Learn To Loving You

.

.

.

08

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Baekhyun duduk di salah satu bangku taman yang letaknya dekat dengan toko bunganya. Waktu menunjukkan hampir tengah malam dan keadaan sudah sedikit sepi.

Chanyeol memberitahunya untuk menunggu di taman ini, entah apa yang di pikirkan kekasihnya itu saat memintanya menunggu, karena kenyataannya saat ini sudah sangat larut. Chanyeol tak berpikir sepertinya, bahwa apapun bisa terjadi saat Baekhyun duduk sendirian di tempat itu.

"Baekhyunie!"

Baekhyun mendongak dan langsung menatap pemilik suara yang memanggilnya. Chanyeol berdiri tak jauh darinya. Menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya dan senyum lebar menghiasi bibir tebalnya.

"Chanyeollie oppa!" Baekhyun berdiri dari duduknya, lalu hendak melangkah mendekati Chanyeol. Namun hal itu urung dia lakukan karena Chanyeol sudah lebih dulu berlari kecil menghampirinya.

Baekhyun tak menyangka, kalau Chanyeol kemudian mendekapnya dengan sangat erat.

"Waeyo oppa?" tanya Baekhyun yang keheranan dengan sikap Chanyeol yang tak seperti biasanya.

"Aniya. Aku hanya ingin memelukmu."

Baekhyun mendongak, menatap leher Chanyeol yang tepat berada di depannya.

"Kau memelukku seolah kita sudah berpisah berpuluh-puluh tahun oppa."

Chanyeol menundukkan kepalanya, menatap wajah Baekhyun dari penerangan yang terlalu terang di taman ini.

Perempuan ini, yang seharian ini terus berlari di dalam pikirannya. Perempuan ini, yang membuatnya harus meminta maaf di hadapan makam Seo Jong, karena kenyataannya saat dia tengah berdoa untuk istrinya, bayangan Baekhyun berkelebat di pikirannya. Belum lagi saat dia berada di rumah keluarga Seo Jong dan kakak iparnya berusaha menjodohkannya dengan Seo Bin, bayangan Baekhyun semakin terlihat jelas. Hingga akibatnya, rasa rindu terhadap perempuan ini muncul begitu saja.

Chanyeol nekad pulang ke Seoul meski harus diakui dia cukup lelah menyetir seorang diri. Demi apa? Demi memuaskan kerinduaannya pada kekasihnya itu.

"Kita memang sudah sangat lama tak bertemu, makanya aku memelukmu seperti ini." Chanyeol kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Baekhyun.

Suara tawa Baekhyun terdengar. Lengan kecilnya kemudian melingkari pinggang Chanyeol dan kepalanya dia sandarkan di dada bidang pria itu.

Malam ini, dia merasa begitu dekat dengan Chanyeol.

Bukan berarti sebelumnya tidak, hanya saja, berpelukan tak pernah menjadi agenda mereka. Bahkan hampir sebulan hubungan mereka berjalan, baru kali ini Chanyeol memeluknya seerat ini.

"Kau ada masalah oppa?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Hankyung oppa selalu memeluk Chullie eonni kalau dia sedang menghadapi sebuah masalah."

Chanyeol melonggarkan pelukannya, lalu kembali menunduk menatap Baekhyun.

"Masalahku hanya satu sekarang ini."

"Apa?"

"Aku sangat merindukanmu."

Baekhyun terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang terasa bersorak riang. Perutnya seperti mengeluarkan kupu-kupu.

Mendengar Chanyeol menyampaikan rasa rindunya, kenapa terasa begitu menyenangkan?

Perlahan, sudut bibir Baekhyun tertarik ke samping. Gadis itu tersenyum tipis.

"Sedikit terasa aneh mendengarmu mengatakan hal itu, tapi aku bahagia."

Chanyeol ikut mengembangkan senyumnya. Tak salah rasanya, dia memilih Baekhyun untuk menjadi bagian dari masa depannya.

Perlahan, Chanyeol semakin menundukkan kepalanya, lalu bibirnya mendarat di atas bibir Baekhyun. melumatnya dengan begitu lembut.

Dia selalu menyukai saat bibirnya menyentuh dan melumat lembut bibir kekasihnya itu. bibir itu terasa begitu manis berada dalam sesapannya.

Ciuman mereka berlangsung sekitar dua menit. Setelah itu, keduanya saling menatap, lalu tersenyum kecil sembari Chanyeol mengusap lembut bibir bawah Baekhyun.

"Kau selalu terasa manis. Neomu joahae." Bisik Chanyeol yang membuat Baekhyun tersipu malu. "Aku lapar. Ayo makan!" ajak Chanyeol kemudian. "Ada yang ingin ku katakan padamu." Lanjutnya sambil menggenggam tangan Baekhyun dan menghela gadis itu untuk meninggalkan taman.

Sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki, mereka menemukan kedai sup yang letaknya tak terlalu jauh dari taman tempat mereka bertemu tadi. Satu set menu makan malam sudah tersaji di meja mereka. Chanyeol terlihat begitu lahap menyantap makan tengah malamnya itu, sementara Baekhyun terlihat mengambil makanan itu sedikit dan memakannya dengan malas. Nafsu makannya menguap begitu saja setelah mendengar cerita Chanyeol tentang kejadian yang di alami pria itu di Chungnam.

Pria itu mengatakan, dia diminta oleh kakak mendiang istrinya untuk mempertimbangkan kemungkinan menjalani hubungan dengan adik mendiang istrinya. Meski Chanyeol sudah mengatakan penolakan atas permintaan itu, entah mengapa hal itu justru mengganggu pikiran Baekhyun.

Salahkah dia yang masuk begitu saja dalam kehidupan Chanyeol dan Jaehyun?

"Kenapa makanmu sedikit sekali?" tanya Chanyeol yang tiba-tiba memperhatikan Baekhyun yang memakan makanannya dengan sedikit malas.

Baekhyun tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan. Gadis itu kemudian menyuapkan makanannya ke dalam mulut kecilnya.

"Kau masih memikirkan apa yang ku katakan tadi?"

Baekhyun menatap Chanyeol, hanya sebentar. Setelahnya dia memilih menunduk. Entah mengapa hatinya merasa sedih saat terlintas dalam pikirannya Chanyeol yang bisa saja mengiyakan permintaan itu.

Chanyeol tersenyum kecil lalu meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat.

"Aku memilihmu sayang, itu yang harus kau tahu. Janjiku untuk terus dan terus belajar mencintaimu, itu tak main-main. Selain itu, Jaehyun juga menjatuhkan pilihannya padamu. Aku tak berniat mempertimbangkan hubungan itu, karena bagiku, sampai kapanpun Seo Bin adalah adikku."

Baekhyun mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Kau tak percaya padaku?"

Baekhyun menggeleng pelan. Bukan tak percaya, hanya saja dia merasa takut akan bayangan kehilangan sosok Chanyeol.

Di sadari atau tidak, sepertinya hati Baekhyun sudah mulai terpaut dengan Chanyeol, demikian pula sebaliknya.

"Mari kita bertunangan sayang."

.

.

.

"Apa yang membawamu kemari selarut ini, Chanyeol-ah?" tanya Changmin sembari mempersilahkan Chanyeol masuk ke dalam apartemennya.

Chanyeol melenggang masuk tanpa menyahuti perkataan Changmin. Pria yang tak kalah tinggi dari Changmin itu kemudian memilih melemparkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah. Tertelungkup tak bergerak.

"Kau sudah memberitahu Jae nunna kalau menginap di sini?"

Hanya gelengan yang Chanyeol berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Changmin. Membuat Changmin mengerutkan dahinya, satu pertanyaan berkelebat di benaknya, ada apa dengan laki-laki itu?

"Kau ada masalah?" Changmin melangkah melewati ruang tengah menuju ke dapur. Dia mendekati kulkas lalu membukanya dan mengambil dua kaleng bir.

Chanyeol yang semula menelungkupkan badannya di sofa, akhirnya bangun dan langsung menatap Changmin.

"Terjadi sesuatu di Chungnam?"

Chanyeol mengangguk sambil menerima kaleng bir yang di berikan Changmin padanya.

"Apa?" Changmin mulai menenggak bir dari kalengnya.

"Seo Jin nunna ingin menjodohkanku dengan Seo Bin."

Changmin mengangguk. Dia sudah menduganya, Seo Jin pasti mengatakan hal itu pada Chanyeol.

"Lalu apa jawabanmu?"

"Aku mengatakan yang sebenarnya, ada gadis yang membuatku berjanji untuk belajar mencintainya. Lagi pula, aku tak bisa bersama-sama dengan Seo Bin. Dia gadis yang baik sebenarnya, hanya saja hatiku sudah terlanjur menganggapnya hanya sebatas adik. Tak akan lebih dari itu hyung."

Changmin mengangguk-angguk paham.

"Lalu apa yang membuatmu terlihat tak bertenaga seperti ini?"

Chanyeol menatap Changmin lalu mendesah pelan.

Bukan tanpa alasan dia memutuskan mendatangi Changmin. Pasca apa yang dia katakan pada Baekhyun tentang pertunangan itu, hatinya tiba-tiba merasa bimbang. Bukan karena tak yakin, tapi karena Baekhyun yang tak merespon baik apa yang diinginkannya.

Gadis itu hanya diam lalu tiba-tiba pergi meninggalkannya tanpa memberikan jawaban. Ketika Chanyeol berusaha mengejarnya, Baekhyun sudah masuk ke dalam taksi dan pergi.

Saat seperti ini, dia membutuhkan berbagi pikiran dengan Changmin, bukan Jaejoong yang sudah pasti akan memarahinya dan mengumpatinya. Dia hapal betul bagaiamana sifat kakak sepupunya itu, rentetan kalimat omelannya tak akan berhenti hanya dalam lima menit.

"Aku mengajak Baekhyunie bertunangan."

Byur!

"Uhuk... uhuk... uhuk..."

Changmin terbatuk seketika, bahkan cairan putih yang belum sempat masuk ke tenggorokannya terpaksa di semburkan setelah mendengar pernyataan Chanyeol tadi.

"Apa kau gila Chanyeol-ah?"

Chanyeol menatap Changmin dengan tatapan polosnya.

"Hah!" Changmin berdiri dari duduknya, lalu mengambil kanebo dan membersihkan lantainya yang terkena ceceran bir yang di semburkannya tadi.

"Bagaimana reaksinya saat kau mengatakan hal itu?"

"Dia langsung pergi meninggalkanku."

Changmin melirik Chanyeol sebentar, kemudian kembali duduk di samping pria itu.

"Kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama dengannya. Karena apa? Kau tak berpikir yang kau lakukan ini tergesa-gesa? Kalian menjalin hubungan belum genap satu bulan, bahkan kau belum yakin dengan perasaanmu terhadap dirinya, tapi kemudian kau tiba-tiba mengajaknya bertunangan. Jelas saja dia takut."

"Kenapa dia harus takut? Aku serius saat mengatakan hal itu hyung."

"Atas dasar apa?"

Chanyeol diam. Atas dasar apa? Pertanyaan Changmin memenuhi otaknya. Atas dasar apa dia mengajak Baekhyun bertunangan?

"Kau mencintainya?"

Chanyeol menatap Changmin. Cinta? Seperti apa sebenarnya perasaannya terhadap gadis itu? Apakah yang dia rasakan ini memang cinta? Atau adakah hal lainnya?

"Kodratnya wanita ingin selalu di cintai oleh pasangannya. Kalau pertanyaanku saja tak bisa kau jawab, lalu atas dasar apa kau mengajaknya bertunangan? Wanita itu membutuhkan kepastian akan perasaannya yang bersambut, katakan dia sudah jatuh cinta padamu, lalu apa kau bisa membalas perasaannya itu? Saranku, pikirkan lagi Chanyeol-ah! Jangan karena kau mendengar Seo Jin nunna ingin menjodohkanmu dengan Seo Bin lalu kau bertindak secepat ini di hubungan kalian."

"Kau tak tahu apa yang kurasakan hyung."

"Aku lebih tahu apa yang dia rasakan."

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Changmin.

"Saat aku memasuki kehidupan Kyuhyun, di hatinya sudah tersimpan pria lain. Aku mati-matian memperjuangkan perasaanku padanya, aku yang berusaha keras membuat dia melupakan pria itu dan itu tak mudah Chanyeol-ah. Beberapa kali aku mendengar dia menceritakan sosok pria yang pernah mengisi hatinya itu. Disini rasanya sangat sakit Chanyeol-ah." Changmin menunjuk dadanya. Kisah cinta Changmin dan Kyuhyun kurang lebih sama dengan apa yang di alami Chanyeol dan Baekhyun saat ini. Bedanya, dengan pria yang pernah memenuhi hatinya itu, hubungan Kyuhyun hanya sebatas tunangan.

"Jujur saja, selain senang dengan kabar kedekatanmu dengan Baekhyun-ssi. Aku juga merasa miris. Aku tahu kau dan sangat memahami perasaanmu terhadap Seo Jong dan aku juga tahu bagaimana rasanya di posisi Baekhyun-ssi. Kalau Jaehyun, aku tak ragu dengan perasaan sayangnya terhadap gadis itu, tapi kau... bagaimana denganmu? Hatimu saat ini, masihkah milik Seo Jong, sedangkan di hadapanmu saat ini berdiri gadis yang menawarkan cinta yang lain untukmu?"

Chanyeol mendesah perlahan. Penjelasan Changmin terdengar rumit, tapi dia cukup tahu maksud dari apa yang dikatakan Changmin. Pada intinya, saat dia memutuskan menerima hubungannya dengan Baekhyun, dia harus tahu saat itu juga perasaannya terhadap Seo Jong harus di kubur dalam-dalam.

Dia tak mungkin bisa menyimpan dua wanita dalam hatinya. Hah!

"Saat aku mengunjungi makam Seo Jong, bayangan wajah Baekhyun terlintas begitu saja di hadapanku hyung. Aku tak tahu kenapa, tapi ada rasa bersalah menjalar di dadaku saat aku mengatakan perasaan cintaku untuk mendiang istriku. Saat Seo Jin nunna memintaku untuk mempertimbangkan hubungan dengan Seo Bin, bayangan Baekhyun kembali terlintas. Dia sedang tersenyum padaku dan mengenalkan dirinya padaku, lalu dia yang tersenyum kecil saat memintaku menyisakan ruang kecil di hatiku untuknya. Aku merasa sangat merindukan dia, aku merasakan takut tak beralasan. Jujur saja, kalau bukan karena dia, aku tak akan kembali ke Seoul malam ini hyung. Chungnam-Seoul itu jauh, sekitar tujuh jam lebih perjalanan dan aku menempuh perjalanan itu demi bisa melihat Baekhyun malam ini. Demi bisa menumpahkan semua rasa rinduku padanya."

Chanyeol menyandarkan punggungnya, lalu matanya terpejam. Tanpa dia sadari, bulir airmata menetes melewati sudut matanya. Menceritakan hal itu pada Changmin, dia merasakan sesak menjalari dadanya. Dia tak tahu bagaimana perasaannya pada Baekhyun yang sesungguhnya, yang dia tahu, saat tadi menemukan Baekhyun menunggunya di bangku taman itu, hatinya membuncahkan perasaan bahagia dan juga lega. Chanyeol merasa, Baekhyun miliknya dan selalu akan menjadi miliknya.

"Kau mencintainya Chanyeol-ah. Perasaanmu padanya, sudah tumbuh sebesar ini dan kau tak menyadarinya."

.

.

.

Baekhyun langsung masuk ke dalam rumah begitu Heechul membukakan pintu untuknya. Dia tak bicara, hanya langkahnya di ayun cukup cepat ke dapur.

Heechul mengerutkan keningnya, kemudian mengikuti langkah Baekhyun. tatapannya semakin terlihat aneh, saat di lihatnya Baekhyun mengambir air putih dan menegaknya hingga nyaris tandas.

Ada apa?

Baekhyun tadi mengatakan padanya akan tidur di toko, katanya pesanan banyak dan dia harus kerja lembur. Tapi... di waktu lewat tengah malam, sepupunya itu tiba-tiba pulang dengan keadaan yang tak bisa di katakan baik-baik saja sepertinya. Kenapa dengan Baekhyun?

"Ada apa Baek-ah?" tanya Heechul setelah Baekhyun meletakkan botol air minumnya di atas meja.

"Han oppa eodigayo?"

"Di kamar. Mau ku bangunkan?"

Baekhyun mengangguk pelan. Dia harus bicara denga Hankyung sekarang.

Heechul masih menatap Baekhyun aneh, tapi dia menuruti apa yang diinginkan Baekhyun.

Heechul kembali ke kamarnya, membangunkan Hankyung dan kembali ke dapur lima menit kemudian dengan keadaan sang suami yang masih setengah sadar.

Heechul kemudian membuatkan kopi untuk Hankyung, tampaknya pembicaraan mereka akan berlangsung cukup lama.

"Oppa! Aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Baekhyun yang sudah duduk di hadapan Hankyung.

Hankyung diam sejenak sambil menatap Baekhyun sebelum kemudian mengangguk setuju.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Menurut oppa, apa normal seorang pria melamar seorang wanita padahal hubungan mereka baru berjalan sekitar satu bulan?"

Hankyung mengerutkan keningnya.

"Normal. Hal itu bisa terjadia tergantung dengan perasaan si prianya."

"Apakah cinta bisa tumbuh begitu cepat hanya dalam waktu empat minggu oppa?"

Hankyung mengucak matanya, lalu tersenyum kecil.

"Jangankan empat minggu, sekali lihat saja bisa. Tak ada yang benar-benar tahu kapan perasaan cinta itu masuk ke dalam hati Baekhyunie. Kadang masuknya sangat halus hingga kita tak menyadarinya dan baru sadar saat kemudian cinta itu pergi. Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?"

"Chanyeollie oppa mengajakku bertunangan."

"MWO!" Heechul memekik keras. Dia tak menyangka akan secepat ini Chanyeol ingin melamar adik sepupunya.

Hankyung dan Baekhyun menatap Heechul bersamaan dengan tatapan yang sedikit tak terima atas teriakannya.

"Teriakanmu membuatku tuli sayang. Kau tahu ini malam dan putri kita sedang tidur." Tegur Hankyung.

"Mian." Heechul mendekati Hankyung dan meletakkan secangkir kopi di hadapan suaminya itu. "Kapan Chanyeol mengatakan hal itu, tadi?"

Baekhyun mengangguk pelan.

"Omo! Ah... aku tak percaya ini sayang. Secepat inikah kita akan melepas Baekhyunie untuk Chanyeollie?"

Hankyung mengerutkan dahinya. Berbeda dengan kekhawatiran yang terlukis jelas di mata Baekhyun, sorot mata istrinya justru bersinar terang mendengar berita ini.

"Kau bisa lebih tenang sayang?"

Heechul menatap Hankyung, kemudian menangkup pipi pria itu dan menjepitnya dengan gemas. Lalu dengan tak tahu malu, Heechul melayangkan satu kecupan pada bibir suaminya itu.

Baekhyun sudah terlalu biasa dengan semua ini. Kemesraan yang selalu dilihatnya dari pasangan di hadapannya itu, kadang membuatnya iri. Sifat Heechul dan Hankyung sangat bertolak belakang, pun demikian keduanya tetap bisa hidup rukun bahkan jarang sekali terlihat bertengkar. Hankyung yang begitu penyabar bisa mengimbangi sikap Heechul yang terkadang meledak-ledak tak sabaran. Hankyung selalu bisa bersikap dewasa ketika berhadapan dengan Heechul yang kadang kekanakan.

Baekhyun kadang tak habis pikir, bagaimana bisa dulu Hankyung jatuh hati pada sepupunya itu? Padahal, meski cantik, sepupunya itu sebenarnya bisa berubah menjadi iblis kalau sudah marah. Dan ketika hal itu dia sampaikan pada Hankyung, pria itu hanya mengumbar senyumnya menanggapi pertanyaannya, lalu kemudian akan di jawab...

"Aku mencintai dia, dengan semua yang ada pada dirinya. aku tak akan menuntut dia menjadi sempurna karena dia sempurna kalau aku ada disisinya Baekhyun-ah."

Kalau sudah di jawab seperti itu, Baekhyun hanya bisa menjawab...

"Betapa beruntungnya Heechul eonni memilikimu oppa."

"Aku terlalu senang Hannie."

"Sepupumu tak demikian sepertinya."

Heechul menatap Baekhyun yang terlihat seperti orang tertekan itu.

"Wae? Kenapa wajahmu seperti itu? kau sepertinya tertekan, benarkah seperti itu Baekhyunie?"

Baekhyun membuang nafasnya dengan kesal. Inilah sebabnya dia mencari Hankyung. Cara menyikapi masalah yang berbeda, membuat Baekhyun lebih nyaman menceritakan apapun pada Hankyung.

"Sayang! Bagaimana kalau kita dengar dulu cerita dia? Ceritakan semua Baekhyunie!"

Baekhyun mengangguk, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi beberapa saat lalu itu, mulai dari Chanyeol yang menghubunginya dan memintanya datang ke taman, lalu diceritakannya juga cerita tentang Chanyeol yang hendak di jodohkan dengan adik mendiang istrinya dan tentu saja cerita tentang Chanyeol yang tiba-tiba mengajaknya bertunangan.

Bisa saja Baekhyun menjawab iya pernyataan Chanyeol itu, hanya saja dia ragu melakukannya karena hatinya belum yakin kalau Chanyeol mencintainya. Hmm... satu bulan, apakah waktu sesingkat itu cukup untuk membuat Chanyeol menepikan sosok Seo Jong yang di cintai pria itu lebih dari tujuh tahun?

Yang menjadi pertanyaan besar Baekhyun, Chanyeol ingin bertunangan dengan Baekhyun apakah dari hatinya? Ataukah karena saat di Chungnam dia diminta untuk mempertimbangkan hubungannya dengan adik mendiang istrinya, lalu dia menolak dan karena hal itu akhirnya pria itu tergesa memutuskan bertunangan dengan dirinya?

Baekhyun tak ingin salah melangkah, apalagi ini menyangkut masa depannya. Terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan juga tak baik bukan? Makanya dia ingin bertemu dengan Hankyung dan menyampaikan semua kekhawatirannya pada kakak sepupunya itu.

"Saat baru bertemu tadi, dia memelukku sangat erat, seolah kami sudah sangat lama tak bertemu. Padahal, pagi tadi kami sempat bertemu."

"Bagaimana perasaanmu saat ini padanya Baek-ah?" tanya Hankyung setelah mendengar semua cerita Baekhyun.

"Ehm..." Baekhyun terlihat berpikir. "Aku nyaman dengannya oppa. Dia pria yang baik, yang sayang pada anaknya dan..."

"Alasan itu saja apa tak cukup membuatmu menjawab 'iya'?"

Baekhyun menatap Hankyung dengan tatapan tak mengerti.

"Saat kita memulai sebuah hubungan, kadang kita hanya mengatakan aku akan menerimamu apa adanya. Tapi seiring berjalannya waktu, kita menjadi tamak akan rasa kepemilikan kita itu. Kau mengatakan padanya, hanya memerlukan ruangan kecil di hatinya untuk kau tinggali awalnya, dan yang ku lihat sekarang kau ingin memiliki semua yang ada di hatinya Baek-ah."

Baekhyun tertegun mendengar apa yang di katakan Hankyung.

"Sebenarnya sangat sederhana sekali, kalau kau merasa yakin bersamanya kau akan bahagia, kau tak perlu berpikir panjang untuk menjawabnya. Kau hanya perlu mengatakan 'iya, mari kita bertunangan.' Selesai. Kau tahu Baek-ah, saat seorang pria memutuskan untuk mengajak seorang perempuan melangkah ke jenjang yang lebih dari sekedar pacaran, itu bukti bahwa pria itu serius dengan perasaannya. Ok! Katakan mungkin Chanyeol terkesan tergesa memutuskan hal itu, tapi kalau mendengar ceritamu tadi, kenapa dia sampai mengambil keputusan seperti itu? Karena dia tak ingin kehilanganmu. Kau tahu, siapa yang pertama kali aku pikirkan saat aku jauh dari kalian?"

Baekhyun menatap Heechul, lalu keduanya kompak mengendikkan bahunya.

"Kau sayang." Hankyung menatap Heechul dan menggenggam tangan wanita yang sudah lebih dari sepuluh tahun menemaninya mengarungi suka dan duka kehidupan berumah tangga.

"Sejak aku mengenalnya Baek-ah, setiap kali aku pergi jauh darinya, selalu dia yang menjadi buah pikiranku. Apa yang dia lakukan? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bisa menjaga cintaku? Apakah dia tak akan berpaling dariku? Ketakutan-ketakutan seperti itu sering sekali ku rasakan Baek-ah, karena apa? Karena aku mencintainya. Dan kalau yang dia temui adalah kau setelah perjalanan tujuh jam itu, tidakkah kau berpikir kalau kau menempati tempat istimewa di hatinya?" lanjut Hankyung.

Baekhyun kembali di buat tertegun dengan apa yang dikatakan Hankyung. Benarkah dia menempati tempat yang istimewa di hati Chanyeol?

"Kau ragu karena semua baru berjalan. Cinta tak mengenal kata baru untuk tumbuh dan berkembang Baekhyunie."

Hankyung memperhatikan perubahan air muka Baekhyun. Sepupu istrinya itu masih terlihat kebingungan.

"Aku tak memaksamu untuk menuruti apa yang ku katakan Baek-ah. Pikirkan saja dulu, sebenarnya sangat wajar kalau kau butuh waktu. Tapi... terlebih dahulu, beritahu dia sekarang kalau kau baik-baik saja dan minta maaflah karena kau pergi begitu saja tadi. Dan juga, pikirkan baik-baik apa yang ku katakan tadi."

Baekhyun mengangguk mengerti, dia memang meninggalkan Chanyeol begitu saja tadi, bahkan teriakan Chanyeol tak di hiraukannya tadi.

Hankyung beranjak dari duduknya, diikuti Heechul, kemudian keduanya melangkah ke masuk ke dalam kamar.

Sebelum benar-benar masuk kamar, Hankyung dan Heechul sempat memperhatikan Baekhyun yang sedang berbicara dengan Chanyeol di sambungan telponnya.

"Dia mencintai Chanyeol, sayang. Itu yang ku lihat."

Heechul menatap Hankhyung lalu mengangguk.

.

.

Dua minggu kemudian

Chanyeol berdiri di pintu kedatanngan luar negeri. Hari ini dia memiliki jadwal khusus untuk menjemput dua wanita hebat yang menjadi bagian penting dalam hidupnya selain Jaejoong tentunya.

Ya!

Ibu dan kakak Chanyeol pulang dari New Zealand setelah mendapatkan kabar dari Jaejoong kalau Chanyeol sudah memiliki kekasih dan dikatakan pula oleh Jaejoong bahwa Chanyeol sudah siap bertunangan dengan kekasihnya itu.

Ibu mana yang tidak marah mendengar semua itu, anak yang lahir dari rahimnya dan di besarkan dengan penuh kasih sayang, memiliki berita bahagia namun tak berbagi dengannya.

Kemarin malam, ibu Chanyeol, marah pada putra bungsunya itu. Kenapa bukan Chanyeol yang menceritakan semua padanya, itu tuntunan wanita yang tahun ini genap berusia lima puluh sembilan tahun itu. Dan saat Chanyeol mencoba membela diri, dia justru mendapat serangan telak dari kakak perempuannya yang cantik tapi juga terkenal dengan sifat judes dan seenaknya sendiri itu.

Dan kedatangan mereka hari ini, tentu saja untuk menuntut Chanyeol, menuntut penjelasan dari pria tinggi berambut ikal itu.

"Ya Park Chanyeol!"

Chanyeol menatap kakaknya yang berdiri tak jauh darinya dan tengah berkacak pinggang padanya. Di sampingnya, sang ibu memasang wajah seram tapi tak terlihat seram sama sekali.

Chanyeol tersenyum manis, lalu melangkah menghampiri ibu dan kakaknya. Chanyeol memeluk ibunya yang dia pikir akan menolaknya setelah kejadian kemarin malam, tapi ternyata tidak. Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir kepala enam itu, justru memeluk Chanyeol erat serta sesekali memukul punggung lebar putranya itu.

"Pabbo!"serunya gemas.

Chanyeol melepas pelukannya pada sang ibu, lalu hendak memeluk kakaknya, namun seperti yang sudah di jelaskan tadi, kakak Chanyeol yang terkenal dengan sikapnya yang judes dan jutek itu, justru mendorong dahi adiknya itu dengan telunjuknya.

"Lain kali, kau tak perlu mengatakan pada kami tentang hubunganmu dengan siapapun. Kami bukan apa-apa buatmu bukan?" ujarnya sarkatis.

"Mianhae nunna. Aku tak bermaksud merahasiakan hal ini, aku hanya merasa belum perlu menceritakan hal ini."

"Lalu kapan kau anggap perlu cerita pada kami? Setelah kau menikah dan punya anak lagi? Apa kau gila Park Chanyeol?!" pekik kakak perempuan Chanyeol dengan suara melengking keras, membuat mereka menjadi pusat perhatian untuk menjadi beberapa saat.

"Lama-lama, kau tak menganggap kami ini keluargamu sepertinya." Lanjutnya dengan wajah garangnya.

"Tidak seperti itu nunna. Kalian berdua tetap keluargaku yang paling ku sayang. Sudah! Daripada kita bertengkar di sini, malu juga di lihat orang, bagaimana kalau pertengkarannya di lanjutkan di rumah?"

Kakak perempuan Chanyeol, yang memiliki rambut panjang itu mengibaskan rambutnya, kemudian menggandeng ibunya dan melenggang meninggalkan Chanyeol dengan langkah anggun bak model.

Chanyeol menatap keduanya dengan tatapan lega.

"Chanyeollie! Palli juseyo!"

"Nde." Sahut Chanyeol sambil menyeret dua koper besar milik dua wanita tadi.

Sepanjang perjalanan ke rumah Chanyeol, tak banyak percakapan yang terjadi di dalam mobil itu. Kakak perempuan Chanyeol lebih senang melihat pemandangan sepanjang jalan itu, yang tentu saja banyak berubah, tak seperti sekitar tujuh tahun lalu saat dia masih tinggal di Korea. Sedangkan ibunya, sesekali bertanya pada Chanyeol tentang tumbuh kembang Jaehyun.

"Kenapa kau tak mengajak Jeno, nunna?" tanya Chanyeol yang duduk di samping Shin ahjussi. Jeno adalah anak kakak perempuannya itu, yang usianya lebih muda satu tahun dari Jaehyun.

"Dia akan menyusul besok pagi. Jangan katakan aku ibu tak bertanggungjawab, anaknya sendiri yang tak mau di ajak kalau daddynya tak ikut."

Chanyeol nyaris meledakkan tawanya kalau deathglare kakaknya tak dia tangkap dari kaca spion atas. Alhasil, dia hanya bisa mengulum senyum tertahan.

"Jaehyun kenapa tak ikut menjemput?"

"Dia lebih senang di rumah, dengan Baekhyunie. Kalau di suruh memilih, dia akan memilih Baekhyunie daripada aku nunna."

Kakak Chanyeol mengangguk-angguk mengerti. Jaejoong sudah menceritakan semuanya, tak ada yang di tutupi, jadi meski dia belum pernah bertemu Baekhyun, dia sudah seperti mengenal lama gadis itu.

Perjalanan itu membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Pukul sepuluh lewat lima menit, mereka sampai di halaman rumah Chanyeol.

"Tak banyak yang berubah disini." Ujar kakak Chanyeol sambil melangkah menaiki tangga yang membawanya ke pintu utama rumah tersebut. Di susul kemudian dengan ibunya dan yang terakhir masuk adalah Chanyeol sendiri.

"Masuklah!" ucap Chanyeol sambil membukakan pintu untuk keduanya.

Keduanya masuk ke dalam rumah Chanyeol, sayup-sayup mereka menangkap celoteh anak kecil dari arah dapur. Keduanya kemudian melangkah ke dapur, disana mereka mendapati pemandangan yang menumbuhkan perasaan haru di hati keduanya.

Jaehyun duduk di atas meja, sedang mencetak kue dengan cetakan tokoh kartun kegemarannya. Jangan tanya bagaimana rupanya, karena yang pasti sudah belepotan dengan adonan kue. Sedangkan perempuan yang berdiri di sampingnya, hanya mengembangkan senyum serta sesekali mengusak pelan kepala bocah lima tahun itu.

"Halmeoni pasti suka kue buatan Jaehyunie. Nanti kalau sudah matang, kuenya boleh di bawa halmeoni ya imo?"

"Tentu saja. Nanti kita masukkan ke dalam toples kaca, biar bisa di bawa halmeoni."

Jaehyun menatap Baekhyun, lalu tawanya terkembang dengan lebar. Dia melanjutkan mencetak kuenya kemudian, sedangkan Baekhyun kembali ke kompornya, dimana disana dia sedang membuat sup.

Ibu Chanyeol tak kuasa menyembunyikan airmatanya menyaksikan semua itu, perempuan itu berbalik dan terisak dalam pelukan Chanyeol.

"Dia menyayangi Jaehyun, seperti anaknya sendiri eomma. Jaehyun menyayangi dia, seolah dia ibunya." Lirih Chanyeol.

"Duka yang kau rasakan selama ini, semoga segera di ganti Tuhan dengan kebahagian Chanyeol-ah. Eomma mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ujar ibu Chanyeol diantara isakan kecilnya.

Berbeda dengan sang ibu, kakak Chanyeol memilih melangkah mendekati Jaehyun, lalu dengan lembut, di usapnya kepala keponakan kesayangannya itu. Jaehyun menoleh, matanya berkejap menatap kakak dari ayahnya itu sebelum kemudian beringsut menjauh sembari memanggil Baekhyun.

"Baekhyunie imo!"

Baekhyun menoleh, dia mematikan kompornya sebelum mendekati Jaehyun.

Baekhyun sempat beradu pandang dengan kakak Chanyeol sebelum Jaehyun memeluk erat tubuh kecilnya.

"Gwaenchana Jaehyunie." Hiburnya sambil mengusap pelan punggung Jaehyun.

"Kau masih takut dengan Yoona imo sayang?" Park Yoona, kakak dari Chanyeol mendekati Jaehyun yang semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun saat punggungnya dia sentuh. Dia tersenyum tipis pada Baekhyun.

"Park Yoona imnida. Aku kakak perempuan Chanyeol."

"Byun Baekhyun imnida." Baekhyun membalas senyum Yoona.

"Jaehyunie tak ingin melihat imo?" ujar Yoona dengan suara merajuknya.

Jaehyun melirik sebentar, sebelum kemudian menyembunyikan dirinya di pelukan Baekhyun.

"Jaehyunie! Yoona imo ingin melihatmu sayang, kau tak ingin melihat imo?"

Jaehyun menggeleng dalam pelukan Baekhyun.

"Wae?" Jaehyun kembali menggelengkan kepalanya.

"Hei! Lihat imo sayang!" Jaehyun menatap Baekhyun. "Yoona imo ini adalah kakak dari Jaehyunie appa. Saudara, sama seperti Jaehyunie yang bersaudara dengan Moobinie hyung dan Taeyongie hyung. Jaehyunie menyayangi Moobinie hyung dan Taeyongi hyung 'kan?"

Jaehyun mengangguk pelan.

"Berarti Jaehyunie juga harus menyayangi Yoona imo, karena Yoona imo ini adalah saudara dari appa yang berarti juga adalah saudara Jaehyunie. Sesama saudara kita harus saling?"

"Menyayangi."

"Kalau bertemu dengan saudara kita, kita harus?"

"Bersikap sopan dan menyapanya lalu kemudian memeluknya."

"Jaehyunie pintar sekali. Jadi sekarang Jaehyunie harus apa pada Yoona imo?"

Jaehyun menatap Baekhyun sebentar, lalu menatap Yoona kemudian. Bocah lima tahun itu kemudian mendekati Yoona, lalu membungkuk sopan di hadapan Yoona, setelahnya dia menyapa Yoona.

"Imo annyeong!"

Tanpa di duga, setelah itu Jaehyun menghampiri Yoona dan memeluk kakak dari ayahnya itu.

Yoona tak dapat menyembunyikan rasa harunya, selama ini dia tak pernah di peluk Jaehyun, kecuali dia yang memaksa memeluk keponakannya itu. Tapi ini, dengan pengertian singkat yang di berikan Baekhyun pada bocah lima tahun itu, Jaehyun serta merta memeluknya.

"Omo!" pekiknya kaget. Perempuan yang usainya dua tahun lebih tua dari Chanyeol itu membalas pelukan Jaehyun hangat.

Ibu Chanyeol yang melihat keseluruhan kejadian itu, menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. Dia selalu berharap dan berdoa, semoga Tuhan menggantikan Seo Jong di hidup Chanyeol dengan perempuan yang baik, yang menyayangi cucunya dan tentu saja yang mencintai putranya. Dan doanya itu sepertinya terkabul, Baekhyun hadir sebagai penghangat di keluarga putranya. Yang dia lihat, Baekhyun menyayangi cucunya.

"Dia bisa menjelaskan dengan sangat sabar, apa yang tak bisa ku jelaskan pada Jaehyunie, eomma."

"Eomma bisa melihat itu. Kau... mencintainya Chanyeol-ah?"

Chanyeol menatap ibunya untuk waktu yang lama. Seperti yang dikatakan Changmin padanya dua minggu yang lalu, tanpa disadarinya, cintanya pada Baekhyun tumbuh besar dengan sangat cepat.

"Ya. Aku mencintainya eomma."

.

.

.

TBC

Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.

Mohon maaf kalau updatenya lama dan hasilnya kurang memuaskan.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^