ALPACA x PONYO

.

.

Im Youngmin.

Jung Sewoon.

.

.

Produce 101 Season 2 Members.

ONE (Jung Jaewon)

.

.

.


"ponyo"

Sewoon yang sedang memindahkan berbagai sayuran yang ada di bulgogi, di wadah makannya ke wadah makan youngmin, teralihkan saat lelaki tersebut memanggil panggilan khusus tersebut.

Kenapa youngmin memanggil sewoon dengan ponyo?

Karena, sewoon mirip sebuah tokoh kartun bernama ponyo itu sendiri. Jadi, sejak saat itu lah youngmin terus memanggil sewoon dengan ponyo atau kalau ia sendiri merasa itu terlalu panjang, ia akan menyingkatnya dengan 'nyo'. Sewoon tentu saja awalnya langsung memprotes youngmin. Tapi, lama kelamaan, ia akhirnya terbiasa juga. Ia malas meladeni kekonyolan youngmin saat ia protes kenapa lelaki itu memanggilnya ponyo.

Dan pada akhirnya, sewoon lebih sering dipanggil ponyo oleh youngmin. Dibandingkan namanya sendiri.

"apa?"

"stop, stop. Udah. Kenapa gak dimakan sih sayurannya?!"

Sewoon menatap youngmin dengan bibirnya yang mengerucut kecil.

"aku kan gak suka sayur, min"

Youngmin mengkesah pendek.

"pantesan aja badannya mandek. Gak tinggi-tinggi"

TUK

Youngmin mengerang saat keningnya dapat kecupan cinta dari sendok sewoon. Sewoon sudah tertawa puas, penuh rasa kemenangan saat melihat youngmin yang mulai menggerutu. Mendumal betapa sakitnya pukulan sendok sewoon barusan.

"itu sih, kamunya aja yang ketinggian!"

Youngmin mencibir keras.

"eh, neng ponyo. Anak laki korea yang tingginya diatas angka 170, itu keitung normal. Yang ada kamu tuh. Tinggi badan, cuma sampe diangka 157, gara-gara gak mau makan sayur"

TUK

"youngmin ih!"

Youngmin tergelak saat sewoon mulai bersidekap dan menatapnya tajam. Sewoon berdecak sebal, lalu memilih untuk menghabiskan makanannya dalam diam. Dan mengabaikan youngmin yang masih asik dengan tawa nistanya. Youngmin pada akhirnya meredakan tawa. Ia pun tersenyum geli saat melihat sewoon makan dengan kepala yang sedikit merendah. Gadis itu merajuk karenanya. Ia pun menangkup wajah sewoon lalu membuat wajah tersebut menatapnya.

"jangan ngambek, dong. Aku kan cuma bercanda, nyo"

Sewoon masih diam walaupun mulutnya mengunyah makanan yang baru saja ia masukkan kedalam mulutnya.

"berisik!"

Youngmin tersenyum gemas. Masih setia menangkup wajah sewoon.

"eh. Nanti aku ada rapat klub. Mau ngomongin sertijab. Kamu mau ikut, nyo?"

Mata sewoon yang tadi tidak mau menatap youngmin sama sekali, selepas lelaki tersebut mengejek tinggi badannya, kini berbinar terang. Terarah sepenuhnya pada youngmin.

"eum!"

Youngmin melepaskan tangkupannya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusak pucuk kepala sewoon dengan lembut.

"kalo gitu. Jangan lupa laporan sama bang jaewon"

Sewoon kembali mengangguk lalu mengacungkan 2 ibu jarinya. Selanjutnya, sepasang anak manusia itu melanjutkan makan mereka sambil terus bercakap satu sama lain. Membicarakan hal apapun dengan sesekali sama-sama terbahak, atau sewoon yang merenggut akibat diejek oleh youngmin. Ataupun sewoon yang memukul kening youngmin, karena kelewat sebal mendengar tawa youngmin yang menggelegar begitu.

Manis memang, jika dilihat dari kacamata orang awam.

Tapi, sekali lagi. Hubungan mereka itu tidak pernah melewati batasan yang disebut sebagai sahabat.

Mungkin, salah satunya, atau mungkin juga keduanya, tidak mau untuk mengambil langkah, membawa bahtera persahabatan mereka, pada tingkat yang lebih tinggi.

Takut ada kata pisah yang terucap, dan pada akhirnya, mereka tidak akan bertemu lagi, setelah kata pisah tersebut. Jadi, mungkin, lebih baik menyimpan perasaan suka, dibalik topeng sahabat. Setidaknya, bisa saling menjaga, menemani, dan melindungi, tanpa harus takut kehilangan.

.

.

Youngmin tersenyum saat melihat sewoon yang terlihat seperti tidak berminat sama sekali saat tengah membaca buku sambil mendengarkan lagu di mp3 menggunakan earphone milik youngmin. Ia pun mempercepat pergerakannya, untuk membereskan kertas-kertas maupun dokumen laporan kegiatan mingguan klub. Menjadikannya satu bundle dan menaruhnya di arsip kegiatan. Kegiatan yang tidak akan lagi youngmin bisa lakukan, selepas ia lengser dari jabatannya, yang nantinya akan digantikan oleh orang yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai ketua klub mereka.

"ponyo"

Sewoon masih diam sambil membalik lembaran novel yang ada dipangkuannya. Youngmin bersidekap sambil menatap gadis yang masih berada didalam dunianya tersebut.

Sejujurnya,

Siapa yang tidak menyukai sosok pendiam seperti sewoon ini.

Ya, youngmin mengakui kalau ia jatuh cinta pada sewoon.

Ia tidak tahu pastinya kapan. Tapi, yang youngmin tahu, saat ia sadar, ia sudah menganggap apapun yang sewoon lakukan, selalu menarik di matanya. Selalu ingin melihat sewoon, bahkan jika mereka berpisah hanya beberapa menit. Lebih memilih untuk memikirkan sewoon, dibandingkan pelajaran. Dan, ingin melakukan hal apapun bersama dengan sewoon.

Namun, kembali lagi. Ia tidak mau membawa persahabatan mereka, melewati batasan yang sedari awal sudah mereka buat atas kesepakatan bersama.

Ia tidak siap jika harus merasakan sakitnya kehilangan, akibat kata pisah yang terucap saat keduanya sudah tak sejalan.

PUK

Sewoon terkesiap lantas membuka earphone –milik youngmin yang jadi hak miliknya setelah ia pakai selama 5 bulan belakangan ini, lalu menengadah, menatap youngmin dengan matanya yang tergurat oleh kelelahan.

Youngmin tersenyum lalu berjongkok dihadapan sewoon. Tangannya terangkat untuk menyelipkan anak rambut ke balik telinga sewoon.

"ngantuk ya, nyo?"

Sewoon mengangguk. Membuat youngmin menangkup wajahnya dengan senyuman gemas. Sewoon menyamankan wajahnya pada tangkupan youngmin dengan mata yang perlahan memejam.

"mau balik sekarang?"

Mata sewoon kembali terbuka dan mengangkat tangan kirinya setara wajah, untuk memeriksa jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kiri, jam hadiah pemberian youngmin saat ulang tahunnya ke 16.

"tapi kak jaewon bilang aku dijemputnya jam sembilan, min. Masih lama"

Youngmin melepaskan tangkupannya lalu berdiri dan mengambil tasnya.

"jajan mau gak, nyo? Sambil nungguin bang jaewon jemput kamu"

Mata mengantuk sewoon langsung berbinar seketika. Dengan semangat, ia memasukkan mp3, novel, dan earphone kedalam tasnya lalu bangkit dari single sofa tersebut. Setelah youngmin mengunci pintu ruangan tersebut, ia lantas menggenggam tangan sewoon.

"mau jajan apa mau sekalian makan, nih?"

Sewoon terlihat menimang penawaran youngmin.

"terserah kamu aja deh, min"

Youngmin melepas genggaman dan beralih merangkul si mungil sewoon.

"yakin, terserah aku?"

Sewoon mendongak, menatap youngmin. Diam sebentar lalu menggeleng setelahnya.

"gak yakin, deh. Kamu suka aneh-aneh sih, kalo ngajak makannya"

Youngmin terkekeh ringan.

"terus, maunya apa?"

Sewoon terlihat berpikir lagi.

"aku laper sih, min. Tapi gak laper banget. Makan tteokpokki aja kali ya? Mau gak?"

Youngmin gantian menimang tawaran sewoon.

"tteokpokki? Boleh. Yang ada diujung gang itu aja, ya? Kalo kejauhan, kasian bang jaewon nanti nyariin kamu"

Sewoon mengangguk cepat lalu melingkarkan tangannya pada pinggang youngmin. Berjalan bersama sampai lahan parkir sekolah lalu keluar menuju tempat yang ingin mereka datangi tersebut dengan bergoncengan menggunakan sepeda gunung kesayangan youngmin.

.

.

Setelah puas makan tteokpokki yang dibayari oleh youngmin, keduanya kembali ke sekolah untuk duduk bersisian di kursi halte dekat sekolah. Menunggui sewoon yang akan dijemput oleh sang kakak.

"nyo"

Sewoon menoleh.

"ngantuk banget ya?"

Sewoon mengangguk sambil mengusak matanya. Youngmin yang melihatnya, tidak bisa untuk tidak mengembangkan senyuman gemasnya.

"sini senderan. Masih 5 menit lagi nih sebelom jam sembilan"

Sewoon tersenyum kecil dan berakhir dengan kepalanya yang ia sandarkan pada bahu youngmin.

"aku kenyang banget. Makanya ngantuk"

Youngmin terkekeh lalu membebaskan wajah sewoon dari rambut yang menutupi. Dan youngmin pun membiarkan keheningan melingkupi mereka dengan erat, saat mengetahui sewoon sudah terpejam dalam rangkulannya.

TIN

Mobil Audi A4 warna putih, berhenti didepan youngmin dan sewoon. Youngmin tersenyum sopan saat melihat sosok yang baru saja turun dari mobil tersebut.

"lah? Nih bocah kok, tidur gini sih?"

Youngmin terkekeh.

"kekenyangan, bang. Abis ngabisin 2 porsi tteokpokki paket lengkap"

Jung Jaewon tertawa kecil mendengar youngmin yang seakan mengadukan tingkah sang adik padanya begitu.

"masukin ke mobil langsung aja, min"

Youngmin pun mengangguk lalu menggoyangkan bahu sewoon yang masih tertidur dalam rangkulannya.

"lu sih, dikasih tidur. Udah tau nih bocah satu, kalo udah nempel terus kena angin, bakal ketiduran terus susah bangun. Sewoon kan pelor"

Youngmin terkekeh sambil terus menggoyangkan badan sewoon untuk membuatnya bangun.

"gua kasian, bang. Dia keliatan capek banget. Terus abis makan, dia bilang ngantuk. Ya udah deh"

Jaewon tersenyum lalu menepuk-nepuk pucuk kepala adiknya dengan sedikit gemas, lalu menggeser-geser kaki sewoon dengan kakinya.

"woon. Sewoon. Bangun, dek. Mau pulang gak?"

Sewoon akhirnya mengerang setelah tidak menunjukan reaksi apapun dari gangguan sang kakak. Jaewon menatap jengah adiknya yang masih menyandar pada youngmin dengan mata yang tertutup rapat begitu.

"gua tunggu di mobil deh, min. Tolong ya"

Youngmin mengangguk lagi seiring dengan jaewon yang menjauh dari keduanya, lalu masuk kedalam mobil tersebut. Youngmin pun menyisir surai sewoon perlahan lalu mendekatkan mulutnya pada telinga gadis bungsu keluarga jung tersebut.

"nyo. Ponyo. Sewoon. Bangun sebentar dulu, coba. Bang jaewon udah jemput kamu tuh"

Sewoon bergerak. Alih-alih bangun, gadis jung itu malah melingkarkan kedua tangannya, mengungkung pinggang youngmin. Youngmin terdiam sebentar. Ia munafik kalau bilang dia tidak merasa hatinya berdentum, akibat sewoon yang mengungkungnya begitu. Walaupun saat ini, gadis tersebut jauh dari kata sadar.

"sebentar, min. Aku masih ngantuk, nih. Lima menit lagi deh"

Youngmin mengerjap cepat. Ia pun menghembuskan nafasnya secara perlahan.

Youngmin pun mengusap tangan sewoon yang melingkar di perutnya, sambil terus menepuk-nepuk punggung sewoon.

"iya. Aku tau kamu ngantuk. Tapi, bang jaewon udah jemput tuh. Kamu lanjutin tidur kamu lagi nanti dirumah, nyo"

Sewoon menggerung manja. Youngmin tersenyum gemas lagi.

"aku ngantuk, min"

Youngmin menengadah sambil terkikik geli.

"iya. Aku tau. Bangun dulu sebentar. Masuk ke mobilnya bang jaewon, terus pulang. Kamu lanjutin tidur kamu dirumah. Udah malem. Kasian mama kamu nyariin nanti."

Sewoon mengerung tidak nyaman, walaupun pada akhirnya gadis bungsu keluarga jung itu menegakkan tubuhnya. Sebagian rambutnya turun, menutupi wajah teduhnya yang mengantuk. Youngmin tertawa ringan sembari merapikannya lalu menyelipkan ke balik telinga sewoon.

"ayo. Cepetan. Jadi kamu juga bisa cepet lanjutin tidur kamu. Aku kan juga mau pulang, nyo"

Sewoon memajukan bibirnya sambil mengusak matanya perlahan. Ia pun bangkit setelah menerima uluran tangan youngmin untuk membantunya berdiri. Setelah membantu sewoon menempati kursi penumpang samping pengendara dan jaewon mengucapkan terimakasih, mobil jung bersaudara tersebut menjauh dari halte. Meninggalkan youngmin sendiri, bersiap menaiki sepedanya untuk pulang kerumah.

"kwajang!"

Youngmin baru saja akan mengayuh sepedanya, saat suara yang ia kenal memanggilnya begitu. Ia pun menurunkan standar sepedanya lalu memutar tubuhnya tanpa turun dari sepeda. Sesosok lelaki bersurai kelam, berjalan cepat untuk menghampirinya.

"gua kira, lu udah balik, abis meriksain laporan kegiatan, jang"

Youngmin kembali berbalik menghadap sepedanya saat pemuda itu sudah berdiri disampingnya.

"pengennya. Tapi, tadi nungguin sewoon dijemput abangnya dulu"

Lelaki itu mengangguk kecil.

"lu sendiri? Tumben baru balik jam segini, hwan?"

Kekehan pemuda itu terbentuk seraya menepuk pundak youngmin.

"gua sih biasa balik jam segini, jang. Ngumpul sama klub vocal dulu bentaran tadi"

Youngmin lupa kalau pemuda yang menjabat sebagai wakilnya dalam memimpin klub music itu juga mengikuti klub lain. Klub vocal, seperti yang ia bilang tadi.

"oh iya. Gua lupa kalo lu juga anak klub vocal. Eh. Mereka juga ikut turun jabatan lusa kan? Barengan sama kita?"

Lelaki itu mengangguki pertanyaan youngmin. Hening beberapa saat, sampai terpecah oleh dehaman pelan yang berasal dari lelaki disampingnya.

"jang. Gua boleh nanya, gak?"

Youngmin mengerut seraya bersidekap. Ia pun menatap lelaki tersebut dengan aneh.

"boleh lah, jaehwan. Ya masa gua larang"

Kim Jaehwan —lelaki yang gemar melempar lelucon terkadang dangkal terkadang dalam, yang menjabat sebagai wakil youngmin dalam klub musik dan terkenal dengan suara kencangnya kalau sudah teriak serta suara tawanya yang menggelegar seperti pembunuh berantai. Tapi hampir seluruh siswa mengakui bahwa suara lelaki kim satu ini saat bernyanyi, patut diacungi seluruh ibujari, saking merdunya. Pemuda itu terkekeh salah tingkah.

"punten, nih ya. Lu sama sewoon itu temenan doang, kan? Gak lebih?"

Youngmin menaikkan alisnya lalu tersenyum samar.

"lu sendiri? Liatnya, gimana, hwan?"

Jaehwan menggaruk tengkuknya.

"gua bingung jawabnya, jang. Kalo gua liatnya sih, kalian deket banget. Kayak orang pacaran gitu. Kalo ada lu, pasti ada sewoon. Kecuali pas dikamar mandi"

Youngmin tergelak ringan mendengar jawaban wakilnya tersebut.

"terus juga, pas gua gak sengaja denger pas sewoon ditanya sama seungwoo. Dia bilang kalo lu sama dia itu cuma sahabatan. Lu sama sewoon udah kenal dari hari pertama masuk smp. Gitu katanya"

Youngmin mengangguk masih dalam senyuman.

"ya, emang begitu, hwan. Gua sama dia emang udah sahabatan dari hari pertama di smp"

Mata jaehwan membola.

"serius?"

"iya. Kenapa emangnya?"

Jaehwan mengusap tengkuknya dengan tawa canggung.

"enggak—itu… eum—gua—"

Youngmin bersidekap. Tiba-tiba saja, otaknya memikirkan seluruh kemungkinan negatif, saat jaehwan mulai membahas hubungan antara dirinya dan sewoon. Apalagi melihat gelagat jaehwan yang seperti ini.

Youngmin tahu, jika memberi prasangka buruk pada orang itu adalah hal buruk. Tapi, dia tidak bisa mencegahnya saat ini. Apalagi jika sudah membawa hal –yang menurutnya sakral begini

"gua boleh minta nomornya sewoon gak?"

Kan.

Youngmin tak sadar kalau nafasnya sekarang terdengar seperti memburu. Hatinya tiba-tiba saja terbakar. Ia berdeham kecil untuk menyadarkan dirinya dari kungkungan amarah.

"nomor sewoon?"

Jaehwan mengangguk kikuk.

"iya. Boleh gak? Kan lu sahabat deketnya tuh, jang"

DEG

Sahabat dekat.

Youngmin terpelatuk oleh 2 kata sederhana, tapi mampu membuatnya merasakan sesak yang luar biasa.

Memang benar sih, apa yang dikatakan oleh jaehwan barusan. Dirinya memang hanya sekedar sahabat dekat sewoon. Yang pada kenyataannya, ia telah menaruh hatinya sejak lama pada gadis yang menganggapnya hanya sebagai sahabat dekat itu.

Youngmin melempar senyum samar.

"gua gak tau juga sih, hwan. Gua belom bilang ke sewoon. Nanti kalo ketemu, gua bilangin deh ke orangnya"

Bisa youngmin lihat bahwa sinar keraguan yang nampak di mata jaehwan, langsung menghilang. Berganti dengan sinar terang yang menunjukan rasa terimakasih.

"beneran, jang?!"

Youngmin mengangguk pelan dengan senyum kecilnya.

"iya. Kalo boleh tapi. Gua gak janji"

Jaehwan mengangguk cepat.

"iya, deh. Gua tunggu, kalo gitu. Tapi, serius. Makasih banget, jang. Sumpah, lu baik banget. Pantes sewoon betah sahabatan sama lu"

Youngmin terkekeh pelan sembari meninju pundak jaehwan main-main.

"iya, lah. Makanya tuhan ga banyak-banyak buat orang kayak gua, karena gua baiknya keterlaluan. Langka nih orang kayak gua"

Youngmin melemparkan lelucon dangkalnya, yang disambut kekehan geli oleh jaehwan.

"iya dah. Eh. Bis gua udah dateng, tuh. Gua pulang duluan, ya. Baek-baek dijalan, entar tiba-tiba nyungsep, kan gua gak tau, jang"

Jaehwan melambai samar dan segera berlari masuk kedalam bis dengan tawa ringan. Setelah melihat bis tersebut menghilang di tikungan ujung gang, barulah youngmin mengayuh sepedanya. Dalam diam dengan otak yang berkecamuk hebat. Memikirkan apakah ia akan menanyakan hal yang tadi ia bilang pada jaehwan, atau tidak.

.

.

.

TBC


Disini, jaehwan saya gak munculin banyak-banyak. Soalnya, saya bahas persahabatannya youngmin sama sewoon. Ya Udah, gitu aja sih hehehe. Maafkan jika sikap berikut sifat mereka, saya buat jadi keluar dari karakter mereka yang sebenarnya hehehe. Tidak ada maksud begitu, karena ini hanyalah dunia imajinasi saya. Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.

.

.

Sekiranya, sekian curhatan dari saya hehehe. Kalo mau di sekip mah rapopo. Asal jangan lupa di follow, favorite, sama review hehehehe. Timpuk aja timpuk gapapa. Asal nimpuknya pake cinta /nadzis cuih/

.

.

.

Nantikan kelanjutan dari cerita ini /itupun kalo ada yang nungguin. Gede rasa amat lu coeg/

hehehe