AKASHI SEIJURO X STRANGER
CHAPTER 7
.
.
Disclamer by Tadoshi Fujimaki-sama
Story by KagamiTsuyu
.
.
Rate T
Agak terlambat update but, Hope you like it!
.
.
.
Akashi dengan egois melarang Gin pulang. Tidak peduli besok sekolah. Tidak peduli kalau-kalau ada keluarga Gin yang cemas. Dan ini membuat Gin kesal.
"Kurasa diusir seperti tadi lebih baik," ia menghembuskan nafas, panjang dan berlebihan, agar pemilik mata heterokrom itu sadar.
Akashi yang sedang memunggunginya sambil mengelus-elus perut Kuro memasang tampang keji. "Aku penasaran. Apakah kau akan tetap berpikir seperti itu jika hewan berbulu hitam dengan perut putih ini kutahan di sini. Bayangkan dia meraung-raung memanggilmu meminta makan."
Oke. Ini kelewat keji. Pertama, Kuro perutnya tidak putih, dan dia hitam hingga seluruh tubuhnya (bahkan hidung dan kuping bagian dalamnya!). Dan kedua, apakah Akashi berniat tidak akan memberikan Kuro makan lagi jika seandainya Gin tidak di sana?!
"Akashi. Kita kan sekarang sudah selevel lebih dekat, dan kau masih saja menggunakan ancaman itu," ucap Gin mengingatkan.
"Yep. Sebenarnya selevel lebih dekat yang kau maksudkan itu adalah dari orang asing menjadi tunangan. Teknisnya aku bisa membuatmu bungkam tanpa perlu mengancam lagi." Entah kenapa Akashi terdengar lebih sebal daripada Gin.
"Tunggu! Kita tunangan, kan?! Kenapa kedengarannya seperti tahanan?!" Gin merasakan pipinya merah karena marah.
Akashi tidak menjawab lagi. Tapi kemudian ia memunggungi Kuro yang tertidur nyaman karena senang perutnya digaruk-garuk oleh psikopat (oke, semoga saja Gin hanya berlebihan, karena seram juga jika Akashi menjadi psikopat sungguhan), dan menghadap gadis berambut sewarna madu yang sudah menjadi miliknya. Yep, miliknya. "Kau sungguh ingin pulang?" tatatapan Akashi mengisyaratkan demikian.
"Aku sungguh ingin pulang," Gin menjawab tanpa ragu.
Akashi, tanpa diduga-duga, terlihat kesal. "Kalau begitu kau tahananku sekarang," ucapnya, dengan wajah paling keji yang pernah Gin lihat.
"Eh?! Aku kan—" Tapi Gin tidak sempat protes, karena berikutnya pintu kamar Akashi terbanting membuka. Dan wajah seorang gadis di baliknya jelas wajah paling keji di dunia update-an terbaru yang jauh melebihi Akashi.
"Sei! Kau tidak boleh berkata demikian pada anak perempuan!" ucap gadis berambut dikucir dua itu, nyaris menjerit.
Gin terpana. Sementara Akashi menatap anak perempuan itu dengan tatapan dingin, tapi juga disertai maklum. Ah, merepotkan, pikirnya.
"Dia tunanganku. Namanya—kurasa ayah menyebutnya Gin. Dan ini sahabatku, Gin. Makino Ui. Cih."
Cara memperkenalkan macam apa itu? Meskipun begitu Gin menatap gadis bernama Makino itu dengan tertarik. Sepertinya umurnya setahun di bawah Gin dan Akashi, dan rambutnya dicat pirang strawberry.
Akashi menyelipkan tangannya di kepala Gin, menutup pandangan gadis itu dari Makino dan berusaha untuk menciumnya (untuk menegaskan kalau sahabat tidak dibutuhkan di sini), hanya saja Gin menghindar dari tangan Akashi dan menggerakan lehernya dengan lasak hanya untuk melihat Makino lebih lama. Gadis itu cantik. Gin penasaran, apakah gadis kaya memang bisa jadi bintang kalau mau.
Yang pasti, bintang itu memisahkan Gin dari Akashi, dan kemudian menggiring Gin ke mobil yang sudah menunggu di halaman. "Ui yang tanggung jawab. Bye, Gin!" ucap gadis itu.
Gin membalas dengan canggung dan terpana. Dan kemudian ia menyadari sesuatu. Tapi sudah terlambat ketika mobil melaju kencang keluar dari pekarangan rumah Akashi.
(Ayah Akashi pernah mengatakan sesuatu. "Anak itu sudah ditunangkan." Mungkinkah gadis berkucir dua itu adalah tunangan Akashi yang asli? Dan well, Kuro!)
Sementara itu, Akashi masih diam di kamarnya. Enek.
"Nah. Sekarang dia sudah pergi," Makino berkata seolah baru saja membereskan sesuatu yang berbahaya.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Ui?" tanya Akashi acuh.
Makino duduk di tempat Gin tadi berbaring, dan Akashi langsung memunggunginya. "Aku ingin jawaban. Kau memutuskan begitu saja pertunangannya," ucap Makino tabah. "Padahal ayahmu menunangkanmu denganku lebih dulu."
Oh. Ternyata urusan itu. "Karena aku tidak ingin membayangkan tanganku menyentuhmu?" tanya Akashi blak-blakan.
Tidak sengaja membayangkannya, pipi gadis itu memerah.
Akashi mendengar suara tercekatnya, dan merasa di atas angin. "Kau terlalu polos untuk itu. Tidak semua laki-laki menyukai wanita polos. Mengerti, kan?" ucapnya.
Gadis dengan rambut dicat pirang strawberry itu menggeleng kuat. "Aku bukannya polos—eh, polos sih! Tapi aku juga tidak suka membayangkan be-be-be-begituan denganmu. Maksudku, aku ingin tahu alasannya kau lebih memilih orang lain daripada sahabatmu sendiri! Aku merasa dicampakkan."
Oh. Begitu. Akashi menghela nafas, kemudian duduk. Ia menepuk kepala gadis itu. "Ui. Karena aku sahabatmu, yang sudah melihat seperti apa kau luar dalam, makanya aku tidak ingin menyentuhmu. Juga tidak bisa membayangkan laki-laki di luar sana menyentuhmu. Kurasa setiap sahabat laki-laki berpikir seperti itu." Hell, perkataan macam apa itu?! Sekarang pipi Akashi bersemu saking malunya setelah mengatakan perkataan yang mendadak terkesan norak. "Sekarang pulanglah. Kau sudah mendapatkan jawabannya."
Meskipun begitu, gadis yang tadinya merasa dicampakkan itu bersemu karena senang. "Oh, ternyata begitu!" katanya ceria. Tapi kemudian dia teringat pada Gin, yang tadi diusirnya. "Maaf karena mengusir pacarmu."
Akashi mengangkat alis, nyaris tersenyum. "Tidak masalah. Lagipula, anak itu akan kembali."
Kemudian, seolah menegaskan ucapan Akashi, terdengar bunyi aneh gigi beradu dengan gigi.
"Bunyi apa itu?!" tanya Makino. Tapi meskipun begitu, ia tertawa juga ketika menyadari itu adalah suara anjing menguap. "Terrier ini kah..?"
"Hm," sahut Akashi.
.
.
.
Bersambung!
.
.
.
a/n:
Minna. Gomen. Berhubung hidup Tsuyu belakangan datar, cerita Tsuyu pun juga datar-datar saja (bahkan cerita sebelumnya ngelantur!). Ngomong-ngomong soal Makino Ui, sesuai kata ayah Akashi di awal, "anak itu sudah ditunangkan." Jadi begitulah. Tsuyu memasukkan karakter, dan kemudian membuangnya. Untuk chapter berikutnya dia tidak akan muncul lagi -.-) (pasang muka bengis.)
Tsuyu nggak tahu kenapa cerita Tsuyu bisa ngelantur gini. Bahkan saat Tsuyu bercermin pun, Tsuyu melihat sosok jelly.
(Ai, jangan dianggap serius, hehe :D)
Kali ini serius, Tsuyu bakal update minggu depan. Mata Raishuu ne ^-^.
