Learn To Loving You
.
.
.
04
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Chanyeol mengemudikan mobilnya menuju restoran Italia. Dia dibuatkan janji untuk kencan butanya di tempat itu. Alamat restoran, meja yang di pesan sudah ditulis dengan jelas oleh Jaejoong di pesan singkat yang di kirim sepupunya itu beberapa menit yang lalu.
Ok!
Meski hatinya berat, namun hal ini harus tetap dilakukannya. Jaejoong berjanji ini usahanya yang terakhir. Jika kencan buta kali ini tak berhasil, Jaejoong tak akan lagi mencampuri urusannya dalam hal mencari istri dan ibu untuk Jaehyun.
Pun demikian, menjalani semua ini, hatinya tetap tak yakin. Bahkan ada niat di hatinya untuk kembali meminta bantuan Baekhyun demi menggagalkan acara hari ini.
Chanyeol berpikir, semua tak ada gunanya, yang akan di temuinya nanti, mungkin bukan orang yang tepat untuk menjadi pengganti istrinya, seperti sebelum-sebelumnya. dia memang tak memiliki kriteria calon istri idaman, dia hanya butuh seseorang yang mengerti dia, yang bisa mencintai anaknya tulus, yang di cintai anaknya. Dia tak butuh wanita yang pandai berdandan, yang cantik atau apapun itu. Dan sampai sejauh ini, hanya Baekhyun yang mampu menarik perhatian anaknya.
Hah!
Baekhyun!
Benar juga, kenapa tak meminta bantuan Baekhyun sekali lagi. Persetan dengan apa yang dikatakan Jaejoong nanti. Dia akan berpura-pura, perempuan itu tak datang, jadi dia mengundang Baekhyun untuk menggantikan perempuan itu. Aaaahhh! Benar! Dia merasa cukup nyaman berinteraksi dengan Baekhyun sejauh ini, jadi akan lebih mudah dekat dengan Baekhyun bukan, daripada dengan perempuan yang akan di kenalkan sepupunya itu nanti.
Baiklah!
Pertama-tama, sepertinya dia harus menghubungi Baekhyun.
Sementara itu
Di tempat lain, Baekhyun tengah duduk di dalam bis dengan memakai mini dress broken white tanpa lengan yang di padu dengan sepatu ber-hak tinggi dengan warna senada. Rambutnya di beri jepit pink, dengan penampilan seperti itu, dia terlihat siap menjalani kencan butanya kali ini.
Tapi siapa yang tahu, jauh di dalam hatinya, dia merasa tak begitu yakin dengan yang akan dijalaninya ini. Beberapa waktu lalu saat Heechul memberitahunya untuk menjalani kencan buta lagi, dia sempat yakin dengan jawaban 'iya'. Tapi seiring semakin dekatnya waktu kencan butanya, keyakinannya perlahan memudar.
Bisa jadi hari ini dia akan mengalami hal serupa dengan yang sering dia alami sebelum-sebelumnya. Dan tampaknya, dia harus menyiapkan hati menerima sebuah penolakan lagi.
Kalau saja Hankyung ada di Korea saat ini, hari ini dia tak akan duduk di dalam bis yang akan membawanya ke restoran itu. Restoran yang akan menjadi tempatnya kencan buta untuk kesekian kalinya. Kalau Hankyung ada, Heechul pasti tak berani memintanya untuk datang ke acara itu. Tapi... bukankah Heechul mengatakan ini yang terakhir. Dia bisa bernafas lega kalau memang ini yang terakhir.
Hah!
Seperti apakah orang yang akan di temuinya nanti? Apakah pria itu akan menerimanya? Yang tak akan mempermasalahkan sikapnya yang terlalu kaku kalau berhadapan dengan pria. Semoga saja.
Drrrttt... drrrrtttt...
Saat Baekhyun tengah bergulat dengan pikirannya yang tak menentu, tiba-tiba dia di kejutkan dengan getar ponsel dari dalam tasnya.
Baekhyun merogoh tas kecil itu, mengambil ponselnya. Sebuah pemberitahuan pesan masuk dari nomor Chanyeol. Ada apa pria itu menghubunginya? Apakah dia ingin menitipkan Jaehyun?
From : Chanyeol-ssi
Baekhyun-ssi! Bisakah saya meminta bantuan anda sekarang?
Baekhyun mengerutkan dahinya, bantuan? Ehm...
Baekhyun kemudian mengetikkan sebuah balasan untuk Chanyeol. Dia tak bisa memberi Chanyeol bantuan saat ini.
To : Chanyeol-sii
Mianhae Chanyeol-ssi. Sore ini saya ada urusan penting, jadi tak bisa membantu anda. Sekali lagi maaf. #deepbow
Chanyeol yang saat ini sudah memarkir mobilnya di parkiran restoran Italia yang disebut Jaejoong sebagai tempat kencan butanya nanti, mendengus keras membaca balasan Baekhyun. Habislah dia kali ini, siapa lagi yang di mintai bantuan? Jelas tak mungkin kalau Luhan bukan?
"Huft." Desah Chanyeol pelan. Otaknya kusut karena keadaan yang tak diinginkannya ini.
Chanyeol masih berdiam diri di dalam mobilnya, enggan rasanya masuk ke dalam restoran itu. Dia... tak ingin bertemu dengan wanita itu. Hah!
Namun sejurus kemudian, Chanyeol menegakkan badannya saat matanya menangkap sosok Baekhyun melewati pelataran luas restoran itu.
Apa yang di lakukan Baekhyun disini?
Ah! Tuhan masih berbaik hati padanya sepertinya. Kejadian ini mirip dengan kejadian saat di Bollero cafe. Baekhyun saat itu juga ada di sana, bedanya Jaehyun tak ikut ambil bagian kali ini. Ehm... Chanyeol mengembangkan senyum tipis. Akan mudah meminta bantuan pada Baekhyun dalam keadaan mereka berada di satu tempat yang sama buka. Hah!
Chanyeol keluar dari mobilnya dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Satu masalahnya, setelah ini akan terpecahkan. Dia bisa bernafas sedikit lega.
"Baekhyun-ssi!" pekiknya saat Baekhyun akan menaiki anak tangga di depan pintu masuk restoran itu.
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol. matanya menyiratkan keterkejutan akan kehadiran Chanyeol di tempat ini. Kenapa pria itu disini?
"Annyeong!" Chanyeol menyapa sopan, senyumnya terkembang tipis. Lain halnya dengan Baekhyun yang terlihat tersenyum canggung.
"Ehm... ada urusan penting disini?" tanya Chanyeol berusaha lebih santai.
"Iya. Anda sendiri?" Baekhyun balik bertanya.
"Ya seperti itulah. Ehm... anda ingin menemui teman anda disini?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan kagetnya, tapi tak berlangsung lama. Dia kemudian memilih tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Teman? Saya tak bisa mengatakan dia teman saya, karena ini pertemuan pertama kami. Eee..."
Chanyeol melongo, apakah Baekhyun melakukan kencan buta? Apakah Baekhyun mengalami hal yang sama dengannya? Ehm...
Chanyeol tahu bagaimana tak nyamannya melakukan kencan dengan orang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dia paham kalau dia bertanya lebih lanjut, mungkin Baekhyun akan merasakan malu luar biasa. Jadi dia memilih tak melanjutkan obrolan itu dan memilih mengajak Baekhyun masuk ke dalam restoran itu.
"Selamat sore! Reservasi atas nama siapa?" tanya seorang pria yang berdiri di meja informasi.
Chanyeol menggiring Baekhyun ke tempat itu, karena restoran ini memang bisa di katakan ekslusif. Semua pengunjung yang datang ke restoran ini, harus melakukan reservasi sebelumnya. Dia tadi sudah diberitahu Jaejoong, reservasi dilakukan atas nama sepupunya itu dan juga temannya yang tak diketahui namanya oleh Chanyeol.
"Kim Jaejoong." Jawab Chanyeol. Petugas itu mengangguk pelan, lalu mencari di daftar pemesan meja atas nama yang di sebut Chanyeol tadi.
"Anda?" tanya petugas itu pada Baekhyun.
"Kim Heechul."
Jawaban Baekhyun menghasilkan kerutan pada dahi petugas itu.
"Siapa?" tanyanya lagi.
"Kim Heechul."
Petugas itu menatap Chanyeol bergantian. Ada yang aneh sepertinya, meja yang di pesan atas nama Kim Jaejoong dan Kim Heechul adalah meja yang sama. Lalu dua orang dihadapannya ini apa tidak tahu apa-apa?
"Wae? Ada yang salah?" tanya Chanyeol yang merasa aneh dengan ekspresi wajah petugas itu.
"Ani. Mari saya antar." Ujar petugas itu kemudian.
Petugas itu membawa Chanyeol dan Baekhyun masuk ke dalam restoran, bahkan kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di lantai dua itu, tak banyak meja yang tersedia, sepertinya untuk lantai dua restoran ini, memang di khususkan untuk pasangan yang ingin mendapatkan suasana romatis ketika mentraktir kekasihnya makan disini. Meja tertata di bagian pinggir ruangan, berdekatan dengan dinding kaca yang melingkari ruangan itu. Dari segala sudut, pemandangan kota Seoul akan terlihat sangat jelas.
Chanyeol dan Baekhyun masih mengikuti petugas itu, hingga kemudian berhenti di sebuah meja dengan nomor 04.
"Meja nomor 04, VIP Room, reservasi atas nama Ny. Kim Jaejoong dan Ny. Kim Heechul!" beritahu petugas itu.
Baik Baekhyun maupun Chanyeol mematung di tempatnya saat ini. Apa maksud semua ini? seperti itu kira-kira gambaran pikiran mereka saat ini.
"A-anda tidak salah? Bagaimana meja kami bisa sama?" tanya Chanyeol dengan nada tak percaya.
"Tidak. Semua sudah benar, bahkan kedua Ny Kim sudah memesankan juga menu untuk makan malam anda berdua sepertinya."
Jawaban dari petugas itu membuat Chanyeol tak lagi bisa berkata apa-apa. Sepupunya itu... haish!
Tak berselang lama, Chanyeol menoleh pada Baekhyun yang kebetulan saat itu juga tengah menoleh padanya. Mereka diam beberapa saat, sebelum kemudian tersenyum kaku.
Kali ini, apa kau bisa lari Chanyeol-ah?
.
.
.
"Kyaaaaa!"
Yunho, Luhan, Changmin, Sehun dan Kyuhyun yang saat ini duduk bersama Jaejoong di meja makan, berjengit kaget mendengar teriakan Jaejoong. Tatapan penuh tanya mereka lempar pada istri pemilik Mirotic Hotel itu.
"Ada apa?" tanya Yunho penasaran. Pasalnya saat ini, Jaejoong tengah senyum-senyum tak jelas dengan menatap ponselnya.
"Kali ini aku berhasil Bear."
"Apanya yang berhasil?" tanya Yunho masih belum mengerti.
"Lihat ini!" Jaejoong memberikan ponselnya pada Yunho.
Yunho menerimanya masih dengan tatapan bingung. Namun tatapannya berubah saat melihat apa yang terpampang di ponsel istrinya. Chanyeol baru saja mengirimkan fotonya dengan gadis yang dijodohkan Jaejoong padanya. Keduanya terlihat tersenyum menatap kamera.
Tapi...
Yunho merasa tak asing dengan perempuan di foto ini. Siapa? Terlihat jelas sekali Yunho yang sedang berpikir keras, sampai kemudian dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Chanyeol menyapa seorang perempuan dan terlihat bicara akrab kemudian. Perempuan itu...
"Kau yakin ini sepupu Heechul nunna?" tanya Yunho yang mulai merasa ragu. Bisa saja 'kan Chanyeol berbuat licik dengan menyewa gadis ini untuk dia jadikan sosok yang akan dijodohkan dengannya. Kalau melihat keakraban mereka tempo hari, bisa saja hal itu terjadi.
"Nde. Heechul eonni sudah memberitahuku wajah sepupunya sebelum mereka bertemu. Aku bahkan menyimpan fotonya. Tapi aku memang sengaja tak memberitahu Chanyeol tentang foto itu."
"Coba lihat!" pinta Luhan. Ponsel pintar Jaejoong berpindah ke tangan Luhan. Gadis mungil itu menatap kaget foto itu. Yang duduk bersama Chanyeol bukan orang asing bagi sepupunya itu. Bahkan keponakan kecilnya sangat mencintai wanita di foto itu. Benarkah Jaejoong tidak salah?
"Baekhyun-ssi!" desis Luhan pelan.
"Kau mengenalnya Luhanie? Benar, namanya Byun Baekhyun."
Luhan semakin membulatkan matanya.
"Wae? Kau mengenalnya sayang?" tanya Sehun sambil menyerahkan ponsel Jaejoong pada Changmin.
"Iya. Kami pernah bertemu beberapa minggu lalu. Saat Jaehyunie meninggalkan kantor tanpa pengawasan. Baekhyun-ssi yang membawa Jaehyun kembali ke kantor. Bahkan saat eonni tak menyapa Chanyeollie waktu itu, Jaehyun pergi ke tempat Baekhyun-ssi."
"Mwo?" Jaejoong memekik tak percaya. Luhan mengangguk memastikan. Chanyeol pernah mengatakan hal itu, Jaehyun di beri pilihan untuk ikut ke kantor atau ke tempat Baekhyun sepulang sekolah, dan anaknya itu menjawab kalau ingin ke tempat Baekhyun saja setelah selesai jam sekolahnya. Mengingat saat itu Jaejoong masih marah padanya.
"Kau tahu dan tak menceritakan padaku, Luhanie?" Jaejoong mendelik tajam pada Luhan.
"Memangnya eonni pernah bertanya? Lagipula, mana aku tahu kalau perempuan yang eonni maksud kali ini itu dia?"
Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal.
"Apalagi yang kau tahu tentang dia?"
"Tak banyak eonni. Setelah bertemu dia sore itu, aku tak lagi pernah bertemu dengannya. Hanya Chanyeollie, Jaehyunie dan Shindong ahjussi saja yang sering menemuinya."
"Kurang ajar Park bodoh itu. Kalau dia sudah kenal dengan seorang perempuan, kenapa tidak bilang-bilang?!" Jaejoong mendengus sebal.
"Haruskah seperti itu sayang?" tanya Yunho sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya
"Apa maksudmu, Bear?" Jaejoong memicingkan matanya pada Yunho.
"Jangan karena dia yang paling muda diantara kita, kecuali dengan Sehunnie, lalu kau menganggap dia masih seperti anak kecil yang apa-apa harus kau yang menyiapkan. Chanyeol sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan sikapnya. Katakan Chanyeol memang mengenal baik Baekhyun-ssi sebelum kau membuat acara itu untuk mereka, lalu apa hal itu salah?"
Tatapan Jaejoong pada suaminya berubah, menjadi lebih lunak. Otaknya memikirkan kebenaran akan apa yang dikatakan suaminya itu.
"Chanyeol sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri atas hidupnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku kurang setuju dengan caramu yang mengatur kencan buta untuknya. Karena menurutku, jodoh itu sudah di atur dengan baik oleh Tuhan, apapun yang kau lakukan, sekeras apapun usahamu menyatukan, kalau Chanyeol tak berjodoh dengan perempuan-perempuan itu, kau lihat sendiri 'kan, ada saja cara untuk menghalangi berlanjutnya hubungan itu 'kan?"
"Aku hanya ingin dia bahagia dengan orang yang tepat." Jaejoong menunduk sedih.
"Dia bisa memilih dengan siapa dia ingin bahagia sayangku." Yunho menjepit singkat hidung mancung Jaejoong.
"Tunggu!"
Semua mata menoleh pada Kyuhyun.
"Kalau perhitunganku tak salah, mungkinkah yang dimaksud dengan seseorang yang datang pada Chanyeol dan mengaku sebagai istri Chanyeol itu Baekhyun-ssi?" lanjut Kyuhyun.
Luhan meneguk susah payah air putih yang coba di minumnya. Ehm... dibandingkan dengan Jaejoong, Chanyeol memang lebih banyak bercerita pada Luhan. Termasuk tentang hari itu.
"Kau mengetahui sesuatu Luhanie?" tanya Kyuhyun yang menangkap gelagat aneh Luhan.
Luhan menatap Kyuhyun, lalu beralih ke Jaejoong. Kemudian mengangguk kecil.
"Chanyeollie memang bercerita padaku, tapi tak banyak. Hanya bagian dia bosan mendengar cerita dari gadis yang terakhir kau kenalkan padanya itu eonni. Sama seperti yang dia ceritakan pada kita waktu itu, hanya saja, idenya muncul karena sebelumnya dia bertemu Baekhyun-ssi sedang makan es krim di cafe itu dengan Jaehyunie. Jadi... ya seperti yang terjadi itu."
"Haish! Kalian terus saja main petak umpetnya." Ujar Jaejoong kesal.
Yunho tersenyum dan merangkul pundak Jaejoong.
"Mereka bukan anak kecil yang selalu harus menuruti apa yang kau katakan sayang. Mereka bisa memilih, bahkan untuk sekedar membagi pikiran. Chanyeol tahu, kalau dia bercerita lebih lanjut, kau pasti akan lebih marah. Makanya dia memilih Luhan untuk menjadi pendengarnya."
"Dia tak mempercayaiku lagi?"
"Bukan tak percaya. Hanya saja, kadang kau terlalu cerewet menanggapi cerita kecil dari kami. Kadang juga reaksimu berlebihan." Jaejoong melirik Yunho tajam.
"Kalau kau bosan denganku yang seperti ini, kau bis...eeemmmhhhh."
Jaejoong tak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya sudah di bungkam rapat oleh Yunho.
"Dasar mesum." Komentar Kyuhyun pedas.
Yunho melepaskan ciumannya, lalu melirik Kyuhyun dan tersenyum tipis.
"Apapun kau, entah kau cerewet atau kau yang sangat suka sekali merajuk, aku tetap mencintaimu Boo. You're the one and only you, nothing else."
Jaejoong menyandarkan kepalanya di dada Yunho.
"Gomapta Bear." Yunho mengusap sayang kepala istri cantiknya itu.
Pemandangan itu, membuat yang lain jengah, hingga pada akhirnya satu persatu dari mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Yang lain sudah pergi, bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi Boo."
"Ya!"
.
.
.
"Saya tak menyangka kalau gadis yang di maksud Jae nunna untuk saya temui di kencan buta kali ini, ternyata anda Baekhyun-ssi."
Chanyeol tersenyum canggung, tak berbeda jauh dengan Baekhyun.
Setelah makan malam dalam suasana super romantis yang di siapkan Jaejoong dan Heechul, yang mereka lalui dengan wajah tegang dan suasana kaku, mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar di taman yang letaknya tak begitu jauh dari restoran tadi. Sepertinya dengan cara begini, suasana yang tercipta diantara keduanya menjadi lebih santai.
"Saya juga merasakan hal yang sama, tak menyangka kalau pria yang di maksud kakak sepupu saya adalah anda."
Keduanya saling beradu pandang, lalu tersenyum kecil sambil melanjutkan acara jala-jalan itu.
"Ehm... dunia cukup sempit rupanya. Saya ti... waeyo?" tanya Chanyeol khawatir saat dilihatnya Baekhyun meringis, seperti tengah menahan sesuatu. Pria itu menghadap Baekhyun dan reflek meraih lengan gadis mungil itu.
"Aniya. Bukan apa-apa. Mari! Aaaa..."
Chanyeol memperhatikan dengan seksama gadis mungil itu mulai dari atas sampai bawah. Pandangan Chanyeol kemudian berhenti pada kaki Baekhyun. Gadis itu, sepertinya tak nyaman dengan sepatu ber-hak tinggi yang dipakainya.
"Apa sakit?" tanyanya lagi, Baekhyun menggeleng pelan.
"Kalau tidak sakit, mana mungkin reaksi anda seperti ini Baekhyun-ssi."
Chanyeol memperhatikan keadaan sekitar, seolah mencari sesuatu. Dan ketika dia menemukan apa yang di carinya, dengan perlahan dia memapah Baekhyun, menuju sebuah bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Chanyeol mendudukkan Baekhyun di bangku itu.
"Tunggu disini sebentar!" Baekhyun mengangguk meski terlihat bingung dengan sikap Chanyeol itu.
Setelah memastikan Baekhyun mematuhi apa yang dikatakannya, Chanyeol berlari menjauh. Baekhyun tak tahu, pria itu hendak kemana.
Setelah bayangan Chanyeol tak lagi dapat di lihatnya, Baekhyun melepas sepatunya, kemudian melihat tumitnya yang sudah memerah. Dia memang tak biasa menggunakan sepatu ber-hak tinggi, apalagi dalam waktu lama. Rasanya terlalu menyakitkan dan menyiksa kakinya. Dia lebih suka sneaker, yang pastinya jauh lebih nyaman.
Saat dia tengah memijat betisnya, Chanyeol kembali muncul di hadapannya dengan menenteng paper bag berwarna Baekhyun. Hal itu jelas mengejutkan Baekhyun, gadis itu dengan cepat memakai kembali sepatunya.
Namun hal yang tak di duganya terjadi. Chanyeol duduk berlutut di hadapannya. Memperhatikan kakinya lalu yang lebih membuatnya terkejut adalah Chanyeol menyentuh betis kanannya, mengangkatnya sedikit, lalu membebaskan kakinya dari sepatu berwaran putih yang di pakainya dan menggantinya dengan sneaker. Tak berhenti sampai di situ, Chanyeol juga melakukan hal yang sama pada kaki kirinya.
Baekhyun terhenyak dengan apa yang Chanyeol lakukan, bahkan pria itu dengan telaten menyimpul tali sepatu itu untuknya.
"C-chanyeol-ssi!"
Chanyeol mendongakkan kepalanya dan tersenyum menenangkan.
"Saya lihat anda tak nyaman dengan sepatu itu." Ujar Chanyeol kemudian.
"T-tapi i-ini..." Baekhyun tak mampu melanjutkan kalimatnya. Adegan yang sering dia lihat di dalam drama, kini dia rasakan sendiri dan karena hal ini, jantungnya berdetak semakin tak terkendali.
Chanyeol kembali mendongak, masih dengan senyum terkembang di bibirnya, dia menatap lembut Baekhyun.
"Seharusnya anda tak memaksakan diri untuk memakai sepatu itu, kalau anda tak nyaman memakainya."
"Se-sepatu itu, di-dibelikan sepupu anda."
"Jinja?"
Baekhyun mengangguk singkat. Chanyeol sudah selesai menyimpul tali sepatu yang di pakai Baekhyun. Si rambut ikal itu kemudian mengambil tempat duduk di sisi Baekhyun.
"Lebih nyaman sekarang?" tanyanya pada Baekhyun.
"Ehm. Gomawo." Baekhyun megangguk kecil. "Oh ya! Ini berapa harganya?" lanjut Baekhyun bertanya.
"Anda mau membayarnya?" Baekhyun mengangguk mendengar pertanyaan Chanyeol.
"Ehm... nanti saja saya minta bayarannya."
"Mwo?" Baekhyun menatap Chanyeol tak mengerti.
Chanyeol kembali tersenyum melihat reaksi Baekhyun.
"Anggap saja ini hadiah dari saya. Semoga anda suka dan nyaman memakainya."
Baekhyun menatap Chanyeol, kemudian memperhatikan kakinya. Sneaker yang dipakainya ini, memang memiliki model yang simple, tapi kalau dilihat dari merknya, harganya pasti tak murah. Dia saja tak pernah membeli sneaker dari merk ini, karena harganya yang terlalu mahal. Dan apa tadi, Chanyeol menghadiahinya ini? Pria itu tak salah 'kan?
"Wae?"
"Ini terlalu mahal Chanyeol-ssi."
"Gwaenchana. Dibandingkan dengan apa yang anda lakukan pada Jaehyunie, sepatu itu tak ada apa-apanya."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian Baekhyun-ssi."
Baekhyun menunduk, di rematnya ujung gaun yang dipakainya, perasaannya masih tak menentu saat ini.
Suasana sunyi setelah itu, hanya nafas mereka yang terdengar diantara sepinya suasana taman. Sampai beberapa menit kemudian Chanyeol kembali memecah keheninga.
"Gomapta."
Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol dengan kerutan di dahinya. Dia tak melakukan apapun, kenapa Chanyeol berterimakasih padanya?
"Terimakasih untuk apa?"
"Untuk semuanya." Chanyeol tersenyum tipis. "Anda sudah sangat baik pada saya maupun Jaehyunie."
"Anda sudah menyampaikan hal itu tempo hari."
"Kalau boleh setiap hari saya ingin mengatakannya."
Tatapan mereka kembali beradu. Tuhan! Kenapa suasana yang tercipta terasa begitu romatis, di tengah temaramnya penerangan di taman itu, mereka saling menatap dengan diiringi getaran halus di dada mereka masing-masing.
"Tak perlu melakukan hal itu Chanyeol-ssi. Yang saya lakukan pada Jaehyunie, pasti semua orang juga bisa melakukannya. Jaehyunie anak yang baik dan cerdas. Bagi saya, bermain dan bercengkrama dengannya, terasa begitu menyenangkan. Saya cukup menikmati interaksi saya dengan anak kecil. Mereka... Ehm... Lebih jujur mengekspresikan perasaannya. " Baekhyun tersenyum lebar dengan tatapan dilempar jauh ke depan.
"Mereka?" Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Ya. Mereka, anak-anak kecil. Saya biasanya berkunjung ke panti asuhan untuk sekedar bermain dengan mereka dan mendongeng untuk mereka." Baekhyun menatap Chanyeol lembut. Tahu yang terjadi dengan jantung Chanyeol saat ini? Detakannya terasa semakin jelas.
Lain Baekhyun, lain pula Chanyeol. Bila Baekhyun menatapnya lembut, Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh kekaguman. Tidak banyak gadis yang memiliki sisi kepedulian terhadap sesama, Baekhyun menjadi istimewa di mata Chanyeol tentunya, dengan sisinya yang lain itu.
"Anda memiliki rencana untuk mengunjungi mereka?"
"Ehm. Akhir bulan nanti, di Daegu."
"Bolehkah saya dan Jaehyunie bergabung nanti?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan kaget, tapi kemudian mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu, keduanya kembali di landa kebisuan. Banyak hal yang mereka pikirkan sepertinya.
"Oh ya! Chanyeol-ssi!" panggil Baekhyun kemudian. Memaksa Chanyeol kembali menatapnya.
"Nde."
"Tadi anda ingin minta tolong apa pada saya?"
"Hmm." Mata Chanyeol membulat kaget, sebelum kemudian menggaruk pelan kepala belakangnya yang tak gatal.
Haruskah dia jujur dengan mengatakan dia ingin meminta bantuan Baekhyun untuk membatalkan kencan butanya kali ini? Hah!
Chanyeol meringis memamerkan giginya, dia bingung harus menjawab apa.
"Bukan sesuatu yang penting. Ehehehehe..."
Baekhyun mengangguk-angguk. Ada kelegaan di mata Chanyeol saat Baekhyun menjawab pertanyaannya dengan anggukan mengerti. Setidaknya, dia tak harus mencari alasan lainnya.
"Anda yakin?"
Chanyeol menelan ludahnya susah payah. Kemudian mengangguk memastikan. Namun setelah itu, dia memilih untuk berkata jujur pada Baekhyun.
"Sebenarnya tadi saya ingin meminta bantuan anda untuk menggagalkan acara ini."
Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya, tapi kemudian dia tersenyum kecil.
"Anda pasti merasa tak nyaman dengan semua ini ya Chanyeol-ssi?" Chanyeol mengangguk ragu.
"Kalau boleh jujur, saya sebenarnya juga merasakan hal itu. Sudah beberapa kali kakak sepupu saya mengatur acara kencan buta untuk saya, tapi semua gagal. Beberapa dari mereka menganggap saya terlalu kaku sebagai wanita. Yang terakhir kemarin bahkan menganggap saya janda, karena saat itu saya membawa Jaehyun."
"Benarkah? Sampai ada yang menyangka anda janda karena membawa Jaehyunie?"
Baekhyun tersenyum tipis. Lalu mengangguk pelan.
"Hari itu, saat kita bertemu di Bollero cafe, sebenarnya saya ada janji kencan buta."
Chanyeol menatap Baekhyun tak enak. Bisa jadi karena anaknya, Baekhyun gagal lagi dengan kencan butanya.
"Seharusnya saya membawa Jaehyun saat itu." Ujarnya penuh sesal.
Baekhyun terkekeh pelan.
"Jangan bicara seperti itu, semua yang terjadi saat itu karena Tuhan mengatur dan menghendakinya begitu. Saya percaya akan janji Tuhan. Semua yang saya alami, dulu, hari ini dan nanti adalah bagian dari rencana indahNya untuk saya. Tidak ada yang harus di sesali."
"Tapi seandainya saat itu Jae..."
"Saya tak biasa berandai-andai." Baekhyun menunduk, terdengar hembusan kecil nafasnya, kemudian tatapannya di lempar ke depan, pada tanah berumput yang terpapar dihadapannya.
Chanyeol mengalihkan tatapannya pada gadis cantik itu.
Jujur saja, saat tadi melihat Baekhyun di depan restoran itu, selain perasaan lega, Chanyeol juga merasakan sesuatu yang lain dihatinya. Baekhyun terlihat mempesona hari ini. Ehm... Bukan hari ini saja, tapi sebelum-sebelumnya juga seperti itu biasanya.
Gadis itu benar-benar baik.
"Sudah malam. Mari pulang!" Baekhyun tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Chanyeol menatap kaget Baekhyun.
"Baekhyun-ssi!"
Baekhyun menoleh pada Chanyeol.
"Apakah anda tak keberatan, kalau kencan ini nantinya berlanjut?"
.
.
.
"Sayang aku tak melihat Baekhyunie, dimana dia?" tanya Hankyung pada istrinya, sejak pulang beberapa jam yang lalu, dia tak mendapati Baekhyun. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benaknya.
Namun sepertinya, Hankyung harus puas dengan sikap Heechul yang seakan acuh padanya.
Wanita yang dinikahinya sepuluh tahun yang lalu itu, kini duduk bersimpuh dihadapan patung bunda Maria dengan kedua tangan tertangkup di dada dan kalung rosario tergenggam di sela genggaman kedua tangannya itu.
Heechul tampak takzim memanjatkan doa.
Rasa penasaran Hankyung akan ketiaadaan Baekhyun di rumah ini, berubah menjadi rasa penasaran luar biasa atas tindakan istrinya itu.
Dia mengenal baik Heechul, wanita itu tak pernah masuk gereja, kecuali di hari pernikahan mereka waktu itu. Bahkan Heechul tak percaya kalau Tuhan itu ada. Lalu, ketika sekarang dia disuguhi pemandangan istrinya yang tengah berdoa seperti ini, apa tidak aneh?
Hankyung menunggu Heechul selesai berdoa dengan duduk memperhatikan istrinya itu dari pinggir ranjang, dia duduk diam disana, sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk.
Hingga sekitar lima menit kemudian, Heechul berbalik dan tersenyum sangat manis padanya.
Perasaannya sedikit aneh. Ada apa?
"Pertama-tama, aku ingin meminta maaf padamu Hannie."
Hankyung mengerutkan dahinya. Kalau Heechul bersikap semanis ini, berarti ada kesalahan yang dilakukan istrinya itu.
"Ada apa?"
"Maaf sudah melanggar janjiku saat itu." Heechul duduk di samping Hankyung dan menggenggam tangan suaminya erat.
"Janji yang mana?" hati Hankyung semakin terasa tak nyaman.
"Janji untuk tak mengatur kencan buta untuk Baekkie lagi." Heechul menatap suaminya dengan tatapan memelas. Berharap Hankyung tak marah.
Pria berdarah China itu menatap Heechul dalam, kemudian menghembuskan nafasnya berat.
"Apalagi yang kau harapkan dari kencan yang kau atur untuknya hari ini?" tanya Hankyung datar, sedatar jalan tol.
Hal ini yang membuat Heechul tak nyaman.
"Pria yang ku kenalkan pada Baekkie hari ini, dia sepupu Jaejoongie."
"Apa jaminan kalau pria itu bisa menerima baik Baekhyunie? Kau yakin pria itu tak akan mencari alasan untuk kemudian menjauhi Baekkie?"
Heechul menundukkan kepalanya, kedua tangannya kini memainkan ujung bajunya. Jaejoong menjamin sepupunya tak akan menolak, tapi...
"Aku percaya padamu sayang, percaya kau tak lagi akan mengulang kebodohan yang sama berulang kali. Tapi nyatanya kau masih sama. Kenapa? Kenapa kau melakukan hal ini? Tidakkah kau memikirkan perasaannya? Kalau kau jadi dia, apa kau mau diperlakukan seperti itu? Kenapa tidak kau biarkan dia memutuskan sendiri apa yang ingin dia lakukan?"
"Hannie!"
"Kau tak memikirkan perasaannya saat kau menyuruhnya melakukan ini dan itu."
"Aku ingin melihat dia bahagia dengan pria baik-baik yang akan menjadi pendampingnya."
"Baik? Lalu apa semua pria yang kau kenalkan padanya itu sudah sangat baik? Berapa kali dia harus menahan diri untuk tidak marah setelah penolakan demi penolakan yang dilakukan pria-pria itu? Pria yang mengatakan dia kaku dan banyak lagi alasananya. Jangan karena dia diam, lalu kau berpikir dia baik-baik saja. Kenapa kau tak bisa memikirkan kepentingannya? Katakan kali ini adalah sepupu Jaejoong, lalu apa jaminannya dia akan menerima Baekhyunie? Hah!"
"Hannie!" suara Heechul terdengar bergetar.
"Aku tahu kau menyayanginya, kau ingin yang terbaik untuknya, tapi tak bisakah kau membiarkan dia memilih ingin bahagia dengan cara bagaimana? Baekhyunie sudah dewasa Heechul-ah. Kau tak perlu banyak mengatur hidupnya. Atau sebenarnya, kau sudah bosan dia tinggal disini bersama kita?"
Heechul menatap Hankyung dengan mata berkaca-kaca dan gelengan kuat. Dia tak berpikir kesitu, dia hanya ingin Baekhyun merasakan indahnya berbagi dengan seseorang yang mencintai dan dicintainya.
"Aku..."
Ting... Tong...
Pasangan suami istri itu saling menatap. Heechul berdiri dari duduknya, menghapus kasar air yang menggenang di pelupuk matanya, kemudian keluar kamar dengan diikuti Hankyung.
Klek
"Annyeonghasimhika!" Chanyeol membungkuk sopan pada Heechul dan Hankyung. Di sampingnya, ada Baekhyun.
Hankyung dan Heechul membalas sapaan Chanyeol dengan senyum tegang. Selama merawat Baekhyun pasca kepergian kedua orang tua gadis itu, baru kali ini ada pria yang mengantar Baekhyun pulang sampai di depan pintu rumah mereka.
"Nde." Balas Heechul.
"Park Chanyeol imnida. Saya sepupu dari Kim Jaejoong."
"Omo." Heechul menutup mulutnya tak percaya.
Chanyeol mengembangkan senyum lebarnya, sebelum kemudian menyalami kedua kakak sepupu Baekhyun bergantian.
"Bagapseumnida." Ujarnya sopan.
"Ah ya! Mari silahkan masuk Chanyeol-ssi!" Hankyung berujar mempersilahkan.
"Mungkin lain kali Hankyung-ssi. Saya hanya mengantar Baekhyun-ssi."
"Tidak duduk dulu?" Heechul berusaha meyakinkan.
Chanyeol menggeleng pelan.
"Tidak, terima Kasih Heechul-ssi. Maaf memulangkan Baekhyun-ssi selarut ini. Sebenarnya, tadi dia sudah melarang saya turun, tapi rasanya tak sopan kalau saya langsung pulang tanpa mengatakan apapun pada anda berdua."
Hankyung mengangguk mengerti, senyumnya terkembang dengan tipis. Lain halnya dengan Baekhyun, gadis mungil berkulit putih yang sejak tadi hanya menjadi pendengar percakapan itu, kini mengalihkan tatapannya pada Chanyeol. Kenapa jadi dia yang terkesan bersalah disini?
"Baiklah! Saya permisi. Sekali lagi senang bertemu dengan anda berdua." Chanyeol tersenyum ramah, mengabaikan Baekhyun yang masih menatapnya. Pria itu kemudian membungkuk sopan.
"Tolong pikirkan apa yang saya katakan tadi Baekhyun-ssi. Saya permisi." Lanjutnya sambil menepuk lengan Baekhyun sebelum meninggalkan rumah Hankyung dan Heechul.
Begitu Chanyeol masuk mobilnya, Heechul langsung menggandeng tangan Baekhyun dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan Hankyung.
"Katakan pada eonni, bagaimana kencan kalian tadi?" tanya Heechul yang masih diliputi rasa penasaran.
"Bagaimana apanya? Eonni menyiapkan makan malam yang super romantis, kami melewatinya, setelah itu kami jalan-jalan ke taman."
Heechul terlihat tak puas dengan jawaban Baekhyun.
"Yang di maksud Chanyeol-ssi tadi apa? Apa yang dia katakan hingga kau harus memikirkannya?"
"Eonni tak perlu tahu." Sahut Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya dan berlalu dari hadapan Heechul.
"Ya Byun Baekhyun!" teriak Heechul keras. Namun sepupu cantiknya itu terlihat tak peduli dengan teriakannya itu.
Saat kakinya hendak menaiki tangga menyusul Baekhyun, Hankyung dengan sigap meraih pinggangnya.
"Tak bisakah kau menanyakan hal itu besok. Ini sudah malam, teriakan dan rasa ingin tahumu itu, membuat orang lain terganggu. Ayo kembali ke kamar!"
"Tapi Hannie."
"Kali ini saja, tak bisakah kau menuruti apa yang ku katakan Kim Heechul!"
Heechul menatap Hankyung dengan nyalu menciut seketika. Pada akhirnya, dia mematuhi apa yang dikatakan Hankyung. Menyimpan rasa penasarannya di hati dan ikut Hankyung kembali ke kamar.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Baekhyun duduk di pinggir ranjang sambil menunduk. Masih memperhatikan sneaker yang dipakainya saat ini.
Betapa manis kejadian beberapa waktu lalu, saat Chanyeol memakaikannya sepatu itu di kedua kakinya. Saat itu, dadanya berdebar kencang, hingga dia tak mampu mengatakan apapun.
Puas menatap sneaker itu, Baekhyun mengalihkan tatapannya pada meja nakasnya, matanya menatap foto kedua orangtuanya yang tersimpan rapi pada sebuah pigura.
"Appa, eomma! Apakah aku boleh menerima ajakannya?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Note : Terimakasih atas Cinta dan perhatian kalian di cerita ini.
Update dong thor! Ini update, maaf kalau lama... Kalau pulang ke kampung halaman, suka malas pegang gadget, Qtime bersama bapak ibu, soalnya gk tiap hari bisa pulang ke kampung halaman. #bow
Untuk yang tanya Love Is Never Wrong, maaf lagi, belum bisa update untuk ff yang itu #Bow
Apakah chap ini sesuai harapan kalian? Maaf kalau banyak kekurangan. #deepbow
Big love for you guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
