(WARN! HARSH WORD)

.

ALPACA x PONYO

.

.

.

Im Youngmin.

Jung Sewoon.

.

.

Produce 101 Season 2 Members.

ONE (Jung Jaewon)

.

.

.


Sewoon menatap aneh youngmin yang memakan jatah makan siangnya dalam diam. Merasa aneh dengan tingkah lelaki bermarga im tersebut. Sebenarnya, sewoon merasa aneh selama beberapa hari belakangan ini. Hanya saja, bagi sewoon, hari ini adalah puncaknya. Youngmin yang sewoon kenal itu, cerewet, banyak omong, terkadang suka sekali mengusal atau menggelayutinya, padahal badannya menjulang begitu.

Tapi, sudah beberapa hari ini, sewoon merasa kalau youngmin berbeda dari biasanya. Maksud sewoon, youngmin tetap menemaninya kemanapun saat sewoon minta. Dan tetap menemaninya makan siang seperti ini. Tapi, atmosfir diantara mereka berdua, terasa aneh dan asing. Terasa sedikit canggung dibandingkan biasanya.

"min"

Youngmin mendongak sambil memasukkan kacang hitam kedalam mulutnya.

"eum?"

Sewoon bersidekap.

"kenapa?"

Alis youngmin menukik sebelah.

"siapa?"

Sewoon mengkesah pendek.

"ya kamu, lah. Siapa lagi emangnya? Kamu tuh kenapa? Ada apa? Ada masalah?"

Youngmin menggeleng langsung.

"aku gak kenapa-napa dah, nyo"

"bohong!"

Youngmin berdecak pelan.

"ya kali, aku bohong sama keadaan aku, nyo. Kan aku yang ngerasain"

Sewoon mencibir keras.

"kamu aja nih, ya. Sekarang lagi bohong sama aku, min"

Youngmin diam lalu menopang dagunya pada tangan yang bertumpu di meja.

"aku gak bohong, ponyo. Emang kenapa sih? Kok kamu tiba-tiba nanyain aku kenapa gitu?"

Sewoon meminum jus anggurnya lalu menatap youngmin dengan serius.

"aku itu kenal kamu kayak gimana, min. Aku tuh ngerasa kamu beda, beberapa hari ini. Kamu kenapa sebenarnya? Ada masalah? Ya, kalo ada, cerita dong ke aku. Kan aku juga sering cerita masalah aku ke kamu, min. Masa kamu gak mau cerita masalah kamu ke aku? Curang, ih! Sebel aku tuh sama kamu!"

Youngmin tergelak saat mendengar sewoon yang mengomel padanya atas tingkahnya yang —menurut gadis itu, berbeda dari biasanya. Sewoon jengkel setengah mati pada pemuda dihadapannya ini. Padahal ia sedang serius, tapi pemuda im tersebut, malah tergelak geli begitu.

"ih! Udahan dulu ketawanya. Aku serius, youngmin. Malah ketawa, kamu mah!"

Youngmin meredakan tawa gelinya dan beralih menjadi kekehan. Ia menangkup wajah sewoon yang memasang ekspresi sebal.

"dih, dia ngambek! Ya lagian. Orang aku bilang gak kenapa-napa, malah nge-gas. Gimana aku gak ketawa"

"youngmin!"

Youngmin terkekeh geli, apalagi saat sewoon mendaratkan pukulan ringan pada pangkal lengannya.

"oke. oke. Aku udahan dah ketawanya"

Youngmin mengusak pucuk kepala sewoon dengan senyum gemas.

"ya udah. Sekarang cerita atuh ke aku. Kenapa beberapa hari ini kamu kerasanya beda?"

Youngmin melepaskan tangkupannya lalu kembali menopang dagu.

"nih. Aku cerita, ya. Jujur nih"

Sewoon mengerahkan seluruh atensinya pada youngmin. Seakan youngmin akan membeberkan secara percuma, rahasia terdalam idola yang sangat sewoon sukai.

"aku—"

Sewoon bahkan ikut menopang dagu tanpa ia sadari. Youngmin menahan tawanya melihat tingkah sewoon.

"gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Aku sehat-sehat aja. Gak ada masalah. Gak ada apa-apa. Semuanya, baik-baik aja!"

Sewoon menjauhkan wajahnya lalu berdecak keras dan mengerang sebal. Youngmin terbahak geli melihatnya.

"kamu mah nyebelin banget sumpah, min!"

Youngmin mengusak pucuk kepala sewoon yang langsung ditepis dengan dengusan oleh si bungsu jung satu itu.

"ya, lagi. Kan aku udah bilang daritadi, kalo aku gak apa-apa. Kamunya masih aja penasaran. Kan aku udah jujur. Terima dong!"

Sewoon kembali berdecak lalu memilih untuk menghabiskan makanannya. Berusaha mengabaikan youngmin yang masih terkekeh-kekeh geli, melihat wajah sewoon yang tertekuk muram begitu. Dan pada akhirnya, sewoon melupakan niatnya untuk menodong youngmin agar lelaki itu memberitahukan, hal apa yang membuatnya berbeda, menurut sewoon. Semuanya, karena canda dan tawa yang dibagi oleh youngmin kepadanya.

.

.

"nyo"

Sewoon menoleh pada youngmin yang duduk disebelahnya. Lelaki itu memutuskan untuk menemani sewoon lagi di halte dekat sekolah, sampai gadis jung itu dijemput oleh sang ayah.

"apa, min?"

Youngmin melesakkan bibirnya. Terlihat ragu, dan itu disadari oleh si gadis bungsu keluarga jung. Ia pun mengembangkan senyuman kecil.

"apaan, sih? Kalo mau ngomong, ya ngomong aja"

Youngmin melempar tatapannya dari wajah sewoon, pada objek lain. Ia berdeham kecil.

"gini, nyo. Eum… temen aku—dia… dia minta—nomor kamu, nyo"

Alis sewoon naik seraya bersidekap.

"nomor aku? Buat apa?"

Youngmin mengangkat bahunya.

"gak tau aku juga, nyo. Dia gak bilang… tapi, dia minta nomor kamu"

Sewoon kini menatap youngmin dengan cukup serius. Membuat youngmin salah tingkah sendiri, mendapatkan tatapan begitu.

"cowok? Cewek?"

"cowok"

Sewoon terlihat mengangguk kecil.

"siapa? Temen deket kamu?"

Youngmin menggaruk kecil pelipis kirinya, canggung.

"iya, nyo. Temen aku. Seangkatan kok. Boleh gak? Kalo gak boleh, nanti aku langsung bilang ke dianya"

Sewoon mengulas senyum tipis.

"gak usah. Bilang aja ke dianya. Kalo mau, dia yang minta langsung. Ga usah kamu perantarain gini"

"tapi, nyo—"

"udah, bilang gitu aja. Bahasannya, selesai"

Sewoon lalu terkekeh dan mulai menyandarkan kepalanya pada bahu youngmin. Membuat bibir youngmin terkatup seketika. Putra tunggal keluarga im tersebut pun akhirnya mengangguk-angguk kecil. Berusaha mengabaikan kenyataan yang terjadi padanya. Dengan terduduk berdua di halte bus, menikmati keheningan malam dengan khidmat. Sambil menunggu waktu untuk berpisah, untuk pulang pada keluarga masing-masing.

..

..

"jang"

Youngmin menoleh pada Kim Taemin, sahabatnya yang lain, yang ia kenal semenjak dari kelas satu sekolah tinggi ini sekaligus salah satu partner setianya dalam menghisap batangan nikotin sembari bermain game PC.

"apaan?"

"lu gak bareng si sewoon?"

Alis youngmin menukik kecil, lantas menggeleng sesudahnya.

"emang kenapa?"

Taemin menggeleng kecil.

"enggak. Biasanya kan kalo jamkos gini, lu nyamperin dia ke kelasnya. Kalo enggak, dia yang nyamperin lu ke sini"

Youngmin terkekeh kecil.

"segitu perhatiannya lu sama gua, min"

Taemin mengusap tengkuknya dengan wajahnya yang mengernyit.

"jijik bangsat dengernya, jang. Sumpah"

Youngmin terbahak geli.

"emang kenapa, sih?"

Taemin menggeleng.

"gak biasanya aja, gitu. Lu kan nempel mulu sama sewoon. Kalo ada sewoon, pasti ada lu. Kalo ada lu, pasti ada sewoon. Kecuali kalo lu ke kamar mandi"

Youngmin tertawa geli mendengar penuturan taemin.

"lu sama sewoon, gak putus kan?"

Alis youngmin mengernyit lalu tertawa tak minat.

"gimana putus? Pacaran aja enggak"

Taemin menjatuhkan rahangnya seketika, mendengar ucapan youngmin.

"eh? Seriusan?!"

Youngmin menepak kepala taemin pelan lalu bersidekap dan menatap kawan satu kursinya itu aneh.

"iya lah. Buat apa juga, gua bohong"

Taemin mengangkat bahunya acuh.

"kali aja, gitu. Backstreet gitu, supaya sewoon gak kena santet sama fans lu, jang"

Youngmin mencibir keras, membuat taemin tergelak ringan.

"fans apaan, tai. Backstreet? Ya kali, cowok sejantan gua ngejalanin hubungan kayak gitu. Gak level, min. Pengecut"

Taemin gantian menepak kepala youngmin sambil bersungut kesal.

"bangke lu! Gua sama cewek gua kan backstreet, tai. Gua pengecut dong, kalo gitu?"

Youngmin tergelak kembali.

"lah iya. Gua lupa lu sama cewek lu lagi backstreet. Lagian, kenapa juga sih lu sama dia harus backstreet?"

Taemin mengkesah panjang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap lurus kedepan kelas.

"gak tau. Gua sih pengennya, pacaran biasa aja. Tapi, dianya kayak masih ragu gitu, buat bertingkah kayak orang pacaran di depan umum. Terus kalo mau ngajak dia keluar itu, susahnya kebangetan. Asli. Frustasi sendiri gua njing, kalo ngajakin dia pergi berdua tuh. Anjir"

Youngmin mengulas senyum jahilnya lalu merangkul taemin.

"apa jangan-jangan nih ya, min. Cewek lu itu, malu nganggep lu itu pacarnya dia?"

PAK

"bangsat emang lu, jang!"

Youngmin langsung tergelak hebat. Bahkan, ia sampai memukul-mukul meja, saking gelinya. Taemin yang terkena kejahilan youngmin, hanya bisa memaki lelaki itu dengan lebih kasar.

"bercanda gua, sempak. Jangan diambil hati banget, kenapa sih! Kayak kucing bunting lu, tai. Sensitif"

"bacot, sialan"

Youngmin tergelak lagi.

"eh njing. Jonghyun itu kan emang kayak gitu. Lu kan tau gimana pemalunya dia. Terus juga kan dia anak kesayangan guru-guru. Anak tunggal juga kan di keluarganya? Ya pantes kalo dia milih backstreet gitu"

Taemin menatap youngmin.

"gitu ya, jang?"

Youngmin mengangguk takdzim. Membuat taemin meluruhkan bahunya.

"dia nerima lu, terus mau pacaran aja udah syukur, min. Dia kan anak dosen universitas seoul sama staff di kementrian pendidikan. Mana diijinin sama bokapnya, buat pacaran-pacaran gitu sebelum umur legal"

Taemin mengangguk kecil kembali.

"iya juga, sih. Jonghyun pernah bilang ke gua, kalo dia itu emang di batesin banget pergaulannya sama bokapnya, jang"

Youngmin merangkul taemin.

"nah, kan. Bukan tanpa alesan. Terus juga nih, dia itu kan pacarannya sama lu. Yang biangnya berisik di kelas. Sering skip kelas sejarah sama mipa kecuali biologi. Terus juga, sering banget tebar pesona ke adek kelas. Genit banget kayak monyet mau kawin. Keluar masuk ruang BP. Ya gitu deh. Backstreet jadinya. Dia ngambil pilihan bijaksana kok. Percaya sama gua"

Taemin mengangguk-angguk, seakan membenarkan semua perkataan youngmin barusan. Tapi, tak lama ia terdiam.

"bangsat! Lu mau muji apa ngeremehin gua sih?! Anjing juga ya, ini mulut bocah satu"

Youngmin tergelak hebat saat taemin melepaskan rangkulannya dengan kasar. Lelaki itu bahkan masih mempertahankan tawanya saat taemin dengan tidak kalah kasarnya menonjok pangkal lengan lalu mendorong kepalanya sambil terus melemparkan makian pada putra tunggal im itu.

"eh. Sempak. Kita kan lagi mau ngebahas lu sama sewoon. Kenapa jadi bahas gua sama jonghyun gini?"

Youngmin terkekeh kecil membalasnya. Bersamaan dengan itu, datanglah 2 lelaki lain yang langsung menempati 2 kursi lain di depan kursi yang ditempati oleh taemin dan dirinya.

"lah? Jang. Tumben amat ga sama sewoon"

Kang Dongho, —pencetus panggilan 'kwajang' sekaligus 'jang' yang pertama kali, langsung bertanya begitu, waktu melihat sosok youngmin masih duduk dengan tenang di sebelah taemin. Karena, selama ia mengenal youngmin sejak kelas 1, disaat jam kosong seperti ini, anak itu sudah bisa dipastikan tidak akan ada di kursinya dan bisa ditemukan, apabila kau menemukan sewoon.

"lu juga, dong. Tumben amat gak sama minki"

Dongho terkekeh.

"gak lah. Bosen gua, tiap hari dihadepin sama minki mulu. Dia juga lagi asik ngumpul sama gengnya di kelas seungwoo"

Lelaki bersurai hitam minim ekspresi yang duduk disebelah dongho, mencibir keras lalu tertawa remeh.

"jangan percaya. Orang nih bangke satu abis ngecengin adek kelas. Yang namanya Lee Daehwi itu. Kelas 1 berapa gitu. Gua lupa"

Kim Yongguk berceletuk bebas tanpa berpikir lebih panjang, apa akibatnya ia berbicara begitu. Dongho pun menepak belakang kepala yongguk yang langsung dibalas serupa lalu seterusnya, hingga terangkai pertikaian kecil sarat dengan makian dan keplakan-keplakan ringan di kepala, diantara keduanya.

Youngmin dan taemin mencibir keras.

"brengsek ya si dongho. Udah dapet cewek kayak minki begitu, masih aja berani ngecengin adek kelas. Ga abis pikir gua"

Dongho menatap taemin tajam.

"eh, tai. Lu gak ngaca? Udah dapet cewek sebaik jonghyun, masih aja tebar pesona ke adek kelas. Lu mau gua laporin ke jonghyun?"

"anjing. Bacot lu, sempak"

Youngmin terbahak geli melihat ketiga temannya jadi adu mulut satu sama lain. Membicarakan percintaan. Hal, yang sebenarnya tidak bisa ditimpali oleh youngmin. Karena youngmin berstatus sendiri.

"min"

Youngmin teralihkan saat tengah berada ditengah perbincangan kecil bersama taemin, Kim Yongguk, dan Kang Dongho.

"eh. Baru juga diomongin. Udah dateng aja orangnya"

Youngmin menggeplak kepala yongguk tanpa tedeng aling-aling. Yang langsung menguarkan makian dari lelaki kim tersebut.

"sono lu, tai. Udah disamperin sama sewoon tuh"

Dongho bertukar seringai jahil dengan taemin.

"bacot bener, njing"

"im youngmin"

Youngmin terkekeh polos saat sewoon merapal nama lengkapnya. Ia paham kalau sewoon sangat tidak suka, jika dia sudah mendengar youngmin berkata kasar. Sekalipun itu dengan kawan-kawan sepermainannya. Youngmin pun berdiri lalu merangkul sewoon dan mengajaknya keluar dari kelas. Mumpung ada jam kosong karena guru-guru sedang mengadakan rapat membahas kurikulum.

"kenapa, nyo?"

Sewoon menengadah, menatap youngmin, sambil menyodorkan soda kalengan pada lelaki tersebut. Youngmin pun membukanya, lalu menyodorkan kembali pada sewoon.

"buat kamu, min. Aku lagi batuk. Gak boleh minum soda sama mama"

Youngmin menatap sewoon sebentar lalu menenggak isi soda kalengan tersebut.

"pasti gara-gara kemaren, tuh. Ngotot sih lagian, minta makan es krim. Padahal udah dilarang sama bang jaewon sama aku juga"

Sewoon mencebik lucu. Tak terima disalahkan begitu saja oleh youngmin.

"udah periksa ke dokter?"

Sewoon mengangguk sambil menempatkan diri di salah satu kursi batu yang ada di selasar lantai 2 gedung sekolah mereka. Youngmin pun mengikutinya lalu menyisiri surai coklat sewoon yang sengaja digerai.

"udah, kok. Aku juga udah minum obat tadi pagi"

Youngmin mengangguk kecil.

"min"

"eum?"

Sewoon sedikit memajukan tubuhnya.

"temen yang kamu maksud itu—"

Sewoon menjeda ucapannya. Membuat atensi youngmin yang tadi tengah menatap langit abu-abu awal musim gugur, kembali padanya.

"yang mana?"

Sewoon mengulum bibirnya sebentar.

"yang minta nomor aku"

DEG

Youngmin bisa merasakan bulu kuduknya meremang seketika. Kini, otaknya dirubung erat oleh seluruh kemungkinan buruk, yang mampu ia pikirkan. Ia pun berdeham.

"iya?"

"dia—dia… jaehwan? Wakil kamu di klub music? Kelas 3-4?"

Youngmin mengangguk kaku dengan ragu.

Lalu, hening mengambil alih keduanya. Youngmin menghela nafasnya perlahan sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit.

"dia udah ketemu kamu, woon?"

Sewoon tersentak. Ia menatap youngmin dengan wajah tak terbaca. Antara kaget, takut, bingung, dan tidak menduga. Youngmin itu, bahkan lebih sering memanggil sewoon dengan ponyo. Jadi, sewoon sedikit berpikir buruk saat youngmin sudah memanggilnya dengan nama begitu.

"sewoon?"

Sewoon mengerjap. Ia menatap youngmin dengan bingung.

"a—apa?"

Youngmin tersenyum kecil.

"kamu udah ketemu sama jaehwannya belom?"

Sewoon berdeham kecil lalu mengangguk pelan.

"berarti, dia sukses tuh, minta nomor kamu langsung?"

Sewoon kembali mengangguk.

"min"

Youngmin merendahkan wajahnya lalu menatap sewoon.

"eum?"

"kamu—kamu gak apa-apa?"

Youngmin tersenyum samar dengan alis yang menukik sebelah.

"aku gak kenapa-napa dah. Emang kenapa sih?"

Sewoon menatap youngmin dengan lamat. Mengarah tepat pada netra kelam milik youngmin yang seperti meredup, jika ditilik dari kacamata sewoon.

"serius?"

Youngmin balas menatap sewoon dengan tidak kalah serius. Ia pun menangkup wajah sewoon lalu mendekatkannya.

"seriusan"

Youngmin menyempatkan untuk melempar senyum tulus sebelum ia melepaskan tangkupannya pada wajah sewoon.

"ke kantin, yuk. Aku mau jajan nih. Kamu mau gak?"

Youngmin bangkit dalam sekali hentak, lalu merengangkan tubuhnya.

"min"

"apa?"

Sewoon ikut bangkit lalu menatap youngmin.

"aku balik ke kelas aja, deh"

Youngmin menaikan alisnya lalu bersidekap.

"serius? Aku mau beli susu pisang, nih. Kamu emangnya gak mau, woon?"

Sewoon berdeham tidak nyaman. Apalagi saat youngmin kembali menyebut 'woon' ketimbang 'nyo'

"iya. Eung—aku masih ada tugas sebenernya, min"

Youngmin mengangkat bahu dengan wajah acuh.

"ya udah"

Lalu youngmin berjalan selangkah lebih dulu. Meninggalkan sewoon di belakangnya yang masih bertanya.

Kenapa youngmin kembali berbeda.

Dan tingkat perbedaannya kali ini, terbilang cukup parah.

Sejujurnya, sewoon memikirkan satu kemungkinan paling besar, dibalik sikap youngmin yang tiba-tiba saja berbeda begini. Namun, ia tidak mau terlalu berharap banyak dengan jawaban tersebut, bila nanti yang ia dapatkan hanyalah harapan semu.

.

.

.

TBC


Maafkan seandainya kata kasar yang ada dicerita, membuat tidak nyaman. Sudah saya bilang dari pertama, jika percakapan yang saya pakai untuk cerita ini, bahasa pergaulan sehari-hari anak indonesia. Dan kalo make aku-kamu waktu youngmin ngomong ke gengnya itu berasanya aneh. Soalnya, saya yakin, lelaki disana itu tuh, ngomongnya juga kasar begitu sama temen-temen sejenis mereka /heleh, sok tau kamu, cuk. Kayak udah pernah kesana aja/. Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.

.

.

Sekiranya, sekian curhatan dari saya hehehe. Kalo mau di sekip mah rapopo. Asal jangan lupa di follow, favorite, sama review hehehehe. Timpuk aja timpuk gapapa. Asal nimpuknya pake cinta /nadzis cuih/

.

.

.

Nantikan kelanjutan dari cerita ini /itupun kalo ada yang nungguin. Gede rasa amat lu coeg/

hehehe.