Learn To Loving You
.
.
.
09
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Malam ini, suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat di taman belakang kediaman Jaejoong.
Dengan mengundang keluarga dekat dan para sahabat, malam ini Chanyeol dan Baekhyun mengukuhkan hubungan mereka dalam ikatan pertunangan.
Baekhyun terlihat sangat bersinar malam ini. Dress panjang berwarna putih dengan potongan kerah sabrina, terlihat sempurna membungkus tubuh rampingnya yang mungil itu.
Chanyeol juga tak kalah bersinar, senyumnya terus mengembang sejak kemarin. Iya, sejak kemarin dia mengenalkan Baekhyun pada ibu dan kakak perempuannya. Chanyeol bahagia karena tanggapan mereka berdua sangat baik, bahkan dalam waktu singkat, mereka sudah sangat akrab.
Setelah saling bertukar cincin dan menyematkan cincin itu di jari masing-masing, Chanyeol membawa Baekhyun berkenalan dengan beberapa keluarganya yang lain.
"Byun Baekhyun imnida." Baekhyun membungkuk sopan pada pasangan suami istri yang diakui Chanyeol sebagai adik dari ayahnya.
Pasangan suami istri Go itu tersenyum menyambutnya.
"Akhirnya, setelah begitu lama dan melalui banyak sekali perjodohan, kau memutuskan menikah juga Chanyeol-ah. Ahjumma sempat merasa putus asa karena kekerasan hatimu yang tak kunjung terbuka untuk yang lain. Ahjumma ikut senang untuk kabar ini. Ahjumma juga yakin, appamu di surga juga ikut bahagia karena berita ini. Semoga kalian selalu bahagia."
"Gomawo ahjussi, ahjumma. Senang kalian bisa hadir di acara pentingku ini." Ujar Chanyeol sambil mengenggam erat tangan bibinya.
"Sekali lagi, kami juga senang mendengar kabar ini Chanyeol-ah."
Chanyeol tersenyum, yang di balas paman dan bibinya dengan cara yang sama.
"Kami pamit dulu ahjussi, ahjumma. Nikmati waktu kalian disini."
Chanyeol beranjak dari duduknya, yang diikuti oleh Baekhyun.
Chanyeol membawa Baekhyun menuju sebuah kursi, dimana keluarga mendiang istrinya duduk.
Chanyeol memperkenalkan Baekhyun pada ibu mertuanya, kakak iparnya dan pasangannya serta adik iparnya.
"Inikah perempuan yang sangat di sayangi Jaehyunie?"
Baekhyun tersipu malu saat Ibu mendiang Seo Jong menyentuh dan membelai lembut pipinya.
"Jaga Jaehyunie, jaga Chanyeollie. Eomma yakin kalian akan bahagia sebagai keluarga. Kalian harus bahagia, arra!"
Chanyeol dan Baekhyun mengangguk, Baekhyun merasakan genggaman erat tangan perempuan paruhbaya itu.
"Ajaklah dia menemui Seo Jong, Chanyeol-ah."
"Nde eomma. Aku pasti akan membawa dan mengenalkan dia pada Seo Jongie."
Ibu Seo Jong tersenyum sambil mengusap lembut lengan Baekhyun. Gadis mungil itu dapat merasakan kebaikan hati wanita itu.
"Ajak juga nanti ke Aussie."
Baekhyun menatap wanita yang baru bersuara, yang tadi di kenalkan Chanyeol padanya sebagai kakak Seo Jong, kemudian beralih menatap Chanyeol.
"Seo Jin nunna bekerja di Australia, suaminya orang sana dan lebih banyak tinggal disana juga." Sahut Chanyeol menjelaskan.
Baekhyun mengangguk-angguk mengerti.
"Imo!" Jaehyun menghampiri Baekhyun dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu.
Baekhyun tersenyum dan mengelus lembut kepala Jaehyun.
"Waeyo? Mainnya sudah?"
Jaehyun mendongak, kemudian mengangguk lucu pada Baekhyun.
"Lapar." Lirihnya kemudian sambil mengeluarkan puppy eyesnya yang tidak pada setiap orang dia tunjukkan.
Baekhyun tersenyum lalu menangkup gemas pipi bocah lima tahun itu sebelum menciuminya dengan sangat ganas.
Pemandangan yang kontras, orang-orang di sekitar Jaehyun, yang adalah anggota keluarganya sendiri, tak bisa sebebas itu menciumi bocah itu. Kecuali Jaejoong dan Chanyeol yang notabene ayahnya sendiri tentu saja.
Sedangkan Baekhyun, si kecil begitu pasrah di ciumi gadis mungil itu. Tak ada protes yang keluar dari mulut bocah itu, padahal biasanya Jaehyun cukup risih dengan yang namanya ciuman bertubi-tubi. Si kecil justru terlihat sangat menikmati ciuman yang di layangkan Baekhyun di atas pipinya.
"Makan sama Imo yuk sayang!" ajak Seo Bin yang sudah duduk berjongkok di samping Jaehyun.
Si kecil melirik Seo Bin sejenak, sebelum kemudian berbalik cepat menyembunyikan dirinya di paha Baekhyun.
"Sayang! Ini Seo Bin imo, adik dari Jaehyunie eomma."
Jaehyun tampak ragu memutar kepalanya untuk melihat Seo Bin sekali lagi.
"Mau makan sama imo?"
Jaehyun menggeleng pelan.
"Baekhyunie imo." Lirihnya sambil menatap Baekhyun. "Jaehyunie mau makan sama Baekhyunie imo." Lanjutnya sambil menggenggam erat tangan kanan Baekhyun.
Saat Seo Bin menyentuh punggung kecil itu, Jaehyun menegakkan punggungnya, seolah ingin menghindari sentuhan tangan Seo Bin padanya.
Baekhyun tersenyum penuh penyesalan pada Seo Bin yang menatapnya tak enak.
"Seo Bin-ah! Tolong jangan salah paham dengan sikap Jaehyun. Dia memang begitu dengan orang yang baru dia temui." Ujar Chanyeol yang menangkap tatapan tak mengenakkan yang di lempar Seo Bin pada Baekhyun.
"Sepertinya hal itu tak berlaku untuk calon istri oppa."
Chanyeol tersenyum kecil mendengar apa yang di katakan Seo Bin. Yang di katakan adik iparnya itu benar adanya, kecuali Baekhyun.
Namun hal yang berbeda justru di rasakan Baekhyun. Bila Chanyeol terkesan biasa saja dengan apa yang baru saja di katakan Seo Bin, lain halnya dengan Baekhyun yang merasa kalimat Seo Bin seperti sebuah ungkapan kecemburuan.
"Imo! Lapar." Rengek Jaehyun.
"Ah ya. Ayo sayang, berdiri yang benar, kita makan ya."
Jaehyun melonjak girang mendengar ucapan Baekhyun. Bocah tampan yang malam ini terlihat semakin tampan dengan setelan jas kecilnya menggandeng tangan Baekhyun erat.
"Kami permisi dulu." Pamit Baekhyun sebelum berlalu dari hadapan keluarga Seo Jong dan Chanyeol.
"Dia gadis yang baik Chanyeol-ah. Aku bisa melihat ketulusannya menyayangi Jaehyun dari kedua matanya." Ujar Seo Jin sambil menatap punggung Baekhyun dan Jaehyun yang semakin menjauh.
Chanyeol mengangguk dan tersenyum bangga.
"Cepatlah menikah lagi." Lanjut Seo Jin.
"Malam ini ada, karena memang kami memiliki rencana menikah nunna. Pastikan kau akan kembali pulang ketika kami menikah nanti."
Seo Jin tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Raut wajahnya terlihat lebih santai daripada beberapa waktu lalu saat Chanyeol mengunjungi Chungnam dan mengatakan kalau dia sudah memiliki calon ibu untuk Jaehyun.
Sementara itu...
Baekhyun menggandeng Jaehyun menuju sudut taman, dimana disana di letakkan meja besar sebagai tempat makanan.
Gadis itu kemudian mendudukkan Jaehyun di sebuah kursi, lalu meminta si kecil menunggunya disitu, sementara dia terlihat sibuk memilih makanan yang cocok untuk Jaehyun.
Pilihan Baekhyun jatuh pada Japchae, nugget ayam, dan nasi putih serta semangkuk kecil sup. Setelah semua siap, Baekhyun kembali dengan membawa makanan-makanan itu ke hadapan Jaehyun.
"Makan pelan-pelan ya sayang. Imo mau ke toilet sebentar. Kalau ada apa-apa, Jaehyunie teriak saja. Mengerti sayang."
Jaehyun mengangguk sambil mulai memakan makanan yang di sajikan Baekhyun untuknya.
Jaehyun masih lahap menyantap makanannya ketika seseorang mendekatinya dan menawarkan sesuatu padanya.
"Jaehyunie mau ini?"
Jaehyun menatap perempuan itu, lalu beralih pada makanan yang ditawarkan wanita itu padanya, yang terlihat cukup menarik perhatiannya.
Jaehyun kemudian mengangguk, mengiyakan tawaran perempuan itu.
Perempuan itu tersenyum, lalu meletakkan makanan yang di bawanya dia atas meja. Jaehyun terlihat mengambil makanan itu dan mulai menyantapnya.
"Makan yang banyak ya sayang." Wanita itu mengusak pelan kepala Jaehyun sebelum pergi dari hadapan bocah kecil itu dengan senyum jahat menghiasi bibirnya.
.
.
.
Sekitar lima belas menit kemudian Baekhyun kembali ke taman belakang rumah Jaejoong.
Dahinya berkerut saat mendapati suasana yang berubah dari sebelumnya. Taman belakang rumah Jaejoong terlihat lebih gaduh dari sebelumnya dan suasana berubah menegangkan.
"Ada apa?" tanya Baekhyun pada Luhan yang melintas di depannya dengan langkah tergesa.
Wanita yang dia kenal sebagai salah satu kakak sepupu Chanyeol itu menatap Baekhyun sesaat, sebelum kembali melangkah meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun semakin heran dengan sikap Luhan yang acuh. Dia kemudian memendarkan pandangannya ke segala arah, menatap beberapa anggota keluarga Chanyeol yang lain, yang tadi sempat di kenalkan pria itu padanya. Pandangan orang-orang itu terhadapnya terlihat berbeda dari sebelumnya.
Baekhyun semakin di buat penasaran akan hal itu, ada apa ini?
"Kenapa kau berdiri disitu Baek-ah? Kajja!" Baekhyun merasakan tangannya di tarik. Dan ketika dia berbalik, Kyungsoo yang berjalan di depannya.
"Kyungie ada apa?" tanya Baekhyun heran.
"Jaehyun di larikan ke rumah sakit."
Baekhyun langsung menghentikan langkahnya. Rumah sakit? Jaehyun dilarikan ke rumah sakit? Karena apa?
"Wae?"
"Dia mengalami sesak nafas, yang ku dengar tadi, dia makan udang."
"Udang?" Baekhyun menatap Kyungsoo tak percaya.
"Ayo cepat!" teriak Jongin dari dalam mobilnya. Kyungsoo langsung mendorong Baekhyun masuk ke dalam mobil Jongin, di susul kemudian oleh dirinya sendiri.
Jongin mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa, menyusul mobil milik Sehun yang sudah lebih dulu meninggalkan rumah Jaejoong.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Jongin sudah sampai ke rumah sakit tempat Jaehyun di larikan.
Baekhyun langsung keluar dari mobil Jongin dan masuk ke dalam ruang IGD. Pada salah satu lorong, dia melihat Jaejoong, Yunho, ibu Chanyeol dan Heechul serta Hankyung disana. Luhan, Sehun, Yoona dan Donghae yang adalah suami Yoona baru bergabung kemudian.
Saat hendak menghampiri orang-orang itu, lengan Baekhyun tiba-tiba di tarik kasar oleh Chanyeol.
Pria yang di cintainya itu, menatapnya tajam dan penuh kemarahan.
"Apa yang sebenarnya kau rencakan?!" teriak Chanyeol yang menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Yunho meninggalkan Jaejoong dan menghampiri Chanyeol kemudian.
"Kau bisa tenang, kita di rumah sakit saat ini Chanyeol-ah. Jangan bersikap seperti bar-bar."
"Aku menanyakan rencana dia yang sesungguhnya hyung. Kau mau membunuh Jaehyunie?" Chanyeol menatap Yunho sekilas, lalu kembali menatap Baekhyun dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku tak mengeri maksudmu oppa. Dan tolong lepaskan, ini sakit." sahut Baekhyun dengan wajah meringis akibat cengkraman kuat tangan Chanyeol pada lengannya. Sepertinya, Chanyeol tak mengindahkan permohonan Baekhyun. Karena bukannya di lepaskan, Chanyeol justru semakin kuat mencengkeram lengannya.
"Jangan pura-pura bodoh Baekhyun-ssi. Kau yang bersama Jaehyun terakhir, seharusnya kau tahu bahaya apa yang sedang mengintainya."
Baekhyun mengerutkan keningnya, dia semakin tak mengerti.
"Bisakah kita bicara di tempat lain saja?" Hankyung mendekati Chanyeol, Baekhyun dan Yunho. "Di sini banyak pasien."
"Tidak perlu. Aku ingin menyelesaikannya sekarang juga, disini. Kau! Katakan padaku apa yang sebenarnya kau rencanakan BYUN BAEKHYUN?!"
Baekhyun tersentak mendengar teriakan Chanyeol. Seumur hidupnya, baru kali ini dia di teriaki sekeras itu.
"Tolong jelaskan padaku ada apa? Jangan berteriak seperti itu, teriakanmu tak menjelaskan apa-apa." Protes Baekhyun.
"Hah! Kau butuh penjelasan atas apa yang kau lakukan? Kau!" Chanyeol melepas cengkramannya tanpa melunakkan pandangannya pada Baekhyun. "Ingin membunuh Jaehyun?"
"Mwo?"
"Kau sengaja menyiapkan udang di makanan Jaehyun, padahal kau tahu dia alergi makanan laut itu. maksudmu apa?"
"Aku tidak melakukannya."
"Kau melakukannya! Semua orang tahu kau yang menyiapkan makanan untuk Jaehyun. Kau sengaja melakukan hal itu? Untuk apa? Untuk mendapatkan semua perhatianku? Aku tak menyangka kau sepicik dan sejahat itu Baekhyun-ssi. Dengarkan aku baik-baik! Pergi dari sini karena aku tak ingin melihatmu lagi!"
Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. Anggota keluarganya yang lain juga mengalihkan tatapannya pada pasangan yang sedang bertengkar tak jauh dari mereka itu. Rasanya juga tak percaya Chanyeol mengatakan hal itu.
"Jangan gegabah Chanyeol-ah. Pikirkan dulu apa yang kau katakan." Ujar Yunho.
"Aku sudah memikirkannya hyung. Aku sudah berpikir sejak membawa Jaehyun ke tempat ini." Chanyeol menarik nafasnya, lalu berbalik memunggungi Baekhyun. "Mungkin memang lebih baik aku tak menikah lagi." Lanjutnya sembari melangkah pergi dari hadapan Baekhyun.
Apa yang di katakan Chanyeol, adalah kesimpulan dari pikirannya sendiri. Tak ada yang menyayangi Jaehyun sebesar dirinya, jadi bukankah lebih baik dia tak pernah dekat dengan siapapun kalau hal itu justru akan membuat anaknya berada dalam bahaya. Dalam pikiran Chanyeol, bahkan orang yang dianggapnya sangat baik, ternyata juga bisa mencelakai anaknya, buah hati yang sangat di sayanginya.
"Tunggu!" cegah Baekhyun setelah mengumpulkan segala kekuatan dalam dirinya untuk tak menumpahkan airmatanya saat ini juga.
"Yang harus kau tahu Chanyeol-ssi, aku tak menyiapkan makanan berupa udang pada Jaehyun. Jadi jangan menuduhku melakukan hal itu karena itu salah. Lalu kau bertanya padaku apa yang kurencanakan? Aku berencana membangun keluarga bahagia denganmu dan juga Jaehyunie. Aku memang bukan ibu kandungnya, tapi aku sangat menyayanginya dan tak pernah berniat mencelakainya."
Pertahanan Baekhyun jebol, airmata gadis itu leleh membasahi kedua pipinya. Dengan berat hati, Baekhyun melepas cincin yang beberapa waktu lalu di sematkan Chanyeol di jarinya. Lalu dia melangkah ke depan. Mendekat pada Chanyeol dan meraih tangan besar pria itu. Di selipkannya cincin itu diantara lipatan genggaman tangan Chanyeol.
"Terimakasih untuk waktu satu setengah bulan yang kita habiskan bersama. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk merasakan bagaimana di cintai dan mencintai seorang pria. Aku bahagia. Terimakasih untu kebahagian itu. Maaf kalau ternyata, aku bukanlah pasangan yang baik untukmu. Tolong katakan pada Jaehyunie, dimanapun dia berada, aku akan selalu menyayanginya. Gomawo oppa."
Baekhyun berbalik dan langsung berlari meninggalkan tempat itu, dengan luka menganga di hatinya.
Hankyung menarik nafasnya berat, dia memberi isyarat pada Heechul untuk mendekat padanya.
"Terimakasih untuk malam ini Yunho-ya. Baekhyun adalah gadis yang sudah ku anggap lebih dari sepupu istriku. Bagiku, dia putri sulungku. Aku menjaga dan menyayanginya, aku tak pernah berteriak di depannya bahkan ketika aku merasa marah. Sepupumu ini, sudah menunjukkan kwalitas dirinya dengan bertindak seperti itu padanya." Ujar Hankyung.
"Hyung!" keluh Yunho putus asa.
"Sama seperti yang dikatakannya, tak ada yang mencintai dan menyayangi Baekhyun melebihi kami, jadi... kami tak membutuhkan seseorang yang hanya bisa menggoreskan luka untuk putri kami. Terimakasih untuk semuanya Yunho-ya. Kita pulang sayang!"
Hankyung merangkul pinggang Heechul, lalu keduanya memilih meninggalkan tempat itu. Menyisakan tatapan yang sulit di artikan dari orang-orang di sekitar Chanyeol. Mungkin mereka menyesalkan tindakan Chanyeol yang cukup berlebihan, tapi... tak ada yang namanya berlebihan bila hal itu menyangkut nyawa anak. Bagi Chanyeol, tindakannya sudah benar karena dia menilai berdasarkan pada bukti yang ada di depan matanya. Dimana sejak awal dia sudah memberitahu Baekhyun kalau Jaehyun alergi udang dan malam ini, pada makanan yang di sajikan untuk Jaehyun, ada udang yang masuk ke dalam mulut bocah itu. Apa Chanyeol salah menuduh Baekhyun seperti itu? Baekhyun yang terakhir terlihat dengan Jaehyun, jadi tuduhannya tak salah bukan?
"Nona Baekhyun!"
Semua orang tersentak mendengar nama itu di sebuat seorang perawat yang baru keluar dari ruang penanganan pasien kritis.
"A-ada apa? Ke-kenapa anda memanggil nama itu?" tanya Jaejoong terbata.
"Pasien mencarinya."
Jaejoong membulatkan doe eyesnya.
"Dia, pasien itu baik-baik saja?"
"Alerginya sudah bisa diatasi, dia sudah siuman dan mencari Baekhyun-ssi."
Ibu Chanyeol berbalik mendekati putranya.
"Cari dia Chanyeol-ah. Bawa dia kesini, Jaehyunie...Jaehyunie mencarinya. Bagi kita, Baekhyun mungkin hanya seseorang yang kebetulan menyayangi Jaehyunie. Tapi... bagi Jaehyunie, saat ini, Baekhyun adalah dunianya. Palli Chanyeol-ah. Cari dia dan bawa dia kesini."
.
.
.
Baekhyun menumpahkan tangisnya di pelukan Heechul di perjalanan pulang mereka, di dalam mobil yang di kemudikan pelan oleh Hankyung. Dia tak sanggup lagi membendung tangisnya. Beberapa waktu lalu, sembari terisak, dia menceritakan semua pada kakak sepupunya bahwa saat dia meninggalkan Jaehyun, bocah itu makan makanan yang disiapkannya dan dalam makanan itu tak ada sama sekali terselip udang.
Heechul tak mengatakan apapun, dia hanya memeluk dan menepuk pelan punggung sepupu mungilnya itu. Kejadian yang baru mereka alami, terjadi begitu cepat malam ini. Bahkan yang Heechul ingat, beberapa waktu lalu mereka masih tertawa bahagia dengan pertunangan Baekhyun dan Chanyeol, tapi beberapa jam kemudian semua berubah saat Jaehyun di temukan tak sadarkan diri.
"Aku menyayangi Jaehyunie, eonni. Aku menyayanginya. Aku tak pernah berniat membuatnya celaka apalagi sampai bermain-main dengan nyawanya. Aku... huks... huks..."
"Sssstttt... sudahlah. Seperti yang kau katakan tadi, kau akan menyayanginya dimanapun dia berada, tak perlu harus bertemu setiap hari dengannya bukan?"
Baekhyun semakin tergugu dalam tangisnya. Yang dia sesalkan bukan keputusannya mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol, meski tak dapat di pungkiri hatinya sakit dengan perpisahan itu. Yang dia sesalkan, karena kejadian ini, sudah pasti dia tak lagi bisa menemui bocah itu. Bagaimana kalau dia merindukan Jaehyun?
Heechul semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. Dia tahu dan dapat merasakan luka yang di rasakan sepupunya itu. Kalau dia di posisi Baekhyun saat ini, dia juga pasti akan menangis seperti ini. Hah!
Ciiiiiiittttt!
Tubuh Baekhyun dan Heechul condong ke depan dan nyaris jatuh dari kursi penumpang saat Hankyung tiba-tiba menginjak pedal remnya dengan sangat kuat. Mobil berjenis sedang yang di kemudikan Hankyung terpaksa berhenti mendadak karena ada mobil lain yang tiba-tiba menghadang.
Pemilik mobil yang tak lain adalah Chanyeol, keluar dan menghampiri mobil Hankyung.
"Ada apalagi anak itu kemari? Mau cari gara-gara lagi sepertinya." Heechul menatap tak suka Chanyeol yang semakin mendekat.
Tok... tok... tok...
Hankyung membuka pintu mobilnya dan keluar. Dia kemudian menyeret Chanyeol hingga ke depan mobil mereka.
Dari tempat duduknya, Baekhyun dan Heechul dapat melihat perdebatan yang terjadi diantara dua pria itu. Hankyung yang terlihat menunjuk-nunjuk Chanyeol berulang kali, lalu Chanyeol yang terlihat mengusap kasar wajahnya, pria berambut ikal itu terlihat putus asa.
Pembicaraan itu terjadi sekitar sepuluh menit. Hankyung kembali ke mobilnya, membuka pintu penumpang.
"Ada apa sayang?" tanya Heechul, sementara Baekhyun menegakkan punggungnya dan mengusap lembut pipi basahnya.
"Ikutlah dengannya Baek-ah. Jaehyun sudah siuman dan mencarimu."
Heechul menatap Hankyung keheranan, kemudian dia mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang terlihat berantakan dengan wajah putus asanya.
"Kau tak apa-apa menyuruhnya ikut pria itu? Ingat sayang, beberapa waktu lalu dia baru saja menuduh Baekhyun hendak membunuh anaknya. Aku tak mengijinkannya!" sergah Heechul.
"Sayang! Nanti aku jelaskan. Baek-ah! Keluarlah!"
Baekhyun terlihat kebingungan. Dia menatap Hankyung, kemudian Heechul bergantian.
"Baek-ah!"
"Eonni!" mengabaikan panggilan Hankyung padanya, Baekhyun justru memanggil Heechul, mata basahnya menatap Heechul, meminta pertimbangan pada sepupunya itu.
"Sayang! Ini demi kemanusiaan. Masalah yang mereka hadapi, biar mereka selesaikan nanti. Sekarang yang lebih penting, temui Jaehyun lebih dulu. Kau mengerti Baek-ah!"
"Ada jaminan dia akan berbuat baik pada Baekhyunie?" tanya Heechul.
"Aku sudah mengancamnya, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Baekhyun, dia orang pertama yang akan ku cari."
Setelah perdebatan singkat itu, Baekhyun keluar dari mobil Hankyung dan masuk ke mobil Chanyeol.
Pria itu kembali mengarahkan mobilnya menuju tempat putra tunggalnya di rawat. Sepanjang jalan yang memakan waktu kurang lebih lima belas menit itu, tak ada pembicaraan yang terjadi. Baekhyun memilih membuang pandangannya pada pemandangan sepanjang jalan yang mereka lalui, sedangkan Chanyeol, sesekali pria itu melirik Baekhyun. Dan semakin sering dia melakukannya, semakin besar penyesalan yang dirasakan.
Ibunya mungkin benar, saat ini Baekhyun adalah dunia Jaehyun dan juga... dunianya. Hah!
Grep
Baekhyun tersentak saat tangan kanan Chanyeol meraih dan menggenggam erat tangan kirinya. Gadis itu menatap tautan jari-jari panjang Chanyeol pada jarinya. Kemudian sepasang matanya menatap Chanyeol.
"Aku bersalah. Aku minta maaf sayang."
.
.
.
Tok... tok... tok...
Klek
"Yoona eonni!"
"Mana adikmu?" tanya Yoona tegas pada Seo Jin yang membuka pintu untuknya.
"Di-di dalam. Ada apa? Bagaimana keadaan Jae..."
Kalimat Seo Jin menggantung begitu saja, karena Yoona sudah lebih dulu masuk ke dalam apartemen miliknya itu.
Yoona melangkah lebar ke ruang tengah, menghampiri Seo Bin yang tengah duduk bersama ibu dan suami Seo Jin. Mereka memang tak ikut pergi ke rumah sakit karena yang menyertai Jaehyun ke rumah sakit sudah cukup banyak. Bukan tak khawatir, hanya saja kalau terlalu banyak yang ikut, rasanya juga akan menyulitkan mereka.
Tanpa banyak bicara, Yoona melayangkan satu tamparan di pipi Seo Bin.
Plak!
Seo Bin dan tentu yang lainnya terkejut dengan tindakan yang di lakukan Yoona.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah dekati Jaehyun, Chanyeol ataupun Baekhyun, karena kalau sampai hal itu kau lakukan, aku tak akan segan mematahkan kakimu."
"Yoona-ya! Ada apa ini?" tanya Ibu Seo Jong yang keheranan dengan tindakan preman Yoona.
"Ahjumma tanyakan saja pada putri bungsu ahjumma ini, apa yang sudah dia lakukan pada Jaehyunie."
Ibu Seo Jong menatap Seo Bin.
"Apa yang kau lakukan pada Jaehyunie, Seo Bin-ah? Jangan katakan kau yang memberikan udang pada Jaehyun tadi?" Seo Jin mendekati adiknya, memegang kedua bahu adiknya yang sudah menangis.
"Kau tak mau mengaku?" tanya Yoona dengan nada tinggi. Emosinya memuncak sejak Jaehyun mengatakan secara tersirat bahwa adik ipar Chanyeol 'lah yang memberikan udang padanya.
Ini gila! Hal itu yang Yoona pikirkan. Bagaimana bisa, perempuan yang sudah bisa di katakan dewasa, justru berniat mencelakai anak kecil yang melawan saja tak bisa. Apa maksud dan tujuannya melakukan semua itu?
"Seo Bin-ah!" desah ibu Seo Jong.
"Memang aku yang melakukannya. Aku yang memberikan udang pada Jaehyun."
Seo Jin berdiri tegak, matanya membulat menatap adiknya. Dia kemudian menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa Seo Bin melakukan semua ini, mencelakai keponakannya sendiri.
"A-apa yang membuatmu melakukan semua ini, Seo Bin-ah?" tanya Seo Jin.
Seo Bin menatap Seo Jin, lalu beralih pada Yoona, ibunya dan kakak iparnya.
"Karena aku mencintai Chanyeol oppa."
"Mwo?" Yoona menatap Seo Bin tak percaya.
"Aku mencintai Chanyeol oppa. Melihatnya terlihat sangat mencintai Baekhyun-ssi, hatiku tak terima. Aku yang seharusnya menggantikan Seo Jong eonni untuk mengurus mereka berdua, tapi..."
"Apa kau gila? Kau yakin yang kau rasakan pada Chanyeol itu cinta? Bukan hanya obsesi semata?"
Seo Bin menatap Yoona lama.
"Kalau kau mencintainya, kau tak akan mencelakai anaknya. Tujuanmu melakukan hal itu apa? Agar tuduhan di arahkan ke Baekhyun? Kau tahu, karena tindakan egoismu itu, nyawa keponakanmu sendiri hampir melayang, kau masih menyebut perasaanmu padanya cinta?" omel Yoona dengan emosinya.
"Eonni!" Seo Jin memegang lengan Yoona. Kakak perempuan Chanyeol itu, mengalihkan tatapannya pada Seo Jin.
"Atas nama keluarga, aku minta maaf. Aku akan mengajari Seo Bin, agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tolong jangan di perpanjang masalah ini."
Yoona mendengus kesal.
"Kau tahu, karena perbuatan adikmu, pertunangan mereka berada di ujung tanduk. Apa yang bisa dia lakukan untuk mengubah semuanya kembali seperti semula? Karena emosi melihat anaknya yang sekarat, Chanyeol mengatakan kalimat yang menyakiti hati Baekhyun, dia... adikmu itu bisa mengembalikan hati Baekhyun yang terluka ke keadaannya yang semula. Mudah bagimu meminta maaf, mudah pula bagiku memaafkan. Tapi tindakan adikmu itu sekarang menyisakan masalah baru." Yoona mendelik tajam pada kakak Seo Jong itu.
"Nasehati adikmu, agar berpikir panjang sebelum bertindak. Jangan hanya menuruti egonya." Tegas Yoona sebelum meninggalkan apartemen Seo Jin. Bahkan dia lupa sopan santunnya pada ibu Seo Jong.
Biarlah.
.
.
.
Baekhyun sedang memeluk Jaehyun yang mulai terlelap dala buaian mimpinya.
Bocah lima tahun itu menangis keras melihat Baekhyun masuk ke ruang rawatnya. Saat Baekhyun mendekat, dia langsung bangun dan menyodorkan kedua tangannya pada gadis mungil itu. Minta di gendong dan di peluk, dan yang terakhir, dia minta Baekhyun memeluknya sepanjang dia tidur.
Baekhyun mengusap lembut kepala Jaehyun. Dari apa yang di lakukan Baekhyun, setiap orang pasti bisa menilai, betapa besar rasa sayang yang di berikan gadis itu untuk anak yang bahkan tak lahir dari dalam rahimnya. Dia tulus menyayangi Jaehyun.
Sementara di dalam Baekhyun tengah menidurkan Jaehyun. Di luar ruang perawatan Jaehyun, Chanyeol tengah di hakimi oleh saudaranya yang lain. Yunho sudah menceritakan semuanya, tentang pengakuan Jaehyun yang menyatakan bahwa Seo Bin 'lah yang memberikan udang pada bocah itu.
Chanyeol tak percaya, selama dia mengenal Seo Bin, gadis itu sangat baik. Atas dasar apa, adik iparnya itu mencelakai anaknya.
"Mungkin saja dia menyukaimu sebenarnya Chanyeol-ah." Chanyeol menatap Luhan.
"Kalau dia melakukan hal itu dengan alasan mencintai Chanyeol, cintanya berarti buta. Hah!" sahut Jaejoong yang sangat jelas terlihat sedang menahan kekesalan di hatinya.
"Jangan bahas masalah itu sekarang. Bagaimana kau dan Baekhyun selanjutnya Chanyeol-ah?" tanya Yunho yang di sambut Chanyeol dengan desahan dan usapan kasar pada wajahnya.
Menerima kenyataan seperti ini dan mengingat apa yang dia katakan pada Baekhyun beberapa saat yang lalu, membuat perasaannya sulit untuk di ungkapkan. Dia tak percaya Seo Bin tega melakukan hal itu, satu pertanyaan ingin sekali dia tanyakan pada adik Seo Jong itu, kenapa dia bisa melakukan hal itu pada bocah lima tahun yang adalah keponakannya sendiri?
Selain itu, rasa sesal juga merayapi perasaan Chanyeol atas apa yang dia lakukan pada Baekhyun. Apakah Baekhyun akan memaafkannya? Mungkin saja, tapi sepertinya dia harus terima kalau Baekhyun akhirnya tak ingin lagi berhubungan dengannya.
"Aku tak tahu hyung. Kepalaku rasanya mau pecah saat ini. Semua terjadi sangat cepat dan semua di luar kendali. Aku tak tahu harus melakukan apa setelah ini." Chanyeol memijat pelan pelipisnya.
Donghae, suami Yoona, mendekati Chanyeol dan mengusap pelan punggung adik iparnya.
"Kesalahan terbesarmu, kau menuduhnya tanpa bukti. Yang harus kau lakukan adalah meminta maaf. Lalu perbaiki hubungan kalian. Mungkin lebih sulit, tapi kalau kau memang mencintainya, tak ada kata sulit untu setiap cobaan yang kau lalui demi mendapatkan dia lagi. Kau harus berjuang adik ipar."
Chanyeol mendongak, menatap kakak iparnya sesaat sebelum tersenyum penuh percaya diri. Dia akan berjuang untuk mendapatkan Baekhyun.
"Aku akan pulang dengan eommonie. Jaga dirimu dan gunakan kesempatan ini untuk bicara padanya."
"Nde. Gomawo hyung." Donghae mengangguk dan kembali menepuk pelan punggung Chanyeol. kemudian dia mengajak ibu mertuanya untuk meninggalkan tempat itu.
"Kami juga pulang." Pamit Yunho dan yang lainnya pun ikut pergi, meninggalkan Chanyeol sendirian di koridor rumah sakit itu.
Chanyeol masih duduk di tempat itu bahkan setelah sepuluh menit berlalu. Dia ingin masuk, bergabung dengan anaknya dan juga wanita yang berhasil mencuri hatinya setelah kepergian Seo Jong, tapi... hah! Chanyeol masih memikirkan bagaimana caranya memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun saat ini.
Sreeekkk!
Chanyeol mengalihkan pandangannya, Baekhyun baru membuka pintu dan berdiri tak jauh darinya. Untuk beberapa saat mereka saling menatap, tapi kemudian Baekhyun membuang pandangannya dan melangkah lalu duduk di samping Chanyeol.
"Jaehyunie sudah tidur?" tanya Chanyeol basa basi.
"Ehm." Gumam Baekhyun mengiyakan.
Hanya itu, tak ada pembicaraan setelah itu sampai lima menit kemudian.
"Sekali lagi aku minta maaf karena tadi menuduhmu." Ujar Chanyeol sambil menatap Baekhyun.
"Gwawnchana."
Chanyeol masih menatap Baekhyun, arti yang sebenarnya dari kata 'gwaenchana' itu apa? Apakah Baekhyun memaafkannya? Atau ada makna lain dari jawaban itu.
"Tentang hubungan kita..."
"Aku ingin memikirkannya lagi."
Firasat Chanyeol tak salah. Ada makna lain di balik jawaban yang di berikan Baekhyun sebelumnya.
Chanyeol tak tahu harus mengatakan apalagi. Pria itu meremat kedua tangannya yang mulai dingin. Yang di takutkannya kini ada di depan mata, berpisah dari Baekhyun. Dia tak ingin hal itu terjadi, tapi dia memahami kenapa Baekhyun menjawabnya seperti ini. Siapapun, bahkan dia sendiri, pasti sakit hati karena di tuduh melakukan perbuatan yang tak di lakukan, bahkan tadi dia tak sama sekali ingin mendengar penjelasan gadis itu dan... dengan kejam dia juga mengusir gadis itu dari rumah sakit.
"Aku tak ingin kehilangan dirimu."
"Aku masih ada dan berdiri di tempat yang sama, tapi... rasanya begitu sakit mendengarmu mengusirku dari tempat ini tadi."
Chanyeol meraih tangan Baekhyun, gadis itu diam saja dan membiarkan tangannya di genggam erat pria yang beberapa jam yang lalu adalah tunangannya.
"Itulah yang ku sesali. Aku tak bisa berpikir jernih tadi."
Baekhyun diam sejenak.
"Mungkin karena kita terlalu tergesa mengambil keputusan ini."
Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun.
"Kau pernah mengatakan padaku, untuk meyakinkan perasaanmu pada mendiang istrimu saja, kau butuh waktu lebih dari satu tahun, tapi kita... hubungan kita baru berjalan satu bulan lebih. Tidakkah itu terlalu cepat bagimu? Mari kita pikirkan semua ini, baik dan buruknya hubungan ini, kalau nanti ternyata aku bukan yang terbaik untuk mendampingimu, katakan padaku baik-baik, aku akan pergi."
Chanyeol ingin menangis mendengar apa yang di katakan Baekhyun. Kenapa mendengar Baekhyun mengatakan hal itu, hatinya terasa kosong tiba-tiba? Dia merasa apa yang sudah berada di genggamannya beberapa saat lalu, tiba-tiba hilang begitu saja.
"Tak bisakah saat ini hubungan kita kembali seperti beberapa waktu lalu, kau milikku dan selamanya begitu."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan sepasang mata yang menyiratkan luka dan kekecewaan.
"Aku ingin tapi aku tak bisa."
"Kita akan mengulang hubungan ini dari awal?"
"Sampai aku benar-benar yakin kalau keputusan untuk bersamamu adalah yang paling benar, tolong beri waktu aku untuk memikirkannya."
Chanyeol tak lagi bisa menahan laju airmatanya. Hubungannya dengan Baekhyun kandas bahkan sebelum sempat berkembang.
"Maaf kalau kata-kataku menyakitimu."
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih atas cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Ada yang merindukan kehadiranku?
Sekali lagi maaf ya kelamaan updatenya...
Lagi sibuk di real, ada pelatihan di perusahaan, lalu pulang kampung dan si putih baru mendarat kemarin di kamarku... ehehehehe
Ehm... sibuk juga ikut persiapan pernikahan adik tercintah dari koriyah SONG JONG KI ^_^
Semoga kalian menikmati chapter ini...
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
