AKASHI SEIJURO X STRANGER
CHAPTER 5
.
.
Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama
Story by KagamiTsuyu
.
.
Yaoi Rate M
Hope you like it!
.
.
.
Bukan Gin namanya kalau habis dicium tidak langsung lari. Dengan cepat ia memungut Kuro, dan berlari bak atlet. "Ja ne, Akashi!" teriaknya.
Akashi memandang rambut kuning itu, dan tertawa pada diri sendiri. Ia hendak masuk ke dalam rumah, sampai ia mendengar suara gemerisik itu.
"Shintarou, aku tahu kau di situ. Sedari tadi," ucap Akashi. Dasar besar mulut. Jelas ia baru saja menyadari ada hijau yang berbeda pada hijau tamannya.
Midorima Shintarou keluar dari balik pohon sakura yang membeku, dan terlihat patah hati.
"Apa bagusnya perempuan itu, Akashi? Ia bahkan tak lebih baik dari—dari Momoi."
Akashi mengangkat alis. Perubahan subjek di akhir kalimat Midorima terlalu menarik perhatian.
"Tak masalah bagiku. Ini soal gender," ucap Akashi kalem. Entah mengapa langsung meladeni Midorima. Padahal berdebat di luar pada suhu jauh dari kata hangat ini bukanlah hal bagus.
Muncul kilatan bening di mata Midorima. Tunggu, apakah kata-kata Akashi barusan terlalu berlebihan?
"Aku tak yakin perempuan itu bisa membahagiakanmu, Akashi!" ucap Midorima keras.
Hening sejenak.
Sebelumnya, tak ada yang memikirkan kebahagiaan Akashi, bahkan ayahnya sendiri.
"..Dan kau bisa?" tanya Akashi. Apa ini? Dadanya berdebar.
Midorima langsung mengangguk. "Bawa aku ke kamarmu, Akashi."
"Oh. Membahagiakan secara fisik, maksudmu," Akashi membuat kesimpulan dengan wajah datar.
Pipi Midorima bersemu. Tapi ia tidak membantah.
"Ie. Kita keluar. Aku tahu sebuah tempat yang bagus, Shintarou," ucap Akashi, dan kemudian ia meraih tangan Midorima. "Bahagiakan aku di sana."
.
.
"Check in," ucap Akashi kalem, pada seorang gadis muda yang saat itu berdiri di balik meja resepsionis.
"Untuk satu hari satu malam?" tanya gadis itu. Akashi mengangguk.
Dasar iblis. Entah bagaimana Akashi bisa terlihat lebih tenang daripada Midorima yang—yang mengkhayalkan ini sejak lama.
"Yang Standard, Deluxe, atau yang..—"
"Presidential Suite," jawab Akashi cepat.
Syukur saja ia tidak mengatakan, 'with single bed', atau Midorima takan berani lagi datang ke Ou Hotel, tempat biasanya keluarganya dan keluarga terhormat lainnya menginap.
"Sebenarnya yang Suite saja sudah bagus, Akashi," ucap Midorima pelan, saat mereka berada di dalam lift.
Akashi bersandar pada dinding kaca lift, terlihat senang. Midorima curiga dengan alasannya.
Tapi Akashi benar-benar keren di mata Midorima. Tubuh Akashi kurus dan tidak tinggi, tapi anak terhormat memang sebaiknya tidak berbadan kekar. Lagipula, sesuatu pada diri Midorima tidak menginginkan Akashi lebih tinggi darinya. Dan kerlingan pada mata Akashi yang tajam, juga seringainya yang menawan, Midorima menyukai semua itu.
"Oke, sudah sampai."
Tanpa sadar Midorima melamun. Dengan cepat Midorima mengikuti Akashi menuju kamar mereka. Tapi ketika Akashi baru saja mengeluarkan kartu kamar, tumbuh rasa tidak sabar di diri Midorima.
Midorima membalik badan Akashi ke arahnya, meraup wajah Akashi, dan hendak menciumnya. Yep, Cuma 'hendak', karena berikutnya seseorang keluar dari kamar sebelah, seorang wanita paruh baya yang terlihat penting, memandang mereka dengan wajah syok.
"Sabar, Shintarou," Akashi terkekeh, dan segera memasukkan kartu kamar mereka hingga pintu kamar mereka bergeser membuka.
Midorima terpana. Heran mengapa Akashi tidak marah, dan sebaliknya terlihat sangat menikmati.
"Akashi. Kau sebenarnya menyukaiku, kan?" tanya Midorima. Bukannya ia tak tahu. Ia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut Akashi.
Akashi mengangkat alis. "Sudah kukatakan kemarin kan? Bahwa kau kege-eran?"
Tapi berikutnya laki-laki yang kepedean itu membuka sendiri kemejanya dan pamer badan.
Midorima memperbaiki letak kacamatanya. Pintu menutup di belakang Akashi, dan detik itu juga, Midorima bersumpah akan membuat Akashi bahagia bersamanya.
.
.
.
Oke. Sebenarnya Gin tidak ingin muncul di part ini. Tapi (mungkin) adegannya cukup penting sehingga bisa memotong adegan 'ahem' Akashi.
Saat itu Gin sedang berlari menuju kamarnya, sampai ia mendengar suara ayah Akashi membelah keheningan koridor.
"—anak itu sudah ditunangkan."
Gin reflek menghentikan langkahnya. Tentu saja remaja sepertinya sudah pernah menonton sinetron. Tapi ketika itu terjadi di dunia nyata, semua juga akan penasaran.
"Tapi, bukankah Sei-sama tidak akan setuju, tuan?" suara lain terdengar. Mungkin pelayan nomor satu di rumah ini, pikir Gin.
"Hal itu lebih baik daripada dia melakukan hal yang tidak diinginkan di luar sana. Kupikir ia akan melakukan seks bebas seperti kebanyakan anak lainnya. Tapi yang dilakukan anak itu lebih parah," ucap ayah Akashi.
Gin manggut-manggut paham. Tidak akan ada orangtua yang langsung merelakan anaknya jadi homo. Yah, meski sejak zaman dahulu homoseksual itu sudah ada.
Tapi.. Gin sedikit prihatin. Emosi Akashi tadi pagi sedikit dipahaminya. Bukankah laki-laki itu mencintai pasangan homonya?
Sebagai sesama remaja, Gin merasakan emosi kuat untuk melindungi Akashi.
Ia mengetuk pintu setengah terbuka tempat ayah Akashi dan pelayan nomor satunya berdiskusi. Kedua orang tua itu menoleh dengan terkejut, mengira yang mengetuk adalah Akashi. Tapi ternyata yang mengetuk adalah seorang gadis yang tak dikenal—dan ini lebih mengejutkan lagi.
Gin berdiri canggung di ambang pintu. Terlihat salah tempat. "Ano.. Sa-saya keberatan," ucap Gin, agak tergagap.
Setelah rasa terkejutnya hilang, ayah Akashi berdeham penuh wibawa. "Siapa ojou-san ini?" tanyanya.
Sang pelayan nomor satu, yang malam sebelumnya tak kelihatan, ragu-ragu menjawab. "Dia adalah anak gadis yang dibawa Sei-sama pulang ke rumah tadi malam, tuan. Kurasa dia bukan teman sekolah tuan muda."
"Oh. Souka. Jadi, atas dasar apa kau keberatan?" tanya ayah Akashi pada Gin.
Gin tercekat. Ayah Akashi begitu mengintimidasi. Tapi lebih daripada itu, jelas orangtua itu akan menyuruh pelayan mencekiknya jika Gin tidak memberi alasan yang bagus.
Gin menelan ludah. "Ku-kurasa, Aka—bukan tapi—Sei ingin memilih sendiri tunangannya, jika ia ditunangkan."
Apa? Alasan sampah macam apa itu! Harus yang lebih meyakinkan lagi!
"Dan menurutmu gadis mana yang akan dipilihnya?" tanya ayah Akashi lagi.
Ya ampun. Adakah sosok manusia yang lebih menyeramkan dari ini?!
Tentu saja, yang akan dipilih Akashi adalah pasangan homonya. Gin menghargai hasrat yang dimiliki Akashi. Tapi ayah Akashi spesifik mengatakan kata 'gadis', dan bukanlah 'laki'.
Tapi berikutnya, Gin tidak tahu apa yang ia lakukan, Gin melambaikan tangannya pada dirinya sendiri. "Kurasa ia akan memilihku."
Yep, tentu saja Gin mengatakan itu demi membuat posisi Akashi aman.
Nampaknya semua rela berkorban demi Akashi.
.
.
.
Midorima menekan Akashi ke kasur. Tapi ia juga tidak memberati laki-laki itu, dan menumpukan berat badannya pada siku yang ditahan di kiri kanan Akashi.
"Kau tahu, kurasa soal 'seks' kau masih payah," Akashi tertawa di bawahnya.
Tidak masalah Akashi memancingnya seperti itu. Tapi Midorima tidak akan terburu-buru. Lagipula, ia senang melihat Akashi tertawa.
"Aku.. aku mencintaimu, Akashi," ucap Midorima pelan.
Akashi menyeringai. "Aku sudah tahu. Kau pernah bilang," sahut Akashi santai. Setidaknya, itulah yang Midorima pikir akan Akashi katakan. Tapi ia tidak mengatakan itu, melainkan, "Mm. Aku juga."
.
.
.
Bersambung!
.
a/n :
hahaha! (ketawa bejat)
Oke, Minna! Berhubung Tsuyu lagi stres, sehabis latihan buat upacara dua mei (dengan nafas tsuyu yang pendek tsuyu jadi yang niup-niup alat musik), dan lagi asyik-asyiknya main basket malah kaki tsuyu melepuh dan lecet karena kepanasan, dan tsuyu ikutan rebutan makanan di aula kayak barbarian—sementara seharusnya tsuyu lagi tidur-tiduran di rumah menikmati amanat merah sambil makan cireng.
Tsuyu menulis demi melepaskan hasrat—apa ya?
Oke, Tsuyu kebanyakan ngebacot :'(. Kalau bisa sempatin nulis review ya Minna, buat penyemangat nulis chapter selanjutnya ^^.
(sori Ai, ternyata tsuyu nggak mampu buat adegan yaoi sampai ke inti, hehe)
