(WARN! HARSH WORD)

..

ALPACA x PONYO

.

.

.

Im Youngmin.

Jung Sewoon.

.

.

Produce 101 Season 2 Members.

ONE (Jung Jaewon)

.

.

.


Youngmin terdiam mematung diambang pintu kantin.

Benar-benar diam dalam artian yang sebenarnya.

Menimbulkan kernyitan aneh pada taemin yang kebetulan sedang bersamanya. Bermaksud untuk menyusul dongho, yongguk dan Kang Euigeon, yang sudah lebih dulu pergi ke kantin.

"jang? Kwajang?"

Taemin mengibaskan tangannya didepan wajah youngmin. Tapi, ia tidak mendapatkan reaksi apapun. Bahkan, berkedip sekalipun. Youngmin seperti terkena sihir pembeku saat ini. Taemin sedikit merasa khawatir mendapati sikap aneh yang tiba-tiba ditunjukan oleh kawan sekursinya itu.

"jang? Woi! Kwajang! Lu kenapa sih?! Jangan bikin gua takut kenapa"

Taemin masih terus mengibaskan tangannya didepan wajah youngmin. Bahkan ia kini berdiri didepan youngmin lalu kembali mengibaskan tangannya.

"woi! Im youngmin!"

PAK

Youngmin berjengit kecil dan mengerjap dengan cepat. Ia pun menatap taemin yang berdiri dihadapannya dengan bingung.

"jang. Lu gak apa-apa kan?"

Alis youngmin naik seluruhnya. Ia menatap taemin dengan pongo.

"gua? Emang gua kenapa, min?"

Taemin bersidekap dan memandangnya dengan alis yang mengerut.

"lu kayak kena gendam, njing. Diem gitu tiba-tiba! Kenapa sih? Lu liat setan lewat, cuk?"

"min!"

Tepat saat taemin akan memutar tubuhnya, menghadap ruangan kantin, youngmin menarik taemin untuk menghadapnya kembali. Sampai ada beberapa kata makian yang terurai dari taemin, akibat terkejut dengan pergerakan youngmin.

"bikin kaget aja lu! Kenapa sih, nyet?!"

"ke atap aja lah. Mulut gua asem nih. Minta tuh bocah tiga padaan, bawa makanan ke sana aja. Itu kantin rame, sumpek banget. Males gua"

Taemin diam sebentar, menimbang ajakan youngmin. Membuat youngmin menahan nafasnya, tanpa sadar. Namun beberapa detik setelahnya, pemuda kim itu mengangguk, menyetujui ajakan kawan satu kursinya.

"boleh, deh"

Lalu youngmin menghela nafas lega seraya merangkul tubuh kurus taemin untuk berjalan bersisian dan melangkah menuju atap gedung timur yang jarang didatangi oleh orang. Maka dari itu, 2 pemuda kelebihan kalsium itu dan kawan kental mereka yang lain, sering kali ke sana untuk sekedar merokok bersama atau jika merasa kelas membosankan. Dan memutuskan untuk bolos pelajaran bersama, sampai pelajaran yang mereka tidak senangi, berakhir oleh bel yang bergaung keras memenuhi seantero sekolah.

"jang"

Youngmin menoleh, menatap yongguk yang barusan memanggilnya, seraya menghembuskan asap rokok lewat hidung.

"apaan?"

Yongguk yang semula bertelentang di kursi kayu panjang menghadap langit, kini bangkit dan duduk bersila. Menghadap youngmin yang sedang bersandar pada pagar pembatas atap sambil menyesap batangan nikotin tersebut.

"gua tadi liat sewoon dikantin, jang"

Mendengar sepenggal kalimat dari yongguk. Sukses membuat youngmin terdiam. Tangannya menggantung di udara, karena ia baru saja menyesap rokoknya. Dongho dan euigeon yang sedang tiduran di kedua sisi yongguk pun, lantas terbangun. Bahkan, taemin yang tengah menenggak sodanya, tersedak. Semua mata menatap yongguk, kecuali youngmin.

"beneran lu? Kok gua gak liat sih, guk? Kan kita ada di kantin tadi barengan"

Yongguk menatap euigeon dan dongho bergantian.

"iya. Lu berdua kan posisi duduknya munggungin dia. Jadi, lu pada gak ngeliat si sewoon"

Taemin menyambangi youngmin yang masih diam. Duduk disisinya lalu memantik api pada rokoknya. Sambil sesekali melirik youngmin, yang masih diam membiarkan angin menghabiskan rokoknya, walaupun telinganya terpasang untuk mendengarkan cerita yongguk.

"terus?"

Yongguk menatap dongho lalu mengalihkannya dengan cepat pada youngmin. Ia sempat bertukar tatap dengan taemin dan pada akhirnya, ia kembali menatap dongho serta euigeon dengan sangsi.

"ah. Gak jadi lah. Gua pikir-pikir lagi, keliatannya, gak enak kalo dibagi gini"

Dongho mendorong kepala yongguk sebal. Euigeon mengkesah jengkel.

"eh, tai. Kalo akhirnya gak jadi cerita mah, gak usah buat orang penasaran. Bangke juga lu, guk!"

Yongguk berdecak saat euigeon mulai menyemprotnya dengan omelan.

"maaf deh. Tapi, emang menurut gua, itu gak enak kalo diomongin gini"

Taemin menatap youngmin lalu menatap ketiga pemuda yang duduk berdampingan di atas kursi kayu tersebut, secara satu-satu dan bergantian. Otaknya pun meruntutkan beberapa kejanggalan-kejanggalan yang ia saksikan dari 15 menit yang lalu, sampai saat ini.

"apaan dah, guk. Emangnya gak enak kenapa? Kalo gak enak mah, kasih aja ke kucing lu"

Keempat pemuda tersebut kompak untuk menatap youngmin. Lelaki itu menghisap kecil rokoknya. Memindahkan asap tersebut pada paru-parunya. Bangkit lalu menginjak batangan kecil tersebut sampai tidak berbentuk seraya mengeluarkan asap yang tersisa lewat mulutnya yang terbuka kecil.

"lanjutin aja. Gua juga penasaran jadinya, gara-gara lu"

Yongguk terlihat bingung sendiri. Ia diam sampai akhirnya euigeon menepuk pundaknya. Menyadarkan lelaki kim tersebut.

"seriusan nih?"

Youngmin mengangguk sekali dengan kecil.

"oke, deh. Tadi sampe mana? Gua lupa"

Dongho berdecak gemas. Tangannya mengangkat seakan ingin mendaratkan pukulan pada kepala yongguk. Lelaki itu pun reflek melindungi kepalanya dengan tangan saat melihat gesture dongho. Untung saja, pemuda kang itu mengurungkan niatnya. Yongguk menghela nafas leganya samar.

"sampe lu liat sewoon di kantin"

Yongguk mengangguk kecil mendengar jawaban taemin yang ikut bergabung dengan duduk disebelah dongho.

"ah iya. Gua kan tadi liat sewoon tuh, dikantin. Terus dia disana, ternyata gak sendirian. Lu pada, tau gak dia bareng siapa?"

Yongguk menjeda ceritanya yang langsung disambut gelengan oleh taemin, dongho, dan euigeon dengan kompak.

"dia sama si jaehwan"

Mata dongho membesar.

"jaehwan? Jaehwan mana?" — Euigeon.

"Kim jaehwan?" — Dongho.

Yongguk mengangguk.

"iya lah. Emang ada berapa jaehwan disekolah kita, bego! Iya, kim jaehwan. Itu wakilnya si youngmin"

Lalu hening.

Seketika, dongho dan euigeon yang tadi sempat memaksa yongguk untuk melanjutkan cerita, sekalipun lelaki tersebut sudah bilang kalau cerita yang akan ia bagi tidak bagus, langsung direngkuh kuat oleh perasaan bersalah. Dua pemuda dengan marga yang sama namun berbeda silsilah tersebut, saling tatap dengan pandangan sangsi dan bersalah. Yang lebih sipit, akhirnya mengkesah panjang dengan perlahan.

"serius, guk?"

Yongguk mengangguk sekali. Meyakinkan euigeon kalau tidak ada kebohongan dalam ceritanya barusan.

"lu gak salah liat? Kali aja bukan sewoon, guk"

Yongguk menggeleng pasti untuk jawaban dongho.

"enggak, dong. Gua yakin banget itu sewoon. Gua kan tau sewoon itu kayak gimana. Itu tuh bener-bener sewoon, dong. Yakin gua. Serius dah"

Dongho melirik taemin lewat sudut matanya. Lelaki itu pun kebetulan tengah menatap dongho. Jadilah, kedua lelaki tersebut saling bertukar tatap dengan berjuta arti yang tak bisa tersampaikan oleh ucapan.

"serius, guk?"

Semuanya menoleh pada youngmin. Satu-satunya yang berdiri diantara mereka dengan alis yang sama-sama mengangkat.

"oh? I—iya?"

Euigeon menoleh cepat.

Kenapa yongguk menjadi ragu begitu, setelah ia yakin sekali saat menjawab pertanyaan dongho tadi?

Youngmin yang tadinya menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas, menatap keluar sekolah, kini berbalik dan menatap seluruh teman sepermainannya itu.

"woah. Jaehwan gercep juga"

Taemin membuka mulutnya kecil.

"maksudnya?"

Youngmin melempar senyum lalu melangkah gontai dan duduk disebelah taemin. Sehingga semua mata sepakat untuk menatapnya lebih lekat. Bahkan, euigeon yang duduk paling pinggir pun rela pindah hanya untuk duduk dibawah. Agar bisa melihat youngmin seutuhnya.

"ya gitu. Jaehwan waktu itu minta nomor sewoon. Sekitar 2 mingguan kemaren lah, kalo gua gak salah inget. Gua kira gua doang, yang tadi liat sewoon sama jaehwan makan bareng dikantin. Ternyata lu juga liat, guk"

Semuanya diam. Menunggu kelanjutan youngmin untuk kembali bercerita. Youngmin menatap teman-temannya satu persatu secara bergantian dengan bingung.

"lu pada kenapa sih?"

Dongho bergerak kecil. Membuat yongguk, taemin, bahkan euigeon yang duduk dibawah, terkesiap. Tersadar dari alam lamunan mereka.

"ya nungguin lu cerita lah, sempak! Udah? Gitu aja?"

Youngmin mengangguk menjawab semburan dongho yang terdengar gemas.

"sebentar"

Kini, semua mata beralih menatap taemin. Termasuk youngmin.

"jang. Gua ngerasa lu mulai jauhin sewoon deh, kesini-sini. Lu itu kan biasanya kemana-mana sama sewoon. Sekarang, apa-apa sendiri atau gak, ngajakin kita. Lu itu, ada jamkos pas mau kita ngajakin bola aja, udah ngilang bareng sewoon"

Youngmin tertawa hambar setelahnya.

"gua ngilang, salah. Gua gak ngilang, tambah salah. Gua kudu ngapain dah?"

"gak gitu, jang"

Youngmin merangkul taemin dan menyapu wajah teman-temannya cepat.

"ya, gini aja, dah. Lu pada kan udah tau tuh, kalo jaehwan minta nomor sewoon ke gua. Nah, lu pada bisa nangkep kan, buat apa tuh anak minta nomor sewoon?"

Yongguk mengangkat tangannya. Seakan ia ingin menyampaikan pertanyaan pada guru. Menciptakan senyum geli pada youngmin yang melihatnya.

"jaehwan suka sama sewoon, jang?"

Youngmin mengangkat bahunya acuh.

"waktu itu sih, jaehwan ga bilang dia suka apa enggak, sama sewoon. Tapi, pas yongguk bilang kalo liat sewoon sama jaehwan berduaan di kantin tadi. Kayaknya mah iya"

"terus?"

Youngmin menatap euigeon lalu terkekeh kecil.

"nabrak"

Euigeon beralih seraya berdecak jengah.

"dih, si tolol. Gua lagi serius juga!"

Youngmin tergelak saat lelaki yang juga memilik kampung halaman yang sama dengannya itu, mengomel padanya dengan logat busan yang kental.

"serius, min. Lu ngebiarin aja gitu sewoon dideketin sama jaehwan?"

Youngmin terkekeh mendengar dongho yang bersungut.

"terus? Gua harus apa? Ngelarang jaehwan buat deketin sewoon, gitu?"

Dongho berdecak tidak kalah keras dibandingkan euigeon tadi. Saat dia melihat reaksi Youngmin yang kelewat santai saat berbicara mengenai hal yang berhubungan dengan masalah perasaan seperti ini.

Sejantan apapun seorang lelaki, pasti akan menjadi lebih sensitif saat tengah berbicara dengan sesamanya perihal hubungan masalah perasaan begini. Setidaknya, itu menurut dongho.

Dongho berkesah pendek. Matanya menatap youngmin dengan makna yang tak tersirat.

"ya—tapi kan lu sama sewoon—"

Youngmin menepuk paha dongho. Membuat lelaki kang itu bungkam seketika. Mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ocehannya.

"gua sama sewoon cuma sahabatan dari lama. Masa iya gua ngelarang orang buat deketin sahabat gua? Kan gak boleh"

Youngmin menjeda kalimatnya lalu mengukir senyum tipis.

"lagian gua juga gak serakah. Gua ngebiarin sewoon deket sama siapa aja. Sewoon juga ngebiarin gua deket sama siapa aja. Sesimple itu hubungan gua sama sewoon. Gak usah mikir ribet-ribet dah"

Semuanya mengangguk samar, selepas youngmin menyelesaikan kalimatnya. Ada benarnya juga ucapan youngmin jika mereka pikirkan leboh dalam dan secara seksama.

Youngmin pun mengembangkan senyumnya seraya bangkit.

"balik lah. Istirahat udah mau abis, jir. Kita belum mandi parfum nih"

Keempat pemuda kelas 3-2 itu saling tatap satu sama lain dan bangkit dengan cepat, mengikuti youngmin yang meniti langkahnya menuju pintu atap.

"anjir. Gua lupa abis ini mtk. Bisa digantung berjamaah kita kalo bau rokok gini sama pak kyuhyun"

Youngmin yang berjalan lebih dulu dibanding keempat kawan kentalnya hanya bisa mengulas senyum kecil mendengar celoteh euigeon dengan logat busan. Membuat beberapa kawannya tergelak saat euigeon selesai bicara.

.

.

.

TBC


Maafkan jika sikap berikut sifat mereka, saya buat jadi keluar dari karakter mereka yang sebenarnya hehehe. Apalagi dengan kata-kata kasar yang tertuang dalam percakapan diantara youngmin dan gengnya. Tidak ada maksud begitu, karena ini hanyalah dunia imajinasi saya.

.

.

Akhir kata,

Dan ini persembahan saya yang selanjutnya. Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.

.

.

.

Nantikan kelanjutan dari cerita ini /itupun kalo ada yang nungguin. Gede rasa amat lu coeg/

hehehe.

.

.

Untuk cerita selanjutnya, akan ada penambahan original character. Anggap saja oc yang dibuat itu adalah diri para pembaca sekalian. Walaupun fisik yang saya gambarkan untuk si oc itu sangat berbeda jauh dengan sosok pembaca sekalian. Atau tidak, pandanglah oc tersebut sebagai bagian cerita diluar tokoh yang kalian sukai hehehe. Diabaikan juga tidak apa-apa, sebenarnya hehehe.