(WARN! HARSH WORD)
.
.
ALPACA X PONYO
.
.
Im Youngmin.
Jung Sewoon.
.
.
OC as Youngmin's Niece.
Produce 101 Season 2 Members.
.
.
.
PRAK
Kim Sujin terlonjak kecil saat mendengar suara benda yang jatuh cukup keras, menggema dikamarnya selagi ia sedang mengerjakan tugasnya. Ia pun berbalik dan menatap sebuah ponsel hitam yang sudah berserakan dengan tak beraturan dilantai kayu kamarnya. Nafasnya ia hela dengan perlahan bersamaan dengan matanya yang ia alihkan pada seorang lelaki yang tengah tertidur pulas diatas ranjangnya.
Mendengar dengkuran halus dari tubuh menjulang yang kurus diatas kasurnya itu, ia mengusak sebal rambut jelaganya. Mulutnya merangkai makian yang sepenuhnya, ditunjukan terkhusus untuk pemuda berbalut kaus oblong hitam dan celana basket biru tua tersebut.
PAK
"ca. Bangun!"
Pemuda yang tidur memunggunginya, tak bergerak sedikitpun. Mengabaikan tepukan keras sujin apalagi panggilannya. Padahal ia yakin, kalau tepukan di paha tersebut sudah cukup kuat.
PAK
"paca. Bangun dulu"
Ada gerungan tak nyaman yang berasal dari si pemuda walaupun tubuhnya masih berdiam. Mata sujin teralih pada ponsel yang sudah ia rangkai kembali ke bentuk awalnya, yang kembali bergetar panjang. Menandakan adanya sebuah panggilan masuk.
"youngmin! Bangun dulu kenapa sih. Itu ada yang neleponin lu daritadi tuh. Kasian gak diangkat-angkat"
Dan sujin dibalas oleh racauan tidak jelas dari sepupunya yang lebih tua setahun dibandingkan dirinya itu. Sujin menyerah. Tak ada gunanya juga membangunkan Im Youngmin yang kalau sudah tidur, serupa dengan mayat. Ia pun mengambil ponsel youngmin dan tersenyum tipis saat melihat potret seorang gadis tengah tersenyum, sebagai profil sang penelepon.
Ponyo
"hallo?"
Jeda sebentar. Membuat sujin menjauhkan ponsel itu sebentar. Memeriksa, apakah ia tidak sengaja menyentuh ikon merah karena tidak ada sahutan, tapi nyatanya tidak. Telepon masih tersambung dengan line diseberang sana.
"hallo? Ini ponyo ya?"
"a—ah iya. Hallo"
"nyariin paca ya?"
"eum… ini nomornya im youngmin bukan?"
Sujin menepak keningnya pelan.
"eh iya. Ini nomornya youngmin. Nyariin youngmin ya?"
"oh. Aku kira salah sambung. Iya. Youngminnya ada?"
"pa—ah, youngminnya lagi tidur. Tadi baru balik futsal sama temen-temennya soalnya"
"oh. Tidur. Ya udah deh"
"ada yang mau disampein gak? Biar nanti gua sampein pas youngmin bangun"
"eum? Kayaknya—enggak. Bilang aja aku nelepon dia. Oh iya, ini siapa ya?"
"gua sujin. Sepupunya youngmin"
"oh. Sujin. Kim sujin ya?"
"iya"
"ya udah. Gitu aja deh, jin. Makasih ya"
"siap"
"aku tutup ya"
"oke"
PIP
Percakapan sujin dengan penelepon yang dinamai 'Ponyo' oleh youngmin berakhir. Ia pun menaruh ponsel youngmin keatas meja nakasnya kembali setelah melihat daftar panggilan di ponsel tersebut. Dan menggeleng mafhum saat mendapati 15 panggilan masuk dari ponyo yang tak terjawab.
PAK
"anjing"
Sujin terlonjak kecil saat tiba-tiba tubuh yang terdiam bak mayat itu, berseru kencang saat mendapatkan tepakan dipaha darinya. Tubuh itu berbalik menghadap sujin yang duduk di pinggir ranjang masih dengan mata yang tertutup rapat.
"sakit, bangke. Tai banget"
Sujin menjatuhkan rahang bawahnya.
Ini sepupunya, sedang melindur atau bagaimana?
"ca?"
"apaan?"
Oh.
Sudah bangun rupanya.
"udah bangun?"
"menurut lu aja, ndut"
Sujin mencibir lantas bangkit.
"tuh, tadi pacar lu neleponin pas lu lagi tidur, ca. 15 kali dan baru keangkat pas nelepon yang ke 16 kali"
Mata youngmin perlahan membuka. Ia pun mengusaknya bergantian sambil melakukan peregangan kecil di atas kasur.
"pacar?"
Sujin mengangguk sembari mendudukan dirinya kembali diatas kursi meja belajar. Melanjutkan tugasnya yang sempat terhenti akibat menjawab panggilan telepon youngmin.
"iya. Si ponyo ca"
Youngmin bangun dalam sekali hentak.
"ponyo?!"
Sujin kembali terlonjak dan segera memutar tubuhnya menghadap youngmin yang masih bertahan diatas kasurnya. Alisnya mengernyit aneh melihat reaksi youngmin.
"iya. Dia neleponin lu terus. Tadi sampe jatoh malah hape lu. Terus pas kebetulan mau gua taro balik, eh dia nelepon. Ya udah gua angkat aja"
Youngmin membanting tubuh kurusnya kembali dengan berseru kesal. Membuat sujin memperdalam kerutan pada keningnya.
"lu kenapa, ca?"
"ya elah, ndut! Kenapa diangkat?!"
Sujin diam.
"emangnya kenapa?"
Youngmin bangun lagi lantas mengusak surai jelaganya dengan erangan kesal. Ia pun turun dari ranjang sujin dengan cepat.
"gua udah lama gak angkat telepon dia, ndut! Ah lu mah. Ada aja!"
"lah? Gua mana tau, ca. Lu gak bilang"
BRAK
Setelah menyemprot omelan pada sujin yang masih bingung. Youngmin keluar dari kamar sujin dengan membanting pintu.
"woi bangsat! Pintu kamar gua rusak!"
"bacot, tai! Gua marah sama lu pokoknya!"
Tidak keluar dari rumah, biarpun ia mendeklarasikan kemarahannya pada sujin, sang sepupu dari pihak ayah –ibu sujin adalah adik ayah youngmin makanya marga mereka berbeda, youngmin berjalan cepat menuju dapur keluarga kim yang kebetulan sedang sepi.
Karena itulah ia datang atas suruhan pamannya yang merupakan ayah sujin. Menemani si kim tunggal satu itu, karena kedua orangtua gadis itu tengah berpergian selama 1 minggu lamanya.
Kalau ada kedua orangtua sujin, mana berani mereka saling berteriak dengan menggunakan kata kasar?
Bisa digantung berjamaah keduanya, di pohon persik tua belakang rumah keluarga im.
BRAK
Lagi, pintu kulkas dibanting oleh youngmin. Ia pun membuka sekotak susu dengan kasar lalu menenggaknya dengan rakus.
"ah elah"
Lalu ia menghabiskan susu kotak tersebut dalam sekali tenggak dan membanting bungkus kosong itu ke dalam tong sampah.
"ca"
Tepat saat akan keluar dari dapur, ia mendapati tubuh gempal sujin menghampirinya setelah selesai meniti tangga. Youngmin mengabaikan panggilannya sambil berjalan menuju sofa bed depan tv dan membanting tubuhnya disana. Sujin ikut menempatkan dirinya di single sofa sebelah youngmin.
"paca. Dengerin gua dulu"
Youngmin melirik sujin lewat ekor matanya.
"apaan?"
"gua gak tau, ca. Orang dia nelepon, pas gua abis ngebenerin hape lu yang jatoh. Ya, gua reflek ngangkat"
Youngmin menghela nafas berat. Ia pun menutup matanya dengan lengan kanan.
"santai aja"
"ca. Serius"
"ya, gua juga"
"jangan marah, ih!"
"enggak"
"ah, youngmin. Itu lu marah sama gua. Serius, ca. Sumpah. Gua gak tau kalo ternyata lu sama dia udah lama gak teleponan"
Youngmin menghela nafas kembali lalu menurunkan lengannya dari wajah. Ia pun bangkit dengan perlahan. Ia menatap sujin yang wajahnya benar-benar mengguratkan perasaan bersalah. Ia kembali menghela nafas.
"gak apa-apa. Santai aja"
"tapi kan, ca—"
"gua emang lagi ada masalah sama dia, ndut. Makanya gua udah lama gak teleponan. Tapi, kayaknya emang tuh masalah mesti gua selesain secepetnya"
Sujin menunduk.
"lu gak putus sama ponyo, kan?"
Youngmin terdiam lalu tawa hambar, terbentuk darinya.
"putus? Sejak kapan gua pacaran sama dia?"
Sujin mendongak cepat. Matanya mendelik, mengarah sepenuhnya pada youngmin.
"serius?!"
Youngmin mengangguk sekali. Sujin mengerjap lalu melempar punggungnya pada sandaran.
"bohong lu!"
Youngmin mendecih.
"gua jawab, malah dikata bohong. Wes sak karepmu, toh ndok"
Sujin diam. Bibirnya mengatup erat. Matanya pun tertuju sepenuhnya pada sosok kurus youngmin yang sedang menatap jengah tayangan televise. Sujin mengikuti arah pandang youngmin dan langsung mengernyit.
Sejak kapan youngmin yang buta politik dan permasalahannya, menonton berita yang menyiarkan berita politik dalam negeri?
Sejak kapan?
Sejak masalah pengangkatan panggilan dari sewoon yang tidak disengaja oleh sujin, sepertinya.
Sujin mengkesah panjang. Ia pun bangkit lalu berjalan santai menuju dapurnya. Lama berkutat didapur, ia keluar dengan 2 mug ditangannya. Masing-masing dikepuli oleh asap. Ia pun menyodorkan mug hijau pada youngmin. Youngmin terkesiap dan menatap mug didepan wajahnya lalu menengadah menatap sujin.
"apaan nih?"
"racun"
"serius, bangke"
Sujin berdecak lalu menaruh mug hijau itu pada meja kecil didekat mereka lantas duduk disebelah youngmin.
"liat aja sendiri"
Youngmin mendengus pelan lalu mengambil mug tersebut.
Coklat panas.
Bibirnya mengatup. Mencermati kepulan asap diatas gelasnya. Perlahan, bibir tebalnya menyunggingkan sebuah senyum tipis.
"makasih, ndut"
Sujin yang tengah menggoyang-goyangkan mug putihnya, menoleh.
"beliin gua jjajangmyeon ya"
Youngmin mendorong kepala sujin main-main.
"tai lu, pengeretan!"
Sujin terbahak lalu menyesap coklat panasnya.
"ca. Beneran lu lagi ada masalah sama ponyo lu itu?"
Youngmin terkekeh kecil.
"gak bisa disebut masalah juga sih, ndut"
Alis sujin mengerut dan matanya menyorot youngmin dengan aneh.
"lah, terus? Disebut apaan dong, ca?"
Youngmin menoleh lantas menggeleng.
"gua juga bingung ndut, nyebutnya apaan"
Sujin mencibir sejadinya.
"bloon dih. Bingung gua, kenapa sekolah tinggi sekang, mau nerima murid bloon gak ketulungan kayak lu, ca"
Youngmin berdecak jengkel lalu kakinya naik dan menendang paha gemuk sujin.
"sebloonnya gua. Gua gak pernah dapet nilai 5 pas ulangan matematika kayak lu ya, ndut"
Sujin yang gantian berdecak.
"tai kan, bawa-bawa nilai"
"lu duluan yang mulai"
Sujin mengkesah pendek.
"oke. Oke. Terus gimana?"
Youngmin menatap sujin bingung sembari menaruh mugnya pada meja.
"gimana apanya?"
"ya masalah lu sama ponyo lah, dongo! Ah elah. Gua kelepak lama-lama kepala lu, ca!"
Youngmin tergelak geli mendengar sujin yang mengomel begitu.
"kan gua bilang. Itu tuh bukan masalah, ndut"
Sujin menghela nafas berat.
"ya udah. Bukan masalah. Oke. Alesan lu, kenapa lu gak ngangkat teleponnya si ponyo. Padahal, dia udah neleponin lu berkali-kali. Dan, lu udah lama gak teleponan sama dia"
Tatapan sujin berubah menjadi lebih serius. Serupa dengan youngmin. Bahkan, rahang lelaki itu mengeras sekejap saat sebuah peristiwa tiba-tiba merangsek dalam otaknya.
"gua gak mau ganggu hubungan dia, ndut"
Sujin terdiam. Gurat keseriusannya, terbang begitu saja selepas ia mencerna kalimat youngmin barusan.
"gua mau mulai biasain diri gua buat sendirian gitu, ndut. Gak musti sama dia terus-terusan"
Youngmin menyandarkan punggungnya perlahan.
"mungkin, mulai sekarang—gua kudu jaga jarak sama ponyo. Biar cowok yang lagi deketin ponyo, gak salah paham sama gua, ndut. Yang ujungnya nanti, malah dia ngajakin gua berantem, karena gak suka ngeliat ponyo deket sama gua"
Ruang keluarga milik keluarga kim terasa hening. Tv yang menayangkan berita pun diabaikan oleh keduanya.
"ca"
"hah?"
"lu rela lepasin gitu aja, si ponyo yang udah ada dilingkaran lu dari lama, buat cowok laen?"
Youngmin menoleh. Perlahan, ia tersenyum kecil lalu tertawa ringan setelahnya.
"ya mau gimana? Tapi emang gua sama dia cuma sahabatan. Gak lebih. Gak kurang"
Sujin menatapnya serius.
"ca"
"haah?"
"jujur sama gua. Lu suka kan sama ponyo ini? Suka yang lebih. Ngejurus ke cinta. Iya, kan?"
Youngmin tertawa hambar menanggapinya dan tak lama terdiam.
"gua munafik, kalo gua bilang gua gak suka sama dia, ndut. Pasti lah, gua nyimpen perasaan yang lebih dari temenan ke dia. Udah 5 tahun bareng terus"
Sujin mendengarkan cerita youngmin dengan seksama.
"ada saat dimana gua kepengen banget nembak dia, ndut. Tapi tiba-tiba gua sadar. Kalo gua sama dia putus nanti. Pasti kita gak akan bisa ngulang kejadian, kayak pas kita masih sahabatan dengan perasaan yang sama. Pasti bakalan canggung gitu, karena udah pernah jadi mantan. Sekalipun, misalnya gua sama dia pisahnya baik-baik. Ada yang bilang pas jadi mantan masih bisa temenan baik-baik? Halah kentut setan! Gak percaya gua"
Sujin terbahak mendengar umpatan youngmin lalu mengangguk cepat.
"terus? Akhirnya? Lu milih gini aja? Sahabatan doang, padahal mah lu suka banget sama si ponyo ini?"
Youngmin mengangguk sekali.
"gak apa-apa lah, menurut gua. Gini aja cukup buat gua"
Sujin berdecih.
"gini aja cukup? Tai kuda, ca. Tai kuda"
Youngmin melirik sinis.
"apaan sih?!"
Sujin menurunkan kakinya dan menghadapkan tubuhnya kembali ke depan.
"gini aja cukup? Kalo cukup, lu gak akan bilang ke gua, kalo lu udah lama gak teleponan sama dia, ca. Gak akan ngebiarin ponyo neleponin lu terus kayak gitu. Gak akan ngediemin teleponnya ponyo, ca. Tai kebo lu"
Youngmin mengkesah panjang. Lalu tanpa tedeng aling-aling, telapak tangannya ia adukan pada kening sujin. Membuat gadis gempal itu merangkai makian untuk youngmin.
"ndut! Lu gak tau rasanya move on sih. Itu, move on tuh, gampang banget pas diucapin. Tapi pas gua ngelakuin? Najis. Beratnya kebangetan. Anjing. Kayak lu ngangkat gajah tumpuk lima, tau gak lu"
Sujin terkikik melihat gusarnya sang sepupu.
"oh, jadi gitu. Lu gak ngangkat telepon dia ini, dalam masa move on nih ceritanya, ca?"
"iya. Lu sih, ndut. Pake acara diangkat! Ambyar dah, rencana move on gua. Pasti dia minta penjelasan nih ke gua!"
Sujin terbahak geli.
"lu sih gak urunan dulu sama gua. Kalo gitu kan bisa gua atur jadinya. Tapi kalo gitu, ca. Bagus kan? Lu bisa ketemu dia buat yang terakhir kali, sebelom lu bener-bener move on?"
Youngmin mendecih keras.
"tai ledig. Udah ah. Gua laper nih. Si bibi gak masak, kan? Beli jjajangmyeon depan komplek aja lah"
Sujin bertepuk tangan lantas terkekeh senang.
"gua ganti celana dulu bentaran"
"ya udah. Jangan lama-lama. Cacing gua udah pada demo nih"
Sujin memasang pose hormat pada youngmin tanpa banyak bicara, gadis itu berlari kecil menuju kamarnya dilantai atas rumah keluarga kim. Sepeninggalan gadis tunggal keluarga kim itu, youngmin mengukir sebuah senyum.
Memang ia belum lega sepenuhnya. Tapi paling tidak, ada satu bata yang terangkat dari dadanya, selepas ia bercerita pada si gempal kim itu dan dihibur dengan cara sujin.
..
..
"ikut gak, nyet?"
Youngmin menoleh sebentar pada taemin dan dongho yang berjalan disebelah kanannya.
"ikut apaan?"
"nobar di rumah gua"
Alis youngmin naik satu mendengar sahutan dongho.
"nobar apaan?"
"ada film bagus kata minki. Tapi gua lupa judulnya"
Youngmin kini menoleh.
"minki? Siapa aja yang dateng?"
"jonghyun, gua, minki, euigeon, sama si seungwoo. Ikut gak lu?"
Youngmin mendecih sebal setelahnya. Membuat taemin dan dongho langsung bertukar tatap bingung.
"lu sama pacar lu. Si dongho juga. Si euigeon sama seungwoo. Gua sama siapa, anjing? Lu pada mau bikin bokep berjamaah, terus gua kameramennya?"
Kedua lelaki itu lantas terbahak geli mendengar gerutuan youngmin.
"lah iya. Gak kepikiran gua luh. Tapi boleh juga kalo dicoba mah. Lu mah solo aja, jang. Dapet pahala bantuin orang laen. Ye gak, dong"
"yoi"
"bangsat"
Taemin dan dongho kembali melanjutkan tawa mereka dan seketika berhenti saat akan memasuki kelas mereka.
Karena disana, ada seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari dalam kelas mereka dan tengah melipat kedua tangannya di depan dada.
"jang"
"apaan?"
"itu—"
Youngmin yang sedang tidak memperhatikan jalanan akibat membenarkan kancing kemejanya, langsung mendongak.
"min"
Youngmin terdiam. Berhadapan dengan gadis bersurai coklat pekat ikal yang sudah lama menghilang dari radar penglihatannya.
Bukan hilang,
Hanya saja sengaja tidak youngmin inginkan untuk berada dalam ruang lingkup penglihatannya dulu.
Untuk mempermudah proses 'membiasakan diri untuk sendiri'
Putra tunggal keluarga im itu berdeham kecil lalu menyugar surai kelamnya.
"eh, sewoon"
Taemin dan dongho yang memperhatikan keduanya, hanya kompak untuk berdiam diri dengan alis yang sama-sama berkerut.
Sewoon menatap youngmin dengan lamat. Tak lama, wajahnya mendekat. Hidungnya mengendus ada bau tembakau dibakar yang menyelubungi kemeja putih youngmin walaupun bercampur dengan wangi parfum yang biasa youngmin pakai.
GREP
"ikut aku"
"woi! Jang!"
Youngmin bahkan belum sempat membalas saat sewoon mengamit lengannya dan mencengkram pergelangan tangan kanannya lantas membawa pergi menjauh dari depan kelas 3-2. Untunglah ia sempat berbalik untuk mengacungkan ibu jarinya pada kedua kawan kentalnya yang menatap khawatir. Memberi tanda kalau dirinya baik-baik saja.
Keduanya sudah sampai di selasar lantai 2.
Sewoon masih mencengkram kuat pergelangan tangan youngmin. Youngmin yang mendapat tatapan lurus dan tajam begitu, menaikkan alisnya.
"kenapa? Ngeliatin guanya gitu amat"
Sewoon terhenyak.
Apa tadi?
Gua?
Youngmin barusan bilang gua dan itu saat bicara dengan sewoon?
Sewoon mengerjap. Ia pun kembali mengendus tangan kanan youngmin yang masih ia cengkram kuat.
"min"
"apaan?"
Sewoon menghela nafasnya perlahan dan melepaskan cengkramannya pada tangan youngmin.
"aku udah pernah bilang kan?"
Alis youngmin berkerut bingung.
"bilang apaan?"
Sewoon bersidekap dengan kepala yang perlahan merendah sambil menghela nafas kembali.
"aku gak suka kamu ngerokok gitu, min"
Wajah youngmin tiba-tiba saja berubah menjadi datar. Ia pun tanpa sadar, ikut bersidekap.
"aku kan udah bilang. Aku gak suka, kalo kamu ngerokok. Apalagi umur kamu belom legal. Aku tuh gak suka perokok"
Sewoon menatap youngmin dengan matanya yang memerah saga. Ia berdeham kecil. Mengurangi rasa tercekat di tenggorokannya yang tiba-tiba terasa menyentak.
"kamu tau kan, kakek aku meninggal gara-gara rokok. Aku gak mau ada orang yang nyentuh rokok lagi. Apalagi kamu. Aku kan udah bilang"
Sewoon mempersempit jarak diantara mereka.
"aku tau, kamu sering ngerokok bareng sama taemin. Sama dongho juga. Kalo gini caranya. Aku mau, kamu jangan deket-deket sama mereka. Kalo kamu deket sama perokok, otomatis kamu ikutan ngerokok, min. Ngerokok tuh nular"
Sewoon memukul pelan dada youngmin sedikit kencang.
"terus juga. Kenapa kamu bilang, kamu gak bisa pas aku ajakin ke toko buku, waktu hari minggu? Pas aku telepon dan yang ngangkat sujin, dia bilang kamu tidur. Abis main futsal. Kamu bohong ke aku, min?"
Youngmin memalingkan wajahnya dengan senyum hambar.
"kamu kenapa sih, min? Aku ada salah apa sama kamu, sampe aku dijauhin begini sama kamu, hah? Kasih tau aku, kalo ternyata ada sikap aku yang kamu gak suka, tapi aku lakuin. Jangan diem gini, tapi malah ngejauh. Kamu tuh ngomong, kalo ada apa-apa. Jangan kayak gini!"
Pada akhirnya, benteng pertahanan sewoon hancur lebur. Airmata sewoon jatuh terhempas begitu saja. Tumpah ruah dengan isakan yang meyayat hati. Sewoon benar-benar tidak bisa menahan keluh kesah ini lebih lama lagi.
Youngmin menunduk dengan bibir yang ia kulum dengan erat.
Siapa bilang hatinya tidak sakit?
Hatinya sakit.
Seperti disayat oleh sembilu tak kasat mata yang tumpul dan secara perlahan.
Sewoon, gadis yang sudah menjungkir-balikkan dunianya, menangis sejadi-jadinya dihadapan youngmin.
Dan yang paling membuat youngmin pantas disebut sebagai bedebah dari neraka adalah,
Sewoon menangis karena dirinya.
Jung Sewoon menangis karena Im Youngmin.
Youngmin munafik, kalau ia tidak punya niatan untuk menenangkan sewoon, dengan membawa gadis itu masuk dalam rengkuhannya.
Ia ingin.
Sangat kalau boleh dibilang.
Tapi, apa daya?
Youngmin lebih memilih untuk diam dan memenangkan logikanya yang memusatkan seluruh otaknya untuk mempertahankan proses 'membiasakan diri untuk sendiri' ketimbang hati yang menyuruhnya untuk merengkuh sewoon, menenangkannya dan meminta maaf.
Jadi, tangan youngmin terkepal kuat. Menghalau seluruh keinginan untuk menarik sewoon kedalam pelukannya.
"sekarang, bilang sama aku. Kenapa kamu berubah kayak gini? Kenapa kamu ngejauhin aku kayak gini? Kenapa kamu gak mau nemenin aku kemana-mana lagi? Kenapa telepon aku terus-terusan didiemin? Kenapa, min? Kenapa?"
Youngmin mengigit bibir dalamnya sekuat mungkin. Seluruh kata yang ingin ia cuapkan sudah tersimpan seluruhnya pada ujung lidah. Hanya menunggu waktu untuk terurai saat youngmin membuka mulutnya.
Tapi, ia berdeham. Ia tahu, seluruh kata yang akan ia keluarkan ini, sama saja membuat dirinya seperti orang bodoh yang tidak sadar.
Jika orang yang ia cintai, tenyata tengah jatuh cinta pada orang lain.
"udah?"
Sewoon menatap youngmin dengan airmatanya yang menganak-sungai. Menatap dengan mata teduh yang menyorot youngmin bingung dan sedih.
Youngmin tersenyum kecil lalu mengusap lembut nan perlahan pipi tembam sewoon, menghapus jejak airmata yang tadi tumpah ruah dengan ibu jarinya.
"udah nangisnya, woon?"
"aku gak suka"
"gak suka apa?"
Sewoon menunduk dan maju selangkah lagi lantas menumpu keningnya pada dada youngmin. Youngmin hanya bisa melesakkan kuat bibirnya kembali, akibat terjadinya perang batin antara nurani dengan logika dalam dirinya, lagi.
"aku gak suka kamu panggil aku sewoon gitu, min. Kamu kan biasanya manggil aku ponyo"
Youngmin mengkesah pendek, lantas terkekeh pelan.
"nama lu kan sewoon. Ponyo mah buat lucu-lucuan. Gak enak gua manggil lu ponyo begitu. Kan kalo gua manggil lu ponyo di depan keluarga lu atau gak di depan jaehwan nanti. Bisa berabe urusannya"
Lalu terkekeh lagi. Seakan ia tengah melemparkan sebuah lelucon.
Sewoon menengadah kembali.
"kamu kok jadi ngomong lu-gua sama aku sih, min?"
Alis youngmin menukik ke atas. Sudut bibir kirinya pun serupa.
"kenapa? Kan gak ada larangannya juga, kalo sahabatan manggilnya gua-lu"
"tapi aku gak suka"
Youngmin tertawa hambar.
"ya terus? Kita kudu aku-kamu terus-terusan gitu, woon?"
Sewoon mengernyit saat mendapati nada youngmin yang terdengar sedikit jengkel.
"min. Kamu kenapa sih?"
Youngmin menggeleng.
"gak kenapa-napa"
"kalo enggak, kenapa kamu kayak gini sama aku? Ngejauh gitu? Kamu gak ngerasa emangnya, kalo kamu itu lagi jauhin aku? Gak sadar?"
Youngmin melempar senyuman ringan pada sewoon.
"gini aja, woon"
Youngmin menepuk-nepuk pucuk kepala sewoon dengan lembut masih dengan senyumnya.
"lu kan lagi deket sama jaehwan. Jujur, gua seneng lu juga deket sama wakil gua itu. Jaehwan orangnya baik, asli. Sama kayak lu"
Youngmin menjeda ucapannya dengan tarikan nafas yang samar.
"berhubung gua sahabat lu yang udah barengan terus 5 tahun ini nih, gua ikhlas lahir batin, jiwa raga, otak hati, logika nurani, lu deket sama jaehwan. Apalagi kalo sampe pacaran. Seenggaknya, ada satu lagi yang jagain lu selain gua. "
"min—"
Youngmin menyisir surai pekat sewoon dengan senyum lemah.
"karena, gua ngerasa akhir-akhir ini, sedikit susah kalo ngejagain lu sendirian. Jadi, mumpung ada si jaehwan nih. Ada yang bisa jagain lu, selain gua"
Youngmin terkekeh, berbanding terbalik dengan sewoon yang terdiam, menatap youngmin dengan sorot berjuta makna.
"sekarang, gua bakalan ngasihin tanggung jawab gua sepenuhnya sama jaehwan buat jagain lu. Dia yang bakalan gantiin gua, buat jagain lu mulai sekarang, woon"
"youngmin, aku—"
"udah, ya. Gua mau ke kamar mandi dulu. Kebelet nih. Abis ini pelajaran pak siwon soalnya. Kalo gua telat nanti disuruh lari muterin lapangan basket. Tau sendiri kan lapangan basket kita segede gaban"
Begitu saja, youngmin langsung berlari kecil meninggalkan sewoon yang masih bingung dengan seluruh ucapan yang youngmin bicarakan tadi padanya.
Tak pernah tahu, jika pemuda putra tunggal keluarga im itu tengah berusaha sekuat mungkin agar tidak berbalik. Menuju sewoon dan merengkuhnya kuat lalu meminta maaf atas seluruh sikap yang ia tunjukan belakangan ini. Sikap yang membuat sewoon merasa bahwa youngmin sudah menjauhinya. Yang malah nanti meluluh-lantakan tembok pertahanan yang sudah youngmin bangun setinggi dan sekokoh mungkin.
Karena youngmin sadar. Bahwa, ia tidak akan pernah bisa melewati dinding imajiner yang menghadangnya untuk melewati garis pertemanan, yang sudah terbina sejak dari lama, antara dirinya dengan sewoon. Youngmin tidak akan pernah bisa. Bahkan, setelah mencari jalan pintas sekecil apapun. Dinding yang terbangun, sangat tebal, sangat kokoh dan sangat kuat. Seakan mustahil untuk youngmin hancurkan. Bahkan, dengan alat berat sekalipun.
Dirinya dan sewoon hanyalah sebatas sahabat. Tidak lebih, tidak kurang.
.
.
.
END
Selesai, hehehe.
Maafkan jika akhir ceritanya malah jadi amburadul dan gak sesuai sama ekspektasi. Maafkan jika sikap berikut sifat mereka, saya buat jadi keluar dari karakter mereka yang sebenarnya hehehe. Apalagi dengan kata-kata kasar yang tertuang dalam percakapan. Tidak ada maksud begitu, karena ini hanyalah dunia imajinasi saya. Terimakasih untuk para pembaca yang sudah bersedia mengikuti cerita ini, sekaligus memberikan reviewnya. Terimakasih saya haturkan selalu untuk para pembaca yang memberikan feedback ataupun para silent reader.
.
Akhir kata,
Ini persembahan saya yang selanjutnya. Mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan maupun pemilihan katanya. Kritik dan saran diperlukan agar menjadi cerminan diri saya untuk kedepannya agar lebih baik.
.
Sampai bertemu di cerita imajinasi lainnya lagi~
.
.
.
Bye!
