Learn To Loving You

.

.

.

07

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Ting... tong...

"Annyeong Heechul-ssi!" Chanyeol membungkuk sopan di hadapan perempuan yang usianya sepantaran dengan Jaejoong itu. Perempuan itu adalah Kim Heechul, si pemilik rumah yang membukakan pintu untuknya.

Heechul menatap Chanyeol dengan tatapan kagumnya. Jaejoong tak berbohong saat mengatakan kalau Chanyeol itu duda keren. Lihatlah penampilannya malam ini, meski hanya memakai kemeja kotak-kotak kecil berwarna biru dan celana jeans dengan warna sedikit gelap, Chanyeol tetap terlihat keren dan juga sangat tampan.

"Dapatkah kau memanggilku nunna saja? Toh nanti kalau kau menikah dengan Baekhyunie, kita akan menjadi saudara dan kau memanggilku demikian juga 'kan?"

Chanyeol tersenyum kecil kemudian mengangguk.

Menikah ya!

Hampir tiga minggu menjalin hubungan yang lebih serius dengan Baekhyun, pembicaraan ke arah sana sama sekali belum ada. Waktu yang sering mereka habiskan bersama, kebanyakan membahas tentang tumbuh kembang Jaehyun, karena bocah itu memang selalu ada di antara mereka. Lalu ketika kata itu sekarang mampir ke telinganya, Chanyeol merasa ada yang mencubitnya, seolah di ingatkan akan tujuannya mendekati Baekhyun.

Pernikahan mungkin tak terjadi dalam waktu dekat, tapi Chanyeol berani menjamin bahwa Baekhyun 'lah yang nanti akan menjadi istrinya. Karena apa? Alasannya masih sama, dari sekian banyak perempuan yang di kenalkan padanya, hanya Baekhyun yang bisa memenangkan hati putra tunggalnya. Jaehyun sangat menyayangi dan mencintai Baekhyun.

"Oh ya! Mau bertemu Baekhyunie?"

Chanyeol menatap Heechul, dia tersadar dari lamunan singkatnya.

"Nde." Lirihnya dengan raut wajah canggung.

"Kalian mau pergi kemana, kau sudah sangat rapi dan juga tampan Chanyeol-ssi."

Chanyeol terlihat salah tingkah. Menurut Chanyeol, Heechul tak jauh beda dengan Jaejoong dalam hal blak-blakan.

"Saya berniat mengajak Baekhyunie nonton."

"Omoooo!" Heechul tersenyum kegirangan. "Han gege dulu juga mengajakku nonton di kencan pertama kami." Heechul tersipu malu, teringat kembali akan masa-masa saat dia baru berkencan dengan Hankyung.

Melihat Heechul yang seperti ini, rasanya dia tahu alasan kenapa Jaejoong sangat dekat dengan perempuan di hadapannya ini. Sifat yang di miliki keduanya benar-benar mirip sepertinya. Tadi dia juga mendapatkan reaksi yang sama dari Jaejoong saat dia berpamitan dan menitipkan Jaehyun di rumah sepupunya itu. Mata bulat dengan manik coklat milik sepupunya berbinar terang, persis seperti yang saat ini di lihatnya dari Heechul.

"Sebentar. BAEKHYUNIE!"

Chanyeol terpaksa menutup telinganya, saat suara Heechul naik lebih dari dua oktaf hanya untuk memanggil Baekhyun.

"Suaraku terlalu keras ya?" Chanyeol tersenyum sambil menggeleng pelan. "Maaf ya, sudah kebiasaan seperti itu." Heechul mengeluarkan cengiran tak bersalahnya.

Tak berapa lama, Baekhyun datang dengan dandanan yang membuat Chanyeol terpana. Baekhyun memoles wajahnya dengan riasan tipis, dia memakai mini dress warna krem yang di padu dengan sneaker putih pemberian kekasihnya itu. Rambutnya yang tak begitu panjang, di ikat rapi ke belakang, menyisakan poni yang menghiasi dahinya.

Chanyeol menarik nafasnya pelan, dia kembali harus mengingatkan hatinya, Baekhyun hanya terpaut lima tahun dengannya, tapi melihat penampilan Baekhyun yang seperti ini, rasanya tak salah kalau nanti akan ada yang mengomentarinya tengah berkencan dengan gadis dari sebuah sekolah tinggi. Pertanyaan Chanyeol hanya satu, kenapa Baekhyun bisa semenggemaskan ini?

Baekhyun menunduk malu, karena Chanyeol terus memperhatikannya. Kalau bukan karena suara Heechul yang menyuruh mereka untuk segera pergi, mungkin Chanyeol masih berdiam diri menikmati kecantikan dari kekasihnya itu.

"Ehm... kalian tidak pergi?"

Chanyeol menatap Heechul kemudian, tersadar akan tindakannya. Pria itu mengembangkan senyum canggungnya sebelum kemudian berpamitan pada sepupu Baekhyun itu.

"Kami pergi dulu Nunna. Kajja Baekhyunie!"

Baekhyun mengangguk lalu berpamitan pada Heechul, setelah itu dia melangkah menjajari Chanyeol.

"Kalian hati-hati. Jangan cepat pulang, nikmati waktu berdua kalian ya."

Baekhyun menatap Heechul dengan kerutan di dahinya, sepupunya itu sudah gila sepertinya. Tidak boleh cepat-cepat pulang? Padahal seharusnya, saat melepas seorang gadis untuk pergi berkencan, setidaknya ada ucapan jangan pulang terlalu larut, tapi ini? Heechul benar-benar gila.

Dalam hubungan yang sedang di jalaninya dengan Chanyeol, yang paling bersemangat memang Heechul. Sepupunya itu, yang sering menjejalinya dengan pertanyaan kapan menikah? Kalau menikah nanti lebih baik memakai ini, pesan catering dari ini lalu pilih gedung yang begini, gerejanya harus ini dan masih banyak lagi yang pada akhirnya membuat Baekhyun tak bisa berkata apa-apa.

Menikah? Dia ingin tapi tidak dalam waktu dekat ini. Dia masih dalam tahap belajar mencintai Chanyeol.

Chanyeol melambaikan tangannya pada Heechul sebelum masuk ke dalam mobil, menyusul Baekhyun yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil itu.

Heechul membalas lambaian tangan Chanyeol, senyumnya semakin lebar terkembang, saat mobil Chanyeol meninggalkan halaman rumahnya.

"Aigoooo! Mereka manis sekali." Ujarnya sembari menutup pintu.

Meninggalkan kediaman Heechul. Kita beralih pada dua sejoli yang tengah berkencan.

"Orang tak akan percaya kalau umurmu saat ini dua puluh delapan tahun sayang." Chanyeol melirik Baekhyun sambil tersenyum tipis.

"Apakah karena dandananku yang seperti ini?"

"Eoh. Mereka pasti menganggapmu masih sekolah, dan aku akan di pandang sebagai pedofil karena mengencani anak sekolah."

Baekhyun menatap Chanyeol lalu mengembangkan senyumnya.

"Kau masih terlihat muda, tidak seperti ahjussi-ahjussi. Mereka tak akan berprasangka seperti itu." ujar Baekhyun menenangkan. Chanyeol tersenyum menanggapi Baekhyun, lalu telapak tangan kanannya meraih tangan kiri Baekhyun dan menggenggamnya erat.

"Gomapta sudah menghiburku sayang." Baekhyun tersenyum hangat.

Hubungan mereka, tiga minggu terakhir terjalin semakin erat. Sentuhan-sentuhan lembut yang menghasilkan debaran halus di dada keduanya, cukup sering mereka lakukan. Seperti saling menggenggam tangan, Chanyeol yang cukup sering merangkul bahu Baekhyun dan gadis itu yang membalasnya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Chanyeol. Ini mungkin cara termudah untuk belajar, iya belajar, belajar mencintai dan menerima pasangan masing-masing.

Untuk yang lebih dari itu, misalnya berciuman, mereka justru tidak sering melakukannya. Kedekatan tak harus di tandai dengan ciuman setiap saat bukan.

"Bagaimana pekerjaan oppa hari ini?" tanya Baekhyun kemudian, seperti kebiasaan yang sering mereka lakukan dua minggu terakhir ini.

Ada waktu sekitar satu jam, yang mereka luangkan untuk berbicara. Saling menceritakan kegiatan masing-masing selama satu hari itu.

Awalnya hal itu terjadi tanpa di sengaja, saat keduanya bertemu kembali dua hari setelah pulang dari Daegu. Saat itu Chanyeol menjemput Jaehyun, karena merasa tak tahu harus berbicara tentang apa, Chanyeol mencoba menanyakan tentang pekerjaan Baekhyun hari itu, siapa yang menyangka kalau kemudian hal itu menjadi sebuah kebiasaan.

"Sangat melelahkan, aku harus menghadiri rapat dari satu tempat ke tempat lainnya."

Baekhyun menatap Chanyeol, "Kita tak seharusnya pergi, kau bisa istirahat di rumah."

"Gwaenchana, kau tenang saja. Aku memang biasa seperti ini, pekerjaan yang cukup banyak akan ku ambil di awal sampai berakhirnya musim gugur, karena nanti saat musim dingin, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan Jaehyun. Berlibur bersamanya." Chanyeol tersenyum menenangkan.

"Kau sering membawanya berlibur keluar negeri?"

"Tidak selalu, tapi pasti ada hari di musim dingin itu aku mengajaknya berlibur. Tahun kemarin kami ke Hongkong, merayakan natal dan tahun baru di sana."

"Tahun ini?"

Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun.

"Luangkan waktumu di bulan terakhir tahun ini, aku ingin mengajakmu dan juga Jaehyun pergi ke Vatikan."

"Kenapa Vatikan?"

"Tidak tahu, ingin saja pergi kesana. Aku pernah memiliki impian, akan membawa keluarga kecilku kesana suatu hari nanti. Kami, aku dan Seo Jong pernah merangkai mimpi itu, tapi..."

"Mari kita ke Vatikan." Baekhyun tersenyum, meski harus diakuinya, hatinya tergores.

.

.

.

Ting... Tong...

"Seo Jin eonni!" seru Luhan saat membuka pintu rumah Jaejoong dan mendapati seorang perempuan yang usianya satu tahun lebih tua darinya, berdiri di hadapannya dengan senyum mengembang lebar. Perempuan yang di sapa Seo Jin itu tak datang sendirian, dia datang bersama seorang pria asing yang adalah suaminya. Seingat Luhan, Seo Jin menikah dengan orang Australia.

"Luhanie nuguya?" pekik Jaejoong dari dalam rumah.

"Seo Jin eonni! Masuklah eonni. Jaejoong eonni sedang menyiapkan makan malam."

Luhan membuka pintu rumah Jaejoong selebar mungkin, memberi ruang pada Seo Jin dan suaminya untuk masuk ke dalam rumah.

Setelah kedua tamunya masuk, Luhan membimbing Seo Jin menuju ruang makan rumah Jaejoong yang selalu menjadi tempat favorit semua anggota keluarga. Di tempat ini, banyak cerita yang mereka bagi, tempat ini selalu terlihat hidup dengan celoteh beberapa orang yang berkumpul disana.

"Omo! Seo Jin-ah! Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Jaejoong menyambut hangat kehadiran kakak perempuan dari Seo Jong itu. Tubuh ramping itu di peluknya erat.

"Aku baik-baik saja eonni. Bagaimana dengan kabar keluarga di sini?" Seo Jin membalas pelukan hangat Jaejoong.

"Semua dalam keadaan baik. Duduklah! Makan malamnya akan siap sebentar lagi."

"Aku bisa membantu kalau kau mengijinkan eonni."

Jaejoong menggeleng pelan. "Tak perlu, Luhanie yang akan membantuku, kalian kau duduk saja!" Jaejoong mempersilahkan Seo Jin dan pasangannya untuk duduk di ruang makan.

"Sepi, yang lain kemana?" tanya Seo Jin yang sangat tahu kebiasaan di ruangan ini.

"Yunho dan Minnie sedang menemani anak-anak bermain lego. Kyunie ada di rumah keluarganya satu minggu terakhir ini, dia sebentar lagi akan melahirkan dan memilih tinggal disana. Kalau Sehun, biasalah, sibuk dengan pekerjaannya."

"Chanyeol?"

Jaejoong terdiam sejenak. Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya pada Seo Jin? Hubungan yang terjalin antara Chanyeol dan Baekhyun, belum di ketahui keluarga mendiang istri saudara sepupunya itu. Kalau dia mengatakan hal yang sesungguhnya, apakah hal itu tak menyinggung perasaan kakak dari Seo Jong itu?

"Chanyeol selalu sibuk di musim gugur eonni. Pekerjaan banyak di ambilnya di musim ini agar saat musim dingin tiba, dia bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jaehyunie." Sahut Luhan sambil menyajikan dua cangkir teh hangat pada kedua tamunya itu.

Seo Jin mengangguk-angguk, kemudian tersenyum pada Luhan.

Jaejoong dapat bernafas dengan lega. Dia tak harus menjawab pertanyaan Seo Jin. Semua sudah di wakilkan dengan jawaban Luhan.

"Jangan katakan apapun padanya tentang Chanyeol, eonni. Kita tunggu waktu yang tepat." Bisik Luhan yang di angguki Jaejoong.

"Aku akan ke kamar, memanggil yang lainnya eonni." Luhan meninggalkan ruang makan.

Tak berapa lama, Luhan kembali dengan Yunho yang menggendong Taeyong dan Changmin yang menggendong Jaehyun serta Moobin yang sudah melesat lebih dulu.

"Omo! Jaehyunie!" Seo Jin berdiri dari duduknya, tangannya di sodorkan pada Jaehyun, tapi bocah lima tahun itu memilih berbalik dan mengeratkan pelukannya pada leher Changmin.

"Jaehyunie! Ini Imo sayang." Seo Jin menyentuh punggung Jaehyun, kepalanya di telengkan ke kanan, berharap bisa melihat wajah tampan keponakannya, tapi Jaehyun membuang muka dan menyurukkannya di bahu dalam Changmin.

"Duduklah!" Jaejoong merangkul pundak Seo Jin, lalu membawa perempuan berambut coklat itu kembali duduk di tempatnya. "Kau juga duduk Minnie-ah! Dudukkan Jaehyunie di sampingmu!" perintah Jaejoong yang di angguki dan dituruti Changmin.

"Bagaimana kabarmu Seo Jin-ah? Sepertinya kau sangat betah tinggal di Aussie." Yunho mengambil tempat duduk tak jauh dari Seo Jin. Berusaha mengalihkan rasa kecewa yang di rasakan wanita itu akibat penolakan Jaehyun.

"Aku baik oppa. Seperti yang oppa lihat saat ini." Seo Jin tersenyum tipis. "Tentu saja aku betah tinggal di Aussie. Di sana aku bekerja dan di sana juga aku menemukan cinta sejatiku." Seo Jin kembali tersenyum dan menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.

"Kalian berlibur?" tanya Yunho lagi.

"Gomawo eonni." Seo Jin menatap Jaejoong yang memberinya piring berisi masakan wanita itu. "Nde oppa. Minggu depan ada upacara peringatan kematian Seo Jong, jadi mengambil cutinya sedikit panjang." Lanjutnya.

Yunho mengangguk-angguk mengerti. Suasana kemudian hening, hanya denting peralatan makan yang terdengar beradu.

Pembahasan tentang kematian Seo Jong, memang masih sangat sensitif. Apalagi jika membahas hal itu dengan Seo Jin. Wanita itu, lima tahun yang lalu sempat mengamuk dan nyaris menuntut Chanyeol karena di anggap tak becus menjaga Seo Jong hingga menyebabkan Seo Jong meninggal dalam kecelakaan mengerikan itu.

Bahkan, dua tahun pertama sejak kematian Seo Jong, wanita itu sama sekali tak menyapa Chanyeol dan anggota keluarganya yang lain, Seo Jin tetap beranggapan bahwa penyebab kematian Seo Jong adalah Chanyeol.

Tapi... di tahun ketiga hingga sekarang, meski kadang ucapan Seo Jin masih menjurus pada ketidakterimaannya atas kematian Seo Jong, sikapnya jauh lebih baik. Setahun sekali, saat dia pulang dari Australia, dia dan suaminya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah Jaejoong, bertemu dengan Chanyeol dan keponakannya yang sama sekali tak ingin di sentuhnya, Park Jaehyun.

"Jaehyunie! Imo punya coklat, Jaehyunie mau?" tawar Seo Jin sambil mengeluarkan sebatang coklat dari dalam tasnya, ini salah satu bentuk usahanya memenangkan hati Jaehyun. Bukankah biasanya anak kecil sangat menyukai coklat?

Tapi, sekali lagi, usaha Seo Jin terbentur sikap Jaehyun yang langsung menunduk dan menggeleng. Raut wajah bocah itu juga berubah masam.

"Buatku saja imo!" pekik Taeyong yang membuat Jaehyun mendongak.

"Hyung 'kan tak boleh makan coklat. Buat Moobin hyung saja." Celoteh Jaehyun.

"Aku tak suka coklat. Kau yang sangat menyukainya Jaehyunie, buatmu saja." Balas Moobin.

"Shierreo! Appa bilang tak boleh menerima makanan dari orang tak di kenal." Jaehyun menggeleng lucu.

Pembicaraan singkat ketiga bocah itu, menghantam keras dada Seo Jin. Jaehyun menganggapnya orang asing.

"Kalian jarang bertemu, kalaupun bertemu hanya setahun sekali. Jangan salah mengartikan ucapan Jaehyun, Seo Jin-ah. Dia belum tahu maksud dari apa yang dikatakannya." Ujar Jaejoong yang terlihat khawatir, bisa saja Seo Jin tersinggung dengan ucapan Jaehyun.

"Gwaenchana eonni." Seo Jin tersenyum tipis.

"Jangankan kau yang hanya bertemu satu tahun sekali dengannya eonni, aku saja yang setiap hari bertemu dengannya, tetap tak bisa bersahabat dengannya." Luhan menatap Seo Jin, kemudian menatap Jaehyun yang asik menyantap sosisnya.

"Anaknya memang seperti itu Seo Jin-ah. Tak begitu saja bisa akrab dengan orang yang baru bertemu dengannya." Yunho ikut menengahi, sama dengan Jaejoong, dia juga berharap Seo Jin tak tersinggung atas sikap Jaehyun.

"Aku mengerti oppa. Jangankan anak seusia Jaehyun, aku juga tak serta merta bisa langsung akrab dengan orang yang baru kutemui." Seo Jin kembali mengembangkan senyum tipisnya. Dia kemudian kembali menyendok makan malamnya.

"Ehm... eonni!" Seo Jin menatap Jaejoong.

"Ya." Balas Jaejoong.

"Sudah lima tahun berlalu dari kematian Seo Jong, apakah Chanyeol tak berniat mencari pasangan?" tanya Seo Jin.

"Kenapa bertanya seperti itu?"

"Lima tahun, bukan waktu yang singkat untuk bertahan tanpa kehadiran seorang wanita di tengah keluarga kecilnya, bagaimanapun juga, Jaehyun tetap saja membutuhkan sosok seorang ibu bukan? Ehm... kalau memang Chanyeol mencari calon istri, aku rasa tak ada salahnya kalau dia mempertimbangkan Seo Bin."

Jaejoong terhenyak. Seo Bin, Han Seo Bin adalah adik dari Seo Jong. Sepengetahuannya, Seo Bin adalah gadis yang baik, juga cantik dan pembawaannya tenang. Tak seperti Seo Jin yang tak sabaran. Hubungan Seo Bin dan Chanyeol selama ini terjalin cukup baik, karena bagi Chanyeol, Seo Bin adalah adiknya. Hanya adik, dan sepertinya perasaan itu tak akan berubah di hati Chanyeol sampai kapanpun.

Hah!

Haruskah dia mengatakan Chanyeol sudah memiliki calon ibu untuk Jaehyun? Kalau memang harus, darimana dia harus memulai bercerita?

"Kalaupun harus menikah lagi, banyak yang harus Chanyeol pikirkan nunna. Kalau alasannya hanya ingin ada wanita di rumahnya, Ahn ahjumma juga seorang wanita. Tapi... karena dia memiliki anak, tentu tak akan semudah itu memutuskan menghadirkan sosok wanita diantara mereka. Seo Bin cantik, baik dan keibuan aku rasa, tapi apakah Jaehyun bisa menerima kehadirannya? Dengan nunna saja dia menolak, apalagi dengan Seo Bin yang juga sangat jarang di jumpainya. Asal nunna tahu, wanita yang akan di nikahi Chanyeol nanti, adalah wanita yang bisa di terima Jaehyun. Karena dia lebih penting dari semua yang di miliki Chanyeol saat ini." ujar Changmin diplomatis.

.

.

.

Chanyeol mengajak Baekhyun menikmati indahnya malam di pinggir sungai Han, setelah mereka menyelesaikan acara nonton itu.

Keduanya kini duduk di salah satu bangku di pinggir sungai, dengan di temani makanan ringan dan beberapa kaleng bir.

"Rabu depan, aku akan ke Chungnam." Chanyeol mulai membuka percakapan.

Baekhyun hanya melirik Chanyeol, lalu kembali menenggak bir dari kaleng yang di pegangnya.

Saat mereka baru memulai hubungan, keduanya memutuskan untuk menceritakan segala sesuatu tentang diri mereka. Termasuk bagi Chanyeol adalah menceritakan tentang mendiang istrinya. Seingat Baekhyun, Chungnam adalah tempat Seo Jong di lahirkan dan tumbuh besar sebelum pindah ke Seoul. Jadi kalau sekarang Chanyeol mengatakan akan pergi ke Chungnam, Baekhyun paham bahwa hal itu pasti ada hubungannya dengan Seo Jong.

"Ada peringatan kematian Seo Jong hari itu." lanjut Chanyeol.

"Kau akan pergi sendiri? Atau dengan Jaehyun?"

"Sendiri. Aku naik kereta dan berangkat sangat pagi sepertinya."

"Kau pernah membawa Jaehyun bertemu keluarga mendiang eommanya disana?"

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun, lalu menggeleng perlahan. Dia memang tak pernah membawa Jaehyun ke Chungnam. Bukan tak ingin, hanya saja dengan sikap Jaehyun yang sedikit anti sosial, dia justru akan merasa kesulitan dengan kehadiran Jaehyun. Bisa jadi, saat kakinya baru menginjak rumah keluarga mendiang istrinya, putranya itu menjerit minta pulang. Lebih dari semua itu, Jaehyun masih sangat kecil untuk dia kenalkan pada tempat abu ibunya di semayamkan. Nanti, ada saatnya dia akan membawa Jaehyun mengunjungi ibunya.

"Wae?"

"Jaehyun akan sedikit merepotkan bila di tempat baru sayang."

"Kalau kau tak mengenalkan dia pada anggota keluarganya yang lain, kapan kau akan mengenalkannya. Menunggu dia umur berapa?"

"Sekitar satu atau dua tahun lagi mungkin. Hmm... aku bukan tak pernah mengajak Jaehyun menemui mereka, pasti dalam satu tahun aku mengajak Jaehyun menemui Halmonienya dan juga imonya, tapi memang tak di Chungnam. Kami akan memilih satu tempat berlibur dan disana kami akan menghabiskan waktu bersama, dengan catatan keluarga Yunho hyung juga harus ikut."

"Hubunganmu masih baik dengan mereka semua?"

"Aku menganggap mereka keluargaku sendiri, eomma dari Seo Jong adalah eommaku juga dan saudaranya juga saudaraku."

Baekhyun mengangguk-angguk mengerti.

"Suatu hari, kalau kau mengajak Jaehyun menemui eommanya, ijinkan aku untuk ikut." Baekhyun menatap Chanyeol, kemudian senyum tipisnya terkembang.

"Jika saat itu tiba, aku inginnya kita sudah memiliki ikatan pernikahan." Chanyeol membalas senyum tipis Baekhyun dengan satu senyuman lebar.

"Kau berniat mengajakku menikah?"

"Menurutmu? Apa kau pikir aku main-main dengan hubungan ini?"

Baekhyun menggeleng pelan.

"Aku tak menganggap hubungan ini main-main." Sahutnya.

"Hmm. Kalau nanti kita menikah, kau ingin tinggal dimana? Rumahku atau kita harus membeli apartemen?"

"Dimana saja, asal ada kau dan Jaehyunie di dalamnya, aku pasti bahagia."

Chanyeol tertawa kecil. Mimik mukanya terlihat bahagia.

"Kenapa aku merasa kau sedang merayuku?"

"Ya!"

Chup!

Chanyeol mengecup singkat pipi Baekhyun, membuat gadis itu berjengit dan langsung menyentuh pipinya yang baru di kecup Chanyeol.

"Kau tahu kenapa pada akhirnya aku memutuskan mengencanimu?" Baekhyun menggeleng pelan atas pertanyaan Chanyeol. Dia pernah bertanya dan Chanyeol menolak memberitahunya.

"Karena kau wanita yang di pilih Jaehyun, selain itu kau membuatku bisa sejenak melupakan apa yang selama ini menjadi beban pikiranku. Aku berpikir, apalagi yang ku cari, sedang semua yang ku butuhkan ada padamu."

Baekhyun tersenyum tipis, lalu meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Chanyeol.

"Kau tahu kenapa aku mengiyakan ajakan kencanmu?"

Chanyeol menggeleng pelan.

"Karena aku sangat menyayangi Jaehyunie dan tak ingin berpisah darinya. Dan karena aku yakin, tangan ini akan selalu menggenggam tanganku. Mencintai dan di cintai olehmu adalah tugas selanjutnya setelah aku memutuskan menerima ajakanmu. Jangan menyerah untuk belajar mencintaku Chanyeollie oppa."

Chanyeol menatap sepasang mata Baekhyun dengan penuh kekaguman. Baekhyun sangat luar biasa dengan pemikirannya dan juga tindakannya. Tiga minggu terakhir ini, Chanyeol merasakan sesuatu yang dulu pernah di rasakan saat Seo Jong masih hidup. Ya! Chanyeol kembali merasakan bagaimana perasaannya menjadi sangat ringan ketika dia bisa membagi beban pikirannya tentang banyak hal pada Baekhyun.

"Kau juga, jangan menyerah untuk belajar dan mengajariku tentang cinta."

"Seharusnya aku yang mengatakan itu."

Keduanya saling tersenyum sebelum bibir mereka saling bertaut. Saling melumat dan menyesap. Keduanya terlihat sangat menikmati moment indah malam ini.

.

.

.

Seminggu kemudian

Chanyeol memacu cepat kendaraannya, keluar dari Seoul menuju ke arah Chungnam. Dia memutuskan naik mobil ke kota kecil tempat mendiang istrinya di lahirkan. Alasannya, kemarin dia lupa memesan tiket kereta, alhasil di jam yang menunjukkan pukul tiga pagi, Chanyeol berangkat menuju kota itu.

Butuh sekitar tujuh jam baginya untuk sampai ke tempat itu. Kalau dia tak salah perhitungan, sekitar pukul sepuluh nanti, dia sudah sampai. Upacara peringatan kematian Seo Jong sendiri, akan di laksanakan setelah dia tiba nanti.

Sambil menyetir, dia berdoa dalam hati, semoga tak ada hambatan yang menghadang selama dalam perjalanan ini.

.

.

.

Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan 'lah yang menentukan segalanya.

Harapan Chanyeol tak datang terlambat di upacara peringatan kematian mendiang istrinya, tak terkabul. Prediksinya meleset jauh karena ada kecelakaan di jalan tadi, hingga mengharuskannya menunda perjalanannya selama lebih dari dua jam.

Upacara kematian Seo Jong yang biasanya di adakan di sebuah kuil, sudah selesai saat dia datang. Kunjungan ke tempat abu Seo Jong di semayamkan, yang biasanya dia lakukan bersama anggota keluarga Seo Jong yang lain, hari ini dia lakukan sendiri karena keterlambatannya itu.

Dan sekarang, Chanyeol mengunjungi rumah Seo Jong. Beruntung, keluarga mendiang istrinya itu tak menolaknya.

Dia sekarang berada di ruang tamu rumah orang tua Seo Jong, duduk dengan lutut dilipat dan di jadikan tumpuannya, sambil membungkuk meminta maaf pada wanita paruhbaya yang duduk di hadapannya. Beliau adalah ibu dari Seo Jong.

"Jeosonghamnida eommoniem. Jeongmal jeosonghamnida." Lirih Chanyeol penuh penyesalan.

Sepanjang jalan dia menyesali keputusannya yang memilih menggunakan mobil untuk sampai ke kota kecil ini. Dia menyesali kebodohannya hari kemarin yang membuatnya lupa memesan tiket kereta. Dia... hah!

"Gwaenchana Chanyeol-ah. Kau datang saja eomma sudah sangat senang." Wanita paruh baya itu menepuk pelan punggung Chanyeol.

Chanyeol mendongak, menatap wanita itu. Pipi ibu mendiang istrinya itu masih terlihat basah. Dapat dia pastikan, wanita itu pasti tadi menangis, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Chanyeol mencoba mengembangkan senyumnya, yang di balas juga dengan sebuah senyum tipis oleh wanita itu.

"Aku sempat berpikir kau tak akan datang." Seo Jin datang dengan secangkir teh untuk Chanyeol, di belakangnya, ada perempuan muda yang tak lain adik Seo Jong, Han Seo Bin juga ikut masuk ke ruang tamu itu dan menyajikan beberapa makanan kecil untuk Chanyeol.

"Aku pasti datang nunna. Apapun dan bagaimanapun keadaanku. Yang terjadi tadi, memang tak sesuai prediksiku."

"Kau biasanya naik kereta, kenapa hari ini membawa mobil sendiri Chanyeol-ah?" tanya ibu Seo jong.

"Kemarin lupa pesan tiket kereta, jadi terpaksa naik mobil eommonie." Chanyeol memberi penjelasan singkatnya.

"Kau terlalu sibuk bekerja Chanyeol-ah." Chanyeol menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal atas apa yang dikatakan ibu Seo Jong itu.

"Di musim gugur seperti ini, saya memang banyak mengambil pekerjaan, tujuannya tentu saja agar di musim dingin saya bisa banyak menghabiskan waktu dengan Jaehyun."

"Oh ya! Akhir tahun ini, datanglah ke Aussie dengan Jaehyunie, Chanyeol-ah. Menikmati natal dan tahun baru disana tak ada salahnya 'kan? Eomma dan Seo Bin juga akan kesana."

Chanyeol tersenyum. Tak masalah sepertinya pergi ke Australia, tapi dia sudah terlanjur berjanji pada Baekhyun untuk mengajak gadis itu pergi ke Vatikan.

Baekhyun!

Kenapa dia tiba-tiba merasakan rindu pada gadis itu? Dia belum sempat menghubungi Baekhyun sejak pagi tadi. Belum mendengar suara kekasihnya itu, belum...Hhh!

"Chanyeol-ah!"

Chanyeol sedikit tersentak dengan panggilan Seo Jin.

"Kau melamun?"

Chanyeol menggeleng pelan.

"Bagaimana?"

"Apanya?"

"Ya! Di tanya melamun, jawabannya gelengan kepala. Di tanya bagaimana jawabanya apanya. Kau, saat ini kau dimana Chanyeol-ah. Pikiranmu kemana?"

Chanyeol menepuk pelan dahinya. Hah! Sempat melamunkan Baekhyun, otaknya tak berjalan baik setelah itu. Tentu saja Seo Jin kesal dengan reaksinya yang seperti orang bodoh itu.

"Diam lagi?"

Chanyeol menatap Seo Jin dan tersenyum tipis.

"Aku akan ke Vatikan akhir tahun ini nunna. Pergi ke Aussie-nya mungkin bisa lain waktu."

"Kapan? Sepanjang tahun kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu."

"Nanti aku akan mengabarimu."

"Berjanjilah kau akan datang dengan Jaehyunie."

Chanyeol mengangguk pasti.

"Chanyeol-ah!"

"Nde eommonie."

"Lima tahun terakhir ini, pasti sangat berat kau lalui. Kau, tak berpikir untuk mencari pengganti Seo Jong? Jaehyunie membutuhkan sosok ibu bukan?"

Chanyeol menatap mata tua itu.

"Saat aku tiba di Seoul dan mengunjungi Jae eonni, aku juga sempat membahas hal ini dengan mereka. Kau butuh sosok wanita yang akan membantumu membesarkan Jaehyunie, Chanyeol-ah. Ehm... mungkin ini akan sedikit membebanimu, tapi... untuk calon ibu Jaehyunie, bisakah kau mempertimbangkan Seo Bin?"

Chanyeol menatap Seo Jin kaget, lalu tatapannya beralih pada Seo Bin yang sempat beradu tatap dengannya namun kemudian memilih menundukkan kepalanya.

Seo Bin?

Dalam mimpi pun, Chanyeol tak pernah membayangkan akan bersanding dengan Seo Bin dalam ikatan rumah tangga. Dia tahu dan mengenal Seo Bin saat gadis itu masih sekolah tinggi, dia menganggap Seo Bin adiknya sendiri, perasaannya tak mungkin lebih dari itu.

"Tunggu! Maksudnya apa ini?"

"Tak ada salahnya kalau kau memilih Seo Bin sebagai pendampingmu nantinya Chanyeol-ah."

Chanyeol mengerjap sejenak. Berusaha menjernihkan pikirannya setelah pemberitahuan mendadak itu, tapi yang terjadi, sekelebat bayangan Baekhyun muncul, saat gadis itu memperkenalkan dirinya padanya.

"Byun Baekhyun imnida!"

Bahkan Chanyeol dapat dengan jelas melihat senyum manis Baekhyun terkembang.

Chanyeol mengerjap sekali lagi.

"Kalau saya menerima ajakan anda untuk melanjutkan kencan itu, dimana tempat saya di hati anda. Sementara sepertinya, hati anda sudah terisi penuh dengan dia dan Jaehyunie."

Bayangan saat Baekhyun duduk di sampingnya, menanyakan tentang tempatnya di hatinya kembali hadir. Chanyeol melihat dengan jelas ketenangan di sepasang mata milik Baekhyun dan senyum tipis yang mengembang di bibir tipis itu.

Tuhan!

"Ruang kecil di hati anda. Biarkan saya tinggal disana. Mari belajar saling menerima dan mencintai satu sama lain."

Dia sudah berjanji untuk menerima dan mencintai Baekhyun malam itu, haruskah semua hancur dengan permintaan ini.

Tidak!

Hatinya menjerit tidak, hatinya terus memanggil nama Baekhyun. Dia ingin bertemu gadis itu sekarang, dia ingin memeluk Baekhyun, dia ingin menceritakan beban ini pada gadisnya. Dia ingin Baekhyun.

"Aku tak bisa nunna."

"Wae? Apakah Seo Bin kurang cantik?" tanya Seo Jin.

Chanyeol menggeleng pelan. Kalau hanya cantik, yang lebih cantik dari Baekhyun banyak yang mendekatinya tapi hatinya tak mengiyakan ajakan wanita-wanita itu. Hatinya seolah memilih sendiri, pada siapa dia ingin bertaut, dan pilihan hatinya adalah seorang Byun Baekhyun.

"Kalau tentang wajah cantik, setiap perempuan di dunia ini terlahir dengan paras yang cantik, nunna. Seo Bin cantik, sangat cantik, tapi... sejak awal aku hanya bisa menganggapnya adik dan hal itu tak akan berubah sampai kapanpun. Jeosonghamnida eommonie, nunna, untuk siapa yang akan menjadi calon ibu Jaehyun, dia sudah memilihnya sendiri." Chanyeol menunduk sopan.

"Siapa?" tanya ibu Seo Jong.

"Namanya Byun Baekhyun, dia gadis yang baik, yang menerima saya juga Jaehyun dengan tangan terbuka. Dia gadis yang di pilih Jaehyun untuk di sayanginya dan dia gadis yang membuat saya berjanji untuk belajar mencintainya. Dia tak menuntut saya melupakan Seo Jong, dia tak meminta saya membuang Seo Jong dari hati saya, dia hanya meminta sedikit tempat di hati saya untuknya."

Ibu Seo Jong berkaca-kaca mendengar kalimat yang di ucapkan Chanyeol, wanita paruh baya itu kemudian mendekati Chanyeol.

"Bawa dia kesini Chanyeol-ah. Aku ingin melihat seperti apa gadis itu."

"Saya pasti membawanya kesini, mengenalkannya pada kalian semua." Chanyeol menatap wanita itu, lalu beralih pada Seo Jin dan juga Seo Bin.

"Mian Seo Bin-ah. Aku menyayangi sebagai seorang adik. Tak akan lebih dari itu."

"Aku mengerti oppa."

.

.

.

TBC

Note : Terimakasih untuk semua cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.

Maaf kalau lama nunggu updatenya.

Penulis sedang terserang drakor... kalau sudah mulai di galauin drama, minat menulisnya jadi berkurang.

Maaf kalau part ini tak sesuai harapan. #Bow

Beritahu saya bagaimana caranya membangun semangat menulis lagi.

Sedikit curhat ya...

Akibat pernyataan mengejutkan dari Luhan, saya merasakan sesak dan ingin menangis tapi gak bisa. Ada rasa tak rela tapi bisa apa?TT

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^