Learn To Loving You

.

.

.

05

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Chanyeol tengah sibuk memasukkan beberapa pakain Jaehyun ke dalam koper saat Jaejoong masuk ke dalam kamar kecil putranya itu, sepupu cantiknya itu langsung duduk di ranjang Jaehyun dengan mata yang terus mengikuti gerak geriknya.

"Nunna kenapa?" tanya Chanyeol, wajah Jaejoong terlihat murung saat ini.

"Kau yakin ke Daegu dengan Jaehyun tanpa mengajak kami?"

Chanyeol tersenyum kecil, nada suara Jaejoong yang sedang merajuk, persis seperti nada suara Jaehyun saat memintanya membelikan es krim. Sepupunya itu, terkadang tak menyadari umurnya yang hampir menginjak kepala empat.

"Bukan tak ingin mengajak kalian, tapi bukan aku yang memiliki acara ini nunna." Suara Chanyeol terdengar sangat lembut.

Sekilas dia melirik Jaejoong yang sekarang sudah mempoutkan bibir mungilnya.

"Nunna mau ikut?"

"Ani."

"Wae?"

"Aku tak mungkin menganggu kalian berdua Chanyeol-ah. Lagipula, Yunnie pasti tak akan mengijinkan aku pergi, minggu besok kami mau ke taman bermain dengan anak-anak."

"Lalu apa maksud nunna memasang wajah murung seperti itu?"

"Eopso. Siapa tahu kau akan mengurungkan niatmu lalu kemudian kau memutuskan untuk ikut kami ke taman bermain."

Chanyeol benar-benar dibuat takjub dengan tingkah ajaib sepupu cantiknya itu. Dengan senyum tipis yang terpatri di bibirnya, Chanyeol mendekati Jaejoong, lalu memeluk Jaejoong dari samping.

"Terimakasih sudah sangat baik padaku nunna. Terimakasih untuk semua cinta dan sayangmu pada kami. Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku tanpa kalian. Ya... walau harus aku akui, kadang kita sering bertengkar karena kekeraskepalaan kita. Tapi... lebih dari semua itu, aku menyayangimu nunna."

Mata Jaejoong berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan Chanyeol padanya. Dan ketika Chanyeol mengecup singkat pipinya, airmatanya jatuh.

"Aku juga menyayangimu, menyayangi Jaehyun dan kalian semua. Meski kadang kalian membuatku sangat jengkel."

Chanyeol tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada Jaejoong.

"Hati-hati di Daegu. Kau harus menjaga Jaehyunie dengan sangat baik. Sampaikan salam nunna untuk Baekhyun-ssi. Hah! Bukankah dia seharusnya menyapaku Chanyeol-ah?"

"Apakah harus?"

"Ya! Apa maksudmu?" Jaejoong melirik sinis sepupunya itu. Chanyeol tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.

"Nanti aku akan membawanya pada kalian."

"Kapan?"

"Nanti kalau dia sudah menjawab ajakanku untuk melanjutkan kencan ini."

"Tunggu dulu, dia belum menerima ajakan kencanmu? Lalu ini apa? Ehm... dalam rangka apa? Aku pikir, kau ikut dengannya karena hubungan kalian sudah berlanjut. Lalu..." Jaejoong menghempaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya. Lalu dia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sepupunya, raut wajahnya menyiratkan rasa penasaran.

"Dia tak menolak nunna, tapi juga belum memberi jawaban atas pertanyaanku. Ehm... mungkin dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya."

"Berarti, kebahagiaanku saat itu, setelah kalian menjalani kencan buta itu, hanya kebahagiaan semu? Kalau dia menolak bagaimana?"

Chanyeol menautkan alisnya.

"Kenapa kau bicara seperti itu nunna? Kau seolah menyumpahi adikmu ini agar gagal lagi."

"Ya! Tentu tak seperti itu pabbo. Aku hanya takut kalau ternyat..."

"Ssssstttt! Sudah! Kau tak perlu melanjutkannya. Aku harus pergi ke stasiun sekarang. Jangan menelpon sambil menangis, nanti kalau aku sampai disana, aku akan mengabarimu. Ok cantik!"

Jaejoong kembali mempoutkan bibirnya. Dia memang sering melakukannya, kalau Chanyeol tugas lama di luar negeri, dia pasti akan menangis sambil menelpon adik sepupunya itu, bukan apa-apa, semua itu semata karena rasa rindunya.

Hubungan Chanyeol dan Jaejoong memang sedikit unik. Sama-sama keras kepala dan bermulut pedas, keduanya tak jarang terlibat pertengkaran. Tapi, kalaupun sampai marah hingga berujung pada keadaan saling mendiamkan, meski Jaejoong tak bersalah, dia yang akan meminta maaf lebih dulu. Chanyeol betah untuk urusan mendiamkan kakak sepupunya itu.

"Sekali lagi hati-hati disana. Jaga Jaehyunie, kalau sampai dia kenapa-napa, aku tak akan segan mengulitimu." Ujar Jaejoong kejam sambil melangkah keluar dari kamar Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lebar sambil mengikuti langkah Jaejoong keluar dari kamar.

Setelah sekali lagi berpamitan, Chanyeol dan Jaehyun di lepas Jaejoong dengan lelehan airmata. Ibu-ibu yang satu ini memang agak berlebihan kalau menyangkut kedua orang itu.

"Boo, uljimma. Mereka hanya pergi dua hari, perginya ke Daegu, bukan ke Gaza. Kenapa kau seperti ini?"

"Jaehyunie baru pertama kali ini pergi tanpa kita, kalau terjadi apa-apa dengannya, bagaimana?"

"Ya Tuhan eonni! Jaehyun pergi dengan ayahnya sendiri, kalau terjadi apa-apa, 'kan ada ayahnya." Kyuhyun memutar malas bola matanya.

"Kau tak akan mengerti sampai kau memiliki anak sendiri nanti Kyunie. Aku yakin kau akan lebih parah dariku. Hah! Aku mau pulang saja Bear." Jaejoong melangkah kesal.

"Yess Miss!"

.

.

.

Sementara itu, di stasiun Seoul, Baekhyun beberapa kali melirik cemas jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapam lewat empat puluh menit. Seharusnya Chanyeol dan Jaehyun sudah tiba sekarang, tapi tanda-tanda keduanya akan segera datang tak terlihat sama sekali. Baekhyun bahkan sudah menghubungi Chanyeol, tapi pria itu tak mengangkat telponnya atau pun membalas pesan singkatnya.

"Bagaimana?" tanya Kyungsoo. Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Kyungsoo, lalu menggeleng pelan.

"Kereta kita mau berangkat sekarang, bagaimana?"

Baekhyun terlihat memainkan tangannya, sangat jelas kalau saat ini dia sedang dilanda kecemasan.

"Aku berangkat dengan kereta berikutnya saja, sepertinya Chan..."

"Imo!"

Baekhyun memutar tubuhnya, matanya menangkap sosok kecil Jaehyun yang berlari ke arahnya. Di belakangnya Chanyeol terlihat melangkah cepat sambil menyeret koper dan menenteng tasnya.

Lega!

Baekhyun bernafas dengan lega, segera dia menggendong Jaehyun, lalu melangkah masuk ke dalam kereta diikuti Kyungsoo dan Chanyeol di belakangnya.

Posisi duduk mereka sejajar, dengan Kyungsoo dan Jongin di sebelah kanan, sedang Baekhyun serta Jaehyun dan Chanyeol duduk di deretan kursi sebelah kiri. Setelah menyimpan tas dan kopernya, Chanyeol duduk menjajari Baekhyun yang sudah memangku Jaehyun.

"Anda tak membawa ponsel?" tanya Baekhyun begitu Chanyeol duduk di sampingnya.

"Bawa. Kenapa?" jawab Chanyeol sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Matanya membulat kaget saat memeriksa ponselnya dan mendapati lima belas panggilan tak terjawab dari Baekhyun serta sekitar tujuh pesan singkat yang belum terbaca, dari nomor Baekhyun juga.

Menyadari kesalahannya, Chanyeol tersenyum canggung sambil menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tak gatal.

"Mian. Kebiasaan kalau tidur malam, ponsel selalu dalam mode senyap. Tadi pagi belum sempat menggantinya."

Baekhyun melirik Chanyeol sekilas, lalu kembali memilih bermain dengan Jaehyun.

Tak berapa lama kereta mulai berjalan. Jaehyun tampak antusias dengan pengalaman barunya itu. Bibir mungil bocah lima tahun itu berceleloteh riang. Banyak pertanyaan yang diajukan bocah itu, dengan sabar Baekhyun menjawab dan memberi penjelasan pada Jaehyun dengan bahasa yang sangat mudah di mengerti bocah itu.

Keseruan yang tercipta antara Baekhyun dan Jaehyun itu, tak dirasakan Chanyeol. Perasaannya mengatakan Baekhyun marah padanya. Dia ingin bicara, tapi selalu kalah dengan suara cempreng Jaehyun yang sibuk bertanya dengan penuh semangat pada Baekhyun.

Chanyeol memilih diam menunggu kemudian.

Dan ternyata, Jaehyun tetaplah anak kecil yang kebutuhan tidurnya lebih banyak daripada orang dewasa. Berselang setengah jam kemudian, Jaehyun sudah jatuh terkulai dalam pelukan Baekhyun.

Kesempatan itu tak di lewatkan Chanyeol begitu saja. Dengan memberanikan dirinya, dia menyentuh tangan kanan Baekhyun dengan tangan kirinya. Gadis itu tersentak kaget, hingga dia langsung mengalihkan tatapannya pada Chanyeol.

"Anda marah pada saya?" tanya Chanyeol lirih. Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya.

"Saya tak memiliki hak untuk marah pada anda. Saya hanya merasa sedikit kecewa." Baekhyun menarik pelan tangannya dari genggaman Chanyeol. Dia lebih memilih melingkarkan tangannya ke tubuh kecil Jaehyun.

"Sekali lagi saya minta maaf." Lanjut Chanyeol dengan penuh rasa bersalah.

"Gwaenchana. Anda tak perlu melakukan hal itu." Baekhyun menyandarkan kepalanya, tatapan matanya dia lempar keluar jendela.

"Baekhyun-ssi!"

Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol. Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu cukup lama, sekitar lima menit. Dan dalam waktu selama itu, dalam hati Chanyeol semakin menganggumi gadis itu.

"Maaf sudah membuat anda merasa sedikit kecewa."

.

.

.

Sekitar pukul setengah dua belas, rombongan Baekhyun tiba di panti asuhan Sun Flower. Sambutan hangat di terima Baekhyun, Kyungsoo dan Jongin yang memang sudah sering datang ke tempat itu. Tak hanya kepala panti dan pengurus yang menyambut mereka hangat, tapi juga anak-anak yang di rawat disana, yang jumlahnya sekitar seratus.

"Jongin-ah! Dia siapa?" tanya kepala panti itu.

Jongin yang sibuk melayani beberapa anak yang memeluknya, menoleh pada wanita paruh baya yang sudah mengabdikan dirinya di panti asuhan itu selama kurang lebih dua puluh lima tahun. Lalu kemudian, Jongin mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang sedang menggendong Jaehyun.

Jongin kemudian mendekati perempuan yang memiliki nama Park Jungsoo itu, sambil tersenyum dia berbisik.

"Dia calon suami Baekhyunie, ahjumma."

Jungsoo menatap Jongin kaget sekaligus tak percaya. Jongin mengangguk demi meyakinkan Jungsoo.

"Chanyeol-ssi! Kemarilah!" Jongin berseru memanggil Chanyeol.

Pria tinggi berambut ikal itu melangkah mendekati Jongin dan Jungsoo.

"Kenalkan, beliau ini kepala panti asuhan ini."

Chanyeol tersenyum dan membungkuk sopan.

"Park Chanyeol imnida."

Jungsoo tersenyum ramah lalu ikut memperkenalkan dirinya.

"Park Jungsoo imnida. Senang melihat anda Chanyeol-ssi."

"Saya juga demikian. Senang bisa bertemu dengan anda."

"Aigo! Siapa ini?" tanya Jungsoo sambil menyentuh Jaehyun.

Sentuhan itu ditepis oleh bocah lima tahun itu. Dengan gerakan cepat, bocah berambut jamur itu memalingkan kepalanya, memyembunyikannya di bahu sang ayah.

"Maaf, dia memang tak serta merta merasa nyaman di pertemuan pertama."

Jungsoo tersenyum maklum.

"Beberapa anak kecil memang begitu biasanya. Mari masuk! Anak-anak selalu bersemangat bila Baekhyuni dan yang lain mengunjungi mereka disini."

Chanyeol tersenyum mengerti, dia kemudian melangkah masuk mengikuti Jungsoo. Baekhyun dan Kyungsoo sudah di seret entah kemana oleh anak-anak. Jongin dan satu temannya yang lain, mendapat tugas untuk merapikan koper ataupun tas yang mereka bawa tadi.

Sebenarnya Chanyeol merasa tak enak, tapi tadi, dengan isyarat matanya Jongin seolah mengatakan 'tak apa-apa, anda masuk saja.'

Alhasil, dia mengikuti kepala panti itu hingga ke ruang makan.

Begitu sampai ke ruang makan dan melihat Baekhyun duduk di antara anak-anak berbeda usia itu, Jaehyun merosot turun dari gendongan Chanyeol, lalu memilih menghampiri Baekhyun.

Begitu tiba di dekat Baekhyun, Jaehyun mendorong kasar bocah berumuh tujuh tahun yang sedang bercerita di hadapan Baekhyun, hingga bocah itu terjungkal. Tak ada yang menyangka Jaehyun bisa melakukan hal sekasar itu. Baekhyun syok dengan tindakan Jaehyun itu, tapi hanya sesaat sebelum dia mendudukkan Jaehyun di lantai dan menolong bocah tujuh tahun yang terlentang di lantai itu.

"Jaehyunie!" seru Chanyeol.

"Dooyoung-ah gwaenchana?" bocah itu menggeleng pelan.

Chanyeol menarik Jaehyun, membawanya sedikit jauh dari Baekhyun dan Dooyoung.

"Appa sudah mengatakan padamu, jangan kasar pada teman. Kenapa kau mendorong hyung tadi?" Jaehyun menunduk di hadapan Chanyeol.

Baekhyun berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Chanyeol.

"Tolong biarkan saya yang memberi pengertian padanya."

Chanyeol menatap Baekhyun, gadis itu tak mengatakan hal lain, hanya tangannya meraih tangan mungil Jaehyun, lalu menghelanya ke tempat tadi Jaehyun mendorong Dooyoung.

"Jaehyunie duduk!" perintahnya tegas.

Jaehyun menunduk dalam tapi menuruti apa yang di perintahkan Baekhyun padanya. Bocah itu duduk di hadapan Baekhyun, bersebelahan dengan Dooyoung.

"Imo akan bertanya dan Jaehyunie harus menjawabnya dengan jujur. Jaehyuni pernah di dorong teman Jaehyuni di sekolah sampai jatuh?"

"Pernah?"

"Sakit?"

"Nde."

"Jaehyunie tahu kalau di dorong sampai jatuh itu sakit, kenapa Jaehyunie mendorong Dooyoung hyung tadi?"

Jaehyun mendongakkan kepalanya. Lalu menatap Baekhyun kemudian beralih pada Dooyoung.

"Jaehyunie tidak suka hyung dekat-dekat dengan imo. Imo cantik punya Jaehyunie, bukan punya hyung!" wajah Jaehyun memerah menahan tangisnya ketika dia menyerukan ketidaksukaannya terhadap sikap Dooyoung tadi.

Jawaban itu jelas membuat kaget orang dewasa yang berada di ruangan itu. Jangankan Jaehyun, beberapa anak di panti asuhan ini juga sering dibuat cemburu dengan kedekatan Baekhyun dengan Dooyoung.

Baekhyun meraih tangan Jaehyun, lalu menggenggam erat tangan kecil itu.

"Jaehyunie dengarkan imo baik-baik. Imo menyayangi Jaehyunie, sangat menyayangi Jaehyunie, rasa sayang imo ke Jaehyunie, sama besarnya dengan rasa sayang yang imo miliki untuk Dooyoung hyung. Dooyoung hyung ini adalah saudara Jaehyunie, semua yang ada disini adalah saudara Jaehyunie. Sebagai saudara, kita harus berbagi dan tak boleh saling menyakiti. Dan karena tadi Jaehyunie sudah menyakiti Dooyoung hyung, itu artinya?"

Jaehyun menatap ragu Baekhyun.

"Jaehyunie bersalah."

"Kalau bersalah kita harus?"

"Meminta maaf."

Baekhyun tersenyum lembut dan mengangguk kecil.

Jaehyun melepas pelan genggaman tangan Baekhyun, lalu dia berdiri di hadapan Dooyoung.

"Hyung! Aku minta maaf nde. Hyung mau memaafkanku 'kan?" Jaehyun menatap Dooyoung polos. Senyumnya diumbar lebar meski Dooyoung belum menjawab permintaan maafnya.

Bocah tujuh tahun itu masih menatap Jaehyun, tanpa mengatakan apapun.

"Dooyoung-ah! Kalau ada teman minta maaf, kita harus?" suara Baekhyun kembali terdengar

"Memaafkan."

"Jadi?"

"Nde. Aku memaafkanmu, Jaehyunie. Tapi jangan diulangi lagi, ini sakit. Lihat sikunya merahkan?"

Jaehyun duduk dan memperhatikan siku Dooyoung yang memerah.

"Apa ini sakit hyung?"

"Nde."

Jaehyun menatap polos Dooyoung, lalu dengan tak kalah polos dia meniup pelan luka memar di siku Dooyoung.

Baekhyun tersenyum lebar dan menatap gemas Jaehyun. Tak bisa menahan rasa gemasnya, Baekhyun menarik Jaehyun dan memangkunya, sebelum kemudian dia menghadiahi Jaehyun dengan ciuman di sekitar wajahnya. Tak mau kalah, Dooyoung ikut bergabung dengan Baekhyun, menciumi dan menggelitiki gemas Jaehyun. Derai tawa Jaehyun terdengar nyaring di ruangan itu.

Hati Chanyeol menghangat seketika melihat pemandangan itu.

"Dia selalu punya cara sendiri untuk membuat anak-anak mencintainya."

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Jongin yang baru berujar lirih padanya. Jongin membalas tatapan Chanyeol lalu mengangguk pelan. Kemudian dengan sok akrab, dia menepuk pelan bahu Chanyeol sebelum meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Acara mereka berlanjut sore hari, setelah penghuni panti selesai membersihkan lingkungan sekitar panti.

Jaehyun tampaknya cukup dapat bergaul dengan baik. Bocah itu berlarian kesana kemari dengan anak-anak yang lainnya. Saat ini, di lapangan belakang panti, mereka sedang melakuka permainan kejar-kejaran, entah apa namanya. Yang berjaga di tutup matanya, sedang lain berlarian kesana kemari menghidari tangan si penjaga yang berusaha meraih mereka. Dan saat ini, yang menjadi penjaganya adalah Chanyeol.

Bila anak-anak dan dan sukarelawan pria sedang memainkan permainan itu, maka pengurus panti dan relawan perempuan hanya memberikan semangat dari pinggir lapangan. Sorak sorai mereka terdengar riuh.

Di tengah lapangan, Chanyeol dengan mata tertutupnya terlihat masih berusaha memusatkan konsetrasinya demi bisa menangkap salah satu dari anak-anak atau siapapun itu. Suara yang di dengarnya begitu riuh, hingga konsentrasinya terpecah keman-mana. Namun sejurus kemudian, suara nyaring putra tunggalnya dapat di tangkapnya jelas.

"Appa!" jerit Jaehyun yang langsung menarik perhatian Chanyeol. Pria itu melangkah mengikuti suara anaknya.

"Appa kesini!" sekali lagi Chanyeol mendengar suara anaknya, sepertinya sudah sangat dekat. Dia melangkah semakin maju.

"Appa terus maju." Chanyeol mengikuti perintah anaknya, sampai kemudian dia meraih sesuatu.

Suara Jaehyun tak terdengar lagi di telinga. Cukup aneh, dia sudah berhasil menangkap mangsanya, tapi sepertinya... Chanyeol membuka penutup matanya. Dan betapa terkejutnya dia saat matanya beradu dengan mata Baekhyun. Yang dia tangkap ternyata bukan Jaehyun, tapi Baekhyun.

"Yeeeaaaayyyyy!" suara Jaehyun terdengar nyaring, di sudut lain lapangan itu, bocah berusia lima tahun itu tengah adu tos dengan Jongin dan Dooyoung.

"Cha-chanyeol-ssi! Bi-bisa anda lepaskan saya?"

Chanyeol terkejut, dia baru sadar kalau dia masih merangkul Baekhyun saat tatapannya teralih karena pekikan anaknya. Dengan kikuk, Chanyeol melepaskan tangannya dari pinggang Baekhyun.

Baekhyun yang merasa malu hendak pergi dari lapangan itu, tapi Jongin berhasil menangkapnya.

"Kau mau kemana?"

"Aku akan membantu suster Seo membuat makan malam."

"Jalani dulu hukumanmu."

"Hukuman apa? Aku tak ikut bermain Jongin-ah."

"Tapi kenyataannya Chanyeol-ssi menangkapmu Baekhyunie."

Wajah Baekhyun terlihat semakin memerah. Tatapan memohon yang dia lempar untuk Jongin, tak diindahkan oleh pria yang mengaku temannya itu.

Bukan menolong, Jongin justru semakin membuatnya malu dengan menggandengnya sampai ke tengah lapangan. Menjadikannya pusat perhatian.

"Yeorobeun! Baekhyun-ssi tadi memang tak ikut permainan kita, tapi Chanyeol-ssi tadi menangkapnya, seharusnya dia yang menggantikan Chanyeol-ssi berjaga bukan?" Jongin memulai orasinya.

"Nde." Sahut yang lainnya semangat.

"Tapi tadi dia ingin melarikan diri. Bagaimana kalau kita menghukumnya?"

"Setuju!" teriak yang lainnya lagi.

"Jongin-ah apa kau gila?" protes Baekhyun dengan suara tertahan. Mengabaikan Baekhyun, Jongin melanjutkan orasinya.

"Apa hukuman yang pantas untuknya? Melakukan aegyo atau..."

"Melakukan aegyo!" yang lainnya kembali menyahut dengan penuh semangat.

"Jongin-ssi!"

Jongin memberi isyarat Chanyeol untuk diam.

"Anda duduk disana Chanyeol-ssi, jangan berusaha melindunginya. Biarkan dia menjalani hukumannya."

"Jongin-ah! Kau tahu aku tak pernah melakukan hal itu, jadi..." Baekhyun memasang wajah memelasnya. Memohon pada Jongin. Tapi memang dasarnya Jongin yang sangat jahil, bukan menolong, pria itu justru semakin membuatnya malu dengan penolakannya.

"Kau pasti bisa melakukannya. Hwaiting Baekhyunie!"

Baekhyun berdiri kaku di tengah lapangan. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. aegyo? Dia tak pernah melakukannya di hadapan orang sebanyak ini. Lalu...

"Baekhyunie! Baekhyunie! Baekhyunie!"

Baekhyun semakin bingung setelah mendengar suara tepuk tangan berirama dengan namanya yang terus di panggil.

Ok!

Sudah kepalang tanggung, dia sudah sangat malu dengan insiden pelukan tak sengaja yang dilakukan Chanyeol. Sekarang dia akan melakukan aegyo.

Sebelum melakukan hal itu, Baekhyun terlebih dahulu mengatur nafasnya, lalu dia sempat memberi tatapan membunuh pada Jongin, yang tersenyum di pinggir lapangan, di samping Chanyeol yang sedang memangku Jaehyun. Herannya, kalau tadi saat permainan kejar-kejaran mereka membentuk lingkaran. Kali ini, semua menunggu hukuman Baekhyun hanya pada satu sisi saja. Di sisi sebelah kanan, di belakang dan samping kanan kiri posisi duduk Chanyeol dan Jongin.

Baekhyun membuang nafasnya kali ini. kemudian dia mulai mengambil ancang-ancang untuk memulai aegyonya.

"Itjanha naega hal mari isseo." Baekhyun memulai aegyonya dengan bait pertama dari lagu untuk aegyo yang cukup terkenal di negaranya ini. Lembutnya mampu menyihir yang melihatnya. Tangannya di gerakkan dengan menyilang di dada terlebih dahulu, lalu dibuka lebar.

"Itjana naega neoreul joahae." Lanjutnya dengan gerakan yang sama.

"Imankeum." Kali ini Baekhyun membentuk love sign dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya.

"Imankeum." Dan sekarang membentuk love sign dengan jari-jari di tangan kirinya.

"Imankeum." Baekhyun mengganti gerakannya dengan meletakkan tangan kanannya di atas kepalanya.

"Imankeum." Di susul kemudian dengan tangan kirinya yang juga dia letakkan di atas kepalanya, hingga sekarang kedua lengannya membentuk love sign.

"Naega neoreul joahae." Baekhyun mengakhiri nyanyiannya dengan melakukan gerakan seperti dia awal tadi, namun diakhir lagu, dia menambahkan gerakan seperti menembak ke arah depan, tak lupa dengan memamerkan winknya. "Thak.. thak!"

"Whoooaaaaaaaa!" pekik semua yang ada di lapangan itu senang. Tak terkecuali Chanyeol, Baekhyun terlihat menggemaskan dengan gerakan di setiap bait lagu yang dinyanyikannya. Dan lagi-lagi, debaran tak beraturan menyapa dadanya.

Lain halnya dengan Baekhyun, begitu lagu selesai dan mendapatkan sorak sorai dari mereka semua yang hadir disana, rasa malunya kembali muncul. Ini pengalaman pertama yang memalukan menurutnya. Dengan menutup wajahnya, Baekhyun berlari meninggalkan tempat itu.

Dia sangat malu!

.

.

.

Baekhyun melangkah menyusuri area taman belakang panti dengan secangkir coklat hangat di tangannya.

Setelah sore tadi dibuat malu oleh Jongin, hal itu ternyata tak berlangsung lama. Karena beberapa jam lalu, suasana kembali normal. Malam ini, dia mendapatkan giliran membacakan dongeng pengantar tidur untuk anak-anak. Mungkin terdengar sepele, tapi nyatanya hal itu sangat sulit untuk di terapkan. Baekhyun harus berjuang membuat mereka tidur pulas selama dua jam. Yang membuat senyumnya melebar adalah bagaimana Dooyoung memeluk Jaehyun malam ini. Dua bocah yang tadi siang sempat bersitegang, malam ini terlihat akur dengan saling berpelukan.

Dan sekarang, dia ingin mencari udara segar di belakang panti asuhan ini dengan berjalan-jalan kecil. Tapi baru beberapa saat melangkah, ada sesuatu yang membuatnya berhenti.

Dari tempatnya berdiri sekarang, dia melihat Chanyeol tengah duduk di sebuah bangku sambil menatap langit.

Ehm... apa yang dilakukan pria itu? batinnya bertanya penasaran.

Baekhyun menimbang dalam hati, apakah dia perlu menemui Chanyeol? kalau dia menemui pria itu sekarang, apakah dia tak mengganggu? Tapi... ada sesuatu yang ingin dibahasnya dengan Chanyeol, kalau dia tak meneghampiri pria itu sekarang, kapan lagi dia akan mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan pria itu?

Dan setelah menimbang dengan cukup lama, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk mendekati Chanyeol.

"Mau coklat hangat?"

Chanyeol sedikit tersentak dengan kehadiran Baekhyun. Namun sebisa mungkin dia meninggalkan hal itu. Chanyeol tersenyum lalu mengambil cangkir berisi coklat hangat dari tangan Baekhyun.

"Gomawo." Sahut Chanyeol sambil menyeruput coklat hangat itu.

Baekhyun terhenyak di tempatnya. Sepertinya Chanyeol salah paham, dia tadi bermaksud menawarkan membuatkan coklat hangat untuk pria itu, bukan menawarkan coklay hangatnya untuk pria itu.

"Kenapa berdiri disitu? Duduklah!" Chanyeol menepuk tempat kosong di sampingnya.

Baekhyun mengangguk dan kemudian duduk, dengan hatinya yang masih merasa sedikit syok atas tindakan Chanyeol.

Pria itu terlihat santai dengan menyeruput bolak balik coklatnya, membuatnya harus menahan diri dengan hanya menelan ludahnya.

"Chanyeol-ssi!"

"Nde."

"Sebenarnya tadi saya menawarkan membuatkan coklat hangat untuk anda, bukan menawari anda coklat hangat saya."

Mata Chanyeol membulat kaget seketika, coklat yang baru akan masuk ke tenggorokannya tiba-tiba berhenti begitu saja, hingga membuatnya terbatuk seketika.

"Uhuks... uhuks... uhuks..."

Baekhyun mendekati Chanyeol dengan panik, seketika tangannya memijat punggung Chanyeol, demi meredakan batuk pria itu.

"Gwaenchana?" tanya Baekhyun khawatir.

"Uhuks... uhuks..." masih dengan terbatuk, Chanyeol mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Saya tak apa-apa." Lirihnya.

Chanyeol merasa cukup malu dengan kejujuran yang baru dikatakan Baekhyun. Ok! Katakan memang maksud Baekhyun seperti itu, tapi haruskah dikatakn sekarang? Saat dia masih menikmati minuman hangat itu. Dia sepertinya membutuhkan sesuatu untuk menyembungikan wajahnya yang sepertinya mulai memerah karena malu.

"Mian kalau kalimat saya tadi membuat anda tak nyaman Chanyeol-ssi."

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun. Gadis itu menatapnya dengan tatapan polosnya. Sumpah, kalau saja Baekhyun sudah menjadi kekasihnya saat ini, Chanyeol pasti akan langsung menghujani gadis itu dengan ciuman di bibirnya, tapi sayangnya, gadis itu belum menjawab pertanyaannya saat itu. Hingga dia cukup terpuaskan hanya dengan menelan ludah menahan gejolak di dadanya saja.

Chanyeol mengangguk pelan.

"Saya yang seharusnya meminta maaf, karena kelancangan saya ini." Chanyeol tersenyum menenangkan.

Suasana hening setelah itu, Chanyeol memilih mengalihkan tatapannya ke tempat lain sambil mengatur nafasnya. Tak berbeda jauh dengan Baekhyun yang sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Chanyeol, gadis itu juga memilih menatap ke tempat lain.

"Chanyeol-ssi!"

Baekhyun memberanikan diri membuka percakapan.

"Nde?"

"Saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

"Tentu. Apa yang ingin anda tanyakan?"

"Tentang ibu kandung Jaehyun."

Tatapan mata Chanyeol berubah. Dan Baekhyun menangkap perubahan itu.

"Tak apa kalau anda tak ingin menjawabnya. Saya tahu mungkin masih sulit bagi anda membagi kisah duka itu dengan saya yang bukan siapa-siapa."

"Apa yang ingin anda ketahui tentang ibu Jaehyunie."

"Semuanya."

Chanyeol menarik nafasnya pelan. Dia tak pernah membagi kisahnya dengan Seojong pada siapapun kecuali keluarga dekatnya saja. Menceritakan tentang Seojong, berarti dia harus siap dengan kemungkinan airmatanya akan meleleh. Tapi...

"Saya tak bermaksud ingin mengorek luka anda. Saya hanya ingin tahu seperti apa dia yang membuat anda akhirnya memutuskan untuk menikahinya."

"Dia wanita yang sangat baik, yang tak pernah bosan memamerkan senyumnya pada orang-orang di sekitarnya. Seojong selalu membawa energi tersendiri, yang membuat orang di sekitarnya bersemangat. Saya mengenalnya di bangku kuliah, kami berkencan setelah saya berhasil meyakinkannya bahwa dengan saya 'lah dia akan bahagia selamanya. Ehm... kami sangat bahagia ketika akhirnya kami menikah, lalu kebahagiaan itu semakin bertambah saat dia mulai mengandung Jaehyun. Tapi... Tuhan berkata lain dengan mengambilnya lebih dulu sebelum dia sempat melihat putra kami."

Baekhyun menatap Chanyeol. Bolehkah dia jujur? Mendengar cerita Chanyeol tentang ibu Jaehyun, membuatnya sedikit merasakan cemburu.

"Dia kecelakaan saat pulang setelah berbelanja untuk keperluan rumah baru kami saat itu. taksi yang di tumpanginya mengalami pecah ban, pengemudi tak bisa menguasai stirnya hingga kemudian taksi itu menghantam pembatas jalan sebelum akhirnya terguling di jalan raya. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di ambulance yang membawanya ke rumah sakit."

Baekhyun dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Chanyeol. Kehilangan seseorang yang banyak menghabiskan waktu untuk kita, memang sangatlah berat. Apalagi bila orang itu memiliki tempat khusus di hati kita, rasanya jauh lebih menyakitkan.

"Anda masih mencintainya sampai saat ini?"

Chanyeol kembali menatap Baekhyun. Ada sesuatu yang coba Baekhyun sampaikan padanya sepertinya, tapi apa?

"Bohong kalau saya mengatakan tak lagi mencintainya, karena kenyataannya, rindu akan kehadirannya masih sering menggelayuti benak saya. Tapi... saya cukup tahu dan mengerti, untuk kembali meraihnya, itu tak mungkin terjadi. Seojong adalah bagian dari masalalu yang paling indah untuk saya."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum mengerti.

"Kalau saya menerima ajakan anda untuk melanjutkan kencan itu, dimana tempat saya di hati anda. Sementara sepertinya, hati anda sudah terisi penuh dengan dia dan Jaehyunie."

Tatapan mata Chanyeol berubah gusar. Baekhyun menjebaknya dengan pertanyaan itu. Dia tak mampu menjawab pertanyaan itu. Hatinya bimbang.

Selama hampir satu bulan mengenal Baekhyun, gadis itu sangat baik pada putranya, hatinya juga sering berdebar bila sesekali mereka bertemu pandang. Tapi bila diberi pertanyaan seperti ini, dia tak tahu jawabannya.

Alasannya terbesarnya ingin melanjutkan hubungannya dengan Baekhyun adalah putranya. Jaehyun cukup nyaman dengan kehadiran Baekhyun di sisinya.

"Chanyeol-ssi! Saya sudah memikirkan hal ini matang-matang. Saya memikirkan segala resiko yang akan saya hadapi ketika saya memutuskan untuk memilih anda. Dari sekian banyak hal yang mungkin bisa saya minta pada anda, saya memutuskan untuk hanya meminta satu hal dari anda."

"Apa?"

"Ruang kecil di hati anda. Biarkan saya tinggal disana. Mari belajar saling menerima dan mencintai satu sama lain."

Chanyeol di buat terpaku dengan apa yang dikatakan Baekhyun padanya. Umur gadis itu lima tahun lebih muda darinya. Tapi pemikiran gadisn itu begitu dewasa.

"Saya sudah mengatakan apa yang ingin saya katakan pada anda. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ujar Baekhyun kemudian sambil berdiri dari duduknya.

Dia sudah hendak melangkah ketika Chanyeol mencekal pergelangan tangannya, lalu menyentaknya hingga tubuh Baekhyun sedikit goyah sebelum akhirnya bokong Baekhyun mendarat cantik di pangkuan Chanyeol.

Deg

Deg

Deg

Debaran jantung keduanya seoalah saling bersahutan saat ini. Posisi mereka saat ini, benar-benar membuat Baekhyun salah tingkah, dia ingin berdiri, tapi Chanyeol mencegahnya.

"Dari apa yang anda katakan tadi, apakah itu artinya kita mulai berkencan saat ini?"

Baekhyun tak berani menatap Chanyeol, tapi kepalanya mengangguk mengiyakan pertanyaan pria tinggi itu.

"Baekhyun-ssi!"

Baekhyun terpaksa menoleh, pada saat itulah ujung lancip hidungnya bersinggungan dengan ujung hidung Chanyeol. Tatapan mata keduanya kemudian saling beradu.

"Mari belajar saling menerima dan saling mencintai dalam keadaan apapun." Bisik Chanyeol, tangannya menggenggam tangan Baekhyun. Perlahan dia mendekatkan wajahnya, ingin rasanya menyentuh bibir tipis kekasihnya itu. Tapi melihat reaksi Baekhyun yang langsun menutup rapat mata sekaligus mulutnya, dia menjadi gemas sendiri dengan tingkah pasangannya ini.

Kalau dia tak salah, Jaejoong pernah mengatakan padanya bahwa Baekhyun tak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun sebelumnya. Jadi dia cukup memahami reaksi awam Baekhyun terhadap tindakannya.

Urung mendaratkan bibirnya di atas bibir kekasihnya, Chanyeol hanya menggesekkan ujung hidungnya kemudian.

Baekhyun membuka matanya dan menatap Chanyeol tak mengerti.

"Kenapa? Kau kecewa aku tak mencium bibirmu?" tanya Chanyeol blak-blakan. Wajah Baekhyun langsung bersemu merah. Gadis itu menggeleng lalu segera berdiri dari pangkuan Chanyeol.

Dia hendak kembali melangkah ketika sekali lagi Chanyeol mencekal pergelangan tangannya. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya, dengan gerakan tak terduga, dia menarik pinggang Baekhyun dan tanpa permisi langsung mencium lembut bibir gadis itu.

Ciuman itu tak berlangsung lama, hanya sebuah ciuman lembut yang singkat, tanpa lumatan, tapi sedikit sesapan kecil.

Chanyeol melepaskan bibir Baekhyun beberapa detik kemudian. Keduanya kemudian saling bertatapan.

"Jalja Baekhyunie. Semoga malam ini kau mimpi indah."

.

.

.

TBC

.

.

.

NOTE : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini. terimakasih sudah setia menunggu.

Akhirnya selesai juga untuk chap ini. Di ketik mulai dari sebelum magrib sampai sekarang jam 23.10 baru kelar. Tangan rasanya kebas.

Semoga kalian suka chap ini.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^