AKASHI SEIJUURO X STRANGER

CHAPTER 4

.

Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama

Story by KagamiTsuyu

.

.

Hope you like it!

.

.

.

(Kuro Point of View)

Nama gadis itu Gin Acha. Rambutnya sewarna kulit jeruk, dan dia adalah saudara sehidup semati Kuro.

Begitulah yang Kuro dapatkan, dengan otaknya yang mungil.

Gin menyukai susu putih, Kuro juga. Gin suka bermain bola, Kuro juga. Yang pasti, secara psikologi, Gin memang lah saudara Kuro.

Kuro mengakui itu dalam hati. Meski Gin memiliki kekurangan. Kuro terlahir sebagai anjing, tapi Gin tidak. Kuro bersedih untuk itu. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain terlahir sebagai anjing.

Gin sering kali terjatuh. Menurut Kuro, itu karena kakinya hanya dua. Gin juga tidak bisa berlari secepat dirinya. Kuro sangat kasihan pada saudaranya itu.

Tapi Gin selalu berusaha menyamai Kuro.

Karena itu, Kuro berusaha mengenyampingkan kekurangan Gin, dan fokus untuk bersenang-senang.

Tapi Kuro sedih kembali, ketika ibu mereka mati. Manusia-manusia tak dikenal datang untuk menguburkan ibu mereka. Tapi yang menangis hanya ia dan Gin.

Kuro bersedih karena rumah mereka menjadi sepi, dan ayah mereka jadi jarang pulang. Dan Gin berubah menjadi lebih.. Aneh? Kuro tidak punya kosakata untuk itu. Gin bersedih, sama sepertinya. Tapi Gin bersikap seolah ia sedang senang. Sebenarnya apa itu, yang sedang dilakukan Gin?

Tapi kemudian, seorang wanita datang ke rumah. Dan ayah mereka mengenalkannya sebagai ibu baru. Kuro tidak suka istilah itu. Si ibu baru sama sekali tidak mirip ibu mereka. Ia palsu dalam artian yang buruk.

Kuro tidak mengerti mengapa ada manusia yang terlihat sedemikian baik di depan ayahnya, namun berubah jahat di depan Gin. Meski awalnya Gin tak menyadari itu, Kuro tetap menyadarinya, dengan insting hewannya yang kuat (lagi2 Kuro bersedih karena Gin tidak memiliki insting hewan).

Lalu ibu baru juga memperlakukan Kuro dengan jahat. Ia mencoba mengurangi porsi makan Kuro, dan tak

mengizinkan Kuro masuk rumah. Memang, Kuro memiliki rumah yang lebih kecil di halaman. Tapi ia tidur bersama Gin. Lagipula, Gin tidak punya bulu seperti anjing. Ia sering kedinginan jika tidak ada Kuro di sampingnya. Tapi ibu baru tetap saja mencoba mengusir Kuro dari rumahnya sendiri.

Kemudian, tragedi itu terjadi. Kuro sedang tidur-tiduran di dalam rumah kecilnya di halaman, ketika Gin pulang dengan raut wajah kesakitan. Sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan bahu Gin. Apapun itu, Gin kemudian pingsan karena kesakitan. Kuro menggonggong liar, meminta pertolongan. Syukurlah kemudian seseorang berambut hijau tua datang menolong dan membawa saudaranya ke rumah sakit.

Tapi semenjak itu Kuro tidak bertemu Gin lagi. Kira-kira seminggu.

Kemudian, ketika Kuro sedang berbaring lapar menunggu makanan, ibu barunya itu memasukkannya ke dalam kotak kardus jelek, dan menutup matanya. Kemudian ibu barunya membawa Kuro ke sebuah tempat.

Tapi ketika tutup mata itu sudah di buka, Kuro tidak mengenal tempat di mana ia

berada. Familar, memang. Tapi Kuro tetap tidak tahu bagaimana caranya pulang.

Ia merindukan Gin, saudara sehidup sematinya dengan sangat, dan berharap Gin datang menjemputnya.

.

.

.

(Kembali ke masa sekarang)

.

.

.

Kuro dan Gin tahu, bahwa ketika Akashi sedang marah, ia akan melakukan hal yang buruk pada Kuro.

Tapi yang Akashi lakukan adalah menempelkan mulutnya ke mulut Gin. Untuk apa sih sebenarnya, Akashi melakukan itu? Untuk mentransfer makanan?

Belum sempat Kuro menemukan jawabannya, Gin berlari keluar ruangan dengan wajah merah padam. Kuro mengikutinya dengan cemas.

Kemudian Kuro mendapati Gin sedang membasuh wajahnya di wastafel yang ada di taman bunga Akashi.

"Apa yang suggokubocchan itu lakukan padaku?!" Gin menggumam panik.

"(Entahlah! Aku juga baru pertama kali ini melihatnya, Gin!)" Kuro menggonggong.

Gin menggeleng-geleng panik, memercikkan air yang melekat di rambut kuningnya. "Suggokubocchan itu membuat jantungku terasa akan meledak, Kuro.." Gin mengeluh dengan wajah merah padam.

"(Benarkah?!)" Kuro menggonggong bingung.

"Mm!" sahut Gin. "Tapi aku kaget bibirnya selembut itu—"

"Oh ya? Bagaimana rasanya?"

Suara pihak ketiga itu mengejutkan mereka.

Kuro dan Gin menoleh, dan menemukan Akashi berdiri tak jauh dari mereka.

Gin langsung menenggelamkan wajahnya di dalam wastafel penuh air, menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Tapi kupingnya yang juga merah kelihatan.

"Kau marah?" tanya Akashi lagi.

Gin menggeleng.

"Jadi, kau suka?" tanya Akashi.

Jelas, Gin menggeleng. Tapi kupingnya bertambah merah.

Akashi tertawa kecil. "Kau tak marah. Namun kau juga tak menyukainya. Jadi kenapa pula kau harus malu?"

Gin langsung menggeleng kuat. Seolah berkata, "aku tidak malu!"

Kuro menggonggong, untuk mengingatkan Gin bahwa ia sudah menenggelamkan wajahnya di air terlalu lama. Tapi Gin tetap memaksa menyembunyikan wajahnya.

"Kalau begitu terus, kau bisa mati," tegur Akashi. Tidak ada reaksi. Akashi terdiam sebentar, melangkah ke arah Gin, kemudian melanjutkan, "dan jika kau mati, hak asuh Kuro akan jatuh pada-"

Seolah dikejutkan dengan listrik, dengan cepat Gin mengangkat kepalanya dari dalam wastafel.

"Kau curang!"

Tapi sebelum gadis itu menghirup nafas banyak-banyak, Akashi menempelkan tangannya di pipi Gin, dan mendaratkan ciuman. Dan Akashi mengulum bibirnya yang basah, membuat Gin kembali merasakan rasa yang membuat jantungnya seperti akan meledak.

Kemudian Akashi melepaskan ciumannya dengan senyum menawan. Lalu berkata, "Aku suka.. Wajah merahmu. Jadi, tidak usah ditutupi."

Tidak tahu kenapa, air wastafel yang tumpah ke kaki Gin memberi kesan romantis.

Tapi tanpa gadis itu sadari, ada orang lain di taman itu yang tercekat. Namun Kuro menyadarinya. Orang itu adalah laki-laki berambut hijau tua yang telah menyelamatkan saudarinya di tragedi hari itu. Kuro ingat dengan pasti baunya.

.

.

.

Bersambung!

.

.

.

A/n :

Oke, minna, tsuyu nggak tahu apa reaksi orang normal setelah mencium orang asing. Tsuyu gak tahu, sumpah! Makanya reaksi Akashi abnormal gini, hehe.

Ah iya, thanks buat Ai-chan (sohib pendukung mido-aka), Vann-chan (pndukung cerita yang straight-straight), dan Hyuann-chan (pendukung Kuro) yang memberi semangat tsuyu buat nulis. Dan juga, tentunya, para readers! Padahal cerita tsuyu pendek-pendek dan nyaris nggak layak baca, hehe. Tapi pas tsuyu lihat traffic graph viewersnya , uwaa! Senang banget, hehe.

Oke, minna, yurushiku! (Kalau sempat, dan semoga sempat, tinggalin review, oke?)