AKASHI SEIJURO X STRANGER
CHAPTER 2
.
.
Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama
Story by KagamiTsuyu
.
.
Warn : part A little bit Yaoi
.
.
Hope you like it!
.
.
.
Beberapa jam sebelumnya..
Akashi Seijuro menunggu di depan gerbang sekolah dengan tidak sabar. Ia menyamankan posisi, di dalam jas sekolahnya yang hangat. Tapi tetap saja, wajahnya yang terkena tiupan angin membeku.
"Lama menunggu, Akashi?" suara itu mengambil alih perhatiannya.
Akashi menoleh, dan mendapati sosok tinggi berkacamata yang berdiri tak jauh darinya. Midorima Shintarou memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas sekolah. Terlihat menutup diri.
Tidak seperti biasanya.
"Tidak juga," Akashi berbohong. Tapi wajahnya yang merah dan nyaris iristasi karena terlama berada di cuaca dingin berkata sebaliknya. Sejujurnya, sudah tiga puluh menit ia melumut di sana. "Langsung saja. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Midorima memperbaiki letak kacamatanya, dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. "Aku ingin membicarakan tentang one on one antara kau dan Murasakibara tadi, Akashi," jawabnya. "Aku.. tidak menyukai sifatmu yang itu. Memutuskan bahwa Murasakibara tidak perlu mengikuti latihan asalkan sekolah kita menang itu tidak bagus."
"Oh, hanya itu? Tadi kan kau sudah mengatakannya," ucap Akashi pelan.
Angin sedingin es menyapu wajah Akashi, dan mendadak muncul sayatan berdarah di pipinya. gawat, kulit Akashi semakin tipis sekarang. "Aku sudah tahu kau membenci sifatku, Shintarou. Ryouta dan Tetsuya juga membencinya."
Midorima melangkah mendekati Akashi. Tapi Akashi berpaling, menyembunyikan luka di wajahnya. "Ada lagi yang ingin kau katakan? Aku sedang tidak mood membicarakan kejelekanku. Rasanya seperti menggosipi diri sendiri."
"Ada, Akashi. Tapi sulit mengatakannya."
Lalu, dalam sedetik itu, Midorima merengkuh wajah Akashi, dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Akashi tersentak ke belakang. "Apa yang kau la—!"
"Aku membencimu, tapi aku menyukaimu, Akashi!" Midorima berkata dengan nada tinggi.
"Masa bodoh!" Akashi balas membentak.
"Kau pun menyukaiku kan Akashi?!" tekan Midorima ofensif. Kata-katanya lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan.
Akashi langsung membuang muka. "Kau kege-eran, Shintarou." Lalu, Akashi berjalan menentang arah angin, meninggalkan Midorima yang terus menatap punggung dinginnya.
.
Gadis itu memainkan bola voli di tangannya dengan risi. Bahunya cedera, tragedi yang sudah biasa terjadi di kalangan para atlet. Tapi yang membuat gadis itu risi, adalah rumahnya yang terlalu hening.
Semenjak pulang dari rumah sakit, Kuro, anjing berbulu hitam kesayangannya, menghilang. Gadis itu tidak tahu ke mana perginya Kuro. Tapi ibu tirinya yang selalu butuh uang, entah itu untuk perhiasan atau sekedar parfume terbaru, sedikit mencurigakan.
Ibu tirinya tidak jahat-jahat amat, seperti yang di film-film. Tapi gadis itu tidak senang, ketika ibu tirinya tersenyum bahagia melihat gambar hasil X-ray miliknya. "Bagus juga. kita tak perlu mengeluarkan uang lagi untuk keperluan volimu. Untuk berikutnya, cari hobi yang murah, ya!"
Dasar keparat.
Tapi, tetap saja. Saat ini gadis itu mencemaskan keadaan Kuro.
"Okaa-san, aku akan pergi mencari Kuro," ucapnya pelan.
Ibu tirinya yang sedang asyik membaca buku resep makanan, mengangguk-angguk mengizinkan dengan kadar perhatian nol.
Ya sudahlah.
Gadis itu segera memakai jaketnya (agak ngilu ketika tanpa sengaja mengangkat bahu), dan melangkah keluar rumah. Salju turun dengan jelas, dan menggunung di jalan setapak rumahnya.
Gadis itu kemudian berjalan sambil menyepak-nyepak salju yang menghalangi jalannya, sampai ketika ia mendengar dengkingan itu.
Kuro!
Gadis itu reflek berlari. Ia tahu pendengarannya tidak salah. Dan perasaannya membuncah antara senang karena telah menemukan Kuro, dan cemas dengan keadaan Kuro di malam turun salju seperti ini.
"Kuro! Kuro!" panggilnya. Kuro di kejauhan balas menggonggong.
Kemudian..
Matanya bertatapan dengan mata heterochrome itu. Gadis itu tidak yakin. Tapi, ia merasa telah bertemu seseorang yang amat penting bagi hidupnya.
"Itu, anjingku, tuan!"
.
.
.
a/n :
Gomen, Minna. Tsuyu kebawa mimpi. Di mimpi itu, Tsuyu memiliki dua sahabat cowok (tahu deh siapa). Dan meski mereka gak bilang apa-apa, Tsuyu tahu mereka saling suka. Dan setiap gerak-gerik mereka yang malu-malu, Tsuyu jadi doki-doki sendiri.
Hadeh, fujoshi Tsuyu bangkit lagi (tos, Ai chan!).
Anyway, gomen yang sebenarnya gomen, Tsuyu updatenya telat. Soalnya Tsuyu nggak dapet feelnya. Jadi meski udah ngetik chapter duanya setiap hari, hasilnya pasti dihapus karena nggak memuaskan. Tapi hari ini, setelah bermain basket bersama Vann-chan sampai sore—bahu Tsuyu sakit-sakit :'(—dan sedih lantaran Tsuyu menjadi satu-satunya anak di kelas yang nggak kebagian rapor mid semester (maklumlah, Tsuyu pereman sekolahan), feelnya tiba-tiba datang. Bencana membawa varokah, hehe.
Oke, Minna, meski chap 2-nya aneh gini, Tsuyu masih mengharapkan reviewnya! Yurushiku!
