Learn To Loving You

.

.

.

02

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Ssssssttttt

Suara halus ban mobil dengan aspal itu terdengar samar, saat sebuah sedan hitam berhenti di depan sebuah toko bungan dengan papan nama bertuliskan 'Dandelion Florist'.

Seorang pria tambun turun dari mobil itu, lalu membuka pintu bagian belakang. Dari kursi penumpang, keluarlah Jaehyun. Bocah berusia lima tahun itu mengembangkan senyumnya lebar.

"Harabeoji! Benarkah ini tempatnya?"

Pria tambun itu sekali lagi membaca kartu nama yang tadi sebelum menjemput Jaehyun dari sekolah, sempat diberikan Chanyeol padanya.

"Tidak salah lagi Jaehyunie."

"Ayok masuk harabeoji!" ajak Jaehyun dengan semangatnya.

Cring!

"Selamat datang Dandelion florist. Ada yang bisa kami bantu?" sapa ramah seorang perempuan, ketika Jaehyun dan pria bertubuh tambun itu memasuki toko yang di penuhi bunga berbagai jenis itu.

"Nona Byun ada?" tanya pria bertubuh tambun itu.

"Ada. Anda siapa? Kenapa ingin bertemu dengan Nona Byun?" perempuan itu mengerutkan dahinya.

"Saya..."

"Jaehyunie!" suara Baekhyun terdengar dari arah belakang. Gadis itu berlari senang menghampiri bocah kecil berambut jamur itu.

Tak berbeda jauh, Jaehyun juga melonjak kegirangan melihat Baekhyun.

"Imo!" pekik Jaehyun girang. Seketika tangannya terentang dan langsung menubruk tubuh Baekhyun. Si kecil yang terlihat lucu dengan celana overallnya itu memeluk Baekhyun erat.

Baekhyun terkekeh, dengan lembut, diusapnya punggung kecil Jaehyun.

"Maaf, anda..."

"Ah ya. Byun Baekhyun imnida!" Baekhyun mengulurkan tangannya pada pria bertubuh tambun yang memiliki penampilan cukup rapi itu.

"Shin Dong He. Cukup panggil saya Shindong ahjussi, nona Byun."

Baekhyun tersenyum lalu sambil mengangguk.

"Tuan Park semalam menghubungi saya, katanya Jaehyun ingin main kesini." Ujar Baekhyun kemudian.

"Iya. Saya di minta untuk mengantar kesini tadi. Ehm... Apa saya harus menunggu Jaehyunie, Nona Byun?"

"Jaehyunie mau disini agak lama? Atau..."

"Sampai sore." Jawab Jaehyun dengan disertai senyum polosnya.

"Ditinggal saja, nanti saya akan menghubungi Tuan Park kalau Jaehyun ingin pulang, ahjussi."

"Ah nde. Kalah begitu saya permisi dulu. Oh ya! Untuk pakaian ganti Jaehyunie, sudah disiapkan di tasnya."

Baekhyun mengangguk, dengan masih di gelayuti Jaehyun, dia mengikuti Shindong keluar dari tokonya.

"Mari Nona!"

Baekhyun membungkuk sopan setelah Shindong pamit pulang.

Senyum Baekhyun semakin lebar, dengan sedikit keberatan, dia mengangkat Jaehyun. Menggendongnya sambil melangkah masuk ke dalam toko, setelah Shindong berlalu.

Jaehyun terlihat sangat nyaman dalam gendongan Baekhyun, bocah kecil itu menyandarkan kepalanya manja di bahu Baekhyun.

"Dia siapa?" tanya perempuan tadi, yang selama beberapa saat hanya menjadi penonton.

"Jaehyunie." Sahut Baekhyun sambil duduk di kursi, di depan tempat duduk perempuan tadi.

"Iya. Jaehyunie itu siapa? Aku baru melihatnya."

Baekhyun mendorong pelan tubuh Jaehyun, agar bocah tampan itu menatapnya, lalu dengan gemas, diciuminya pipi bocah yang masih memakai seragam taman kanak-kanak itu.

"Aku bertemu dia kemarin, Kyungie. Di taman kota, di depan perusahaan iklan... Ehm... Apa ya namanya? Appa Jaehyunie bekerja dimana?"

"Blossom advertising."

"Aaaa... Itulah."

Perempuan tadi, lawan bicara Baekhyun, mengerutkan dahinya. Nama itu tak asing untuknya, yang asing adalah pemandangan yang ada di depan matanya.

Baekhyun menyukai anak kecil? Iya. Tapi sampai membuat anak kecil rela datang ke tokonya, ini baru terjadi saat ini.

"Kau tak melakukan apapun terhadap anak ini 'kan Baekhyunie?"

"Maksudmu?"

"Menghipnotisnya mungkin."

"Ya Do Kyungsoo! Kau gila ya! Kau pikir aku kurang pekerjaan sampai melakukan hal itu?"

Jaehyun menatap Baekhyun dengan tatapan penuh tanya. Ada apa? Kenapa imo cantiknya itu berteriak?

"Imo tidak berteriak padamu sayang." Baekhyun menangkup pipi Jaehyun dengan kedua tangannya, lalu kembali melayangkan ciuman gemasnya disana. Aroma bayi menguar segar dari tubuh Jaehyun, menusuk hidung Baekhyun. Dan hal itu sangat menyenangkan untuknya.

"Selama ini, aku akui, kau menyukai anak kecil dan beberapa anak kecil juga menyukaimu, tapi baru kali ini ada anak kecil yang datang mencarimu."

Baekhyun tak memperdulikan apa yang dikatakan temannya itu, dia memilih asik dengan Jaehyun.

Namun tak berselang lama, ponselnya bergetar di sakunya, membuat moment manisnya dengan Jaehyun harus di jeda.

Baekhyun menarik ponselnya, ada pesan masuk sepertinya.

From : 013-1117-8XXX

Baekhyun-ssi

Saya ingin bertemu anda. Bagaimana kalau di Bollero Cafe, jam tiga sore.

"Dari siapa?"

"Bukan siapa-siapa. Nanti jam tiga aku akan keluar, kau urus pesanan bunga kita ya." Baekhyun beranjak dari duduknya sambil menggendong Jaehyun. Dia melangkah ke lantai dua, dimana ruangannya berada disana. Sambil berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk pertemuan itu. Hah!

.

.

.

Luhan menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruangan Chanyeol, membuat duda beranak satu itu berjengit kaget.

"Chanyeol-ah! Kenapa kau tak membuka pesan dari Jaejoong eonni?"

Chanyeol mendesah pelan. Dia sengaja melakukan hal itu, pusing rasanya mendengar ocehan saudara sepupunya itu. Dari semalam sampai saat ini, selalu hal yang sama yang dibahas. Kau harus bertemu dengannya, harus! Iya, Chanyeol tahu hal itu, tak bisakah Jaejoong percaya padanya, dia pasti menemui gadis itu. Dia sudah mengatakan pada Jaejoong. Dan Jaejoong masih saja tak percaya hingga istri dari Yunho itu terus-terusan menerornya dengan hal yang sama.

"Aku memang malas membaca atau bahkan membalasnya. Sudah! Keluarlah! Aku mau melanjutkan pekerjaanku."

"Itu artinya kau menjadikan aku target selanjutnya Chanyeol-ah. Kau tahu aku sedang meeting dengan klien kita, tapi telponku terus bergetar, aku harus menjeda meeting itu demi menjawab panggilannya. Dan kau tahu, bahkan ketika aku menjawab panggilannya serta melayangkan protesku atas sikapnya, dia malah melayangkan ancaman, kalau kau tak membalasnya, dia akan terus menerorku. Jadi, balas sekarang atau kita kehilangan mega proyek kita."

Chanyeol mendengus sebal, dengan masih disaksikan Luhan, pria itu meraih kasar ponselnya, lalu membuka dan membaca semua isi pesan singkat yang di kirim Jaejoong untuknya.

To : Si cerewet Kim Jaejoong

Iya Nunna. Aku paham!

Aku akan menemuinya jam tiga sore nanti. Apa kau puas?

Jaehyun ada di tempat aman, kau tenang saja.

Sekarang, jangan ganggu aku ataupun Luhan lagi, kamu sedang bekerja nunna. Kami sibuk!

Chanyeol menunjukkan balasan yang baru dikirimkannya untuk Jaejoong, pada Luhan.

"Ya Park Chanyeol! Kau ingin kita berdua mati? Kenapa menjawab seperti itu?" pekik Luhan kesal, dia memang kadang sedikit merasa kesal dengan sikap Jaejoong yang kadang terlalu cerewet, tapi dia sekalipun tak pernah membantah Jaejoong, mengingat Jaejoong adalah orang yang bertanggungjawab atas dirinya selama dia tinggal disini. Dia menghormati Jaejoong dan Yunho, seperti dia menghormati kedua orangtuanya yang tinggal di China.

"Waeyo? Aku bicara yang sebenarnya bukan?"

"Haish!" raut wajah Luhan tampak kesal.

"Wae?"

"Terserah padamu saja. Awas kalau kau sampai menghindar nanti, bersiap saja di gantung."

Chanyeol terkekeh pelan melihat tingkah Luhan.

"Kali ini, aku tak akan menghindar nunna. Tenang saja, aku akan datang."

Luhan menatap Chanyeol lembut. Lalu mendekati adik sepupunya dari pihak ibunya itu.

"Semoga kau segera mendapatkan pendamping Chanyeol-ah. Yang akan menemanimu membesarkan Jaehyun nantinya. Ehm... Perempuan itu, yang kemarin mengantar Jaehyun kemari, kau tak tertarik padanya?"

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Luhan.

"Kau sebenarnya ingin mengatakan apa nunna? Jangan katakan kau akan menjadi seperti Jaejoong nunna."

Luhan menggeleng.

"Saat kau memutuskan mencari ibu untuk Jaehyun, bukankah pendapat Jaehyun sangatlah penting Chanyeol-ah. Yang ku lihat kemarin, dia terlihat sangat menyukai gadis itu, juga sepertinya Jaehyun nyaman bersama dia. Menurutku... Tidakkah lebih baik kau mendekatinya?"

Chanyeol mengerutkan keningnya. Dia terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab apa yang di sampaikan Luhan padanya.

"Sampai hari ini, aku belum berpikir mencari pengganti istriku, nunna."

Luhan menepuk pelan pundak Chanyeol. Dia memahami cinta besar yang dimiliki sepupunya itu untuk mendiang istrinya.

"Untuk bagian 'Jaehyun membutuhkan sosok ibu', seperti yang dikatakan Jae eonni semalam, aku setuju. Katakan kami membantumu merawat Jaehyun saat ini, tapi... Nanti ada masanya kami juga direpotkan dengan urusan kami sendiri 'kan. Alangkah baiknya, kalau kau memiliki seseorang yang bisa menyayangimu, menyayangi Jaehyun, mencintaimu dan juga mencintai Jaehyun. Memang tak harus sekarang, tapi cobalah untuk memikirkannya mulai dari sekarang Chanyeol-ah."

Chanyeol menatap lembut Luhan. Inilah yang membedakan Jaejoong dan Luhan. Jaejoong sangat berapi-api ketika meminta Chanyeol untuk mencari pengganti mendiang istrinya, nada suara Jaejoong terdengar seperti memerintah. Sedangkan Luhan, dia lebih lembut dalam menyampaikan pemikirannya.

"Aku akan memikirkannya nunna."

"Baiklah. Semoga nanti sukses. Aku menunggu kabar baiknya." Luhan tersenyum sambil berlalu dari ruangan Chanyeol.

Sepeninggal Luhan, Chanyeol menyandarkan punggungnya, kemudian menarik laci mejanya. Ditariknya pelan sebuah bingkai foto, dimana disana terdapat foto dirinya dan mendiang istrinya, yang saat itu tengah hamil tua.

"Kau melihat kami dari sana sayang? Menurutmu, haruskah aku memberi Jaehyun ibu baru?" Chanyeol membelai pelan foto wanita yang sangat dicintainya itu.

Han Seo Jong, wanita itu dia kenal di perjalanannya menuju Busan. Dia berasal dari kota terbesar kedua di Korea itu, dan Seo Jong banyak membantunya selama dia berada di tempat itu.

Satu bulan setelah perkenalan itu, Chanyeol menyatakan perasaannya. Beruntung, saat itu Seo Jong tak menolaknya. Dan setelah satu tahun menjalin hubungan asmara, mereka kemudian memutuskan menikah.

Harapan Chanyeol saat mengikat janji sucinya di hadapan Tuhan, Seo Jong lah wanita satu-satunya yang dinikahinya dan akan diajaknya mengarungi bahtera rumah tangga hingga usia senja nanti.

Tapi, takdir Tuhan berjalan tak seperti yang diharapkannya. Malam itu, di tengah hujan saat dia tak berada di Seoul, istrinya pergi sendiri keluar rumah karena ingin membeli jajangmyeon kesukaannya. Sebuah kecelakaan mengantarkan istrinya menjemput ajalnya.

Hari itu, menjadi hari paling buruk dalan hidupnya. Kehilangan Seo Jong, merupakan pukulan telak untuknya. Chanyeol nyaris putus asa menjalani hidupnya tanpa Seo Jong.

"Aku merindukanmu sayang."

.

.

.

"Imo! Apa kita menunggu appa disini?" tanya Jaehyun sambil menikmati es krim rasa strawberry kesukaannya.

Baekhyun mengajak Jaehyun ke Bollero cafe, tempatnya membuat janji dengan pria yang akan dijodohkan kakak sepupunya dengannya.

Kenapa mengajak Jaehyun?

Baekhyun sudah membujuk Jaehyun untuk sekitar setengah jam saja ikut Kyungsoo, namun bocah menggemaskan itu menolak keras. Ketika dia menawarkan mengantar Jaehyun ke tempat ayahnya bekerja, si kecil justru terlihat murung dan hampir menangis. Alhasil, dia mengajak Jaehyun ke tempat ini.

"Waeyo? Jaehyunie ingin bertemu appa?"

Jaehyun menatap Baekhyun, lalu menggeleng pelan dan kembali menikmati esnya.

Baekhyun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Jaehyun.

"Jaehyunie!"

Jaehyun mendongak dan menatap Baekhyun polos.

Sekali lagi, Baekhyun tersenyum, di sekanya lembut lelehan es krim yang mengotori mulut kecil Jaehyun.

"Makannya pelan-pelan sayang." Ujarnya mengingatkan.

Jaehyun tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi. Baekhyun tersenyum lebar sambil mengusap lembut rambut Jaehyun.

Baekhyun menyangga dagunya dengan tangannya. Memperhatikan Jaehyun dengan seksama. Entah bagaimana awalnya dan sepertinya terlalu dini mengatakan hal ini, tapi sungguh, Baekhyun menyayangi Jaehyun. Bocah itu, sangat menggemaskan dan membuatnya selalu ingin tersenyum.

"Eomma Jaehyunie dimana?"

"Eomma tinggal bersama Tuhan sekarang. Kata appa, eomma ada di surga."

Baekhyun menatap Jaehyun tak percaya. Jaehyun begitu ringan bicara tentang kenyataan pahit hidupnya. Ya, Jaehyun masih lima tahun, belum mengerti dengan benar apa arti sebuah kehilangan.

Baekhyun kembali membelai kepala Jaehyun. Rasanya ingin menangis melihat si kecil yang seharusnya masih membutuhkan kehadiran ibunya, tapi nyatanya Jaehyun kehilangan sosok itu bahkan saat dia belum paham tentang arti hidup.

"Waeyo? Kenapa imo menangis?"

Baekhyun langsung mengusap kasar airmatanya. Lalu kembali tersenyum.

"Imo tidak menangis, tadi hanya kelilipan."

"Kata appa, Jaehyunie tidak boleh menangis kalau bicara tentang eomma, karena eomma pasti ikut sedih kalau Jaehyunie menangis."

Baekhyun mengangguk-angguk pelan. Jaehyun yang berusia lima tahun saja begitu tegar menghadapi kesedihannya, kenapa dia yang sudah cukup berumur, masih selalu menangis bila ingat kedua orangtuanya? Kenaoa bisa seperti itu? Karena Jaehyun tak memiliki kenangan apapun dengan orang yang melahirkannya, sedangkan dia, ayah ibunya memberi kenangan Indah saat mereka masih bersama, jadi wajar hal itu begitu mudah bagi Jaehyun namun sangat sulit untuknya.

"Appa!"

Baekhyun menatap arah pandang Jaehyun, benar saja, pria tinggi yang adalah ayah dari Jaehyun itu baru saja masuk ke Bollero cafe.

Pria itu tersenyum lebar, lalu menghampirinya. Kenapa pria itu terlihat berbeda dengan yang dia lihat kemarin? Dengan senyum lebar itu, ayah Jaehyun itu terlihat cukup tampan.

"Annyeonghasimikha Baekhyun-ssi!"

"Nde. Annyeonghaseyo Chanyeol-ssi!" balas Baekhyun. Dia membungkuk sopan, sama seperti yang dilakukan Chanyeol tadi.

"Appa mau menjemput Jaehyunie ya?"

Chanyeol menatap putranya, kemudian mengusap lembut pipi bulat itu.

"Appa ada janji disini."

"Dengan Baekhyunie imo?"

"Heh! Ahaha... Bukan sayang. Ada teman appa yang ingin bertemu appa disini."

"Teman? Nuguya?"

"Nanti appa ceritakan. Ehm... Maaf merepotkan anda Baekhyun-ssi."

"Oh. Animida! Jaehyun anak yang manis, jadi saya tak merasa direpotkan."

Chanyeol menggaruk pelan belakang kepalanya. Tidak enak juga rasanya, dia sudah ada di sini, tapi masa iya dia harus menitipkan Jaehyun pada Baekhyun lagi? Adab sopan santun, seharusnya dia membawa putranya bukan, tapi...

"Silahkan menemui teman anda. Biarkan Jaehyun bersama saya saja."

Chanyeol tersenyum canggung.

"Apa tak apa-apa Baekhyun-ssi?"

Baekhyun tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.

"Baiklah. Jaehyunie dengan Baekhyun imo dulu ya. Nanti kalau urusan appa sudah selesai dengan teman appa, appa akan segera menemui Jaehyunie."

Jaehyun memandang Chanyeol sesaat, lalu mengangguk-angguk, kemudian si kecil kembali melanjutkan makan es krimnya.

Hal yang sedikit aneh menurutnya, biasanya Jaehyun merengek kalau tahu Chanyeol ada di sekitarnya. Tapi kali ini, putranya itu sangat tenang.

Dengan masih menyimpan kebingungan, Chanyeol pamit pada Baekhyun.

Baekhyun kembali duduk, baru saja dia akan membersihkan mulut Jaehyun yang belepotan es krim, ketika seseorang memanggilnya.

"Baekhyun-ssi?"

Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap pria dengan setelan jas abu-abu yang berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat rapi dan juga tampan.

"Choi Minho imnida!" pria itu membungkuk memperkenalkan dirinya.

Baekhyun melakukan hal yang sama, dia langsung berdiri dan membungkuk sopan.

"Byun Baekhyun imnida. Silahkan duduk Minho-ssi!" Baekhyun mempersilahkan pria yang dijodohkan dengannya itu untuk duduk.

Minho tersenyum simpul, lalu duduk dihadapan Baekhyun. Saat baru duduk, tatapan Minho tertuju pada Jaehyun. Dahinya berkerut jelas.

"Oohh. Jaehyunie! Perkenalkan dirimu pada Minho-ssi, sayang."

Jaehyun membungkukkan setengah badannya.

"Park Jaehyun imnida."

Minho tersenyum menanggapi sikap Jaehyun yang tak bersahabat terhadapnya itu.

"Maafkan dia kalau dia kurang sopan, Minho-ssi."

"Gwaenchanayo. Bukankah rata-rata anak kecil akan bersikap seperti itu kalau bertemu orang baru."

Baekhyun tersenyum canggung.

Pluk

"Yah!" pekik Jaehyun saat es krimnya jatuh mengotori celananya, dengan tatapan sedih, dia melihat Baekhyun.

"Aigo. Kau harus hati-hati sayang, bukankah tadi sudah diingatkan." Baekhyun menarik banyak tisu, kemudian membersihkan celana Jaehyun.

"Tunggu sebentar. Minho-ssi! Saya permisi ke toilet sebentar."

Minho tersenyum mempersilahkan. Baekhyun tersenyum canggung, kemudian berdiri dari duduknya dan langsung mengangkat Jaehyun untuk di bawa ke toilet.

Baekhyun kembali ke tempat duduknya semula di Bollero cafe setelah sepuluh menit.

Dia tak mendapati Minho ada disana. Dengan sedikit kebingungan, dia menatap ke kanan dan ke kiri. Tak ada tanda-tanda Minho pindah tempat, lalu dimana pria itu.

"Maaf Nona, pria yang tadi duduk disini, menitipkan ini untuk anda."

Baekhyun menerima kertas yang terlipat rapi dari pelayan cafe itu dengan tatapan bingungnya.

Baekhyun-ssi!

Senang bertemu anda, walau hanya sebuah pertemuan singkat.

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya.

Benar, saya mencari calon istri, tapi...

Maaf Baekhyun-ssi, bukan bermaksud memandang sebelah mata status seorang janda,...

Saya tak bisa menjalin hubungan yang lebih dengan anda.

Semoga anda bisa menemukan seseorang yang bisa menerima anda dan Putra anda.

Sekali lagi, maafkan saya Baekhyun-ssi.

Baekhyun menatap Jaehyun, kemudian kembali melihat pesan yang ditulis Minho untuknya. Batinnya ingin tertawa, Minho salah paham rupanya. Dia mengira bahwa Jaehyun anaknya dan dia adalah janda.

"Imo! Samchon yang tadi mana?"

"Sudah pulang." Jawab Baekhyun sambil mengambil tasnya. "Jaehyun mau pulang? Atau kita menunggu appa Jaehyunie?"

"Kita tunggu appa di taman saja imo. Bosan disini."

"Baiklah! Imo akan mengirim pesan untuk appa Jaehyunie. Kajja sayang!"

Sementara itu, di sudut lain Bollero cafe, Chanyeol terlihat mulai jengah dengan perempuan dengan dandanan menor yang duduk di depannya. Yang tengah bercerita tentang perjalanan keliling dunianya. Hah!

Saat dia tengah mendengar ocehan tak begitu penting itu, ponselnya bergetar. Chanyeol mengeluarkan ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan masuk.

From : Baekhyun-ssi

Chanyeol-ssi! Kami menunggu anda di taman.

Membaca pesan singkat dari Baekhyun, sebuah ide muncul di otaknya. Kenapa dia tak meminta bantuan Baekhyun untuk lepas dari pertemuan yang tak di minatinya ini.

Dengan cepat Chanyeol mengetik sabari kalimat untuk Baekhyun.

Sambil menunggu kedatangan Baekhyun, Chanyeol sesekali menyesap minumannya sambil tetap menjadi pendengar untuk wanita itu.

"Yeobo!"

Chanyeol menoleh, mendapati Baekhyun dan Jaehyun berdiri tak jauh darinya. Sama halnya seperti Chanyeol, perempuan itu juga menolehkan kepalanya menatap Baekhyun.

Dengan memasang wajah sedikit masam, Baekhyun menghampiri Chanyeol.

"Urusan perceraian kita belum selesai, kau sudah mencari penggantiku? Kau bisa berbuat sejahat itu padaku? Kau menuduhku berselingkuh, tapi nyatanya, kau sendiri yang selingkuh. Dasar laki-laki brengsek!"

Byuurr!

.

.

.

"Gwaenchana? Mianata Chanyeol-ssi, saya tak bermaksud menyiramkan air itu pada anda." Ujar Baekhyun di sela usahanya mengusap sisa kebrutalan yang dilakukannya dengan sapu tangannya.

"Saya baik-baik saja. Tak perlu khawatir. Saya justru senang anda mau membantu saya, walau semua yang terjadi di luar ekspektasi saya."

Baekhyun menutup mukanya malu. Sejujurnya, dia juga kaget dengan apa yang dilakukannya tadi. Dia bingung ketika Chanyeol meminta bantuannya untuk keluar dari situasi yang tak diinginkan pria itu. Idenya muncul begitu saja, ketika dia berjalan sambil menggandeng Jaehyun dan melihat Chanyeol duduk berdua dengan seorang wanita.

Chanyeol tersenyum lebar melihat tingkah Baekhyun. Gadis itu tak hentinya meminta maaf, ketika dia datang sampai di taman pasca insiden penyiraman yang baru dialaminya. Pelakunya? Tentu saja gadis itu.

Tak masalah bagi Chanyeol, hanya saja yang terjadi di luar ekspektasinya. Dia pikir Baekhyun mungkin akan langsung menyerahkan Jaehyun begitu saja, tapi gadis itu memilih berpura-pura menjadi istrinya yang sedang marah karena merasa dikhianati, terlebih akting Baekhyun semakin terlihat seperti nyata ketika gadis itu menyiramnya dengan segelas air putih. Chanyeol sempat syok, tapi dia cukup bersyukur, karena setelah kejadian itu, setelah Baekhyun dan Jaehyun pergi wanita yang ditemuinya tadi juga langsung pamit pergi dengan alasan dia tak bisa menjalin hubungan dengan seorang pria yang masih memiliki hubungan rumit dengan wanita lain.

"Imo wae?" tanya Jaehyun yang mendapati Baekhyun tengah menutup wajahnya.

Baekhyun menarik tangannya yang menutupi wajahnya. Wajah putih itu terlihat memerah di kedua pipinya. Dengan punggung tangannya, dia menyentuh pipinya.

Memalukan sekali tindakannya tadi, batinnya.

"Imo sakit? Kenapa pipi imo memerah?"

Dengan tangan kecilnya, Jaehyun menyentuh pipi Baekhyun.

"Imo baik-baik saja sayang." Ujar Baekhyun disertai dengan senyum manis.

"Tadi kenapa wajahnya ditutup? Appa membuat imo sedih ya?"

"Heh!" Chanyeol dibuat terkejut dengan tuduhan yang dilayangkan Jaehyun.

"Tidak sayang. Appa Jaehyunie tidak melakukan apa-apa pada imo. Imo yang salah, tadi sempat menyiram appa Jaehyunie dengan air."

"Appa nappeun." Ujar Jaehyun disertai dengan pukulan kecil tangan Jaehyun pada paha ayahnya. "Appa pasti marah sama imo ya, karena tadi imo cantik menyiram appa. Lihat! Sekarang imo jadi sedih 'kan."

Sekali lagi, Chanyeol dibuat terkejut dengan sikap Jaehyun. Putranya itu tak pernah melayangkan protes seperti sekarang ini. Jaehyun cukup anak yang cukup pendiam bahkan cenderung acuh dengan keadaan sekitarnya, tapi baru saja Jaehyun melayangkan protesnya, dua kali pula.

Chanyeol menatap Baekhyun, yang saat itu juga kebetulan tengah melayangkan pandangannya padanya.

Cukup lama mereka beradu pandang. Desiran halus itu kembali di rasakan Chanyeol. Dari jarak sedekat ini, gadis yang baru ditemui anaknya dua kali itu, terlihat tak hanya cantik, tapi juga indah. Riasan wajah Baekhyun tak setebal wanita tadi, tapi meski begitu, dengan riasan sederhana pun, kecantikan gadis itu sudah terpancar.

Tak berapa lama, bibir Baekhyun memamerkan senyum polosnya. Senyum yang membuat dada Chanyeol semakin berdesir.

"Imo!"

Chanyeol 'lah yang pertama memutus tatapan mereka, karena suara anaknya yang memanggil gadis yang duduk disampingnya itu.

"Nde." Sahut Baekhyun kalem.

"Perut Jaehyunie sakit." Keluh Jaehyun sambil memegang perutnya.

"Mau pup?" Jaehyun mengangguk dengan pertanyaan Baekhyun.

"Ah! Saya yang akan mengantarnya ke kamar kecil Baekhyun-ssi. Tunggu seben..." Chanyeol sudah berdiri dari duduknya, bersiap mengangkat Jaehyun, tapi putranya itu menolaknya.

"Tidak mau dengan appa. Dengan imo saja."

"Biarkan dengan saya saja, Chanyeol-ssi."

"Tapi."

"Tak apa. Tadi saya juga sudah membantunya, tak masalah saya melakukan lagi. Kajja Jaehyunie!"

Chanyeol kembali ke tempat duduknya, menatap punggung Baekhyun dan Jaehyun yang semakin menjauh darinya. Putranya terlihat sangat nyaman dengan Baekhyun, yang dia lihat saat ini, Jaehyun yang sepertinya terus bicara pada Baekhyun, dan gadis itu yang dengan sabar menanggapi Jaehyun, bahkan sesekali terlihat Baekhyun membelai kepala Jaehyun.

Yang tak tahu hubungan mereka yang sebenarnya, mungkin menganggap Baekhyun adalah ibu dari Jaehyun.

.

.

.

"Joongie-ya!"

"Chullie eonni!"

"Kyaaaaaaaaaaaaa!"

Dua wanita cantik yang tak sengaja bertemu di super market itu saling memekik kencang, lalu kemudian berpelukan dengan sangat erat tanpa memperdulikan keadaan sekitar, dimana saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian.

Dari sorot mata kedua perempuan yang bisa dikatakan tak muda lagi itu, terpancar kerinduan yang luar biasa.

"Aku senang, setelah beberapa tahun, akhirnya aku bertemu denganmu lagi Jaejoongie." Ujar Heechul setelah melepas pelukannya pada Jaejoong.

"Sama eonni. Rasanya tak percaya, setelah sekian lama, aku bisa melihatmu lagi." Jaejoong kembali merangkul Heechul.

Kemudian keduanya memutuskan untuk pergi ke kasir, membayar belajaan mereka lalu setelah itu mereka berjalan bersama menuju sebuah restoran kecil di depan supermarket itu. Ada banyak hal yang ingin mereka bagi setelah lama tak bersua. Tidak mungkin kalau mereka berdiri di supermarket untuk membahasnya bukan.

Mereka mengambil tempat duduk saling berhadapan. Setelah memesan makanan, keduanya melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda.

"Kau menikahi Yunho 'kan?" Heechul memulai perbincangan mereka.

"Apa menurut eonni beruang besar itu bisa hidup tanpa aku? Tentu saja kami menikah eonni."

"Kau sombong sekali, Kim Jaejoong-ssi."

Keduanya tertawa ringan. Tatapan keduanya menerawang jauh, seolah kembali ke masa saat mereka masih bersama-sama.

"Aku rindu saat kita pergi ke kampus bersama-sama Joongie. Saat aku mengantarmu menemui Yunho, lalu kita kencan bersama-sama. Hah! Masa yang menyenangkan."

Jaejoong tersenyum tipis.

"Kau yang pergi meninggalkanku eonni. Kau memilih ikut Hankyung oppa. Hmm.. Kapan kau kembali ke Korea?"

"Sudah sekitar empat tahun ini. Ada banyak hal yang terjadi, sampai-sampai aku tak sempat pamit padamu sebelum pergi."

Jaejoong menggenggam tangan Heechul.

"Aku paham. Hmm... Berapa anakmu eonni?"

"Satu. Perempuan. Kau?"

"Dua. Dan keduanya laki-laki. Yang pertama berumur sembilan tahun, yang kedua enam tahun."

Heechul mengangguk-angguk mengerti. Keduanya melanjutkan obrolan tentang kenangan Indah masa lalu mereka. Saat mereka masih menjadi mahasiswi, lalu saat merasakan jatuh cinta untuk pertama kali. Banyak sekali cerita yang mengalir, setelah sekitar hampir sepuluh tahun mereka tak saling bersua.

"Sebentar eonni!"

Jaejoong merogoh saku jaketnya, dia merasakan getaran pada ponselnya.

From : Nyonya Song

Jaejoong-ssi! Anda mengatakan pada saya, kalau sepupu anda itu sudah tak memiliki istri karena istrinya yang dulu sudah meninggal. Tapi... Baru saja keponakan saya mengatakan pada saya, kalau sepupu ada itu masih dalam tahap proses perceraian. Anda membohongi saya?

"Mwo?"

"Waeyo?" tanya Heechul yang terkejut dengan suara Jaejoong yang tiba-tiba.

"Park Chanyeol,... Kau... Ish!" gigi Jaejoong mengeluarkan bunyi gemeretak, menahan kesal sepertinya.

"Joongie wae?" Heechul kembali bertanya. Jaejoong menatap Heechul, masih dengan tatapan kesalnya.

Jaejoong menarik nafas pelan, lalu berujar dengan masih menyimpan perasaan kesalnya.

"Aku memiliki sepupu, dia duda karena istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Anaknya satu, dia mapan dan sangat tampan. Menurut eonni salah tidak kalau aku ingin dia menikah lagi setelah lima tahun kepergian istrinya?"

Heechul berpikir sejenak.

"Tidak salah. Itu hal wajar. Dalam rumah, seharusnya memang ada sosok perempuan di dalamnya. Bukan asisten rumah tangga, tapi adalah pasangan tempat berbagi."

Jaejoong setuju dengan pendapat Heechul. Suasana rumah sangat berbeda tanpa sentuhan perempuan. Itulah yang sebenarnya ingin dia tekankan pada Chanyeol, tapi...

"Aku, mengenalkan sepupuku ini, dengan keponakan pelanggan tokoku, dan eonni tahu yang dilakukan si Park bodoh itu, dia justru mendatangkan perempuan lain yang diakui sebagai istrinya. Hah! Rasanya ingin sekali melemparnya ke laut sekarang."

Heechul memahami keadaan Jaejoong. Nasibnya sama dengan Jaejoong, Baekhyun keponakannya, juga selalu membangkang kalau ingin di jodohkan. Tapi hari ini, dia penurut, sepupunya itu tak keberatan menemui pria yang hendak dijodohkan dengannya. Semoga sepupunya tak melakukan hal bodoh, seperti yang dilakukan sepupu Jaejoong.

"Aku paham posisimu Joongie. Karena kita sama. Aku juga punya sepupu yang kalau di minta datang ke acara kencan buta, alasannya banyak sekali. Tapi hari ini, dia cukup penurut dengan mau datang ke acara itu. Semoga kali ini, dia tak melakukan kesalahn bodoh."

"Semoga eonni..."

Heechul memberi isyarat pada Jaejoong untuk diam. Dia harus menerima telpon.

"Yeob..."

"Ya Kim Heechul! Sebenarnya sepupumu itu gadis atau janda?"

"Mwo? Ya! Apa maksudmu Choi Sooyoung?"

"Kau bertanya apa maksudku? Seharusnya kau lebih tahu sebagai sepupunya. Minho menemui tadi, dan kau tahu yang didapatinya, seorang perempuan dengan anak kecil. Kalau sepupumu itu janda, seharusnya kau mengatakannya sejak awal Heechul-ssi. Jangan seperti ini."

"Chankaman! Aku benar-benar tak tahu maksud ucapanmu, Sooyoung-ssi."

"Kau tak perlu malu mengakui kalau sepupumu itu memang janda, Heechul-ssi. Jangan seperti ini, jujur, aku merasa tertipu."

"Tunggu! Kau pasti salah paham, sep..."

"Cukup! Aku tak ingin mendengar apapun lagi. Kau tahu, Minho sudah terlanjur kecewa dengan kenyataan yang dilihatnya."

"Eonni wae?" tanya Jaejoong yang menyadari perubahan wajah Heechul. Dari yang semula terlihat sumringah, menjadi memerah menahan marah.

"BYUN BAEKHYUUUUUNNN!"

.

.

.

"Terimakasih atas bantuannya hari ini Baekhyun-ssi. Saya tak tahu harus bagaimana kalau tak ada anda tadi." Ujar Chanyeol. Pria itu memutuskan mengantar Baekhyun pulang, sebagai bentuk terimakasihnya setelah Baekhyun menolak untuk diajak makan malam.

Baekhyun sempat menolak tadi, tapi Chanyeol berhasil meyakinkannya terlebih di tambah dengan rengekan Jaehyun yang tak bisa ditolak begitu saja oleh gadis berkulit putih itu.

"Tolong jangan bahas masalah itu lagi, saya benar-benar masih merasa malu dan tak enak pada anda Chanyeol-ssi." Baekhyun merasakan pipinya kembali memanas.

Hal itu seperti aib baginya. Memanggil orang yang duduk di sampingnya itu 'Yeobo', lalu menyiramka air ke wajahnya hingga membasahi baju dan jas pria itu. Kebodohan yang disesalinya sekarang.

Chanyeol tertawa ringan sambil menatap Baekhyun. Mengapa dia merasa senang melihat raut tersipu dari Baekhyun? Entah. Hanya senang saja, dan dia ingin tertawa.

"Ya! Jangan tertawa Chanyeol-ssi."

Bukan reda, tawa Chanyeol justru semakin berderai.

"Ya!"

Chanyeol menghentikan tawanya, lalu menatap Baekhyun. Kembali hatinya berdesir melihat Baekhyun yang sudah menekuk wajahnya, muram.

"Mian. Saya tak bermaksud mentertawakan anda."

"Ehm." Sahut Baekhyun singkat. Dia melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian membuka pintu mobil Chanyeol.

Baekhyun keluar dari mobil itu sedikit kesulitan. Jaehyun duduk di pangkuannya tadi dan si kecil itu tertidur pulas selama dalam perjalanan.

"Tunggu!" Chanyeol mencondongkan badannya, lalu mengambil alih Jaehyun dari pangkuan Baekhyun.

Baekhyun dibuat canggung dengan posisi mereka, Chanyeol begitu dekat padanya, bahkan tanpa sengaja lengan pria itu menyentuh perutnya saat harus mengambil Jaehyun dari pangkuannya. Baekhyun bahkan harus menahan nafasnya karena hal itu.

"Sudah."

"Nde." Baekhyun tersenyum canggung, lalu segera keluar dari dalam mobil itu. Dia belum menutup pintu itu, masih menunggu Chanyeol merebahkan Jaehyun disana.

Setelah Jaehyun direbahkan dan sudah terlihat nyaman di tempatnya, Baekhyun bermaksud membantu memasangkan sabuk pengaman untuk bocah itu. Tapi saat dia hendak menaruh pengait sabuk itu, tangannya justru memegang tangan Chanyeol yang sudah lebih dulu berada disana.

Deg

Deg

Deg

"Mian." Baekhyun menarik tangannya. Kemudian segera menutup pintu mobil itu.

Chanyeol menatap sekilas, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Jaehyun.

"Sekali lagi terimakasih Baekhyun-ssi. Selamat malam!" ujar Chanyeol sambil melambaikan tangannya pada Baekhyun.

"Nde. Selamat malam Chanyeol-ssi!" Baekhyun membalas lambaian tangan Chanyeol.

Setelah itu, dengan perlahan mobil yang membawa Chanyeol dan Jaehyun mulai bergerak meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun masih berdiri di pinggir jalan, matanya masih mengikuti laju mobil Chanyeol sampai mobil putih itu belok dan tak lagi terlihat olehnya. Kemudian dia menarik nafas sesaat, sebelum berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah kakak sepupunya.

"Aku pulang!" teriak Baekhyun sambil melepas sepatunya, lalu memakai sandal rumah dan kemudian melangkah masuk. Tapi baru beberapa langkah, sebuah gulungan kertas menghantam punggungnya.

"Ya! Nappeun yeoja! Apa yang kau lakukan hah?!"

Baekhyun meringis menahan sakit di punggungnya akibat ulah Heechul.

"Chagiya sudahlah."

"Kau jangan melindunginya Tan Hankyung. Anak ini haris diberi pelajaran, agar dia mengerti apa yang sedang aku usahakan untuk kebahagiaannya!" Heechul kembali hendak melayangkan gulungan kertas itu, ketika Hankyung datang dan melindungi Baekhyun.

"Tidak perlu seperti ini. Bicaralah yang baik."

"Dia tak akan mengerti kalau aku bicara pelan. Memang harus di pukul dulu baru dia mengerti."

"Eonni wae?"

"Wae? Kau masih berani bertanya wae? Setelah kau goreng wajah eonni, kau masih bertanya wae?" Heechul mendelik tajam.

"Aku benar-benar tak mengerti. Hankyung oppa! Apa yang terjadi?"

"Apa yang kau lakukan saat kau menemui Choi Minho? Kau membawa anak kecil, anak siapa? Kau tahu Baekhyunie, pelangganku sampai bertanya sebenarnya kau ini masih gadis atau sudah menjadi janda karena hal itu. Kau! Kalau kau tak menginginkan pertemuan itu, katakan! Jangan seperti ini."

"Minho-ssi salah paham eonni. Dia taj bertanya padaku, tapi langsung mengambil kesimpulan bahwa Jaehyun adalah anakku."

"Jaehyun? Nuguya? Anak siapa dia?"

"Sayang tenanglah. Biar Baekhyun menjelaskan perlahan." Ujar Hankyung sambil membelai ringan punggung Heechul.

"Haish! Aku tak ingin mendengar apapun sekarang." Heechul mendorong Hankyung agar menjauhinya. Langkahnya diayun kesal masuk ke kamarnya."

"Oppa!" rengek Baekhyun yang masih berdiri di belakang Hankyung dan menatap sedih punggung Heechul yang menghilang dibalik pintu kamar.

"Nanti aku akan bicara padanya. Sekarang mandi dan jangan lupa makan malam." Hankyung membelai sayang kepala Baekhyun.

"Aku bicara yang sebenarnya oppa. Minho-ssi tak menanyakan padaku tentang siapa Jaehyun. Dia langsung mengambil kesimpulan seperti itu."

"Aku percaya. Uri Baekhyunie tak mungkin berbohong 'kan?"

"Ehm."

Hankyung memeluk Baekhyun erat.

"Tolong lebih mengerti Heechullie, Baekhyunie. Bagi kami, kau adalah anak pertama kami, yang kami harapkan adalah kebahagiaanmu. Maaf kalau kadang caranya menunjukkan kasih sayangnya padamu terkesan kasar, tapi percayalah, setelah melakukan semua itu, dia akan menangis."

"Oppa!" Baekhyun menatap Hankyung dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan menangis. Tersenyumlah! Karena senyummu begitu Indah Baekhyunie."

"Ehm." Baekhyun menyusut airmatanya yang belum sempat menetes.

"Sekarang mandilah, lalu makan dan istirahat. Oppa yang akan bicara padanya."

"Sampaikan maafku untuk Chullie eonni, Han oppa."

Hankyung mengangguk.

.

.

.

Tak berbeda jauh, yang terjadi di rumah keluarga Jung jauh lebih mencekam.

Sejak kedatangannya, Chanyeol tak dibiarkan bernafas dengan tenang oleh Jaejoong.

Lihatlah! Mata bulat cantik itu semakin terlihat bulat saat melotot seperti saat ini. Bukan hanya Chanyeol, yang berada dirumah ini, semua terkena imbas kemurkaannya.

Luhan diomeli karena lambat mengiris bawang, Sehun, Changmin dan Yunho juga mengalami hal senada, diomeli karena berisik membahas pekerjaan di meja makan. Kyuhyun aman, karena keadaannya yang tengah berbadan dua. Dan sekarang, giliran Chanyeol yang mendapatka buah dari perbuatannya.

"Jangan menyentuh makan malammu sebelum kau menjelaskan siapa wanita itu!" suara Jaejoong terdengar tegas, semakin dipertegas dengan tatapan tajamnya.

"Bukan siapa-siapa."

"Bukan siapa-siapa tapi mengaku sebagai istrimu? Park Chanyeol! Jangan semakin memancingku untuk berkata kasar, cepat katakan siapa wanita itu?"

Chanyeol mendesah pelan.

"Seseorang yang ditemui Jaehyunie kemarin di taman."

"Nugu?"

"Nunna tak mengenalnya. Percuma, kuberitahu pun Nunna tak akan tahu."

"Katakan saja siapa? Atas dasar apa dia bisa mengaku sebagai istrimu? Kau sudah menikahinya diam-diam?"

"Aku tak menikahinya diam-diam. Jangan salahkan dia, aku yang memintanya melakukan hal itu."

"Bhaks! Kerjasama yang manis sekali sepertinya. Kau berkencan dengannya?"

Chanyeol menatap Jaejoong.

"Wae? Kau tidak terima dengan yang ku katakan?"

"Nunna sudahlah. Lagipula percuma, aku tidak menyukai wanita yang kau kenalkan itu. Dia terlalu berisik, yang dibahas hanya masalah barang-barang mewah yang dibelinya dari berbagai Negara yang dikunjunginya. Tak satupun dia membahas tentang Jaehyun, padahal aku sudah mengatakan padanya kalau aku sudah memiliki seorang anak. Apa wanita seperti itu bisa menjadi ibu yang baik untuk Jaehyun?"

Jaejoong tak bisa membalas ucapan Chanyeol.

"Kau tak perlu repot mencarikanku jodoh lagi, kalau memang aku masih memiliki jodoh di dunia ini, percayalah, tanpa kau carikan pun aku akan menikah."

Chanyeol membuang nafasnya pelan.

Ibu yang baik untuk Jaehyun adalah yang seperti Baekhyun.

Baekhyun?

Kenapa dia memikirkan gadis itu saat seperti ini? Hah!

"Baiklah! Mulai sekarang, aku tak akan ikut campur lagi dalam kehidupanmu."

Hah!

.

.

.

TBC

.

.

.

Note : Terimakasih untuk tanggapan yang luar biasa terhadap cerita ini. Jujur saja, kaget pas lihat jumlah jejak Cinta yang kalian tinggalkan pada cerita ini. #Bow

Ide awal, sebenarnya saya ingin menjodohkan mereka, tapi setelah dipikir-pikir, ceritanya akan biasa saja kalau mereka sudah dijodohkan dari awal. Kalau seperti ini 'kan lebih menyenangkan.

Pas part gadis atau janda, saya terbayang lagu dangdut jadul, sempat berdendang pula #ahahahahaha

Untuk jejak Cinta kalian, semua yang masuk saya baca, inshaallah tkk ada yang terlewat, jadi sedikit banyak saya hafal dengan kalian.

Terimakasih untuk yang sudah mengikuti cerita2 saya.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^