Ketika seseorang membutuhkan tempat bersandar untuk mengeluarkan keluh kesal serta beban yang menumpuk—pemuda tinggi dengan wajah tampan yang diketahui bernama lengkap Kim Mingyu memilih sosok Lee Seokmin sebagai konsultannya.

Tetapi sepertinya ia sudah salah memilih. Memang benar, penyesalan itu selalu datang di akhir.

"Hubungi 14045!"

"Hyung, aku serius!"

"Kau kira aku tidak serius? Aku lapar!"

Mingyu menghela napas lelah. Sungguh, ekspetasi memang tak selamanya indah. Ada kalanya seseorang yang kau butuhkan malah bertingkah memalukan. Sungguh ironi dibalik ironi.

"Hey-o! Morning! Morning~"

"Berhentilah sok keren, Kwon Soonyoung. Kau tidak keren sama sekali."

Pemuda dengan sepasang mata sipit merengut saat sapaannya malah di nilai sok keren. "Aku tahu aku kece. Dan English-ku lebih bagus daripada kau, Dokyum."

Dokyum—nama samaran Lee Seokmin—yang merasa direndahkan akhirnya berancang-ancang untuk melempar dokumen pada kepala Soonyoung alias si songong Hoshi. Namun tertunda karena si empu pemilik dokumen tersebut sudah mengamankan salah satu berkas penting perusahaan itu. "Berani kau melempar dokumen ini, sudah ku gantung—"

"Rasanya di gantung itu sakit. Hati gundah gelisah karena menunggu kepastian. Apalagi ditambah dengan—"

"Bukan itu maksudku, bodoh! Dasar korban PHP." Oke, pernyataan tersebut sungguh nyelekit. Tapi benar 'sih, faktanya Kwon Soonyoung tengah di gantung oleh sang gebetan, si mungil nan sadis, Lee Jihoon.

"Sabar Soonyoung hyung. Berusaha mati-matian pasti akan berhasil menemukan jawabannya!" Mingyu dengan kata-kata—sok—bijaksana mencoba menghibur salah satu sahabatnya yang merupakan pihak donatur bagi perusahaannya.

Yang sialnya malah kecantol sama sekertarisnya, Jihoon, seorang pemuda imut tapi bohong. Luarnya 'sih lucu, aslinya kejam bak ibu tiri dari dongeng putri dengan sepatu kaca cuma sebelah.

"Jihoon itu suka orang yang kerja keras. Dan kau, harus tahan banting untuk mendapatkan hatinya." Si pemilik dokumen yang diketahui bernama Yoon Jeonghan, lelaki yang cantiknya keterlaluan mencoba memberikan nasihat pada Soonyoung.

Ditambah rambut panjangnya yang bikin iri para pegawai wanita. Mereka butuh pengeluaran untuk pergi ke salon dan sebagainya—sedangkan Jeonghan 'sih cuma rajin keramas aja. Tidak perlu ini-itu, rambutnya sudah awesome dari sananya.

"Kalian itu berniat untuk membantuku tidak 'sih?"

Nah, akhirnya si empu yang punya masalah berbicara. Setelah sekian lama para sahabatnya berdiskusi dengan topik yang sudah melenceng jauh. Mingyu sengaja mengajak mereka bertiga untuk berkumpul di ruangannya guna membantu mencari solusi terkait akan masalahnya.

Tapi mengapa keluar jalur? Kenapa jadi membahas sekertarisnya? Yang punya masalah itu Mingyu. Bukan Jihoon.

"Oh iya, hampir saja lupa. Jadi, bagaimana? Sudah dapat pencerahan?" Jeonghan bertanya. Kali ini ia serius.

Kasihan si direktur muda yang sudah kusut wajahnya sekaligus dua kantung mata mirip panda terlihat kentara sekali, kalau Kim Mingyu tengah mengalami yang namanya susah tidur.

"Belum hyung. Aku benar-benar tidak tahu," Mingyu mengeluh lagi.

"Sudah dengar tentang F-Driver?"

Serentak mereka yang ada disana menoleh ke arah Soonyoung. "Apaan tuh?"

Dan pertanyaan yang terlontar pun begitu serempak.

"Semacam jasa pengemudi. Antar jemput gitu—tapi yang membedakan adalah mereka yang akan mengantar, sekaligus mengemudi."

"Ibaratnya F-Driver itu supir, kita penumpang kelas VVIP-nya." Lanjut pemuda bermata sipit tersebut.

"Berasa jadi majikan sementara tuh," Seokmin nyeletuk. Namun pemikiran ini disetujui oleh yang lainnya.

"Wah, boleh dicoba. Mingyu?"

Untuk kedua kalinya mereka serentak menoleh ke arah yang sama. Pada Mingyu.

"Err—mungkin lain kali. Terimakasih atas sarannya, Soonyoung hyung!"

Soonyoung mengibas-ngibaskan kedua tangannya tak masalah.

"Sama-sama, sobatku. Asalkan kau tidak melupakan janjimu!"

Mingyu memutar kedua bola matanya bosan. Dasar Hoshi yang satu ini, "Ya, ya. Nanti aku salamin ke Jihoon hyung."

Soonyoung mengacungkan ibu jarinya.

"Hei, aku lapar." Dan Dokyum yang satu ini tak pernah lepas dari yang namanya; "I wanna eat chicken! Chicken!"

"Kau berisik, dasar penggila ayam." Lalu sang lelaki cantik, Junghan, tak pernah ingin diganggu dan cinta ketenangan.

Bukankah teman-teman satu bisnis Kim Mingyu itu unik?

Ya, sangat.


Main Character(s) : Jeon Wonwoo & Kim Mingyu

Character(s): Seventeen member.

Genre(s) : Humor(fail), Romance(fail), Drama.

Disclaimer : Semua cast yang ada disini milik mereka masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja, untuk kelangsungan cerita.

Warning(s) : OOC, Typo(s), Yaoi.


"Jeon!"

"Berhenti memanggilku begitu, cabai."

"Hah? Itu makanan?"

Yang semula dipanggil Jeon memutar bola matanya malas. Capek hati memang kalau sudah berhadapan dengan makhluk hidup yang satu ini.

"Ayo keluar! Kita jajan ke café biasa!"

Ditambah perutnya yang tak pernah kosong karena selalu diisi makanan. Sebenarnya itu bukan masalah si Jeon. Namun terkurasnya uang bulanan karena jajanan seseorang yang ia sebut cabai. Itulah masalahnya. Garis bawahi kalimat tadi.

"Ini baru masuk awal bulan, dan kau mau merampok uang jajanku? Pakai duitmu sana!"

"Tapi 'kan eomma memberikan uang bulanan untuk—"

"Oke. Ini, ambil kembaliannya dan pergi dari hadapanku. Sekarang."

Sebuah teriakan histeris berkumandang dan tak disangka kecupan singkat mapir pada pipi sebelah kanan seorang Jeon Wonwoo.

"Kau terbaik Jeon-hyung! Aku pergi dulu dan jangan rindu padaku, ya. Mumumumu~"

Wonwoo merasa bulu kuduk merinding seketika. Eksistensi sesosok makhluk berisik kini meninggalkan ruangan. Pada akhirnya, Boo Seungkwan pamit dari kehidupan tenang Wonwoo.

Setidaknya untuk saat ini.

Baru saja ia kembali untuk mengerjakan kegiatannya yang sempat tertunda—suara bel pintu depan mengusik keheningan apartemen mereka. Ya, ini apartemen Wonwoo—juga si makhluk berisik, Seungkwan. Yang sialnya adalah sepupu jauhnya dari Jeju.

Dan mereka hidup berdua di Seoul sekarang.

Tambahan; beban hidup Jeon Wonwoo bertambah satu.

Kehidupan ini memang sulit untuk dijalani, kawan. Tidak semudah ketika seseorang yang dengan santainya masuk ke dalam apartemen—eh, tunggu sebentar.

"Kenapa lama sekali, Wonwoo-ya? Aku punya informasi penting, tahu!"

Bolehkah Wonwoo melemper kemoceng yang ada pada genggamannya kepada orang di depannya? Bisa dibilang, mantan tukang begal.

Hebat sekali dapat masuk ke dalam apartemennya dengan wajah tanpa dosa.

Padahal Wonwoo yakin tampang orang itu penuh dengan kesalahan duniawi. Walaupun wajahnya memang berkedok malaikat gentleman.

"Ada apa Jisoo-hyung?"

Jisoo, atau orang-orang sering menyapanya dengan nama kekinian miliknya; Joshua—memberkan cengiran tampan.

Efek berlebih terjadi pada para gadis dan tante-tante diluar sana kalau mereka melihat senyuman angel Jisoo—tapi, ini tak berpengaruh pada si muka emo Jeon Wonwoo.

Lihat saja, ekspresi datarnya masih terpasang apik di wajah seorang Wonwoo.

"Ada lowongan pekerjaan, aku dapat dari koran hari ini. Mau coba ikut?"

"Bidang?"

"Aku yakin kau ikut. Dan pasti kau mau mengambilnya. Ingat kata-kataku."


Jihoon masih sibuk berkutat dengan buku-buku tebal di atas meja kerjanya. Sebuah kacamata bertengger manis di belah hidung mungilnya. Baju yang dipakainya pagi ini terlihat kasual.

Terkesan santai dan uhk—seseorang disana memaksa untuk mengatakan bahwa Jihoon begitu lucu.

Dan mungil.

Unyelable. Juga pelukable.

"Psst—psst, Mingyu-ya, kau janji akan mengatakannya, 'kan?"

Lelaki jangkung yang kini terlihat pendek—karena dipaksa berjongkok dan merunduk—ingin sekali melempar buku ensiklopedia tebal yang ada di atas meja.

Saat ini Mingyu serta salah satu manusia sipit tengah bersembunyi di bawah sebuah meja pegawai—tepat bersebrangan dengan meja kerja Jihoon.

Bertanya mengapa seorang direktur bertingkah tak berwibawa seperti saat ini? Jawabannya hanya satu.

"Hyung! Kau membuatku mmff—"

Belum sempat Mingyu, si direktur muda menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan dengan lancangnya menutup mulutnya semena-mena.

"Ssssst! Nanti kalau dia dengar, bagaimana? Kau ini diam saja kenapa 'sih?"

Hancur sudah martabat seorang direktur bermatabat nan bijaksana. Mau ditaruh dimana wajah tampannya kalau tiba-tiba saja salah seorang pegawainya melihat dirinya tengah bermain petak umpet begini?

Sepertinya manusia sipit disampingnya ingin dimasukkan ke dalam Museum secepatnya.

Jihoon menghentikan bacaannya—kemudian menurunkan buku yang tadinya sejajar dengan wajahnya. Membuat wajah polos tanpa dosa tersebut terlihat.

Pria mungil ini seperti merasakan sesuatu yang tidak beres. Mata segarisnya menelusuri ruangan dengan teliti.

Seperti ada yang memperhatikannya secara diam-diam. Begitu menghanyutkan.

Dan pria sipit lainnya—Kwon Soonyoung ingin sekali berteriak ala fanboy dan menghambur kepada pria mungil yang tengah ia perhatikan saat ini.

Membawanya ke pelukan hangat seorang Hoshi yang berkarisma tinggi.

Melihat tak ada yang aneh, Jihoon kembali asik dengan kekasihnya—buku.

Soonyoung menyadari bahwa masih ada makhluk hidup disampingnya. Segera ia melepaskan bekapan mulutnya dan melihat keadaan Mingyu.

Sepertinya ini saat yang tepat untuk menyampaikan kata-kata terakhir.

"Aku belum mati!" Serunya lantang. "Hyung, ini sudah masuk jam kerja. Kembali ke habitatmu sana."

"Ish, baiklah tuan direktur. Ingat, janjimu! Aku kembali ke tempatku. Bye bye~" Soonyoung melambaikan tangan seraya keluar dari tempat persembunyian secara mengendap-ngendap.

Takut ketahuan oleh seseorang kalau ternyata ia sedang berduaan dengan direktur perusahaan ini—kalau ada gossip mengenai hal ini, Soonyoung tidak tahu harus bagaimana dengan Jihoon nantinya.

Ia tidak peduli dengan Kim Mingyu—kalau seandainya berita panas menyebar mengenai mereka berdua.

Soonyoung hanya khawatir tentang Jihoon-nya.

Sungguh jahat kau teman seperjuangan, Kwon Soonyoung.

Mingyu beranjak darisana lalu merentangkan tangan sambil bernapas lega. Akhirnya ia bisa bebas.

"Mingyu? Kau sedang apa disana?"

Jihoon menginterupsi kegiatannya—mengambil udara segar—lalu ia memberikan cengiran. "Ah, hanya mengecek laporan, hyung. Lanjutkan saja kegiatanmu."

Sebelah tangannya—sok—sibuk membuka lembaran dokumen yang ada di atas meja kerja.

Jihoon mengendikkan bahu lalu kembali berduaan dengan sang terkasih.

Mingyu menghembuskan napas karena berhasil mengelabui sang asisten—dan tersadar bahwa seorang gadis tengah melongo menatapnya.

Oh, pasti ini karena keberadaannya.

"Ini meja kerjamu?"

Gadis tersebut—yaitu salah satu pegawai di perusahaannya, sekaligus pemilik sah meja yang baru saja dijadikan tempat persembunyian mengangguk kaku.

Entah kenapa lidahnya merasa kelu untuk membalas pertanyaan direkturnya.

"Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Mingyu seraya tersenyum dengan tampannya.

Bentuk formalitas, ceritanya.

Kemudian ia pergi menuju ruangannya sendiri. Ruangan direktur. Ruangan pribadainya, iya.

Dan pegawai waita tadi mengalami shock mendadak.

Ini waktu pertamanya bertemu sang direktur. Waspada, Kim Mingyu begitu menyeramkan.

Dapat memberantas hatimu dalam sekejap untuk mengingat seluruh bagian darinya.

Kim Mingyu terlalu berbisa. Racun akan pesonanya pasti telah menjalar ke seluruh saraf otak si wanita.

Berjuanglah agar kau tidak pingsan, wahai pegawai wanita tak berdosa.


"Untuk permulaan, kau harus mengikuti serangkaian test fisik dan skill, Wonwoo-ssi."

Pemuda dengan iris tajam nan mempesona menatap Jisoo yang berada di belakangnya. Kepalanya mengangguk—tanda bila Jisoo mendukungnya untuk menerima permintaan tersebut.

"Baiklah."

"Silahkan isi biodata ini dan kembali pada jam yang telah ditentukan." Staff wanita itu memberika sebuah amplop coklat pada Wonwoo. Isinya formulir. Persis seperti apa yang baru saja dikatakannya tadi.

"Dan, jangan lupa membawa kartu identitas, Wonwoo-ssi."

Wonwoo mengerti. Lantas ia mengangguk tanda ia mendengarkan dengan baik.

"Persiapkan dirimu. Dan selamat mengikuti test-nya nanti malam." Staff tersebut bangkit dan membungkuk kecil.

Dibalas dengan hal yang sama oleh Wonwoo beserta Jisoo yang setia berdiri menemaninya di belakang.

Langkah pertama sudah selesai.

"Aku bilang apa, pasti kau menerima job ini."

"Belum tentu."

Wonwoo melihat tanda sampel yang berada di pojok kanan bawah amplop tersebut.

Choi Corperation.

Rasanya ia cukup familiar dengan nama perusahaan ini.

"Tergantung bagaimana fasilitasnya nanti, hyung."

Jisoo menggeleng maklum. Tetangganya yang satu ini benar-benar berbeda.

"Tidak berubah. Seorang perfeksionis dalam segala hal. Terutama soal pekerjaan."

Wonwoo menghela napas. Ya, Jisoo cukup tahu banyak tentangnya.

Sekitar dua bulan ia dan Jisoo menjadi tetangga, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sebagai tetangga merangkap sahabat—Jisoo mengerti akan seorang Jeon Wonwoo pada umumnya.

Apalagi sepupunya. Jisoo sudah kenal sekali dengan lelaki bermarga Boo itu.

Karena satu alasan, Seungkwan sering berkunjung ke kamarnya—tepat di sebelah kamar apartemen milik Wonwoo—untuk bermain atau hanya sekedar cari makanan.

Jisoo 'sih tidak merasa direpotkan toh dirinya juga tinggal sendiri. Stok makanan juga awet. Ditambah keberadaan Seungkwan sering menjadi moodboster tersendiri.

Sudah dianggap sebagai adik sendiri; kalimat inilah yang membuat Seungkwan jadi tak segan-segan merusuh ke kamar Jisoo.

Namun Wonwoo merasa malu. Sangat. Tolong pakaikan bold pada kata malu tadi.

Tetapi Jisoo sungguh tidak merasa terganggu. Jadi niat untuk melemparkan Seungkwan kembali ke Jeju dengan alasan merusuh ke apartemen tetangga sudah tidak berlaku.

Sebab ya itu tadi, Jisoo malah membela sepupunya dan membuat niat jahat Wonwoo tak terpenuhi.

"Ada jadwal malam ini?"

"Untungnya sedang kosong. Jadi aku bisa mempersiapkan diri untuk test."

"Baguslah, semangat Wonwoo-ya. Aku dengar cukup banyak peminatnya, jadi kau harus berjuang keras agar berhasil."

Wonwoo tersenyum simpul, "Tentu saja hyung. Aku tidak pernah mengecewakanmu, bukan?"

"Ya, ya, ya. Terserahmu Jeon."

"Berhentilah memanggilku begitu. Kau jadi mirip si cabai dari Jeju."

Dan kalimat tersebut sukses membuat Jisoo tertawa selama perjalanan pulang mereka.

Love-Hated relationship.

Mungkin begitulah wujud hubungan Jeon Wonwoo dengan Boo Seungkwan.


To Be Continued.


Note: Diluar ekspetasi. Updatenya lama banget ini dan ya, dengan word yang sedikit.

Note (2): Kay lagi mau menjelang pensi dan begitu sibuk sampai lupa buat publish fic ini. Huhuhu.

Note(3): SEVENTEEN menang kemarin yuhuuu~ AYO tetap dukung mereka!

Note(4): Kay ga mau janji bakal update cepet, deh. Takutnya malah lupa. Ingetin aja ya readers-nim! Diusahakan update yang terbaik kok!

[]

Mohon review-nya lagi yaa!

Terimakasih banyak untuk para reviewers yang sudah merespon fic ini denganpositif, hehehe. Seneng deh!

Kapan-kapan Kay bales review-an kalian, okidoki? Sampai ketemu di chapter berikutnya!

Salam hangat,

Kay