Because I Care

.

Because I Care © Sweatpanda

.

Cast :

Main

Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep) Slight

!GuanHwi !DeepWink !2Park

Side

!NielHwang !OngWoon !HwanSung

And many more.

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Length :

Chaptered

Summary :

Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon. Rated :

T - M

Warning :

Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.

.

.

Chapter 2

.

.

Jinyoung menatap pantulan dirinya di depan cermin toilet sekolah. Ia membasuh wajahnya menggunakan air yang mengalir sebelum membersihkannya menggunakan tisu yang ia bawa. Jinyoung menghela nafas panjang, mencoba menentramkan pikirannya yang semakin hari semakin kacau. Jinyoung membenarkan kerah seragamnya yang berwarna biru itu. Lagi-lagi Jinyoung merenung, menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan pandangan kosong.

Kerah yang berbeda warna di sekolah ini menandakan status setiap siswa di sini berbeda-beda. Kerah merah untuk Alpha, kerah biru untuk Beta, dan kerah hijau untuk Omega. Bukan hanya kerah seragam saja yang membedakan, tapi untuk gedung sekolah juga berbeda. Sekolah ini cukup besar, dengan lima bangunan besar dan halaman serta lapangan olahraganya juga cukup luas. Lima bangunan besar itu masing-masing digunakan untuk fungsi yang berbeda juga.

Dimana gedung yang berada di paling selatan adalah gedung A. Gedung yang berisi anak-anak dengan status Alpha, lalu di sebelahnya adalah gedung B. Gedung itu adalah gedung untuk kantin dan lapangan indoor. Lalu gedung yang berada di tengah adalah gedung C. Gedung untuk anak-anak dengan status Beta. Sementara di dekat gedung C itu adalah gedung D yang digunakan untuk perpustakaan, lab pratikum, dan juga kantin. Lalu gedung yang berada di paling timur adalah gedung E yang berisi anak-anak dengan status Omega.

Kenapa kantin sekolah ini dibagi dua? Karena jika kantin sekolah dijadikan satu dan ada Omega yang sedang dalam masa In Heatnya, maka itu akan berbahaya untuk Omega itu sendiri. Begitupun juga dengan kelas Olahraga mereka yang selama ini selalu dipisah. Karena aroma pheromon yang dihasilkan oleh Omega saat sedang berkeringat bisa membuat Alpha dan Beta menjadi lepas kendali. Jadilah, biasanya hanya kelas para Alpha dan Beta yang akan disatukan.

"Jinyoung-hyung!"

Jinyoung tersadar dari lamunan panjangnya ketika suara Guanlin terdengar begitu dekat dengan telinganya. Mengerjapkan matanya sekali, Jinyoung menatap pantulan Guanlin yang terlihat di depan cermin.

"Ada apa?" Jinyoung bertanya dengan pelan. Guanlin di belakangnya tersenyum kecil, "Kelas olahraga kita disatukan hari ini. Jadi, mau ke lapangan bersamaku?"

Jinyoung terdiam sesaat, berpikir dan selanjutnya mengangguk kecil. "Aku akan ke loker dulu untuk mengambil seragamku," Jinyoung kemudian berbalik, menatap Guanlin dengan senyum tipisnya.

"Kalau begitu, aku temani hyung. Ayo," Guanlin dengan senyum lebarnya menarik tangan Jinyoung. Jinyoung sendiri hanya diam. Namun dalam diam itu, dalam hati Jinyoung tersenyum. Genggaman tangan Guanlin begitu hangat. Membuat Jinyoung tidak ingin Guanlin melepaskan genggaman tangan itu.

"Hyung aku perhatikan, akhir-akhir ini kau semakin menjadi pendiam. Ada yang mengganggu pikiranmu, ya?" Guanlin bertanya setelah keduanya keluar dari toilet. Keduanya berjalan menuju tempat loker yang terletak di lantai bawah gedung C.

Jinyoung yang tadinya menatap lurus ke depan, melirik ke arah Guanlin yang tengah menatapnya itu. Jinyoung menggeleng pelan, "Aku tidak apa-apa. Bukan hal penting juga, Guanlin-ah."

"Bukan hal penting tapi membuatmu seperti ini hyung? Hebat sekali," terdengar nada kesal keluar dari mulut Guanlin. Jinyoung terkekeh pelan, ini bukan hal penting bagi Guanlin. Tapi mungkin penting bagi Jinyoung. Tapi, siapa yang tahu, jika semua hal yang menyangkut seorang Bae Jinyoung baik itu penting atau tidak menjadi urusan bagi Lai Guanlin?

"Serius hyung, jika ada yang mengganggum beritahu saja aku. Aku akan menghajar siapapun orang itu," Guanlin berujar dengan sungguh-sungguh yang membuat Jinyoung tergelak. "Meskipun itu orangtuaku?" Jinyoung menatap Guanlin dengan mata yang menyipit.

Guanlin gelagapan, bingung harus menjawab apa. Berbeda urusan jika itu sudah mengenai orangtua. Apalagi orangtua Bae Jinyoung itu, amat sangat galak. Susah untuk didekati dan susah untuk ditentang. Jika sudah A maka A. Itulah yang sering Guanlin dengar dari Jinyoung tentang orangtuanya.

Melihat respon yang diberikan Guanlin, wajah Jinyoung menjadi sendu seketika. Jinyoung tersenyum miris, mungkin mimpi indah yang ia impikan selama ini, hanya akan selalu menjadi bunga dalam tidurnya.

Jinyoung melepas genggaman tangan Guanlin dan melangkah mendahului Guanlin. Jinyoung tahu, dia hanya bercanda tadi. Tapi, kenapa ia malah membawa perasaannya seperti ini? Jinyoung mendesah pelan ketika ia membuka lokernya. Guanlin yang berada di belakangnya, hanya diam. Dia bingung, apa yang terjadi pada Jinyoung-hyung? Kenapa tiba-tiba begitu?

"Guanlin-ah!" Guanlin menolehkan kepalanya begitu mendengar suara seseorang yang amat dikenalnya. Mata Guanlin membulat, "Daehwi? Kenapa kau di sini?!"

Tentu saja Guanlin terkejut melihat Daehwi berada di area Beta seperti ini. Bukan apa-apa, Guanlin hanya khawatir akan ada Beta yang sengaja atau tengah dalam mode jahil berniat menggoda Daehwi? Bisa diamuk ibu Daehwi nanti.

"Ah aku menemani temanku Guanlin-ah. Itu," Daehwi menunjuk seseorang menggunakan dagunya ke arah depan. Mengikuti intruksi Daehwi, Guanlin melihat ke arah depan. Dimana ada Jinyoung dan seseorang yang tak Guanlin kenal tengah berbincang secara serius. Guanlin mengernyitkan dahinya melihat itu.

"Dia, siapa?" Guanlin bertanya seraya menatap Daehwi yang tengah serius memperhatikan wajahnya. Daehwi mengerjap pelan, ia tersenyum lebar sebelum membalas, "Itu Jihoon-hyung. Dia calon tunangannya Jinyoung-hyung."

Mata Guanlin membulat mendengar ucapan Daehwi, "APA?!"

Sontak Daehwi menutup telinganya mendengar teriakan Guanlin. Sementara Jinyoung dan Jihoon yang mendengar teriakan Guanlin sontak menoleh ke arahnya. Begitupun beberapa orang yang mendengar teriakan Guanlin.

Jinyoung yang melihat itupun menghela nafas, ia dengan segera mengambil baju seragamnya dan menarik tangan Jihoon.

"Guanlin-ah, kau ke lapangan duluan saja. Aku akan mengantar Jihoon dan Daehwi ke gedung mereka. Ayo Daehwi-ya," Jinyoung kemudian berlalu tanpa melihat ke arah Guanlin. Daehwi pun mengekor di belakang Jinyoung dan Jihoon. Sementara Jihoon menatap bingung pada genggaman tangan Jinyoung sebelum beralih menatap Guanlin yang menatap sendu ke genggaman tangan itu.

Jihoon merasa ada yang tidak beres di sini. Dan Jihoon harus tahu itu apa. Harus!

.

.

Daniel menggelengkan kepalanya melihat Matenya itu terus bergerak ke sana-sini tanpa berhenti. Belum lagi dengan ponsel berwarna silver yang terus Hwang Minhyun pindahkan dari telinga kiri ke telinga kanannya yang membuat Daniel berdecak keras karena merasa diabaikan.

Tentu saja Daniel merasa begitu. Apalagi setelah seminggu mereka tidak bertemu, dan setelah dirinya pulang malah dia mendapat sambutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Daniel berpikir, Minhyun akan menyambutnya dengan pelukan hangat, ciuman mesra, atau bahkan kegiatan panas lain yang biasanya mereka lakukan.

Bukannya malah disambut dengan Jaehwan yang membuka pintu untuknya dan Minhyun sendiri malah sibuk dengan ponselnya. Dan sialnya -atau beruntungnya- Jaehwan sudah pergi dari rumah Minhyun karena panggilan dari Jisung. Kakak tingkat Jaehwan yang sedang dalam masa pendekatan dengan sosok Beta itu.

Daniel menghela nafas panjang. Matanya cukup lelah melihat pergerakan Minhyun yang tak kunjung berhenti juga. Dengan inisiatifnya sendiri, Daniel pun memutuskan untuk menarik tangan Minhyun. Menahan pergerakan tubuh Minhyun sebelum memindahkan tubuh Minhyun ke atas pangkuannya.

"Yakk Kang Daniel!" Minhyun berseru kaget begitu mendapat perlakuan seperti itu dari Daniel. Daniel sendiri hanya tertawa kecil, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Minhyun.

"Kau ini kenapa huh? Sudah tahu kekasihmu datang, kenapa kau malah mengabaikanku?" Daniel merajuk seraya menaruh kepalanya di bahu Minhyun. Minhyun menghela nafasnya, ia membelai rambut Daniel lembut.

"Maafkan aku Niel. Aku sedang berusaha menghubungi ibunya Jinyoung tapi tidak bisa juga," Daniel mengangkat kepalanya untuk menatap mata Minhyun. "Memangnya kenapa dengan Jinyoung?" Tanya Daniel penasaran.

"Kau tahu 'kan jika Jinyoung itu dijodohkan? Dan Jinyoung itu tidak mau. Aku berusaha untuk bicara pada Ahjumma dan Ahjussi namun mereka berdua mengacuhkanku. Aku hanya khawatir, Daniel-ah," Minhyun menggigit bibir bawahnya. Menandakan bahwa ia begitu khawatir pada adik sepupunya itu.

Daniel tersenyum kecil, ia menangkup sebelah pipi Minhyun dan mengecup bibir kemerahan milik sang kekasih. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, hyung. Hanya saja, menurutku biarkan dulu saja orangtua Jinyoung melakukan apa yang mereka mau. Dan kita juga harus berusaha sebaik mungkin untuk membantu Jinyoung bicara pada orangtuanya. Dan kita juga harus tahu apa jawaban calon tunangannya Jinyoung. Jika ia tidak mau, maka itu akan menjadi hal yang menguntungkan untuk kita," ujar Daniel seraya menatap mata Minhyun.

Minhyun mengangguk pelan, "Benar katamu Daniel-ah. Kita harus menemui Jihoon untuk mengetahui apa jawabannya untuk perjodohannya itu."

"Tapi sebelum itu, bisa kau menyambutku dulu hyung? Aku baru kembali dari Busan namun kau tidak menyambutku dengan benar," Minhyun terkekeh pelan mendengar suara merajuk Daniel. "Iya, aku mengerti. Maafkan aku, Alpha," balas Minhyun seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Daniel.

Daniel tersenyum senang, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Minhyun. Kemudian mata mereka berdua menutup, bibir Daniel menyatu dengan mudah di bibir Minhyun. Daniel pun mencium pelan bibir Minhyun, melumatnya dan menggigit sedikit bibir Minhyun. Minhyun membuka mulutnya, membiarkan lidah Daniel mengeksplorasi mulutnya.

Tangan Daniel tak tinggal diam, tangannya perlahan masuk ke dalam kemeja Minhyun dan mengusap perut rata Minhyun. Suara lenguhan Minhyun terdengar di tengah ciuman mereka. Membuat Daniel tersenyum di antara ciumannya.

Daniel melepaskan ciumannya setelah merasa kadar oksigen pada Minhyun berkurang. Ciuman Daniel kemudian turun ke leher Minhyun, mencium tanda yang ia buat satu tahun lalu sebelum mencium dan menjilatnya lagi. Manis. Semua yang ada di tubuh Minhyun terlalu manis dan memabukkan baginya. Membuat Daniel frustasi sendiri ketika dirinya berada jauh dari mate manisnya itu.

"MINHYUN-HYUNG!"

Suara teriakan dan dobrakan pintu yang terdengar membuat kegiatan keduanya terhenti. Minhyun lantas berdiri dan menjauh dari pangkuan Daniel, sementara Daniel mendesah kecewa saat itu juga.

Minhyun melihat ke arah pintu dan menemukan Seonho yang tengah berdiri di dekat pintu dengan mata dan mulut yang terbuka. Terkejut melihat pemandangan yang dilihatnya.

"Seonho-ya?" Minhyun bercicit memanggil nama tetangganya itu. Jung Seonho, anak berusia sepuluh tahun yang merupakan anak dari Jung Wooseok dan Adachi Yuto. Tetangga seberang rumahnya.

"Ada apa?" Minhyun bertanya seraya berjalan mendekat pada Seonho. Tak lupa, ia membenarkan kemejanya yang sedikit berantakan akibat ulah Daniel.

Seonho mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Begini hyung, aku mau bermain di sini. Daddy dan appa akan pulang nanti malam 'kan? Guanlin hyung juga belum pulang, jadi aku tak ada teman bermain di rumah."

Minhyun tersenyum mendengar perkataan Seonho. Memang benar, Seonho seringkali bermain di sini. Entah itu sekedar menemani Guanlin yang saat itu tengah belajar bersama dengan Jinyoung, ataupun sekedar untuk menemaninya.

"Kalau begitu, ayo masuk. Nanti hyung masakan makanan untukmu," Seonho tersenyum lebar mendengar ucapan Minhyun. Sementara di belakang Minhyun, ada Daniel yang mendesah berat. Belum lagi bagian selatan tubuhnya yang meminta untuk dimanjakan.

Dan beruntung bagi Minhyun, dia sedang tidak dalam masa Heatnya. Jika itu terjadi, maka ia yakin, Seonho akan menangis hebat di depan rumahnya karena dirinya dengan cara lembut mengusir anak manis itu dari rumahnya. Dan urusan Daniel, bisa Minhyun urus belakangan.

.

.

Jihoon berdecak kesal begitu melihat seseorang yang ditunggunya sejak empat puluh dua menit lalu itu akhirnya muncul di hadapannya. Jihoon bangkit dari duduknya dan menarik pemuda berambut hitam itu agar duduk di dekatnya. Sementara pemuda yang ditarik hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Jihoon.

"Kau kemana saja sih? Aku menunggumu dari tadi tahu~" ujar Jihoon seraya menggembungkan pipinya. Pemuda di sampingnya terkekeh pelan, ia pun menarik sebelah pipi Jihoon.

"Kan aku bilang aku ada latihan dance. Jadi kalau lama, ya maafkan," balas pemuda itu santai.

Jihoon mendengus, ia melayangkan tinjuan tangannya ke bahu pemuda itu. "Dasar Park Woojin menyebalkan."

Woojin tertawa kecil, "Kenapa menyuruhku kemari? Ada sesuatu yang penting?"

Jihoon mengangguk, matanya menatap lurus aliran Sungai Han di hadapannya itu. "Lai Guanlin dan Bae Jinyoung itu, sedekat apa?" Tanya Jihoon datar.

Woojin mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Jihoon, "Kenapa bertanya tentang mereka?"

"Ck, jawab saja Park Woojin," Jihoon berdecak kesal. Matanya mendelik menatap Woojin.

Woojin menghela nafas, ia pun mengangkat bahunya sebelum berkata, "Mereka cukup dekat. Atau sangat. Mereka tetangga. Guanlin pindah ke sini saat dia masih sekolah dasar. Dan rumahnya tepat di depan rumah Jinyoung. Maka dari itu, mereka menjadi akrab dan dekat."

"Hanya itu? Tidak ada yang lainnya begitu?" Jihoon tentu saja belum yakin dengan ucapan Woojin.

"Apa yang bisa diharapkan dari hubungan Alpha dan Beta memangnya?" Ujung bibir Woojin tertarik membuat seringai kecil. Jihoon mendengus melihatnya. "Kalau aku balikan, apa yang bisa diharapkan dari hubungan Beta dan Omega memangnya?" Jihoon berujar acuh. Ia lantas berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Woojin.

Woojin terdiam, ia mengerjap pelan sebelum bibirnya membentuk sebuah senyuman yang menunjukkan gingsulnya.

"Beta dan Omega, kau bertanya apa yang diharapkan, Park Jihoon? Jangan kau kira aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu dan Bae Jinyoung. Kau selalu berharap jika matemu adalah seorang Alpha. Tapi ternyata kau dijodohkan dengan seorang Beta, yaitu Bae Jinyoung. Tapi, jika mate sejatimu adalah Park Woojin, kau bisa apa, Park Jihoon?"

.

.

Guanlin melirik Jinyoung berjalan di sampingnya. Kini keduanya tengah di jalan menuju rumah masing-masing. Keduanya memilih untuk berjalan kaki, bukannya meminta jemput atau naik bus. Entahlah, Jinyoung ingin menenangkan diri dan Guanlin dengan baik hatinya menawarkan diri untuk menemani dirinya. Jinyoung hendak menolak sebenarnya, tapi tatapan Guanlin padanya membuat Jinyoung tidak bisa menolaknya.

Jinyoung menatap kosong pada aspal jalanan. Guanlin yang berada di sampingnya menggeleng pelan. Ia pun merangkul bahu Jinyoung, tubuh Jinyoung menegang saat bahunya dirangkul tiba-tiba oleh Guanlin.

"Kalau jalan itu lihat ke depan hyung. Jika ada apa-apa memangnya siapa yang mau membantumu. Beruntung aku ada di sampingmu sekarang," Guanlin terkekeh melihat wajah Jinyoung yang memandangnya kosong.

Jinyoung diam, tidak membalas ucapan Guanlin. "Aku tidak apa-apa jika kau belum mau bercerita apapun tentang Jihoon padaku. Hanya saja, aku merasa kecewa mendengar kabar baik itu dari orang lain. Bukan darimu langsung, hyung," Mata Jinyoung membulat mendengar ucapan Guanlin.

Jinyoung menatap Guanlin dengan tatapan tidak percaya, "Maksudmu?"

"Aku dengar kau akan tunangan dengan Park Jihoon. Kenapa kau tidak cerita padaku hyung. Aku 'kan sahabatmu, aku ingin menjadi yang pertama mendengar kabar bahagia ini. Tapi kau malah merahasiakannya dariku."

Jinyoung lagi-lagi terdiam. Langkahnya semakin pelan dan kepalanya kembali menunduk. Dalam sehari ini, entah sudah berapa kali Jinyoung merasa harapannya pada Guanlin, sudah habis.

.

.

TBC

.

.

A/N :

1.) Terimakasih untuk yg sudah review, favorite, serta follow ff ini. Ga nyangka ada yg suka Jinyoung!Uke juga.

2.) Maaf jika moment NielHwangnya terlalu banyak di sini. Para hyungline lain akan keluar satu-persatu tergantung kondisi chap.

3.) Saran dan Kritik untuk ff ini ya~!

See you next chap!

Panda