Tears of Us

Shiroi Kage's project

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ for this chapter

Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru

WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, E.T.C

Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~

.

.

.

"Kau milikku, Naru."

.

.

.

Bab 18 [ Kesalahpahaman ]

Itachi memandang sosok Sasuke yang terbaring di tempat tidur. Ada perasaan lega yang menyelusup di setiap relung hatinya. Mengisi setiap kekosongan yang sempat membuatnya frustasi. Setelah memastikan kondisi Sasuke baik-baik saja, tidak dapat di gambarkan betapa leganya Itachi saat ini.

"Arigatou Sasuke."

Itachi bermonolog. Senyuman tulus terlukis indah di wajah tampannya. Ah, bahkan Itachi sendiri lupa kapan terakhir kali dia tersenyum. Organisasi Hebi itu benar-benar membuat hidupnya berantakan.

"Besok aku akan melakukan operasi pada Naruto. Walaupun bom nya sudah di jinakkan tapi tetap saja berbahaya untuk Naruto menyimpan bom di dalam tubuhnya."

Itachi menghela nafas. Tidak berniat menoleh kebelakang, tempat dimana Tsunade mengawasinya dari ambang pintu.

"Lakukan yang terbaik. Pastikan juga istriku selamat."

Tsunade mengangguk paham, wanita paruh baya itu kemudian pergi meninggalkan Itachi sendiri di kamar rawat Sasuke.

"Semua akan baik-baik saja. Bukankah begitu, Sasuke?"

.

.

.

.

.

Waktu berlalu begitu cepat, setelah kemarin dia harus cemas menunggu Sasuke di ruang rawat Naruto. Tapi sekarang Itachi harus menunggu Naruto di ruang rawat Sasuke. Lantunan do'a yang tak sempat terdengar keluar dari bibirnya menandakan kecemasan yang dia rasakan. Setelah memastikan operasi Naruto berhasil, Itachi janji akan merubah segalanya. Dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab, dia tidak akan lagi mengacuhkan istri pirangnya, dia janji tidak akan membiarkan satupun air mata jatuh di wajah si pirang. Itachi janji! Tapi tolong selamatkan Naruto!

"Nii-san."

Itachi mendongak, telinganya menjadi lebih sensitif mendengar suara apapun yang masuk kedalam gendang telinganya. Dan dia yakin itu adalah suara Sasuke. Walaupun sudah sangat lama Itachi tidak mendengarnya, tapi bagaimana Itachi bisa lupa?

"Sasuke, apa kau baik-baik saja? Aku akan memanggilkan dokter."

Sret

Itachi merasakan tangannya tertahan.

"Jangan pergi."

Itachi akhirnya mengalah, di dudukkannya lagi badannya di kursi yang tadi menjadi tempat duduknya. Senyuman itu tidak juga luntur dari wajahnya, melihat Sasuke sudah membuka matanya, mendengar suara Sasuke setelah sekian lama bibir itu terkatup rapat. Itachi sangat bahagia, tentu saja!

"Bagaimana keadaan kakak ipar?"

Ah, hampir saja Itachi lupa tentang Naruto yang masih berjuang diantara hidup dan mati.

"Dia akan baik-baik sa –"

Tok tok tok

Itachi menoleh kebelakang, onyx nya sempat membola tidak percaya memandang sosok yang berdiri di ambang pintu.

"Naruto?"

Dan nama sang istri tercintapun keluar tanpa bisa dia cegah.

"Dia bukan kakak ipar, nii-san."

Seseorang yang menjadi pusat perhatian kedua putra Uchiha tampak gugup. Apa ada yang salah dengan penampilannya?

"Etto, Uchiha-san operasi Naruto-san sudah selesai."

Itachi segera bangkit dari duduknya, menantikan kelanjutan ucapan perempuan yang sempat dia pikir sosok itu adalah Naruto.

"Operasinya berjalan lancar, sekarang dokter sudah memindahkannya ke ruang rawat pasien."

Hembusan nafas lega keluar dari bibir Itachi. Dia akan melangkah keluar dari kamar Sasuke, tapi kemudian dia berhenti. Matanya memandang Sasuke seolah bertanya 'apa aku boleh pergi menemuinya?'

"Pergilah, masih ada Ino-san disini. Kau tidak perlu khawatir."

Itachi bisa melihat dengan jelas ada semburat kemerahan di pipi gadis yang di panggil Ino-san oleh Sasuke. Hei, apa ada hal yang di lewatkannya? Itachi mengangguk, lalu melangkah mendekati Ino yang masih ada di ambang pintu.

"Tolong jaga Sasuke, calon adik ipar."

Itachi terkekeh geli melihat wajah keduanya yang tampak malu-malu mendengar penuturannya.

.

.

.

.

.

Itachi memandang takjub sosok wanita yang selama ini telah merajai hatinya. Seorang wanita yang telah dengan sabar menerima sifat tidak bersahabatnya selama ini. Kalau tidak karena wanita ini, bagaimana Itachi akan menjalani kehidupannya. Mungkin hingga kini Itachi akan tetap menjadi seseorang tanpa hati, yang terbelenggu dalam kendali sang ayah.

Sebuah boneka lebih tepatnya.

"Arigatou Naru-chan. Hontou ni Arigatou."

Itachi menciumi punggung tangan Naruto yang masih tidak sadarkan diri pasca operasi yang di laluinya beberapa saat yang lalu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendengar bahwa operasi Naruto berhasil. Kebaikan apa yang telah membuat Tuhan begitu bermurah hati padanya? Apapun itu, Itachi berjanji akan memperbaiki semuanya. Kehidupannya akan di mulai dari awal lagi, Itachi pastikan akan membayar semua kesalahannya di masa lalu.

Tok tok

"Bagaimana keadaannya?"

Itachi menghela nafas sejenak, lalu sepasang onyx hitamnya memandang teduh sosok wanitanya yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Setidaknya dia sudah berhasil melalui operasi itu. Semua pasti akan baik-baik saja mulai sekarang."

Tutur Itachi tanpa melunturkan senyumn kelegaan yang jelas sekali bertolak belakang dengan kesan dingin yang selama ini melekat padanya.

"Syukurlah. Aku senang bisa melihatmu tersenyum seperti itu. Terlihat lebih manusiawi."

Itachi melirik kebelakang, ada perasaan geli mendengar 'ejekan' yang secara nyata di tujukan padanya, tapi entah kenapa Itachi sendiri setuju dengan ejekan itu.

"Kau juga harus mulai memikirkan pendamping hidup. Jangan terus saja mengganggu rumah tanggaku."

Terdengar protes tidak terima yang langsung di lontarkan seseorang yang berdiri di belakang Itachi.

"Hei! Kau pikir aku perusak rumah tangga orang atau bagaimana? Cih, kau dan mulut kasarmu memang perpaduan yang pas!"

Itachi hanya terkekeh mendengar protes Kisame.

Baginya Kisame bukan hanya sekedar rekan satu tim. Walaupun Itachi tidak pernah menyatakannya secara gamblang, tapi Itachi selalu menganggap bahwa Kisame seperti bagian dari keluarganya sendiri. Bahkan Kisame mampu memahami kondisinya sekalipun tidak ada satupun kata terucap dari bibirnya. Kisamelah yang pertama kali tahu kegundagan hatinya yang selalu di kuncinya rapat-rapat. Karena itu, Itachi ingin sekali melihat Kisame bahagia. Tidak lagi menyandang status jomblo misalnya?

"Aku punya kenalan wanita cantik, apa kau mau ku kenalkan padanya?"

Kisame tertawa. Tidak sama sekali tersinggung atas ucapan Itachi yang seolah mengejeknya jomblo akut yang tidak dapat mencari pasangan sendiri.

"Aku tidak butuh. Lagi pula sebentar lagi aku akan menikah."

Itachi terkejut. Tentu saja!

Selama ini dia tidak melihat gelagat Kisame jatuh cinta sedikitpun, laki-laki itu selalu berada di sekitarnya sepanjang waktu, jadi wajar jika Itachi menganggap Kisame tidak memiliki kekasih.

"Sejak kapan kau berkencan dengannya? Ah tidak, siapa wanita itu? Apa aku mengenalnya?"

Kisame mengangkat bahu acuh, pura-pura tidak peduli.

"Aku tidak harus memberitahumu kan? Ah, sejak kapan kau jadi secerewet ini?"

Itachi membungkam mulutnya. Baru sadar jika dia sudah bertindak keluar jalur. Meninggalkan topeng dingin tak tersentuh miliknya. Haruskah dia kembali menjadi Itachi yang dulu?

"Tidak! Jangan berpikir untuk menjadi Uchiha Itachi dingin seperti dulu. Kau yang sekarang terlihat lebih hidup."

Itachi hampir saja menjatuhkan rahangnya, terlalu kaget dengan penuturan Kisame yang sangat pas dengan apa yang ada di dalam pikurannya.

"Kau membaca pikiranku?"

Kisame tersenyum miring, dia berjalan mendekat kearah Itachi lalu menepuk pundaknya.

"Kau meragukan kemampuan analisaku boss?"

.

.

.

.

.

Sasuke melihat sosok gadis bersurai pirang yang di kenalnya bernama Ino. Adik dari rekan kakaknya, Deidara. Lihat, betapa takdir selalu memiliki kejutan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

"Apa kamu ingin sesuatu?"

Sasuke mengangguk. Senyuman tipis di wajah tampannya membuat Ino terpaku. Memang benar garis keturunan Uchiha tidak memiliki cacat, nyaris sempurna. Ino akui fakta itu, tapi bukan karena ketampanannya yang membuat Ino terpaku, tapi pada senyuman Sasuke yang dirasanya menenangkan.

"Apa aku begitu tampan sampai kau lupa bernafas?"

Ino membolakan matanya beberapa centi, ada rasa jengkel mendengar penuturan Sasuke, tapi tidak lama senyuman Ino menyembang lebar.

"Tidak, kupikir kamu tidak terlalu tampan. Saya rasa Itachi-san jauh lebih tampan."

Sasuke menaikkan satu alisnya mendengar 'pujian' Ino untuk kakaknya. Seumur hidupnya, baru kali ini Sasuke merasa jengkel di bandingkan dengan Itachi. Padahal sudah jelas diantara mereka berdua, Sasuke yang jauh lebih tampan. Tapi apa kata gadis pirang ini? Itachi jauh lebih tampan huh?

"Kamu perlu memeriksakan matamu ternyata. Kurasa ada satu atau dua syarafnya yang terputus."

Ino tertawa, tawa lepas yang membuat kedua matanya menyipit, hampir terpejam. Tidak disangkanya respon Sasuke akan seperti ini. Rasanya menyenangkan melihat ekspresi cemburu yang terlihat jelas di wajah tampan Sasuke. Tunggu, cemburu?

"Mataku sehat kok. Hanya saja yang saya katakan itu benar. Itachi-san jauh lebih tampan. Sasuke-san harus mengakuinya."

Sasuke mendengus tidak suka, wajahnya di palingkan. Enggan menatap sepasang mata biru Ino yang mengerling jahil kepadanya.

"Tapi entah kenapa aku justru jatuh cinta pada adiknya. Bukankah itu aneh?"

Ups!

Ino segera membekap mulutnya yang begitu lancang mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Sasuke. Bodoh, dimana urat malumu Ino? Runtuk Ino pada dirinya sendiri.

Sial, ini memalukan.

"Maks –"

Sret

Ino terkejut saat tangannya di tarik paksa oleh Sasuke hingga separuh badannya terjatuh diatas tubuh Sasuke. Hitam bertemu biru. Dua hal yang terlihat kontras itu saling menyelami keindahan masing-masing. Ada getaran listrik yang merambat di setiap aliran darah keduanya, berlabuh pada debaran jantung yang terdengar seirama.

"Aku tidak memintamu untuk menjadi pacarku."

Sorot mata biru Ino meredup, apakah ini berati penolakan secara halus?

"Aku tidak menyukai hubungan yang tidak resmi seperti pacaran, aku ingin mengikatmu secara resmi."

Ino mencoba mencerna ucapan Sasuke. Kelopak matanya berkedip beberapa kali, menunggu kelanjutan ucapan Sasuke.

"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi maukah kau menikah denganku? Melepaskan nama keluargamu dan menyandang gelar nyonya Uchiha sebagai nama belakangmu?"

Ino terdiam. Bahkan sekarang dia benar-benar lupa untuk bernafas, beginikah rasanya di lamar? Astaga! Dia si jomblo akut yang selalu menjadi bahan bully teman-temannya di lamar oleh putra bungsu keluarga Uchiha? Mimpi apa Ino semalam?

"Hei, kau lupa bernafas lagi?"

Ino segera mengambil nafas sebanyak mungkin. Memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Mencerna ucapan Sasuke cukup membuat energinya terkuras.

"Apa kamu sedang melamarku?"

Sasuke tersenyum, di raihnya anak rambut Ino yang jatuh menutupi sepasang bola musim panas yang di menjadi magnet tersendiri untuknya.

"Apa aku harus menjawabnya?"

Ino menggeleng, sadar akan pertanyaan bodohnya. Bagus, dia selalu berbakat untuk merusak suasana yang sengaja di buat Sasuke. Good job Ino!

"Jadi apa jawabanmu?"

Ino tersenyum lebar.

"Tidak ada alasan aku harus menolaknya bukan?"

.

.

.

.

.

Itachi terbangun pagi ini bukan karena jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bukan juga karena getaran dari ponsel pintarnya. Tidak karena itu! Sulung Uchiha itu terbangun karena merasakan ada sentuhan lembut di helaian rambutnya. Saat kedua kelopaknya terbuka, hal pertama yang dilihatnya hampir membuat Itachi menjerit senang. Di hadapannya Naruto tersenyum lembut. Kedua bola sapphire yang mengingatkannya pada musim panas itu kembali dapat dia lihat. Perempuan yang telah menyandang nama Uchiha itu terlihat cantik walaupun wajahnya masih terlihat pucat pasi.

"Aku merindukanmu Naru."

Naruto semakin melebarkan senyumannya.

"Aku juga merindukanmu, Itachi-kun."

Naruto membuat gesture agar Itachi memeluk tubuhnya. Tanpa menunggu lama, Itachi segera membawa Naruto kedalam pelukannya.

"Maafkan aku Naru. Apa kau masih mau memulai semuanya dari awal lagi?"

Naruto mengangguk dalam dekapan Itachi. Pelukan itu semakin erat. Menyampaikan kerinduan yang selama ini terpendam.

"Aku mencintaimu, Uchiha Naruto."

Tes

Satu air mata kebahagiaan Naruro jatuh membasahi baju Itachi. Sudah lama sekali dia ingin mendengar kata itu keluar langsung dari bibir si sulung Uchiha.

"Kenapa kamu menangis hm?"

Itachi melepaskan pelukannya. Menatap lembut sosok wanita yang menjadi poros kehidupannya. Hatinya berdenyut ngilu melihat air mata itu jatuh tanpa perlawanan di wajah cantik istrinya.

"Apa kamu membenciku?"

Naruto segera menggeleng. Tidak pernah sekalipun Naruto membenci Itachi. Bagaimana bisa Naruto membenci suaminya sendiri?

"I-itachi-kun."

Naruto menundukkan kepalanya, tangan kanannya menepuk-nepuk ranjang yang di tempatinya. Membuat gesture agar Itachi mau tidur disampingnya. Itachi tersenyum lebar melihat rona kemerahan yang menjalar di wajah Naruto. Menggemaskan! Itachi tidak langsung menuruti kemuan Naruto. Onyxnya memandang pintu kamar rawat Naruto, sebuah ide cemerlang mampir di otak cerdasnya.

"Tunggu sebentar."

Itachi berlajan meninggalkan Naruto yang memandangnys tanpa berkedip, penasaran dengan apa yang akan di lakukan suaminya tersebut.

Ceklek

Itachi mengunci kamar ruang rawat Naruto dan menutup jendela kamar. Setelah memastikan tidak ada yang terlewatkan, Itachi segera berjalan menghampiri Naruto.

"Kenapa kau mengunci kamar?"

Itachi mengangkat bahu acuh, disingkapnya selimut tebal yang di gunakan Naruto dan segera berbaring di samping Naruto.

"Huh? Bau apa ini?"

Naruto mengendus bau badannya sendiri. Tidak ada bau yang aneh kecuali bau obat-obatan yang menyengat. Kalau bukan berasal darinya, lalu siapa?

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu dia menjepit lubang hidungnya sendiri sambil menyingkir sedikit dari dekapan Itachi.

"Sudah berapa hari kau tidak mandi huh?"

What?

Itachi mencium bau badannya sendiri. Tidak ada yang aneh dari bau badannya. Walaupun memang benar Itachi belum mandi. Tapi Itachi yakin kalau dia selalu wangi dalam kondisi apapun.

"Aku tidak mencium bau apapun."

Naruto menyerngit jijik, kemudian berusaha mengusir Itachi agar turun dari ranjangnya. Si pirang memaksa Itachi agar segera mandi dengan kembang tujuh rupa, bau ini sangat menyengat hingga membuat perutnya terasa melilit.

"Baiklah aku akan mandi."

Setengah tidak ikhlas akhirnya Itachi turun dari ranjang dab melangkah malas ke dalam kamar mandi.

.

.

.

.

.

Selama hampir setengah jam Itachi berada di dalam kamar mandi. Menggosok setiap inchi tubuhnya hingga menuangkan sabun aroma terami satu botol penuh untuk mengusir 'bau' yang hanya dapat di cium oleh Naruto.

Kriet

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Itachi dalam balutan kemeja hitam pas badan dengan celana jeans hitam yang membuatnya tiga tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

"Terpesona dengan penampilanku eh?"

Naruto mengangguk polos. Memang diakuinya Itachi terlihat jauh lebih tampan dengan kemeja hitam itu. Dia seperti pengeran dari negeri dongeng seperti yang ada di buku cerita yang pernah di bacanya.

"Jadi apa agenda kita hari ini?"

Tanya Itachi saat sudah duduk di tepi ranjang Naruto. Si pirang memasang pose berpikir.

"Bagaimana kalau kita tidur bersama?"

Uhuk

Itachi tersedak salivasanya sendiri, bagaimana bisa Naruto berbicara segamblang itu? Memang benar mereka sudah resmi menikah, tapi tetap saja tidak harus sefrontam itu juga kan?

"Kau yakin?"

Naruto mengangguk semangat. Tangannya terulur untuk membingkai wajah tampan sang suami. Lihat betapa sempurnanya rupa Itachi.

Cup

Naruto mencium singkat bibir Itachi. Membuat si raven terkejut, tapi tidak lama senyuman lebar itupun terlukis di wajah Itachi.

"Kau sendiri yang menggodaku hime-chan."

Itachi langsung meraih tengkuk Naruto dan menyatukan lagi bibir mereka. Bibir yang sudah lama tidak dia rasakan, bibir yang selalu menjadi candu untuknya.

"Kau milikku, Naru."

Kalimat itu adalah kalimat pembuka yang mampu membawa Naruto terbang. Kalimat yang akan membuka satu rahasia diantara keduanya. Rahasia yang secara rapi tersimpan, hampir tidak terjamah. Rahasia yang mungkin akan menjadi boomerang atau bahkan menjadi salah satu langkah untuk merekatkan kembali hubungan mereka.

Tbc