Because I Care
.
Because I Care © Sweatpanda
.
Cast :
Main
Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep)
Slight
!GuanHwi !DeepWink !2Park
Side
!NielHwang !OngWoon !HwanSung
And many more.
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Length :
Chaptered
Summary :
Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon.
Rated :
T - M
Warning :
Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.
.
.
Chapter 3
.
.
Sungwoon menghampiri Jihoon yang tengah sibuk membaca buku paket sejarahnya. Sungwoon duduk di kasur Jihoon dan memperhatikan punggung adiknya itu.
"Jihoon-ah, kau baik-baik saja?"
Tubuh Jihoon menegang ketika mendengar suara Sungwoon. Menolehkan kepalanya, Jihoon tersenyum kaku pada Sungwoon.
"Aku baik-baik saja, hyung. Memangnya ada apa?"
Mata Jihoon menolak bertemu tatap dengan mata Sungwoon. Sungwoon tersenyum kecil, ia berdiri dari duduknya dan mendekati Jihoon.
"Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari hyung, Jihoon-ah. Ceritakan pada hyung, apa yang kau pikirkan? Masalah perjodohanmu kah?" Sungwoon mengusap kepala Jihoon dengan senyum kecilnya.
Jihoon menghembuskan nafasnya pasrah dan mengangguk kecil, "Tidak bisakah appa membatalkan ini semua hyung? Aku tidak mau jika dijodohkan seperti ini. Aku ingin seperti hyung yang mendapatkan mate dengan sendirinya."
"Kata siapa hyung mendapatkan mate dengan sendirinya?" Mata Sungwoon memincing ketika bertanya.
"Maksud hyung?"
Sungwoon menghela nafas panjang, "Semuanya memang terlihat seperti pertemuan biasa antara aku dan Seongwoo, tapi tidak Jihoon-ah. Aku sama sepertimu, aku dijodohkan oleh appa. Kau tahu sendiri, appa sering berkata 'Appa ingin yang terbaik untuk kalian, jadi jangan membantah apapun yang appa perintahkan pada kalian'. Jadi bagaimanapun aku tidak ingin membantah appa dan membuat eomma sedih."
"Tapi bagaimana bisa Seongwoo-hyung bersikap santai ketika ia tahu dijodohkan denganmu dan malah bersikap tidak tahu apa-apa?" Tanya Jihoon dengan wajah bingungnya.
"Mungkin karena dia seorang aktor?" Sungwoon menggendikkan bahunya seraya terkekeh kecil. "Hyung~ aku serius," balas Jihoon kesal.
"Iya Jihoon-ah. Begini, awalnya Seongwoo juga menolak, tapi orangtuanya terus memaksanya agar menerima perjodohan ini. Jadilah, setelah berhari-hari berpikir, ia akan menerima perjodohan ini setelah ia mengenal hyung. Dari situ, ia mulai rencananya untuk mendekati hyung hingga beberapa bulan lalu ia yakin pada dirinya sendiri jika hyung adalah matenya. Jadi, ia menerima perjodohan ini juga. Lagipula, kita sudah saling mencintai. Jadi, tidak ada salahnya 'kan?" Jelas Sungwoon panjang lebar dengan semburat merah muda di pipinya.
Jihoon diam mendengarkan, kepalanya menunduk untuk memikirkan hal-hal yang mungkin bisa ia lakukan untuk perjodohannya dengan Jinyoung.
"Tapi setidaknya hyung dijodohkan dengan Seongwoo-hyung yang seorang Alpha. Kenapa aku harus dengan si Bae Jinyoung itu yang seorang Beta?" Jihoon menatap kesal pada Sungwoon.
Sungwoon terkikik, tangannya mengacak gemas rambut Jihoon. "Aku juga tidak tahu apa maksud Appa melakukan itu padamu. Tapi menurut hyung, kau jalani dulu saja apa yang Appa inginkan. Coba kau dekati dulu si Bae Jinyoung itu. Jika kau nyaman dan perlahan mencintainya, kau bisa melanjutkan hubungan kalian. Tapi jika tidak, kau bisa bicara baik-baik pada Appa. Dan hyung janji akan membantumu," Sungwoon tersenyum lebar dengan mata menatap lembut pada Jihoon.
"Hyung janji?"
"Iya, Jihoon-ah."
"Terimakasih, Sungwoon-hyung."
Jihoon pun memeluk erat tubuh Sungwoon. Sungwoon membalas pelukan itu tak kalah erat. Dalam otaknya, Jihoon terus memikirkan kata-kata Sungwoon. Mungkin benar, ia harus mendekati Jinyoung dulu. Baru setelah itu ia bisa berpikir untuk menerima atau menolak perjodohan itu. Tapi, bagaimana dengan Jinyoung? Apakah ia sama pusingnya memikirkan perjodohan ini? Entahlah.
.
.
Jinyoung menatap langit malam yang penuh akan bintang. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya, matanya bergulir untuk melihat balkon rumah tetangganya. Jinyoung kini sedang duduk di bangku taman di samping rumahnya.
"Jinyoung-hyung."
Jinyoung berjengit ketika Guanlin tiba-tiba muncul di samping bangku taman. Baru saja ia memikirkan pemuda ini, kenapa tiba-tiba sudah muncul saja?
"Ah! Guanlin-ah, ada apa?" Jinyoung menatap Guanlin dengan tatapan bingung. Tanpa menjawab, Guanlin duduk di samping Jinyoung dan meraih sebelah tangan Jinyoung yang lalu digenggamnya erat.
"Aku tidak tahu, apa yang aku lakukan ini salah atau tidak. Hanya saja, perasaan itu tidak bisa kita prediksi untuk datang ke siapa 'kan hyung? Seperti perasaanku ini hyung, aku tidak pernah menyangka jika kedekatan kita selama ini bisa membuat perasaan itu tumbuh. Awalnya aku tidak tahu, itu perasaan apa. Tapi, semakin lama aku tahu. Jika aku, mencintaimu, Jinyoung-hyung.." Mata Guanlin menatap dalam pada mata Jinyoung ketika mengatakan hal itu.
Jinyoung membeku di tempat, ia tak tahu harus mengatakan atau melakukan hal apa. Jinyoung menggigit pipi dalamnya, mencoba untuk tidak mengatakan hal apapun yang mungkin saja bisa merubah sesuatu di antara mereka. Jinyoung tentu saja ingin merubah sesuatu itu, jika saja tidak ada banyak perasaan yang harus ia jaga.
Pertama, Lee Daehwi, Jinyoung sudah sangat lama tahu jika pemuda manis itu mencintai Guanlin sejak lama. Kedua, orangtuanya, entah apa yang akan dilakukan orangtuanya jika mereka tahu Jinyoung memilih Guanlin menjadi matenya. Apalagi orangtuanya juga sudah menjodohkan dengan Omega bernama Park Jihoon. Dan ya, yang ketiga Park Jihoon. Meskipun Jinyoung tidak tahu kenapa ia harus memikirkan perasaan Park Jihoon, tetap saja status 'Calon jodohnya' itu yang membuat Jinyoung terus terpikirkan akan Park Jihoon.
"Jinyoung-hyung," Guanlin menyentuh pipi Jinyoung. Jinyoung mengerjapkan matanya ketika wajah Guanlin sudah berada dekat dengan wajahnya. Guanlin mengecup bibir tipis Jinyoung sesaat. Hanya kecupan manis yang berhasil membuat jantung Jinyoung berdetak cukup kencang.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menerima perasaanku. Cukup kau tahu dan tidak menjauhiku, itu cukup untukku hyung. Lagipula, aku 'kan juga tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku," Guanlin tersenyum lebar. Jarinya mengusap pipi Jinyoung yang bersemu merah.
"Gu-Guanlin-ah," Jinyoung menggigit bibir bawahnya ketika melihat tatapan sendu milik Guanlin. Ia harus mengatakannya, atau tidak? Mengatakan jika ia juga mencintai pemuda itu, ataukah menolaknya yang membuat keduanya merasakan sakit?
"Maaf. Tapi, aku rasa kita lebih baik seperti ini saja," Jinyoung menundukkan kepalanya. Ini keputusannya, jika pun ia menyesal nanti, setidaknya Guanlin bisa lebih bahagia, nanti. Mungkin.
"Kenapa, hyung? Apa karena kau tidak mencintaiku? Apa karena Park Jihoon itu?" Suara Guanlin terdengar lebih datar dari sebelumnya. Membuat Jinyoung mendongak dan bertemu tatap dengan Guanlin yang menatapnya datar.
Jinyoung meneguk ludahnya gugup. Ia mengalihkan pandangannya, menarik tangannya dari genggaman tangan Guanlin dan memainkan jemarinya gugup.
"Iya, karena keduanya," Jinyoung menjawab pelan. 'Bohong!' Inner Jinyoung berteriak.
Guanlin mendesah berat, ia berdiri dari duduknya. "Aku mengerti, hyung. Dan ingat perkataanku tadi ya. Jangan ada yang berubah di antara kita, kita adalah sahabat. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu tadi. Sudah malam hyung, aku pulang dulu. Selamat malam!"
Guanlin pun melangkah meninggalkan Jinyoung. Tidak mendengar balasan apapun dari Jinyoung, Guanlin memilih melirik melalui ekor matanya dan menemukan Jinyoung yang tengah menundukkan kepalanya. Ingin menghampirinya lagi, namun hati Guanlin juga masih merasakan sakit mendapat penolakan dari Jinyoung. Mendesah sekali lagi, Guanlin memilih untuk kembali ke rumahnya dan tanpa menoleh lagi.
Tidak mengetahui jika Jinyoung menatap punggungnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Guanlin-ah."
.
.
"Kau melihat itu, Niel-ah? Aku tidak tega melihat mereka seperti ini. Mereka masih terlalu kecil untuk merasakannya," Minhyun menahan suaranya agar tidak bergetar melihat pemandangan yang begitu menyakitkan dari jendela kamarnya.
Daniel mengangguk pelan di bahu Minhyun. "Aku mengerti jika kau sangat menyayangi Jinyoung, hyung. Hanya saja, aku yakin Jinyoung pasti berat juga ketika mengatakan hal itu. Ini pilihan berat untuknya. Kau tahu itu 'kan? Dan ini juga sebagai salah satu cara agar mereka berpikir dewasa dan belajar untuk tidak egois."
"Tapi dalam hidup perlu ada keegoisan juga, Niel-ah. Jika tidak, maka ia tidak akan mendapatkan apapun yang ia inginkan nanti," Minhyun melirik Daniel yang memeluk tubuhnya semakin erat.
"Aku tahu itu, hyung. Tapi, jalan mereka masih panjang. Biarkan mereka menjalani jalan yang mereka pilih sekarang ini. Tugas kita adalah mengawasi, mengarahkan, dan membantu mereka. Jika jalan yang mereka ambil salah ke depannya, baru kita mengingatkan. Kau tenang saja hyung, Jinyoung akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Minhyun menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk samar. "Kau benar. Mungkin aku yang terlalu mengkhawatirkan Jinyoung," gumam Minhyun pelan.
"Tidak apa, aku malah senang. Itu berarti, jika kita punya anak nanti, kau pasti akan begitu memperhatikan dan mengkhawatirkan anak kita 'kan?" Daniel terkekeh seraya menggigit kecil leher Minhyun.
"Tentu saja."
"Nah, kalau begitu bagaimana kalau kita buat baby Kang sekarang?"
"A-apa?! Yakk Kang Daniel! Turunkan aku!"
.
.
"Daehwi-ya, kenapa kau begitu cantik?" Daehwi memutar bola matanya mendengar ucapan lelaki di sampingnya. "Jaehwan-hyung, hentikan! Jika tidak, aku bilang pada Jisung-hyung lho!" Ancam Daehwi dengan mata yang menatap tajam pada Jaehwan.
Jaehwan terkikik geli, matanya melirik Jisung yang tengah berjalan ke arah kedua dengan sebuah nampan di kedua tangannya. Setelah tiga gelas minuman tersedia di meja, Jisung lantas duduk di tengah-tengah Jaehwan dan Daehwi. Bahaya jika Jaehwan dan Daehwi disatukan, bisa-bisa Daehwi akan membuat rumahnya hancur.
"Kau kenapa Daehwi? Tumben sekali main ke sini. Biasanya juga tidak mau ke sini apalagi kalau tahu ada Jaehwan di sini," Jisung membuka suaranya. Daehwi diam beberapa saat, ia menjatuhkan kepalanya di bahu Jisung.
Jisung tersenyum lembut, ia lalu mengusap sayang rambut Daehwi dan membuat pemuda itu memeluk tubuhnya. "Aku ingin curhat hyung~. Kan tidak mungkin jika aku curhat pada eomma, apalagi eomma akhir-akhir ini sedang sibuk," balas Daehwi seraya mengerucutkan bibirnya.
"Hyung mengerti. Mau curhat tentang apa? Guanlin lagi?" Tanya Jisung lembut. Daehwi mengangguk samar, "Iya hyung. Tentang dia."
"Kenapa dengan Guanlin?"
"Aku merasa semakin hari Guanlin semakin tidak mengacuhkanku, hyung. Guanlin terlalu peduli pada Jinyoung-hyung. Aku tahu jika mereka itu sahabat, tapi tatapan mereka berdua itu berbeda. Aku tahu jika mereka mencintai satu sama lain. Tapi hyung, aku juga ingin Guanlin melihat dan mencintaiku. Aku, tidak salah 'kan?" Daehwi menatap Jisung dengan pandangan penuh harap.
Jisung melirik Jaehwan yang sedari tadi diam dan mendengarkan curahan hati Daehwi. Jaehwan tersenyum kecil, ia mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Daehwi.
"Tidak ada yang salah jika itu tentang cinta. Hanya saja, dalam cinta kau harus bisa membedakan mana itu suka, kagum, nafsu, ambisi, dan cinta itu sendiri. Jika kau tidak bisa membedakannya, maka kau bisa melukai orang-orang yang terlibat dalam hubungan percintaanmu. Jadi, Daehwi-ya, pikirkanlah baik-baik. Apa kau benar-benar mencintai Guanlin? Apa benar perasaanmu itu bukan perasaan yang lain? Coba buka hatimu dan perhatikan sekelilingmu juga. Jangan hanya berporos pada satu hal saja. Itu bisa membutakan mata hatimu nantinya."
Jisung menatap penuh kagum pada Jaehwan. Jisung tidak salah untuk mempercayakan hatinya pada Jaehwan sepertinya. Memang Jaehwan itu sangat suka sekali bercanda, sering bermain-main, namun jika sekalinya ia serius, maka Jisung sendiri hanya akan tersenyum lebar dan menatap penuh kagum pada 'Calon matenya' itu.
"Kau mengerti kata-kata Jaehwan-hyung 'kan, Daehwi-ya?" Jisung kembali bertanya.
Daehwi mengangguk lemah dan bergumam, "Aku mengerti, hyung."
.
.
Woojin berjalan santai menghampiri Jinyoung yang masih berdiam di depan gerbang. Woojin tadi melihat Jinyoung berangkat bersama Guanlin, namun pemuda itu berjalan lebih dulu ketika Daehwi menghampiri keduanya.
"Melamun saja," Suara yang masuk ke dalam indera pendengarannya menyadarkan Jinyoung dari lamunannya.
Jinyoung tersenyum tipis melihat Woojin yang berdiri di sampingnya. "Ayo ke kelas," Woojin pun merangkul Jinyoung dan keduanya berjalan menuju kelas mereka.
"Kau kenal dengan Park Jihoon?" Jinyoung menolehkan kepalanya, melihat pada Woojin yang berbisik di telinganya. Jinyoung mengangguk kecil.
"Oh, bagaimana bisa? Ku kira kau hanya dekat dengan Guanlin saja selama ini."
"Kau bicara seperti kau bukan temanku saja, Woojin-ah."
Woojin tertawa pelan, ia lantas menghentikan langkahnya yang membuat Jinyoung turut berhenti. Woojin berhenti tertawa, matanya menatap lurus ke depan yang membuat Jinyoung juga menatap ke depan. Park Jihoon. Jihoon tengah berdiri di sana seraya melambaikan tangannya menyapa, entah siapa.
"Kami berdua teman sejak kecil. Kami bertetangga dan cukup dekat. Dan aku, mencintai Jihoon."
Jantung Jinyoung seperti berhenti berdetak mendengar tuturan Woojin. Woojin melirik Jinyoung yang terdiam di sampingnya. Ia menarik sebelah bibirnya dan membuat seringai kecil.
"Aku dengar dia sedang dijodohkan. Tapi aku tidak tahu dengan siapa. Dan ya, aku tidak akan berhenti sebelum ada 'tanda' di leher Jihoon. Lagipula aku yakin, yang akan menandai leher Jihoon itu hanyalah aku. Iya 'kan, Bae Jinyoung?"
"Heh?!"
"Ayo ke kelas."
Woojin tersenyum lebar, menunjukkan gingsulnya. Tapi entah mengapa, Jinyoung merasa ada yang aneh dengan temannya ini. Atau hanya perasaannya saja? Entahlah. Yang pasti, satu lagi orang yang masuk ke dalam hubungan rumit yang harus Jinyoung jaga perasaannya, Park Woojin.
Tapi, bisakah Jinyoung menahan perasaannya sendiri?
.
.
TBC
.
.
A/N
1.) Terimakasih untuk yang sudah review, favorite, serta follow ff ini. Untuk silent reader juga.
2.) Writer Bloker sangat menyiksa. Ngetik-hapus-ngetik-hapus. Gitu aja terus. Mana lagi ada deadline, berhubung bisa nyelesain chapter ini. Padahal yang diketik duluan ff chapter yang lain.
3.) Ceritanya ngebosenin ya? Maaf. Tapi yang keluar dari otak ku emang begini. Selalu berat. Karena setiap pengen bikin yang enteng jadi berat, yang berat jadi enteng. Otakku aneh emang.
4.) Review lagi ya, biar aku tambah semangat ngetik.
See you next chap!
24 Agustus 2017
Panda
