyu sendiri? Bagaimana dengan Hyung?" tanya Seungcheol sedikit merajuk.
"untuk Hyungdul lebih besar kok dari pada untuk Mingyu." Balas Wonwoo.

Mendengar itu saja Seungcheol sudah senang bukan main. Setidaknya ia mendapat kue lebih besar dari pada punya Mingyu.

"kalian kenapa masih buka saat ujian begini? Tanya Yanan.
"Abis banyak siswa yang suka belajar di Cafe jadi aku memutuskan untuk tetap membukanya makanya hanya aku dan Soonyoung yang dari kemarin bekerja. Yang lainnya belajar mempersiapkan ujian."jelas Wonwoo.
"memang kau tidak belajar?" kali ini Jisoo yang bertanya.
"aku sudah cukup menguasai materi selain itu Soonyoung juga minta di ajari saat cafe senggang dan aku belajar dari situ." Jelas Wonwoo.
"aigooo, uri Dongsaeng memang anak yang pintar tidak seperti hyungnya." Kali ini Jeonghan menyindir Seungcheol yang di ajari berkali-kali untuk mengerti satu materi. Dan tentunya hanya di balas dengan senyuman bodoh dari seungcheol.

"Sudah aku mau melayani yang lain dulu hyungdul. Kau disini saja Soonyoung, kau dari tadi sudah melayani yang lain disaat aku sedang membuat kue. Istirahat saja"
"baiklah. Nanti aku akan segera membantu kalau sidah tidak lelah." Balasnya.

"Mengapa Wonnie giat sekali membuka cafe?" tanya Jeonghan kepada Soonyoung.
"ah itu dia ingin membeli sesuatu katanya. Lagi pula karena hanya kami berdua yang mengerjakan semuanya. Jun Hyung dan teman-temannya berkata kalau Keuntungan hanya akan di bagi kami ber2. Jadi aku bisa membeli sesuatu untuk Jihoon." Balas Soonyoung.
"aku jadi penasaran mengapa Wonwoo giat sekali. Kan dia bisa saja meminta uang kepada appa kalau dia ingin sesuatu." Balas Seungcheol.
"aku tidak mengerti hyung. Tanyakan saja langsung padanya.

Setelah perbincangan antara Soonyoung, Seungcheol, Jeonghan, Jisoo, dan Yanan tidak terasa sudah satu jam mereka membahas sesuatu yang tidak penting.

"Wah hari ini ramai sekali." Balas Mingyu yang baru saja datang.
"ya, karena besok ujian kami hanya praktek olah raga makanya kami memutuskan untuk bertemu. Lagi pula minggu ini kami belajar dengan giat sampai-sampai tidak ada waktu untuk berbincang bersama." Balas Jeonghan.

Mendengar suara Mingyu maka Wonwoo segera menyusul ke meja para hyungnya.
"Gyuie sudah sampai? Bagaimana ujiannya?" tanyanya.
"beres semua hyung, aku mendapatkan pringkat satu kali ini. Sampai sampai teman-temanku mengatakan bahwa aku mencontek" adunya pada Wonwoo.
"aku yakin kau tidak mencontek Gyuie, kau belajar dengan giat makanya kau bisa." Sambil mengusap kepala mingyu yang bermanja manja pada Wonwoo.
"dasar anak manja." Kata Seungcheol yang jengah melihat tingkah laku Mingyu kepada Dongsaengnya.

"Duduklah, kau ingin minum apa Gyuie biar aku buatkan" Tanya Wonwoo.
"coklat dingin Wonwon hyung." Katanya dan membuat Wonwoo segera pergi.

"Ya! Anak kecil, sekali lagi kau bermanja dengan dongsaeng ku akan ku botaki rambutmu." Kata Seungcheol kesal.
"hyungie~ mengapa kau kejam sekali terhadap ku?" balasnya sedikit merajuk.
"sudah sudah kau ini Cheollie, biarkan adik mu tersenyum. Lihatlah selama ini Wonwoo jadi lebih riang." Balasnya.
"Ya! Kau membelanya? Wonwoo juga biasanya ceria."
"iya tapi tidak sesering biasanya."
"sudah sudah bisa hancur rumah tangga kalau kalian terus bertengkar begini." Kata Jisoo.
"siapa yang bertengkar. Kami hanya mengatakan pendapat jisoo-ya." Balas Seungcheol,
"iya lagi pula ini hanya perselisihan pendapat yang biasa saja." Bela Jeonghan juga.

"Chukkae Mingyu sudah menjadi pringkat satu di sekolah." Wonwoo datang dengan Kue yang dihiasi berbeda dengan milik para Hyungdul yang biasa saja.
"Gomawo hyung!" terkejut dengan kue yang sangat indah.
"Aish, benar punyaku lebih besar tapi kau menghias miliknya." Kesal Seungcheol.
"hyung kan sudah dapat lebih besar."
"tetap saja." Balas hyungnya.

"besok jadi pulang hyung? Aku sudah mengemasi barangku." Balas Mingyu setelah meniup lilin dari kue yang di berikan Wonwoo.
"jadi! Aku tidak sabar bertemu appa." Balasnya.
"besok sore ya hyung? Apa ujian mu sudah selesai?" tanya Mingyu.
"Hanya ada ujian praktek untuk besok pagi setelah itu selesai aku sudah bisa pulang." Jelasnya.

Saat melihat kebersamaan Mingyu dengan Wonwoo, Yanan memutuskan untuk mundur karena ia melihat kalau Wonwoo menyukai Mingyu dan begiru juga sebaliknya. Dan tidak terasa hari berlalu begitu saja sampai sore pun datang.

"hyung sudah siap?" tanya Mingyu.
"sudah ayo kita berlibur/" balas Wonwoo dengan senyuman.


Maaf sebelumnya karena sudah lama gak update. aku janji minggu depan akan di update lagi. dan juga maaf karena updatenya singkat. trimakasih sudah mau membaca.