Gemerlap cahaya bulan di malam hari membuat seorang pria berbalutkan piyama bermotif pancake dengan gradasi garis-garis hitam secara menyeluruh—membuka kedua kelopak matanya yang sempat tertutup.
Kedip-kedip, mencoba memfokuskan arah pandangnya. Dan barulah ia sadar, tepat berada dimana dirinya sekarang.
"Wonwoo hyung! Kau menyeretku lagi?!" Aksi protes tersebut begitu terdengar sampai ruangan kamar disampingnya.
"Berisik. Kau bisa membangunkan tetangga, bodoh." Suara yang lebih datar dan berat menimpali. Setelah itu kembali bergelung di atas selimut yang hangat.
Merasa diabaikan, dikucilkan, disisihkan, dan teraniaya—pemuda yang sebelumnya berteriak, tanpa perasaan menarik selimut yang tadinya membalut tubuh kurus seseorang yang dipanggilnya Wonwoo-hyung.
Berhasil mendapatkannya, akhirnya pemuda bernama lengkap Boo Seungkwan tersebut menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut curiannya itu dan mencoba untuk menyelami mimpi indahnya kembali.
Merasa dinginnya Air Conditioner menyeruak langsung ke arah kulitnya yang begitu sensitive, Wonwoo terpaksa kembali membuka paksa sepasang matanya yang tadinya terpejam—hendak memimpikan seorang pangeran berkuda putih tengah menjemputnya di jalan raya.
Oke, abaikan mimpi aneh tersebut.
Realitanya, selimut yang tadinya setia bersamanya—kini dengan cepat selingkuh pada pelukan orang lain.
Yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Dan yang lebih mirisnya adalah, Boo Seungkwan.
Lebih—dan lebih ironisnya, Seungkwan kalau tidur suka ngiler.
Selimut yang malang.
Niat hati ingin melempar guling pada gulungan sushi berisi di bawahnya—Seungkwan berbungkus selimut—namun tertunda karena suara alarm yang berasal dari ponselnya.
Ah, benar juga. Malam ini ada test.
Dengan berat hati Wonwoo bangkit dari ranjangnya dan dengan sengaja menginjak gulungan sushi disana.
Membuat sushi tersebut mengerang protes dan berakhir berguling-guling tidak jelas. Sushi yang aneh, ya.
Pemuda bertubuh kurus tersebut segera berbenah pakaian—yang sekiranya pantas untuk dipakainya nanti. Tidak perlu yang formal, bukan?
Cukup pakaian santai saja.
"Hyung? Mau kemana?"
"Kepo. Sana tidur."
"HIH." Seungkwan protes yang ketiga kalinya. Anak itu tak pernah berhenti untuk melayangkan aksi protes malam-malam.
"Aku serius. Jam sepuluh dengan pakaian seperti itu—kau akan pergi ke Club malam?"
DUAK.
Sebuah sepatu mendarat mulus pada wajah dengan kedua pipi berisi itu. "Jangan sembarangan. Aku ini pria sejati."
Seungkwan memutar bola matanya jengah. Apa hubungannya pria sejati dengan pergi ke Club? Tapi ia cukup penasaran juga dengan tujuan seorang Jeon Wonwoo malam ini.
Oh! Ia baru ingat sesuatu.
"Pasti mau main ya hyung?"
"Bukan. Aku mau test." Wonwoo menjawab seraya memakai jaket pada tubuh bagian atasnya.
Berpikir keras kemudian berteriak heboh, "Kau hamil Jeon hyung?!"
DUAK.
Pasangan sepatu sebelahnya kembali terlempar dengan target bidikan ke arah Boo Seungkwan.
"Berhenti membuatku ingin melemparmu lagi, cabai." Wonwoo merasa tangannya gatal ingin melempar sesuatu pada sepupunya yang gila itu.
Bukan gila pribadinya.
Tapi gila kelakuannya.
"Habisnya ngomong tuh yang lengkap, hyung. Biar ga salah sambung." Seungkwan tak menerima wajahnya sudah dua kali dijadikan center untuk lemparan kuat Wonwoo yang walaupun tubuhnya kurus—tapi tetap saja dia itu lelaki, kawan.
Lelaki punya energi. Jreeeng.
"Test kerja. Puas? Sekarang ambilkan sepatuku karena aku hampir terlambat."
Main Character(s) : Kim Mingyu& Jeon Wonwoo
+ Kwon Soonyoung & Lee Jihoon.
Character(s): the rest of Seventeen member.
Genre(s) : Humor(fail), Romance(fail), Drama(maybe).
Disclaimer : Semua cast yang ada disini milik mereka masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja, untuk kelangsungan cerita.
Warning(s) : AU, OOC, Typo(s), Yaoi, non-EYD.
Malam berganti pagi.
Dan di pagi hari pekerja kantoran kembali melakukan rutinitas sehari-harinya. Termasuk Kim Mingyu. Di hari libur pun kadang dirinya tetap masuk dan mengisi meja direktur di lantai atas.
Sesuai motto hidupnya; Tidak pernah menunda, yang bisa dikerjakan harus dikerjakan saat itu juga.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, pemuda jangkung tersebut menelungkupkan seluruh wajahnya pada tumpukan kedua lengan panjangnya yang kini bertumpu di atas meja kerja.
Bukan lagi suara pena yang bising guna menorehkan sebuah tanda tangan pada lembaran dokumen—tetapi beberapa hari terakhir yang akan kalian dengar adalah suara kebo sang direktur.
Tepat, Kim Mingyu sibuk untuk tidur.
Bukan untuk mengecek laporan dan sebagainya.
Kebiasaan Mingyu akhir-akhir ini pergi ke kantor adalah tidur selagi ada waktu senggang. Loh, mungkin itu motto barunya? Siapa tahu.
Tak lama sebuah ketukan halus dari arah pintu terdengar. Biasanya mendengar alarm seperti itu—dia sendiri yang menyebutnya begitu—Kim Mingyu pasti langsung terbangun dan berakhir terantuk meja kerja sendiri.
Tak lupa ia bergegas merapihkan penampilannya—coret untuk wajah, karena walaupun dalam keadaan bangun tidur, Kim Mingyu tidak pernah kehilangan pesonanya.
Tetapi kali ini berbeda.
Ketukan pintu semakin terdengar tak sabar dari luar sana dengan volume suara lebih keras. Tetap saja Kim Mingyu masih betah dengan posisi seperti yang sudah disebutkan di atas.
Di sisi lain, seorang lelaki mungil nan sipit lengkap dengan seorang bodyguard sipitnya—ah tidak tidak, tubuhnya terlalu kurus untuk dijuluki sebagai bodyguard.
Dan harap abaikan teriakan protes dari pemuda kurus tersebut, kawan.
"Apa yang sedang dilakukannya 'sih?" Sebelah tangan si pria mungil gemas untuk terus melakukan tindak kekerasan pada pintu kayu yang tak berdosa didepannya.
Serius, bisa-bisa kadar darahnya naik lagi kalau begini terus.
"Mungkin dia lelah,"
Pemuda bertubuh mungil langsung connect, "JADI DIA TIDUR?!"
Lelaki yang tak kalah sipit menahan napas. Sial, aku salah bicara. Pikirnya.
"Ne, ne, Jihoon-ie, mungkin kita bisa kembali lagi nanti—"
"Kau mau mengatakan agar aku membiarkan seorang direktur tidur? Dan apa-apaan panggilan tadi? Menggelikan." Pemuda mungil yang dipanggil Jihoon itu berbalik badan seraya melayangkan tatapan sipit-no-jutsu yang mematikan.
Dan pemuda bermata kecil lainnya, Soonyoung, sudah biasa menghadapi perlakuan kurang ajar seperti tadi. Well, bagaimana pun juga, Soonyoung mempunyai jabatan yang lebih tinggi.
Sebelas dua belas sama Mingyu, sebenarnya.
Sedangkan Jihoon hanyalah seorang sekertaris yang mengabdi pada sosok direktur tiang dengan sifat kekanak-kanakan.
Seperti saat ini, contohnya.
Yah, walaupun kalau sedang dalam mode serius—Jihoon akui kalau darah pemimpin mengalir dalam tubuh tinggi Kim Mingyu.
Tapi tetap saja, Jihoon yang merupakan sekertaris pribadinya lebih tahu soal direkturnya itu. Dan satu kesimpulan yang bisa diambil; Kim Mingyu dewasa nan bermartabat tinggi dengan Kim Mingyu yang masih labil—menghasilkan perbandingan sekitar 35:65.
Begitulah hasil hitungan Lee Jihoon yang katanya akurat itu.
Kembali pada masalah awal, pasalnya Kwon Soonyoung yang terkenal akan tempramennya yang kadang labil juga, tidak mempermasalahkan kelakuan pemuda mungil yang tengah menatapnya begitu dalam—ini menurutnya.
Sedangkan Jihoon mengartikan tatapannya itu sebagai tatapan; mati-saja-sana.
Pribahasa yang mengatakan bahwa seseorang bisa dibutakan oleh cinta—ternyata berpengaruh pada seorang Kwon Soonyoung yang saat ini salah dalam mengartikan tatapan pemuda mungil bermulut pedas tersebut.
Ia menerjemahkan tatapan Jihoon padanya seperti; aku-mengerti-dan-ayo-kita-sarapan-sayang.
Sungguh kekuatan cinta yang mengagumkan.
"Soonyoung-ssi? Hei! Jangan melamun di depan ruang direktur!"
Seketika Soonyoung tersadar dari khayalan tingkat tingginya.
Mengalihkan pandangannya kemudian menarik sebelah lengan si pemuda mungil lalu menariknya begitu saja. Pergi meninggalkan ruangan direktur yang sangat sunyi seperti tak berpenghuni.
Padahal penghuninya tengah tidur dengan damai. Bukan mati loh, ya.
"Ya! Berani-beraninya kau menarik—"
"Berhentilah marah-marah. Kau jadi semakin imut, tahu."
"Ha? Lancang sekali kau—"
"Kita sarapan, oke. Lagipula ini masih pagi dan biarkan atasanmu beristirahat sejenak." Tak lupa kedipan mata maut milik Kwon Soonyoung ia lemparkan pada si pemuda yang lebih kecil darinya.
Jihoon memutar bola matanya jengah melihat adegan tersebut. "Dasar playboy," Celetuknya.
"Wah, kau tahu tentang diriku? Aku tersanjung sekali!" Soonyoung senyum-senyum ga jelas.
"Ternyata gossip para karyawati itu benar. Kau playboy kelas ikan tuna."
"Yah, terkecuali untuk dirimu. Aku akan menjadi pria setia kalau denganmu."
Di luar ekspetasi, Jihoon malah membalas, "Apa itu kata-kata mutiara untuk menggaet target incaranmu? Hah, ternyata kau sangat berpengalaman sekali."
Nah, Soonyoung, seperti apa yang dikatakan Jeonghan hari itu, Jihoon itu orangnya memang sulit didapatkan. Dan tipe-tipe seperti inilah, yang membuat seorang Kwon Soonyoung naksir berat dengan pemuda imut nan sadis itu.
Apakah Soonyoung termasuk tipe masokis? Entahlah. Biarkan dirinya untuk terus berjuang mendapatkan hati si sekertaris mungil.
Sepasang mata tajam tengah sibuk menjelajah pada sebuah mading besar yang terpajang di dinding lobby utama.
Mencari sesuai dengan urutan abjad dan—great!
Tercatat nomor 45290 atas nama Jeon Wonwoo disana.
"Wow, dengan hasil A+, hebat sekali yang bernama Jeon Wonwoo." Gumam seseorang yang tepat berada disebelah lelaki bermata tajam tadi.
"Terimakasih."
"Yeah, anytime—eh?" Menyadari adanya hal ganjil, segera saja pemuda dengan balutan seragam sekolah menengah atas menoleh ke arah sumber suara yang baru saja membalas gumaman kecilnya.
"W-wait, kau Jeon Wonwoo?"
Si lelaki beriris tajam dengan hoodie hitam di kepalanya itu mengangguk. "Ya, dan kau?"
Remaja berseragam yang sekilas melihat penampilan orang yang sempat dikiranya Jeon Wonwoo—dan ternyata dugaannya benar—tersenyum kikuk seraya menjawab, "Choi Hansol. But, you can call me Vernon, Wonwoo hyung?"
Pemuda yang diketahui bernama Jeon Wonwoo tersebut mengangguk. "Kau pasti lebih muda." Balasnya tanda ia menyetujui panggilan si remaja yang bernama Vernon itu.
Terlihat sekali bahwa ia bukan orang asli Korea. "Kau ikut test juga?" Sebenarnya Wonwoo tidak yakin dengan pertanyaannya itu. Untuk apa seorang anak sekolahan mengikuti test seperti yang dilakukannya?
Lagipula pasti minimal usia yang ditetapkan tidaklah sampai pada remaja setengah western tersebut.
"Nope. Aku hanya tidak sengaja lewat dan well, itu sebabnya aku berada disini." Vernon melihat jam yang berada pada pergelangan tangan kirinya dan ia berdecak kesal. Sudah hampir jam delapan, rupanya.
"Hyung, aku harus pergi. Kalau tidak berangkat sekarang mungkin aku akan telat. See you again!"
Wonwoo hanya mengangguk sebagai respon. Lagipula ingin membalas pun si bocah bule itu sudah berlari kencang guna melenggang pergi dari gedung besar ini.
Dirinya tak habis pikir, mengapa bocah remaja seperti Vernon bisa tersesat sampai ke sini? Padahal ia yakin tujuannya pastilah pergi ke Sekolah.
Wonwoo mengendikkan bahu tanda ia tak mau ambil pusing. Kemudian pemuda tinggi yang cukup kurus itu berjalan ke arah salah satu staff disana.
Menyadari seseorang yang datang, staff dengan name tag Joshua Hong tersebut mengalihkan perhatiannya dari layar komputer dan berujar, "Ada yang bisa saya bantu?"
Wonwoo tidak langsung menjawab. Namun ia malah mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Sebuah amplop dengan tanda sampel yang sama seperti yang diterimanya kemarin. Kemudian memberikannya pada staff tersebut.
"Ah, yang lolos seleksi rupanya. Mari, saya antar menuju ruangan anda."
"Ya, dan berhentilah bersikap formal seperti itu, Jisoo hyung. Kedengarannya sangat aneh bagiku,"
Staff yang bernama Joshua itu tertawa setelah mendengar perkataannya. Lalu ia tersenyum dengan gentleman seperti biasa lantas berbisik pelan, "Aku sedang bekerja. Jadi, mohon kerjasamanya, Wonwoo-ssi."
Wonwoo mendengus kasar seraya melihat pemuda yang sangat ia kenal dihadapannya. Ya tentu saja, staff dengan label nama Joshua Hong itu adalah tetangganya.
Dan memang, Wonwoo lebih sering memanggilnya Jisoo-hyung ketimbang nama bekennya saat ini, Joshua.
Joshua—atau sekarang kita panggil Jisoo seperti biasa, tersenyum jahil seraya memandu pemuda bernama Jeon Wonwoo yang merupakan penghuni kamar sebelah apartemennya menuju ruangan yang sudah dipersiapkan bagi para calon pekerja yang berhasil lolos dalam test kemarin malam.
"Bagaimana perasaan anda ketika tahu bahwa anda berhasil dan dapat bekerja disini?"
"Biasa saja. Dan, haruskah aku terbiasa dengan pembicaraan seperti ini?" Sungguh, Wonwoo terlalu kaku untuk masalah seperti ini. Apalagi terkait dengan yang namanya formal-formalan.
Jeon Wonwoo tidak terbiasa. Lalu backsong pun berganti dengan lagu Aku Tak Biasa milik Syahrini.
Oke, abaikan kalimat terakhir.
"Tentu saja Wonwoo-ssi. Anda harus terbiasa karena pekerjaan yang menanti anda pasti berkaitan dengan pembicaraan formal semacam ini."
Jisoo masih setia mempertahankan senyum jahilnya. Tentu saja ia tahu bahwa tetangga—merangkap sahabatnya itu kurang suka terhadap hal-hal seperti ini.
Anggaplah Jisoo memang seorang lelaki yang dapat beradaptasi dengan baik. Ditambah pengalaman serta kepandaiannya dalam berbicara, membuatnya cocok sekali dengan pekerjaannya saat ini.
Sedangkan Wonwoo menyebut hal-hal seperti itu—terlalu kaku, katanya.
Jeon Wonwoo tipikal orang yang irit bicara dan yah, suka-suka dia. Sulit membaca pikirannya karena ia termasuk orang yang to the point dan tidak suka berbasa-basi.
Berbanding terbalik dengan Jisoo, bukan?
Wonwoo berpikir mungkin ia telah mendaftar pada jenis pekerjaan yang salah.
"Apa aku akan sama jenisnya denganmu seperti sekarang, hyung?"
Jisoo yang mengerti makna dibalik pertanyaan tersebut menjawab cepat, "Hm, tidak. Sepertinya sangat berbeda dengan bagian saya."
Dan perlukah Wonwoo bernapas lega sekarang? Karena hal-hal formal seperti itu tidak akan berlaku padanya. Ya, dirinya tidak perlu berbicara santun dan bertingkah sopan layaknya Jisoo saat ini.
Bersamaan dengan perbincangan formal—semi formal mungkin—karena Wonwoo masih tetap berbicara seperti biasanya, tanpa embel-embel anda dan saya, seorang lelaki jangkung berjalan dari arah yang berlawanan.
Setelan kemeja berbalut jas yang hitam beserta sebuah i-phone yang menempel di salah satu telinganya—membuat perhatian Wonwoo teralihkan sejenak.
Sepasang manik kembarnya melirik ke arah pemuda yang kira-kira lebih tinggi darinya sekaligus lebih rapih. Maksud rapih disini adalah penampilannya, oke.
Kalau tampan 'sih, Wonwoo masih mengakui bahwa dirinya lebih tampan daripada pemuda jangkung tersebut.
Sebutlah dirinya narsis, tapi Wonwoo agak segan untuk mengatakan bahwa pria itu juga tampan.
Pada saat yang sama pula, si pemuda jangkung yang masih sibuk berbicara melalui sarana komunikasi canggih seperti i-phone miliknya itu juga sempat menilik pria yang cukup tinggi—tidak setinggi dirinya—dengan balutan jaket berhoodie hitam.
Oh, apakah ini akan berakhir seperti pada adegan drama romantis di televisi? Sepertinya tidak.
Karena setelah si pemuda jangkung melihat secara keseluruhan—salahkan objek yang tengah dilihatnya mampu menarik perhatiannya saat ini—segera tersadar kembali. Suara berat yang berasal dari ponselnya langsung menyita perhatiannya kembali yang sempat teralihkan.
Sama dengan si pemuda bermarga Jeon, berkat panggilan Jisoo ia tersadar dari acara tatap-menatap tadi dan segera membalas pertanyaan Jisoo sebelumnya.
Pertemuan yang cukup singkat namun sangat membekas pada memori otak mereka.
"Iya, aku sedang menuju ke ruanganmu. Annyeong hyung,"
Panggilan pun terputus.
Kim Mingyu menghela napas lalu menyimpan ponsel miliknya pada saku celana berbahan kain yang membalut kedua kaki panjangnya.
Pikirannya melayang pada momen dimana dirinya tak sengaja bertemu pandang dengan seorang pria di lobby tadi.
Mingyu sempat merasakan perasaan aneh karena dua buah mata tajam yang kian menariknya jauh ke dalam—menatapnya jelas. Namun pertemuan tadi sangatlah singkat. Ia juga tidak mengerti mengapa dirinya bisa begitu jatuh dalam pesona sepasang mata hitam kelam itu.
Err—tunggu, kenapa juga ia harus memikirkan semua itu? Sadarlah Kim Mingyu. Dia hanyalah orang asing.
Dan alasannya pergi ke tempat ini pun bukan untuk bertemu pandang dengan lelaki itu—yang entah siapa namanya Mingyu tidak tahu. Lagipula ia juga tidak mengenalnya.
Mengingat tujuan utamanya, Mingyu bergegas untuk sampai ke sana. Melupakan sejenak kejadian tak terduga beberapa menit yang lalu.
Melihat sebuah pintu kaca di depan sana, lantas membuat langkah kaki Mingyu kian melebar.
Setengah berlari dan pada akhirnya membuka pinta tanpa permisi sembari mengambil napas dalam-dalam.
Seseorang yang berada di dalam ruangan mendongak mendengar suara tak bersahabat yang berasal dari pintu kantornya.
"Mingyu? Habis lari sprint?" Pria yang tengah duduk santai pada singgasanannya mendelik heran pada lelaki tinggi di depan pintu—yang masih ngos-ngosan.
Mingyu menghiraukan pertanyaan konyol tersebut lalu segera masuk dan mengambil alih kursi kosong di depan pria itu.
"Hyung, sepertinya jantungku berdetak terlalu keras,"
Pria yang dipanggil hyung membulatkan kedua matanya terkejut. "Ha? Kau punya penyakit jantung?!"
Mingyu memegang dadanya—bertepatan dengan posisi jantungnya—dan membalas, "Ini aneh. Aku kenapa hyung?"
"Ya! Kau ini kenapa 'sih? Jangan membuatku takut!" Pria yang lebih tua, yang sesungguhnya bernama lengkap Choi Seungheol itu bangkit dari singgasananya guna menghampiri salah satu rekan bisnisnya yang berlagak aneh saat ini.
"Seungcheol hyung, aku jadi tidak fokus,"
"Mingyu-ya! Kau baik-baik saja? Akan kuhubungi dokter—"
"Ani, tidak perlu. Aku baik-baik saja, hyung!"
"Yang benar?" Seungcheol mendesak. Oh ya ampun, dirinya tengah panik karena situasi yang cukup menegangkan gara-gara kelakuan Mingyu yang aneh.
Mingyu mengangguk yakin. Lalu ia menghela napas lagi, setelah itu menjawab, "Ya. Dan detak jantungku sudah kembali normal,"
"Aku tidak tahu kalau kau punya penyakit jantung," Seungcheol memijat pelipisnya.
Mingyu datang tanpa permisi lantas mengeluh merasakan ada yang aneh dengan detakan jantungnya—dan semua itu sukses membuatnya panik seketika.
"Apalagi aku, hyung. Ini pertama kalinya aku merasakan yang seperti ini." Mingyu bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya dia ini kenapa?
Rasanya tadi baik-baik saja. Dan memang ia sedang dalam kondisi baik. Tidak sedang sakit atau kelelahan. Well, karena tidur satu jam-nya di kantor membuat energi Mingyu terisi kembali.
Namun detakan yang tadi itu—apa namanya?
Kejadian itu bersamaan dengan momentum ketika dirinya memikirkan pemuda berhoodie hitam serta mempunyai tatapan mata yang memikat tengah balik menatapnya juga.
DEG.
DEG.
DEG.
"H-hyung, sepertinya jantungku kembali berdetak cepat lagi—"
"Kim Mingyu! Apa yang sebenarnya terjadi padamu, hah?!"
Suasana hening melanda kedua orang pemuda sipit yang tengah saling duduk berhadapan. Yang satu dengan pandangan memuja, sedangkan yang lainnya dengan tatapan menusuk—dan sedikit risih.
"Jadi, itu usulanmu?"
Setelah menghabiskan waktu bersama kesunyian, akhirnya ada salah satu dari mereka yang berbicara. Jihoon membuka percakapan.
"Ya, bukankah itu ide cemerlang?" Balasan dari Soonyoung lengkap dengan dua alis yang turun-naik membuat Jihoon memutar bola matanya jengah.
"Terserah. Tapi, akankah itu bekerja?"
Soonyoung berpikir sejenak hingga ia dapat menjawab, "Lima puluh persen untuk permulaan. Untuk ke depannya, bisa meningkat—atau malah menurun. Tergantung Mingyu, kurasa."
"Maksudnya?"
Menghela napas kemudian bersiap untuk menjelaskan kembali. Ya, apapun untuk Jihoon-nya. Mau disuruh bicara tanpa jeda pun Soonyoung siap. Asalkan Jihoon bisa peka terhadap sinyal-sinyal cintanya selama ini.
"Presentase keberhasilannya, Jihoon-ie. Dengan jasa pengemudi yang baru saja ku ceritakan tadi, secara otomatis dapat membuat Mingyu datang tepat waktu seperti biasanya."
"Bukankah kau yang bilang, kalau atasanmu itu selalu menyibukkan diri di kantor sampai larut malam—bahkan dini hari?"
Jihoon mengangguk membenarkan.
"Nah, karena alasan itu; jadwal pulang Mingyu yang tidak teratur membuatnya kurang tidur. Jadi, ya, seperti yang kau lihat akhir-akhir ini. Ia kadang datang siang—atau malah sampai meluangkan waktu untuk tidur di kantornya."
Sebenarnya Jihoon juga khawatir tentang itu. Tidak tega juga melihat sang atasan yang terus menerus membela dokumen-dokumen laknat itu ketimbang waktu istirahatnya sendiri.
Berhubung perusahaan tempatnya bekerja sedang dalam presentase naik, membuat Mingyu bekerja ekstra agar perkembangan perusahaannya dapat bertahan dan terus berkembang.
Karena pernah sekali, perusahaan mereka diambang kebangkrutan saat beberapa tahun silam. Dan mungkin karena peristiwa itu, Mingyu, yang merupakan direktur muda berbakat—sekaligus pewaris utama perusahaan ini, selalu bekerja keras.
Mengingat pemuda itu juga adalah tipe yang tidak kenal lelah dan gentar untuk menunda pekerjaan—ditambah sifat keras kepalanya itu, membuat kondisi kesehatannya mungkin dapat terganggu.
Dalam artian, Kim Mingyu bisa saja dengan mudah terserang penyakit, bukan?
"So, biar kujelaskan sedikit tentang sistem F-Driver ini,"
Jihoon mendengarkan dengan seksama.
Soonyoung dalam mode serius kali ini. Tapi yah, dalam hati mah seneng karena sang gebetan begitu memperhatikannya dengan baik.
Padahal Jihoon bukan perhatian ke Soonyoung, tapi lebih ke penjelasannya dia. Ngenes emang.
"Untuk masalah booking, umumnya bersifat per-hari. Tapi kalau memang dibutuhkan, perpanjangan jangka waktu penyewaannya bisa sampai satu minggu, kurang lebih."
Sementara itu Soonyoung menyesap kopi hitamnya sejenak. Haus bro, daritadi ngomong, dikira ga dehidrasi apa.
Lalu ia melanjutkan, "Pertama, dalam hal menjemput, F-Driver ini pastinya selalu tepat waktu. Mau bagaimana pun caranya, ia akan membawa si penumpang ke tempat tujuan sesuai dengan waktu yang telah disepakati oleh keduanya."
"Begitu pula si penumpang, mereka juga diharuskan untuk berkomitmen, sama dengan apa yang dilakukan si pengendara."
"Oh, dan F-Driver ini ada hanya untuk orang-orang tertentu saja. Lagipula, mereka ini termasuk ehm—istilahnya Private Driver gitu. Aku tidak begitu yakin, tapi begitulah yang dikatakan temanku. Karena dia, pernah menyewa jasa mereka."
"Lalu, apa yang dilakukan si F-Driver jika penumpangnya terlambat dalam waktu yang sudah ditentukan?" Jihoon melayangkan sebuah pertanyaan.
"Maksudmu seperti ketika si F-Driver ini sudah standby di depan apartemen, tapi si Mingyu malah asik ngebo?"
Jihoon mengangguk.
Ia bertanya-tanya mengapa Soonyoung bisa tahu hal-hal pribadi seperti itu. Apakah mereka ada hubungan lebih jauh? Pikirnya selintas.
"Kata temanku 'sih, rahasia. Namanya juga Private Driver, apa yang nanti dilakukannya sudah termasuk kontrak yang telah disepakati dan di tanda tangani oleh pihak yang bersangkutan."
"Semacam guru private, gitu?"
"Iya, begitu. Kayaknya asik kan, terkadang aku juga ingin mencobanya. Pasti kau penasaran, ya?"
Jihoon menjawab pelan, "Sedikit," Well, ia cukup tertarik juga mengenai jasa pengemudi private ini.
'Unik sekali,' Pikirnya.
Di jaman modern seperti sekarang ini malah semakin aneh-aneh saja. Tapi, kalau memang itu berhasil pada Mingyu, Jihoon 'sih tidak masalah.
Malah ia senang dan mungkin yah—nanti ia akan berterimakasih pada Soonyoung.
Tapi nanti. Kalau memang semua itu berhasil secara keseluruhan.
Karena, kebiasaan untuk bangun pagi itu memang sedikit sulit. Apalagi untuk Mingyu yang notabene-nya adalah pemuda labil yang hobi kerja sampai malam.
"Tapi kurasa kau tidak perlu menyewa yang seperti itu,"
Jihoon mengangkat sebelah alisnya heran, "Kenapa?"
"Karena aku siap menjadi supir pribadimu, Jihoon-ie. Kapanpun dan dimanapun." Kedipan maut kembali dilayangkan beserta senyum karismatik mematikan.
"Berhenti bercanda." Jihoon memandangnya datar. Kenapa Kwon Soonyoung ini senang sekali melakukan hal bodoh seperti itu padanya.
Atau mungkin itu hobinya pada setiap orang? Benar-benar.
Jihoon kembali bicara, mengingat akan sarapan mereka tadi. "Kau yang membayar semua ini?"
"Tentu saja, Jihoon-ie. Selamat bekerja kembali! Fighting!"
Jihoon merengut kesal mendengar panggilan—sok—mesra itu lagi. Apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki itu. Kerjanya hanya menggoda saja.
"Ya, terserah. Aku kembali, terimakasih sarapannya."
Lantas Jihoon melenggang pergi dari café yang masih berada di wilayah perusahaan Mingyu. Jadi, ia tidak perlu repot meminta Soonyoung untuk mengantarnya kembali ke kantor toh jaraknya juga tidak jauh.
Dan ia tahu, bahwa direkturnya itu tadi pergi ke suatu tempat. Mingyu sempat mengirimkannya sebuah pesan singkat tanda kalau diirnya tidak akan pergi lama.
Jihoon menyetujuinya.
Lagipula keadaan perusahaan dalam kondisi normal dan terkendali. Jadi tidak masalah.
'Mungkin Mingyu butuh refreshing,' Pikir Jihoon.
To Be Continued.
Note: Ini udah panjang belum? Hehe. Kay baru bisa update bulan Juli, muehehe. Mianhae readers-nim~
Note(2): Untuk penjelasan F-Driver, sebenernya kalian ga usah terlalu mikirin itu. Karena inti ceritanya bukan masalah itu kok. Walaupun ada sangkut pautnya dikit-dikit(?) Jadi, Kay harap kalian enjoy aja baca fanfic aneh ini. :)
Note(3): Sebutlah F-Driver disini sama dengan GoJek online tapi lebih elit, gitu. Muehehe. Lagian nih, Drivernya tuh ga pake sepeda motor, tapi pake mobil. Eaaaa.
Big thanks to svtbae, 17MissCarat, Park Rinhyun-Uchiha, oomuoMingyu, Firdha858, rossadilla17, DaeMinJae, itsathenazi, Ara94, Rewy, Rie Chocolatos, Kim Anita, Beanienim, dan para silent reader beserta yang sudah favorite+follow fic ini.
Uuu terimakasih! Peluk cium dari Kay. Hehe.
Mohon reviewnya lagi ya!
Salam hangat,
—Kay—
