Learn To Loving You
.
.
.
03
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
"Baekhyun-ssi!"
Baekhyun mencari siapa yang memanggilnya, menoleh ke kanan, kemudian ke kiri dan di dapatinya Chanyeol berdiri tak jauh darinya.
"Ah! Nde Chanyeol-ssi." Dia membungkuk sopan.
Chanyeol mengembangkan senyum tipis, lalu melangkah mendekati Baekhyun.
"Ada urusan di tempat ini?" tanyanya pada gadis yang menjadi sosok favorit anaknya saat ini.
Baekhyun terlihat sibuk memindahkan bunga-bunga dari mobil bak terbuka yang dibawanya, ke sebuah troli yang Chanyeol lihat tadi juga diturunkan dari sana.
"Ah ya. Saya yang menyuplai bunga untuk hotel ini. tiga hari sekali datang kesini untuk mengganti bunga-bunga di dalam vas di sini."
Bibir Chanyeol membentuk huruf O dan kepalanya mengangguk-angguk pelan.
"Anda sendiri? Ada urusan disini?"
Chanyeol maju ke depan, membantu Baekhyun menurunkan bunga berbagi jenis dari bak belakang mobil Baekhyun.
"Kakak sepupu saya, pemilik hotel ini."
Baekhyun menghentikan kegiatannya dan mengalihkan tatapannya pada Chanyeol.
"Wae? Anda tak percaya kalau pemilik hotel ini sepupu saya?" Chanyeol tersenyum tipis. Tanpa dikatakan, dia bisa melihat keraguan di mata Baekhyun.
Baekhyun menggeleng pelan dan tersenyum gugup. Dia tak memiliki alasan untuk tak mempercayai ucapan Chanyeol.
"Ani. Hanya sedikit kaget saja." Ujarnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Apakah biasanya anda sendiri yang melakukan pekerjaan ini?"
"Tidak. Ada satu karyawan saya yang biasa mengerjakannya. Hanya saja, hari ini dia tak masuk, jadi saya yang harus mengerjakannya."
"Ehm... Baekhyun-ssi!"
"Nde."
"Gomapta."
Baekhyun menghentikan pekerjaannya, lalu kembali menatap Chanyeol dengan tatapan penuh tanya.
"Terimakasih untuk apa?"
"Semuanya. Saya sangat sering merepotkan anda dengan adanya Jaehyun yang mungkin mengganggu pekerjaan anda. Seharusnya dari beberapa waktu lalu saya mengatakan hal ini, tapi..."
"Gwaenchanayo Chanyeol-ssi. Jaehyunie tak pernah menjadi beban untuk saya."
Chanyeol menggaruk kepala belakangnya. Merasa canggung dengan kebaikan Baekhyun. Sudah hampir dua minggu ini, setelah pulang sekolah Jaehyun lebih memilih pergi ke tempat Baekhyun daripada ke rumah Jaejoong. Yang membuat Chanyeol semakin tak enak hati, selama ini, dia hanya berkomunikasi melalui pesan singkat dengan Baekhyun untuk menitipkan Jaehyun.
Setelah kejadian sore itu, mereka tak pernah bertemu lagi secara langsung. Jadi sekarang inilah pertemuan mereka kembali.
"Saya merasa tak enak."
"Jangan terlalu di pikirkan. Ehehehe... oh ya! Saya harus masuk dulu. Mari Chanyeol-ssi."
"Tunggu!"
Baekhyun menghentikan langkahnya.
"Nde."
"Boleh saya membantu anda?"
"Andwae."
"Heh!" Chanyeol cukup kaget dengan jawaban Baekhyun.
"Anda pasti memiliki urusan penting di sini. Saya tak berharap, karena keinginan anda membantu saya, pada akhirnya hal itu akan membuat urusan anda tertunda di sini. Senang bertemu anda, Chanyeol-ssi. Mari!" pamit Baekhyun. Gadis berperawakan mungil itu mendorong troly berisi kuntum-kuntum bunga masuk ke dalam hotel. Meninggalkan Chanyeol yang masih berdiam diri di tempatnya.
.
.
.
Sluuuuuurrrpppp!
Jaejoong menyedot rakus teh dingin yang disajikan Heechul padanya. Hari ini dia memang memiliki janji bertemu dengan Heechul. Dengan memboyong Taeyeong dan Jaehyun tentunya, ke dalam salon kecantikan milik teman lamanya itu.
Heechul menatap takjub ibu dua anak itu, banyak tanya yang berkelebat di benaknya. Apa yang Jaejoong lakukan sebelum datang ke tempat ini? Apakah temannya itu baru selesai lari marathon? Atau dari tokonya kesini, dia berlari? Hah!
"Kau mau teh dingin lagi?"
Jaejoong mengangguk, dia masih haus, sangat haus malah.
Heechul beranjak dari duduknya dengan kerutan jelas di dahinya. Beberapa menit dia kembali dengan dua gelas teh dingin dan langsung menyodorkannya di hadapan Jaejoong.
"Kau tidak sedang marah 'kan Jaejoongie?" tanya Heechul sambil duduk dengan melipat kedua tangannya di dada.
Hah!
Pada akhirnya Jaejoong menegakkan badannya dan menatap Heechul.
"Aku sedang sangat kesal dengan sepupuku eonni."
"Kenapa? Dia berulah lagi?"
Jaejoong menghembuskan nafasnya sebal, dia kemudian melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya dia lempar keluar jendela ruangan Heechul.
"Aku marah padanya setelah dia menggagalkan kencan buta yang ku buat untuknya waktu itu. Seharusnya, kalau dia merasa bersalah, dia minta maaf bukan? Tapi pria itu, entah sifat dinginnya itu menurun dari siapa. Yang jelas dia sama sekali tak menunjukkan penyesalannya dan hari ini, aku yang harus merengek demi dapat bertemu Jaehyunie." Jaejoong merebahkan kepalanya ke meja, kedua kakinya di hentak-hentakkan saking kesalnya.
"Haish!" serunya kesal, pemilik doe eyes kembali mendongakkan kepalanya lalu melanjutkan minum teh dinginnya.
Jaejoong tak pernah berubah, itu yang dilihat Heechul saat ini. Dulu saat mereka masih satu kampus, Jaejoong juga sering merajuk seperti ini.
"Kau tak berubah Jaejoongie, masih sama seperti dulu, padahal umurmu sudah tak muda lagi."
Jaejoong mengerutkan dahinya, kedua mata bulatnya menatap Heechul.
"Sulit membuang sifat asli eonni. Sudah bawaan dari lahir memang seperti ini." sahutnya datar.
"Hah! Kalau aku, Hannie yang marah karena aku selalu mengagendakan kencan buta untuk Baekhyunie. Pandangan kami berbeda tentang hal ini. Dia berpikir Baekhyunie masih muda, masih banyak impian yang mungkin masih banyak diwujudkan sebelum menikah nanti, jadi dia memberi kebebasan pada sepupuku itu untuk melakukan berbagai hal tanpa perlu memikirkan pernikahan. Sedangkan pikiranku, usia dua puluh tujuh tahun, itu sudah usia matang untuk berumahtangga bukan?"
Jaejoong mengangguk-angguk setuju. "Lalu?"
"Untuk sementara waktu ini aku masih diam. Tapi tentunya sambil mencari-cari pria yang cocok untuknya."
Jaejoong mendengarkan, tak berniat menyahuti. Pikirannya juga sedang di penuhi dengan Chanyeol. Dia masih sangat kesal dengan sepupu tengilnya itu. Bayangkan, Jaehyun dibawa kemana dua minggu ini, padahal menurut Luhan, si kecil tak berada di kantor ketika dia pulang sekolah. Lalu kemana? Apakah ke tempat penitipan anak?
Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Jaehyun yang tengah bermain dengan Taeyoung. Pikirannya kembali bertanya, benarkah Jaehyun di titipkan ke penitipan anak? Bisakah? Jaehyun berbeda dengan Taeyoung yang mudah akrab dengan orang baru, kalau Jaehyun...hah! Park bodoh itu seharusnya segera mencari istri lagi.
Istri lagi? Jaejoong menerka-nerka dalam benaknya, sepupu Heechul 'kan perempuan, usianya juga sudah matang, jadi... ah! Kenapa tidak menjodohkan keduanya saja?
"Eonni!"
Heechul melihat Jaejoong dengan kedua mata yang menyiratkan tanya.
"Kenapa kita tak menjodohkan Chanyeol dan siapa tadi nama sepupumu?"
"Baekhyun."
"Ah! Iya itu. Kenapa kita tak menjodohkan mereka berdua saja?"
Heechul memikirkan apa yang dikatakan Jaejoong. Benar juga? Kenapa hal itu tak terpikir? Sepupu Jaejoong pasti pria mapan bukan? Dia pasti bisa menjamin hidup Baekhyun. Tapi... Heechul mengalihkan tatapannya pada bocah bernama Jaehyun. Apakah Baekhyun tak keberatan dengan status sepupu Baekhyun?
"Wae? Eonni keberatan karena Chanyeol duda beranak satu?" tanya Jaejoong.
Heechul tersenyum canggung. Dia tak bermaksud membuat Jaejoong tersinggung, hanya saja, untuk beberapa gadis, mereka memilih menikahi pria berumur yang tak pernah menikah daripada pria muda tampan berstatus duda dan memiliki anak lagi. Pertanyaannya hanya satu, apakah Baekhyun tak keberatan akan hal itu?
"Tak ada yang salah dengan status duda, eonni."
"Yang mengatakan salah juga siapa? Aku hanya sedang berpikir, apakah Baekhyunie tak keberatan dengan keadaan sepupumu itu?"
"Ya makanya itu, di coba dulu. Siapa tahu mereka cocok?"
Heechul terdiam sejenak, kembali memikirkan hal ini. Baekhyun gadis yang sangat baik, dia juga sangat menyukai anak-anak, seharusnya memang tak menjadi masalah. Tapi...
"Apa anaknya tak akan keberatan dengan kehadiran Baekhyun, Jaejoongie?"
Jaejoong mengalihkan tatapannya pada Jaehyun. Benar juga, Chanyeol dan Jaehyun sepertinya memiliki sifat sama kalau menyangkut perempuan. Si kecil, tak bisa begitu saja dekat dengan orang asing. Dengan Luhan atau pun Kyunhyun, yang notabene hampir tiap hari bertemu saja, dia masih sering menghindar dan tak mau di sentuh, apalagi dengan orang asing. Hah!
"Urusan Jaehyun bisa di bahas nanti eonni. Yang terpenting, bagaimana usaha kita meyakinkan mereka berdua untuk menjalani kencan buta ini. Bagaimana?"
Heechul memikirkan baik-baik apa yang dikatakan Jaejoong. Kalau dia setuju, berarti dia harus mengatakan hal ini tanpa di ketahui Hankyung. Membujuk Baekhyun bukan hal yang sulit, tapi kalau dia sampai terpergok Hankyung, bisa runyam urusannya. Hmm... Hankyung dua hari lagi melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, berarti ada kesempatan baginya untuk membujuk Baekhyun. Ok!
"Ok. Aku setuju. Kita buat pertemuan mereka akhir minggu ini. Bagaimana?"
"Setuju." Balas Jaejoong mantap.
.
.
"Kau mencari seseorang?" tanya Yunho pada Chanyeol yang sepertinya tengah mencari sesuatu. Beberapa kali dia menangkap tatapan mata Chanyeol yang seolah-olah tengah mencari seseorang.
"Ani hyung." Jawab Chanyeol dengan di sertai senyum canggungnya.
"Tapi ku perhatikan sejak tadi kau seperti tengah mencari sesuatu, apa? Ada barangmu yang terjatuh di sini?"
"Ani hyung. Tidak apa-apa?" Chanyeol kembali mengelak. Tapi Chanyeol tak begitu saja mempercayainya, dia yakin ada sesuatu yang Chanyeol cari dan sepupunya itu tak ingin menceritkan apa yang dicarinya itu padanya.
"Oh ya. Kau sudah berdamai dengan Jaejoongie."
"Aku tak pernah memusuhinya. Dia saja yang sensitif menanggapi jawabanku. Tapi siang beberapa waktu lalu dia ke kantor, merengek, meminta menjemput Jaehyun. Entah akan diajak kemana."
"Dua minggu ini dia selalu memikirkan Jaehyunie, kalau Shindong ahjussi tak mengantarnya ke tokonya, lalu dia membawa Jaehyunie kemana? Sedangkan di kantormu, anakmu juga tak berkeliaran disana."
"Aku punya teman yang bisa ku percayai untuk menjaga Jaehyunie, hyung."
Yunho melirik Chanyeol sejenak. Kata 'teman' yang keluar dari bibir Chanyeol, mengusik rasa ingin tahunya.
"Teman? Perempuan?"
Chanyeol tersipu malu. Pantaskah dia menyebut Baekhyun temannya? Selama ini hubungan mereka tak seperti seorang teman pada umumnya. Dia berhubungan dengan Baekhyun hanya melalui pesan singkat, itu hanya berupa sebaris kalimat permintaan maaf karena dia harus mengganggu urusan Baekhyun dengan adanya Jaehyun.
"Sepertinya tebakanku tak salah. Siapa dia? Aku mengenalnya?" tanya Yunho yang semakin penasaran.
"Bukan siapa-siapa hyung. Sudah ya, aku pergi dulu." Pamit Chanyeol saat langkah mereka telah sampai di depan hotel milik Yunho.
"Hei." Yunho meraih lengan Chanyeol. "Jangan menghindar, pertanyaanku belum kau jawab."
Chanyeol terpaksa mengurungkan niatnya untuk melangkah ke tempat parkir.
"Dia hanya teman hyung. Jaehyunie sangat menyukainya."
"Bagaimana dengan appanya?"
Chanyeol tersenyum simpul.
"Aku pergi hyung!" pamit Chanyeol sambil melangkah meninggalkan Yunho.
Baru beberapa langkah meninggalkan depan lobi hotel, Chanyeol menangkap sosok Baekhyun di parkiran.
"Baekhyun-ssi!" pekiknya nyaring sambil berlari menghampiri Baekhyun.
Pekikan nyaring Chanyeol itu, ternyata di tangkap dengan baik oleh indera pendengar Yunho. Pemilik bibir hati itu, mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam hotel. Dia memilih melayangkan pandangannya pada Chanyeol yang sedang membantu seorang perempuan. Yunho berpikir keras, dia tak asing dengan perempuan itu. Aaahhh... Baekhyun! Suplier bunga untuk hotelnya. Mereka saling kenal? Batin Yunho.
Sementara itu, Chanyeol tengah membantu Baekhyun menaikkan troly yang tadi di dorong gadis itu ke atas mobil bak terbuka milik Baekhyun.
"Gomapta Chanyeol-ssi. Maaf merepotkan anda." Ujar Baekhyun dengan senyum canggungnya.
"Tidak apa-apa. Ini bukan sesuatu yang merepotkan untuk saya." Sahut Chanyeol dengan senyum tipis menenangkan.
"Baiklah. Kalau begitu sa..."
"Baekhyun-ssi!"
Baekhyun menggantung kalimatnya, karena Chanyeol tiba-tiba memanggilnya.
"Nde."
"Ijinkan saya mentraktir makan siang untuk anda." Chanyeol menatap Baekhyun ragu.
Sepanjang sejarah hidupnya, ini kali kedua dia mengajak perempuan makan siang atas inisiatifnya sendiri. Yang pertama pada Seo Jong dia mengatakan hal yang seperti ini, itupun setelah memikirkannya berhari-hari. Dan sekarang pada Baekhyun, yang berlangsung spontan tanpa rencana matang. Dan hatinya berdebar tak nyaman setelah mengatakan hal itu.
"Dimana?" sahut Baekhyun. Chanyeol menggaruk kepala belakangnya. Dimana? Dia juga tak tahu, dia tak biasa makan di luar kalau tidak untuk urusan bisnis atau pada saat Jaejoong mengatur kencan buta untuknya. Lalu sekarang, dia harus membawa Baekhyun kemana?
"Ehm... saya tak biasa makan di luar, jadi tak begitu paham restoran mana yang memiliki menu makan siang enak. Kalau tak keberatan, Baekhyun-ssi saja yang memilih."
Baekhyun cukup takjub dengan jawaban yang di berikan Chanyeol. Benarkah demikian?
"Anda ingin makan apa?"
"Ehm... apa saja, saya bukan pemilih dalam hal makanan. Kecuali udang, saya dan Jaehyun alergi terhadap hewan laut itu."
Baekhyun tersenyum kecil.
"Baiklah. Apapun kecuali udang 'kan?" Chanyeol mengangguk.
"Mari!"
"Anda jalan dulu, nanti saya mengikuti dari belakang."
Baekhyun mengangguk mengerti, dia kemudian naik ke dalam mobilnya dan diikuti mobil Chanyeol di belakangnya.
Tak butuh waktu lama, dua puluh menit kemudian, mereka sudah duduk di salah satu restoran tradisional Korea. Menu makan siang kali ini bisa dikatakan cukup lengkap, nasi, sup ikan, kimchi, Tteokbokki dan bulgogi tersaji di atas meja.
Chanyeol menatap ragu menu masakan itu. Bukan tak suka, hanya saja sepertinya terlalu banyak kalau untuk dimakan mereka saja.
Lain halnya dengan Baekhyun yang menatap menu itu penuh minat.
"Selamat makan!"
.
.
.
"Kenapa mendadak sekali Hannie?" tanya Heechul sambil menyiapkan perlengkapan suaminya untuk keluar negeri malam ini.
"Aku juga tak tahu sayang, pihak kantor memajukan jadwalnya." Sahut Hankyung sambil mengganti pakaiannya.
"Kau harus hati-hati disana, ingat anak istrimu menunggumu di rumah."
Hankyung tersenyum, lalu menarik pinggang istrinya dan mengecup singkat leher istrinya itu.
"Aku tak 'kan melupakan hal itu. Aku meletakkan kalian di sini dan di sini. Tak akan berubah sampai maut memisahkan kita berdua." Hankyung menunjuk dahinya yang mengisyaratkan pikirannya terletak disana. Lalu dia menunjuk dadanya, dimana bagi banyak orang, di dalam dada itu hati bersemayam.
Heechul tersenyum cantik, lalu memeluk pinggang suaminya itu.
"Aku mencintaimu Hannie."
"Sayangnya aku lebih mencintaimu, Chullie chagi."
Keduanya kemudian larut dalam ciuman panjang dan sedikit panas. Kalau tak ingat pesawatnya akan take off satu setengah jam dari sekarang, Hankyung mungkin sudah membanting istrinya di atas ranjang demi memuaskan gairahnya.
Tapi sore ini, dia harus menahan diri untuk tak menerkam istrinya.
"Oh ya! Tadi aku melihatmu membawa paper bag putih dan kau letakkan di kamar Baekhyunie, apa itu sayang?"
Kedua bola mata Heechul bergerak gelisah. Hankyung tak boleh tahu apa yang rencanakan. Rencana yang sudah di susunnya dengan Jaejoong kali ini tak boleh gagal. Dan untuk memuluskan rencananya itu, dia dan Jaejoong tadi berbelanja pakaian. Jaejoong membelikan Baekhyun sebuah gaun dan sepatu hak tinggi. Sedangkan dia membelikan Chanyeol sebuah kemeja dan sweater. Mereka juga telah reservasi satu meja di sebuah Restoran perancis untuk acara akhir minggu itu. Jadi...
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu 'kan Chullie?" Hankyung menatap Heechul menyelidik. Heechul membalas tatapan itu dengan senyum lebar.
"Tentu saja tidak. Itu tadi hanya hadiah kecil untuknya. Aku sudah jarang membelikannya sesuatu akhir-akhir ini."
Hankyung masih merasa tak yakin dengan jawaban Heechul. Dia tahu ada yang di sembunyikan Heechul darinya. Tapi...
"Aku akan mengantarmu ke Bandara." Heechul melepas pelukannya, kemudian kembali dengan koper Hankyung yang sudah diisinya dengan perlengkapan suaminya selama lima haru di Jepang nanti.
"Aku mencoba percaya apa yang kau katakan sayang. Semoga kali ini kau tak berbuat macam-macam pada Baekhyunie."
.
.
.
Srek...
Jaejoong mendorong paper bag berwarna biru tua ke hadapan Chanyeol, yang tentu saja menghasilkan tatapan aneh tak hanya dari Chanyeol, tapi juga dari Yunho, Changmin, Kyuhyun dan Luhan yang ikut ambil bagian dari makan malam hari ini.
"Ini apa?"
"Baju untukmu."
Chanyeol menatap Jaejoong curiga. Jaejoong bukan tipe orang yang suka memberi hadiah tanpa ada maksud di dalamnya. Jadi pasti ada timbal balik dari hadiah itu.
"Apa yang nunna inginkan kali ini? Kencan buta lagi?" tanya Chanyeol to the point.
Dia yakin pasti hal itu yang menjadi alasan Jaejoong tiba-tiba memberinya hadiah. Tak ada yang lain yang diharapkan Jaejoong darinya, kecuali kencan buta yang pada akhirnya selalu dapat dia gagalkan. Terakhir Jaejoong melakukannya dua minggu lalu, sebelum kemudian marah tanpa alasan padanya.
Jaejoong memamerkan senyum tak berdosanya sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Hah!" Chanyeol membuang nafasnya keras. Lagi-lagi Jaejoong melakukan hal itu tanpa persetujuannya terlebih dulu.
"Nunna! Tak bisakah aku tenang? Kenapa kau sangat suka sekali mengatur acara semacam ini untukku. Aku baik-baik saja tanpa istri, nunna."
"Jawabanku tetap sama. Bukan hanya kau yang membutuhkan pendamping, tapi juga anakmu."
"Tapi mana ada perempuan muda yang mau menikah dengan duda beranak satu. Pikirkan hal itu juga Nunna. Karena jujur saja, setiap kali nunna mengenalkan wanita padaku, yang terpikir di otakku cuma satu, apakah dia bisa mencintai Jaehyun? Bahkan kalau nunna tahu, untuk wanita terakhir yang nunna kenalkan padaku saat itu, yang dia tahu hanya tentang make-up dan jalan-jalan keluar negeri. Aku tak butuh istri seperti itu nunna. Kalaupun aku menikah lagi nanti, yang akan ku nikahi adalah wanita yang membuat Jaehyun nyaman berada di pelukannya."
Tahu apa yang terlintas di pikiran Chanyeol saat dia menyampaikan kalimat terakhir itu? Baekhyun. Sekelebat bayangan Baekhyun terlintas, saat bagaimana dengan nyaman Jaehyun tertidur pulas dalam pelukannya. Tak ada yang meminta Jaehyun dekat dengan Baekhyun, anaknya sendiri yang memilih Baekhyun untuk di dekati. Dan hal itu sukses membuat dada Chanyeol berdebar.
"Kali ini aku setuju dengan Chanyeol, nunna. Pedamping untuknya memang penting, tapi alangkah baiknya kalau kita juga memikirkan Jaehyun. Dia berbeda dengan Moobin atau pun Taeyong, yang mudah akrab pada semua orang. Jaehyun sedikit pemilih dalam hal ini." Changmin menimpali ucapan Chanyeol.
Jaejoong mendengus sebal, karena belum juga dia bicara tapi penolakan sudah di terimanya.
"Kali ini aku mencarinya dengan benar. Bukan asal-asalan seperti sebelum-sebelumnya. Dia ini, yang nanti yang nantinya akan ku kenalkan denganmu adalah sepupu dari sahabat baik kami." Ujar Jaejoong sambil menggenggam tangan Yunho.
"Nuguya?" tanya Yunho yang merasa tak tahu apa-apa.
"Dia adik sepupu Heechul eonni, Yunnie sayang."
"Heh!"
"Wae? Kenapa reaksimu seperti itu?" Jaejoong melirik tajam Yunho, yang terlihat membulatkan matanya bodoh.
Yang ada di pikiran Yunho tentu saja Heechul dengan sifat setannya itu. Sepupunya pasti tak berbeda jauh dengannya bukan?
"Kau yakin akan mengenalkan Chanyeol dengan sepupu Heechul nunna, Boo?"
"Iya. Kenapa?"
Yunho membuang nafasnya perlahan. Hal itu justru membuat yang lain merasa curiga. Ada apa dengan nama yang di sebut pasangan suami istri itu.
"Boo! Kau boleh putus asa mencarikan jodoh terbaik untuk Chanyeol, tapi sebegitu putus asanya 'kah kau, sampai memiliki niat menjodohkan Chanyeol dengan sepupu Heechul eonni?"
"Ya! Apa maksudmu Yunnie?"
"Kita sangat tahu siapa Heechul eonni, Boo. Sifatnya yang seperti setan itu, a...aaaaahhhh!" pekik Yunho kaget saat Jaejoong mencubit keras perutnya.
"Kau berpikir kalau Heechul eonni menurunkan sifat urakannya itu pada sepupunya? Ya Jung Yunho! jaga ucapanmu ya. Dia gadis baik, cantik dan juga sangat menyayangi anak kecil. Aku yakin pribadinya juga baik, semua tergambar jelas dari sorot matanya."
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Aku sudah melihat fotonya."
"Foto bisa menipu Boo... aaaahhhh!" Yunho kembali memekik, Jaejoong memukul keras punggungnya.
"Kalau kau tak tahu apa-apa, diam aku rasa lebih baik!"
Yunho mengangkat kedua tangannya, dia menyerah. Dia bukan lawan yang sebanding kalau Jaejoong sedang mengomel seperti ini.
"Dengarkan aku Chanyeol-ah. Aku sudah memikirkan ini baik-baik. Ini adalah terakhir kali aku memintamu melakukan kecan buta. Kalau kau merasa tak cocok dengan gadis itu setelah kencan buta nanti, aku tak akan ikut campur lagi masalah jodohmu. Ok!"
Chanyeol menatap Jaejoong datar. Seingatnya, beberapa waktu lalu Jaejoong juga mengatakan hal itu, tapi kenyataannya, kejadian yang sama terjadi lagi. Jaejoong pantang menyerah mencarikannya istri satu tahun terakhir ini.
"Nunna yakin dengan yang nunna katakan ini? Kali ini benar-benar yang terakhir?"
"Kau tak percaya ucapanku?"
"Aku ingin sekali percaya, tapi kenyataannya nanti berbeda. Bukan kali ini saja kau mengatakan yang kau lakukan ini yang terakhir, beberapa waktu lalu kau juga mengatakan hal itu, tapi yang terjadi... kau tetap dengan usahamu itu."
Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal. Perempuan itu, benar-benar tak sadar umur. Tingkahnya yang sedang merajuk sudah mirip Jaehyun yang di larang membeli permen kapas kesukaannya.
"Eonni sadarlah berapa umurmu sekarang. Tingkahmu membuat beruang mesum di sampingmu itu ingin menerkammu saat ini juga." Kyuhyun berujar sarkatis. Changmin mengulum senyum tertahan, sama halnya dengan Luhan.
Jaejoong melirik Yunho tajam.
"Jangan melihatku dengan tatapan mesummu itu. Kalau kau tak bisa membujuk Chanyeol untuk kencan butanya akhir minggu ini, kau tak akan mendapatkan jatahmu, SATU TAHUN!" Jaejoong berdiri dari duduknya. Lalu menyingkir dari ruang makan itu dengan membawa kekesalan hatinya.
"Ya Boo! Apa hubungannya semua ini? Haish!" seru Yunho tak terima. Tapi percuma saja, Jaejoong tak mengindahkan seruannya. Wanita yang tingkat kemanjaannya pada sang suami mengalahkan dua anaknya itu sudah masuk ke kamar si kecil.
"Hah!" Yunho menatap Chanyeol, memelas pada saudara sepupunya dari pihak ibunya itu. Tak dapat jatah satu tahun itu sama dengan neraka baginya.
Chanyeol membalas tatapan Yunho dengan tatapan datarnya.
"Hanya kali ini saja, Chanyeol-ah. Tolonglah hyungmu ini, yang tak bisa hidup tanpa belaiannya." Ujar Yunho memelas.
"Cih! Dasar mesum, pikirannya selalu menjurus kesana." Sahut Kyuhyun.
"Diamlah evil. Seperti kau tidak saja." Balas Yunho. "Kali ini saja Chanyeol-ah. Aku akan memastikan dia akan berhenti setelah ini. Ok!" lanjut Yunho meminta persetujuan.
Chanyeol membuang nafasnya pelan. Hah! Tampaknya kali ini dia harus kembali mengalah dari keegoisan Jaejoong.
"Baiklah." Jawabnya kemudian.
Yunho terlonjak bahagia, kemudian dia berdiri dari duduknya dan memanggil Jaejoong dengan lantang.
"Boo! Chanyeol bersedia melakukan kencan buta itu!"
"Jinjja!" Jaejoong keluar dari kamar si kecil dengan wajah cerah, seperti langit pagi hari yang tertimpa sinar matahari.
Tanpa di minta dia mengecup singkat bibir suaminy, lalu menghampiri Chanyeol dan merangkul pria itu dari belakang.
"Gomapta Chanyeol-ah." Suaranya terdengar riang.
"Hmm. Tapi pegang janjimu nunna, ini yang terakhir." Jaejoong mengangguk-angguk setuju.
"Tapi ada satu syarat yang ku ajukan."
Chanyeol menatap Jaejoong tak percaya. Apa lagi sekarang?
"Kau tak boleh meminta bantuan pada wanita yang kau akui istrimu waktu itu. Jalani semua dengan normal dan... aku ingin kau mengirim foto kalian berdua nanti. Eotte?"
Chanyeol mendesah berat. Ultimatum dari Jaejoong, membuatnya tak berkutik. Itu artinya, dia tak bisa menggagalkan acara itu.
"Baik."
Chup
Jaejoong mengecup singkat pipi Chanyeol, lalu semakin mengeratkan rangkulannya pada pria itu.
"Aku menyayangimu Chanyeol-ah."
.
.
.
"Eonni! Ini apa?" tanya Baekhyun sambil menuruni tangga dengan menenteng paper bag warna putih yang tadi dia temukan di atas ranjangnya. Dia cukup terkejut melihat isi dari tas itu, sebuah gaun dan sepatu berhak tinggi dengan warna senada.
Heechul tersenyum di dapur. Dia berbalik dan menatap Baekhyun penuh arti.
"Mwo?" tanya Baekhyun polos.
"Duduklah! Biar aku jelaskan."
Baekhyun menurut, dia duduk di kursi tinggi di sisi meja dapur. Dan Heechul duduk di seberangnya.
Hah!
Ada sedikit kebahagiaan terbesit di benak Heechul. Sepertinya, doa yang tadi siang dia panjatkan dengan Jaejoong saat mereka usai berbelanja, di kabulkan Tuhan dengan cepat. Buktinya dia tak perlu menunggu lusa untuk dapat membujuk Baekhyun agar mau menjalani kencan buta lagi. Tuhan berpihak padanya, dengan rencana tugas Hankyung yang di percepat dari jadwal sebelumnya. Dengan begitu, bukankah memudahkannya untuk membujuk Baekhyun?
"Baekkie!" Heechul meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat.
"Eonni menemukan calon yang tepat untuk jodohmu." Lanjutnya.
Baekhyun menatap Heechul dengan sedikit terkejut. Dia kemudian menarik tangannya dari gengaman Heechul.
"Maksud eonni?"
"Tadi eonni bicara banyak dengan teman eonni. Sama halnya dengan eonni yang berusaha mencarikan jodoh untukmu, dia juga tengah berusaha mencarikan jodoh untuk sepupunya. Pada akhirnya, kami sepakat untuk menjodohkan kalian berdua."
"Mwo?" Baekhyun memekik tak percaya.
Dia berpikir hidupnya sudah tenang dua minggu terakhir ini, dengan Heechul yang tak lagi pernah membahas tentang perjodohan atau kencan buta. Tapi kenyataannya, Heechul diam selama ada Hankyung disisinya, begitu Hankyung pergi, kakak sepupunya itu kembali melakukan hal yang tak disukainya itu.
"Eonni janji ini yang terakhir." Ujar Heechul yang merasa tak enak dengan tatapan Baekhyun.
"Kenapa eonni tak mengatakan hal ini tadi, saat Hankyung oppa belum berangkat ke Jepang?"
"Baekhyunie." Keluh Heechul.
"Eonni aku cukup lelah dengan semua ini. Aku harus datang ke kencan buta, paling tidak dua minggu sekali. Dan hasilnya tetap sama saja bukan? Dia nanti yang akan ku temui pasti juga akan memberi alasan yang sama begitu pertemuan itu selesai, dia tak ingin melanjutkan hubungan itu karena aku yang begini, aku yang terlalu ini dan banyak alasan lainnya. Eonni tahu, hal itu justru membuatku tak nyaman."
Heechul tak dapat menjawab. Memang alasan yang dikemukan beberapa pria yang pernah dia kenalkan pada Baekhyun rata-rata sama. Mereka beralasan, Baekhyun terlalu kaku dan lurus hingga terkesan sangat membosankan. Tapi... bisa saja 'kan kali ini berbeda.
"Baekhyunie! Eonni berharap kali ini berbeda. Karena dari cerita yang eonni dengar, dia ini pria baik yang memiliki kemiripan sifat denganmu. Eonni yakin kalian pasti cocok."
"Kalau tidak?"
"Jangan berkata seperti itu sayang. Kau belum bertemu dengannya langsung 'kan."
Baekhyun cukup kesal dengan jawaban Heechul.
"Eonni meminta maaf dengan tulus kalau selama ini membebanimu dengan hal-hal semacam ini. Eonni janji ini yang terakhir. Kalau kali ini tak berhasil, eonni tak akan ikut campur lagi dalam urusan jodohmu. Bagaimana?"
Baekhyun masih diam, dia tahu maksud baik Heechul. Tapi haruskah dengan memaksa? Dia tak memiliki pengalaman dengan pria, bagaimana untuk tak dianggap kaku atau terlalu lurus dia tak tahu caranya. Selama ini, menurutnya dia sudah bersikap sebaik mungkin saat bertemu dengan pria-pria yang pernah di kenalkan Heechul padanya, tapi tanggapan mereka selalu membuatnya berpikir keras. Apa yang salah dengan sikapnya?
Satu hal lagi, dia tak begitu nyaman bicara dengan pria yang tak dikenalnya. Mungkin itu yang membuatnya terlihat kaku.
"Dari cerita yang eonni dengar, ehm... sebenarnya, pria ini adalah duda beranak satu. Istrinya meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Jujur saja, eonni sempat ragu dengan penawaran ini. Tapi... eonni menjadi sedikit yakin saat mengingat bagaimana kau yang sangat menyukai anak kecil. Ehm... Baekhyunie! Baiklah, tak apa-apa kalau kau menolak sekarang."
Tahu yang Baekhyun pikirkan saat Heechul menyebut duda beranak satu tadi? Chanyeol. tapi secepatnya dia menepis pikiran itu. Di Negaranya itu, duda beranak satu bukan cuma Chanyeol 'kan? Lalu bagaimana bisa dia tadi berpikir seperti itu? Entahlah!
"Kau masih gadis, sudah sepatutnya mendapatkan pria yang belum pernah beristri 'kan? Jadi..."
"Kapan aku menemuinya?" tanya Baekhyun tiba-tiba. Dia seakan tak sadar akan hal itu, ada sesuatu yang menggerakkan hati dan pikirannya untuk menerima kencan buta itu.
"Akhir minggu ini."
"Baik. Tapi eonni harus janji ini yang terakhir."
Heechul mengangguk dengan penuh semangat.
"Pakaian dan sepatu ini, yang membelikan teman eonni itu. Untuk kau pakai nanti saat kencan." Baekhyun megangguk mengerti.
"Gomapta Baekhyunie."
Baekhyun mengangguk kecil, lalu berpamitan pada Heechul untuk kembali ke kamarnya dengan membawa tas kertas itu.
Sepeninggal Baekhyun, Heechul mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Jaejoong.
To : Kim Jaejoong 3
Jaejoong-ah! Baekhyun bersedia datang ke kencan buta itu.
Tak berapa lama, balasan dari Jaejoong di terimanya.
From : Kim Jaejoong 3
Sama eonni, Chanyeol juga bersedia melakukannya. Hah! Kalau semua yang kita usahakan ini berhasil, aku akan lebih sering datang ke gereja untuk berdoa eonni.
Hecchul tersenyum senang dengan balasan Jaejoong. Dia nyaris memekik saking girangnya.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, Jaejoong-ah. Aku akan semakin sering berdoa pada Tuhan."
.
.
.
TBC
.
.
Note : Terimakasih atas cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Jeng... jeng...
Bagaimana reaksi mereka nanti kalau jadi bertemu? Kok jadi ikut deg2an ya... ehehehee
Oh ya...
Disini saya mau memberitahu, untuk cerita Gomawo, Saranghae tidak akan ada Sequel atau epilog. Jujur saja, saat masih ada yang bertanya atau meminta hal itu, rasanya pengen nangis. Padahal di note sudah di tulis tak ada epilog atau Sequel, kesannya yang bagian bawah diabaikan keberadaannya. Saya bukan tak memikirkan hal itu sebelum menulis tak adanya sequel, mohon pengertiannya readerdeul.
Lalu ada di salah satu Review yang mengatakan masih menunggu kelanjutan Be With You...
Plis! Cerita itu juga sudah selesai TT
Sekali lagi maaf kalau tanggapan saya kurang berkenan, #bow
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
