AKASHI SEIJURO X STRANGER

CHAPTER 3

.

.

Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama

Story by KagamiTsuyu

.

.

Rate M

Hope you like it!

.

.

.

Pagi harinya..

"Sei-sama, bangun," ucap para pelayan, berdesak-desakan di depan pintu bagian dalam kamar Akashi Seijuro.

Akashi, yang sudah berniat tidur sampai puas pada hari minggu yang nyaman itu, jelas tak sudi dibangunkan.

Tapi ia terlanjur bangun, karena para pelayan yang berisik itu, dan merasa amat kesal.

"Kalian, mau digoreng kah?" tanya Akashi, dengan mata menyipit sebal.

Para pelayan bergidik ngeri. Meskipun begitu, mereka tetap mengatakan sesuatu yang merusak suasana hari minggu itu. "Sei-sama, anda sudah harus mandi dan bersiap-siap."

"Kenapa?" Akashi mengangkat alis, sementara lidahnya sudah gatal untuk mengatakan kata 'pecat'.

"A-ayah anda menunggu di balkon, Sei-sama," jawab mereka serentak, menciut di bawah tatapan Akashi.

Akashi sontak terdiam, agak kaget dengan jawaban itu.

Alasan kenapa seorang Akashi memilih bermalas-malasan di hari minggu adalah karena ayahnya sedang tidak ada di rumah. Jadi.. sejak kapan ayahnya ada di rumah?

Akashi segera turun dari tempat tidur, dan menyambar handuk dari salah seorang pelayan. "Katakan padanya untuk menunggu," perintah Akashi. "Dan juga, katakan padanya bahwa aku kesiangan karena belajar semalaman," tambah Akashi, yang jelas-jelas merupakan kebohongan.

Semua juga tahu semalam Akashi pulang larut malam (bukan belajar). Belum lagi merampas dan membawa pulang anjing anak gadis orang. dan juga melanggar hukum ham dan memaksa pemilik anjing itu membuat perjanjian yang mengerikan. Benar-benar tuan muda yang kriminal.

Tapi karena kasihan pada Akashi, atau karena tidak mengharapkan adanya adegan pemecatan anak yang bahkan sudah amat sangat mainstream di film, para pelayan itu mengangguk. "Akan kami sampaikan, Sei-sama!" Lalu mereka berlalu dengan cepat.

Akashi kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya, dan melangkah ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.

Di dalam kamar mandi, Akashi teringat dengan seorang gadis dan anjingnya yang bernama Kuro.

Ngomong-ngomong soal gadis itu, saat ini ia berada di rumah ini, tidur entah di kamar mana, dan rela mati demi anjingnya. Perjanjiannya hanya satu hari. Tapi Akashi berniat menjadikan satu hari itu berarti baginya. Setidaknya, hidupnya selama menjadi Akashi enam belas tahun belakangan ini menjadi sedikit lebih menarik.

Setelah berendam sekitar 10 menit, Akashi keluar dari kamar mandi, dan hendak berpakaian—ketika melihat gadis itu, bengong di tengah-tengah kamarnya, sambil memeluk anjing. Dan anjing berwarna hitam itu menggonggong, seolah bersiul untuknya.

Wajah Akashi memanas, begitu juga gadis itu.

"Apa yang kau lakukan di kamarku?!" tanya Akashi, marah.

Gadis itu segera menunduk. Di sela-sela rambutnya yang kuning lembut, Wajahnya merah padam. "Maaf. Ku-kukira aku akan menemukanmu dalam keadaan lain."

Akashi mengernyit. "Keadaan lain apa maksudmu?" tanyanya.

Anehnya wajah gadis itu semakin merah. Ia menggeleng kuat. "Po-pokoknya keadaan lain!"

Akashi menyerah. Ia menghela nafas, kemudian menunjuk pintu. "Kau dan anjingmu boleh keluar!"

Gadis itu, dan juga anjingnya yang tak tahu adat, terlihat lega dan cepat-cepat keluar kamar.

Akashi segera berpakaian. Tak ada waktu mengurusi gadis itu saat ini.

Lima menit kemudian ia sudah berdiri di hadapan ayahnya, yang sedang minum kopi di balkon rumah.

"Selamat pagi, Otou-san," sapa Akashi sopan. Semua sikap kurang ajar dan sadistic-nya hilang, digantikan sikap normal seorang anak dari keluarga terhormat.

Ayahnya menatap jam dinding kuno di ujung koridor, yang menunjukkan pukul 7 pas, dan menjawab dengan ekspresi datar, "Selamat pagi."

Akashi menarik kursi, dan duduk di depan ayahnya. Seorang pelayan memberinya secangkir teh, dan Akashi meminumnya dengan tenang.

Hening, ayahnya tidak bicara lagi, dan Akashi merasa suasananya terlalu ganjil.

"Sebenarnya ada apa, Otou-san?" tanya Akashi, memberanikan diri.

Ayahnya kini menatapnya, dengan pandangan yang benar-benar tidak enak.

"Benarkah gosip yang kudengar itu, Seijuro. Kau berkencan dengan seorang laki-laki berambut hijau tua?" tanya ayahnya, to the point, dengan nada dingin.

Para pelayan sekitar langsung berhenti beraktivitas, saking kagetnya.

Begitu juga Akashi. Ekspresi Akashi langsung berubah, dan saat ia berbicara nadanya sedikit lebih tinggi daripada biasanya. "Itu tidak benar, Otou-san."

"Lalu bagaimana dengan foto-foto ini? Menurutmu ini palsu?" tanya ayahnya lagi, meletakkan beberapa foto di atas meja.

Akashi melihat foto itu, dan terdiam. itu adalah foto yang diambil kemarin malam, dengan wajah Akashi yang terluka, direngkuh oleh Midorima. Tidak ada bukti bahwa foto itu palsu, ataupun hasil editan. Bahkan luka yang ada di foto itu masih ada di pipi Akashi saat ini.

Tapi Akashi mengangguk. "Menurutku ini palsu, Otou-san," jawab Akashi, sambil sedikit memiringkan wajahnya, menyembunyikan bekas luka tipis yang melintang di tulang pipinya.

Sayang sekali kebohongan Akashi terlalu jelas, dan bahkan terkesan nekad, mengingat ia baru saja mencoba menipu ayahnya.

"Akashi, masuk ke kamarmu, dan jangan keluar sampai kupanggil," ucap ayahnya, menjatuhkan hukuman.

Para pelayan tercekat. "Tapi Akashi-sama—" mereka berusaha membela.

Tapi Akashi muda mengangguk, meski dengan berat hati. "Baiklah, Otou-san."

Ia segera kembali ke kamarnya dengan raut wajah sedih, yang kurang cocok untuk profilnya.

Di dalam kamar, Akashi membuka layar handphonenya, dan membaca pesan itu lagi.

From : Midorima Shintarou

"Akashi, bisakah kau menungguku di depan gerbang sekolah, sore ini? Ada yang perlu kubicarakan." (Yesterday)

Tidak ada pesan baru. Akashi kemudian melipat kembali handphonenya, jelas kecewa.

"Jadi, kemarin kau diputuskan pasangan homo-mu, dan dimarahi oleh ayahmu?" tanya gadis itu, yang muncul secara tiba-tiba di belakang Akashi. "Kalau tiba-tiba meminta bertemu, itu tanda ingin minta putus, kan?"

Akashi menoleh, tidak menyangka gadis itu sudah berdiri di belakangnya. Tapi raut wajah Akashi terlihat tidak senang. Midorima bukanlah pasangan homonya. Dan kalaupun iya, Akashi tak sudi diputuskan.

Tapi malang buat gadis itu, Akashi sedang berada dalam mood terjeleknya.

Akashi mengunci pintu kamar, dan membuka kancing kemejanya dengan tidak sabar.

Kalau awalnya Akashi menganggap gadis itu bodoh karena mau mengorbankan dirinya demi seekor anjing, sekarang tidak lagi. Gadis itu bahkan lebih bodoh dari anggapannya.

Dengan santai gadis itu meletakkan anjingnya di lantai dan tertawa, tanpa menyadari maksud dari Akashi yang membuka kancing bajunya. "Aku tahu kau stres dan kelelahan. Yosh, kami akan menghiburmu! Kuro ini terlatih lho!" ucapnya, sambil meletakkan beberapa bantal di lantai. Kuro kemudian melompati bantal itu dengan semangat, lalu berbangga ria, seolah habis melompati hoop terbakar.

"Tidak. Kurasa kau sajalah yang menghiburku," tolak Akashi. Gadis itu dan anjingnya tercekat.

Tapi sudah terlambat untuk menyadari perkataan Akashi.

Akashi menarik gadis itu, dan menahannya di dinding. Dalam jarak dekat, Akashi baru menyadari bahwa gadis di hadapannya lumayan. Atau memang indera Akashi tentang anatomi tubuh wanita selama ini sudah tumpul, semenjak ia mengenal Midorima.

Yep, Midorima.

Nampaknya, meski hanya dalam hati, nama itu mempengaruhi Akashi.

Akashi terdiam sebentar, membuat gadis di bawahnya deg-degan setengah mati. Tapi,

("Aku membencimu, tapi aku menyukaimu, Akashi!"

"Kaupun menyukaiku, kan, Akashi?!"

"Kau kege-eran, Shintarou.")

Akashi memejamkan matanya, berusaha menghalau ingatan itu dari kepalanya, kemudian.. ia menunduk, dan mencium gadis di hadapannya dengan lembut.

"Maaf," ketika akhirnya Akashi sadar ia mencium gadis itu terlalu lama (Akashi bahkan tidak sadar bahwa barusan ia dengan bejatnya mencium anak gadis orang).

Pipi gadis itu memerah, nyaris semerah bibirnya yang barusan dicium Akashi, namun ekpresinya lebih buruk. "Pa-panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucapnya, agak tergagap, lalu berlari keluar kamar. Kuro menyusul dengan cepat, terlihat seperti anjing liar yang panik.

Akashi terdiam. ia kemudian mengusap bibirnya, dan merasa bersyukur karena ciuman kemarin malam rasanya sudah hilang, digantikan ciuman yang baru.

"Kurasa aku agak berlebihan, terhadap gadis itu."

.

.

.

Bersambung!

.

.

.

a/n:

Cerita macam apa ini, Tsuyu, HAH?! Sori Minna, Tsuyu lagi nggak mood. Hari-hari tsuyu berat, hiks, hiks. Tapi kalau ada komplen atau saran, silahkan tulis di kolom review. Arigatou. (Lah, ini a/n kok begini banget Tsui!)