AKASHI SEIJURO X STRANGER
CHAPTER 6
.
.
Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama
Story by KagamiTsuyu
.
.
Straight, Rate M!
Too late, but, hope you like it!
.
.
.
"Siapa yang memilih siapa?" suara itu begitu santai, dan sarat senyum, kalau saja Gin tidak langsung melihat siapa yang berbicara.
Gin menoleh, dan menemukan Akashi, bersandar di ambang pintu kamarnya dengan mata terpejam nyaman.
"Hei, Akashi. Kau dari mana saja..?" tanya Gin penasaran. Setahu Gin, ia meninggalkan Akashi di taman. Tapi saat ia kembali ke sana, Akashi telah menghilang.
"Aku suka bau kamar ini. Bau yang menghalau nyamuk. Citrus..?" Akashi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Gin menatap laki-laki itu, bingung. "Apa yang terjadi? Kau sepertinya bahagia sekali, ya?"
Akashi tertawa kecil. "Kau, jawablah pertanyaanku dulu."
Apa ini, Akashi mendadak aneh sekali. "Pertanyaanmu yang mana? Kalau soal wangi-wangian, yep. Ini citrus. Hanya sabun itu yang ada di kamar mandi."
Akashi menoleh menatapnya. "Jadi bukan wangi ruangannya, tapi wangi tubuhmu?" tanyanya. "Tidak. Maksudku, pertanyaan yang pertama. Jawablah."
Gin mengerjap. "Pertanyaan pertama..? Oh! 'Siapa yang memilih siapa?'. Maksudmu? Aku tak mengerti. Apanya yang siapa memilih siapa?" tanya Gin, penasaran.
"Tunangan. Aku sudah dengar. Kau mencalonkan diri," ucap Akashi.
Kemudian, ingatan Gin kembali ke beberapa saat lalu, saat ia dengan berani (atau lancang?) menginterupsi ayah Akashi. "I-itu demi kebaikanmu. Aku akan melindungimu Akashi. Tak masalah jika kau homo—"
Akashi meliriknya dengan sudut mata. "Bukan urusanmu," potongnya. "Lagipula.. kau bukan siapa-siapa yang berhak melindungiku."
Gin terkejut. Ucapan Akashi menohok Gin. Memang sih, mereka baru bertemu kemarin malam.. tapi, Gin hanya ingin menolong, kan?! Memangnya harus ada hak untuk menolong seseorang? "Jadi, kau tak akan memilihku?" tanya Gin.
Akashi mengangguk. "Pulanglah sana. Jangan ikut campur masalahku lagi."
Gin tercekat. Sudahlah bantuannya ditolak, diusir pula. Mungkin ini lah yang didapat dari ikut campur masalah orang lain.
"Mm. Baiklah," ucap Gin, sambil berguling di kasur, kemudian melompat turun. Ia meraih jaketnya yang disampirkan di kursi.
Akashi memperhatikan, saat gadis itu menggertakkan gigi ketika mengangkat bahu dan memasukkan lengannya ke dalam jaket. Gin kemudian dengan cepat meraup Kuro di lantai, dan memasukkannya ke dalam saku. Kuro yang tadinya sedang asyik tertidur, terbangun, dan mengeluarkan kepalanya yang besar dan riap-riapan, dari dalam saku.
"Ja. Kalau begitu, aku pulang dulu, Akashi," ucap Gin, kemudian berjalan ke arah pintu.
"Bahumu cedera?" tanya Akashi, sesaat sebelum Gin melewatinya.
Tapi Gin tidak menjawab. Ia sakit hati pada Akashi. Mendeteksi suasana hati Gin, Kuro menyalak-nyalak pada Akashi, seolah menyuruhnya memberi jarak.
Tapi Akashi tidak mengacuhkan Kuro dan menahan tangan Gin. Mendapatkan sentuhan, Gin tersentak, dan reflek menarik tangannya. Kuro menyalak-nyalak garang, kali ini mengancam sungguhan—yang tentunya tidak diindahkan Akashi.
Akashi menyelipkan tangannya di celah rambut Gin, dan menyentuh leher gadis itu. Menariknya mendekat. "Aku tidak akan mengusirmu pulang jika aku tahu kau cedera," ucap Akashi.
"Tidak ada hubungannya denganmu. Aku ini atlet tahu. Sudah biasa," ucap Gin, tanpa memandang Akashi.
Tangan Akashi turun ke bahu Gin. Mengusapnya perlahan. "Boleh kulihat..?" tanyanya.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban, Akashi membuka jaket Gin, dan menjatuhkannya ke lantai (Kuro kali ini melompat keluar dari saku jaket Gin, dan menyalak keras sekali—baginya Akashi sudah keterlaluan—yang kemudian dengan sangat jengkel, Akashi mengurungnya di luar kamar).
Gin tercekat, saat Akashi mengunci pintu kamar, dan menurunkan baju Gin hingga batas dada.
"Ti-tidak perlu. Sudah selesai dioperasi. Ja-jadi, sedang dalam masa pemulihan," ucap Gin, agak terbata-bata.
Akashi menepis tangan Gin yang hendak menaikkan bajunya kembali. "Tidak boleh kah aku melihatnya..?" tanya Akashi. Nada bicara Akashi yang halus dan terkesan baik-baik menghentikan Gin.
Tapi, kalau soal melihat, tidak ada yang bisa dilihat. Bahu Gin sudah dibalut ulang dengan perban yang bersih, tadi sehabis mandi.
"Apakah terasa sakit?" tanya Akashi.
Gin mengangguk. "Mm. Sakit. Tapi tidak masalah. Nanti juga akan terbiasa. Kata dokter, cederanya akan pulih tahun depan. Kau tak perlu cemas, Aka—"
Kemudian, Gin merasakan Akashi mengecup lehernya. Gin tercekat. "Akashi..?"
Akashi menatapnya dari sudut mata. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
"Geli..?" tanya Gin.
"Kalau begitu saja belum cukup." Kemudian, Akashi mengecup lagi leher Gin, sedikit menghisapnya. Pelan-pelan, Akashi menuruni leher Gin, dan turun ke bahu.
"A-akashi," Gin merasa nafasnya terputus-putus. "A-apa yang kau lakukan..?"
Akashi tersenyum saja, sementara gadis itu tanpa sengaja mengeluarkan desahan pertamanya. Gin reflek menutup mulut, merasa malu sendiri. Tapi Akashi tidak berhenti sampai situ saja.
Melewati bahu Gin yang cedera, Akashi turun ke bahu bagian dalam, tepat di atas dada Gin.
"Boleh aku menarik pita ini..?" tanya Akashi, berhenti sebentar untuk meminta izin membuka baju Gin. Tapi namanya juga Akashi, tanpa menunggu jawaban ia langsung menarik lepas kaitan pita pada baju Gin, dan membuat baju berbahan sutra tersebut meluncur turun.
Wajah Gin merah padam. Akashi penasaran, apakah gadis itu tahu apa yang akan Akashi lakukan selanjutnya. Gadis-gadis lain akan tahu sejak pertama Akashi menciumi leher mereka. Tapi Gin adalah gadis yang polos—atau bahkan bodoh taraf akut—dan sepertinya tidak dapat menerka apa yang akan terjadi.
Akashi mencium dan menghisap bahu bagian dalam Gin. Sementara tangannya mengusap pucuk dada Gin, memberi rangsangan.
"A-apa yang kau lakukan..?" tanya Gin, mendesah tidak nyaman.
Hm, tidak bisa menebak, gadis itu memutuskan bertanya.
Akashi tertawa kecil. "Saat kau menjadi tunangan seseorang, kau akan mendapatkan ini." Kemudian Akashi menggendong Gin, dan membawanya ke atas kasur.
Gin tercekat, saat Akashi mengurungnya di kasur, dan memainkan kait roknya. Tapi kali ini Gin menahan tangan Akashi, menghentikannya. "Tu-tunggu, Akashi," ucapnya. Gin kemudian meringkuk. "Jantungku. Rasanya tidak mau berhenti.. memompa dengan cepat."
.
.
.
Akashi bersidekap jengkel. "Kukira kau memiliki sakit jantung," ucapnya, jelas kesal.
Gin, yang sudah kembali berpakaian lengkap, pipinya bersemu merah. "Apapun itu, yang kau lakukan tidak baik untukku," ucap Gin.
Hening sesaat.
Akashi mengangkat alis. "Bahumu, sakitnya sudah berkurang?" tanya Akashi, memutuskan untuk mengalah.
Gin, yang baru menyadari itu, terkejut. "Mm. Kurasa apapun yang kau lakukan itu ada baiknya juga."
"Cih," Akashi mendecih sebal. Gadis manapun akan bersyukur jika mendapatkan itu dari seorang Akashi.
"Ngomong-ngomong, Akashi.." panggil Gin. "Aku tahu kok, apa yang sedang kaulakukan."
Akashi menatapnya, penasaran. "Kau tahu?" tanyanya. Gadis polos dan bodoh sepertimu.. tahu?
Gin mengangguk. "Aku tahu, kok. Itu adalah hal yang seharusnya kau berikan pada pasangan homo-mu."
Hening lagi, untuk sesaat. Tapi kemudian Akashi memandang kejauhan, dan tersenyum nakal. "Gin, kalau kau mau aku memilihmu menjadi tunanganku, cium aku. Kau bisa frenchkiss?"
Gin tercekat, kaget dengan perubahan topik tersebut. "Eeh?! Frenchkiss? Dengarnya saja baru pertama kali. French itu nama negara, kan?!"
Gin kelabakan. Sementara Akashi lega, karena berhasil mengalihkan topik dengan mulus.
"Ah, sudahlah. Sini, biar aku ajarkan."
.
.
.
Bersambung!
.
.
.
a/n:
lagi-lagi Tsuyu gak berhasil buat lanjutan kisah yang normal (-_-"). Minna, gomen (Tsuyu gak bisa pakai alasan stress lagi).
Sebenarnya dalam satu bulan ini tsuyu udah banyak merenung. Tentakel Tsuyu bertanya "Donna Naritai—mau jadi seperti apa kau?". Dan Tsuyu akhirnya sadar, Tsuyu tidak tahu mau jadi apa.
Akhir-akhir ini Tsuyu juga senang memperhatikan ayam potong tetangga Tsuyu. Tiap malam Tsuyu buka jendela kamar, dan mengintip dia yang lagi pura-pura tidur. Tsuyu pikir, enak ya, jadi ayam. Bentuknya imut, hidupnya nyaman, nggak perlu mikirin sekolah, dan kalau mati berjasa (Tsuyu suka ayam bumbu! *nggak ada yang nanya woi!).
Um, karena lagi bulan puasa, Tsuyu berhenti nulis rate M dulu, hehe. Oke, Minna. Mata raishuu!
