Prenote: FF ini alurnya maju mundur, jadi mohon dilihat baik-baik tanggal dan tahun yang sengaja gue cantumin di setiap adegan per adegan. Biar kalian bacanya lebih teliti dan paham sama alur ceritanya. Thank you, enjoy the story :)
.
.
.
Gangnam, 08 Juni 2005
Ketika Nana memberikannya kartu akses masuk ke dalam bar hotel, Chanyeol berpikir bahwa dia akan menghabiskan waktunya di bar dengan wanita itu dan beberapa gelas alkohol yang disediakan oleh barista di sana. Tapi entah bagaimana, Chanyeol justru membelokkan langkahnya ke dalam mini market yang terdapat di samping bar—dan berputar di dalam sana seperti orang tolol.
Samar-samar dia bisa mendengar bunyi gaduh dari suara musik yang berdengung di bar, matanya menatap ke arah barisan produk susu kedelai dengan tidak tertarik. Hanya ada dia dan sepasang suami istri lanjut usia yang berbicara bahasa Jepang di depan rak majalah berisi peta atraksi wisata di sekitar Gangnam.
Chanyeol menarik salah satu karton susu kedelai dengan asal, lalu meminumnya perlahan. Pernikahannya yang batal dengan Nana membuatnya menjadi pria yang membosankan, jika dulu setiap harinya dia akan meminum puluhan gelas sloki dari meja bar, kini dia justru lebih memilih susu kedelai karena tidak ingin membuat hidupnya menjadi lebih menyedihkan.
Bunyi bel yang tertempel di pintu mini market itu membuatnya mengalihkan pandanganya dari nutrition facts di balik kemasan susu kedelai yang dipegangnya. Untuk beberapa saat lorong yang dipenuhi oleh berbagai produk makanan ringan itu masih kosong, baru ketika dia akan melangkah ke kasir untuk membayar susu kedelainya, sesosok laki-laki muda berjalan ke arahnya dengan tenang, mata indah itu seakan menghentikan waktunya.
"Hei, apakah kau tahu di mana rak yang berisi kondom?" Suaranya terdengar selembut kapas, mata indahnya masih menatap lurus ke arah Chanyeol, rambut hitamnya disisir berantakan.
Seksi, pikir Chanyeol.
"Kondom?" Chanyeol mengulang pertanyaan laki-laki itu seperti orang bodoh. Apakah dia terlihat seperti pria mesum yang selalu tahu dimana letak rak berisi kondom di setiap mini market?
"Ya, kondom yang berfungsi untuk membalut penis pria ketika berhubungan seks." Laki-laki muda itu menjawabnya dengan sarkastik, dia jelas terlihat jengkel karena Chanyeol berlagak sok suci dengan bersikap bahwa dia tidak pernah mengetahui kondom di dalam hidupnya.
Sadar bahwa laki-laki muda bermata indah itu mulai kehilangan kesabarannya, Chanyeol dengan sigap berjalan memandunya ke arah lorong berisi produk kesehatan. Normalnya Chanyeol akan pergi dari sana ketika seseorang menanyakan letak rak berisi kondom kepadanya, tapi kini dia justru memandu orang asing tersebut.
Anak laki-laki itu menatap barisan produk kondom dengan serius, dia mengerutkan keningnya dengan bingung sebelum kembali menatap Chanyeol.
"Jadi mana yang paling disukai oleh banyak pria?" Sekali lagi dia bertanya seakan-akan Chanyeol adalah manager sales produk kondom. Chanyeol meneguk susu kedelainya sekali lagi sebelum memutar otaknya.
"Well, tergantung dengan wanita mana kau akan menghabiskan waktu di ranjang malam ini." Oh, Chanyeol bersumpah bahwa dia tidak bermaksud berbicara seperti itu, nalurinya lah yang menyuruhnya untuk mengatakan hal itu.
Laki-laki muda di depannya tersenyum sugestif ke arahnya.
"Saran yang bagus dari pria yang menikmati susu kedelainya," suaranya terdengar santai, dia mengambil semua produk kondom dengan jenis yang berbeda.
"Untuk jaga-jaga saja, aku tidak tahu dia suka yang mana." Jelasnya seakan mengerti tatapan Chanyeol yang menilainya dari banyaknya kondom yang berada di tangannya.
"Dia?" Chanyeol mengulang. "Kupikir kondom itu untukmu."
"Kekasihku sangat pengecut, dia tidak ingin melakukan seks tanpa kondom. Tapi dia tidak pernah mau membeli kondom. He's a pussy." Untuk seseorang yang baru saja ditemuinya, anak laki-laki ini sangat terbuka.
Chanyeol membulatkan mulutnya. "Oh. Aku tidak tahu kau seorang homoseksual. Senang bisa bertemu orang sepertimu disini."
Dia menyerahkan satu kotak kondom ke arah Chanyeol. "Untukmu, aku yang bayar. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena telah menunjukkanku jalan." Sekali lagi Chanyeol dibuat terkejut dengan anak laki-laki bermata indah itu.
"Aku tidak membutuhkanya, aku sudah menikah dan memiliki dua anak." Bohong Chanyeol. Dia juga tidak mengerti mengapa dia harus berbohong dan mengarang cerita. Anak laki-laki itu menatap Chanyeol dari atas hingga bawah, kemudian menarik ujung bibirnya membentuk sebuah seringai.
"Pria berkeluarga berada di hotel mewah sendirian, tengah malam seperti ini, meminum susu kedelai, dan tahu dimana letak rak berisi kondom—Istrimu pasti merindukanmu di rumah." Sekali lagi Chanyeol tersenyum mendengar tuduhan dari laki-laki itu, entah bagaimana pembicaraannya dengan laki-laki asing ini semakin menarik untuknya. Dia bahkan telah melupakan kekecewaanya, dan menolak untuk kembali ke bar menemui Nana.
"Oh—jika kau menuduhku sebagai pria yang seperti itu, kau salah. Aku berada disini bersama istri dan anak-anakku, untuk merayakan hari pernikahan kami yang ke tujuh." Laki-laki itu menghentikan langkahnya setelah mendengar cerita Chanyeol, meja kasir hanya berjarak beberapa langkah lagi dari sana—itu berarti pembicaraan mereka akan segera berakhir.
"Lalu mengapa kau berada disini, dan tidak memberikan anniversary seks kepada istrimu?"
Chanyeol bersumpah bahwa ini adalah pembicaraan yang sangat intim yang pernah dilakukannya bersama orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Sebagai jawabannya, Chanyeol bergerak menutupi tubuh laki-laki itu ketika melihat penjaga kasir yang menatap mereka dengan penuh penilaian buruk setelah melihat laki-laki itu membawa belasan kotak kondom dan membicarakan seks bersama pria yang membawa susu kedelai di tangannya.
"Kau benar-benar ingin membicarakan kehidupan seks orang lain disini?" Tanya Chanyeol dengan mata yang mengarah ke penjaga kasir. Laki-laki itu tersenyum dengan senang, wajahnya terlihat jauh lebih menarik ketika dia tersenyum—mengingatkan Chanyeol kepada pahatan-pahatan patung Malaikat di sepanjang jembatan Prague.
"Aku tahu kenapa kau tidak melakukan anniversary seks sekarang," sepertinya laki-laki ini memang tertarik dengan kehidupan seks orang lain.
"Kenapa?" Walau begitu Chanyeol tetap menjawabnya, seakan tidak ingin pembicaraan ini akan berakhir.
"Pertama, karena anak-anakmu berada disana. Kedua, kau membutuhkan viagra. Ketiga, istrimu tidak menggugah selera."
Bukannya merasa tersinggung dengan opsi pilihan yang diberikan oleh laki-laki yang bahkan belum dia ketahui namanya itu, Chanyeol justru tertawa karena dia merasa tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Kita sudah membicarakan viagra, membicarakan kekasihmu, membicarakan anniversary seks dan aku telah menemanimu membeli kondom—lucunya, aku bahkan belum mengetahui namamu."
Laki-laki muda itu menatap Chanyeol dengan perlahan, seperti tengah menimbang haruskah dia memberitahukan namanya kepada pria ini atau tidak.
"Namaku memalukan, bahkan hanya untuk di dengar sekalipun." Jawabnya sambil menjatuhkan tumpukan produk kondom itu ke meja kasir, dan tidak mempedulikan tatapan menilai dari penjaga kasir.
"Benarkah? Apakah itu hanya trikmu agar aku tidak mencari namamu di Google dan membocorkannya di internet bahwa kau ternyata adalah seorang artis populer yang maniak kondom?"
Mendengar pembicaraan mereka, penjaga kasir itu cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan satu tas plastik ke arah laki-laki itu seakan mengusir mereka berdua untuk meninggalkan mini market itu secepatnya.
"Park Chanyeol." Ucap Chanyeol dengan cepat sambil mengulurkan tangannya ke arah laki-laki itu ketika mereka telah berada di luar mini market. Laki-laki muda itu menatapnya sekali lagi, lalu mengabaikan jabatan tangan Chanyeol dan masuk ke dalam lift.
Dia menekan angka 18 disana, dan Chanyeol menekan angka 21. Laki-laki itu menyenderkan tubuhnya di kaca yang berada di dalam lift, matanya terus menatap Chanyeol dengan intens—tidak ada yang berbicara, mereka terlalu sibuk menelanjangi satu sama lain dengan bola mata mereka.
Pintu lift itu terbuka di lantai 18, dia melangkah keluar dari sana menatap Chanyeol yang masih belum mau melepaskan tatapannya dari tubuhnya.
Dan tepat sebelum pintu lift itu tertutup Chanyeol bisa mendengar suaranya bergetar dengan lembut di pendengarannya.
"Byun Baekhyun," bisiknya dengan sebuah senyuman yang membuat Chanyeol tahu, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah melihat senyuman laki-laki itu.
.
.
.
Gangnam, 12 September 2005
Tiga bulan sejak Chanyeol bertemu dengan Baekhyun, laki-laki bermata indah tersebut, dan dia belum bisa melupakannya. Setiap malam Chanyeol akan jatuh tertidur dengan bayangan wajah Baekhyun di dalam mimpinya—dan ketika dia mencium Nana, dia membayangkan bahwa dia mencium bibir ranum Baekhyun.
Obsesi dan fantasinya kepada laki-laki itu sudah benar-benar buruk.
Apapun yang dikerjakannya akan selalu terganggu dengan wajah Baekhyun, dia sudah berulang kali mengetikkan nama Byun Baekhyun di internet, tapi dia tidak bisa menemukan apapun tentang laki-laki itu.
Kegilaannya terhadap Baekhyun tidak berhenti hingga disitu. Chanyeol bahkan menyewa setidaknya enam tim independen yang berbeda untuk mencari setiap orang yang bernama Byun Baekhyun di Gangnam—dan hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apapun, satu-satunya orang yang bernama Byun Baekhyun di Korea, telah menikah di awal tahun 70, dan dikabarkan telah meninggal karena kecelakaan mobil dalam usia 26 tahun. Jelas bukan Byun Baekhyun yang ditemuinya.
"Kau pasti sedang menghayal erotis tentang laki-laki khayalanmu itu," suara Jongin, sahabatnya sekaligus mitra bisnisnya, memecah pikiran Chanyeol akan Baekhyun.
Jongin selalu berkata bahwa Byun Baekhyun adalah laki-laki khayalan dari alam bawah sadar Chanyeol, yang muncul karena ketidakpuasannya dengan hubungannya di atas ranjang bersama Nana.
Ketika Chanyeol bersikeras dan menunjukkan belasan kondom yang tersusun rapih di laci meja kerjanya, Jongin akan bilang bahwa itu semua hanyalah omong kosong semata. Semua orang bisa membeli kondom, dan yang dilihatnya adalah produk kondom yang berada di setiap mini market dan toko farmasi terdekat.
Bukan hal yang spesial, dia bahkan bisa menyuruh Ibunya membelikan belasan kondom untuknya—itu pun jika dia cukup gila, atau sudah bosan hidup.
"Lupakan tentang laki-laki khayalanmu itu, dan mari kita membahas laki-laki erotis yang sebenarnya." Ucap Jongin dengan wajah penuh semangat, jika ini tentang menonton koleksi video dewasa dari laptop di atas meja kerjanya, Chanyeol akan menolak.
"Humor me?" Tantang Chanyeol dengan wajah tidak tertarik, Jongin sendiri kini sudah merapihkan penampilannya melewati pantulan kaca jendela di ruangan kerja pimpinan perusahaan itu.
"Tubuh indah, wajah sempurna, rambut selembut kapas, mata yang menakjubkan—lingkar bokong memuaskan, dan dia sedang berada disini untuk melakukan pemotretan pertamanya untuk majalah VOGUE Seoul."
Mendengar sinopsis yang menjanjikan dari Jongin, membuat Chanyeol menarik satu alisnya dan menunggu Jongin untuk melanjutkan penawarannya.
"Jika kau belum tahu, lantai teratas dari gedung milikmu ini sedang disewa VOGUE untuk melakukan pemotretan, dengan si model yang aku jelaskan tadi—aku tahu dari sekertarisku, sekertarisku bahkan berkata bahwa dia rela menjadi seorang bisexual jika dia bisa menikahi model ini." Ketika Jongin menjelaskannya dengan berapi-api, Chanyeol menjadi sedikit penasaran—dia tahu bagaimana sekertaris Jongin selalu menganggap dirinya sendiri adalah manusia paling menawan di dunia, dan mendengar pengakuan tersebut, membuat Chanyeol menjadi tertarik dengan tawaran Jongin.
"Kita bisa bertemu dengannya! Karena aku telah berbicara kepada Pimpinan pemotretan kali ini, bahwa pemilik gedung ini ingin bertemu dengan si model itu." Menjual nama Chanyeol untuk mendapatkan akses memang menjadi kebiasaan Jongin. Dulu dia juga pernah menjual nama Chanyeol untuk menghadiri sebuah pameran seni kelas atas yang mengusung tema nude, dihiasi oleh model-model tanpa busana.
Itu karena Chanyeol merupakan salah satu dari orang yang berpengaruh di Gangnam maupun Seoul, dia merajai semua industri yang bersifat kapital di Korea Selatan.
"Aku yakin kau akan menyukainya dan membuatmu melupakan Baekhyun. Percayalah, ini akan menjadi hiburan yang tidak akan pernah kau lupakan." Ucap Jongin dengan satu tangan menarik Chanyeol keluar dari ruang kerjanya.
Tanpa mempedulikan Chanyeol yang pikirannya masih melayang kepada Baekhyun.
...
Jongin mengumpat di dalam lift ketika sekretarisnya menelpon bahwa seorang klien penting ingin segera bertemu dengannya. Chanyeol hanya tertawa, mengingat Jongin sangat bersemangat ingin mempertemukannya dengan model yang mereka bicarakan tadi.
"Ini hari tersialku."
Chanyeol keluar dari dalam lift sendirian, meninggalkan Jongin di dalam sana yang kembali memencet tombol nomor 8 sebelum lift itu tertutup dan membawa dirinya menuju lantai dimana klien-nya sedang menunggu.
Ketika Chanyeol tiba di ruangan tempat pemotretan persis seperti yang Jongin katakan, pria itu terlambat. Pemotretan sudah selesai. Di sana dia hanya menemukan beberapa staf yang sedang membersihkan ruangan.
Mungkin Jongin benar, ini hari sial mereka.
Begitu dia berniat ingin meninggalkan tempat itu, seorang pria yang kelihatan lebih tua sepuluh tahun darinya, menghentikannya dan menjabat tangannya.
"Lee Seunghyun, Pimpinan pemotretan ini." Katanya begitu Chanyeol melemparkan tatapan ingin tahu.
"Park Chanyeol." Balasnya.
"Ya, aku sudah banyak mendengar hal tentangmu." Jabatan tangan mereka sudah terlepas, namun pria yang lebih tua kelihatan belum ingin mengakhiri obrolan mereka. "Maafkan kami karena menghentikan pemotretan ini bahkan sebelum kau dapat melihatnya, kami pikir kau sangat sibuk dan tidak jadi datang."
Chanyeol tersenyum simpul. "Baiklah, itu artinya kau berhutang undangan kelas VIP untukku saat agensimu mengadakan pameran fashion week dua minggu lagi."
Lee Seunghyun tertawa ringan. "Suatu kehormatan bisa mengundangmu ke acara pameran fashion kami dua minggu lagi, kupastikan kau akan mendapat kursi di kelas VIP."
"Terimakasih telah—Byun Baekhyun?" Chanyeol mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja keluar dari ruang ganti pemotretan itu.
Dia melangkah mendekat pada seseorang yang dia yakini adalah Baekhyun dan sepenuhnya sudah melupakan Lee Seunghyun yang memberikan tatapan heran bercampur bingung.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol dengan mata indahnya. Dia bahkan tidak terlihat terkejut sama sekali.
"Hai, Park Chanyeol."
Chanyeol masih berada di alam bawah sadarnya sehingga dia menatap Baekhyun sebagai suatu keajaiban, lupakan tentang kondom atau pembicaraan mereka tempo lalu. Laki-laki yang berada di hadapannya ini adalah laki-laki yang berada di dalam mimpinya dengan cara tidak pantas.
"Kau, disini?"
"Ya, untuk pemotretan."
Baekhyun memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet parking dan kembali berdiri disamping Chanyeol. "Bagaimana kabarmu setelah melakukan anniversary seks? Kau kelihatan lebih baik sekarang."
Baekhyun mulai lagi, pikirnya. Chanyeol mengikuti laki-laki itu menuju lift, tahu bahwa obrolan mereka akan terdengar tidak pantas bagi siapapun yang akan mendengar mereka.
Begitu pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua, Chanyeol menyerangnya balik.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau berhasil menghabiskan semuanya?" Kali ini Chanyeol yang mereferensikan pembicaraan mereka kepada belasan kondom yang di beli Baekhyun waktu itu.
"Oh, tentang hal itu. Pesawat pribadi kekasihku tertahan di Los Angeles, jadi—tidak, aku tidak menghabiskannya bahkan tidak satu buah pun. Bukan hanya kau yang bernasib buruk." Dia menjawabnya dengan santai sambil menyulut satu batang rokok dari kemasan YvesSaintLaurent yang berwarna biru tua dengan label 'Methol Luxury 100%' ke bibirnya, tanpa mempedulikan tatapan Chanyeol yang ingin tahu. Merokok di dalam lift? Bersama seorang Pemimpin perusahaan?
"Jadi kekasihmu tidak datang?" Chanyeol mengutuk dirinya sendiri karena menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebih, selebihnya dia merasa menyesal, jika saja malam itu dia memutuskan untuk keluar di lantai 18 dan mengetuk pintu kamar Baekhyun untuk membantunya menghabiskan belasan kondomnya di atas ranjang.
Lagi-lagi Chanyeol memikirkan Baekhyun dengan cara yang tidak pantas.
"Ya, si pussy itu hanya menitipkan maafnya melalui sekertarisnya karena telah membiarkanku membusuk sendirian di hotel yang telah dipesannya dari satu bulan yang lalu."
Mendengar penjelasan Baekhyun, dia memiliki banyak spekulasi akan kekasih laki-laki ini. Pertama, kekasih Baekhyun adalah orang yang sangat penting. Kedua, Baekhyun adalah simpanan pengusaha kaya yang berselingkuh dari istrinya. Jika dikaitkan dengan fakta bahwa kekasihnya selalu menginginkan safe-sex, menyewakan Baekhyun hotel mewah, dan laki-laki itu sekarang sedang menghisap aristrokat tembakau termahal dari YvesSaintLaurent—spekulasi yang kedua lebih masuk akal. Baekhyun adalah simpanan.
Pria mana yang tidak mau mendapatkannya di ranjang? Mendapatkan laki-laki seindah Baekhyun adalah permainan ego setiap pria, tidak peduli bagaimana pria-pria itu mencintai istri mereka—homoseksual seperti Baekhyun selalu berada di fantasi terliar setiap pria biseksual. Oh mungkin Baekhyun lebih dari itu, karena laki-laki ini mempunyai kepribadian yang memiliki daya tariknya tersendiri, dan berbicara dengannya selalu menarik.
Baekhyun menginjak puntung rokok mahalnya dengan sepatu buatan Louboutin yang di kenakannya ketika pintu lift terbuka, kemudian memasang aviator Chanel-nya ke matanya.
Chanyeol masih berdiri tegap di sampingnya, membiarkan beberapa karyawan yang melewati mereka menatap Baekhyun dengan iri. Mereka mungkin berpikir bahwa Baekhyun adalah orang yang sudah membuat pernikahan Chanyeol dan Nana gagal.
Di dalam hatinya, Chanyeol sedang menimbang haruskah dia menanyakan nomor Baekhyun sebelum mereka berpisah lagi, atau haruskah dia menikmati keheningan di antara mereka dan tatapan iri orang-orang yang terlayang ke arah mereka.
Dia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Baekhyun lagi, kali ini mungkin untuk selamanya. Jadi dia menyampingkan rasionalitasnya dan berdiri lebih mendekat ke arah Baekhyun.
"Jika kau tidak keberatan—"
"Aku selalu keberatan tentang hal apapun." Potongnya dengan tatapan datarnya, jika Chanyeol bisa menghilang, dia pasti sudah menghilang detik ini dari hadapannya.
"Itu mobilku." Tunjuknya ke arah Carrera berwarna hitam yang baru saja berhenti di depan mereka. Dia berjalan ke arah mobilnya, membiarkan beberapa bell-boy memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.
Dia kembali menatap Chanyeol untuk beberapa detik sebelum akhirnya melemparkan tas plastik berisi belasan produk kondom ke arahnya.
"Mungkin kau membutuhkanya, karena aku pikir membuat cerita bohong tentang pernikahan palsu, istri palsu, dan anak-anak palsumu itu sangat menyebalkan." Bisiknya dengan satu seringai mengerikan kearah Chanyeol.
Sedangkan Chanyeol tersenyum dengan takjub, laki-laki sempurna ini tidak pernah gagal membuatnya terkejut. Jadi, Baekhyun sudah mencium kebohongannya, eh?
Itu mungkin saja, karena orang seperti Baekhyun pasti sudah membaca berita tentangnya di internet atau di tv. Termasuk rencana pernikahannya dengan Nana yang gagal.
"Baekhyun, tunggu."
Dia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Chanyeol memanggilnya di belakang sana. Wajah pria itu terlihat sangat gugup, Chanyeol menarik napasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Apakah kita akan bertemu lagi?" Persetan dengan rasionalitas dan semua yang dia pikirkan di belakang sana, ini adalah kesempatan terakhirnya.
Baekhyun tersenyum dengan sugestif, dia membuka kacamatanya, membiarkan Chanyeol menatap mata indah itu.
"Mungkin kita akan bertemu lagi, jika kau bersedia datang di acara pameran agensiku dua minggu lagi." Bisiknya sebelum masuk ke dalam mobil dan detik berikutnya Chanyeol melihat mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan pelataran gedung perusahaannya.
"Aku pasti datang." Ucapnya yakin dengan sebuah senyuman di wajahnya menatap belasan kondom yang berada di tangannya.
Tanpa mengetahui bahwa semuanya mungkin akan bergerak lebih baik—atau lebih buruk dari sebelumnya.
.
.
.
Gangnam, 26 September 2005
Kaca mobil Chanyeol berembun menghalangi pemandangan pribadi yang mengarah ke dalam mobilnya. Suara tawa Baekhyun terdengar diikuti tarikan napas mereka berdua yang tidak beraturan, pakaian Baekhyun terlihat begitu berantakan setelah satu putaran permainan mereka di dalam mobil mewah Chanyeol.
Chanyeol tidak merencanakan hal ini. Mereka berada di parkiran undangan VIP, dan Baekhyun tiba-tiba menariknya lalu mencium bibirnya pertama kali. Dia membiarkan Baekhyun merubah posisinya sehingga Baekhyun berada tepat di atas pangkuannya, posisi favoritnya.
Hari ini dia baru bertemu dengan Baekhyun setelah dua minggu semenjak pertemuan terakhir keduanya.
Baekhyun masih membahas tentang obrolan mereka di mini market kala itu, entah dia memang tidak memiliki topik lain atau sengaja menggoda Chanyeol. Sesekali Chanyeol akan menyusupkan satu tangannya untuk menjelajah tubuh Baekhyun dengan satu tangan yang lain fokus terhadap kemudinya.
Hingga dia maupun Baekhyun tidak bisa menahan semuanya lagi. Mereka melakukannya di dalam mobil, Baekhyun membuat kemeja Chanyeol berantakan, dan dia membuat pakaiannya sendiri jauh lebih berantakan dari yang dia perkirakan.
Di dalam hidupnya Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa dia akan melakukan seks di dalam mobil, dimana semua orang bisa menghentikan mereka kapan saja. Tapi dengan Baekhyun semuanya terasa jauh lebih menantang, laki-laki itu tanpa sadar membawa Chanyeol untuk kembali merasakan hidup yang telah jauh dia tinggalkan semenjak hampir menikah dengan Nana.
"Kita harus berhenti sekarang, sebelum ketua agensiku memberikan ceramah panjang karena aku bersikap tidak sopan dengan hadir terlambat di acaraku sendiri." Baekhyun mengatakanya dengan napas yang terengah, satu tangannya membantu Chanyeol untuk mengancingkan kemejanya dan satu tangannya lagi sibuk membenarkan pakaiannya sendiri dan merapihkan rambutnya.
"Best sex ever." Gumam Chanyeol dengan mata yang terpejam, mengingat kembali kenikmatan yang di berikan Baekhyun di atas tubuhnya.
"Sepertinya aku melukaimu." Bisik Baekhyun dengan suara lembutnya ketika melihat luka goresan di tangan Chanyeol, kuku-kukunya menancap di kulit pria itu ketika Chanyeol dan dirinya berada di puncak kenikmatan.
Mendengar suara lembut itu membuat Chanyeol kembali terangsang, Baekhyun seperti memancing sisi terliarnya untuk terus melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa dia hentikan.
"Aku benar-benar menginginkanmu kembali, berada di dalam tubuhmu, tapi aku tidak bisa melakukannya—kecuali kau ingin melupakan acara ini." Chanyeol mengeluarkan senyumannya yang menggoda, dia membiarkan Baekhyun menarik napasnya untuk memikirkan dan menerima tawaran menggiurkan darinya.
"Apa kau bisa menjamin aku tidak akan kehilangan pekerjaanku karena tidak menghadiri pameran ini? Karena aku bisa menjamin kau akan mendapatkan seks yang lebih hebat dari yang baru saja kita lakukan."
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. "Apa kau meragukan koneksiku? Jika aku mau, aku bahkan bisa membeli agensimu."
Baekhyun tersenyum puas. "Ingin menghabiskan malam di apartemenku?"
.
.
.
Seoul, 27 September 2005
Ini bukanlah hal yang biasa Chanyeol lakukan, membuka matanya ketika matahari sudah tepat berada di atas porosnya. Chanyeol juga bukanlah orang yang tidak menghargai waktu, setiap detiknya dia selalu menghitung berapa banyak kesempatan yang sudah dia buang dengan terlentang di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun.
Kecuali hari ini.
Chanyeol membuka matanya dan membiarkan dirinya tidak melakukan apapun, membuang puluhan kesempatan yang dia punya dengan menatap langit-langit di dalam kamar ini. Dia seperti orang bodoh, dan dia seperti orang linglung.
Setengah jiwanya menghilang ketika dia menutup matanya dan seolah-olah dapat merasakan sentuhan Baekhyun. Wangi aroma lilac dan tumbuhan coklat masih tercium di sprei berwarna abu-abu muda yang tengah dia tempati, kilasan memori akan kejadian semalam terus berada di kepalanya.
"Bahkan jika aku menyuruhmu untuk menikahiku?"
Kata-kata itu terdengar sederhana, Baekhyun mengatakanya dengan suara yang begitu tenang sehingga Chanyeol tidak yakin apakah itu semua hanya ilusinya saja atau Baekhyun hanya bercanda. Tidak ada yang tahu.
Bunyi dentingan piring dan sendok terdengar dari luar kamar. Samar-samar Chanyeol bisa mendengar Baekhyun bersenandung satu atau dua bait dari lagu Strawberry Fields Forever. Chanyeol membuka pintu kamar dengan perlahan, tidak ingin menganggu aktivitas Baekhyun bersama kotak serealnya dan piringan hitam The Beattles yang berputar dengan merdu di ruangan itu.
Chanyeol sungguh tidak ingin menganggunya. Dia hanya berdiri dan bersandar di dinding mengamati Baekhyun, mendengarnya bersenandung dari balik kotak sereal Kellogs miliknya, dengan rambut hitamnya yang tersiram sinar matahari pagi. Tidak ada yang lebih indah dari itu.
Dari tempatnya berdiri, Chanyeol mengenakan kemeja putih miliknya yang sudah tercecer di lantai, tadi malam mereka terlalu berhasrat sampai-sampai dia tidak sadar Baekhyun sudah membuang kemejanya sembarangan.
Baekhyun mengambil serpihan sereal yang tersisa di dalam kotaknya, tanpa menyadari kehadiran Chanyeol.
"Aku menyukainya." Chanyeol tersenyum ketika mengatakan kalimat itu.
Ketika Chanyeol melihatnya untuk yang pertama kalinya, dia berpikir bahwa Baekhyun adalah jenis orang yang akan memaksanya untuk melakukan hubungan one night stand—dan di pagi hari dia akan mencuri kemeja putih milik Chanyeol, hanya karena beberapa orang berpikir bahwa mencuri kemeja pria dan memakainya setelah berhubungan seks adalah sesuatu hal yang menarik.
Tapi nyatanya tidak. Hal itu tidak menarik untuk Chanyeol. Karena sejujurnya dia tidak hidup di dalam film roman picisan dimana semuanya terlihat sempurna setelah berhubungan badan.
Melihat Baekhyun memakai kaus polos berwarna pastel yang mempertunjukkan tubuh indahnya dan celana pendek yang menunjukkan kaki lincahnya adalah hal yang menarik sesungguhnya bagi Chanyeol.
"Selamat pagi, Chanyeol." Baekhyun akhirnya menyadari kehadiran pria itu setelah matanya teralihkan dari kotak sereal yang sangat di sukainya itu.
"Ini milikku. Kau bisa sarapan di luar, ada Starbucks yang hanya berjarak empat kaki dari gedung ini—Bagel disana selalu hangat." Baekhyun memeluk kotak serealnya dengan erat, tanda bahwa dia tidak ingin berbagi untuk hal-hal yang dia sukai.
Melihatnya berada dalam situasi seperti ini, membuat Chanyeol sedikit tertawa.
Baekhyun yang ini tidak lagi terlihat mematikan seperti yang Chanyeol lihat semalam. Baekhyun yang berada di hadapannya ini, hanyalah seorang laki-laki muda yang mendedikasikan hidupnya pada kotak sereal dan piringan hitam.
Perhatiannya kembali teralih ke kotak serealnya, dia berusaha menemukan setiap kepingan sempurna dari sereal berwarna coklat yang digenggamnya. Baekhyun adalah laki-laki yang cukup perfeksionis, sama seperti Chanyeol. Hal-hal kecil yang tidak berjalan sesuai dengan keinginannya akan membuatnya kesal setengah mati.
Tapi Baekhyun adalah jenis perfeksionis yang berbeda dengan Chanyeol. Dia seorang perfeksionis hanya dalam beberapa hal; dirinya dan dunianya.
Baekhyun menolak untuk memakan sereal yang patah hanya karena dia berpikir hal itu buruk, dan dia tidak suka makanan berbentuk buruk masuk ke dalam tubuhnya.
Menatap siluetnya disana membuat kepala Chanyeol berdenyut, tanda membiru kemerahan di pergelangan tangannya dan lehernya yang dipenuhi oleh bekas ciuman dan gigitan Chanyeol semalam membuat pria itu ingin merasakannya lagi.
Semua orang mungkin berpikir bahwa Chanyeol adalah pria brengsek yang meninggalkan Nana, tunangannya, demi Baekhyun yang baru di kenalnya. Beberapa bahkan menganggap bahwa perselingkuhan adalah cara yang paling keji untuk menghancurkan sebuah hubungan.
"Baekhyun tidak bersalah. Aku yang bersalah."
Nyatanya Chanyeol lah yang mengejarnya, berusaha untuk membuat Baekhyun tertarik dengan kehidupan yang dia punya. Chanyeol tidak menjanjikan apapun, dan Baekhyun tidak membutuhkan janji apapun. Mereka hanya dua orang manusia yang dipertemukan takdir di balik sebuah realita kenyataan yang tidak bisa mereka hindari.
Menyadari raut wajah Chanyeol yang berubah, Baekhyun menaruh kotak serealnya di sampingnya dan menyenderkan tubuhnya di konter dapur. Dia tidak menatap Chanyeol, mata indah itu sibuk memandangi permukaan serealnya yang sudah tenggelam di dalam susu putih yang baru di tuangnya.
Dia menaruh mangkuk putih berisi serealnya ke konter dapur, lalu melangkahkan kakinya ke arah jendela besar yang terdapat di dalam apartemennya. Matanya menatap keluar jendela dengan tenang, raut wajahnya sedikit berubah–dia kembali tenggelam di dalam pikirannya.
Chanyeol tidak pernah bisa menebak apa yang berada di balik mata indah Baekhyun. Matanya selalu dipenuhi oleh kehancuran dan kekejaman yang indah.
Dan bahkan jika Chanyeol mengetahui apa yang berada di balik mata indah itu, mungkin Chanyeol tidak akan pernah mengerti Baekhyun.
Karena Chanyeol mencintainya.
Sehingga apapun yang berada di balik mata indah itu akan tetap membuat Chanyeol mencintainya.
Bahkan jika itu membuatnya membunuh dirinya sendiri.
Chanyeol tetap mencintainya.
.
.
.
Gangnam, 23 Februari 2006
Jongin duduk di samping Chanyeol ketika melihat Nana meninggalkan meja makan untuk mengambil makanan pencuci mulut. Dia memastikan bahwa Nana sudah tenggelam di dunianya, sehingga pembicaraan rahasianya dengan Chanyeol berlangsung secara aman.
"Masih ingat dengan model erotis yang kita bicarakan?" Jongin berbisik dengan senyuman setengah senangnya, di wajahnya, Chanyeol bisa menggambarkan bagaimana sahabatnya itu menghabiskan waktunya untuk mencari sang model di semua agensi model yang berkerjasama dengan VOGUE.
Chanyeol tidak sampai hati untuk memberitahukan bahwa sang model itu bernama Byun Baekhyun—dan dia telah mendapatkan permainan fantastis di atas ranjang bersama idola sahabatnya tersebut.
"Aku berhasil menghubungi Editor In Chief VOGUE di Seoul. Aku sedikit memaksanya untuk memberikan nama-nama model yang melakukan pemotretan di Gangnam selama enam bulan terakhir. Hasilnya memuaskan." Jongin melemparkan tatapannya ke arah dapur, memastikan bahwa Nana masih berkecimpung dengan makanan pencuci mulut mereka.
"Byun Baekhyun."
"Byun Baekhe."
Mereka menatap satu sama lain dengan bingung setelah mengeluarkan dua nama yang berbeda, Jongin dengan wajah bingungnya dan Chanyeol dengan wajah tidak mengertinya.
"Nama model itu adalah Byun Baekhe, kenapa kau membawa objek khayalanmu ke dalam pembicaraan ini?" Kali ini suara Jongin sedikit gusar karena Chanyeol belum bisa melupakan obsesinya kepada laki-laki khayalannya yang bernama Baekhyun itu.
"Dia nyata. Kami melakukan seks yang hebat lima bulan yang lalu dan dia manusia, bukan khayalan." Suara Chanyeol nyaris seperti tiupan angin di pendengaran Jongin. Mereka seperti membicarakan dua orang yang berbeda dan itu membingungkan.
"Jangan bermimpi. Jika kita membicarakan orang yang sama, Byun Baekhe adalah seorang model freelance di bawah agensi modeling terkenal di London. Dia sempat bertunangan dengan putra Perdana Menteri Jepang, sebelum akhirnya berpisah karena memiliki affair dengan Choi Siwon—pemilik Hyundai Corporation. Jangan tanya aku tahu dari mana, aku menyewa empat belas tim independen yang berbeda untuk mendapatkan informasi tentang Byun Baekhe karena aku tidak menemukan apapun tentangnya di internet. Dia adalah orang yang misterius."
Chanyeol merasakan napasnya terhenti setelah Jongin menunjukkan beberapa foto Byun Baekhe yang di ambil secara diam-diam oleh tim independen yang di sewa Jongin. Laki-laki yang berada di dalam foto itu adalah Baekhyun—laki-laki dengan mata indah dan kehidupannya yang fantastis.
"Dia sudah tidak berhubungan dengan Choi Siwon, beberapa dari tim independenku mengabarkan bahwa dia sedang menjalin hubungan yang cukup serius dengan seorang pengusaha yang masuk ke dalam 10 orang berpengaruh di Korea Selatan—tapi hingga kini identitas pria itu masih tidak diketahui. Dengan wajah sempurna seperti itu, tidak heran dia bisa membuat pria manapun bertekuk lutut di hadapannya—bagi dia mungkin kita hanyalah pria yang bisa dia ludahi kapan saja."
Tepat setelah penjelasan itu berakhir, Nana datang dengan berbagai hidangan penutup di tangannya. Jongin memasang wajah polosnya dan tersenyum lebar ketika Nana menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan.
Chanyeol masih tenggelam di dalam pikirannya tentang Byun Baekhyun atau Byun Baekhe, sebelum akhirnya dia menarik Jongin dari sana dan menatap tunangannya dengan singkat.
"Nana, aku dan Jongin harus pergi untuk meninjau pembangunan di distrik tiga. Aku menyayangimu." Bisiknya dengan kecupan singkat di kening Nana, sebelum dia memaksa Jongin untuk pergi dari sana dan menunjukkan kebenaran yang berada di dalam matanya.
Byun Baekhyun atau Byun Baekhe, mereka adalah orang yang sama.
...
"Kau gila, kau menyeretku seperti orang kesetanan hanya untuk menunjukkan apartemen gelap dan kosong seperti ini, Sialan?" Itu adalah umpatan pertama dari Jongin sejak mereka berada di dalam lift, apartemen itu masih gelap—sehingga dia yakin bahwa Baekhyun belum kembali dari pemotretannya.
"Aku akan menunjukkan padamu Byun Baekhyun dan Byun Baekhe sekaligus." Dia menjawabnya dengan singkat setelah menekan saklar lampu yang membuat apartemen itu terasa lebih menyenangkan untuk di pandang.
"Bagus, kini kau terdengar seperti pria yang terlalu banyak membaca novel erotis dimana isinya menceritakan tentang fantasi threesome dengan laki-laki kembar." Sindir Jongin dengan kerlingan matanya yang menunjukkan bahwa dia tidak tertarik dengan segala jenis objek imajinasi Chanyeol.
"Chanyeol, kau datang?" suara lembut itu menggema di dalam sana, laki-laki yang sejak tadi menjadi perdebatan mereka, melangkahkan kakinya dengan tenang ke depan mereka hanya dengan handuk kecil yang melingkar di tubuh indahnya. Rambut hitamnya masih basah, dan tetesan air jatuh membasahi lantai kayu ketika dia berjalan dengan perlahan.
Untuk beberapa saat Jongin merasakan jantungnya berhenti berdetak setelah melihat laki-laki yang berada di hadapannya—Byun Baekhe, laki-laki yang dicarinya seperti orang gila, laki-laki yang membuatnya menyewa empat belas tim independen yang berbeda—berdiri di hadapannya, hanya dengan handuk putih yang menutupi tubuh sempurnanya.
"Ini bukan hal yang biasa kau lakukan, membawa temanmu kesini. Aku terkejut." Laki-laki itu berkata dengan tenang sebelum akhirnya mengecup bibir Chanyeol dengan singkat, tanpa mempedulikan Jongin yang masih kehilangan nyawanya di sana.
"Kau pasti sahabat terbaiknya, sehingga dia mau menunjukanku kepada orang lain, dia sangat posesif kepadaku, dia tidak ingin aku menatap pria lain selain dirinya. Tapi kau terlihat menyenangkan." Jika selama ini tim independennya selalu menggambarkan Byun Baekhe sebagai laki-laki berwajah dingin yang mematikan, nyatanya sosok yang berada di hadapannya ini sangat terbuka dan menyenangkan bahkan hanya untuk dijadikan sebagai tatapan sekilas.
Chanyeol dengan gerakan protektifnya merengkuh tubuh Baekhyun, berusaha untuk menutup pemandangan Jongin yang tidak berkedip menyaksikan pemandangan indah di depan matanya.
"Perkenalkan namaku adalah—" Chanyeol dan Jongin menunggu laki-laki itu untuk menyebutkan namanya, mungkin inilah momen yang paling mereka tunggu.
"Byun Baekhe. Tapi kau bisa memanggilku, Baekhe." Ucapnya dengan senyuman yang mengukir di wajah sempurnanya, Jongin tersenyum dengan senang menyaksikan Chanyeol yang memasang wajah penuh pertanyaan di dalam kepalanya.
"Kau berhutang seribu penjelasan tentang hal ini," bisik Jongin dengan senyuman nakalnya, sebelum dia meninggalkan apartemen itu ketika Chanyeol memberikannya gerakan halus bahwa dia harus meninggalkan apartemen ini, sebelum Chanyeol mengusirnya di hadapan Baekhyun.
"Jadi siapa Byun Baekhe, atau lebih tepatnya siapa Byun Baekhyun?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Chanyeol ketika Jongin sudah meninggalkan mereka berdua. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tidak tertarik, dan berjalan ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.
"Sebenarnya, aku tidak pernah mengetahui dirimu. Kau ini Baekhyun atau Baekhe, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah kau adalah laki-laki yang kutemui di mini market tahun lalu, yang melakukan seks di dalam mobil denganku dan seks yang lain di apartemen ini, yang menyukai sereal dan piringan hitam, selebihnya, aku tidak tahu." Chanyeol duduk di tepi tempat tidur, menatap tubuh indah Baekhyun sebelum laki-laki itu memakai piyama tidur tipis berbahan sutra yang membuat sisi terliar Chanyeol ingin menerkamnya hingga habis di atas tempat tidur.
"Aku juga tidak pernah mengetahui dirimu. Jadi bagaimana jika kita bersikap profesional dan berhenti melakukan pertanyaan yang membuatku muak. Kau bukan suamiku, kau bukan kekasihku, kau bukan siapa-siapa." Byun Baekhe dengan senyumannya yang menyenangkan, kini telah berubah menjadi Byun Baekhyun yang dingin dan dominan.
"Kita berhubungan seks dan itu menyenangkan, tapi bukan berarti apa-apa. Kau bebas melakukan apapun di dalam hidupmu, dan aku bebas melakukan apapun di dalam hidupku."
Chanyeol tahu kemana kata-kata ini mengarah. Dia dan Nana, serta Baekhyun dengan kekasihnya. Mereka adalah dua orang yang telah memiliki komitmen di luar hubungan ini. Jadi Chanyeol ataupun Baekhyun, tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan mereka dengan pasangan mereka yang sebenarnya.
"Aku menginginkanmu lebih dari seks, mengapa kau selalu menyudutkanku dengan beranggapan bahwa semua ini hanya untuk seks?"
"Karena kau adalah seorang pria yang memiliki tunangan. Kau memiliki kehidupan yang bahagia—kau berada disini hanya karena aku bisa memuaskanmu, dan jika kau menginginkanku lebih dari seks, apa kau akan meninggalkan wanitamu itu untuk diriku?"
Sadar bahwa kata-katanya terlalu menuntut, Baekhyun menarik napasnya dan mendekat ke arah Chanyeol yang menatapnya dengan terluka setelah mendengar penilaian sepihak dari laki-laki yang dicintainya.
"Aku mencintaimu, apakah itu tidak cukup, Chanyeol?" Baekhyun membiarkan Chanyeol memeluk tubuhnya dengan erat.
"Mulai detik ini aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau suka, aku berjanji." Mendengarnya membuat Baekhyun terdiam, dia membalas pelukan pria itu—membiarkan Chanyeol tenggelam di dalam aroma tubuhnya.
"Baekhe—adalah nama yang aku gunakan karena aku membenci nama Byun Baekhyun, nama itu terlalu memalukan. Kau adalah orang pertama yang mendengar nama Byun Baekhyun keluar dari bibirku."
Chanyeol melepas pelukannya, dia mentatap wajah Baekhyun dengan senyuman memabukkannya. Dia merebahkan tubuh Baekhyun ke atas tempat tidur, sebelum mencium bibirnya dengan lembut.
"Kau ingin sebuah hubungan? Apa jika aku memutuskan Nana, kau juga akan mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu? Apa kau bersedia hubungan kita diketahui publik? Jika ya, aku akan menikahimu. Karena aku hanya ingin satu pemberitaan, yaitu pernikahan."
Tidak ada hal apapun di dunia ini sebelumnya yang mampu membuat Baekhyun tersenyum seyakin malam ini. Dia meremas rambut Chanyeol dan memberikan ciuman lembut pada pria itu, lalu berbisik di telinganya, "aku bersedia."
.
.
.
Gangnam, 06 Mei 2006
"Aku selalu ingin menjadi seperti dirinya." Yerin menghela napasnya, dengan mata yang masih terpatri ke arah altar resepsi pernikahan Baekhyun.
Luhan menatap Yerin, yang masih mengagumi keindahan dari laki-laki yang berada dipelukan Park Chanyeol malam ini. Bagi dirinya, menjadi seorang yang sempurna seperti itu adalah sebuah angan-angan yang tidak mungkin tercapai.
Yerin hanya wanita kalangan sub-urban, yang tinggal di pinggiran kota dengan penghasilan kecil. Bahkan penghasilannya selama satu tahun penuh, rasanya tidak akan bisa membeli satu potong pakaian mahal milik Baekhyun.
"Jangan terlalu berharap. Dia sama menderitanya dengan kita. Dia menyiksa dirinya sendiri. Sosok sempurna seperti dia, adalah hasil dari rekontruksi media. Rasanya, hidup tidak jauh lebih mudah untuknya."
"Bagaimana kau bisa tahu tentang penderitaannya?" Yerin menatap Luhan dengan penasaran. Setahunya, Luhan bukanlah laki-laki yang mengikuti perkembangan berita dari kalangan atas—jadi ketika mendengar Luhan berbicara lebih dari dua kata tentang Baekhyun, itu merupakan hal yang menarik.
"Bukankah sudah jelas? Dia pasti memuntahkan semua makanan yang berada di perutnya untuk menjaga tubuh indahnya, dia menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam dengan Psikolognya—karena tuntutan untuk selalu menjadi yang sempurna. Apa kau pikir hidupnya bahagia? Matanya, menyorot rasa takut bahwa semua yang dimilikinya akan menghilang sebentar lagi."
Untuk beberapa saat Yerin menatap Luhan dengan tidak percaya. Rasanya laki-laki ini mengenal Baekhyun dengan begitu dalam.
"Apapun yang terjadi padanya di balik layar. Dia tetaplah sosok sempurna yang berhasil menikah dengan seorang pewaris utama sebuah perusahaan industri termahal di negeri ini."
Yerin mengulas senyuman singkat, kemudian matanya kembali menatap tawa bahagia Chanyeol ketika Baekhyun mengecup sudut bibirnya.
Tanpa menyadari bahwa Luhan menatap semua itu dengan sebuah rencana di kepalanya.
...
"Aku akan mandi, jika kau berubah pikiran—kau tahu harus mencariku dimana." Baekhyun tersenyum tenang, dengan satu tangan membuka kancing kemejanya.
Chanyeol menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup, bunyi gemiricik air mulai terdengar dari dalam sana.
Dia selalu memikirkan apa yang akan terjadi dengannya dan Baekhyun setiap kali mereka melakukan hal ini. Dimana dia masih belum bisa menebak jalan pikiran laki-laki itu. Ada begitu banyak kata yang tidak pernah terucap dari bibir mereka berdua, begitu banyak ungkapan yang tenggelam begitu saja di dalam kepala mereka. Chanyeol menatap langit-langit kamar yang tinggi, pilar mewah nan kokoh itu dibalut secara halus dengan sorot lampu klasik yang meninggalkan strata kelas tertinggi.
Dia akhirnya menemukan dua alat penyadap yang terpasang rapih diantara pilar-pilar itu. Chanyeol mengumpat dalam hati. Ayahnya sepertinya tidak akan pernah berhenti menaruh rasa curiga kepadanya, bahkan ketika dia telah menikahi Baekhyun di hadapannya langsung. Park Bogum seakan tidak pernah mempercayai hubungan anaknya dengan Baekhyun.
Mungkin karena obsesi gila pria itu yang selalu menginginkan Nana menjadi menantunya.
Butuh waktu sekiranya enam menit untuk Baekhyun sebelum mendengar pintu kamar mandi itu terbuka. Bunyi gemericik air dari shower masih menghujaminya, membasahi seluruh tubuhnya. Guratan embun menutupi kaca pembatas di dalam sana, sehingga yang tertinggal hanyalah siluet tubuh Baekhyun.
Derap langkah Chanyeol semakin dekat, kemeja dan jas mahalnya telah berada di atas meja marmer yang terdapat tidak jauh dari pembatas kaca. Uap hangat yang berhembus dari shower, membuatnya sedikit lebih tenang. Dengan perlahan dia membuka pintu kaca itu, dimana Baekhyun telah menunggunya dengan tatapannya yang tenang.
Untuk beberapa saat dia terdiam melihat pemandangan di hadapannya. Byun Baekhyun—suaminya itu, berdiri dengan gamang di bawah shower tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh indahnya. Ini bukanlah pertama kalinya dia melihat tubuh indah itu. Tapi dia tidak yakin tubuh indah itu bisa menjadi miliknya malam ini diatas ranjang mengingat Ayahnya telah memasang penyadap di kamarnya.
"Apa sekarang kau mengerti? Kemarilah." Tanya Baekhyun begitu dia menyambut Chanyeol masuk ke dalam pelukannya, membiarkan shower membasahi tubuh mereka.
"Ya." Sahut Chanyeol, dia mulai menghujami leher Baekhyun, membiarkan suaminya itu bernapas secara frustasi dan bergerak dengan gelisah. "Penyadap itu benar-benar mengganggu."
"Itu sebabnya aku menuntunmu kemari, karena hanya ditempat seperti ini kita bisa bebas berbicara, atau melakukan apapun." Dinginnya tangan Baekhyun, menyentuh permukaan kulitnya. Chanyeol membuka kran shower yang satunya, agar alat-alat penyadap itu tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
Dengan perlahan, Chanyeol merengkuh kembali tubuh polos Baekhyun ke dalam pelukannya dan membiarkan Baekhyun menyandarkan kepalanya di dadanya.
"Aku tahu ini cukup merepotkan. Tapi aku tidak bisa membahagiakanmu dengan bebas di ranjang malam ini, sebelum Ayahmu membersihkan tempat ini dari semua alat penyadap yang dipasang olehnya." Suara Baekhyun terdengar bergetar, menahan rasa dingin yang mulai menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
"Aku akan membersihkan kekacauan ini secepatnya. Aku telah menyiapkan beberapa aset dan akun bank dunia atas namamu. Aku juga akan mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Hingga waktu itu tiba, bertahanlah." Chanyeol mengakhiri ucapannya, bunyi gemiricik air perlahan mulai mengecil seiring dengan tangannya yang mematikan shower.
Baekhyun masih berada di dalam pelukannya, laki-laki itu memejamkan matanya—jatuh tertidur dalam hitungan detik. Bibirnya mulai membiru, dan kulitnya bersinar pucat di bawah terpaan lampu kamar mandi. Dengan sangat hati-hati, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dengan kedua tangannya, keluar dari sana—dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia menyelimuti tubuh laki-laki yang hari ini telah sah menjadi suaminya, dan menyalakan perapian yang berada di dalam kamar itu, untuk membantu menghangatkan suhu tubuh Baekhyun. Chanyeol mengambil pakaiannya, dan mulai memakainya kembali. Satu tetesan air jatuh dari helai rambutnya yang masih basah, mengingatkannya kembali bahwa hal seperti ini tidak seharusnya terjadi di malam pernikahan mereka.
Dia menarik jasnya, menatap Baekhyun yang sudah tertidur pulas untuk beberapa saat. Lehernya mulai membiru kemerahan, sehingga bekas hickey yang ditorehkannya tadi terlihat semakin jelas.
Melihat wajah dengan pahatan indah itu tertidur dengan pulas, dia kembali memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka berdua. Pernikahan mereka. Di satu sisi, kenapa ini terasa salah dan tidak berhasil. Rencana yang telah mereka rancang sejak awal, terasa begitu rumit untuk dijalani.
Chanyeol tidak tahu apa yang akan terjadi antara dirinya dan Baekhyun, tapi dia tahu kemana dia harus melangkah saat ini.
.
.
.
Jamsil, 10 Mei 2006
"Apa kau sudah dengar kabar dari Perusahaan Park Corporation?" Suara Luhan menghentikan kegiatan Sehun menatap layar tv yang sejak tadi digelutinya. Pria itu tetap menatap layar tv dengan serius, walaupun dia bukanlah orang yang mau membuang waktu berharganya untuk menyaksikan siaran televisi.
"Oh, kau sudah menontonnya lebih dulu." Luhan menaruh beberapa karton susu ke dalam lemari pendingin, membuang sisa-sisa makanan yang berada disana dan menggantinya dengan yang baru. Hanya dia yang peduli pada apa yang di konsumsi Sehun di dalam penthouse ini.
"Mereka menaikan index saham hingga menembus angka pasar saham. Menjual beberapa anak perusahaan, kemudian menggabungkan sebuah perusahaan yang bergerak dalam produk besi dan baja." Luhan mengambil satu buah apel dari tas belanjanya, dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
"Kabarnya saham mereka hari ini ditutup dengan angka memuaskan setelah Park Bogum mengumumkan pernikahan ahli warisnya empat hari yang lalu."
Sehun tidak bergeming, bahkan ketika Luhan menyodorkan potongan apel ke depan bibirnya. Matanya masih memperhatikan rangkaian ulang acara Pernikahan pewaris utama perusahaan Park Corp yang di liput bebas oleh berbagai saluran televisi. Baekhyun, laki-laki sempurna dengan senyuman indahnya tersebut, selalu memenuhi layar kaca—seakan semua juru kamera tahu bahwa dia adalah bagian terbaik dalam pesta itu.
Luhan menggigit potongan apel, menatap Sehun yang tidak berkedip ketika laki-laki sempurna itu berada di layar tv.
"Bisa kau bayangkan, bagaimana bahagianya dia ketika Park Chanyeol melamarnya—bahkan jika sebenarnya dia tidak mencintai Chanyeol—tapi siapa yang akan menolak tawaran esensial seperti itu?"
Luhan memikirkan situasi terbaik yang akan di dapatkan oleh adiknya itu. Lebih dari ribuan wanita siap mengemban status sebagai istri Chanyeol, pewaris dari Park Corp. Ditambah dengan fakta bahwa Park Chanyeol memiliki kharisma dan wajah yang tidak diragukan, membuat Chanyeol terlihat seperti karya marmer dari mitologi Yunani.
"Bukan berarti ribuan wanita lain kehilangan harapan. Mereka masih memilikimu. Jika kau melamar seorang wanita, pastikan wanita itu terlihat seperti Baekhyun. Aku tidak ingin melihatmu melamar wanita di bawah standar Park Corporation."
Kali ini sorot mata Luhan telihat lebih serius dari sebelumnya. Seakan satu dinding kokoh, membatasi antara Taegu Group dan Park Corp. Oh Sehun memiliki segalanya. Garis kehidupannya lebih menjanjikan dari Chanyeol.
Ayahnya telah memberikan tahta tertinggi di perusahaannya untuk Sehun—dan melihat bagaimana Taegu Group berkembang pesat di tangan Sehun, membuat Park Corp segera melakukan tindakan yang sama dengan menurunkan Chanyeol memegang Park Corp.
Persaingan tidak terucap itu akan selalu menjadi hal abadi diantara Taegu Group dan Park Corporation.
"Apa kau telah memiliki seorang wanita di hatimu? Kau harus segera mencari wanita untuk mendampingimu, dengan pernikahan Chanyeol, Park Corp akan meraup keuntungan yang besar dari semua pemberitaan fantastis ini. Aku tidak ingin kau tertinggal."
Bagi Luhan, pernikahan bukanlah masalah yang berat. Baginya pernikahan tidak lebih dari hubungan diplomatis yang akan memberikan keuntungan untuk kedua belah pihak. Rasa cinta bukanlah hal yang utama, semuanya berada dalam pilihan.
"Aku sudah memiliki rencana yang bagus daripada sebuah pernikahan." Sehun membuka mulutnya, setelah layar tv tidak lagi menyorot sosok Baekhyun.
.
.
.
California, 14 April 2007
"Aku bisa menggambarmu telanjang di atas pasir, aku adalah pelukis yang baik." Jongin baru saja melayangkan godaanya ke arah Baekhyun yang tertawa dengan senang di balik cangkir tehnya. Mereka berdua sedang berada di salah satu kafe yang terdapat di gedung pertemuan di daerah California, sementara Chanyeol sedang membicarakan pergerakan sahamnya dengan beberapa pemilik perusahaan besar di Korea Selatan.
Jongin datang ke California setelah mendengar bahwa Chanyeol membawa Baekhyun untuk menemaninya, dia memaksa suaminya itu untuk menghapuskan jadwal pemotretannya di London. Walaupun terlihat seperti Jongin menggoda Baekhyun secara halus, tapi Chanyeol tahu bahwa temannya itu tidak berusaha mengambil Baekhyun darinya.
Jongin sudah mengetahui semua kisah di balik pernikahan mereka, dari mana semua ini berawal dan setiap detail kecilnya. Jongin tidak menyudutkan Chanyeol, sahabatnya itu bersikap sportif karena dia bisa melihat bagaimana Chanyeol terlihat jauh lebih hidup setelah Baekhyun masuk ke dalam kehidupannya.
"Bagaimana Chanyeol di ranjang? Apa dia bisa memuaskan seorang goddess sepertimu?" Jongin bertanya dengan wajah penasarannya, setahunya orang seperti Baekhyun tidak mudah dipuaskan oleh sesuatu. Bayangkan, yang dulu bersanding dengannya adalah seorang putra dari Perdana Menteri Jepang dan pemilik perusaahaan industri automotif pertama di Korea.
Walaupun nyatanya Chanyeol adalah salah satu dari orang berpengaruh itu, namun sepertinya Baekhyun memiliki kecendrungan untuk berhubungan dengan pria-pria yang memiliki kekuasaan. Di nilai dari manapun, Baekhyun tidak salah—dengan semua kesempurnaannya dia berhak mendapatkan pria-pria yang mampu bersanding di sampingnya.
"Dia hebat di ranjang, seks dengannya selalu mengagumkan. You should try once in a while." Jawab Baekhyun dengan senyuman penuh arti, bahwa Jongin harus mencoba Chanyeol di atas ranjang. Jongin tertawa dengan keras, benar apa yang di katakan Chanyeol—berbicara dengan Baekhyun selalu menyebalkan.
"Tidak, aku tidak tertarik. Seberapapun tampannya seorang Park Chanyeol." Jongin meminum sisa teh yang berada di cangkirnya, matahari di California mulai terbenam secara perlahan di ujung garis cakrawala.
"Aku merindukanmu," suara Chanyeol menginterupsi pembicaraan mereka, dia memeluk Baekhyun dari belakang sebelum duduk di sampingnya. Baekhyun mengecup bibir Chanyeol dengan singkat—lalu memberikan sisa teh yang berada di cangkirnya.
Tidak seperti Nana yang jauh lebih peduli dengan apa yang dikenakan Chanyeol, Baekhyun justru menenangkan Chanyeol dengan semua perlakuannya yang tidak berlebihan, tapi cukup menunjukkan bagaimana hubungan mereka mulai berkembang ke arah yang lebih jauh.
Untuk pertama kalinya Jongin melihat raut wajah Chanyeol berubah menjadi sangat tenang, biasanya Chanyeol akan berubah menjadi pria yang temperamental setelah menghadiri pertemuan yang membicarakan masa depan saham dan perusahaannya. Dia tahu bagaimana beratnya beban Chanyeol untuk mempertahankan perusahaannya dengan semua index saham yang bersaing dalam pasar ekonomi.
Kehadiran Nana biasanya justru memperburuk suasana. Nana akan mulai bertanya tentang hasil pertemuan, dan mulai mengatur Chanyeol untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Berbanding jauh dengan apa yang Baekhyun lakukan sekarang. Laki-laki itu menenangkan Chanyeol dengan senyumannya, dan bisikkan sensual bahwa dia ingin menghabiskan malamnya di California bersama Chanyeol di dalam bathub dengan busa-busa beraroma madu.
"Sehun—dia tidak pernah berhenti."
Lalu dimulailah pembicaraan yang sebenarnya setelah Jongin mendengar nama musuh abadi Chanyeol. Oh Sehun, pemilik perusahaan komersil paling berpengaruh di bidang industri tersier yang berkerjasama dengan pemerintah Korea Selatan. Perusahaanya bergerak dalam bidang telekomunikasi, sistem kesehatan, dan transportasi.
"Dia sengaja menjual rendah sahamnya, sehingga harga sahamku ikut menurun—sebelum dia memonopoli perdagangan dengan meluncurkan sistem perbankan komersil—dan jika dia berhasil membuatku menjual sahamku di bank dunia, maka dia akan merajai semua industri kapital yang aku miliki dalam hitungan jam setelah sistemnya disetujui oleh pemerintah."
Chanyeol mengatakannya dengan kepala yang kembali berdenyut kencang—memikirkanya saja sudah membuat kepalanya pecah.
"Si brengsek itu sepertinya masih dendam denganmu." Jongin ikut menarik napasnya, ini seperti krisis global yang akan terjadi jika Chanyeol tidak bisa mempertahankan sahamnya dengan persaingan kuat dari Sehun.
"Aku tidak mengerti satu katapun dari yang kalian bicarakan detik ini. Mendengarkan kalian, membuatku merasa sedang menyaksikan debat ekonomi di CNN. Aku hanya menginginkan cake dan Park Chanyeol." Ucap Baekhyun dengan tatapan tidak pedulinya, dia menarik Chanyeol dari sana dan mengeratkan tubuhnya ke dalam pelukan Chanyeol, membuat Jongin berseru dengan iri menyaksikan bagaimana bahagianya Chanyeol mendapatkan seseorang seperti Baekhyun.
"Aku akan menemui kalian, setelah kalian puas menelanjangi satu sama lain." Ucap Jongin dengan nada irinya sebelum berpisah dengan mereka berdua.
Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet parking. Satu hal yang selalu di lakukan Baekhyun ketika menunggu mobil mereka diantarkan oleh petugas valet, adalah merokok. Menurutnya merokok membuatnya tidak mati kebosanan saat menunggu valet parking menyerahkan mobil mereka.
"Aku tidak punya korek. Aku tidak merokok dan tidak ingin membunuh diri sendiri sepertimu." Sindir Chanyeol seolah dia mampu membaca pikiran Baekhyun ketika suaminya itu menggigit satu batang rokok di antara bibirnya.
"Eii, suamiku sangat membosankan." Ejek Baekhyun sebelum dia berjalan ke arah salah satu petugas valet untuk meminjam korek, tapi dia memutar langkahnya ketika melihat seorang pria dengan balutan jas Armani hitamnya—tengah mengepulkan asap rokok dari kotak Davidoff berwarna putih yang digenggamnya.
"Boleh aku pinjam korekmu?"
Pria itu menatap Baekhyun sekilas setelah mendengar suaranya dan menyodorkan satu batang rokok dengan logo YSL di tangannya. "Thanks." Ucapnya ketika pria itu menyalakan korek api di tangannya untuk Baekhyun.
"Davidoff, pilihan yang menarik. Dulu aku adalah penggemar Davidoff sebelum menemukan YSL." Baekhyun berkata dengan suara ringannya di sela-sela hembusan asap yang di endapkan dari paru-parunya.
"Ya, tapi pilihanmu dalam memilih pria cukup buruk." Pria itu mengarahkan pandangannya ke arah Chanyeol yang belum menyadari bahwa suaminya kini tengah menikmati hembusan asap rokok bersama musuhnya sendiri, Oh Sehun.
Baekhyun melemparkan tatapan tertariknya ke arah Sehun sebelum menghisap lintingan tembakau itu di bibir ranumnya.
"Tapi dia hebat di ranjang, dan dia adalah suami yang penurut. Itu adalah hal terpenting untukku."
Membela seorang pria di hadapan pria lain jelas bukan karakternya, tapi kata-kata itu meluncur begitu saja setiap kali seseorang menilai bahwa Chanyeol adalah pria dengan kualitas paling rendah yang pernah di pilihnya.
"Juga dia memiliki perusahaan besar yang cukup untuk membiayai kebutuhanku untuk merokok dari YSL." Sekali lagi dia membela Chanyeol dengan halus. Pria yang di sampingnya itu justru tertawa kecil, dia mematikan rokoknya dengan menginjak batang kecil itu dengan sepatunya.
"Untungnya kau tidak seburuk seperti pilihanmu tentang pria." Sehun menunjuk ke arah belakang Baekhyun, dimana Chanyeol sudah berjalan menghampiri mereka. Pria itu pasti sangat marah menemukan suaminya bertukar pengalaman dengan orang yang paling di bencinya detik ini.
"Baekhyun, aku tidak bisa menemukanmu, mobil kita sudah datang—dan kau seharusnya tidak menghilang begitu saja." Bukannya menatap Baekhyun ketika berbicara, Chanyeol justru menatap Sehun dengan tajam, sifat protektifnya kembali muncul setelah melihat Baekhyun tertawa dengan musuhnya itu.
Baekhyun tidak menyadari ketegangan di antara Chanyeol dan Sehun, atau dia memilih untuk tidak menyadarinya. "Hei, terimakasih untuk koreknya." Ucapnya di ikuti senyuman singkat ke arah Sehun yang masih berdiri disana dengan tatapan lurus.
"Park Chanyeol,"
Suara Sehun menghentikan langkah Chanyeol, pria itu menatapnya sekilas sebelum mengarahkan pandangannya ke arah Baekhyun.
"Pilihan yang bagus."
.
.
.
Jamsil, 28 November 2017
"Welcome home, Baekhyun."
Di tengah keterkejutannya dan kebingungannya, Sehun berjalan mendekat dan merengkuh tubuhnya. "Aku mendengar kabar kecelakaanmu, tapi aku bahkan tidak bisa menjengukmu karena suamimu membayar keamanan rumah sakit dua kali lipat dari biaya operasimu, dia menempatkan puluhan anak buahnya disetiap penjuru rumah sakit hanya untuk mencegahku melihatmu."
Di dalam pelukan Sehun, Baekhyun terdiam dalam kebingungannya, dia tidak mengerti dengan satu hal pun yang dibicarakan oleh pria ini.
"Suamiku?" Baekhyun menarik tubuhnya dan menatap Sehun dengan penasaran. "Siapa yang kau maksud?"
Sehun menaikkan sebelah alisnya, merasa geli sekaligus muak dengan jenis gurauan Baekhyun. "Park Chanyeol, siapa lagi? Apa kau memiliki suami lain setelah menikahinya?"
Baekhyun melangkah mundur, memutuskan untuk menjauh dari Sehun—suaminya yang berperilaku seperti orang asing.
Dia menatap sekeliling rumah besar itu dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi, disana banyak interior yang sudah diganti dan beberapa diantaranya terlihat lebih canggih. Teknologi seolah yang melakukan semua itu.
Baekhyun mungkin masih tidak bisa mempercayai keputusan dokter yang mengatakan dia mengalami amnesia, dan mengatakan bahwa dia berada di tahun 2017, atau menolak mempercayai ucapan Chanyeol yang mengatakan dia adalah suaminya. Tapi dengan keanehan sikap Sehun, membuat Baekhyun tidak tahu harus mempercayai siapa lagi di dunia ini.
Melihat Sehun yang bergerak ingin mendekatinya, Baekhyun cepat-cepat mengeluarkan pertanyaan random yang ditanyanya pada Chanyeol persis saat dia berada di rumah sakit. "Tahun berapa ini?"
Sehun tertawa tidak percaya. "Ayolah, Baekhyun. Setelah dua bulan tidak bertemu, apa itu pertanyaan yang harus kau tanyakan padaku?"
Rasanya, Baekhyun tidak memiliki alasan apapun lagi untuk tetap berada di tempat ini. Karena entah bagaimana, tempat yang diyakininya ini sebagai rumahnya dan Sehun, tiba-tiba saja menjadi rumah yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Semuanya terasa asing, bahkan Sehun sekalipun.
Menyadari perubahan wajah Baekhyun membuat Sehun membangun dugaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada laki-laki itu. Apalagi ketika dia melihat Baekhyun berbalik untuk pergi, meninggalkannya lagi.
Sehun tidak bisa membiarkannya pergi lagi, paling tidak dia harus memastikan Baekhyun masih berada di pihaknya dan ingin selalu di sisinya. "Baiklah, Baekhyun. Kau ingin sebuah jawaban, kan?"
Baekhyun menghentikan langkahnya. "Katakan."
"2017."
Baekhyun memejamkan matanya. Merasakan kehancurannya sendiri.
Bahkan sebelum Sehun dapat menggapainya, Baekhyun sudah lebih dulu menepis tangan pria itu. "Jangan menyentuhku. Aku tidak mengenalmu. Kau bukan seseorang yang pernah kutemui."
Meninggalkan Sehun yang berdiri mematung dengan pikirannya melihat Baekhyun berlalu pergi.
...
"Yamano."
"Ya, Tuan."
"Apa Chanyeol menelpon?"
"Tidak, Tuan."
Baekhyun menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil, masih mempertanyakan dunia apa yang sedang memerangkapnya ini. Bagaimana bisa dia berada di tahun 2017 dan tidak menua sedikitpun. Jika boleh gila, dia pasti akan memilih menjadi gila saja sekarang.
"Silahkan, Tuan."
Baekhyun melirik kearah Yamano yang menyodorkan sebungkus rokok dengan merk YSL ke hadapannya. "Jika sedang banyak pikiran, Tuan biasanya merokok."
"Omong kosong, aku tidak pernah merokok." Baekhyun melempar pandangannya keluar jendela, dia sudah muak dengan ketidakjelasan hidupnya sekarang. "Bahkan jika aku benar-benar amnesia pun, aku tidak akan pernah membiarkan benda itu masuk ke dalam tubuhku dan merusak paru-paruku."
Wanita kepercayaan keluarga Park itu menarik kembali bungkus rokok yang berada di tangannya, memilih untuk bersikap tetap sopan dengan menghargai keputusan Baekhyun. Meskipun dia sendiri merasa aneh dengan perubahan sikap majikannya ini.
"Maaf Yamano, aku tidak bermaksud membentakku."
Yamano tersenyum ringan, dia menatap Baekhyun maklum. "Tidak masalah Tuan, saya bisa mengerti."
Dia bisa melihat bagaimana Baekhyun berjuang melawan kehancurannya setelah semua yang menimpanya.
"Dua jam lagi Tuan Park akan kembali dari kantor, apa Tuan Byun ingin pergi mencari makan sebelum kembali ke rumah?"
"Tidak, Yamano. Aku ingin langsung pulang saja. Aku ingin istirahat." Baekhyun melirik wanita lanjut usia di sebelahnya itu dengan penasaran. "Tapi sebelumnya, apa kau bersedia menceritakan padaku apa yang terjadi pada pernikahanku dan Chanyeol?"
Yamano sedikit terkejut sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."
...
Gangnam, 28 November 2017
Chanyeol menemukan Baekhyun tertidur di ranjangnya setelah dia menanyakan kabar suaminya itu pada Yamano.
Chanyeol tidak ingat kapan terakhir kali Baekhyun melupakan ranjang mereka sejak kehidupan rumah tangga mereka nyaris berakhir.
Suaminya itu banyak berubah. Chanyeol bahkan menyadari kapan tepatnya Baekhyun perlahan mulai merubah sikapnya, ketika Chanyeol beradu pendapat dengannya, Baekhyun akan menjawab bukan menghindar seperti biasanya. Ketika Chanyeol melarangnya untuk melakukan sesuatu, Baekhyun akan menarik napasnya dengan kesal dan tetap melakukan apa yang dilarangnya.
Dia mulai mencari berbagai alasan untuk pergi sejauh mungkin dari rumah, dia menghabiskan waktunya lebih banyak di agensinya—dan jika Chanyeol menghubunginya, dia akan menjawab bahwa dia menginap di rumah rekan modelnya untuk membicarakan perkembangan cabang agensi terbarunya.
Kegiatan ranjang yang biasanya selalu di tunggu keduanya, mulai dilupakan oleh Baekhyun—suaminya itu tidak lagi memaksa Chanyeol atau merayunya—dia bahkan menganggap bahwa agenda seks itu tidak pernah ada.
Seseorang yang dulu sangat dikenalnya lebih dari apapun, seseorang yang dulu membuatnya rela memberikan apapun, tiba-tiba menjadi orang yang berbalik meninggalkannya demi pria lain. Seolah kenangan mereka yang berumur lebih dari sepuluh tahun tidak memiliki arti apa-apa bagi Baekhyun.
Chanyeol menghela napasnya lelah, dia sudah berjanji untuk tidak mengungkit perselingkuhan suaminya itu lagi. Itu harga yang harus dibayarnya karena dulu dia juga pernah berselingkuh dari Nana dan membuat wanita itu berakhir menyedihkan. Dengan kondisi Baekhyun sekarang, dia percaya bahwa Tuhan juga sedang menghukum suaminya itu sesuai dengan kesalahan yang sudah dilakukannya di masa lalu.
Chanyeol melepas jas dan kemejanya lalu melangkah menuju kamar mandi.
Tanpa menyadari Baekhyun yang bergetar hebat di ranjangnya setelah mendengar cerita dari Yamano.
.
.
.
.
-TOBECONTINUED-
.
.
.
.
A/n:
Chapter depan (kalo gue ga php) bakalan gue jelasin kronologi kejahatan Baekhyun dan Sehun dan ... guess who?
Harusnya gue update jam 8 malam bareng author; azova10, Hyurien92, dan Nisachu. Tapi karna berhubung gue lagi buru-buru ples kuota udah seret, jadinya gue update duluan. Eheh. Jangan lupa mampir ke lapak mereka juga kuy!
Makasih buat yang udah berbaik hati ninggalin review, buat yang foll/fav juga, dan buat semua yang baca ff ini. Tengkyu tengkyu! See you on next chap :*
