Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Aku tidak akan memastikan Sasuke bisa melihat hari esok dengan tenang."

.

.

.

Bab 17 [ Aku Akan Menyelamatkan Kalian ]

Brak!

Itachi memukul meja kerja Tsunade hingga muncul retakan di meja kayu tersebut. Tsunade memandang horor meja kesayangannya yang harus mengalami nasib buruk di tangan si sulung Uchiha.

"Kau pikir aku akan mengizinkanmu mengambil nyawa Sasuke?"

Tsunade menghela nafas melihat Itachi yang terlihat 'berbeda' saat kehilangan kontrol dirinya. Bagaimana bisa keturunan Uchiha mengambil kesimpulan sedangkal itu. Tidak mungkin juga dia yang notabene seorang dokter terpandang mau menyerahkan nyawa Sasuke begitu saja. Tidak akan pernah!

"Dengarkan aku dulu bocah!"

Itachi akan mengatakan protes, tapi ekspresi serius Tsunade berhasil mengurungkan niatnya. Mungkin ada baiknya dia mencoba menerima penjelasan Tsunade mengenai pernyataan 'aku harus membunuh Sasuke' beberapa saat yang lalu.

"Aku tidak benar-benar membunuhnya. Aku tidak segila itu! Aku hanya akan memberikannya anestasi dalam dosis besar yang akan menghentikan detak jantungnya untuk sementara. Saat itulah aku akan mencoba menjinakkan kabel-kabel itu."

Itachi menyandarkan tubuhnya diatas sandaran kursi.

"Tetap saja kemungkinan keberhasilan operasi itu kurang dari satu persen kan?"

Tsunade mengangguk pelan. Membenarkan penuturan Itachi.

"Tapi kita tidak memiliki pilihan lain. Hanya ini satu-satunya cara."

Itachi mengeluarkan pistol yang tadi dia sembunyikan di balik saku celananya. Lalu moncong pistol iti terarah pada sang dokter cantik.

"Kalau terjadi sesuatu pada Sasuke. Kupastikan kau akan mengukir namamu sendiri di batu nisan."

Tsunade tersenyum lebar. Sama sekali tidak takut pada ancaman yang di berikan Itachi. Baginya ucapan Itachi lebih kepada permohonan untuknya agar menjalankan operasi ini dengan sungguh-sungguh.

"Aku tidak akan memastikan Sasuke bisa melihat hari esok dengan tenang."

Itachi mengangkat tubuhnya dari pangkuan kursi. Matanya menatap Tsunade tanpa berkedip.

"Ku pegang janjimu, Tsunade-san."

.

.

.

Tsunade memasang masker untuk menutupi mulutnya. Baju khusus untuk menjalankan operasi sudah di kenakannya, kedua tangannya telah di lindungi sarung tangan karet untuk menjaga kebersihan tangannya.

"Bawa dia keruang operasi."

Tsunade memberikan komando pada perawat yang bertugas membantunya dalam operasi besar kali ini. Mengangguk paham, para perawat lalu mendorong kasur yang di tempati Sasuke untuk di bawa ke ruang operasi.

"Apa dia akan baik-baik saja?"

Tanya Yahiko cemas. Tsunade tersenyum meyakinkan.

"Aku tidak akan membiarkan bocah itu pergi dengan mudahnya."

Tsunade yakin bahwa operasi ini akan berjalan lancar. Meskipun kemungkinan berhasilnya hampir mendekati kata 'mustahil', tapi Tsunade berjanji bahwa tidak ada satupun nyawa yang boleh melayang di meja operasinya. Itu adalah prinsip yang selalu di pegangnya selama ini.

Aku akan menyelamatkanmu, Sasuke.

.

.

.

.

Sasuke memandang dokter yang akan memegang nyawanya beberapa jam kedepan. Tidak tahu kenapa, melihat ekspresi yakin yang ditunjukkan sang dokter membuat sasuke ikut yakin bahwa dia akan selamat. Ya, dia harus selamat. Dia harus memastikan sendiri Itachi tidak bertindak bodoh dengan menyia-nyiakan istrinya karena pemikiran konyol 'aku tidak bisa merebut wanita yang di sukai adikku'. Padahal sudah jelas jika wanita itu adalah istrinya sendiri. Konyol!

"Apapun yang terjadi jangan menyerah. Aku akan berusaha menjinakkan kabel yang ada di kerongkonganmu. Karena itu aku mohon kau tetaplah bertahan, apapun yang terjadi jangan menyerah!"

Sasuke mengangguk mengerti. Aku akan bertahan, tidak peduli seberat apapun nantinya, aku akan tetap bertahan sebisa mungkin.

"Kita mulai operasinya."

Sasuke memejamkan matanya saat ujung jarun suntik menyentuh permukaan kulitnya. Ada sensasi tarikan kuat yang memaksanya untuk pergi meninggalkan raganya. Tapi dia tidak akan kalah semudah itu, dia harus bertahan.

Hal terakhir yang dapat di dengarnya adalah suara pengukur detak jantungnya yang berbunyi tit panjang. Dia tahu, operasi ini baru akan di mulai.

"Pinset!"

Tsunade mengulurkan tangannya, setelah memastikan pinset sudah berada di tangannya, Tsunade langsung mengarahkan pinset itu kearah leher Sasuke. Membuat sayatan melintang untuk memudahkannya melakukan operasi.

"Klem arteri."

Tsunade memasang klem arteri yang di dapatnya untuk membuka sayatan, hal ini dibutuhkan untuk memudahkan jalannya operasi.

"Tissue foseps*."

Tsunade mencoba memisahkan jaringan di dalam kerongkongan Sasuke dengan kabel-kabel yang melilitnya. Peluh membasahi dahinya, salah sedikit saja dia tidak akan bisa menyelamatkan keduanya. Baik Sasuke ataupun Naruto. Keduanya tidak akan selamat jika dia gagal dalam operasi ini. Setelah berusaha menemukan titik simpul kabel, Tsunadr berusaha untuk tetap tenang.

"Scissors."

Tsunade mengarahkan scissors yang di mintanya pada suster untuk memotong ujung kabel yang merupakan inti dari pemasangan pemicu di kerongkongan Sasuke.

Bruk bruk bruk

Baru saja Tsunade dapat memastikan pemicu tersebut telah di jinakkan, masalah baru datang. Tubuh Sasuke tiba-tiba mengalami kejang, mungkin ini adalah efek samping dari banyaknya anestasi yang di suntikkan kedalam tubuhnya.

"Defibrilator."

Tsunade segera mengarahkan Defibrilator kearah dada Sasuke. Membuat tubuh si bungsu Uchiha mengalami kejang sekali.

"Naikkan voltasenya!"

Tsunade kembali mengarahkan Defibrilator agar menyentub permukaan dada Sasuke. Dia harus mengembalikan detak jantungnya secepat mungkin, jika terlambat sedikit saja maka operasi ini akan sia-sia.

"Bertahanlah! Kumohon bertahanlah!"

Tes

Tsunade tanpa sadar meneteskan air matanya. Baru kali ini dia merasa sangat takut saat menjalankan operasi. Dia takut jika dia gagal dalam operasi ini. Bukan karena ancaman Itachi, tapi karena jeritan hati nurasinya yang memaksa Tsunade untuk berusaha menyelamatkan Sasuke. Dia tidak boleh mati semudah ini. Tidak boleh!

Tit tit tit

"Dokter detak jantungnya kembali!"

Hah ...

Tsunade menghela nafas lega mendengar penuturan perawat yang membantu operasi. Syukurlah!

"Mari kita lanjutkan operasinya."

Arigatou, Sasuke.

.

.

.

Sementara itu Itachi memilih untuk menemari sang istri yang kini sedang dalam keadaan koma. Surai pirangnya tampak lebih pucat dari biasanya. Bibirnya yang semula berwarna merah alami kini tampak pucat pasi. Begitupun dengan warna kulitnya yang semakin memucat karena kekurangan sinar matahari.

Sret

Itachi menggenggam tangan kanan Naruto. Mencoba menyalurkan kehangatan tangannya pada Naruto.

"Maafkan aku. Kau pasti sangat menderita selama ini."

Itachi mulai bermonolog. Tidak peduli Naruto dapat mendengarnya atau tidak. Dia hanya harus memastikan Naruto tidak kesepian di dalam tidurnya.

"Bagaimana bisa mereka melakukan ini padamu?"

Itachi melirik alat pendeteksi detak jantung Naruto yang berbunyi konstan. Tidak ada yang bisa dia lakukan, dia hanya bisa menunggu hasil akhir operasi Sasuke. Apakah dia akan kehilangan keduanya, atau salah satu dari mereka, atau mungkin jika Tuhan terlalu baik padanya dia bisa melihat keduanya selamat.

"Maaf karena aku tidak bisa melepaskanmu. Maaf karena aku sudah masuk kedalam kehidupanmu. Maaf karena aku sudah lancang mencintaimu. Maaf karena aku selalu membuatmu menderita. Sungguh maafkan aku Naru."

Tes

Itachi tertenggun melihat air mata mengalir dari kelopak mata Naruto yang tertutup.

"Kau mendengarkanku hm?"

Itachi tersenyum tipis. Diciuminya punggung tangan Naruto yang sejak tadi berada di dalam genggamannya.

"Semua akan baik-baik saja. Karena itu bangunlah. Aku membutuhkanmu."

Itachi membelai surai pirang Naruto dengan hati-hati. Walau dalam keadaan bagaimanapun, istrinya tetap saja cantik.

Brak

"Itachi!"

Itachi segera menoleh kebelakang, memandang sosok Kisame dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia berharap Kisame datang membawa kabar baik.

"Operasi Sasuke-"

Itachi membulatkan matanya tidak percaya. Sulung Uchiha itu segera berlari keluar ruangan dan mencari ruang operasi Sasuke. Dadanya bergemuruh tiap kali mengingat ekspresi wajah Kisame, tanpa mendengarkan kelanjutan ucapab Kisame, Itachi sudah tahu apa yang terjadi. Sasuke, dia –

Tbc