Learn To Loving You
.
.
.
06
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
"Jinjja? Kyaaaaaaaa...!"
Chanyeol terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinganya setelah mendengar pekikkan keras dari Jaejoong, sesaat setelah dia memberitahu kakak sepupunya itu, kalau mulai hari ini, status hubungan Chanyeol dengan Baekhyun sudah berubah, tak lagi hanya sekedar pasangan di kencan buta, tapi meningkat menjadi hubungan kekasih.
Dari pekikan itu, siapapun pasti tahu bahwa Jaejoong sangat bahagia mendengar kabar itu.
"Nunna! Tak bisakah kau tak berteriak?" ujar Chanyeol kemudian, saat dirasa Jaejoong sudah lebih tenang.
Tawa riang Jaejoong terdengar dengan jelas.
"Aku terlalu bahagia mendengar berita ini Chanyeol-ah. Makanya tadi aku berteriak. Aaaaaaa... aku jadi ingin tersenyum terus hari ini."
Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan, dia tak tahu lagi harus berkata apa tentang sikap Jaejoong yang terkadang berlebihan dalam menyikapi sebuah berita.
"Orang lain yang melihatmu akan menganggapmu gila kalau kau terlalu banyak tersenyum, Nunna."
Chanyeol kembali menangkap suara tawa Jaejoong. Kakak sepupunya itu... Hah!
"Aku tak terlalu peduli dengan apa yang di katakan orang lain tentang aku hari mereka mau mengatakan aku gila atau apa, yang jelas hari ini aku bahagia."
Chanyeol tersenyum tipis mendengar hal itu. Jaejoong dengan sikap keras kepalanya, memang tak pernah bisa terbantahkan. Kalau istri Jung Yunho itu sudah menjawab seperti itu, apalagi yang bisa dilakukan Chanyeol selain membiarkan hal itu terjadi. Tak ada salahnya membagi perasaan bahagianya dengan sang sepupu bukan?
"Kami baru memulai Nunna. Belum apa-apa. Apakah rasa bahagiamu itu tak terlalu berlebihan?"
Di ujung telpon, Jaejoong menarik nafas pelan sebelum menyahuti ucapan Chanyeol.
"Kebahagiaan yang ku rasakan saat ini tidak hanya tentang kabar kau baru memulai hubunganmu dengan Baekhyun-ssi. Kebahagiaanku hari ini juga tentang kau yang pada akhirnya bersedia membuka hatimu kembali untuk wanita lain setelah kepergian Seo Jong lima tahun yang lalu. Ehm... Chanyeol-ah! Katakan padaku bagaimana awalnya hingga kalian memutuskan untuk memulai hubungan ini?"
"Seperti yang sudah ku ceritakan padamu sebelumnya nunna, setelah kencan buta waktu itu, aku mengatakan padanya kalau aku ingin melanjutkan hubungan ini. Sepertinya butuh waktu lama baginya untuk memutuskan ini nunna, sampai kemudian, semalam dia menyatakan kesediaannya menerima ajakanku itu."
"Apa yang dia katakan semalam?"
Chanyeol diam sejenak, sebelum menceritakan kejadian semalam pada sepupunya itu. Kecuali pada bagian dimana dia mencium Baekhyun.
Ehm... walau ciuman itu singkat, kenyataannya hal itu mampu membuatnya sukses tak tidur sampai dini hari tadi.
"Dia menanyakan posisinya di hatiku nunna. Pertanyaan yang wajar menurutku, karena semua wanita pasti berharap dia menjadi nomor satu di hati seorang pria bukan?"
"Lalu kau menjawab apa?"
"Aku tak bisa menjawabnya nunna. Aku tak menduga akan mendapat pertanyaan semacam itu."
"Ya!"
"Melihatku yang hanya diam saja, dia kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku yakin, bahwa pilihanku untuk mengajaknya melanjutkan hubungan ini tak salah."
"Apa yang dia katakan? Aku penasaran Chanyeol-ah."
"Dia hanya meminta padaku, ruang kecil di hatiku untuk dia tinggali. Dia kemudian mengatakan padaku 'Mari belajar saling menerima dan saling mencintai satu sama lain.'. Menurut nunna, apakah wanita sebaik itu pantas untuk aku abaikan begitu saja?"
"Tentu saja tidak Chanyeol-ah. Dimana lagi kau akan mendapatkan wanita sebaik dia."
"Kau benar nunna, dimana lagi aku akan mendapatkan wanita sebaik dia, yang bisa menyayangi Jaehyunie dengan sangat tulus, yang bisa menerima aku tanpa melihat bagaimana masa laluku. Aku pikir, apa lagi yang akan ku cari, dia paket yang sangat lengkap untuk melengkapi hidupku nantinya."
"Aku terharu kau mengatakan hal ini, sebagai kakak, tak ada yang bisa ku lakukan selain berdoa, mengucapkan terimakasih banyak pada Tuhan, karena dengan kemurahan hatinya, dia mengirimkan Baekhyun di hidupmu. Chanyeol-ah! Kau sepakat dengannya akan belajar saling mencintai, maka dari itu, berusahalah mencintainya."
"Aku akan melakukannya nunna. Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Chanyeol-ah! Aku akan membagi kisah bahagia ini dengan eommamu, bagaimana menurutmu?"
"Jangan dulu nunna. Biarkan semua berjalan lebih dulu, nanti aku yang akan memberitahu eomma tentang hal ini."
"Baiklah kalau kau ingin seperti itu. Oh ya! Kau tak ada kegiatan pagi ini?"
Chanyeol melirik jam di pergelangan tangannya, jarum jam menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Sepertinya dia harus segera mengakhiri percakapan itu. Sebelum keluar dari kamar tadi, Jongin sempat memberitahunya, jam delapan ada misa pagi di gereja yang letaknya masih satu komplek dengan bangunan Panti Asuhan ini.
"Sebentar lagi ada misa pagi. Aku tutup dulu nunna. Sampai jumpa nanti malam."
"Ehm... jaga dirimu dan Jaehyunie juga. Sampaikan salamku untuk Baekhyunie."
"Eoh."
Chanyeol memutus sambungan telpon itu, kemudian dia memasukkan ponselnya ke saku celana. Setelah itu, dia keluar dari kamar yang di tempatinya bersama Jongin dan yang lain semalam.
Chanyeol melangkah santai menyusuri koridor yang akan membawanya ke gereja. Suasana panti mulai sepi, tak ada lalu lalang anak-anak atau orang dewasa yang bekerja di tempat ini. Sepertinya semua sudah pergi ke gereja dan dia sendiri yang terlambat. Biarlah! Pikir Chanyeol. Dia ingin menikmati jalan-jalan singkatnya di koridor ini sembari menikmati suasana panti yang cukup asri dan tenang.
Saat kaki Chanyeol hampir menapak persimpangan di koridor itu, mata Chanyeol menangkap sosok Baekhyun yang tengah berjalan dengan tergesa ke arahnya. Baekhyun tak melihatnya, gadis itu menunduk, seperti tengah mencari sesuatu di lantai. Sampai kemudian...
Bruk!
Baekhyun memegang dahinya yang baru saja menabrak benda yang cukup keras. Tak berapa lama, gadis itu mendongak. Mata Baekhyun membulat, mendapati siapa yang berdiri di depannya.
"Park Chanyeol! Gawat!" batin Baekhyun.
Baekhyun diam sejenak, sebelum kemudian berbalik dan kembali melangkah lebar meninggalkan Chanyeol. berbahaya kalau dia bertemu dengan Chanyeol sekarang ini. Dia belum siap memulai obrolan atau yang lainnya dengan pria itu.
Pasca insiden yang mendebarkan semalam, Baekhyun selalu terbayang-bayang wajah Chanyeol. Sejak pagi tadi, entah sudah berapa kali dia melihat bayangan Chanyeol. Di depan cermin, di luar jendela kamar yang di tempatinya, di pintu masuk gereja, yang lebih gilanya lagi, pastur yang berdiri di mimbar, wajahnya juga berubah menjadi wajah Chanyeol. Dan yang baru di lihatnya tadi, apakah benar-benar Chanyeol? Bisa jadi tidak. Kalau Pastur Choi saja bisa berubah menjadi Chanyeol di matanya, tidak menutup kemungkinan yang lainnya juga begitu bukan. Sepertinya, ada yang salah dengan matanya hari ini.
Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya, tersenyum kecil melihat tingkah Baekhyun yang menurutnya sangat lucu. Sangat berbeda dengan Baekhyun yang terlihat dewasa di hadapannya semalam. Baekhyun yang baru di lihatnya, seperti murid sekolah tinggi yang salah tingkah ketika bertemu dengan kakak kelas yang di sukainya. Menggemaskan.
Chanyeol melanjutkan langkahnya, kali ini dia memilih membelokkan langkahnya ke arah kiri. Menghindari kalau-kalau bertemu Baekhyun lagi di ujung sana. Karena sepertinya gadis itu masih belum ingin bertemu dengannya lagi setelah insiden semalam.
Namun, rencananya tak sejalan dengan rencana yang sudah di siapkan Tuhan untuknya. Entah hanya kebetulan atau memang seperti ini takdir yang harus terjadi, di ujung jalan yang di pilihnya, dia kembali di pertemukan dengan Baekhyun.
Gadis itu kembali akan berbalik pergi, namun kali ini Chanyeol mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Baekhyun. Hal itu menarik perhatian Baekhyun, gadis itu mendongak menatap Chanyeol yang tenang menatapnya.
"Mau kemana?"
Baekhyun menunduk, menatap Chanyeol terlalu lama, tak baik untuk kesehatan jantungnya saat ini. Insiden ciuman yang terjadi semalam, membuat hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Bila kebetulan ingat dengan kejadian itu, pipinya tiba-tiba memanas, menghasilkan rona merah jambu di wajahanya dan hatinya akan berdegup cepat.
"Ke dapur." Jawab Baekhyun lirih.
"Kalau dari sana tadi, bukankah seharusnya hanya tinggal belok kanan lurus 'kan? Kenapa kembali lagi dan memutar melewati tempat ini?"
"Ah!" Baekhyun tak sengaja mendongak dan menatap Chanyeol. Hanya sesaat, karena detik berikutnya, gadis itu kembali menundukkan kepalanya.
"Baekhyunie!"
Baekhyun kembali mendongak menatap Chanyeol.
Mendapati tatapan polos Baekhyun yang menggemaskan, membuat Chanyeol tersenyum kecil. Dalam hati dia berharap, tak ada yang menuduhnya pedofil saat dia mulai mengencani gadis di hadapannya ini nanti. Karena jujur saja, postur tubuh dan wajah Baekhyun, tak cocok dengan umurnya saat ini. Chanyeol bahkan yakin, bila Baekhyun memakai seragam sekolah tinggi, dia tak akan kalah cute dengan gadis yang baru memasuki usia tujuh belas tahun.
"Aku boleh mengatakan sesuatu?"
Baekhyun mengangguk cepat.
"Mulai sekarang, kata saya dan anda yang sering kita pakai saat kita berbicara satu sama lain, berubah menjadi aku dan kau. Karena apa? Karena sejak semalam, Byun Baekhyun adalah kekasih Park Chanyeol."
Blush
Baekhyun merasakan pipinya memanas saat Chanyeol menekankan kata 'Kekasih' di kalimatnya tadi. Hmm...
"Kau boleh memanggilku apa saja, mulai dari oppa, Chagiya, sayang, Chanyeollie oppa atau panggilan lainnya yang kau sukai. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Mulai sekarang aku akan memanggilmu 'sayang'. Kau keberatan?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tak suka panggilan itu?"
Baekhyun menggeleng lagi. Bukan karena alasan lain, Baekhyun menggeleng karena merasa bingung. Harusnya seperti itu? Haruskah Chanyeol memanggilnya 'sayang'? Tapi... bukankah itu hal yang wajar, setiap pasangan pasti memiliki panggilan kesayangan bukan dan Chanyeol baru saja memutuskan memanggilnya 'sayang' untuk membedakan statusnya di sisi pria itu. Masalahnya, apakah dia harus melakukan hal yang sama? Memanggil Chanyeol dengan panggilan 'sayang' juga?
"Lalu?"
"Ani. Terserah pada...ehm... pada...padamu saja." Sahut Baekhyun sedikit terbata. Dia belum bisa menggunakan kata informal pada Chanyeol.
"Ini pasti sulit, aku tahu itu. Tapi semalam kita berjanji untuk mulai belajar, maka ada baiknya kalau sekaranglah kita mulai belajar sayang. Aku adalah kekasihmu dan kau adalah kekasihku. Kita belajar menerima hubungan ini dengan hati terbuka."
Baekhyun mengangguk pelan.
"Tidak ada jawaban?" Baekhyun kembali menatap Chanyeol.
"Iya, kita belajar menerima hubungan ini dengan hati terbuka, Chanyeollie oppa."
Chanyeol tersenyum puas.
"Kau mau ke dapur sekarang?"
"Nde."
Chanyeol melepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan Baekhyun. Gadis itu tersenyum berterimakasih, lalu melangkah melewati Chanyeol. Tapi, baru dua langkah, kakinya terjerat sesuatu hingga dia oleng dan...
Sret!
Chanyeol dengan sigap menangkap pinggang Baekhyun ketika tubuh gadis itu nyaris terjerembab ke lantai.
"Kau tak jauh beda dengan Jaehyunie sayang, ceroboh." Chanyeol menahan tubuh mungil Baekhyun dengan lengannya hingga gadis itu kembali berdiri dengan benar.
Baekhyun menunduk malu atas tindakan cerobohnya itu. Ini di luar rencananya, sungguh.
"Jangan menunduk seperti itu, kesannya aku sedang memarahimu, padahal tidak. Kau tak apa-apa?" Chanyeol memperhatikan Baekhyun dari atas sampai bawah. Dia menemukan alasan kenapa Baekhyun nyaris jatuh tadi, tali sepatu yang di pakainya terurai dan sepertinya tak sengaja terinjak kaki yang lainnya.
"Lain kali, kau harus lebih kencang menyimpul talinya. Atau aku harus membelikanmu sepatu yang tak ada talinya?"
Untuk kedua kalinya, Chanyeol berlutut di hadapan Baekhyun untuk menyimpul tali sepatu gadis cantik itu.
"Lain kali aku akan memakai flat shoes saja." Chanyeol mendongak dan mendapati Baekhyun yang tengah menatapnya di atas sana.
"Bahkan jika kau masih memakai sepatu seperti ini dengan tali terurai, aku akan tetap setia menyimpul talinya untukmu."
Blush.
.
.
.
Amazing grace
How sweet the sound
That saved a wrerch like me
I once was lost
But now i'm found
Was blind but now i see
'Twas grace that
Taught my heart to fear
And grace my fear relieved
How precious did
That grace appear
The hour i first believed
Baekhyun kembali ke gereja, saat paduan suara anak-anak itu menyanyikan sebuah lagu berjudul Amazing grace.
Tak ingin mengganggu jemaat lain yang sedang khidmat mendengarkan paduan suara itu, Baekhyun melangkah dengan sangat pelan menuju ke bangku yang masih menyisakan tempat kosong di barisan keempat dari belakang.
Wajah Baekhyun terlihat lega saat dia berhasil mendudukkan dirinya di bangku itu tanpa mengganggu yang lain.
"Sudah selesai urusannya di dapur?"
Baekhyun menoleh ke samping kiri, matanya membulat mendapati siapa yang baru saja berbisik padanya. Chanyeol!
Baekhyun mengalihkan tatapannya secepat kilat. Tidak! Dia pasti salah lagi, pasti orang lain yang saat ini duduk di sampingnya. Bukan! Ini bukan Chanyeol. Ya... sama seperti sebelumnya, orang yang di sampingnya pasti bukanlah Chanyeol. Hhhhh!
"Aku kekasihmu sayang, kau melihatku seperti melihat hantu saja."
Baekhyun menoleh lagi, Chanyeol mengembangkan senyum tampannya.
"Aku memang tampan, kau tak perlu menatapku seperti itu."
Baekhyun merasakan pipinya pias. Dapat di pastikan, rona merah muda pasti terlihat jelas di pipinya saat ini. Memalukan sekali.
Gadis mungil yang hari ini memakai mini dress berwarna putih itu menarik nafasnya pelan sebelum mengalihkan tatapannya ke arah depan.
Chanyeol tersenyum kecil dengan tingkah Baekhyun. Gadis di sampingnya, yang sejak semalam resmi menjadi kekasihnya, terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan sikap salah tingkahnya dan rona merah muda di kedua pipi putihnya. Sangat berbeda dengan Seo Jong. Mantan istrinya itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya, bahkan ketika mereka sudah berpacaran, dia jarang melihat Seo Jong merona karena tindakan kecilnya.
Hmm!
"Imo!" pekik Jaehyun senang sesaat setelah dia selesai menyanyikan lagu amazing grace bersama anak-anak panti yang lainnya. Bocah itu berlari menghampiri Baekhyun.
Kedatangan si kecil, di sambut dengan senyum lebar dan rentangan tangan.
Bruk!
Putra tunggal Chanyeol itu langsung menghambur dan memeluk Baekhyun erat, sama halnya dengan Doyoung yang memeluk Baekhyun dari samping.
"Suaraku bagus tidak Imo?" tanya Doyoung.
"Bagus. Kalian berdua yang terbaik." Baekhyun melayangkan satu kecupan di atas pipi Jaehyun lalu beralih ke pipi Doyoung.
Melihat pemandangan seperti itu hati Chanyeol menghangat. Entah mendapat dorongan darimana, Chanyeol mengangkat tangannya dan mengusap pelan kepala Baekhyun. Gadis itu menoleh dan menatapnya heran.
"Seo Jong-ah! Kau melihatnya? Senyum Jaehyunie sangat lebar bila bersama dengannya. Putra kecil kita, terlihat begitu bahagia bersamanya. Seo Jong-ah! Kau tak keberatan 'kan kalau dia yang menjadi penggantimu?"
.
.
.
Baekhyun dan teman-temannya tengah berdiri di depan anak-anak penghuni panti, mereka sedang memperagakan satu adegan dalam sebuah cerita dongeng Pinochio di aula panti. Jongin yang menjadi si Pinokio, Kyungsoo yang menjadi kakek Geppeto sedangkan Baekhyun menjadi peri biru.
Adegan demi adegan di peragakan dengan sangat baik oleh Baekhyun dan teman-temannnya yang lain. Tak jarang mereka menyelipkan kalimat-kalimat lelucon yang membuat anak-anak itu tertawa senang. Suasana yang semula tenang, berubah riuh dengan tawa mereka yang berderai.
"Anda tidak ikut?"
Chanyeol yang sejak tadi hanya melihat semua dari pinggir, mendongakkan kepalanya dan mendapati Jungsoo berdiri tak jauh darinya. Pria berambut ikal itu tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan.
"Saya tak begitu pandai melakukan semua itu. Jadi, daripada merusak suasana, lebih baik saya hanya melihat dari sini."
Kepala panti asuhan Sun flower itu duduk di samping Chanyeol kemudian. Matanya nanar menatap anak-anak yang terlihat begitu larut dalam kegembiraan mereka hari ini.
"Baekhyunie dan teman-temannya, selalu berhasil membuat suasana panti ini menjadi lebih hidup."
Chanyeol hanya mengangguk, dia tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa atas pernyataan Jungsoo tadi. Karena jujur saja, ini pengalaman pertamanya datang ke panti asuhan.
"Enam tahun yang lalu, dia datang ke sini hanya dengan Kyungie. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang diajak, termasuk anda."
Tatapan Chanyeol tak sengaja bertubrukan dengan tatapan Jungsoo. Keduanya, kemudian tersenyum tipis.
"Kehadirannya selalu di tunggu anak-anak." Ujar Jungsoo pelan. Tatapannya kembali di lempar ke tengah aula, dimana disana, semua anak panti sedang berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan Baekhyun dan teman-temannya yang lain.
"Senyumnya, membuat orang lain ikut tersenyum bersamanya." Sahut Chanyeol lirih.
"Anda benar. Saat dia tersenyum, orang lain juga akan ikut tersenyum dengannya."
Keduanya tersenyum lebar, pendapat mereka tentang Baekhyun ternyata sama. Gadis itu, selalu mampu menghadirkan suasana lain di sekitarnya. Pembawaan Baekhyun yang tenang dan sabar, membuat anak-anak betah berlama-lama dengannya. Rasanya pantas kalau kemudian, Jaehyun begitu jatuh hati pada Baekhyun.
"Jaehyunie, sepertinya sangat dekat dengan Baekhyunie."
"Nde."
"Ehm Chanyeol-ssi!"
Chanyeol menatap Jungsoo sekali lagi.
"Jongin kemarin mengatakan pada saya, kalau anda calon suami Baekhyunie, apa itu benar?"
Chanyeol mengerutkan dahinya, cukup terkejut dengan apa yang di katakan Jungsoo. Calon suami?
"Kami baru memulai hubungan ini."
Jungsoo yang kali ini mengerutkan dahinya.
"Awalnya, kami menjalani kencan buta. Lalu, kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan itu menjadi sepasang kekasih."
"Anda memiliki niat menikahinya?"
Chanyeol mengangguk tegas. Dia memang tak tahu akan seperti apa perjalanan hubungannya dengan Baekhyun nanti, namun harapannya, Baekhyun 'lah yang nanti akan menemaninya menghabiskan sisa usianya. Sejak semalam, hanya Baekhyun yang terpikir olehnya untuk menggantikan Seo Jong mengisi hatinya.
"Maaf, tapi kalau boleh saya tahu, dengan Jaehyun eomma... anda bercerai atau..."
"Istri saya meninggal."
Jungsoo mendesah penuh sesal.
"Maaf Chanyeol-ssi."
"Gwaenchana. Sepertinya saya harus mulai terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu." Chanyeol tersenyum tipis.
"Pasti berat membesarkan Jaehyunie seorang diri." Chanyeol menatap Jungsoo kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak juga. Saya banyak di bantu oleh sepupu saya."
Jungsoo mengangguk-angguk mengerti.
"Chanyeol-ssi!"
"Nde."
"Baekhyunie, saya mengenal dia dengan baik. Dia gadis yang baik dan penyayang. Kalau memang anda berniat baik untuk menikahinya, bisakah saya meminta anda untuk tak menyakitinya?"
Chanyeol sekali lagi menatap wajah keibuan itu, betapa dari sepasang mata milik wanita yang memasuki usia kepala enam itu terpancar dengan jelas kasih sayang yang begitu besar untuk Baekhyun. Mendengar wanita itu mengatakan hal yang demikian, dia seperti mendengar seorang ibu yang meminta padanya untuk selalu membahagiakan anaknya.
"Saya tak tahu bagaimana masa depan kami nantinya, tapi yang bisa saya katakan saat ini, saya berjanji akan selalu membahagiakannya Ny. Park."
"Gomawo Chanyeol-ssi. Saya akan selalu meminta pada Tuhan untuk kebahagiaan kalian."
.
.
.
"Baek-ah! Kau pulang naik taksi?" tanya Kyungsoo saat mereka baru menginjakkan kaki di stasiun Seoul.
Mereka kembali dari Daegu menjelang sore tadi, dan sekarang waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka sampai di stasiun Seoul. Beberapa teman Baekhyun yang lain sudah berpencar mencari kendaraan untuk mereka kembali ke rumah masing-masing.
Sekarang hanya tinggal mereka berlima. Jaehyun pulas tertidur di gendongan Baekhyun, sedangkan Chanyeol berdiri di sampingnya dengan dua kopernya dan satu tas besar di punggungnya.
"Kau pulang dengan Jongin?"
"Tentu saja, kalau kau lupa, dia kekasihku, tentu saja dia pulang denganku Baekkie." Jongin merangkul mesra pinggang Kyungsoo, yang membuat gadis itu tersenyum malu-malu. Kalau hanya ada Baekhyun di antara mereka, Kyungsoo tak mempermasalahkan sikap manis Jongin padanya, tapi di depannya ada Chanyeol, dia merasa cukup malu karena hal itu.
"Tak perlu malu Kyungsoo-ssi. Saya bisa memahaminya. Hmm... Baekhyunie pulang dengan saya." Ujar Chanyeol tegas. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
"Baiklah! Hati-hati di jalan dan... anda harus memulangkan dia dalam keadaan selamat tak kurang satu apapun Chanyeol-ssi." Jongin berbicara dengan nada sedikit tegas sambil menunjuk-nunjuk tak sopan pada Chanyeol.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri Kim Jongin-ssi." Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal.
"Bagus kalau seperti itu. Kirimi aku kabar kalau kau sudah sampai rumah."
Baekhyun memutar malas bola matanya. Kalimat sederhana itu selalu di ucapkan Jongin saat mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Menurutnya, Jongin terlalu banyak mengkhawatirkannya, memang bagus, tapi sikapnya kadang berlebihan. Bahkan tak jarang Kyungsoo di buat cemburu oleh sikap Jongin terhadap dirinya itu.
"Apa kau juga menyuruh Kyungie melakukan hal itu?"
"Ani. Karena aku yang mengantarnya pulang dan memastikan dia sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja."
Baekhyun mendengus sebal.
"Ayo pulang!" ajaknya pada Chanyeol. Dia mencium pipi Kyungsoo singkat sebelum berlalu dari hadapan sepasang kekasih itu.
Langkahnya diikuti Chanyeol, pria itu membungkuk sopan pada Jongin dan Kyungsoo sebelum mengikuti Baekhyun dari belakang.
"Kau lelah?" tanya Chanyeol begitu mereka sampai di luar stasiun. Baekhyun duduk di sebuah bangku dengan Jaehyun di pangkuannya. Baekhyun tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Chanyeol menjajari Baekhyun duduk.
"Mian." Ujarnya penuh sesal. Dia sudah berusaha membujuk Jaehyun agar mau di pangkunya sepanjang perjalanan mereka dari Daegu ke Seoul. Tapi putranya itu bersikeras ingin tetap bersama Baekhyun. Bahkan Jaehyun sempat menjerit histeris di dalam kerete tadi karena Chanyeol terus memaksanya.
"Gwaenchana." Sahut Baekhyun menenangkan.
Chanyeol kemudian berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya pada sebuah taksi yang melintas di depannya. Setelah taksi itu berhenti, Chanyeol memasukkan koper ke bagasi, tak lupa tasnya juga. Kemudian dia membuka pintu penumpang, mempersilahkan Baekhyun masuk, disusul olehnya kemudian.
Perjalanan dari stasiun ke rumahnya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Selama dalam perjalanan itu, tak ada pembicaraan yang terjadi, karena apa? Karena Baekhyun jatuh tertidur setelah lima menit taksi itu berjalan. Chanyeol tak tega mengganggunya. Baekhyun sudah cukup lelah dengan kegiatannya selama di panti, belum lagi Jaehyun yang jarang mau lepas darinya.
Chanyeol menatap Baekhyun, kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
"Gomapta." Gumamnya lirih.
.
.
.
Kedatangan Chanyeol, di sambut oleh Jaejoong, Yunho, Luhan dan tentu saja pasangan Changmin serta Kyuhyun. Terlalu berlebihan sepertinya, tapi memang seperti inilah keluarga mereka. Atas perintah dari pimpinan tertinggi mereka a.k.a Kim Jaejoong tentunya.
Chanyeol membuka pintu penumpang, kemudian turun dari sana. Changmin maju, membantu menurunkan koper dan tas Chanyeol dari bagasi taksi itu.
Tak lama setelah Chanyeol keluar dari dalam taksi itu, Baekhyun menyusul kemudian. Dengan sedikit kesusahan karena menanggung beban tubuh Jaehyun, gadis mungil itu keluar dari pintu belakang.
Tatapan mata semuanya tertuju pada gadis mungil yang sedang menggendong Jaehyun itu.
"Yeoppo." Lirih Jaejoong. Dia yang kemudian turun dari tangga depan rumah Chanyeol, menyambut Baekhyun.
"Baekhyunie?"
Baekhyun tersenyum manis, lalu menundukkan kepalanya sebentar.
"Jaejoong, Kim Jaejoong. Aku kakak sepupu Chanyeol, teman dari Heechul eonni."
"Annyeonghaseyo!" sapa Baekhyun sopan. Jaejoong tak tahan untuk tak membelai pipi Baekhyun. Gadis di hadapannya itu, benar-benar cantik dengan senyum yang tersungging manis di bibirnya.
"Sini! Biar aku yang..."
"Aaaauuuueeehhhh!"
Jaejoong terhenyak di tempatnya atas penolakan Jaehyun. Dia sudah meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak Jaehyun dan berniat mengangkat tubuh kecil itu dari gendongan Baekhyun. Tapi si kecil menggeliat tak nyaman dan menepis kedua tangannya.
"Kalau bisa, aku sudah menggantikannya sejak tadi Nunna. Dia keras kepala ingin di gendong Baekhyunie terus." Sahut Chanyeol setelah membayar ongkos taksi.
"Mianhae Jaejoong-ssi." Baekhyun menatap Jaejoong penuh penyesalan.
"Gwaenchana. Ayo masuk!" ajak Jaejoong. Langkahnya masuk ke dalam rumah di ikuti yang lainnya.
Jaejoong mengantar Baekhyun ke kamar Jaehyun, sedang yang lainnya menunggu di ruang tengah.
"Tidurkan disana!" Jaejoong menunjuk ranjang kecil milik Jaehyun.
Hati-hati Baekhyun merebahkan tubuh kecil Baekhyun di atas ranjangnya. Kemudian dia melepas kedua sepatu Jaehyun. Lalu di selimutnya tubuh kecil itu. Baekhyun menepuk pelan dada Jaehyun, karena putra Chanyeol itu bergerak resah.
Sesaat setelah tenang, Baekhyun mengusap kepala Jaehyun lalu mengecupnya pelan.
"Imo sangat menyayangimu Jaehyunie. Jalja sayang, semoga kau mimpi indah." Bisik Baekhyun.
Jaejoong begitu terharu menyaksikan pemandangan itu. Yang di katakan Chanyeol benar, Baekhyun sangat menyayangi Jaehyun. Dan Jaehyun, seperti menemukan sosok ibu di diri Baekhyun. Kalau orang lain yang melihat hal itu, mereka pasti beranggapan bahwa Jaehyun dan Baekhyun adalah pasangan ibu dan anak.
Jaejoong melangkah mendekati Baekhyun, lalu memeluk Baekhyun dari belakang. Perempuan cantik berkulit putih itu menangis.
"Terimakasih sudah menyayangi Jaehyunie, Baekhyunie." Gumamnya.
"Jaehyun anak yang sangat baik Jaejoong-ssi. Dia layak untuk di sayangi." Baekhyun menoleh dan sekarang berhadapan dengan Jaejoong.
Jaejoong dengan isakan kecilnya meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. Jaejoong tak mampu mengatakan apa-apa. Dia terharu dan sangat bahagia dengan kenyataan yang di lihatnya saat ini.
"Aku sempat putus asa ketika meminta Chanyeol untuk menikah lagi, bahkan beberapa kali aku mengatur kencan buta untuknya dan tak ada yang berakhir baik. Aku bahagia, sangat bahagia ketika dia mengirimiku foto kalian saat kencan buta itu. Dan pagi ini, aku merasa lebih bahagia saat dia mengabariku bahwa kau bersedia melanjutkan hubungan ini. Gomapta Baekhyunie. Gomapta untuk kesediaanmu menjadi bagian dari cerita masa depannya."
Baekhyun tak tahu harus mengatakan apa. Dia dapat melihat dengan jelas, betapa besar harapan Jaejoong atas hubungannya dengan Chanyeol.
"Jaejoong-ssi!"
Jaejoong tersenyum sambil menyeka airmatanya.
"Ucapanku terlalu membebanimu ya. Mian." Baekhyun mengangguk mengerti.
"Saya tak tahu bagaimana cerita masa depan saya di tulis Tuhan. Tapi saya memiliki harapan, saya ingin menghabiskan masa depannya saya dengan mereka."
Jaejoong kembali menangis haru, Baekhyun kembali di peluknya erat.
"Seo Jong-ah! Wanita ini, yang saat ini ada dalam pelukanku, bukankah calon ibu yang tepat untuk Jaehyunie?"
.
.
.
Baekhyun tak lama ada di rumah Chanyeol, setelah menidurkan Jaehyun dan berbicara singkat dengan Jaejoong, gadis itu memilih segera pulang. Dia lelah dan butuh segera beristirahat. Jaejoong memang sempat menawarinya untuk menginap, namun hal itu langsung di tolak Baekhyun. Apa kata orang kalau belum apa-apa saja dia sudah berani menginap di rumah pria yang baru menjadi kekasihnya itu. Lagipula, dia sudah memberitahu Heechul bahwa dia akan pulang malam ini.
"Apa saja yang kau bicarakan dengan Jaejoongie nunna tadi?" tanya Chanyeol sambil mengendalikan stirnya.
"Tidak banyak, hanya seputar hubungan kita."
Chanyeol menatap Baekhyun sesaaat. Lalu kembali menatap jalanan kota Seoul.
"Dia sedikit cerewet. Aku harap kau mengerti kalau nanti akan lebih banyak lagi yang kau dengar tentangku darinya."
"Sepertinya dia tak jauh beda dengan Heechul eonni."
"Hmm. Mungkin saja."
Baekhyun menarik nafas pelan, kemudian menyamankan duduknya di kursi penumpang di samping Chanyeol.
Chanyeol melirik sejenak.
"Kau tak nyaman?"
Baekhyun menggeleng pelan. Kursi yang di dudukinya sudah cukup nyaman, hanya tubuhnya saja yang tak nyaman. Mungkin karena terlalu, makanya dia terlihat gelisah dalam duduknya.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Hmm. Apa?"
Chanyeol meminggirkan mobilnya, lalu menghentikannya kemudian.
"Sejak kapan kau mengenal Jongin-ssi?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan penuh tanya. Kenapa tiba-tiba Chanyeol menanyakan hal itu?
"Sudah lama. Dia temanku di sekolah dasar dulu."
"Hanya sebatas teman?" Baekhyun mengerutkan dahinya.
"Iya. Kenapa?"
"Perhatiannya padamu, seperti bukan perhatian teman biasa."
Kerutan di dahi Baekhyun semakin kentara. Perhatian Jongin padanya? Hmm... apakah yang di maksud Chanyeol adalah pesan yang di sampaikan Jongin padanya tadi?
"Maksudnya apa?"
"Mungkin ini hal biasa menurutmu, tapi dari yang ku lihat, sepertinya dia menyimpan perasaan lain untukmu."
Baekhyun menutup bibirnya dengan tangan kanannya, senyumnya terlukis tipis di balik telapak tangannya itu.
Chanyeol yang melihat hal itu, langsung menarik tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak sedang bercanda sayang." Ujar Chanyeol penuh penekanan. Baekhyun menatap Chanyeol kemudian. Hatinya, masih mengalunkan irama yang sama seperti tadi pagi, berdebar-debar.
"Dia pernah menyatakan perasaannya padaku."
Chanyeol mendesah pelan. Dugaannya tak salah. Kalau hanya teman biasa saja, tatapan Jongin pada Baekhyun tak akan seperti itu.
"Aku menolaknya."
"Wae?"
"Aku lebih nyaman menjadikan dia teman daripada menjadikan dia kekasih."
"Tapi di terlihat masih sangat menyukaimu, sayang."
"Hanya sebatas suka sebagai teman. Dia bahagia dengan Kyungsoo saat ini."
"Kau santai sekali menghadapi hal ini."
"Aku harus bagaimana? Menjauhinya? Itu tak mungkin. Aku kenal baik Jongin dan keluarganya. Nanti aku akan mengatakan batasan yang tak boleh di lewatinya di hubungan kami."
Chanyeol menatap Baekhyun dalam. Hatinya sudah panas dengan perhatian kecil yang diberikan Jongin pada Baekhyun tadi, gadis di hadapannya ini justru terlihat biasa saja dengan hal itu. Bagaimana pun, Baekhyun kekasihnya saat ini. Hanya dia yang boleh memperhatikan Baekhyun, tidak dengan pria lainnya.
"Terserah kau saja." Ujar Chanyeol sambil memutar kuncinya dan kembali menyalakan mobilnya. Tapi... ketika kakinya hampir menginjak pedal gas, genggaman Baekhyun menghentikannya. Pria dengan mata bulat lebarnya itu menatap kekasihnya.
"Pagi ini, aku bangun dengan perasaan bahagia. Sepanjang pagi ku lalui dengan hati berdebar-debar. Bahkan beberapa kali aku harus mencuci mukaku karena takut mataku salah melihat. Karena beberapa orang yang ku lihat pagi ini, berubah menjadi dirimu tiba-tiba. Lalu haruskah aku menutup hari ini dengan kemarahanmu? Jongin, memiliki tempat sendiri di hatiku seperti Seo Jong-ssi di hatimu. Dia teman terbaik yang ku miliki, hanya itu. Dan yang harus kau tahu, hubungan kami tak akan lebih dari itu."
Chanyeol diam menyelami irish hitam milik Baekhyun. Apa yang sebenarnya di rasakannya ini? Apakah di cemburu? Secepat itukah perasaannya tumbuh untuk Baekhyun?
Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhyun, lalu sedetik kemudian, bibirnya mendarat di atas bibir gadis itu. Bila kemarin malam, Chanyeol hanya menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu, malam ini, dia bertindak lebih dengan menggerakkan bibirnya perlahan di atas bibir Baekhyun.
Sama halnya seperti sebelumnya, ciuman itu tak berlangsung lama. Melalui ciuman itu, Chanyeol hanya ingin menegaskan bahwa gadis itu adalah kekasihnya saat ini.
Tatapan mereka beradu setelah ciuman itu. Chanyeol mengusap lembut bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.
"Aku lelah. Bisakah kita pulang?"
Chanyeol tersenyum tipis. Lalu sekali lagi dia mencium bibir Baekhyun sebelum menginjak pedal gasnya.
Entah apa yang di rasakannya ini, yang jelas, hatinya membuncahkan perasaan bahagia. Ya... dia bahagia malam ini.
.
.
.
TBC
.
.
Note : Terimakasih atas cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini. Terimakasih juga untuk yang sudah menagih saya melanjutkan cerita ini.
Selama beberapa hari tak update cerita ini, pikiran rasanya tak karuan. sempat merasa hopeless dengan cerita ini karena pikiran benar-benar macet. Story line sudah ada di kepala, tapi menterjemahkannya dengan kalimat2 pendukung benar2 terasa sulit.
Saya minta maaf atas keterlambatan yang sangat lama ini. semoga chap ini tak mengecewakan kalian. Maaf kalau masih banyak kekurangan di tulisan saya.
Terima kasih juga untuk doanya.
Big Love For You Guys 3
Nb : Untuk yang nonton MUBANK malam ini di Tv, mari berdoa semoga iklannya dikit dan tak banyak yang di potong. Happy satnite guys ^_^
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
